• Tidak ada hasil yang ditemukan

Antiselulit

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 83-0)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Antiselulit

Ada beragam terapi untuk mengatasi selulit dengan mekanisme kerja yang berbeda-beda. Penggunaan kombinasi antiselulit dengan mekanisme kerja berbeda dianjurkan supaya hasil penghilangan selulit lebih optimal. Antiselulit tersebut antara lain xantin, ekstrak herbal, retinol, dan agonis PPAR (Rawlings, 2006).

Golongan xantin banyak dimanfaatkan sebagai antiselulit karena efeknya terhadap lipolisis adeposit dengan penghambatan fosfodiesterase dan peningkatan siklik adenosin monofosfat. Golongan xantin yang sering digunakan sebagai antiselulit yaitu kafein, aminofilin, dan teofilin. Ekstrak herbal yang banyak digunakan dalam produk antiselulit, antrara lain verbena, teh hijau, lemon, kacang kola, adas, ganggang, ivy, barley, stroberi, marjoram, dan semanggi manis.

Beberapa dari ekstrak herbal tersebut dilaporkan dapat meningkatkan mikrosirkulasi perifer dan memfasilitasi drainase limfatik (Rawlings, 2006).

Retinoid dimanfaatkan sebagai antiselulit karena efeknya dapat meningkatan dermal content dan arsitektur dari kolagen dan protein dermoepidermal bersama-sama dengan anchoring dan fibril elastik. Agonis PPAR (peroxisome proliferator-activated receptorsare) digunakan sebagai antiselulit

karena diketahui bahwa agonis PPAR ini dapat meningkatkan diferensiasi epidermis, meningkatkan level kolagen, menekan sebogenesis, serta merupakan anti-inflamai dan agen pencerah kulit (Rawlings, 2006).

Prinsip pengujian efikasi antiselulit secara in vivo adalah mengetahui, melihat, dan mengukur secara pasti perbedaan antara kondisi kulit dengan selulit sebelum aplikasi antiselulit dan sesudah aplikasi antiselulit. Ada beberapa alat pengujian yang dapat digunakan untuk menentukan perbedaan tersebut, antara lain Ultrasound dan Magnetic Resonance.

Pada bab ini akan dibahas mengenai spesifikasi, prinsip, dan hasil analisis kedua alat tersebut. Data yang digunakan oleh penulis berasal dari hasil penelitian Bernard Querleux pada tahun 2006. Penelitian tersebut tidak membandingkan antara kulit dengan selulit sebelum aplikasi sediaan antiselulit dan sesudah aplikasi sediaan antiselulit, tetapi membandingkan kulit dengan selulit dan kulit tanpa selulit. Namun, prinsip keduanya sama yaitu perbedaan topografi lapisan kulit, sehingga nantinya bisa diterapkan dalam pengujian efikasi antiselulit.

Sukarelawan pada penelitian tersebut adalah 44 wanita sehat dengan rentang usia 18 sampai 45 tahun; memiliki indeks massa tubuh 17-27; berat badannya konstan selama tahun sebelumnya; dan memiliki siklus menstruasi yang teratur. Para sukarelawan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu wanita tanpa selulit dan wanita dengan selulit yang terlihat jelas (Querleux, 2006).

3.1 Alat Uji

3.1.1 Ultrasound Imanging (US Imaging)

US Imaging yang digunakan pada penelitian ini adalah US Imaging frekuensi tinggi yang dilengkapi scanner dengan fokus 25MHz transducer yang menghasilkan resolusi aksial 70 mm dan lateral 130 mm. Enam puluh empat (64) seri gambar cross-sectional, dengan bidang tampilan atau field-of-view (FOV) 4 mm x 20 mm x 20 mm, diperoleh pada paha bagian atas, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 3.1 dan juga pada pinggul. Dari gambar tersebut ketebalan kulit dan topografi permukaan dermal-hipodermal dapat diukur (Querleux, 2007).

[Sumber: Querleux, 2006]

Gambar 3.1. Hasil gambar US Imaging frekuensi tinggi memperlihatkan lekukan hipodermal (A) dan ketebalan kulit (B)

3.1.2 Magnetic Resonance Imaging (MR Imaging)

Gambar MR dengan resolusi spasial tinggi dapat diperoleh dengan menghubungkan scanner MR standar 1,5 T dengan alat pemindai kulit (skin-imaging) dari surface gradient coil dan receiving coil sensitifitas tinggi. Dengan kedalaman resolusi 80 mm, epidermis, dermis, hipodermis, dan fibrous septae di antara hipodermis dapat dengan jelas dibedakan. Enam puluh (60) seri gambar dengan resolusi spasial tinggi diperoleh dari bagian atas paha dengan bidang tampilan atau field-of-view (FOV) 18 mm x 50 mm x 30 mm (Querleux, 2006).

