BAB III METODE PENELITIAN
3.9 Definisi Operasional
pada suhu ruangan. Ulangi aspirasi dan pencucian.
Tambahkan 200 μL larutan substrat. Hindari paparan sinar matahari. Inkubasikan selama 30 menit pada suhu ruangan. Tambahkan 50 μL larutan penghenti. Proses ini menghasilkan perubahan warna dari biru menjadi kuning. Tentukan densitas optiknya dalam 30 menit menggunakan pembaca mikroplat yang diatur pada panjang gelombang 450 nm. Bila panjang gelombang pengkoreksi tersedia, atur pada 540 nm atau 570 nm.
3.9 Definisi Operasional 3.9.1 Akne vulgaris
Adalah kelainan unit pilosebasea yang ditandai dengan papul folikuler noninflamasi (komedo), papul inflamasi, pustul, nodul dan kista (bentuk yang berat) pada daerah populasi kelenjar sebasea yang paling padat yaitu daerah wajah, dada bagian atas dan punggung. Diagnosis akne vulgaris ditegakkan melalui anamnesis dan gambaran klinis oleh peneliti bersama dengan pembimbing di SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.
Skala ukur : nominal
3.9.2 Derajat keparahan akne vulgaris
Ditentukan dengan menggunakan rekomendasi Acne Grading Indonesian Acne Expert Meeting 2015 menurut Lehmann (2002), yaitu :
Akne ringan : komedo <20, pustul <15, kista = 0, total lesi <30 Akne sedang : komedo 20-100, pustul 15-20, kista <5, total lesi
30-125
Akne berat : komedo >100, pustul >50, kista >5, total lesi
>125 Skala ukur : ordinal 3.9.3 Interleukin-10 (IL-10)
Adalah sitokin antiinflamasi yang juga dikenal sebagai human cytokine synthesis inhibitory factor (CSIF). Jumlah kadar IL-10 dalam serum subjek penelitian diperiksa dengan metode Quantikine ELISA untuk mencari konsentrasi IL-10 secara kuantitatif. Digunakan human IL-10 kit yang diperoleh dari R&D Systems catalog D1000B. Untuk nilai patokan diambil nilai rata-rata (mean).
Skala ukur : rasio
3.9.4 Usia
Dihitung berdasarkan tanggal lahir sesuai dengan rekam medis.
Apabila lebih dari 6 bulan dilakukan pembulatan ke atas dan apabila lebih kecil dari 6 bulan dilakukan pembulatan ke bawah.
41
Usia akan dikategorikan berdasarkan sebaran data sampel penelitian dalam persentil.
Skala ukur : ordinal 3.9.5 Jenis kelamin
Adalah ciri khas tertentu yang dimiliki pasien yang diobservasi dan tercatat pada data rekam medis, dibedakan antara laki-laki dan perempuan.
Skala ukur : nominal 3.9.6 Penyakit penyerta infeksi
Yang termasuk penyakit penyerta infeksi adalah bila akne vulgaris disertai dengan penyakit kecacingan, tuberkulosis paru, sepsis yang disingkirkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Kelompok kontrol 3.10 Kerangka Operasional
Gambar 3.1 Diagram kerangka operasional Pasien akne vulgaris yang datang
ke Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RS USU
Individu yang tidak memiliki akne vulgaris
Memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi
Pemeriksaan kadar Interleukin-10 serum (IL-10) Kelompok kasus
Penilaian derajat keparahan akne vulgaris
Pengambilan sampel darah
Pencatatan data hasil pemeriksaan IL-10
Analisis statistik
43
3.11 Pengolahan Data
Data-data yang terkumpul dianalisis secara statistik. Untuk melihat karakteristik subjek penelitian akne vulgaris, data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Untuk menilai hubungan antara kadar IL-10 serum dengan derajat keparahan akne vulgaris digunakan uji Anova. Derajat batas uji kemaknaan (p) yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,05. Dikatakan bermakna jika nilai p 0,05 dan tidak bermakna jika nilai p > 0,05.
