PENELITIAN DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL TERHADAP PEREKONOMIAN DAERAH JAWA TENGAH
LAJU INFLASI TAHUNAN EMPAT KOTA DI JAWA TENGAH MENURUT KELOMPOK BARANG DAN JASA (PERSEN, YoY)
3.1 Intermediasi Bank Umum
3.1.2 Penyaluran Kredit
-1 2 3 4 5 6 7 8 9 I II III IV I II III IV I II 2007 2008 2009
Giro Tabungan Deposito (1 bulan)
Sumber : LBU, Bank Indonesia Sumber : LBU, Bank Indonesia
3.1.2 Penyaluran Kredit
Kredit yang disalurkan bank umum di Jawa Tengah pada triwulan 2009 tumbuh cukup baik. Secara tahunan pertumbuhan kredit pada triwulan
II-2009 mencapai 15,60%, melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan kredit pada triwulan 2008 yang sebesar 27,48%. Pertumbuhan kredit pada triwulan II-2009 merata di semua jenis penggunaan kredit. Kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 16,74%, 15,62%, dan 13,82% (Grafik 3.7).
Secara triwulanan, kredit pada triwulan II-2009 tumbuh sebesar 3,43%, meningkat jika dibandingkan pertumbuhan kredit pada triwulan sebelumnya yang sebesar 0,26%. Membaiknya kinerja pertumbuhan kredit tersebut mengindikasikan bahwa pada triwulan II-2009 telah mulai terjadi proses recovery kondisi perekonomian dari krisis finansial global yang melanda sejak triwulan IV-2008. Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan (BI rate) menjadi 6,75% pada Juni 2009, dan industri perbankan sudah mulai merespon kebijakan BI dengan menurunkan suku bunga kreditnya walaupun masih dalam prosentase yang relatif kecil. Kondisi ini sejalan dengan hasil Survei Kredit Perbankan (SKP) yang menyatakan bahwa realisasi kredit triwulan II-2009 mengalami peningkatan walaupun masih dibawah target penyaluran kredit industri perbankan Jawa Tengah. Hasil survei kredit perbankan (SKP) juga mengindikasikan bahwa walaupun secara umum kondisi perekonomian Jawa tengah sudah mulai pulih dari krisis keuangan global, tetapi kalangan perbankan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit untuk meminimalkan potensi terjadinya NPLs. Penurunan suku bunga kredit juga diduga menjadi salah satu pendorong naiknya permintaan kredit pada triwulan ini.
Sesuai hasil Survei Kredit Perbankan triwulan II-2009, ekspektasi kalangan perbankan terhadap kinerja penyaluran kredit pada triwulan III-2009 mendatang
Grafik 3.5. Perkembangan Suku Bunga Simpanan Perbankan Bank Umum
Grafik 3.6. Perkembangan Komposisi Kepemilikan Dana Pihak Ketiga Bank Umum 0% 20% 40% 60% 80% 100% I II III IV I II III IV I II 2007 2007 2008 2009
tetap optimis. Para pelaku perbankan tetap mengekspektasikan tercapainya target penyaluran kredit pada triwulan III-2009 antara lain karena penurunan suku bunga kredit yang masih akan terjadi pada triwulan mendatang, dan diharapkan sektor riil dapat semakin menggeliat setelah selesainya pemilihan umum (pemilu).
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 II III IV I II III IV I II 2007 2008 2009 R p T ri li u n 0 10 20 30 40 50 60 70 80 R p T ri li u n
Modal Kerja - axis kiri Investasi - axis kiri Konsumsi - axis kiri Total kredit - axis kanan
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 II III IV I II III IV I II 2007 2008 2009 R p T ri li u n
Pemerintah Swasta Nasional Asing
Sumber : LBU, Bank Indonesia Sumber : LBU, Bank Indonesia
Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit yang disalurkan perbankan Jawa Tengah masih didominasi oleh kredit modal kerja. Pada triwulan II-2009,
komposisi kredit modal kerja (KMK) terhadap penyaluran kredit bank umum di Jawa Tengah masih dominan yaitu sebesar Rp42,88 triliun (57,37%), diikuti kredit konsumsi (KK) sebesar Rp26,96 triliun (35,29%). Sementara itu kredit investasi (KI) hanya sebesar Rp5,76 triliun (7,49%). Tingginya kredit modal kerja ini sejalan dengan banyaknya pelaku UMKM dalam perekonomian Jawa Tengah yang membutuhkan pembiayaan dari perbankan. Pada triwulan III-2009, realisasi kredit modal kerja ini diperkirakan mengalami peningkatan pertumbuhan. Hal ini terkait dengan kondisi dunia usaha yang sudah mulai menunjukkan peningkatan kinerja dan telah memasuki proses recovery dari krisis keuangan global. Hal ini sejalan dengan hasil Survei Kredit Perbankan (SKP) dimana jenis kredit yang paling banyak diminta oleh konsumen secara berurutan adalah kredit modal kerja, kredit konsumsi dan kredit investasi. Sementara itu, ekspektasi kalangan perbankan terhadap peningkatan kredit pada triwulan III-2009 juga masih tetap didominasi oleh jenis kredit modal kerja.
