• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

E. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun data secara sistematis. Data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi di analisis dengan cara diorganisasikan ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola. Memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Dalam hal ini, penulis menggunakan analisis kualitatif untuk mendapatkaan gambaran umum dari masalah yang diteliti. Adapun langkah-langkah dalam mengelola data deskriptif yaitu:

1. Menghimpun sumber-sumber data yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

2. Membaca, menelaah dan mencatat sumber-sumber data yang telah dikumpulkan.

3. Membahas masalah-masalah yang diajukan.

4. Menginterpretasikannya berdasarkan pandangan para pakar sehingga terpecahnya masalah.

5. Menarik kesimpulan.

51

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil Nagari Situmbuk 1. Sejarah Nagari Situmbuk

Sejarah Nagari Situmbuk sebagaimana terdapat di Tambo Alam Minangkabau bermula sebagai salah satu Kapak Radai dari Kerajaan Bungo Setangkai di Sungai Tarab. Dalam Tambo Alam Minangkabau disebutkan bahwa nagari yang pertama dibuat adalah Pariangan, dengan delapan suku di dalamnya, yaitu: Koto, Piliang, Malayu, Pisang, Dalimo Panjang, Dalimo Singkek, Piliang Laweh dan Sikumbang dengan pimpinannya Dt. Bandaro Kayo. Suatu masa, Dt.

Bandaro Kayo mengutus Dt. Pamuncak Alam Sati bersuku Sikumbang dari Nagari Pariangan untuk pergi ke Batipuh dan ini diikuti oleh seluruh orang Suku Sikumbang, sehingga kini di Pariangan tinggal tujuh suku lagi, tetapi tapak perumahan orang Suku Sikumbang masih ada di Pariangan dan Dt. Pamuncak Alam Sati masih merupakan bagian dari niniak mamak Nagari Pariangan dan masih memiliki batu kedudukan di Pariangan. (Dokumen Nagari Situmbuk, 2020)

Dt. Katumanggungan mendirikan Kerajaan Bungo Setangkai di Sungai Tarab dengan pimpinannya Dt. Bandaro Putiah dan sekaligus sebagai Pamuncak Kelarasan Koto Piliang. Wilayah Kerajaan Sungai Tarab meliputi Salapan Batua, Nan Baikua Bakapalo, Bakapak Radai, Bagombak dan Bakutitiran di Ujuang Tunjuak.

Wilayah Salapan Batua terdiri dari Limo Batua di dalam, yaitu:

a. Suku Piliang Sani dipimpin Dt. Rajo Mangkuto b. Suku Piliang Laweh dipimpin Dt. Majo Indo c. Suku Bendang dipimpin Dt. Rajo Pangulu d. Suku Mandahiliang dipimpin Dt. Tamani e. Suku Bodi dipimpin Dt. Sinaro

Dan Tigo Batua di lua, yaitu:

a. Suku Bendang dipimpin Dt. Simarajo b. Suku Piliang dipimpin Dt. Rajo Malano c. Suku Nan Anam dipimpin Dt. Rajo Pangulu

Kapalo Koto dari Sungai Tarab yaitu:

a. Koto Tuo b. Pasie Laweh

Ikua Koto dari Sungai Tarab yaitu:

a. Sijangek b. Koto Panjang

Kapak Radai Nan Salapan dari Sungai Tarab meliputi:

a. Pati

b. Situmbuak c. Selo d. Sumaniak e. Gunuang Medan f. Talang Tangah g. Guguak

h. Padang Laweh

Gombak dari Sungai Tarab yaitu Koto Baru, dan Kutitiran di Ujuang Tunjuak Sungai Tarab yaitu Ampalu. Untuk meneruko wilayah Kapak Radai ini, Dt. Bandaro Putiah di Sungai Tarab mengutus orang-orang ke wilayah tersebut. Adapun yang diutus untuk meneruko ke wilayah Situmbuak sebanyak 20 orang adalah dari kaum:

a. Rajo Malano b. Tunaro c. Cumano d. Bungsu

e. Rajo Nan Garang

f. Garak Alam g. Lelo Banso h. Majo Sati i. Malin Bagindo j. Pito Rajo k. Lelo Kayo l. Rangkayo Mudo

Mereka yang diutus ini awalnya menetap di Lereng Pandakian yang kemudian bernama Ikuah Koto. Dari sinilah awal mulanya terbentuk Taratak dan dilanjutkan dengan meneruko wilayah di sekelilingnya. Setelah sekian lama menjadi bagian Wilayah Kerajaan Bungo Setangkai Sungai Tarab, setelah berdiri Kerajaan Pagaruyung maka Wilayah Pati, Situmbuak, Selo dan Sumanik oleh Dt. Bandaro Putiah diserahkan kepada Dt.

