• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

3. Pendapatan dalam Ekonomi Islam

Ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilaiIslam. (Gampito, 2012) Pengertian sederhana ini berimplikasi luas salah satunya pada tujuan ekonomi yang hendak dicapai. Jika ekonomi konvensional bertujuan untuk mencapai

keuntungan yang berorientasi keduniaan semata, maka ekonomi Islam bertujuan untuk mensejahterakan pelakunya di dunia dan akhirat atau falah. Lalu bagaimana cara untuk menggapai kesejahteraandunia dan akhirat (falah) ini? Ekonomi Islam memandang, perlu terciptanya maslahah atau bentuk keadaan, baik material ataupun non material, yang mampu meningkatkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang paling mulia.

Mengukur pendapatan nasional berdasarkan ekonomi islam, terdapat 4 hal tingkat keberhasilan perekenomian, diantaranya:

a. Pendapatan nasional harus dapat mengukur penyebaran pendapatan individu rumah tangga. Penghitungan pendapatan nasional Islami harus dapat mengenali penyebaran alamiah dari output perkapita tersebut, karena dari sinilah nilai- nilai sosial dan ekonomi Islam bisa masuk. Jika penyebaran pendapatan individu secara nasional bisa dideteksi secara akurat, maka akan dengan mudah dikenali seberapa besar rakyat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

b. Pendapatan nasioanal harus dapat mengukur produksi di sektor pedesaan. Sangatlah disadari bahwa tidaklah mudah mengukur secara akurat produksi komoditas subsisten, namun bagaimanapun juga perlu satu kesepakatan untuk memasukkan angka produksi komoditas yang dikelola.dari hasil produksi subsisten tersebut harus masuk kedalam pendapatan nasional. Khususnya pangan.

c. Pendapatan nasional harus dapat mengukur kesejahteraan ekonomi Islam. Angka rata-rata tidak menyediakan informasi yang cukup untuk mengukur kesejahteraan yang sesungguhnya.

Adalah sangat penting untuk mengekspresikan kebutuhan efektif dan kebutuhan dasar akan batang dan jasa sebagai persentase total konsumsi. Hal itu perlu dilakukan karena kemampuan untuk menyediakan kebutuhan dasar seperti pangan, perumahan, pelayanan kesehatan, pendidikan, air bersih, rekreasi, dan

pelayanan publik lainnya sesungguhnya bisa menjadi ukuran bagaimana tingkat kesejahteraan dari suatu negara.

d. Penghitungan pendapatan nasional sebagian ukuran dari kesejahteraan nasional Islam melalui pendugaan nilai santunan antar saudara dan sedekah. GNP adalah ukuran moneter dan tidak memasukkan transfer payment seperti sedekah. Namun haruslah disadari, sedekah memiliki peran yang segnifikan di dalam masyarakat Islam. Ini bukan sekedar pemberian sukarela kepada orang lain, namun merupakan bagian dari kepatuhan dalam menjalankan kehidupan beragama. Pendapatan atau upah juga dapat didefinisikan dengan sejumlah uang yang dibayar oleh orang yang memberi pekerjaan kepada pekerja atas jasanya sesuai perjanjian.

Pendapatan atau disebut juga income dari seorang warga masyarakat adalah hasil penjualannya dari faktor-faktor produksi yang dimilikinya pada sektor produksi. Dan sektor produksi ini membeli faktor-faktor produksi tersebut untuk digunakan sebagai input proses produksi dengan harga yang berlaku di pasar faktor produksi. Harga faktor produksi di pasar faktor produksi (seperti halnya juga untuk barang-barang di pasar barang) ditentukan oleh tarik-menarik antara penawaran dan permintaan (Jaya, 2011) dalam kusumawardani (2014:9-10).

Pendapatan merupakan suatu unsur penting dalam perekonomian yang berperan meningkatkan derajat hidup orang banyak melalui kegiatan produksi barang dan jasa. Besarnya pendapatan seseorang tergantung dari jenis pekerjaannya. Pendapatan merupakan jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun).

Tidak jauh berbeda pula dengan yang dirumuskan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) yang menyatakan bahwa pendapatan yaitu yang diterima oleh seseorang sebagai balas jasa berupa uang dari segala hasil

kerja atau usahanya baik dari sektor formal maupun non formal yang terhitung dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan pengertian pendapatan yang telah disebutkan di atas, maka pendapatan rumah tangga petani tebu dapat diklasifikasikan sebagai pendapatan total petani tebu, yaitu besarnya pendapatan total anggota keluarga yang diperoleh dari penjumlahan hasil tani dan pendandapatan lainnya.

A.Landasan Teori Jume’edi (2005, h.12) menuliskan partisipasi wanita secara umum dikelompokkan dalam dua peran yaitu peran tradisi dan peran transisi. Peran tradisi cukup mencakup peran wanita sebagai istri dan ibu rumah tangga, sedangkan peran transisi meliputi pengertian wanita sebagai tenaga kerja, anggota masyarakat, dan masyarakat pembangunan. Menurut Istoyono Kirnoprasetyo (2007, h. 55-57) peranan wanita dalam rumah tangga akan dilihat dalam tiga hal, yaitu:

1) Peranan wanita sebagai tenaga kerja dalam rumah tangga dan sebagai tenaga kerja dalam usaha keluarga. Dalam peran ini wanita mempunyai pekerjaan yang sangat kompleks. Pekerjaan rumah tangga wanita dapat digolongkan pada kegiatan-kegiatan; menyiapkan makanan, mengasuh anak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, mencuci perabot rumah tangga, mengambil air dan pekerjaan pekerjaan lain.

2) Peranan wanita sebagai pencari nafkah diluar usaha keluarga. Dalam peran ini wanita terdorong untuk bekerja mencari nafkah guna menambah pendapatan keluarga.

3) Peranan wanita pada pengambil keputusan dalam rumah tangga.

Dalam peran ini wanita dan pria dalam ikatan suami-istri, masing-masing mempunyai potensi untuk mempengaruhi pasangan dan potensi ini nampak dalam proses pengambilan keputusan dalam berbagai kegiatan yang mempengaruhi kehidupan keluarga.

Menurut Jume’edi (2005, h. 12) dalam perannya sebagai pencari nafkah keluarga wanita dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor sosial ekonomi, seperti usia, pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, dan pendapatan anggota rumah tangga yang lainnya.

1) Usia Wanita Suparyo Hugeng (2011, h.127) berpendapat usia wanita diduga sangat berpengaruh terhadap aktivitas mereka dalam bekerja sehari-hari. Pada mulanya semakin bertambah usia seseorang akan semakin tinggi waktu kerjanya. Namun pada usia tertentu dengan kekuatan fisik yang semakin menurun waktu kerjanya pun akan menurun.

2) Jumlah Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan keluarga akan mempengaruhi curahan kerja ibu rumah tangga yang secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap perannya dalam mencari nafkah. Jumlah anggota keluarga dan komposisinya mempengaruhi curahan waktu kerja rumah tangga untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi guna memenuhi kebutuhan keluarganya yang semakin meningkat.

3) Pendapatan Rumah Tangga

Di dalam keluarga dimana pendapatan suami kadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarganya sehingga anggota keluarga yang lain seperti istri dan anak-anaknya ikut dilibatkan dalam kegiatan mencari nafkah. Hasil Penelitian Hananto Sigit dan Abuzar dalam Maria Rumondang Sihotang (2011, h. 388-389) menunjukan adanya korelasi positif yang erat antara banyaknya pencari pendapatan dengan tingkat pendapatan dalam rumah tangga.

Dokumen terkait