• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Pengujian

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 87-93)

BAB 3. ULTRASOUND DAN MAGNETIC RESONANCE

3.2 Hasil Pengujian

Tabel 3.1 menunjukkan nilai dari ketebalan kulit pada bagian paha dan pinggul yang diukur dengan US Imaging. Wanita dengan selulit memiliki kulit yang lebih tebal daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Tabel 3.1. Nilai rata-rata ketebalan kulit wanita dengan selulit dan wanita tanpa selulit yang diukur dengan US Imaging

Ketebalan kulit pinggul (mm)

Ketebalan kulit paha (mm)

Wanita dengan selulit 1,70 ± 0,31 1,67 ± 0,25

Wanita tanpa selulit 1,59 ± 0,20 1,51 ± 0,19

Tabel 3.2 menunjukkan nilai dari ketebalan lapisan adiposa pada bagian paha dan pinggul yang diukur dengan MR Imaging. Wanita dengan selulit memiliki lapisan adiposa yang lebih tebal daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Tabel 3.2. Nilai rata-rata ketebalan lapisan adiposa wanita dengan selulit dan wanita tanpa selulit yang diukur dengan MR Imaging

Ketebalan lapisan adiposa pinggul (mm)

Ketebalan lapisan adiposa paha (mm)

Wanita dengan selulit 53,1 ± 10,1 34,0 ± 5,4

Wanita tanpa selulit 20,0 ± 6,4 8,3 ± 2,4

Struktur 3-D dari permukaan antara dermis dan jaringan subkutan diperoleh setelah memproses gambar-gambar dari US Imaging. Struktur 3-D tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.3 (Querleux, 2006).

[Sumber: Querleux, 2006]

Gambar 3.3. Visualisasi 3-D gambar-gambar permukaan antara dermis dan jaringan subkutan yang diperoleh dari US Imaging wanita dengan selulit (A) dan

wanita tanpa selulit (B)

Dari struktur 3-D yang diperoleh diukur indeks ketidakteraturan pada ketinggian lekukan adiposa. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 3.3.

Wanita dengan selulit memiliki indeks ketidakteraturan yang lebih tinggi daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Tabel 3.3. Nilai rata-rata derajat ketidakteraturan jaringan adiposa pada dermis wanita dengan selulit dan wanita tanpa selulit yang diukur dengan MR Imaging

Indeks ketidakteraturan pinggul (mm)

Indeks ketidakteraturan paha (mm)

Wanita dengan selulit 3,36 ± 0,81 3,50 ± 0,89

Wanita tanpa selulit 1,20 ± 0,84 1,47 ± 1,02

Klaim manfaat suatu produk kosmetik harus dibuktian dengan data-data hasil pengujian yang mendukung. Data-data tersebut dapat diperoleh melalui uji efikasi produk tersebut. Salah satu produk kosmetik yang sedang berkembang saat ini adalah sediaan antiselulit.

Adanya selulit ditunjukkan dengan permukaan kulit yang tidak rata dan terlihat seperti kulit jeruk. Hal tersebut disebabkan oleh penumpukan lemak di bawah permukaan kulit. Sediaan antiselulit bertujuan membuat permukaan kulit yang tidak rata tadi menjadi lebih rata. Mekanisme kerja antiselulit bermacam-macam, antara lain lipolisis adeposit dengan penghambatan fosfodiesterase dan peningkatan siklik adenosin monofosfat; peningkatkan mikrosirkulasi perifer dan memfasilitasi drainase limfatik; serta peningkatkan level kolagen (Rawlings, 2006). Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa prinsip pengujian efektivitas suatu sediaan antiselulit adalah pengukuran perbedaan ketebalan kulit dan lapisan di bawah kulit.

Pengujian dilakukan pada sejumlah sukarelawan yang sudah diseleksi.

Kondisi kulit sukarelawan dievaluasi sebelum dan sesudah aplikasi dari sediaan antiselulit. Hasil evaluasi kondisi kulit sukarelawan tersebut dapat diperoleh dari pengamatan dan penilaian perbedaan ketebalan kulit dan lapisan di bawah kulit sukarelawan sebelum dan sesudah aplikasi sediaan.

Alat yang dapat digunakan untuk mengamati dan menilai ketebalan kulit dan lapisan di bawah kulit, antara lain Ultrasound (US) dan Magnetic Resonance (MR). US Imaging frekuensi tinggi dapat mengukur ketebalan kulit dan topografi permukaan dermal-hipodermal. Dengan MR Imaging, lapisan epidermis, dermis, hipodermis, dan fibrous septae di antara hipodermis dapat dengan jelas dibedakan.

Selain itu, Camper’s fascia juga dapat terlihat dan menunjukkan perbedaan lapisan adiposa (Querleux, 2006).

