PENELITIAN DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL TERHADAP PEREKONOMIAN DAERAH JAWA TENGAH
DENGAN KENAIKAN HARGA KUARTALAN (QTQ) TERTINGGI (PERSEN)
NO KELOMPOK Mar-08 Jun-08 Mar-09 Jun-09
UMUM / TOTAL 3,68 3,91 0,77 0,26
1 BAHAN MAKANAN 6,60 2,53 1,73 -1,12
DAGING-DAN HASIL-HASILNYA 3,12 7,19 1,73 0,86 PADI-PADIAN, UMBI-UMBIAN DAN HASILNYA 1,49 4,01 0,62 0,67
2 MAKANAN JADI,MINUMAN,ROKOK & TEMBAKAU 5,22 1,61 1,80 1,86
MINUMAN YANG TIDAK BERALKOHOL 1,12 0,60 5,69 3,81
MAKANAN JADI 7,12 1,49 0,88 1,65
3 PERUMAHAN, AIR, LISTRIK, GAS & BHN BAKAR 3,01 4,76 1,83 0,28
BAHAN BAKAR, PENERANGAN DAN AIR 1,21 7,97 0,86 1,17 PERLENGKAPAN RUMAHTANGGA 0,94 2,11 1,21 0,69
4 SANDANG 3,31 0,12 3,34 -0,53
SANDANG ANAK-ANAK 0,83 1,91 0,38 0,66 SANDANG WANITA 0,86 1,26 1,00 0,58
5 KESEHATAN 2,57 1,54 1,90 0,66
PERAWATAN JASMANI DAN KOSMETIKA 1,71 2,99 0,94 1,17
OBAT-OBATAN 10,18 0,98 1,77 0,46
6 PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAHRAGA 0,05 1,30 0,12 0,05
KURSUS-KURSUS / PELATIHAN 0,00 0,00 0,00 0,16
REKREASI 0,10 6,97 0,50 0,11
7 TRANSPOR, KOMUNIKASI & JASA KEUANGAN 0,33 10,42 -4,56 0,37
TRANSPOR 0,31 17,02 -6,70 0,57
SARANA DAN PENUNJANG TRANSPOR 0,70 0,77 0,10 0,16 Sumber : BPS, diolah
Sementara itu, perkembangan harga beberapa komoditas di pasar tradisional dan pasar modern yang menjadi tempat Survei Pemantauan Harga (SPH) yang
dilakukan oleh KBI Semarang pada bulan April-Juni 2009 secara umum relatif stabil. Berdasarkan SPH pada bulan Juni 2009, peningkatan harga tertinggi dialami oleh oleh bawang putih (36,18%), diikuti oleh cabe rawit (21,81%), jeruk lokal (15,50%), cabe merah keriting (11,69%), daging ayam ras (8,86%), dan gula pasir (8,56%). Sementara itu, beberapa komoditi yang mengalami penurunan harga antara lain adalah wortel (-27,67%), kacang panjang (-18,75%), tomat buah (-15,81%), tomat sayur (10,21%), beras IR 64 (-3,93%), dan gas elpiji 3 kg (-3,48%).
Sumber : data mingguan SPH KBI Semarang, diolah
GRAFIK 2.3.
GRAFIK BEBERAPA KOMODITAS HASIL SPH KBI SEMARANG
Beras 4.000 5.000 6.000 7.000 8.000 9.000 I II III IV I II III IV V Mei-09 Jun-09
Beras Medium I (IR 64 I) Beras Medium I (IR 64 II) Beras Super I (Rojolele) Beras Super II (Sentra Ramos)
Minyak Goreng 4.000 5.000 6.000 7.000 8.000 9.000 10.000 11.000 12.000 13.000 I II III IV I II III IV V Mei-09 Jun-09 Curah Kemasan isi ulang_1 Kemasan isi ulang_2
Daging Sapi 40.000 50.000 60.000 70.000 80.000 I II III IV I II III IV V Mei-09 Jun-09
Bistik Kwalitas biasa
Cabe Merah 10.000 11.000 12.000 13.000 14.000 15.000 16.000 17.000 I II III IV I II III IV V Mei-09 Jun-09
Cabe Merah Besar Cabe Merah Keriting
Sabun Detergen 12.000 13.000 14.000 15.000 I II III IV I II III IV V Mei-09 Jun-09 Merk_1 Merk_2
Air Minum Kemasan
1.500 1.600 1.700 1.800 1.900 2.000 I II III IV I II III IV V Mei-09 Jun-09 Merk_1 Merk_2
Secara umum, berbagai komoditas penting yang terpantau dalam SPH KBI Semarang menunjukkan perkembangan harga cukup stabil, yang menunjukkan bahwa laju inflasi triwulan ini juga relatif stabil. Perkembangan harga beberapa komoditas hasil SPH KBI Semarang dapat dilihat dalam Grafik 2.3.