Makhudum. Dimana pada masa itu Kerajaan Pagaruyung sudah membentuk Basa Ampek Balai untuk menjalankan roda pemerintahan. Adapun anggota Basa Ampek Balai adalah:

a. Bandaro Putiah di Sungai Tarab, dengan sebutan lain Panitahan, merupakan Pamuncak Koto Piliang

b. Makhudum di Sumanik, Aluang Bunian Koto Piliang c. Indomo di Saruaso, Payuang Panji Koto Piliang

d. Pamuncak Alam Sati di Batipuah, dengan sebutan lain Tuan Gadang merupakan Harimau Campo Koto Piliang. Selanjutnya sesudah memasuki Periode Kerajaan Islam, posisi Tuan Gadang dalam Basa Ampek Balai digantikan oleh: Tuan Khadi di Padang Gantiang, Suluang Bendang Koto Piliang.

Pada masa Situmbuak berada dalam kekuasaan Dt.

Makhudum - Aluang Bunian Koto Piliang, berjalanlah sepasang suami istri yang bernama Reno Saudah dan Ambang Sudio dari Kampung Palagan, Suku Kutianytir Nagari Tanjung Sungayang dengan memudikkan sungai/ batang air dan akhirnya tersesat di rimba belantara di daerah yang kemudian disebut Parupuk. Pada saat yang hampir bersamaan sepasang suami istri yang bernama Jamanggarai dan Datuak Uban juga melakukan pejalanan dari Talang Dasun melalui Nagari Rao-Rao dan sampailah di daerah yang sekarang disebut Mudik Patir.

Mendengar ada orang yang memasuki wilayahnya, Dt.

Makhudum sebagai Basa Ampek Balai Kerajaan Pagaruyung yang berkedudukan di Sumanik mengutus salah seorang dari Datuak Nan Batujuah Nagari Sumanik yaitu Dt. Rajo Mangkuto untuk menemui pendatang baru tersebut ke Mudik Patir. Hal yang sama juga dilakukan oleh Dt. Tianso dari Taratak Sungaipatai mendapat perintah dari Dt. Makhudum, mengutus Dt. Rajo Palawan untuk menemui pendatang baru tersebut ke Parupuk. Kemudian utusan tersebut kembali ke Sumanik dan Taratak Sungaipatai.

Selanjutnya Dt. Makhudum dan Dt. Tianso bersepakat memperlebar daerah hunian setelah mendapat izin dari Rajo Alam Pagaruyung. Dt. Makhudum mengutus kaum keluarga Dt. Rajo Mangkuto yang bernama Kumpulan Lauik dengan anak dan suaminya dan menetap di Lakuak Batang Aia dan Dt. Tianso mengutus kaum keluarga Dt. Rajo Palawan yang bernama Polok dengan anak dan suaminya dan menetap di Pabatu.

Tahun berganti tahun, orang yang datang meneruko sudah makin ramai, maka dikunjungilah daerah baru ini oleh Basa Ampek Balai, yaitu oleh Dt. Makhudum dari Sumanik dan Tuan Panitahan

dari Sungaitarab. Selanjutnya Basa Ampek Balai menambah 4 buah Taratak yang saling berjauhan. Taratak tersebut adalah :

a. Taratak Parupuak b. Taratak Mudiak Patiah c. Taratak Pabatu

d. Taratak Lakuak Batang Aia

Setelah berjalan sekian lama, maka dikunjungilah Taratak-taratak ini oleh Rajo Adat Pagaruyung diiringi oleh Basa Ampek Balai, dan dibentuklah 4 buah Dusun dan diangkatlah Pangulu Pertama dan disebut Datuak Nan Barampek, Dubalang Adat, Pegawai Adat dan Malin Adat di masing-masing Dusun, yaitu : a. Dusun Talao, diangkat sebagai pemimpin Dt. Pamuncak