Dengan kedalaman resolusi dari kulit sebesar 80 mm, Camper’s fascia dapat terlihat dengan jelas dan menunjukkan perbedaan lapisan adiposa, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 3.2. Camper’s fascia merupakan lapisan superfisial tebal dari dinding abdominal anterior yang berisi jaringan adiposa.

Selain itu, dengan ketebalan potongan 0,5 mm, tampilan struktur 3-D dari jaringan fibrous dapat dianalisis dalam lemak dengan volume 20 mm x 20mm x 20 mm (Querleux, 2006).

A

B

[Sumber: Querleux, 2006]

Gambar 3.2. Hasil gambar MR Imaging dari jaringan adiposa

3.2 Hasil Pengujian

Tabel 3.1 menunjukkan nilai dari ketebalan kulit pada bagian paha dan pinggul yang diukur dengan US Imaging. Wanita dengan selulit memiliki kulit yang lebih tebal daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Tabel 3.1. Nilai rata-rata ketebalan kulit wanita dengan selulit dan wanita tanpa selulit yang diukur dengan US Imaging

Ketebalan kulit pinggul (mm)

Ketebalan kulit paha (mm)

Wanita dengan selulit 1,70 ± 0,31 1,67 ± 0,25

Wanita tanpa selulit 1,59 ± 0,20 1,51 ± 0,19

Tabel 3.2 menunjukkan nilai dari ketebalan lapisan adiposa pada bagian paha dan pinggul yang diukur dengan MR Imaging. Wanita dengan selulit memiliki lapisan adiposa yang lebih tebal daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Tabel 3.2. Nilai rata-rata ketebalan lapisan adiposa wanita dengan selulit dan wanita tanpa selulit yang diukur dengan MR Imaging

Ketebalan lapisan adiposa pinggul (mm)

Ketebalan lapisan adiposa paha (mm)

Wanita dengan selulit 53,1 ± 10,1 34,0 ± 5,4

Wanita tanpa selulit 20,0 ± 6,4 8,3 ± 2,4

Struktur 3-D dari permukaan antara dermis dan jaringan subkutan diperoleh setelah memproses gambar-gambar dari US Imaging. Struktur 3-D tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.3 (Querleux, 2006).

[Sumber: Querleux, 2006]

Gambar 3.3. Visualisasi 3-D gambar-gambar permukaan antara dermis dan jaringan subkutan yang diperoleh dari US Imaging wanita dengan selulit (A) dan

wanita tanpa selulit (B)

Dari struktur 3-D yang diperoleh diukur indeks ketidakteraturan pada ketinggian lekukan adiposa. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 3.3.

Wanita dengan selulit memiliki indeks ketidakteraturan yang lebih tinggi daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Tabel 3.3. Nilai rata-rata derajat ketidakteraturan jaringan adiposa pada dermis wanita dengan selulit dan wanita tanpa selulit yang diukur dengan MR Imaging

Indeks ketidakteraturan pinggul (mm)

Indeks ketidakteraturan paha (mm)

Wanita dengan selulit 3,36 ± 0,81 3,50 ± 0,89

Wanita tanpa selulit 1,20 ± 0,84 1,47 ± 1,02

Klaim manfaat suatu produk kosmetik harus dibuktian dengan data-data hasil pengujian yang mendukung. Data-data tersebut dapat diperoleh melalui uji efikasi produk tersebut. Salah satu produk kosmetik yang sedang berkembang saat ini adalah sediaan antiselulit.

Adanya selulit ditunjukkan dengan permukaan kulit yang tidak rata dan terlihat seperti kulit jeruk. Hal tersebut disebabkan oleh penumpukan lemak di bawah permukaan kulit. Sediaan antiselulit bertujuan membuat permukaan kulit yang tidak rata tadi menjadi lebih rata. Mekanisme kerja antiselulit bermacam-macam, antara lain lipolisis adeposit dengan penghambatan fosfodiesterase dan peningkatan siklik adenosin monofosfat; peningkatkan mikrosirkulasi perifer dan memfasilitasi drainase limfatik; serta peningkatkan level kolagen (Rawlings, 2006). Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa prinsip pengujian efektivitas suatu sediaan antiselulit adalah pengukuran perbedaan ketebalan kulit dan lapisan di bawah kulit.

Pengujian dilakukan pada sejumlah sukarelawan yang sudah diseleksi.

Kondisi kulit sukarelawan dievaluasi sebelum dan sesudah aplikasi dari sediaan antiselulit. Hasil evaluasi kondisi kulit sukarelawan tersebut dapat diperoleh dari pengamatan dan penilaian perbedaan ketebalan kulit dan lapisan di bawah kulit sukarelawan sebelum dan sesudah aplikasi sediaan.

Alat yang dapat digunakan untuk mengamati dan menilai ketebalan kulit dan lapisan di bawah kulit, antara lain Ultrasound (US) dan Magnetic Resonance (MR). US Imaging frekuensi tinggi dapat mengukur ketebalan kulit dan topografi permukaan dermal-hipodermal. Dengan MR Imaging, lapisan epidermis, dermis, hipodermis, dan fibrous septae di antara hipodermis dapat dengan jelas dibedakan.