3.12 Etika Penelitian
Penelitian ini telah memperoleh ethical clearance dengan surat nomor : 333/TGL/KEPK FK USU-RSUP HAM/2018 tertanggal 07 Juni 2018 dari Komisi Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / RSUP H. Adam Malik Medan
Pada penelitian ini telah dilakukan pengukuran kadar interleukin-10 (IL-interleukin-10) serum pada 33 orang subjek akne vulgaris dan 31 orang kontrol yang dimulai sejak bulan Juni 2018 hingga Januari 2019. Semua subjek penelitian telah menjalani anamnesis, pemeriksaan fisik untuk menegakkan diagnosis serta penilaian derajat keparahan akne vulgaris.
4.1 Karakteristik Demografi Subjek Penelitian
Karakteristik subjek pada penelitian ini ditampilkan berdasarkan karakteristik sosiodemografik pasien akne vulgaris meliputi jenis kelamin dan usia
4.1.1 Karakteristik berdasarkan jenis kelamin
Akne vulgaris dapat mengenai siapapun, baik laki-laki maupun perempuan dalam prevalensi yang berbeda-beda sesuai dengan penelitian.
Berikut merupakan tabel distribusi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin.
Tabel 4.1 Distribusi subjek akne vulgaris berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin Kasus Kontrol
n (%) n (%) berjenis kelamin perempuan berjumlah lebih banyak dibandingkan
laki-45
Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian yang pernah dilakukan di Medan. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Yutrishia et al tahun 2016 yang menemukan angka kejadian akne vulgaris pada perempuan lebih tinggi (64%) dibandingkan dengan laki-laki (36%).55 Penelitian oleh Manurung et al juga menemukan prevalensi akne vulgaris pada perempuan (56,7%) dibandingkan dengan laki-laki (43,3%).56 Serta penelitian yang dilakukan Aprilia et al juga menemukan prevalensi akne vulgaris terbanyak adalah pada perempuan (84%) dibandingkan dengan laki-laki (16%).57 Studi epidemiologi yang dilakukan oleh El-Hamd et al di Provinsi Sohag, Mesir juga menemukan akne vulgaris lebih sering dijumpai pada perempuan (60%) dibandingkan dengan laki-laki (40%).58
Berbeda dengan hal diatas, dalam studi epidemiologi meta-analisis yang dilakukan oleh Li et al di China menemukan prevalensi akne vulgaris berdasarkan jenis kelamin adalah 39,7% untuk laki-laki dan 35,7% untuk perempuan.59 Serta pada penelitian yang dilakukan oleh Suppiah et al di Malaysia menemukan mayoritas pasien adalah laki-laki (59,6%) dibandingkan dengan perempuan (40,4%).60 Namun dalam studi yang dilakukan di Saudi Arabia pada pelajar di Universitas Qassim ditemukan tidak ada perbedaan prevalensi akne vulgaris menurut jenis kelamin.61
Perbedaan prevalensi akne vulgaris menurut jenis kelamin sebenarnya menurut peneliti disebabkan variasi yang terkait dengan masing-masing studi. Dominasi jenis kelamin perempuan kemungkinan disebabkan oleh faktor hormonal dimana telah diketahui bahwa pada perempuan, kejadian akne vulgaris muncul lebih awal dibandingkan
dengan laki-laki bila dihubungkan dengan onset pubertas. Selain itu kecendrungan persisten pada akne lebih sering dijumpai pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki.1,29,62 Kemungkinan alasan lain adalah faktor pemakaian kosmetik dan jenis kelamin perempuan umumnya lebih peduli terhadap penampilan fisik sehingga jenis kelamin perempuan lah yang lebih cepat dalam mencari pengobatan bila mengalami keluhan kosmetik.63
4.1.2 Karakteristik berdasarkan usia
Menurut studi Global Burden of Disease, akne vulgaris mengenai hampir 85% dewasa muda berusia 12-25 tahun.1,23 Berikut merupakan tabel distribusi pada subjek penelitian berdasarkan usia pada penelitian ini.
Tabel 4.2 Distribusi subjek akne vulgaris berdasarkan usia
Usia Kasus Kontrol (90,9%) dibandingkan dengan kelompok usia 26-35 tahun yang berjumlah 3 orang (9,1%).
