• Tidak ada hasil yang ditemukan

Demokrasi Desa :

BAB VI BELA NEGARA

F. DEMOKRASI DI INDONESIA

1. Demokrasi Desa :

1. Demokrasi Desa :

Sejak dulu desa-desa di Indonesia sudah menjalankan demokrasi, misalnya de- ngan pemilihan kepala desa dan adanya rembug desa. Inilah yang disebut

demokrasi asli. Demokrasi desa mempunyai lima unsur, yaitu : a. Rapat;

b. Mufakat; c. Gotong-royong;

d. Hak mengadakan protes bersama;

Demokrasi desa tidak dapat dijadikan pola demokrasi untuk Indonesia modern, akan tetapi dapat dikembangkan menjadi konsep demokrasi Indonesia yang modern. Menurut Hohamad Hatta, demokrasi Indonesia modern harus meliputi tiga hal, yaitu :

a. Demokrasi di bidang politik; b. Demokrasi di bidang ekonomi, c. Demokrasi di bidang sosial.

2. Demokrasi Pancasila :

Semenjak negara Republik Indonesia berdiri tahun 1945, telah dianut dan

dilaksa-nakan demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, dan sejak tahun 1966 demokrasi Pancasila.

Sesuai dengan UUD 1945, memang seharusnya yang dianut dan dilaksanakan adalah demokrasi Pancasila. Nilai-nilai yang terjabar dari nilai-nilai Pancasila sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 adalah :

a. Kedaulatan rakyat. Perhatikan bunyi kalimat pada elinea keempat, ”...yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang

ber-kedaulatan rakyat ...”

b. Republik. Perhatikan kalimat tersebut di atas pada kata Republik Indonesia; c. Negara berdasar atas hukum. Perhatikan kalimat pada alinea keempat

selan-jutnya, ”... Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.” Perhatikan pula Penjelasan UUD 1945 dalam sistem pemerintahan negara, ”I. Indonesia ialah negara yang berdasar atas Hukum (Rechtsstaat); 1. Negara Indonesia berdasar atas Hukum (rechtsstaat) tidak berdasar atas kekuasaan belaka (machtsstaat).”

Kemerdekaan Kebangsaan itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara

Indonesia ...” UUD 1945 adalah konstitusi negara!

e. Sistem perwakilan. Perhatikan kalimat, ”... dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan ...” yang adalah juga sila keempat Pancasila.

f. Prinsip musyawarah. Perhatikan kalimat yang sama tersebut di atas;

g. Prinsip Ketuhanan. Perhatikan kalimat, ”...dalam suatu susunan Negara Re-publik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada :

Ke-tuhanan Yang Maha Esa, ...” yang tidak lain adalah sila pertama Pancasila.

Demokrasi Pancasila dapat juga diartikan secara luas maupun sempit :

a. Dalam arti luas, berarti kedaulatan rakyat yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara (epolek-sosbudhankamag);

b. Dalam arti sempat, berarti kedaulatan rakyat yang dilaksanakan menurut hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (sila keempat Pancasila).

3. Perkembangan Demokrasi di Indonesia :

Perkembangan demokrasi di Indonesia mengalami pasang surut. Lahirnya konsep

demokrasi dapat ditelusuri mulai pada sidang BPUPKI (1945) yang pada umumnya para founding father menghendaki bahwa negara Indonesia merdeka haruslah negara demokrasi. Perbedaan yang terjadi adalah mengenai hak-hak demokrasi warga negara. Pandangan pertama yang diwakili Mr. R. Soepomo dan Ir. Soekarno, menentang dimasukkannya hak-hak tersebut dalam konstitusi, sementara pandangan kedua yang diwakili Drs. Moh. Hatta dan Mr. Muh.

Yamin, memandang perlu pencantuman hak-hak warga negara dalam

undang-undang dasar.

