• Tidak ada hasil yang ditemukan

Derajat Keasaman (pH)

Dalam dokumen GUBERNUR SULAWESI TENGGARA (Halaman 92-157)

Air laut mempunyai kemampuan menyangga yang sangat besar untuk mencegah perubahan pH. Perubahan pH sedikit saja dari pH alami akan memberikan petunjuk terganggunya sistem penyangga. Hal ini dapat menimbulkan perubahan dan ketidak seimbangan kadar CO2 yang dapat membahayakan kehidupan biota laut. pH air laut permukaan di Indonesia umumnya bervariasi dari lokasi ke lokasi antara 6.0 – 8,5.

Perubahan pH dapat mempunyai akibat buruk terhadap kehidupan biota laut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibat langsung adalah kematian ikan, burayak, telur, dan lain-lainnya, serta mengurangi produktivitas primer. Akibat tidak langsung adalah perubahan toksisitas zat-zat yang ada dalam air, misalnya penurunan pH sebesar 1,5 dari nilai alami dapat memperbesar toksisitas NiCN sampai 1000 kali. Pengambilan data pH perairan dilakukan pada 9 titik berbeda yang dianggap mewakili keseluruhan kawasan perairan laut rencana TWP Pulau Wawonii. Nilai pH pada keseluruhan titik tersebut menunjukan angka yang relatif sama yakni 8 (Gambar 4).

Gambar 4. Sebaran nilai pH di Perairan KKPD TWP Pulau Wawonii Pengambilan data pH perairan dilakukan pada 9 titik berbeda yang dianggap mewakili keseluruhan kawasan perairan laut KKPD Kabupaten Konawe Kepulauan. Nilai pH yang diperoleh tersebut merupakan kondisi umum perairan laut di daerah tropis. Kisaran pH tersebut masih memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Tidak ada perbedaan pola sebaran pH yang mencolok di perairan ini. Kondisi pH baik di dekat muara sungai maupun di perairan lepas memiliki nilai pH yang hampir sama.

Kisaran pH ini memungkinkan peruntukan kehidupan biota Laut, wisata bahari maupun pelabuhan.

4. Salinitas

Salinitas didefinisikan sebagai jumlah berat garam yang terlarut dalam 1 liter air, biasanya dinyatakan dalam satuan 0/00 (per mil, gram perliter). Di perairan samudera, salinitas berkisar antara 340/00 – 350/00. Tidak semua organisme laut dapat hidup di air dengan konsentrasi garam yang berbeda. Nilai kadar salinitas suatu badan air berhubungan erat dengan tekanan osmotik dan ionik air, baik air media internal maupun eksternal. Perubahan nilai kadar salinitas air akan menyebabkan perubahan tekanan osmotik. Nilai kadar salinitas air termasuk ke dalam kelompok masking faktor, yaitu faktor-faktor yang dapat memodifikasi pengaruh faktor lingkungan lain menjadi suatu kesatuan sehingga dapat merubah tekanan osmotik air melalui suatu mekanisme pengaturan tubuh organisme laut.

Salinitas merupakan salah satu parameter lingkungan yang mempengaruhi proses biologi dan secara langsung mempengaruhi kehidupan organisme antara lain yaitu mempengaruhi laju pertumbuhan, jumlah makanan yang dikonsumsi, nilai konversi makanan, dan daya kelangsungan hidup.

Gambar 5. Sebaran Nilai Salinitas di Perairan KKPD TWP Pulau Wawonii Pengambilan data salinitas perairan dilakukan pada 9 titik berbeda dengan dasar ketermewakilan keseluruhan kawasan perairan KKPD Kabupaten Konawe Kepulauan. Kisaran salinitas perairan yang diperoleh adalah antara 29– 35 ppt dengan rata-rata salinitas 32,7 ppt. Nilai salinitas tertinggi yakni 35 ppt berada pada dua titik yaitu Perairan Orea (35 ppt) dan Tanjung Maluma (35 ppt) dan salinitas terendah berada pada titik 2 yaitu Tanjung Palia (28 ppt) (Gambar 5). Kondisi salinitas di Perairan TWP Pulau Wawonii masih dalam kondisi normal/alami sesuai dengan lokasi pengambilan sampelnya. Kisaran salinitas ini masih sesuai bagi peruntukan kehidupan biota laut, wisata bahari, pelabuhan dan kriteria peruntukan lainnya.