Hal ini sesuai dengan banyak penelitian yang menemukan prevalensi akne vulgaris dijumpai pada usia remaja hingga dewasa muda.
Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Suppiah et al di Malaysia
47
menemukan bahwa kebanyakan pasien akne vulgaris berusia 14-20 tahun (87,7%).60 Penelitian oleh Vilar et al di Brazil menemukan prevalensi akne vulgaris sebesar 89,3% pada rata-rata usia 16 tahun dan penelitian oleh Okoro et al di Barat daya Nigeria melaporkan prevalensi akne vulgaris pada pelajar wanita berusia 15-19 tahun adalah 71,7%.64,65
Sama halnya dengan beberapa penelitian berikut ini yang dilakukan di Medan. Studi retrospektif yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik Medan pada pasien akne vulgaris selama periode Januari 2010 sampai dengan Desember 2012 menemukan mayoritas adalah perempuan berusia 16-20 tahun.12 Penelitian yang dilakukan oleh Fachry et al terhadap mahasiswi yang menderita akne vulgaris di angkatan 2011 FK USU menemukan usia terbanyak adalah pada usia 21 tahun (53,8%).66 Serta penelitian oleh Yutrishia et al menemukan sebagian besar akne vulgaris terdapat dalam rentang usia 15-21 tahun (68%), diikuti rentang usia 22-28 tahun (28%) dan usia 29-35 tahun (4%).55
Umumnya pada kebanyakan kasus, akne menjadi masalah yang signifikan sejak dimulainya masa pubertas, dan prevalensi akne mencapai puncaknya pada masa remaja pertengahan hingga akhir.1,29 Hormon DHEAS adalah regulator aktivitas kelenjar sebasea yang signifikan, dimana kadar DHEAS mulai meningkat saat pubertas. Propionibacterium acnes merupakan mikroorganisme penghuni predominan pada pada area kulit yang kaya akan kelenjar sebasea. Analisis bakteriologi dan produksi sebum pada area tubuh multiple menunjukkan hubungan yang erat antara
jumlah P. acnes dengan produksi sebum. Pada saat pubertas, jumlah P. acnes pada wajah dan pipi penderita akne meningkat drastis, hal ini ditunjukkan dari penelitian yang dilakukan Miura et al yang menemukan bahwa penderita akne berusia 10-14 tahun didapatkan jumlah P. acnes di hidung dan dahi yang lebih tinggi secara signifikan daripada non akne.67,68
4.2 Karakteristik berdasarkan Derajat Keparahan Akne Vulgaris
Derajat keparahan akne vulgaris ditentukan berdasarkan observasi lesi yang dominan, evaluasi terhadap keberadaan lesi inflamasi dan luas area kulit yang terlibat. Terdapat beberapa sistem gradasi untuk menetukan derajat keparahan akne vulgaris, namun pada penelitian ini memakai kriteria Lehmann.45 Berikut merupakan tabel distribusi pada subjek penelitian berdasarkan derajat keparahan akne vulgaris.
Tabel 4.3 Distribusi subjek akne vulgaris berdasarkan derajat keparahan subjek penelitian yang terbanyak adalah akne vulgaris dengan derajat keparahan sedang yaitu 12 orang (36,4%), kemudian diikuti dengan derajat keparahan berat yaitu 11 orang (33,3%) dan derajat keparahan ringan yaitu 10 orang (30,3%). Pada penelitian ini memang dicari jumlah
49
subjek penelitian dengan derajat keparahan akne vulgaris yang hampir sama.
4.3 Kadar IL-10 serum
4.3.1 Hubungan kadar IL-10 serum dengan derajat keparahan akne vulgaris Setelah data dikumpulkan, dilakukan uji homogenitas variansi dan ditemukan bahwa antar kelompok memiliki varian yang sama / homogen, kemudian dilanjutkan dengan uji Anova. Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan kadar IL-10 serum yang dihubungkan dengan derajat keparahan akne vulgaris.