Periodisasi pelaksanaan demokrasi Indonesia menurut Miriam Budiardjo (1997) adalah :

a. Masa Republik I, disebut Demokrasi Parlementer;

b. Masa Republik II, disebut Demokrasi Terpimpin;

c. Masa Republik III, disebut Demokrasi Pancasila, yang menonjolkan sistem presidensial.

Sementara itu menurut Afan Gaffar (1999), periodisasi dimaksud adalah : a. Periode masa Revolusi Kemerdekaan;

b. Periode masa Demokrasi Perlementer (representative democracy); c. Periode masa Demokrasi Terpimpin (guided democracy);

d. Periode masa Pemerintahan Orde Baru (Pancasila democracy).

Perkembangan sampai saat sekarang dapat juga dibagi ke dalam periodisasi seba-gai berikut (Dwi Winarno, 2006) :

a. Pelaksanaan demokrasi masa Revolusi (1945-1950); b. Pelaksanaan demokrasi masa Orde Lama :

(1) Demokrasi Liberal (1950-1959); (2) Demokrasi Terpimpin (1959-1965).

c. Pelaksanaan demokrasi masa Orde Baru (1966-1998); d. Pelaksaan demokrasi masa Transisi (1998-1999); e. Pelaksaan demokrasi masa Reformasi (1999-sekarang). Catatan :

Pada masa transisi dan reformasi banyak terjadi perbedaan pendapat dan

per-tentangan yang kerap menimbulkan konflik dan kerusuhan, a.l. Aceh, Papua, Timor Timur, Ambon (Maluku), Poso (Sulawesi), Kalimantan Tengah, dll. (Tim-tim malah setelah dilakukan referendum pada masa pemerintahan Presiden B.J.

Habibie akhirnya lepas dari NKRI). Sekarang ini rakyat memiliki kesempatan

yang luas dan bebas untuk melaksanakan demokrasi di berbagai bidang. Harapan banyak orang akan demokrasi itu sehingga sering disebut ”eforia demokrasi.” Pada masa ini pun banyak terjadi pertentangan terutama menyangkut reaksi masyarakat atas kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan atau tidak ber-pihak kepada rakyat.

4. Mekanisme Sistem Politik Demokrasi Indonesia :

Pokok-pokok dalam sistem demokrasi politik Indonesia dapat dikemukakan seba-

gai berikut :

a. Merupakan bentuk negara kesatuan dengan prinsip otonomi luas kepada daerah;

b. Bentuk pemerintahan republik dengan sistem presidensial;

c. Presiden adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat untuk masa jabatan lima tahun. Presiden tidak bertanggung jawab kepada MPR maupun DPR;

d. Kabinet (dewan menteri) sebagai pembantu presiden diangkat dan diberhen-tikan oleh presiden dan bertanggung jawab kepada presiden;

e. Parlemen terdiri dari dua kamar, yaitu DPR dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah) yang tergabung dalam MPR. DPR terdiri atas para wakil rakyat yang dipilih dalam Pemilu melalui jalur Parpol, yang berpedoman pada asas : (1) Mandiri;

(2) Jujur; (3) Adil;

(4) Kepastian hukum;

(5) Tertib penyelenggara Pemilu; (6) Kepentingan umum; (7) Keterbukaan; (8) Proporsionalitas; (9) Profesionalitas; (10) Akuntabilitas; (11) Efisiensi; (12) Efektivitas.