5. Kecerahan

Kecerahan perairan adalah suatu kondisi yang menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. Pada perairan alami kecerahan sangat penting karena erat kaitannya dengan aktifitas fotosintesa. Kecerahan merupakan faktor penting bagi proses fotosintesa dan produksi primer dalam suatu perairan.

Cahaya mempengaruhi ikan pada waktu memijah dan pada larva.

Jumlah cahaya yang tersedia dapat mempengaruhi waktu kematangan ikan. Jumlah cahaya juga mempengaruhi daya hidup larva ikan secara tidak langsung, hal ini diduga berkaitan dengan jumlah produksi organik yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan cahaya.

Gambar 6. Sebaran Nilai Kecerahan di perairan TWP Pulau Wawonii Berdasarkan hasil pengamatan kecerahan di Perairan TWP Pulau Wawonii adalah berkisar antara 1,93–21,75 meter (Gambar 6). Pada titik pengambilan yaitu titik 1 (Iga Menui), titik 5 (Perairan Orea) dan titik 7 (Tanjung Palingi) terlihat lebih rendah dibandingkan dengan titik pengambilan lainnya, hal tersebut disebabkan oleh kondisi saat pengukuran kecerahan tidak optimal karena cahaya matahari terhalang oleh awan dan mendung.

Secara umum kisaran tingkat kecerahan di lokasi pengamatan ini masih berada pada kisaran baku mutu air laut bagi peruntukan kehidupan biota laut, wisata bahari maupun pelabuhan, meskipun ada beberpa lokasi yang memiliki tingkat kecerahan rendah seperti titik 1, 5, dan 7. Titik tersebut masih ditemukan adanya terumbu karang yang hidup

6. Pasang Surut

Berdasarkan analisa data pasang surut yang diperoleh dari hasil survei di lapangan jenis pasang surut yang terjadi di lokasi kawasan konservasi adalah tipe pasang surut campuran condong ke harian ganda

yaitu dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut tetapi tinggi dan periodenya berbeda. Beda muka air pasang surut

sebesar 208 cm di atas posisi 0.00 m LWS. Adapun kedudukan airnya adalah sebagai berikut :

HWS = 208 cm diatas LWS atau 230 cm dari pembacaan piel scale MSL = 112,6 cm diatas LWS atau 134,6 cm dari pembacaan piel scale LWS = 0,00 cm atau 22 cm dari pembacaan piel scale

Gambar 7. Grafik Pasang Surut Air Laut di Kawasan TWP Pulau Wawonii

7. Oksigen Terlarut/Dissolved Oxygen (DO)

Oksigen merupakan faktor penting bagi kehidupan makro dan mikro organisme perairan karena diperlukan untuk proses pernafasan.

Oksigen terlarut penting bagi organisme perairan yang bersifat aerobik, disamping menentukan kecepatan metabolisme dan respirasi dari keseluruhan ekosistem perairan, juga sangat penting bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan biota air. Sumber oksigen terlarut di perairan dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer (sekitar 35%) dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Fluktuasi harian oksigen dapat mempengaruhi parameter kimia yang lain, terutama pada saat kondisi tanpa oksigen, yang dapat mengakibatkan perubahan sifat kelarutan beberapa unsur kimia di perairan (Effendi, 2003). Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musim, bergantung pada pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulance) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi dan limbah yang masuk ke dalam badan air. Effendie (2003), mengelompokkan kisaran DO dan pengaruhnya terhadap biota laut terutama ikan sebagai berikut.