Tabel 4.4 Hubungan kadar IL-10 serum dengan derajat keparahan akne vulgaris
Derajat Keparahan Kadar IL-10 (pg/ml)
n Mean SD Min Max p serum derajat berat 4,38 ± 0,61 pg/ml. Nilai p yang didapatkan melalui uji Anova adalah 0,001 (p<0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan antara kadar IL-10 serum dengan derajat keparahan akne vulgaris.
Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Demina et al menemukan bahwa kadar IL-10 serum meningkat sesuai dengan derajat keparahan akne vulgaris. Selisih rerata kadar IL-10 serum akne vulgaris
derajat ringan hingga sedang dibandingkan dengan kontrol adalah
±22 pg/ml; sedangkan selisih rerata kadar IL-10 serum akne vulgaris derajat berat dengan kontrol adalah ±30 pg/ml. Namun, pada penelitian ini terdapat kelemahan yaitu tidak terdapat analisis statistik yang menghubungkan kadar IL-10 serum dengan derajat keparahan akne vulgaris.69
4.3.2 Nilai kadar IL-10 serum pada akne vulgaris berdasarkan jenis kelamin Berikut adalah tabel yang menunjukkan nilai rerata kadar IL-10 serum pada kelompok akne vulgaris berdasarkan jenis kelamin.
Tabel 4.5 Nilai kadar IL-10 serum berdasarkan jenis kelamin pada
vulgaris berjenis kelamin perempuan adalah 5,25 ± 1,18 pg/ml.
Peneliti belum menemukan penelitian yang mencari perbedaan kadar IL-10 serum pada manusia berdasarkan jenis kelamin. Sampai saat ini peneliti hanya menemukan satu penelitian oleh Poveshchenko et al yang mencari perbedaan profil sitokin pada limfe dan serum darah tikus dimana pada penelitian tersebut dijumpai perbedaan kadar IL-10 serum darah antara tikus jantan dan betina yang berusia 9 bulan (p<0,05).70
51
4.3.3 Nilai kadar IL-10 serum pada akne vulgaris berdasarkan usia
Berikut adalah tabel yang menunjukkan nilai rerata kadar IL-10 serum pada kelompok akne vulgaris berdasarkan usia.
Tabel 4.6 Nilai kadar IL-10 serum berdasarkan usia pada akne kadar IL-10 serum kelompok usia 26-35 tahun adalah 5,29 ± 0,85 pg/ml.
Peneliti sampai saat ini belum menemukan penelitian yang mencari perbedaan nilai kadar IL-10 serum berdasarkan usia pada akne vulgaris.
Namun pada penelitian yang dilakukan Kleiner et al pada 72 orang subjek sehat menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar IL-10 serum bila dikaitkan dengan usia (kelompok usia 1-6 tahun 11,4 pg/ml (9,5-12,8);
kelompok usia 7-17 tahun 11,3 pg/ml (8,9-13,7); dan kelompok usia 18 tahun 12,6 pg/ml (8,5-16,7)).71
Patogenesis akne vulgaris bersifat kompleks dan multifaktorial.
Salah satu dari empat faktor utama yang berperan dalam patogenesis akne vulgaris adalah inflamasi.1,2,13,14 Inflamasi yang terjadi pada akne vulgaris terutama dicetuskan oleh reaksi imunologi terhadap P. acnes yang menyebabkan terbentuknya sitokin proinflamasi dan mungkin disebabkan oleh asam lemak bebas yang dihasilkan melalui hidrolisis sebum trigliserida oleh enzim lipase yang disekresi P. acnes.14,15 Substansi
kemotaksis yang dihasilkan oleh bakteri menarik sel-sel imun seperti neutrofil, monosit dan limfosit.15 Respon imun terhadap patogen meliputi aktivasi sitokin proinflamasi yang cepat untuk memulai pertahanan tubuh terhadap invasi mikroba, dan sejalan dengan itu, sistem imun memiliki mekanisme antiinflamasi yang dapat menekan produksi molekul proinflamasi untuk membatasi kerusakan jaringan.18,19
Salah satu sitokin potensial antiinflamasi dengan efek penekanan kuat untuk mencegah penyakit autoimun adalah IL-10 yang dihasilkan oleh sel Th2 tikus yang menghambat aktivasi dan produksi sel Th1.19 Kemampuan IL-10 dalam menghambat produksi sitokin baik oleh sel-T dan sel natural killer (NK) secara tidak langsung ditemukan melalui hambatan pada fungsi sel makrofag / monosit. Studi yang lebih jauh kemudian menunjukkan aktivitas pleiotropik dari IL-10 terhadap sel-B, sel-T dan sel mast.19,20
Pada penelitian ini didapatkan nilai rerata kadar IL-10 serum untuk masing-masing kelompok akne sebagai berikut: derajat ringan 6,63 ± 1,94 pg/ml, derajat sedang 4,89 ± 0,95 pg/ml dan derajat berat 4,38 ± 0,61 pg/ml dengan nilai p pada penelitian ini adalah 0,001. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara kadar IL-10 serum dengan derajat keparahan akne vulgaris.