DPR mempunyai kekuasaan legislasi, anggaran, dan mengawasi jalannya pe-merintahan. Terdapat juga DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota. Sedangkan DPD dipilih secara perseorangan melalui Pemilu bersamaan dengan pemilih-an pemilih-anggota DPR/DPRD (tidak melalui Parpol) dpemilih-an merupakpemilih-an wakil dari provinsi (tiap provinsi empat orang);

f. Pemilu diselenggarakan untuk memilih anggota DPR, DPD, serta DPRD Pro-vinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, serta Presiden dan Wakil Presiden (Pil-pres);

g. Sistem multi partai. (Pada masa Orla banyak partai, masa Orba dari 10 diciut-kan menjadi 3, masa reformasi tahun 1999 ada 48 partai, tahun 2004 ada 24 partai, dan tahun 2009 ada 38 partai ditambah partai lokal di Aceh 6 partai, jadi 44 partai).

h. Kekuasaan yudikatif dijalankan oleh Mahkamah Agung (MA) dan badan-badan peradilan yang ada di bawahnya (PN, PT, PTUN, PA, PM, termasuk Pengadilann HAM dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi), serta ada Mah-kamah Konstitusi (MK), dan Komisi Yudisial (KY);

i. Lembaga negara lainnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

5. Wujud Demokrasi dalam Penyelenggaraan Negara RI :

Merupakan proses lima tahunan, yaitu saat pergantian kepemimpinan nasional

yang dimulai dengan kegiatan Pemilu untuk memilih calon anggota DPR, DPD, DRRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, serta pemilihan Presiden.

Pemilu dilaksanakan secara efektif dan efisien berdasarkan asas langsung, umum,

bebas, rahasia, jujur, dan adil. Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota dilaksanakan dengan sistem proporsional

terbuka, sedangkan untuk memilih anggota DPD dilaksanakan dengan sistem

distrik berwakil banyak. Penyelenggara Pemilu adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pengawasan penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Peserta Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Ka-bupaten/Kota adalah Parpol. Persyaratan Parpol untuk menjadi peserta Pemilu adalah :

a. Berstatus badan hukum sesuai dengan UU tentang Parpol (Untuk Pemilu 2009 adalah UU No. 2 Tahun 2008, karena ternyata tiap lima tahun UU Parpol, UU Susduk DPR, DPD, DPRD, dan UU Pemilu selalu diganti, padahal dalam UU sebelumnya ada ketentuan Electoral dan Parliamentary Treshold);

b. Memiliki kepengurusan di 2/3 (dua pertiga) jumlah provinsi;

c. Memiliki kepengurusan di 2/3 jumlah kabupaten/kota di provinsi yang bersangkutan;

d. Menyertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan pada kepengurusan Parpol tingkat pusat;

e. Memiliki anggota sekurang-kurangnya 1.000 (seribu) orang atau 1/1.000 (satu perseribu) dari jumlah penduduk pada setiap kepengurusan Parpol sebagai-mana dimaksud pada huruf b dan c yang dibuktikan dengan kepemilikan kartu tanda anggota;

f. Mempunyai kantor tetap untuk kepengurusan sebagaimana pada huruf b dan c;

g. Mengajukan nama dan tanda gambar Parpol kepada KPU.

Jumlah kursi anggota DPR pada Pemilu 2009 ditetapkan 560 (lima ratus enam puluh) orang, sebelumnya (Pemilu 2004) 550 orang. Jumlah anggota DPRD Provinsi untuk Pemilu 2009 paling sedikit 35 (tiga puluh lima) orang dan paling banyak 100 (seratus) orang. Dan jumlah anggota DPRD Kabupaten/Kota paling sedikit 20 (dua puluh) orang dan paling banyak 50 (lima puluh) orang.

CATATAN :

a. Hasil Pemilu Legislatif 2009 :

- Daftar Pemilih Tetap ... 171.265.076 - Tidak hadir memilih ... 49.699.076 - Suara tidak sah ... 17.488.581 - Suara sah ... 104.099.785 - Perolehan kursi Parpol (dari 38 Parpol nasional) :

Demokrat ... 21.703.171 (20,85%) Golkar ... 15.037.757 (14,45%) PDIP ... 14.600.091 (14,03%) PKS ... 8.206.955 (7,88%) PAN ... 6.204580 (6,01%) PPP ... 5.533.214 (5,32%)

