• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 63-0)

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

1. Personel atau karyawan merupakan unsur penting dalam menghasilkan suatu produk yang bermutu sehingga karyawan perlu terus dibina pengetahuan dan ketrampilannya. Selain itu, peningkatan fasilitas dan sarana terutama gudang penyimpanan bahan baku juga diperlukan.

2. Penerapan aspek CPKB di PT. Ristra Indolab perlu terus ditingkatkan dan diterapkan secara menyeluruh. Dalam rangka hal tersebut, penambahan departemen yang bertugas untuk penjaminan mutu yaitu Quality Assurance (QA) sebaiknya dipertimbangkan.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2003). Pedoman Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik. Jakarta: Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2010). Kriteria dan Tata Cara Pengajuan Notifikasi Kosmetika. Jakarta: Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Tranggono, R.I.S & Latifah, F. (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Struktur Organisasi Ristra Group per 1 Mei 2011

Chairman Ristra Group dan

Presiden Produksi

General Manager

Sales and Marketing Plant and Manufacturing Manager

Production and Engineering

Manager

PPIC and General

Logistic Manager QC/QA Manager Purchasing and Supply Chain

Manager

General Affair Supervisor Act Finance and

Accounting Manager Research and Development

Technology Manager

Lampiran 2. Struktur Organisasi Departemen Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan (Production Planning and Inventory Control/ PPIC) dan Logistik Umum (General Logistic/ Genlog)

Lampiran 3. Struktur Organisasi Departemen Pembayaran (Purchasing) PPIC and General Logistic Manager

Lampiran 4. Struktur Organisasi Departemen Penelitian dan Pengembangan (Research and Development/ R&D)

Lampiran 5. Struktur Organisasi Departemen Produksi dan Teknik (Production and Engineering)

Koordinator Satpam Operator Office Maintenance

Lampiran 6. Struktur Organisasi Depatemen Pengendalian Mutu (Quality Control/ QC)

Lampiran 7. Struktur Organisasi Departemen General Affair/ GA QC/QA Manager

Lampiran 8. Instruksi Kerja Pembuatan Cream

Diterima

Ditolak Mulai

Persiapan Alat

Pre-Heating Penimbangan Bahan Baku

Pemanasan Fase air dan fase minyak

Pencampuran Fase air dan Fase minyak Pencampuran Bahan-bahan lainnya

Pendinginan dan turun bulk

Sampling QC

Pemeriksaan QC Bau

Warna pH Viskositas Homogenitas

Pengisian (Filling) Batch Coding Pengemasan (Packing)

Produk Jadi (Finished Good)

Lampiran 9. Instruksi Kerja Pembuatan Lotion

Diterima

Ditolak Mulai

Persiapan Alat

Pre-Heating Penimbangan Bahan Baku

Pencampuran Turun bulk

Sampling QC

Pemeriksaan QC Bau

Warna pH Viskositas

Pengisian (Filling) Batch Coding Pengemasan (Packing)

Produk Jadi (Finished Good)

Timbang bulk

Lampiran 10. Instruksi Kerja Pembuatan Powder

Diterima

Ditolak Sampling QC

Pemeriksaan QC Bentuk

Bau Warna Homogenitas Ukuran Partikel

Pengisian (Filling) Batch Coding Pengemasan (Packing)

Produk Jadi (Finished Good)

Mulai

Persiapan Ruangan dan peralatan

Timbang bulk

Ruangan Proses Powder

Mixer besar Grinding

Pencampuran

Turun bulk

Memperkecil Ukuran Partikel Penimbangan Bahan Baku

Barang Diterima Di Gudang Bahan Baku

Persiapan Produksi

Proses Produksi

Pengemasan

Gudang Barang Jadi

Distributor

Customer

Lampiran 11. Alur Kerja Departemen Pengendalian Mutu

Verifikasi Incoming Material

Verifikasi Persiapan Proses

Verifikasi Kestabilan Produk

Verifikasi Retain Sample

Verifikasi Produk Return

Penanganan Complaint Product Verifikasi

Pengemasan Verifikasi Produk

Ruahan Verifikasi Penimbangan

PENERAPAN PENGGUNAAN

ULTRASOUND DAN MAGNETIC RESONANCE UNTUK UJI EFIKASI SEDIAAN ANTISELULIT

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

WULAN YULIASTUTI, S.Farm.