0 50 100 150 200 250

1 24 47 70 93 116 139 162 185 208 231 254 277 300 323 346 369 392 415 438 461 484 507 530 553 576 599 622 645 668 691

Tinggi Pasut (cm)

Waktu (Jam)

Grafik Pasang - Surut

Pasut HWS LWS MSL

Tabel 5. Kadar Oksigen Terlarut (DO) dan Pengaruhnya bagi Kehidupan Ikan

Kategori Kadar DO

(mg/l) Pengaruh Terhadap Kehidupan Ikan 1 <0,3 Hanya sedikit jenis ikan yang dapat

bertahan pada masa pemaparan singkat

2 0,3-1,0 Pemaparan lama dapat mengakibatkan kematian ikan

3 1,0-5,0 Ikan dapat bertahan hidup, tetapi pertumbuhannya terganggu

4 >5,0 hampir semua organisme akuatik menyukai kondisi ini

Sumber: Modifikasi dari Effendie (2003)

Berdasarkan hasil survei, kisaran DO perairan kawasan KKPD Pulau Wawonii adalah antara 6,8 – 8,1 mg/l dengan rata-rata kadar DO 7,5 mg/l. Nilai DO tertinggi terdapat di perairan Iga Menui (8,1 mg/l) dan terendah terdapat di Perairan Orea (6,8 mg/l). Jika disesuaikan dengan kategori kadar oksigen terlarut dan pengaruhnya bagi kehidupan biota terutama ikan (Tabel 5), maka diketahui bahwa secara umum DO sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii tergolong dalam kategori 4 (>5,0 mg/l). Dalam kategori ini, Effendi (2003) mengasumsikan bahwa dengan kadar oksigen terlarut >5,0 mg/l, maka pengaruhnya adalah hampir semua organisme akuatik menyukai kondisi ini. Demikian halnya jika disesuaikan dengan baku mutu air laut untuk kehidupan biota laut menurut Keputusan Kementrian Negara LH No. 51 Tahun 2004, yang juga masuk dalam kategori >5 mg/l yakni sangat sesuai untuk kehidupan biota laut. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Kisaran dan rerata nilai DO di sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii tersebut masih memenuhi baku mutu kisaran DO peruntukan kehidupan biota laut termasuk ikan-ikan karang dan pelagis.

8. Kebutuhan Oksigen Biologi/Biochemical Oxygen Demand (BOD)

Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik, pada kondisi aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (PESCOD,1973). Parameter BOD, secara umum banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air buangan. Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri aliran pencemaran dari tingkat hulu ke muara. Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama organisme tersebut menguraikan bahan organik yang ada dalam suatu perairan, pada kondisi yang hampir sama dengan kondisi yang ada di alam.

Wirosarjono (1974), mengemukakan tabel tingkat pencemaran perairan berdasarkan nilai BOD yang disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Tingkat Pencemaran Perairan Berdasarkan Nilai BOD Tingkat Pencemaran Kisaran Nilai BOD (mg/l)

Rendah 0,0-10,0

Sedang 10,1-20,0

TInggi 25,0

Sumber: Modifikasi dari Wirosarjono (1974)

Berdasarkan hasil survei dan analisis laboratorium, kisaran BOD yang diperoleh pada beberapa lokasi di sepanjanag kawasan TWP Pulau Wawonii adalah 8,8 – 16,1 mg/l dengan rata-rata BOD 12,94 mg/l. Nilai BOD tertinggi yakni 16,5 mg/l berada pada perairan Iga Menui dan nilai BOD terendah terdapat pada Perairan Labeau.