PKB ... 5.146.122 (4,94%) Gerindra ... ... 4.646.406 (4,46) Hanura .... ... 3.922.870 (3,77%) PBB ... ... 1.864.752 (1,79%) PDS ... (1,48%) PKNU ... (1,47%) PKPB ... (1,40%) PBR ... (1,21%) PPRN ... (1,21%) PKPI... (0,90%) PDP ... (0,86%) Barnas ... (0,73%) PPPI ... (0,72%) PDK ... (0,64%) RepublikaN ... (0,61%) PPD ... (0,53%) Patriot ... (0,53%) PNBK ... (0,45%) Kedaulatan ... (0,42%) PMB ... ... (0,40%) PPI ... (0,40%) Pakar Pangan ... (0,34%) Pelopor ... (0,33%) PKDI ... (0,31%) PIS ... (0,31%) PNI Marhaen ... (0,30%) Partai Buruh ... (0,25%) PPIB ... (0,19%) PPNUI ... (0,14%) PSI ... (0,14%) PPDI ... (0,13%) Merdeka ... (0,11%)

Sesuai ketentuan ambang batas (Parliamentary Threshold) 2,5%, maka komposisi Parpol yang mempunyai wakilnya di DPR hanya 9 Parpol saja, yaitu : Demokrat ... 148 kursi. Golkar ... 108 kursi. PDIP ... 93 kursi. PKS ... 59 kursi. PAN ... 42 kursi. PPP ... 39 kursi. Gerindra ... 30 kursi. PKB ... 26 kursi. Hanura ... 15 kursi. Jumlah ... 560 kursi.

b. Hasil Pemilu Presiden/Wakil Presiden (Pilpres) :

- Jumlah pemilih... 176.411.434 - Tidak hadir memilih ... 48.427.779 - Suara tidak sah ... 6.479.174 - Suara sah ... 121.504.484 - Perolehan suara pasangan Capres/Cawapres :

Megawati Soekarnoputri/Prabowo Subianto ... 32.548.105 (26,79%) Susilo Bambang Yudhoyono/Budiono ... 73.874.562 (60,80%) Jusuf Kalla/Wiranto ... 15.081.814 (12,41%) Dengan demikian untuk masa jabatan 2009-2014 terpilih pasangan Dr.

Susilo Bambang Yudhoyono/Prof. Dr. Budiono sebagai Presiden/Wakil

Presiden Republik Indonesia, dan telah dilantik oleh MPR pada tanggal 20 Oktober 2009. Bagi SBY, ini adalah untuk kedua kali menjadi Presiden RI.

Peserta Pemilu untuk memilih anggota DPD adalah perseorangan. Persyaratan untuk menjadi peserta Pemilu anggota DPD adalah :

a. WNI yang telah berumur 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih; b. Bertaqwa kepada Tuhan YME;

d. Cakap berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia;

e. Berpendidikan paling rendah tamat SMA, MA, SMK, MAK, atau bentuk lain yang sederajat;

f. Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945;

g. Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;

h. Sehat jasmani dan rohani; i. Terdaftar sebagai pemilih; j. Bersedia bekerja penuh waktu;

k. Mengundurkan diri sebagai PNS, anggota TNI, anggota POLRI, pengurus pada BUMN dan/atau BUMD, serta badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara, yang dinyatakan dengan surat pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali;

l. Bersedia untuk tidak berpraktek sebagai akuntan publik, advokat/pengacara, notaris, PPAT, dan tidak melakukan pekerjaan penyedia barang dan jasa yang berhubungan dengan keuangan negara serta pekerjaan lain yang dapat menimbulkan konflik kepentingan dengan tugas, wewenang, dan hak sebagai anggota DPD sesuai peraturan perundang-undangan;

m. Bersedia untuk tidak merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya, pengurus pada BUMN, dan BUMD, serta badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara;

n. Mencalonkan hanya di 1 (satu) lembaga perwakilan; o. Mencalonkan hanya di 1 (satu) daerah pemilihan;

p. Mendapat dukungan minimal dari pemilih dari daerah pemilihan yang bersangkutan.