1106047474

ANGKATAN LXXIV

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER – DEPARTEMEN FARMASI

DEPOK

JUNI 2012

ii

PENERAPAN PENGGUNAAN

ULTRASOUND DAN MAGNETIC RESONANCE UNTUK UJI EFIKASI SEDIAAN ANTISELULIT

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker

WULAN YULIASTUTI, S.Farm.

1106047474

ANGKATAN LXXIV

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER – DEPARTEMEN FARMASI

DEPOK

JUNI 2012

HALAMAN JUDUL ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR TABEL ... iv

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan ... 1

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kulit ... 2

2.1.1 Epidermis ... 3

2.1.2 Dermis ... 4

2.1.3 Subkutan (Hipodermis) ... 5

2.2 Selulit ... 5

2.3 Antiselulit ... 6

BAB 3. ULTRASOUND DAN MAGNETIC RESONANCE ... 8

3.1 Alat Uji ... 8

3.1.1 Ultrasound Imanging (US Imaging) ... 8

3.1.2 Magnetic Resonance Imaging (MR Imaging) ... 9

3.2 Hasil Pengujian ... 10

BAB 4. PEMBAHASAN ... 13

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 15

5.2 Saran ... 15

DAFTAR ACUAN ... 16

iv Universitas Indonesia Gambar 2.1. Struktur kulit ... 2 Gambar 3.1. Hasil gambar US Imaging frekuensi tinggi memperlihatkan

lekukan hipodermal (A) dan ketebalan kulit (B) ... 9 Gambar 3.2. Hasil gambar MR Imaging dari jaringan adiposa ... 10 Gambar 3.3. Visualisasi 3-D gambar-gambar permukaan antara dermis

dan jaringan subkutan yang diperoleh dari US Imaging wanita dengan selulit (A) dan wanita tanpa selulit (B) ... 11

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Nilai rata-rata ketebalan kulit wanita dengan selulit dan wanita tanpa selulit yang diukur dengan US Imaging ... 10 Tabel 3.2. Nilai rata-rata ketebalan lapisan adiposa wanita dengan

selulit dan wanita tanpa selulit yang diukur dengan MR Imaging ... 11 Tabel 3.3. Nilai rata-rata derajat ketidakteraturan jaringan adiposa pada

dermis wanita dengan selulit dan wanita tanpa selulit yang diukur dengan MR Imaging ... 12

1.1 Latar Belakang

Setelah harmonisasi ASEAN dalam bidang regulasi kosmetik, peraturan mengenai registrasi kosmetik dihapuskan. Sebagai gantinya, pendaftaran produk kosmetik dilakukan melalui proses notifikasi (Kemenkes RI, 2010). Perbedaan yang penting antara notifikasi dan registrasi adalah tanggung jawab terhadap produk. Pada notifikasi, pelaku usaha bertanggung jawab penuh terhadap keamanan, mutu, dan klaim manfaat kosmetik yang dinotifikasi. Pengawasan pada notifikasi dilakukan setelah produk beredar (post market surveillance). Klaim manfaat kosmetik untuk notifikasi tentunya harus didukung oleh data-data hasil uji efikasinya.

Salah satu produk kosmetik yang sedang berkembang saat ini adalah sediaan antiselulit. Adanya selulit ditunjukkan dengan permukaan kulit yang tidak rata dan terlihat seperti kulit jeruk. Prinsip pengujian sediaan antiselulit adalah pengamatan dan penilaian perbedaan ketebalan kulit dan lapisan di bawah kulit sebelum dan sesudah aplikasi sediaan. Alat yang dapat digunakan untuk mengamati dan menilai ketebalan kulit dan lapisan di bawah kulit, antara lain Ultrasound dan Magnetic Resonance.

Dalam tugas khusus Praktek Kerja Profesi Apteker ini, penulis akan membahas mengenai spesifikasi dan penerapan penggunaan Ultrasound dan Magnetic Resonance dalam uji efikasi sediaan antiselulit.

1.2 Tujuan

Tujuan penyusunan tugas khusus Praktek Kerja Profesi Apteker ini adalah untuk mengetahui penerapan penggunaan Ultrasound dan Magnetic Resonance dalam uji efikasi sediaan antiselulit.