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Demina et al dengan tujuan untuk mencari peran sitokin dalam patogenesis akne.
Penelitian ini melibatkan 276 penderita akne berusia 16-44 tahun. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa kadar IL-10 serum meningkat pada
53
akne vulgaris derajat ringan hingga sedang dibandingkan dengan kontrol dengan selisih rerata ± 22 pg/ml dan selisih rerata kadar IL-10 serum akne vulgaris derajat berat dengan kontrol adalah ± 30 pg/ml. Meskipun demikian terdapat kelemahan pada penelitian ini karena tidak mencantumkan dengan jelas nilai rerata kadar IL-10 serum serta tidak diketahui nilai signifikansinya secara statistik.69
Berikut ini adalah beberapa penelitian yang menghubungkan kadar IL-10 dengan akne vulgaris namun menggunakan metode penelitian berbeda. Penelitian oleh Caillon et al, menemukan adanya penurunan sekresi IL-10 dari sel mononuklear darah tepi sebagai sitokin antiinflamasi pada akne vulgaris yang signifikan secara statistik (976±102 pg/ml pada akne dibandingkan 766 ± 122 pg/ml pada kontrol; p<0,05). Pada penelitian ini, dilakukan pengukuran sekesi kadar IL-10 serum oleh sel mononuklear darah tepi setelah diberikan stimulasi dengan P. acnes dengan konsentrasi 100 g/ml. Penelitian ini juga mengidentifikasi kemungkinan hubungan derajat keparahan akne dan sekresi IL-10 setelah pemberian P. acnes, namun hasilnya tidak ada perbedaan kadar sekresi IL-10 pada akne derajat ringan maupun derajat sedang hingga berat, meskipun data tidak ditunjukkan dalam literatur. Rendahnya sekresi kadar IL-10 dari sel mononuklear darah tepi pasien akne dibandingkan dengan kontrol menunjukkan adanya ketidakseimbangan produksi sitokin proinflamasi dan sitokin antiinflamasi terhadap stimulus (P. acnes) yang diberikan.22
Penelitian yang dilakukan Kang et al menemukan kadar mRNA gen sitokin IL-10 meningkat sebesar 46 kali lipat (p<0,001) dibandingkan
dengan kulit normal terdekat yang tidak terlibat. Penelitian ini merupakan penelitian in vivo menggunakan sampel kulit 16 pasien akne berusia 13-39 tahun dimana lesi kulit yang diambil adalah lesi inflamasi dan pada area kulit normal yang tidak terlibat dengan menggunakan alat biopsi berukuran 3 mm. kemudian dilakukan pengukuran kadar mRNA beberapa gen sitokin berbeda termasuk IL-10. Peningkatan kadar mRNA gen IL-10 pada lesi sampel kulit inflamasi dibandingkan dengan kulit normal di dalam penelitian ini menurut peneliti adalah sebagai mekanisme umpan balik untuk meredam inflamasi yang terjadi.21
Penelitian yang dilakukan oleh Al-Shobaili et al mencari hubungan polimorfisme gen TNF-α dan IL-10 dengan kerentanan untuk menderita akne vulgaris serta hubungan polimorfisme gen tersebut dengan derajat keparahan akne vulgaris. Penelitian ini melibatkan 166 pasien akne vulgaris di Saudi. Hasilnya ditemukan tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik dalam polimorfisme gen IL-10 varian genotipik -1082 antara kasus dan kontrol. Meskipun demikian, dalam penelitian tersebut dikemukakan bahwa frekuensi genotipe IL-10 varian -1082 relatif tinggi pada akne dibandingkan dengan kontrol namun membutuhkan sampel yang lebih besar agar bermakna secara statistik.72
Berdasarkan uraian penelitian-penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa sitokin antiinflamasi IL-10 memainkan peranan dalam patogenesis akne vulgaris. Penurunan kadar IL-10 pada akne vulgaris menjadi dasar terjadinya akne vulgaris dan berhubungan dengan derajat keparahan akne vugaris, dimana semakin rendah kadar IL-10 serum maka semakin berat
55
derajat keparahan akne vulgaris. Meskipun demikian perlu diingat bahwa patogenesis akne vulgaris bersifat multifaktorial dan harus ditinjau secara keseluruhan.