Persyaratan dukungan minimal tersebut pada huruf p tersebut di atas, meliputi : a. Provinsi yang berpenduduk s/d 1.000.000 (satu juta) orang harus

b. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 1.000 (satu juta) s/d 5.000.000 (lima juta) orang harus mendapatkan dukungan dari paling sedikit 2.000 (dua ribu) pemilih;

c. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 5.000.000 (lima juta) s/d 10.000.000 (sepuluh juta) orang harus mendapatkan dukungan dari paling sedikit 3.000 (tiga ribu) pemilih;

d. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 10.000.000 (sepuluh juta) orang s/d 15.000.000 (lima belas juta) orang harus mendapatkan dukungan dari paling sedikit 4.000 (empat ribu) pemilih;

e. Provinsi yang berpenduduk lebih dari 15.000.000 (lima belas juta) orang harus mendapatkan dukungan dari paling sedikit 5.000 (lima ribu) pemilih. Dukungan tersebut di atas tersebar di paling sedikit 50% (lima puluh perseratus)

dari jumlah kabupaten/kota di provinsi yang bersangkutan. Persyaratan dukungan dibuktikan dengan daftar dukungan yang dibubuhi tanda tangan atau cap jempol dan dilengkapi fotokopi KTP setiap pendukung. Seorang pendukung tidak boleh memberikan dukungan kepada lebih dari satu orang calon anggota DPD. Jika ini terjadi, maka calon tersebut dinyatakan batal.

Daerah pemilihan untuk anggota DPD adalah provinsi karena akan mewakili provinsi, dan jumlah kursi anggota DPD untuk setiap provinsi ditetapkan 4 (empat) orang.

Yang berhak memilih dalam Pemilu adalah WNI yang pada hari pemungutan suara telah genap berumur 17 (tujuh belas) tahun atau lebih, atau belum 17 tetapi sudah/pernah kawin. WNI dimaksud harus terdaftar sebagai pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Sementara itu prosedur pemilihan Presiden secara langsung adalah sebagai berikut :

a. Pasangan Presiden/Wakil Presiden diusulkan oleh Parpol atau gabungan Par-pol peserta Pemilu. Ketentuannya apabila ParPar-pol dimaksud mendapatkan sua-ra pada Pemilu sebesar 25%. Kalau tidak, besua-rarti harus gabung besua-rapa Parpol (berkoalisi);

b. Pasangan yang mendapat suara 50% dan sedikitnya 20% di setiap provinsi yang tersebar di lebih setengah provinsi seluruh Indonesia.

c. Apabila ketentuan di atas tidak terpenuhi, maka dua pasang calon suara ter-banyak dipilih kembali secara langsung oleh rakyat (berarti putaran kedua), dan yang mendapat suara terbanyak dilantik oleh MPR menjadi pasangan Presiden/Wakil Presiden.

Jika terjadi kekosongan Presiden, misalnya karena mangkat, berhenti, diber-hentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden. Dalam hal terjadi kekosongan Wakil Presiden, maka selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari MPR menyelenggarakan sidang untuk memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden. Jika Presiden dan Wakil Presiden kosong kedua-duanya, maka pelaksana tugas kepresidenan adalah Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Luar Negeri, (Menlu) dan Penteri Pertahanan (Menhan) secara bersama. Kemudian selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah itu MPR menyelenggarakan sidang untuk memilih Presiden dan Wakil residen dari dua pasangan Capres/Cawapres yang diusulkan Parpol/Gabungan Parpol yang pasangan Capres/Cawapresnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam Pilpres sebelumnya.