2.1 Kulit

Kulit merupakan organ penting yang menutupi seluruh permukaan luar tubuh, membentuk lapisan protektif untuk menghindari patogen dan cedera yang berasal dari lingkungan. Kulit adalah organ terbesar, tebalnya kira-kira 2 mm dan beratnya sekitar 6 pon. Kulit melindungi tubuh dari temperatur udara, cahaya, cedera, dan infeksi. Kulit juga membantu untuk menjaga temperatur tubuh;

sebagai indera peraba; menyimpan air, lemak, dan vitamin D; dan berperan sebagai sistem imun terhadap penyakit (Tranggono & Latifah, 2007).

Kulit terdiri dari tiga lapisan, yaitu: epidermis, dermis, dan subkutan.

[Sumber: Singh, Garg(a), Garg(b), Gangwar, & Sharma, 2010]

Gambar 2.1. Struktur kulit

Kulit terbagi atas dua lapisan utama, yaitu epidermis (kulit ari) sebagai lapisan paling luar dan dermis (korium, kutis, kulit jangat). Di bawah dermis terdapat subkutan atau jaringan lemak bawah kulit (Tranggono & Latifah, 2007).

2.1.1 Epidermis

Epidermis merupakan lapisan kulit paling luar. Epidermis memiliki ketebalan berbeda pada berbagai bagian tubuh, yang paling tebal berukuran 1 mm, misalnya pada telapak kaki dan telapak tangan, dan paling tipis berukuran 0,1 mm terdapat pada kelopak mata, pipi, dahi, dan perut. Sel epidermis ini disebut keratinosit (Tranggono & Latifah, 2007). Epidermis terbagi menjadi lima lapisan, yaitu:

a. Stratum corneum (lapisan tanduk)

Lapisan ini merupakan lapisan paling atas dan terdiri dari beberapa lapis sel pipih, mati, tidak memiliki inti, tidak mengalami metabolisme, tidak berwarna, dan sedikit mengandung air. Lapisan ini sebagian besar terdiri atas keratin (protein yang tidak larut dalam air) dan sangat resisten terhadap bahan kimia.

Secara alami, sel-sel yang mati di permukaan kulit akan melepaskan diri untuk beregenerasi. Permukaan lapisan ini dilapisi oleh lapisan pelindung yang lembab, tipis, dan bersifat asam disebut mantel asam kulit (Tranggono & Latifah, 2007).

Umumnya, pH fisiologis mantel asam kulit berkisar antara 4,5-6,5. Mantel asam kulit memiliki fungsi yang cukup penting bagi perlindungan kulit sehingga disebut “the first line barrier of the skin” (perlindungan kulit yang pertama).

Mantel asam kulit memiliki tiga fungsi pokok, yaitu (Tranggono & Latifah, 2007):

1. Sebagai penyangga (buffer) untuk menetralisir bahan kimia yang terlalu asam atau terlalu alkalis yang masuk ke kulit.

2. Dengan sifat asamnya, dapat membunuh atau menekan pertumbuhan mikroorganisme yang berbahaya bagi kulit.

3. Dengan sifat lembabnya, dapat mencegah kekeringan kulit.

b. Stratum lucidum (lapisan jermih)

Lapisan ini disebut juga lapisan barrier dan terletak tepat di bawah stratum corneum. Lapisan ini merupakan lapisan tipis, jernih, mengandung eleidin, dan tampak jelas pada telapak tangan dan telapak kaki (Tranggono &

Latifah, 2007).

c. Stratum granulosum (lapisan berbutir-butir)

Lapisan ini merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng tersusun atas sel-sel keratinosit berbentuk poligonal, berbutir kasar, dan berinti mengkerut. Butir-butir kasar ini terdiri atas keratohialin. Mukosa biasanya tidak memiliki lapisan ini.

Lapisan ini juga tampak jelas pada telapak tangan dan kaki (Tranggono & Latifah, 2007; Wasitaatmadja, 1997).

d. Stratum spinosum (lapisan malphigi)

Lapisan ini memiliki sel berbentuk kubus dan seperti berduri, berinti besar dan berbentuk oval. Sel-sel ini makin dekat ke permukaan kulit semakin berbentuk gepeng. Setiap sel berisi filamen kecil yang terdiri atas serabut protein.