Berdasarkan informasi dari SPH KBI Semarang tersebut, dapat diperoleh informasi terkait dengan kondisi harga beberapa komoditas penting pada triwulan II-2009 yang dapat dilihat dalam Tabel 2.3.
TABEL 2.3.
KONDISI HARGA BEBERAPA KOMODITAS PENTING
Komoditi Kondisi Harga Faktor Penyebab Keterangan
Beras Relatif Stabil dgn kecenderungan
menurun
- Di beberapa daerah mulai masuk masa panen tahap II, - Stok beras masih
cukup
- Stok beras di gudang Bulog Jateng mampu memenuhi kebutuhan hingga 10 bulan ke depan
Daging sapi Relatif stabil - Permintaan stabiil - Stok daging sapi mencukupi Daging ayam Cenderung
meningkat
- Permintaan cenderung naik
- Stok daging ayam mencukupi
Telur ayam ras Relatif stabil - Permintaan stabil - Stok telur mencukupi Minyak goreng Relatif stabil, tp
cenderung naik
- Stok memadai, permintaan relatif stabil
- Pengaruh harga CPO internasional yg naik
-
Bawang merah Cenderung menurun
- Pasokan memadai - Permintaan stabil
- Masih panen di daerah pemasok (Brebes, dll) Gula pasir Cenderung naik - Belum memasuki
masa giling
- Kenaikan harga diperkirakan sampai dengan akhir Juni 2009 Emas perhiasan Relatif stabil tp
cenderung naik
- Pengaruh harga internasional
-
2.1.2. Inflasi Tahunan (yoy)
Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah pada triwulan II-2009 tercatat sebesar 3,95% (yoy), mengalami penurunan cukup signifikan dari triwulan sebelumnya sebesar 6,94% (yoy). Tekanan harga tertinggi terjadi pada kelompok makanan jadi (9,49%), diikuti oleh kelompok perumahan (7,38%), dan kelompok sandang (6,38%). Sementara itu, kelompok transpor mengalami deflasi sebesar -7,36% (lihat Tabel 2.4.). Selanjutnya, pembahasan akan dijelaskan berdasarkan kelompok barang dan jasa yang digunakan oleh BPS dalam menghitung inflasi.
a. Kelompok Bahan Makanan
Kenaikan IHK pada kelompok bahan makanan sebesar 3,92% bersumber dari tingginya kenaikan IHK di subkelompok daging dan hasil-hasilnya (17,99%), serta subkelompok ikan segar sebesar 15,09% (lihat Tabel 2.5). Kenaikan IHK pada subkelompok daging dan hasil-hasilnya disebabkan oleh kenaikan harga daging sapi dan daging ayam ras, yang dipengaruhi oleh kenaikan harga pakan ternak. Sementara itu, kenaikan IHK subkelompok ikan segar dipengaruhi oleh turunnya pasokan ikan, karena masih tingginya curah hujan dan ombak pada triwulan II-2009 sehingga frekuensi nelayan dalam melaut berkurang.
b. Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau
Kenaikan harga pada kelompok makanan jadi bersumber dari kenaikan harga pada subkelompok tembakau dan minuman beralkohol (14,34%), serta subkelompok minuman tidak beralkohol (10,83%). Kenaikan pada kelompok ini disebabkan oleh kenaikan biaya produksi yang ditanggung oleh produsen yang kemudian dibebankan pada harga jual ke konsumen. Tingginya permintaan terhadap kedua subkelompok tembakau dan minuman beralkohol terutama dipicu oleh naiknya harga rokok kretek dan rokok kretek filter. Selain itu, tingginya harga gula pasir, nasi dan mie selama triwulan II-2009 juga menjadi salah satu penyebab kenaikan IHK kelompok makanan jadi.
c. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar
Kenaikan IHK pada kelompok perumahan bersumber dari kenaikan harga di sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air, serta sub kelompok biaya tempat tinggal. Kenaikan harga bahan bakar, penerangan dan air antara lain dipengaruhi oleh kenaikan tarif PDAM Kota Semarang yang diberlakukan sejak Mei 2009, dengan kenaikan rata-rata sebesar 12,8%. Kenaikan tarif PDAM ini semula akan diberlakukan sejak tanggal 1 April 2009, namun karena menjelang pemilu legislatif maka akhirnya kenaikan ditunda 1 bulan kemudian. Kenaikan tarif PDAM Kota Semarang ini direncanakan secara bertahap sampai dengan bulan September 2009, sehingga diperkirakan masih akan berpengaruh terhadap laju inflasi triwulan III-2009. Rencana kenaikan tarif PDAM tersebut juga didasarkan pada Permendagri No.23/2006, dengan ketentuan periodik 5 tahunan yang menganut prinsip pemulihan biaya (cost recovery). Sedangkan tarif PDAM Kota Semarang belum mengalami perubahan sejak 7 tahun lalu.
Selain itu, kenaikan harga bahan bakar juga disebabkan oleh telah dilakukannya program konversi minyak tanah ke gas elpiji di sebagian besar
Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, sehingga harga minyak tanah yang berlaku adalah harga non subsidi dan di sisi lain permintaan terhadap gas elpiji semakin meningkat. Adapun kenaikan biaya tempat tinggal disebabkan oleh naiknya biaya sewa rumah, kontrak rumah, dan tukang bukan mandor. Hal ini sejalan dengan naiknya permintaan atas barang dan jasa tersebut pada triwulan II-2009, karena menyongsong masuknya tahun ajaran baru dan meningkatnya proyek pembangunan properti.
d. Kelompok Sandang
Kenaikan IHK pada kelompok sandang terutama bersumber dari kenaikan harga di subkelompok barang pribadi dan sandang lainnya (16,42%), serta sandang laki-laki sebesar 5,23% (lihat Tabel 2.5). Kenaikan harga barang pribadi dan sandang lainnya terutama disebabkan oleh kenaikan harga emas perhiasan pada periode bulan Juni 2009, meskipun pada April-Mei sempat mengalami penurunan sejalan dengan perkembangan harga emas internasional. Sementara kenaikan harga sandang laki-laki disebabkan oleh kenaikan harga baju kaos, celana panjang dan sepatu.
e. Kelompok Kesehatan
Kenaikan IHK pada kelompok kesehatan disebabkan oleh kenaikan harga di subkelompok jasa kesehatan (9,79%) dan subkelompok perawatan jasmani dan kosmetika (4,31%). Kenaikan IHK subkelompok jasa kesehatan terutama dipengaruhi oleh naiknya IHK subkelompok jasa kesehatan di Purwokerto (44,19%) karena naiknya tarif rumah sakit dan jasa dokter. Sementara kenaikan IHK subkelompok perawatan jasmani dan kosmetika disebabkan oleh kenaikan harga kapas, pembersih/penyegar dan shampoo.
f. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Kenaikan IHK kelompok pendidikan terutama bersumber dari kenaikan harga komoditas dalam subkelompok perlengkapan/peralatan pendidikan (32,29%) dan subkelompok jasa pendidikan (4,44%). Kenaikan harga pada kedua subkelompok tersebut disebabkan oleh akan naiknya permintaan masyarakat menjelang masuknya tahun ajaran baru sekolah.
g. Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan
IHK kelompok transpor pada triwulan ini tercatat turun -7,36% (yoy), menurun signifikan dari triwulan sebelumnya sebesar 1,92%. Penurunan IHK kelompok
transpor terutama dipengaruhi oleh penurunan IHK sub kelompok transpor (-10,84%) dan subkelompok komunikasi dan pengiriman (-0,03%).
TABEL 2.4.