Dubalang Adat : Rajo Nan Garang Pegawai Adat : Rangkayo Mudo Malin Adat : Bijo Anso

b. Dusun Bagoba, diangkat sebagai pemimpin Dt. Rajo Mangkuto Dubalang Adat : Garak Alam

Pegawai Adat : Pito Rajo Malin Adat : Rajo Tianso

c. Dusun Tapi Selo, diangkat sebagai pemimpin Dt. Rajo Palawan Dubalang Adat : Lelo Banso

Pegawai Adat : Lelo Kayo Malin Adat : Pito Muliad

d. Dusun Gurun Sakampuang, diangkat sebagia pemimpin Dt.

Pangulu Basa

Dubalang Adat : Majo Sati Pegawai Adat : Malin Bagindo

Malin Adat : Bagindo Mulia

Setelah penduduk makin ramai, baik karena makin banyak pendatang maupun karena faktor kelahiran, maka dikunjungi kembali Dusun-dusun ini oleh Rajo Adat beserta Basa Ampek Balai dan dibentuklah 4 buah Koto, yaitu :

a. Koto Tigo, yang terdiri dari dari Koto Mandahiliang, Kayu Balenggek dan Talao dan diangkatlah Dt. Bungsu sebagai pemimpin di Koto Tigo.

b. Koto Panjang, diangkat Dt. Cumano sebagai pemimpin di Koto Panjang.

c. Koto Sikupang, diangkat Dt. Rajo Malano sebagai pemimpin di Koto Sikupang.

d. Koto Tuo, diangkatlah Dt. Tunaro sebagai pemimpin di Koto Tuo

Adapun Pangulu yang diangkat pada waktu pembentukan Koto disebut dengan Datuak Nan Salapan. Datuak Nan Barampek dan Datuak Nan Salapan disebut sebagai Pengulu Pariuak Partamo.

Setelah melalui periode Dari Taratak manjadi Dusun, Dari Dusun manjadi Koto. Sehubungan masyarakat makin berkembang, sedangkan jarak antara Koto saling berjauhan maka sepakatlah para pemimpin Koto untuk tinggal di satu wilayah dengan satu tananan (satumpuak) dan disepakatilah lokasi baru yang bakal dijadikan tempat tinggal, yaitu di perkampungan Nagari Situmbuak sekarang. Tibalah masanya Dari Koto manjadi Nagari. Selanjutnya Rajo Adat beserta Basa Ampek Balai meresmikan pemancangan Nagari Situmbuak dengan 4 buah suku di dalamnya, yaitu :

a. Suku Patir dari Koto Tuo b. Suku III Ninik dari Koto Tigo

c. Suku Bodi dari Koto Sikupang d. Suku Piliang dari Koto Panjang

Selanjutnya memenuhinya syarat-syarat untuk mendirikan nagari:

Babalai – Bamusajik Basuku – Banagari Bakorong – Bakampuang Balabuah – Batapian Basawah – Baladang

Bagalanggang – Bapamedanan Bapandam – Bapakuburan

Babalai maksudnya memiliki balai adat, tempat bermusyawarah bagi niniak mamak. Balai sendiri terbagi atas balai nan balinduang yang dibangun seperti rumah gadang, berlantai dan beratap. Dan balai nan bapaneh, beradap di tempat terbuka dan lazim disebut medan nan bapaneh. Bamusajik maksudnya memiliki masjid sebagai perlambang kuatnya agama Islam di dalam nagari. Setiap nagari minimal memiliki satu buah masjid.