Di antara sel-sel stratum spinosum terdapat sel Langerhans yang mempunyai peran penting dalam sistem imun tubuh (Tranggono & Latifah, 2007;

Wasitaatmadja, 1997).

e. Stratum germinativum (lapisan basal atau membran basalis)

Lapisan ini merupakan lapisan terbawah epidermis. Di dalamnya terdapat sel-sel melanosit, yaitu sel yang tidak mengalami keratinisasi dan fungsinya hanya membentuk pigmen melanin dan melalui dendrit diberikan kepada sel-sel keratinosit. Satu sel melanin untuk sekitar 36 sel keratinosit disebut unit melanin epidermal (Tranggono & Latifah, 2007).

2.1.2 Dermis

Lapisan ini lebih tebal daripada epidermis, terdiri dari serabut kolagen dan elastin, berada dalam substansi dasar yang bersifat koloid dan terbuat dari gelatin mukopolisakarida. Di dalam dermis terdapat adneksa kulit, seperti folikel rambut, papila rambut, kelenjar keringat, saluran keringat, kelenjar sebasea, otot penegak rambut, ujung pembuluh darah dan ujung saraf, juga sebagian serabut lemak yang terdapat pada lapisan lemak bawah kulit (Tranggono & Latifah, 2007;

Wasitaatmadja, 1997).

Dermis tersusun atas dua lapisan, yaitu lapisan papilari dan lapisan retikular. Lapisan yang dekat dengan epidermis adalah lapisan papilari yang

terdiri atas jaringan kolagen, serat elastin, dan fibroblas. Lapisan dalam adalah lapisan retikular, mempunyai lebih sedikit jaringan fibroblas dan lebih banyak kolagen (Tranggono & Latifah, 2007; Wasitaatmadja, 1997).

2.1.3 Subkutan (Hipodermis)

Lapisan ini terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak. Sel lemak merupakan sel bulat, besar, dengan inti terdesak ke pinggir karena sitoplasma lemak yang bertambah. Lapisan sel lemak disebut panikulus adiposus berfungsi sebagai cadangan makanan. Pada lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan saluran getah bening. Tebal jaringan lemak tidak sama bergantung pada lokasi (Wasitaatmadja, 1997).

2.2 Selulit

Selulit adalah perubahan topografi kulit yang sangat umum dimana kulit tampak seperti kulit jeruk. Nama ilmiah yag digunakan untuk selulit adalah oedemato-fibrosclerotic panniculopathy. Tahapan timbulnya selulit pada umumnya digambarkan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama tidak terlihat gejala klinis, tetapi pemeriksaan mikroskopis sel pada daerah tersebut akan mendeteksi perubahan anatomi (Smith, 1996; Hexsel, Dal’Forno, & Cignachi, 2006).

Pada tahap kedua terjadi gangguan pada metabolisme lemak dengan adanya peningkatan pada jumlah dan ukuran sel-sel lemak. Selanjutnya, integritas pembuluh darah terganggu, gangguan pada dermis dan epidermis semakin terlihat.

Vaskularisasi dermis yang buruk terjadi, epidermis menipis, dan permukaan kulit menjadi kasar serta keabu-abuan atau pucat disebabkan oleh mikrosirkulasi yang buruk serta heterogenitas permukaan yang terjadi (Smith, 1996; Hexsel, Dal’Forno, & Cignachi, 2006).

Pada tahap ketiga pemecahan pembuluh darah mikro dapat terlihat, disertai dengan akumulasi cairan, peningkatan sintesa lemak, dan penurunan laju metabolisme lemak. Sel-sel lemak bergabung dan dikelilingi kolagen menjadi suatu kolagen yang abnormal yang disebut nodul (Smith, 1996; Hexsel, Dal’Forno, & Cignachi, 2006).

Nodul memiliki diameter beberapa centimeter dan tampak agak jelas pada permukaan serta mungkin sedikit terasa sakit. Nodul lemak yang diselubungi kolagen ini mengalihkan jalur jaringan kapiler dan menggambarkan suatu daerah dengan aliran darah yang kurang. Daerah lemak subkutan agak kurang teratur, dilihat dari retensi cairannya, keberadaan nodul lemak, serta dari efek gravitasi.