5.1 Kesimpulan
Telah dilakukan penelitian mengenai hubungan kadar IL-10 serum dengan derajat keparahan akne vulgaris dengan kesimpulan sebagai berikut : 1. Terdapat hubungan antara kadar IL-10 serum dengan derajat keparahan
akne vulgaris.
2. Nilai rerata kadar IL-10 serum pada akne vulgaris berjenis kelamin
laki-laki yaitu 5,24 ± 1,99 pg/ml sementara pada perempuan adalah 5,25 ± 1,18 pg/ml.
3. Nilai rerata kadar IL-10 serum pada kelompok akne vulgaris berusia 17-25 tahun adalah 5,24 ± 1,61 pg/ml sementara pada kelompok akne vulgaris berusia 26-35 tahun adalah 5,29 ± 0,85 pg/ml.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah :
1. Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan penelitian polimorfisme gen IL-10 dengan sampel yang besar.
2. Pengukuran kadar IL-10 serum dapat dijadikan parameter derajat keparahan akne vulgaris.
DAFTAR PUSTAKA
1. Zaenglein AL, Graber EM, Thiboutot D. Acne vulgaris and acneiformis eruptions. In:
Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolff K, editors.
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 8th ed. New York: McGraw Hill Companies; 2012. p.897-917
2. Dawson AL, Dekkavalle RP. Clinical review : Acne vulgaris. British Medical Journal.
2013; 346:f2634. doi: 10.1136/bmj.f2634
3. Barratt H, Hamilton F, Car J, Lyons C, Layton A, Majeed A. Outcomes measures in acne vulgaris: systematic review. British Journal of Dermatology. 2009; 160(3):132-6.
doi:10.111/j.1365-2133.1008.08819.x.
4. Kraft J, Freiman A. Management of acne. Can Med Assoc J. 2011; 183(7):430-5 5. JK Tan, K Bhate. A global perspective on the epidemiology of acne. Br J Dermatol.
2015; 172(sup1):3-12. doi:10.111/bjd.13462
6. SZ Ghodsi, H Orawa, CC Zouboulis. Prevalence, severity and severity risk factors of acne in high school pupil : a community-based study. J Inves Dermatol. 2009;
129(9):2136-41. doi:10.1038/jid.2009.47.
7. Nobukazu H et al. An epidemiological study of acne vulgaris in Japan by questionnaire. Japanese Journal of Dermatology. 2001;111(9): 1347-55
8. Hanisah A, Omar K, Shah SA. Prevalence of acne and its impact on quality of life in school-aged adolescents in Malaysia. J Primary Health Care. 2009; 1(1):20-5
9. Tan HH, Tan AW, Barkham T, Yan XY, Zhu M. Community-based study of acne vulgaris in adolescents in Singapore. Br J Dermatol. 2007; 157(3):547-51
10. Wasitaatmadja SM, Arimuko A, Norawati L, Bernadette I, Legiawati L, editors.
Pedoman tata laksana akne di Indonesia. 2th ed. Jakarta: Centra communications;