Jika kisaran nilai BOD tersebut disesuaikan dengan kategori tingkat pencemaran (Tabel 6) menurut Wirosarjono (1974) maka menggambarkan bahwa hampir di sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii masuk dalam kategori “tingkat pencemaran sedang” (10,1-20,0mg/l), terkecuali di Perairan Labeau yang Masuk dalam kategori

“tingkat pencemaran rendah” (0,0-10 mg/l). Meskipun demikian, kisaran nilai BOD yang ditemukan di sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii jika disesuaikan dengan baku mutu air laut untuk biot laut berdasarkan Keputusan Kementrian Negara LH No. 51 Tahun 2004, maka secara keseluruhan kawasan TWP Pulau Wawonii menggambarkan bahwa kadar BODnya masih sangat baik untuk kehidupan biota laut termasuk hewan karang. Hal ini ditunjukkan pula oleh masih tingginya keanekaragaman dan biomassa ikan-ikan mayor maupun target dan juga masih terdapatnya gusung-gusung terumbu karang di sepanjang kawasan KKPD tersebut.

9. Kebutuhan Oksigen Kimia/Chemical Oxygen Demand (COD)

Chemical Oxygen Demand (COD) adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air. COD merupakan parameter kualitas lingkungan, dengan kata lain nilai COD dapat menentukan jumlah bahan pencemar yang terdapat dalam suatu badan perairan. Jika suatu badan perairan yang memiliki nilai COD besar dapat dikatakan bahwa kualitas air pada badan perairan tersebut buruk, karena kandungan bahan pencemar yang ada di perairan tersebut dalam jumlah besar. Nilai COD merupakan ukuran pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air (Sani, 2006). Secara singkat, COD menggambarkan jumlah total bahan organik yang ada.

Berdasarkan hasil survei dan analisis laboratoium, konsentrasi COD yang diperoleh di beberapa lokasi sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii berkisar antara 18,7 – 28,8 mg/l dengan rata-rata COD 25,12 mg/l. Konsentrasi COD tertinggi terdapat di perairan Pantai Kampa

(28,8 mg/l) dan terendah di Perairan Labeau (18,7 mg/l). Kisaran nilai konsentrasi COD tersebut masih tergolong dalam kategori rendah atau sangat mendukung untuk kehidupan biota perairan laut. Berbeda halnya jika dibandingkan dengan perairan muara atau perairan tercemar yang nilai CODnya dapat mencapai 500 mg/l.

10. Nitrat (NO3-N)

Nitrat (NO3-N) adalah bentuk nitrogen utama di perairan alami.

Nitrat merupakan salah satu nutrient senyawa yang penting dalam sintesa protein hewan dan tumbuhan. Kandungan nitrat di laut sangat penting dalam menunjang keutuhan ekosistem perairan. Hal itu terjadi karena nitrat merupakan unsur yang digunakan dalam proses fotosintesis dan merupakan unsur yang digunakan untuk pertumbuhan fitoplankton.

Kadar nitrat yang banyak dalam suatu perairan dapat dikatakan bagus atau subur karena dengan nitrat maka fitoplankton akan banyak disuatu perairan sehingga akan terjadi proses fotosintesis dimana menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan bagi organisme laut. Tetapi dengan kelebihan kadar nitrat dalam perairan maka dapat mengakibatkan dampak buruk bagi organisme. Hal itu terjadi karena dengan kadar nitrat yang tinggi dalam suatu perairan maka akan mengakumulasi pertumbuhan ganggang yang tak terbatas sehingga air akan kekurangan oksigen. Perairan yang kekurangan oksigen dapat berakibat negatif terhadap organisme karena tidak akan terjadi proses nitrifikasi melainkan proses denitrifikasi dimana ion nitrat dan nitrit diubah menjadi mol N2

yang hasil akhirnya berupa gas inert nitrogen yang relatif tidak dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan air secara langsung. Dan dengan proses denitrifikasi tersebut akan melepaskan senyawa beracun bagi organisme air.