Akibatnya kulit yang tampak seperti kulit jeruk menjadi terlihat jelas, permukaan yang heterogen menjadi nyata. Epidermis dan dermis menjadi lebih tipis dan kurang elastis serta tidak teratur. Abnormalitas ini dapat dengan cepat terdeteksi secara visual (Smith, 1996; Hexsel, Dal’Forno, & Cignachi, 2006).

Selulit terlihat lebih jelas pada daerah-daerah tertentu seperti paha dan pinggul. Selulit lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria, disebabkan oleh struktur jaringan subkutan wanita. Lapisan lemak subkutan pada wanita terorganisir menjadi kantung-kantung vertikal dengan lemak yang banyak dapat tertampung di dalamnya (Hexsel, Dal’Forno, & Cignachi, 2006).

2.3 Antiselulit

Ada beragam terapi untuk mengatasi selulit dengan mekanisme kerja yang berbeda-beda. Penggunaan kombinasi antiselulit dengan mekanisme kerja berbeda dianjurkan supaya hasil penghilangan selulit lebih optimal. Antiselulit tersebut antara lain xantin, ekstrak herbal, retinol, dan agonis PPAR (Rawlings, 2006).

Golongan xantin banyak dimanfaatkan sebagai antiselulit karena efeknya terhadap lipolisis adeposit dengan penghambatan fosfodiesterase dan peningkatan siklik adenosin monofosfat. Golongan xantin yang sering digunakan sebagai antiselulit yaitu kafein, aminofilin, dan teofilin. Ekstrak herbal yang banyak digunakan dalam produk antiselulit, antrara lain verbena, teh hijau, lemon, kacang kola, adas, ganggang, ivy, barley, stroberi, marjoram, dan semanggi manis.

Beberapa dari ekstrak herbal tersebut dilaporkan dapat meningkatkan mikrosirkulasi perifer dan memfasilitasi drainase limfatik (Rawlings, 2006).

Retinoid dimanfaatkan sebagai antiselulit karena efeknya dapat meningkatan dermal content dan arsitektur dari kolagen dan protein dermoepidermal bersama-sama dengan anchoring dan fibril elastik. Agonis PPAR (peroxisome proliferator-activated receptorsare) digunakan sebagai antiselulit

karena diketahui bahwa agonis PPAR ini dapat meningkatkan diferensiasi epidermis, meningkatkan level kolagen, menekan sebogenesis, serta merupakan anti-inflamai dan agen pencerah kulit (Rawlings, 2006).

Prinsip pengujian efikasi antiselulit secara in vivo adalah mengetahui, melihat, dan mengukur secara pasti perbedaan antara kondisi kulit dengan selulit sebelum aplikasi antiselulit dan sesudah aplikasi antiselulit. Ada beberapa alat pengujian yang dapat digunakan untuk menentukan perbedaan tersebut, antara lain Ultrasound dan Magnetic Resonance.

Pada bab ini akan dibahas mengenai spesifikasi, prinsip, dan hasil analisis kedua alat tersebut. Data yang digunakan oleh penulis berasal dari hasil penelitian Bernard Querleux pada tahun 2006. Penelitian tersebut tidak membandingkan antara kulit dengan selulit sebelum aplikasi sediaan antiselulit dan sesudah aplikasi sediaan antiselulit, tetapi membandingkan kulit dengan selulit dan kulit tanpa selulit. Namun, prinsip keduanya sama yaitu perbedaan topografi lapisan kulit, sehingga nantinya bisa diterapkan dalam pengujian efikasi antiselulit.

Sukarelawan pada penelitian tersebut adalah 44 wanita sehat dengan rentang usia 18 sampai 45 tahun; memiliki indeks massa tubuh 17-27; berat badannya konstan selama tahun sebelumnya; dan memiliki siklus menstruasi yang teratur. Para sukarelawan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu wanita tanpa selulit dan wanita dengan selulit yang terlihat jelas (Querleux, 2006).

3.1 Alat Uji

3.1.1 Ultrasound Imanging (US Imaging)

US Imaging yang digunakan pada penelitian ini adalah US Imaging frekuensi tinggi yang dilengkapi scanner dengan fokus 25MHz transducer yang menghasilkan resolusi aksial 70 mm dan lateral 130 mm. Enam puluh empat (64) seri gambar cross-sectional, dengan bidang tampilan atau field-of-view (FOV) 4 mm x 20 mm x 20 mm, diperoleh pada paha bagian atas, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 3.1 dan juga pada pinggul. Dari gambar tersebut ketebalan kulit dan topografi permukaan dermal-hipodermal dapat diukur (Querleux, 2007).