Basuku maksudnya memiliki suku. Sebuah nagari sekurang-kurangnya harus terdapat empat suku atau sako. Setiap suku dipimpin oleh seorang pangulu. Jadi nagari baru bisa berdiri jika di daerah tersebut empat pangulu suku dengan masing-masing membawahi sukunya. Banagari maksudnya memiliki wilayah. Di wilayah inilah suku akan menetap. Bakorong – Bakampuang maksudnya memiliki Korong dan perkampungan. Setiap nagari memiliki batas tertentu. Biasanya dibuat parit, wilayah yang terdapat di dalam area parit dinamakan Korong dan yang berada di luar parit

dinamakan taratak, dusun atau koto dan ketiganya dinamakan kampuang. Nagari Situmbuak sendiri dulunya untuk wilayah pemukiman di batasi oleh parit dengan area pertanian dan perkebunan dan adat istiadat dulunya berlaku di selingkung parit.

Balabuah maksudnya memiliki jalan raya. Di sebuah nagari harus terdapat jalan yang merupakan sarana vital bagi masyarakat karena merupakan jantung perekonomian. Batapian maksudnya memiliki tempat mandi dan terdapat sumber mata air. Dalam prakteknya di Nagari Situmbuak, tapian ini adalah milik Datuak Nan Salapan.

Basawah – Baladang maksudnya memiliki sawah dan ladang sebagai sumber kehidupan. Bagalanggang – Bapamedanan maksudnya memiliki gelanggang dan lapangan tempat anak nagari bermain. Gelanggang juga dipakai sebagai tempat pertunjukan dan acara-acara lain. Jaman dulu galanggang di Nagari Situmbuak ada 2 yaitu Puncak Galanggang di Goba dan Galanggang Tomo.

Bapandam – Bapakuburan maksudnya tempat menguburkan jenazah jika ada yang meninggal. Nagari Situmbuk didirikan pada tanggal 1 Muharram 1147 H (4 Juni 1734) bertepatan dengan hari Jumat. Tanda pendirian ini dengan memancang pedang di atas bukit dan sampai sekarang dinamakan Bukit Sahari Bulan

2. Visi dan Misi Pemerintahan Nagari Situmbuk

Visi Pemerintahan Nagari Situmbuk bersama masyarakat adalah:

“Menjadikan Nagari Situmbuk menjadi Nagari yang Terdepan, Makmur, Berdaya, Damai dan Berkeadilan dengan Berlandaskan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”

Misi Pemerintahan Nagari Situmbuk bersama masyarakat adalah :

a. Meningkatkan pendapatan masyarakat dengan meningkatkan pemanfaatan lahan pertanian persawahan, perkebunan dan rimba yang terlantar dengan pekarangan rumah yang ditompang oleh peternakan, perikanan dan jasa serta insfrastruktur.

b. Menumbuh kembangkan serta meningkatkan kemampuan lembaga-lembaga dan kelompok masyarakat alam menggali dan memahami serta menerapkan nilai-nilai agama, adat, seni budaya yang islami dan adat salingka nagari.

c. Meningkatkan sarana prasarana serta melaksanakan tata pemerintahan yang baik, bersih, transparan dan berwibawa.

d. Meningkatkan mutu dan kesempatan belajar mengajar bagi masyarakat serta penguatan lembaga pendidikan dan kelompok belajar.

e. Meningkatkan mutu pelayanan dan informasi kesehatan yang cepat, tepat dan mudah serta terjangkau oleh masyarakat nagari.

f. Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam penanganan dan penanggulangan masalah ketertiban, keamanan, kenyamanan, kenakalan, kebersihan, keindahan dan kerindangan (K7) di Nagari Situmbuk.

3. Gambaran Umum Nagari a. Kondisi Geografis

Nagari Situmbuk adalah salah satu dari Enam Nagari di Kecamatan Salimpaung, yang dihuni oleh lebih kurang 2.782 jiwa penduduk, 65% diantaranya menggantungkan hidup dengan sumber mata pencaharian sebagai petani, karena didukung oleh wilayah yang subur dengan luas daerah sekitar 1.010 Ha.

Tabel 2. Kondisi Geografis Nagari Situmbuk

NO URAIAN

1. Luas Wilayah : 1.010 Ha 2. Jumlah Jorong : 4 Jorong

a. Jorong Patir b. Jorong Bodi c. Jorong Piliang d. Jorong III Ninik

3.