Impeachment atau pemakzulan (pemberhentian di tengah jalan/pada masa jabatan) Presiden bisa terjadi, jika :

a. Ia melanggar hukum (berkhianat kepada bangsa dan negara, melanggar UUD, KKN, berbuat kriminal, dll.);

b. Diusulkan oleh DPR melalui hak menyatakan pendapat dan terlebih dulu diajukan kepada MK untuk proses pengadilan Presiden;

c. Putusan (vonis) MK disampaikan kepada DPR dan oleh DPR diusulkan kepa-da MPR;

d. Pemberhentian diambil dalam sidang paripurna istimewa MPR yang dihadiri ¾ dan disetujui 2/3 dari anggota yang hadir.

a. Ketentuan tersebut di atas tercantum dalam Undang-Undang No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD;

b. Diusulkan oleh paling sedikit ¾ dari jumlah anggota DPR. Akan tetapi kare-na Pasal 184 Ayat (4) UU tersebut di atas oleh MK dalam uji materil dengan putusan No. 23-26/PUU-VIII/2011 tanggal 12 Januari 2011 dinyatakan ber-tentangan dengan UUD 1945 dan karenanya tidak mempunyai kekuatan hu-kum yang mengikat, maka hak menyatakan pendapat (termasuk usul pemak-zulan Presiden cukup atas usul 2/3 dari jumlah anggota DPR.

c. Putusan pemberhentian Presiden di MPR tetap, jika disetujui oleh 2/3 dari pa-ling sedikit ¾ jumlah anggota yang hadir.

6. Syarat-syarat bagi Terselenggaranya Pemerintahan Demokratis :

Menurut The International Commission of Jurist (organisasi ahli hukum interna-sional) tahun 1965, syarat-syarat dasar untuk terselenggaranya pemerintahan yang demokratis di bawah ”rule of law” adalah :

a. Perlindungan konstitusional, artinya, selain menjamin hak-hak individu, juga harus ada cara prosedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin;

b. Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak (independent and impartial

tribunals);

c. Pemilihan umum yang bebas;

d. Kebebasan untuk menyatakan pendapat;

e. Kebebasan untuk berserikat/berorganisasi dan beroposisi; f. Pendidikan kewarganegaraan (civic educatuon).

Untuk mengarah ke syarat-syarat tersebut di atas, menurut David Beetham dan

Kevin Boyle (2000) dalam Dwi Winarno (2006), diperlukan enam kondisi

seba-gai berikut :

a. Penguatan struktur ekonomi yang berbasis keadilan sehingga memungkinkan terwujudnya prinsip kesederajatan;

b. Tersedianya kebutuhan-kebutuhan dasar bagi kepentingan ketahanan hidup (survive) warga negara (sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan);

c. Kemapanan kesatuan dan identitas nasional, sehingga tahan terhadap pembe-lahan dan perbedaan sosial politik warga negara;

d. Pengetahuan yang luas, pendidikan, kedewasaan, sikap toleransi, dan rasa tanggung jawab kolektif warga negara khususnya masyarakat pemilih;

e. Rezim yang terbuka dan bertanggung jawab dalam menggunakan sumber-sumber publik secara efisien;

f. Pengakuan yang berkelanjutan dari negara-negara demokratis terhadap praktek demokrasi.

Sementara itu menurut Soerensen (2003), terdapat lima kondisi yang dianggap dapat mendukung pembangunan demokrasi yang stabil, yaitu :

a. Para pemimpin tidak menggunakan instrumen kekerasan (polisi dan tentara) untuk mempertahankan kekuasaan;

b. Terdapat organisasi masyarakat pluralis yang modern dan dinamis;

c. Potensi konflik dalam pluralisme subkultural dipertahankan pada level yang masih dapat ditoleransi;

d. Di antara penduduk negeri khususnya lapisan politik aktif, terdapat budaya politik dan sistem keyakinan yang mendukung ide dan lembaga demokrasi; e. Dampak dari pengaruh dan kontrol oleh negara asing dapat mendukung secara

positif atau malah menghambat.

BAB VIII

Dokumen terkait