[Sumber: Querleux, 2006]

Gambar 3.1. Hasil gambar US Imaging frekuensi tinggi memperlihatkan lekukan hipodermal (A) dan ketebalan kulit (B)

3.1.2 Magnetic Resonance Imaging (MR Imaging)

Gambar MR dengan resolusi spasial tinggi dapat diperoleh dengan menghubungkan scanner MR standar 1,5 T dengan alat pemindai kulit (skin-imaging) dari surface gradient coil dan receiving coil sensitifitas tinggi. Dengan kedalaman resolusi 80 mm, epidermis, dermis, hipodermis, dan fibrous septae di antara hipodermis dapat dengan jelas dibedakan. Enam puluh (60) seri gambar dengan resolusi spasial tinggi diperoleh dari bagian atas paha dengan bidang tampilan atau field-of-view (FOV) 18 mm x 50 mm x 30 mm (Querleux, 2006).

Dengan kedalaman resolusi dari kulit sebesar 80 mm, Camper’s fascia dapat terlihat dengan jelas dan menunjukkan perbedaan lapisan adiposa, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 3.2. Camper’s fascia merupakan lapisan superfisial tebal dari dinding abdominal anterior yang berisi jaringan adiposa.

Selain itu, dengan ketebalan potongan 0,5 mm, tampilan struktur 3-D dari jaringan fibrous dapat dianalisis dalam lemak dengan volume 20 mm x 20mm x 20 mm (Querleux, 2006).

A

B

[Sumber: Querleux, 2006]

Gambar 3.2. Hasil gambar MR Imaging dari jaringan adiposa

3.2 Hasil Pengujian

Tabel 3.1 menunjukkan nilai dari ketebalan kulit pada bagian paha dan pinggul yang diukur dengan US Imaging. Wanita dengan selulit memiliki kulit yang lebih tebal daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Tabel 3.1. Nilai rata-rata ketebalan kulit wanita dengan selulit dan wanita tanpa selulit yang diukur dengan US Imaging

Ketebalan kulit pinggul (mm)

Ketebalan kulit paha (mm)

Wanita dengan selulit 1,70 ± 0,31 1,67 ± 0,25

Wanita tanpa selulit 1,59 ± 0,20 1,51 ± 0,19

Tabel 3.2 menunjukkan nilai dari ketebalan lapisan adiposa pada bagian paha dan pinggul yang diukur dengan MR Imaging. Wanita dengan selulit memiliki lapisan adiposa yang lebih tebal daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Tabel 3.2. Nilai rata-rata ketebalan lapisan adiposa wanita dengan selulit dan wanita tanpa selulit yang diukur dengan MR Imaging

Ketebalan lapisan adiposa pinggul (mm)

Ketebalan lapisan adiposa paha (mm)

Wanita dengan selulit 53,1 ± 10,1 34,0 ± 5,4

Wanita tanpa selulit 20,0 ± 6,4 8,3 ± 2,4

Struktur 3-D dari permukaan antara dermis dan jaringan subkutan diperoleh setelah memproses gambar-gambar dari US Imaging. Struktur 3-D tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.3 (Querleux, 2006).

[Sumber: Querleux, 2006]

Gambar 3.3. Visualisasi 3-D gambar-gambar permukaan antara dermis dan jaringan subkutan yang diperoleh dari US Imaging wanita dengan selulit (A) dan

wanita tanpa selulit (B)

Dari struktur 3-D yang diperoleh diukur indeks ketidakteraturan pada ketinggian lekukan adiposa. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 3.3.

Wanita dengan selulit memiliki indeks ketidakteraturan yang lebih tinggi daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Tabel 3.3. Nilai rata-rata derajat ketidakteraturan jaringan adiposa pada dermis wanita dengan selulit dan wanita tanpa selulit yang diukur dengan MR Imaging

Indeks ketidakteraturan pinggul (mm)

Indeks ketidakteraturan paha (mm)

Wanita dengan selulit 3,36 ± 0,81 3,50 ± 0,89

Wanita tanpa selulit 1,20 ± 0,84 1,47 ± 1,02

Klaim manfaat suatu produk kosmetik harus dibuktian dengan data-data hasil pengujian yang mendukung. Data-data tersebut dapat diperoleh melalui uji efikasi produk tersebut. Salah satu produk kosmetik yang sedang berkembang saat ini adalah sediaan antiselulit.