Batas Wilayah :

Utara : Nagari Tungkar Kecamatan Situjuh Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota

Timur : Nagari Sungai Patai Kecamatan Sungayang dan Nagari Sumanik Kecamatan Salimpaung

Selatan : Nagari Rao-Rao Kecamatan Sungai Tarab Barat : Nagari Supayang Kecamatan Salimpaung 4. Topografi :

a. Lahan sebagian besar berbukit-bukit dan di areal persawahan dengan kemiringan yang rendah.

b. Ketinggian dari permukaan laut rata-rata : 650 M s/d 750 M.

5. Hidrologi:

a. Irigasi berpengairan teknis b. Dialiri oleh 2 buah sungai

c. Memiliki banyak mata air di areal persawahan 6. Klimatologi:

a. Suhu : 26.50 C b. Curah hujan : 210 mm c. Kelembaban udara : -

d. Kecepatan angin : - 7. Luas lahan pertanian :

a. Sawah teririgasi : 264 Ha b. Sawah tadah hujan : - 8. Luas lahan perkebunan : 385 Ha

9. Luas lahan kolam ikan : 21 Ha 10. Luas lahan pemukiman : 85 Ha 11. Luas hutan ulayat : 245 Ha 12. Kawasan rawan bencana : 10 Ha

Sumber: Arsip Kantor Wali Nagari Situmbuk Tahun 2019 b. Kondisi Demografis

Secara teoritis disebut bahwa jumlah penduduk yang besar merupakan salah satu modal dasar pembangunan. Hal ini dimaksudkan apabila jumlah penduduk yang besar tersebut dapat diberdayakan sesuai keahlian dan bidang kerjanya masing-masing.

Sebaliknya apabila jumlah penduduk yang besar tadi tidak dapat diberdayakan dan dikendalikan secara bijak dan terencana bahkan akan menjadi beban pembangunan.

Tabel 3. Data Kependudukan Nagari Situmbuk per Jorong Tahun 2019

NO JORONG PENDUDUK JUMLAH

LAKI-LAKI PEREMPUAN

1. Patir 413 397 810

2. Bodi 368 354 722

3. Piliang 379 360 739

4. Tiga Niniak 255 256 511

Jumlah 1.415 1.367 2.782

Sumber: Arsip Kantor Wali Nagari Situmbuk Tahun 2019

Tabel 4. Data Kependudukan Nagari Situmbuk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Tingkat Pendidikan Tahun 2019

NO URAIAN JUMLAH

1. Kependudukan

a. Jumlah penduduk (Jiwa) 2.782

b. Jumlah KK

Sumber: Arsip Kantor Wali Nagari Situmbuk Tahun 2019

Salah satu komponen utama kependudukan yang menyebabkan perubahan jumlah penduduk adalah fertelitas.

Fertelitas menyangkut banyaknya bayi anak lahir hidup yang dilahirkan. Banyak anak yang dilahirkan akan membawa konsekuensi terhadap kesejahteraan rumah tangga. Semakin banyak jumlah anak, berarti semakin banyak besar tanggungan kepala rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan material dan

spiritual anggota rumah tangganya. Bagi rumah tangga terutama dengan kondisi ekonomi yang lemah, maka pembatasan jumlah anak merupakan salah satu cara bagi terciptanya keluarga yang sejahtera. Selain itu, kebiasaan masyarakat minang yang pergi merantau menyebabkan perubahan jumlah penduduk juga signifikan. Banyak masyarakat yang pindah ke Nagari, Kecamatan, Kabupaten bahkan Propinsi lainnya untuk mencari kehidupan yang lebih layak.

c. Kondisi Ekonomi dan Mata Pencaharian

Masyarakat Nagari Situmbuk sebahagian besar menggantungkan hidup dengan sumber mata pencaharian sebagai petani, seperti sayur-sayuran, padi, perkebunan serta peternakan dan perikanan. Adapun jumlah penduduk menurut mata pencaharian dan profesi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5. Data Penduduk Menurut Pekerjaan Tahun 2019 No Jenis Pencaharian Jumlah Keterangan