Berdasarkan hasil survei dan analisis laboratorium ditemukan bahwa kisaran kadar nitrat di beberapa lokasi perairan sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii adalah antara 0,016 – 0,091 mg/l. Kadar nitrat terendah terdapat pada perairan Tanjung Noko (0,016 mg/l) dan tertinggi terdapat pada Perairan Orea (0,091 mg/l. Jika disesuaikan dengan baku mutu air laut untuk biota laut, maka kisaran konsentrasi nitrat yang diperoleh di sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii masih sangat baik. Bahkan di beberapa lokasi sampling seperti perairan Pantai Kampa dan Pantai Orea kadar nitratnya sangat tinggi yakni >0,08 mg/l.

Kadar nitrat yang tinggi sangat baik untuk perairan, namun tidak seharusnya melebihi 45 mg/l karena dapat menyebabkan algae bloom.

Hubungannya dengan biota seperti ikan, nitrat diperlukan dalam proses fotosintesis yang diserap dalam bentuk nitrat. Kemudian nitrat tersebut diubah menjadi protein dan selanjutnya menjadi sumber makanan bagi ikan.

11. Fosfat (PO4-P)+

Fosfat dalam air laut berbentuk ion fosfat. Ion fosfat dibutuhkan pada proses fotosintesis dan proses lainnya dalam tumbuhan (bentuk ATP, ADP dan Nukleotid koenzim). Penyerapan dari fosfat dapat berlangsung terus walaupun dalam keadaan gelap. Ortofosfat (H3PO4) adalah bentuk fosfat anorganik yang paling banyak terdapat dalam siklus fosfat. Distribusi bentuk yang beragam dari fosfat di air laut dipengaruhi oleh proses biologi dan fisik.

Dipermukaan air, fosfat di angkut oleh fitoplankton sejak proses fotosintesis.

Di laut dalam kebanyakan P berbentuk inorganik. Variasi di perairan pantai terjadi karena proses upwelling dan kelimpahan fitoplankton. Konsentrasi fosfat total pada perairan alami jarang melebihi 1 mg/l. Berdasarkan hasil survei lapangan dan analisis laboratorium, kadar fosfat (P) di beberapa lokasi perairan sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii berkisar 0,001 – 0,008 mg/l. Kadar P tertinggi terdapat di perairan Iga Menui dan terendah terdapat di Perairan Orea dan Perairan Labeau. Kisaran nilai P ini tergolong rendah dan masih sangat mendukung kehidupan biota laut. Menurut Effendie (2003), kadar fosfat yang rendah dibanding nitrogen di suatu perairan merupakan indikasi bahwa perairan tersebut masih sangat alami.

Kadar fosfat yang terlalu tinggi tidak baik bagi perairan dan biota lainnya. Kadar fosfat yang terlalu tinggi dapat meledakkan populasi alga.

Fosfor tidak bersifat toksik bagi manusia, hewan, dan ikan. Keberadaan fosfor secara berlebihan yang disertai dengan keberadaan nitrogen dapat menstimulir ledakan pertumbuhan algae di perairan (algae bloom). Algae yang berlimpah ini dapat membentuk lapisan pada permukaan air, yang selanjutnya dapat menghambat penetrasi oksigen dan cahaya mathari sehingga kurang menguntungkan bagi ekosistem perairan. Pada saat perairan cukup mengandung fosfor, algae mengakumulasi fosfor di dalam sel melebihi kebutuhannya. Fenomena yang demikian dikenal istilah konsumsi berlebih (luxury consumption). Kelebihan fosfor yang diserap akan dimanfaatkan pada saat perairan mengalami defisiensi fosfor, sehingga algae masih dapat hidup untuk beberapa waktu selama periode kekeurangan pasokan fosfor (Effendie, 2003). Tingginya konsentrasi fosfat di perairan merupakan salah satu indikasi adanya pencemaran yang diakibatkan aktivitas domestik.

