• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi operasional

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 54-62)

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.8 Definisi operasional

Diagnosis ditegakkan bila secara klinis ditemukan lesi kulit khas KA berupa : • Akuminata atau eksofitik: merupakan bentuk klasik yaitu lesi bertangkai dan

menyerupai kembang kol dengan tonjolan seperti jari, permukaan tidak beraturan, konsistensi lunak, dan berwarna merah jambu.

• Papular: bentuk lesi menyerupai kubah, menonjol tetapi tidak bertangkai, berukuran kecil dengan diameter satu sampai empat mm. Permukaan lesi halus dan tidak iregular seperti pada bentuk akuminata.

• Keratotik: bentuk lesi berupa papul keras dan tidak bertangkai dengan permukaan sedikit kasar dan tajam menyerupai lapisan tanduk.

• Sesil atau datar: bentuk lesi sedikit meninggi atau berupa makula, multipel, tidak menyatu, dengan ukuran kecil dan permukaan halus.

3.8.2 Usia

Usia SP (dalam satuan tahun) pada saat dilakukan pemeriksaan dihitung dengan mengurangi tahun pemeriksaan dengan tahun lahir.

3.8.3 Jenis kelamin

Jenis kelamin merupakan petanda gender SP dinilai berdasarkan bentuk anatomis genitalia eksterna, yaitu:

• 0 = Perempuan • 1 = Lelaki

3.8.4 Status pernikahan

Status pernikahan saat pemeriksaan, yaitu: • 0 = Belum menikah

• 1 = Menikah • 2 = Cerai

3.8.5 Tingkat pendidikan SP

Tingkat pendidikan SP menggambarkan jenjang pendidikan lulus terakhir SP, digolongkan sesuai Kementrian Pendidikan Nasional, yaitu:

• 0 = Tidak sekolah

• 1 = Pendidikan rendah: jenjang pendidikan awal selama sembilan tahun pertama masa sekolah, yaitu taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD). • 2 = Pendidikan sedang: jenjang lanjutan pendidikan dasar, yaitu sekolah

menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas/kejuruan (SMA/SMK). • 3 = Pendidikan tinggi: jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah, yang

mencakup diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

3.8.6 Keluhan subyektif

Keluhan subyektif adalah keluhan yang dirasakan oleh SP sebelum dimulainya terapi, yaitu:

• 0 = Tidak ada • 1 = Gatal • 2 = Nyeri

• 3 = Gatal dan nyeri • 4 = Lain-lain

3.8.7 Lama penyakit

Lama penyakit diartikan sebagai waktu sejak timbulnya gambaran klinis KA hingga saat SP diperiksa oleh peneliti, yaitu:

• 0 = Tidak diketahui • 1 = < 3 bulan • 2 = ≥ 3 bulan

3.8.8 Riwayat terapi

Riwayat terapi adalah riwayat pengobatan KA yang pernah diterima SP dari dokter, yaitu:

• 0 = Tidak ada

• 1 = Ada, diberi keterangan berupa (dapat lebih dari satu):

o Destruksi fisis (kuretase, bedah beku, laser, bedah listrik, bedah eksisi) o Destruksi kimiawi (tingtur podofilin 25%, larutan asam trikloroasetat

90%)

o Imunomodulator (krim imiquimod 5%) o Antimetabolik (krim 5-fluorourasil) o Antivirus (IFN injeksi atau topikal) • 2 = Tidak diketahui

3.8.9 Keluhan serupa pada pasangan seksual

Adanya lesi KA pada pasangan seksual SP, yaitu: • 0 = Tidak ada

• 1 = Ada

• 2 = Tidak tahu/tidak menjawab

3.8.10 Perilaku seksual pasangan

• 0 = Tidak risiko tinggi • 1 = Risiko tinggi • 2 = Tidak tahu

Berdasarkan penelitian faktor risiko oleh WHO, perilaku risiko tinggi adalah apabila terdapat satu dari beberapa hal di bawah ini:

• Lelaki: mitra seksual > 1 dalam satu bulan terakhir, berhubungan seksual dengan penjaja seks dalam satu bulan terakhir, mengalami satu atau lebih episode IMS dalam satu bulan terakhir, perilaku istri atau mitra seksual berisiko tinggi.

• Perempuan: suami atau mitra seksual menderita IMS, suami atau mitra seksual atau pasien sendiri mempunyai mitra seksual > 1 dalam satu bulan terakhir, mempunyai mitra baru dalam tiga bulan terakhir, mengalami satu atau lebih episode IMS dalam satu bulan terakhir, perilaku suami atau mitra seksual berisiko tinggi.