A. Pertanian 1. Pemilik

2. Penggarap dan Penyewa 3. Buruh Tani

2. Pegawai Instansi Pemerintah 3. Bidan

4. Dokter

5. Perawat/ Mantri Kesehatan 6. ABRI dan POLRI

7. Pegawai Swasta/ Tenaga Honor 8. Pensiunan

C. Pedagang/ Jualan 78 6,30 %

D. Pengusaha/ Industri 8 0,72 %

E. Jasa dan Keterampilan 1. Tukang

2. Sopir

3. Pangkas Rambut/ Salon 4. Tukang Ojek Sumber: Arsip Kantor Wali Nagari Situmbuk Tahun 2019

1) Pertanian

Sistem pertanian masyarakat telah berangsur-angsur membaik dan dengan adanya kelompok-kelompok tani yang selalu mendapat bimbingan dari penyuluh pertanian dalam rangka meningkatkan Swasembada beras dan sayur, lahan untuk kebun sayur. Sudah ada KWT Nagari Situmbuk memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayur.

2) Perkebunan

Perkebunan masyarakat di Nagari Situmbuk saat ini sudah tidak menitikberatkan kepada tanaman kakao (coklat), tanaman perkebunan yang lain seperti: kasia fera, cengkeh, jeruk nipis, getah, pisang, nilam dll. Diperkirakan tanaman coklat perbulannnya sudah dipanen masyarakat sebanyak 500 Kg coklat kering dengan rata-rata perkilo Rp 25.000. dengan adanya usaha ini sudah meningkatkan pendapatan keluarga di Nagari Situmbuk, untuk memajukan kegiatan perkebunan masyarakat di Nagari, bisa berkoordinasi dengan Petugas Pertanian Lapangan (PPL) yang bertugas di Nagari Situmbuk. Khusus tahun 2019 Pemerintah Nagari bekerjasama dengan Dinas Pangan Propinsi dan Kabupaten untuk pengembangan Ekonomi sektor Perkebunan dengan Komoditi Kopi Arabica dan sudah ditanam lebih kurang 11.000

batang bibit bantuan dan lebih kurang 3.000 batang swadaya masyarakat.

3) Perternakan

Peternakan masyarakat Nagari Situmbuk cukup beragam, peternakan besar seperti sapi dan kerbau ada ±300 ekor, ternak sedang kambing ada ±70 ekor dan ternak kecil seperti: ayam dan itik ada ±3.000 ekor yang dikembangkan dengan cara tradisional dan secara individual oelh masyarakat. Jika keluhan ataupun masalah tentang ternaknya, masyarakat langsung berkoordinasi dengan mentari hewan serta penyuluh peternakan UPT Kecamatan Salimpaung.

4) Perikanan

Perikanan masyarakat telah mulai berkembang, hal ini terbukti dengan adanya kolan ikan air deras yang sudah dipraktekkan oleh anak nagari dan yang paling banyak pengembangan kolam ikan di tengah-tengah masyarakat masih secara tradisional.

5) Usaha Makanan/ Kuliner

Makanan khas/kuliner di Nagari Situmbuk adalah kubang dan kue kembang loyang, makanan yang mesti dijaga keaslian dan kekhasannya karena ini adalah makanan adat di Nagari Situmbuk.

Saat ini industri kecil/rumah tangga juga sudah memproduksi makanan kecil/ kuliner yang dikelola oleh kelompok Duo Putri, Berkat Yakin dan Dua Bersaudara.

6) Usaha Sulaman dan Rajut

Jenis sulaman yang banyak ditekuni oleh ibu-ibu dan remaja putri adalah sulaman Kapalo samek, bordir dan sulaman timbul.

Kegiatan ini hampir tiap rumah di Nagari Situmbuk ditekuni, ada yang jadi pengambil upah dan ada bebrapa yang memasarkan langsung ke pasar serta pesanan instansi pemerintah. Kegiatan ini cukup menambah pemasukan ibu-ibu dan remaja yang sudah tidak melanjutkan sekolah ke bangku kuliah. Pada tahun 2019 Sulaman

Kapalo Samek dan rajut tali kur jadi andalan lomba UP2K Tingkat Nasional dan tercatat sebagai pemenang Juara 1 Tingkat Nasional.