Adanya selulit ditunjukkan dengan permukaan kulit yang tidak rata dan terlihat seperti kulit jeruk. Hal tersebut disebabkan oleh penumpukan lemak di bawah permukaan kulit. Sediaan antiselulit bertujuan membuat permukaan kulit yang tidak rata tadi menjadi lebih rata. Mekanisme kerja antiselulit bermacam-macam, antara lain lipolisis adeposit dengan penghambatan fosfodiesterase dan peningkatan siklik adenosin monofosfat; peningkatkan mikrosirkulasi perifer dan memfasilitasi drainase limfatik; serta peningkatkan level kolagen (Rawlings, 2006). Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa prinsip pengujian efektivitas suatu sediaan antiselulit adalah pengukuran perbedaan ketebalan kulit dan lapisan di bawah kulit.

Pengujian dilakukan pada sejumlah sukarelawan yang sudah diseleksi.

Kondisi kulit sukarelawan dievaluasi sebelum dan sesudah aplikasi dari sediaan antiselulit. Hasil evaluasi kondisi kulit sukarelawan tersebut dapat diperoleh dari pengamatan dan penilaian perbedaan ketebalan kulit dan lapisan di bawah kulit sukarelawan sebelum dan sesudah aplikasi sediaan.

Alat yang dapat digunakan untuk mengamati dan menilai ketebalan kulit dan lapisan di bawah kulit, antara lain Ultrasound (US) dan Magnetic Resonance (MR). US Imaging frekuensi tinggi dapat mengukur ketebalan kulit dan topografi permukaan dermal-hipodermal. Dengan MR Imaging, lapisan epidermis, dermis, hipodermis, dan fibrous septae di antara hipodermis dapat dengan jelas dibedakan.

Selain itu, Camper’s fascia juga dapat terlihat dan menunjukkan perbedaan lapisan adiposa (Querleux, 2006).

Penulis menggunakan hasil penelitian Bernard Querleux pada tahun 2006 untuk lebih memahami bagaimana penerapan dan hasil analisis yang dapat

diperoleh dari penggunaan Ultrasound dan Magnetic Resonance. Penelitian tersebut tidak membandingkan antara kulit dengan selulit sebelum dan sesudah aplikasi antiselulit, tetapi membandingkan kulit dengan selulit dan kulit tanpa selulit. Namun, prinsip keduanya sama yaitu perbedaan topografi lapisan kulit, sehingga nantinya bisa diterapkan dalam pengujian efikasi antiselulit.

Penelitian dilakukan terhadap 44 wanita sehat dengan rentang usia 18 sampai 45 tahun dan sudah diseleksi dengan sejumlah persyaratan. Para sukarelawan tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu wanita tanpa selulit dan wanita dengan selulit yang terlihat jelas. Pengamatan selulit dilakukan pada pinggul dan bagian atas paha (Querleux, 2006).

Pengukuran dengan US Imaging menghasilkan nilai dari ketebalan kulit pada bagian paha dan pinggul sukarelawan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa wanita dengan selulit memiliki kulit yang lebih tebal daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Struktur 3-D dari permukaan antara dermis dan jaringan subkutan dapat diperoleh setelah memproses gambar-gambar dari US Imaging. Dari struktur 3-D yang diperoleh diukur indeks ketidakteraturan pada ketinggian lekukan adiposa.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa wanita dengan selulit memiliki indeks ketidakteraturan yang lebih tinggi daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Pengukuran dengan MR Imaging menghasilkan nilai dari ketebalan lapisan adiposa pada bagian paha dan pinggul sukarelawan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa wanita dengan selulit memiliki lapisan adiposa yang lebih tebal daripada wanita tanpa selulit (Querleux, 2006).

Ultrasound lebih banyak digunakan dalam pengujian selulit karena lebih efisisen dan mampu menampilkan rincian anatomi dari lapisan kulit yang berbeda,

Ultrasound lebih banyak digunakan dalam pengujian selulit karena lebih efisisen dan mampu menampilkan rincian anatomi dari lapisan kulit yang berbeda,

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 63-0)

Dokumen terkait