Kelompok Bank Pemerintah masih mengambil porsi terbesar dalam penyaluran kredit bank umum di Jawa Tengah yaitu sebesar 60,62%,
sementara itu, bank swasta nasional dan bank swasta asing hanya mempunyai pangsa masing-masing sebesar 37,7% dan 1,62%. (Grafik 3.8). Bank Pemerintah sampai dengan triwulan ini dan pada triwulan-triwulan mendatang diperkirakan
Grafik 3.7 Perkembangan Kredit Bank Umum Menurut Jenis Penggunaan
Grafik 3.8. Perkembangan Kredit bank Umum
Menurut Kelompok Bank
masih mempunyai peranan besar dalam penyaluran kredit di Jawa Tengah. Pertumbuhan kredit kelompok bank pemerintah menunjukkan tren yang terus meningkat dalam 2 tahun terakhir. Hal yang berbeda terjadi pada kelompok bank swasta nasional dan bank asing, yang mengalami tren perlambatan sejak dua triwulan terakhir. Secara tahunan, pada triwulan II-2009 kredit yang disalurkan kelompok bank pemerintah tumbuh sebesar 22,94% (yoy) menjadi Rp45,83 triliun. Kredit kelompok bank swasta nasional dan bank asing masing-masing tumbuh sebesar 5,35% (yoy) menjadi Rp28,54 triliun dan 19,61% (yoy) menjadi Rp1,22 triliun.
Secara sektoral kredit yang disalurkan terkonsentrasi pada sektor lainnya (konsumsi), sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR), dan sektor industri pengolahan masing-masing dengan pangsa sebesar 36,46%, 33,05%, dan 19,71%. Outstanding kredit pada masing-masing sektor di atas pada
triwulan II-2009 adalah Rp27,56 triliun untuk sektor lainnya (konsumsi), Rp24,98 triliun untuk sektor PHR, dan Rp14,90 triliun untuk sektor industri pengolahan. Secara tahunan, kredit kepada seluruh sektor mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan kredit pada ketiga sektor ini pada triwulan II-2009 berkisar antara 13%-19%. Hal ini sejalan dengan hasil survei kredit perbankan (SKP) dimana mayoritas perbankan masih memprioritaskan penyaluran kreditnya pada sektor lainnya (konsumsi), PHR, dan sektor industri. Tiga sektor utama penyokong perekonomian di Jawa Tengah inilah yang menjadi sektor andalan perbankan dalam menyalurkan kreditnya dikarenakan tingkat pengembalian yang cukup baik dan return yang cukup tinggi dari ketiga sektor tersebut.
Kredit ke sektor listrik, gas, dan air mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan yaitu 278,03% (yoy) menjadi Rp50 miliar. Pertumbuhan kredit terbesar kedua dialami oleh sektor pertambangan yaitu sebesar 36,71% menjadi Rp89 miliar.
Pada triwulan II-2009, porsi terbesar kredit modal kerja masih tersalur pada sektor PHR khususnya perdagangan. Secara triwulan, kredit modal kerja
tumbuh sebesar 2,53%. Secara sektoral, lebih dari 80% KMK tersalur ke dua sektor ekonomi yaitu sektor PHR sebesar Rp22,79 triliun (53,17%) dan sektor industri Rp13,10 triliun (30,56%). Non Performing Loans (NPLs) kedua sektor tersebut masing-masing 3,77% dan 7,04%. NPL KMK sektor industri yang mengalami tren kenaikan cukup tinggi sejak periode Februari 2009 diduga akibat dampak krisis keungan global yang sangat memukul kinerja sektor industri, sehingga menyebabkan kegagalan pembayaran kewajiban angsuran kredit oleh para debitur yang bergerak di sektor industri.
Sementara itu, secara triwulanan kredit investasi tumbuh sebesar 5,30%. Secara sektoral, porsi terbesar kredit investasi juga tersalur pada sektor perdagangan,
sektor industri, dan sektor jasa dunia usaha masing-masing dengan porsi 37,92%, 31,18%, dan 11,34%.
TABEL 3.2.
PENYALURAN KREDIT MODAL KERJA BANK UMUM