2016
11. Tjekyan RMS. Kejadian dan faktor resiko akne vulgaris. MMI. 2008; 43(1):37-43.
Available from: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/mmi/article/view/3810
12. Anggrenni O, Jusuf NK, Simanungkalit R. Studi retrospektif pasien akne vulgaris di RSUP H. Adam Malik Medan periode tahun 2010-2012. 2014. Available from:
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/41300
13. Baran R, Chivot M, Shalita AR, Lewis A, Wechsler A. Acne. Baran R, Maibach HI editors. Textbook of Cosmetic Dermatology. 3th Edition. London: Taylor & Francis;
2005; p.423-34
14. Koreck A, Pivarcsi A, Dobozy A, Kemeny L. The role of innate immunity in the pathogenesis of acne. Dermatology. 2003; 206(1):96-105
15. Ingham E, Eady EA, Goodwin CE, Cove JH, Cunliffe WJ. Pro-inflammatory levels of interleukin-1 alpha-like bioactivity are present in the majority of open comedones in acne vulgaris. J Invest Dermatol. 1992; 98(6) An Abstract
16. Tanghetti EA. Literature review : The Role of Inflammation in the Pathology of Acne.
J of Clinical Aesthetic Dermatol. 2013; 6(9): 27-35
17. Jeremy AH, Holland DB, Roberts SG, Thomson KF, Cunliffe WJ. Inflammatory Events are Involved in Acne Lesion Initiation. J Invest Dermatol. 2003; 121:20-7 18. Mosser DM, Zhang X. Interleukin-10: new perspectives on an old cytokine. Immunol
Rev. 2008; 226:205-18
19. Moore KW, Malefyt RdW, Coffman RL, O’Garra A. Interleukin-10 and the Interleukine-10 receptor. Annu Rev Immunol. 2001; 19: 683-765
21. Kang S, Cho S, Chung JH, Hammerberg C, Fisher GJ, Voorhees JJ. Inflammation and extracellular matrix degradation mediated by activated transcription factors nuclear factor-κB and activator protein-1 in inflammatory acne lesions in vivo. Am J of Pathol. 2005; 166(6):1691-99
22. Caillon F, O’Connell M, Eady EA, Jenkins G, Cove JH, Layton AM, Mountford AP.
Interleukin-10 secretion from CD14+ peripheral blood mononuclear cells is downregulated in patients with acne vulgaris. Br J Dermatol. 2010; 162(2):296-303 23. Lynn DD, Umari T, Dunnick CA, Cellavalle RP. The epidemiology of acne vulgaris
in late adolescence. Adolescent Health, Medicine and Therapeutics. 2016; 7: 13-25 24. Bagatin E, Timpano DL, Guadanhim LRS, Nogueira VMA, Terzian LR, Steiner D et
all. Acne vulgaris: prevalence and clinical forms in adolescents from Sao Paulo, Brazil. An Bras Dermatol. 2014; 89(3): 428-35
25. Afriyanti RN. Tinjauan literatur : Akne vulgaris pada remaja. J Majority. 2015; 4(6):
102-9
26. Williams C, Layton AM. Persistent acne in women : implications for the patient and for therapy. Am J Clin Dermatol. 2006; 7(5): 281-90
27. Yentzer BA, Hick J, Reese EL, Uhas A, Feldman SR, Balkrishnan R. Acne vulgaris in the United States: a descriptive epidemiology. Cutis. 2010; 86(2): 94-9 An abstract 28. Zeichner JA, Baldwin HE, Cook-Bolden FE, Eichenfield LF, Fallon-Friedlander SF,
Rodriguez DA. Emerging issues in adult female acne. J Clin Aesthet Dermatol. 2017;
10(1): 37-46
29. Baumann L, Keri J. Acne (type 1 sensitive skin). In: Baumann L, Saghari S, Weissberg E, editors. Cosmetic Dermatology Principles and Practice. 2nd edition.
New York: McGraw Hill; 2009. p.121-7
30. Layton AM. Disorders of the sebaceous glands. In: Burns T, Breathnach S, Cox N,
30. Layton AM. Disorders of the sebaceous glands. In: Burns T, Breathnach S, Cox N,