12. Klorofil

Klorofil merupakan salah satu parameter yang sangat menentukan produktivitas primer di laut. Sebaran dan tinggi rendahnya konsentrasi klorofil sangat terkait dengan kondisi oseanografis suatu perairan (Mann dan Lazier, 1991). Klorofil itu sendiri terdiri dari tiga jenis yaitu klorofil-a, b, dan c. Ketiga jenis klorofil ini sangat penting dalam proses fotosintesis tumbuhan yaitu suatu proses yang merupakan dasar dari pembentukkan zat-zat organik di alam. Kandungan klorofil yang paling dominan dimiliki oleh fitoplankton adalah klorofil-a. Oleh karena itulah klorofil-a dapat dijadikan sebagai salah satu indikator kesuburan perairan. Berdasarkan hal tersebut, maka survei kualitas air (klorofil) di sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii di khususkan hanya pada klorofil-a.

Berdasarkan hasil survei dan analisis laboratorium, kadar klorofil di beberapa lokasi perairan sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii berkisar antara 1,99 – 6,65 mg/l. Kadar klorofil terendah terdapat pada perairan Iga Menui (1,99 mg/l) dan tertinggi terdapat di Perairan Orea (6,65 mg/l).

Tingginya kandungan klorofil di beberapa lokasi sampling diduga disebabkan oleh tingginya kecerahan yang dapat meningkatkan laju fotosintesis pada fitoplankton. Selain itu, proses pencampuran (mixing) massa air di bagian bawah dengan massa air dibagian atas. Kondisi ini semakin signifikan jika terjadi pergolakan air akibat angin dan arus yang kencang serta peristiwa upwelling maupun peristiwa downwelling.

C. Aksesibilitas

Memiliki latar belakang wilayah yang berciri kepulauan maka satu-satunya akses yang dapat ditempuh untuk mencapai TWP Pulau Wawonii adalah dengan menggunakan akses laut yaitu dengan menggunakan kapal Fery yang berangkat setiap hari dari Kota Kendari menuju Pelabuhan Langara begitupun sebaliknya, selain menggunakan kapal Fery dapat juga menggunakan kapal kayu. Akan tetapi setelah berada di daratan Pulau Wawonii sudah terdapat kendaraan roda dua maupun roda empat yang memudahkan untuk mengakses TWP Pulau Wawonii.

D. Potensi Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Pada umumnya masyarakat Kabupaten Konawe Kepulauan memiliki pekerjaan utama yaitu nelayan tangkap dan berkebun. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Konawe Kepulauan produksi perikanan tangkap pada tahu 2017 mencapai 8.070 ton sedangkan untuk perikanan budidaya mencapai 260 ton. Selain potensi kelautan dan perikanan cukup besar, Kabupaten Konawe Kepulauan juga memiliki panjang garis pantai kurang lebih 129,76 km. Terdapat beberapa pantai berpasir putih dan sepanjang pantai tersebut diterdapat ekosistem pesisir seperti ekosistem mangrove, ekosistem lamun, dan ekosistem terumbu karang yang berpotensi untuk pengembangan wisata bahari.

Klasifikasi jenis morfologi pantai yang terdapat di Kecamatan Wawonii Barat, Kecamatan Wawonii Utara, dan Kecamatan Wawonii Timur Laut disajikan pada tabel berikut :

Tabel 7. Jenis morfologi pantai yang terdapat di TWP Pulau Wawonii Nama Kecamatan Morfologi Pantai Panjang (m)

Wawonii Barat Landai Berpasir 10.549,85

Pantai Mangrove 4.593,10

Terjal Berbatu 3.465,66

Terjal Berpasir 943,10

Total 19.551,72

Wawonii Utara Landai Berpasir 5.461,21

Pantai Mangrove 7.301,78

Terjal Berpasir 1.202,22

Total 13.965,20

Wawonii Timur Laut Pantai Mangrove 6.724,66

Terjal Berbatu 701,22

Terjal Berpasir 2.673,12

Total 10.009,00

Diantara wisata pantai yang telah berkembang adalah Pantai Kampa yang terletak di Kec. Wawonii Barat. Pantai Kampa adalah salah satu Destinasi Terindah di Kabupaten Konawe Kepulauan. Di pantai ini, wisatawan akan disambut dengan hamparan pasir putih bersih dengan air lautnya yang jernih dan tenang serta barisan pohon kelapa yang melambai-lambai disepanjang garis pantai menjadikan Pantai Kampa menjadi destinasi wisata bahari terbaik.