B. Bentuk Usaha dari UP2K terhadap Pendapatan Masyarakat di Nagari Situmbuk

Awal terbentuknya Usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K) di Nagari Situmbuk yaitu pada Tahun 2000, namun yang paling efektif pengelolaannya pada Tahun 2002. Modal awal berasal dari bantuan dana desa sebesar Rp 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah), yang mana uang ini menjadi modal awal UP2K di Nagari Situmbuk. Nama UP2K di Nagari Situmbuk yaitu UP2K Pelangi, berselang beberapa waktu UP2K Pelangi pernah fakum selama 5 tahun dan dilanjutkan lagi pada Tahun 2013.

Adapun yang ditunjuk sebagai ketua yaitu ibuk Sri Mulyanis yang di percayai oleh para anggota UP2K Situmbuk. Dimasa kepemimpinan ibuk Sri ini mulailah dibentuk program-program dan kepengurusan yang tersusun dengan baik dan terlaksana dengan semestinya.

Anggota yang tergabung dalam UP2K dan terdata sebanyak 20 orang yang berasal dari berbagai Jorong yang berada di Nagari Situmbuk.

Anggota yang tergabung dominan berasal dari kalangan ibu rumah tangga, petani, pedagang dan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Sumber dana UP2K Situmbuk ini selain dari dana desa juga berasal dari simpan pinjam dari anggota UP2K sampai saat ini. Untuk anggota yang terkendala masalah modal bisa meminjam dana dari simpan pinjam yang ada di UP2K pelangi.

Bentuk usaha yang ada di UP2K Pelangi Situmbuk :

1. Kelompok Pelaksana Simpan Pinjam usahanya simpan pinjam untuk anggota.

2. Kelompok Pelaksana Pangan Ikhlas

Usahanya mengolah produk makanan dari bahan pangan lokal menjadi produk, seperti keripik, stik dengan bermacam rasa, bermacam gorengan dan masakan tradisional Situmbuk seperti lapek punjuang, lapek naga sari dari gula merah, lapek gaya baru.

3. Kelompok Pelaksana Setangkai Padi

Usaha pengolahan hasil pertanian lokal berupa Beras, Singkong, Ubi Jalar, Sayur-Sayuran Segar (Kol, Kentang, Tomat, Buncis, Wortel dan lain-lain) yang dimanfaatkan anggota kelompok untuk diolah menjadi produk makanan dan jajanan.

4. Kelompok Pelaksana Berkat Yakin

Usaha membuat bermacam stik seperti stik ungu, stik kentang, stik bawang, kue, gorengan seperti bakwan, pastel, risol dan bermacam makanan lain sesuai dengan pesanan.

5. Kelompok Khusus Sulaman Kapalo Samek

Merupakan Produk Unggulan UP2K PKK Pelangi Nagari Situmbuk, usaha Sulaman Kapalo Samek terdiri dari usaha perorangan yang tergabung dalam Kelompok UP2K Pelangi.

Sulaman ini mempunyai keunikan tersendiri baik dari segi produksi maupun pemasaran, kerajinan ini menjadi produk unggulan karena motif Sulaman Kapalo Samek yang khas, berbeda dengan sulaman kebanyakan, disulam dengan apik dengan cara manual oleh hampir seluruh kaum perempuan di Nagari Situmbuk, keahlian yang diperoleh secara turun temurun mempertahankan budaya dan tradisi setempat.

Kenapa diberi nama Sulaman Kapalo Samek, karena buhul sulamannya serupa kepala peniti yang kalau dalam bahasa Minang peniti disebut Samek, makanya diberi nama Sulaman Kapalo Samek.

Produk yang dihasilkan juga sudah beragam mulai dari Baju kurung dengan Motif khas Kapalo Samek Pelangi, Kebaya, Mukena, Sarung Tutup Tudung Saji, Sarung Galon, Sarung Tempat Tisu, Sarung bantal kursi, Taplak Meja, Sandal, Tas dan Alas Kulkas.

Berikut contoh produk Sulaman Kapalo Samek UP2K Pelangi:

Gambar 1: Baju Kurung dengan motif khas kapalo samek

Gambar 1: Baju Kurung dengan motif khas kapalo samek

Dokumen terkait