Selain itu, Camper’s fascia juga dapat terlihat dan menunjukkan perbedaan lapisan adiposa (Querleux, 2006).

Penulis menggunakan hasil penelitian Bernard Querleux pada tahun 2006 untuk lebih memahami bagaimana penerapan dan hasil analisis yang dapat

diperoleh dari penggunaan Ultrasound dan Magnetic Resonance. Penelitian tersebut tidak membandingkan antara kulit dengan selulit sebelum dan sesudah aplikasi antiselulit, tetapi membandingkan kulit dengan selulit dan kulit tanpa selulit. Namun, prinsip keduanya sama yaitu perbedaan topografi lapisan kulit, sehingga nantinya bisa diterapkan dalam pengujian efikasi antiselulit.

Penelitian dilakukan terhadap 44 wanita sehat dengan rentang usia 18 sampai 45 tahun dan sudah diseleksi dengan sejumlah persyaratan. Para sukarelawan tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu wanita tanpa selulit dan wanita dengan selulit yang terlihat jelas. Pengamatan selulit dilakukan pada pinggul dan bagian atas paha (Querleux, 2006).

Pengukuran dengan US Imaging menghasilkan nilai dari ketebalan kulit pada bagian paha dan pinggul sukarelawan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa wanita dengan selulit memiliki kulit yang lebih tebal daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Struktur 3-D dari permukaan antara dermis dan jaringan subkutan dapat diperoleh setelah memproses gambar-gambar dari US Imaging. Dari struktur 3-D yang diperoleh diukur indeks ketidakteraturan pada ketinggian lekukan adiposa.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa wanita dengan selulit memiliki indeks ketidakteraturan yang lebih tinggi daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Pengukuran dengan MR Imaging menghasilkan nilai dari ketebalan lapisan adiposa pada bagian paha dan pinggul sukarelawan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa wanita dengan selulit memiliki lapisan adiposa yang lebih tebal daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Ultrasound lebih banyak digunakan dalam pengujian selulit karena lebih efisisen dan mampu menampilkan rincian anatomi dari lapisan kulit yang berbeda, meliputi epidermis, dermis, dan hipodermis. Selain itu, Ultrasound dapat digunakan untuk menghasilkan model 3D dari lapisan kulit. Namun, penggunaan Magnetic Resonance dapat melengkapi hasil pengujian dengan menunjukkan perbedaan lapisan adiposa secara lebih spesifik (Querleux, 2006). Penggunaan Ultrasound dan Magnetic Resonance dalam pengujian selulit dapat saling melengkapi, sehingga hasil pengujian yang dilakukan lebih akurat.

5.1 Kesimpulan

Ultrasound dan Magnetic Resonance dapat digunakan untuk mengukur perbedaan topografi lapisan kulit, sehingga dapat diaplikasikan untuk analisis dalam pegujian efikasi sediaan antiselulit. Penggunaan Ultrasound dan Magnetic Resonance dalam pengujian selulit dapat saling melengkapi, sehingga hasil pengujian yang dilakukan lebih akurat.

5.2 Saran

Spesifikasi alat Ultrasound dan Magnetic Resonance masih belum dipahami. Oleh karena itu, studi literatur lebih banyak lagi sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan pemahaman. Selain itu, studi literatur mengenai uji efikasi antiselulit lain juga sebaiknya dilakukan untuk memperkaya wawasan.

Hexsel, D., Dal’Forno, T.O., & Cignachi, S. (2006). Definition, Clinical Aspects, Associated Conditions, and Differential Diagnosis. [dalam: Goldman, M.P., Bacci, P.A., Leibaschoff, G., Hexcel, D., & Angelini, F. (2006).

Cellulite Pathophysiology and Treatment. New York: Taylor & Francis Group]

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1176/MENKES/PERNIII/2010 tentang Notifikasi Kosmetika. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Querleux, B. (2006). Cellulite Characterization by High-Frequency Ultrasound and High-Resolution Magnetic Resonance Imaging. [dalam: Goldman, M.P., Bacci, P.A., Leibaschoff, G., Hexcel, D., & Angelini, F. (2006).

Cellulite Pathophysiology and Treatment. New York: Taylor & Francis Group]

Rawlings, A.V. (2006). Review Article Cellulite and its treatment. International Journal of Cosmetic Science, 28, 175-190.

Singh, S., Garg(a), G., Garg(b), V., Gangwar, S., & Sharma P.K. (2010).

Sunscreen: An Introductory Review. Journal of Pharmacy Research, 3, 8, 1857-1864.

Smith, W.P. (1996). Method of ameliorating cellulite by disupting the barrier function of the stratum corneum. United States Patent, 5, 587, 396.

Tranggono, R.I.S & Latifah, F. (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wasitaatmadja, S.M. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI Press.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 83-0)

Dokumen terkait