Pemandangan Pantai Kampa begitu indah dengan pemandangan bawah lautnya. Terumbu Karang di pantai ini tumbuh sehat secara alami sehingga pengunjung dapat melakukan kegiatan berenang, diving atau snorkeling untuk menyaksikan keindahan bawah lautnya yang sangat mempesona.

Alam bawah laut Pantai Kampa menghadirkan keindahan terumbu karang yang luas di sepanjang garis pantai dengan aneka ragam biota laut di dalamnya. Pada kondisi-kondisi tertentu dapat dijumpai kehadiran salah satu jenis biota laut yang diilindungi yaitu duyung (dugong). Hal ini didukung oleh kondisi atau karakteristik pantai berupa pasir dengan hamparan lamun yang cukup tersedia bagi makanan biota tersebut.

E. Permasalahan Pengelolaan

Berdasarkan informasi dari survei lapangan, diketahui beberapa permasalahan yang terjadi di dalam kawasan. Permasalahan tersebut berkaitan dengan aspek biofisik dan lingkungan. Dikarenakan aktifitas dan jumlah penduduk yang menggantungkan hidup pada wilayah pesisir, maka sangat berpotensi terjadi aktifitas-aktifitas pemanfaatan yang bersifat destruktif. Jenis aktifitas dan penjelasan aktifitas yang berbahaya dan harus mendapatkan pengawasan di wilayah pesisir antara lain :

1. Penangkapan ikan dengan bom ikan dan penangkapan ikan dengan sianida.

Pengeboman-ikan adalah cara penangkapan ikan yang sangat merusak, dan juga ilegal di seluruh Indonesia. Bom buatan sendiri dibuat dengan mengemas pupuk ke dalam botol bir atau minuman ringan. Sumbu biasanya dibuat dari kepala korek yang digerus dan dimasukkan ke dalam pipa sempit lalu diikat kuat dengan kawat.

Sumbu dinyalakan lalu botol dilemparkan ke dalam air. Sementara sianida (bius) adalah menyemprotkan larutan potasium sianida pada ikan atau hewan terumbu karang lainnya, sehingga mereka pingsan dan memudahkan nelayan untuk mengeluarkan mereka dari tempat persembunyiannya.

2. Penangkapan jenis ikan atau hewan laut secara berlebih.

Beberapa jenis ikan atau biota laut yang bernilai ekonomis tinggi seperti ikan kerapu, napoleon, dan beberapa jenis ikan karang lainnya juga kerang, tiram mutiara, dan teripang biasanya menghadapi kepunahan karena merupakan target utama penangkapan oleh nelayan.

3. Penambangan atau aktifitas mencungkil karang (meting).

Penambangan karang adalah aktifitas mengambil karang untuk dimanfaatkan secara langsung baik sebagai bahan bangunan atau bahan pembuatan kapur. Sementara meting adalah teknik mencungkil karang yang merusak dengan menggunakan alat linggis, membongkar bagian atas karang pada saat air surut, untuk

Penambangan karang adalah aktifitas mengambil karang untuk dimanfaatkan secara langsung baik sebagai bahan bangunan atau bahan pembuatan kapur. Sementara meting adalah teknik mencungkil karang yang merusak dengan menggunakan alat linggis, membongkar bagian atas karang pada saat air surut, untuk

Dalam dokumen GUBERNUR SULAWESI TENGGARA (Halaman 92-157)

Dokumen terkait