3.8.11 Jumlah pasangan seksual

Jumlah pasangan seksual selama hidup, yaitu: • 0 = < 5 orang

• 1 = ≥ 5 orang

3.8.12 Merokok

Kebiasaan merokok pasien, yaitu: • 0 = Tidak pernah merokok • 1 = Pernah merokok

3.8.13 Lokasi lesi

Lokasi lesi adalah daerah genital dan perianal yang terdapat lesi KA, yaitu: • Pubis

• Skrotum • Batang penis • Glans penis • Sulkus koronarius • Prepusium • Labia mayora • Labia minora • Klitoris • Komisura posterior • Introitus vagina • Perineum • Perianal 3.8.14 Morfologi lesi

Merupakan mayoritas bentuk lesi yang terlihat secara klinis, yaitu: • 0 = Akuminata/eksofitik

• 1 = Papular • 2 = Keratotik • 3 = Sesil/datar

3.8.15 Jumlah lesi KA pada daerah genital dan/atau perianal

Jumlah lesi KA pada daerah genital dan/atau perianal diartikan sebagai banyaknya lesi khas KA total yang dihitung pada daerah genital dan/atau perianal sesuai dengan pembagian lokasi tubuh pada poin 3.8.13.

3.8.16 Rerata ukuran lesi KA

Rerata ukuran lesi KA merupakan mayoritas ukuran lesi KA yang terdapat pada SP. Ukuran yang dihitung adalah volume ( panjang x lebar x tinggi) menggunakan alat ukur kaliper.

3.8.17 Infeksi menular seksual lain

Ada tidaknya IMS lain selama dilakukan terapi KA. • 0 = Tidak ada

• 1 = Ada, diberi keterangan berupa (dapat lebih dari satu): o Sifilis o Herpes genitalis o Uretritis/servisitis gonorrhea/nonspesifik o Kandidosis vulvovaginitis o Trikomoniasis o Proktitis gonorrhea/nonspesifik o Moluskum kontagiosum

3.8.18 Respons terhadap pengobatan

Respons terhadap pengobatan adalah berkurangnya jumlah atau ukuran lesi akibat pemberian terapi topikal. Kriteria kesembuhan dalam hal ini adalah hilangnya lesi KA, dibuktikan dengan inspeksi pada permukaan kulit bekas lesi. Hasil pengamatan dikelompokkan menjadi:

• 0 = Tidak ada respons (jumlah lesi dan ukuran lesi menetap atau bertambah dalam waktu enam minggu masa penelitian).

• 1 = Respons parsial (jumlah atau ukuran lesi berkurang < 80% dalam waktu enam minggu masa penelitian).

• 2 = Respons baik (jumlah atau ukuran lesi berkurang ≥ 80% dalam waktu enam minggu masa penelitian).

3.8.19 Efek samping

Efek samping adalah akibat atau gejala yang timbul disamping proses atau tujuan utamanya, dinilai pada minggu I, II, III, IV, V, VI. Dibagi menjadi:

a. Efek samping segera • 0 = Tidak ada • 1 = Gatal

• 2 = Nyeri ringan (Visual Analogue Scale/VAS 1-2) • 3 = Nyeri sedang (VAS 3-5)

• 4 = Nyeri berat (VAS 6-7)

• 5 = Nyeri sangat hebat (VAS 8-10) • 6 = Lain-lain

b. Efek samping susulan • Efek samping subyektif

0 = Tidak ada 1 = Gatal

2 = Nyeri ringan (VAS 1-2) 3 = Nyeri sedang (VAS 3-5) 4 = Nyeri berat (VAS 6-7)

5 = Nyeri sangat hebat (VAS 8-10) 6 = Lain-lain

• Efek samping obyektif

1. Reaksi lokal kulit ringan, yaitu berupa kemerahan, bengkak, dan luka superfisial.

2. Reaksi lokal kulit berat, yaitu berupa ulserasi dalam.

3. Sikatriks atrofik (depresi permukaan kulit/permukaan kulit yang cekung karena kehilangan jaringan saat proses penyembuhan luka) maupun sikatriks hipertrofik (relief kulit yang tidak normal berupa kulit yang terlihat menonjol secara klinis karena pembentukan jaringan ikat berlebih saat proses penyembuhan luka).

4. Infeksi sekunder

3.8.20 Penggunaan kondom selama terapi

Subyek penelitian atau pasangan seksual SP memakai kondom selama dilakukannya terapi KA.

• 0 = Selalu : bila kondom dipakai setiap melakukan senggama.

• 1 = Kadang-kadang : bila kondom tidak selalu dipakai saat senggama • 2 = Tidak pernah : bila kondom tidak pernah dipakai saat senggama • 3 = Tidak melakukan hubungan seksual selama terapi

3.8.21 Pemeriksaan hitung CD4

Pemeriksaan hitung CD4 dilakukan pada semua SP. Pada pasien positif HIV dan sudah melakukan pemeriksaan hitung CD4 maka hasil pemeriksaan hitung CD4 dalam jangka waktu enam bulan sebelumnya dapat digunakan.

• 0 = > 200 sel/mm3 • 1 = ≤ 200 sel/mm3 • 2 = Tidak diperiksa

3.8.22 Status HIV

Status HIV tidak diperiksakan khusus tetapi ditanyakan dan dilakukan pencarian di rekam medis. Jika status HIV ada maka dicantumkan pada penelitian ini.

• 0 = Negatif • 1 = Positif • 2 = Tidak tahu

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 54-62)

Dokumen terkait