Penulis menggunakan hasil penelitian Bernard Querleux pada tahun 2006 untuk lebih memahami bagaimana penerapan dan hasil analisis yang dapat

diperoleh dari penggunaan Ultrasound dan Magnetic Resonance. Penelitian tersebut tidak membandingkan antara kulit dengan selulit sebelum dan sesudah aplikasi antiselulit, tetapi membandingkan kulit dengan selulit dan kulit tanpa selulit. Namun, prinsip keduanya sama yaitu perbedaan topografi lapisan kulit, sehingga nantinya bisa diterapkan dalam pengujian efikasi antiselulit.

Penelitian dilakukan terhadap 44 wanita sehat dengan rentang usia 18 sampai 45 tahun dan sudah diseleksi dengan sejumlah persyaratan. Para sukarelawan tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu wanita tanpa selulit dan wanita dengan selulit yang terlihat jelas. Pengamatan selulit dilakukan pada pinggul dan bagian atas paha (Querleux, 2006).

Pengukuran dengan US Imaging menghasilkan nilai dari ketebalan kulit pada bagian paha dan pinggul sukarelawan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa wanita dengan selulit memiliki kulit yang lebih tebal daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Struktur 3-D dari permukaan antara dermis dan jaringan subkutan dapat diperoleh setelah memproses gambar-gambar dari US Imaging. Dari struktur 3-D yang diperoleh diukur indeks ketidakteraturan pada ketinggian lekukan adiposa.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa wanita dengan selulit memiliki indeks ketidakteraturan yang lebih tinggi daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Pengukuran dengan MR Imaging menghasilkan nilai dari ketebalan lapisan adiposa pada bagian paha dan pinggul sukarelawan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa wanita dengan selulit memiliki lapisan adiposa yang lebih tebal daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Ultrasound lebih banyak digunakan dalam pengujian selulit karena lebih efisisen dan mampu menampilkan rincian anatomi dari lapisan kulit yang berbeda, meliputi epidermis, dermis, dan hipodermis. Selain itu, Ultrasound dapat digunakan untuk menghasilkan model 3D dari lapisan kulit. Namun, penggunaan Magnetic Resonance dapat melengkapi hasil pengujian dengan menunjukkan perbedaan lapisan adiposa secara lebih spesifik (Querleux, 2006). Penggunaan Ultrasound dan Magnetic Resonance dalam pengujian selulit dapat saling melengkapi, sehingga hasil pengujian yang dilakukan lebih akurat.

5.1 Kesimpulan

Ultrasound dan Magnetic Resonance dapat digunakan untuk mengukur perbedaan topografi lapisan kulit, sehingga dapat diaplikasikan untuk analisis dalam pegujian efikasi sediaan antiselulit. Penggunaan Ultrasound dan Magnetic Resonance dalam pengujian selulit dapat saling melengkapi, sehingga hasil pengujian yang dilakukan lebih akurat.

5.2 Saran

Spesifikasi alat Ultrasound dan Magnetic Resonance masih belum dipahami. Oleh karena itu, studi literatur lebih banyak lagi sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan pemahaman. Selain itu, studi literatur mengenai uji efikasi antiselulit lain juga sebaiknya dilakukan untuk memperkaya wawasan.

Hexsel, D., Dal’Forno, T.O., & Cignachi, S. (2006). Definition, Clinical Aspects, Associated Conditions, and Differential Diagnosis. [dalam: Goldman, M.P., Bacci, P.A., Leibaschoff, G., Hexcel, D., & Angelini, F. (2006).

Cellulite Pathophysiology and Treatment. New York: Taylor & Francis Group]

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1176/MENKES/PERNIII/2010 tentang Notifikasi Kosmetika. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Querleux, B. (2006). Cellulite Characterization by High-Frequency Ultrasound and High-Resolution Magnetic Resonance Imaging. [dalam: Goldman, M.P., Bacci, P.A., Leibaschoff, G., Hexcel, D., & Angelini, F. (2006).

Cellulite Pathophysiology and Treatment. New York: Taylor & Francis Group]

Rawlings, A.V. (2006). Review Article Cellulite and its treatment. International Journal of Cosmetic Science, 28, 175-190.

Singh, S., Garg(a), G., Garg(b), V., Gangwar, S., & Sharma P.K. (2010).

Sunscreen: An Introductory Review. Journal of Pharmacy Research, 3, 8, 1857-1864.

Smith, W.P. (1996). Method of ameliorating cellulite by disupting the barrier function of the stratum corneum. United States Patent, 5, 587, 396.

Tranggono, R.I.S & Latifah, F. (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wasitaatmadja, S.M. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI Press.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 87-93)

Dokumen terkait