Berdasarkan pengamatan kondisi tutupan mangrove di Kabupaten Konawe Kepulauan menunjukkan masih dalam kategori yang cukup baik.
Hal tersebut ditunjukkan dari rata-rata persentase tutupan kanopi
komunitas yang termasuk dalam kategori sedang yakni 72,06%. Begitu juga dengan kondisi vegetasi mangrove dimana rata-rata nilai kerapatan mangrove mencapai 2.167 individu/ha dan termasuk kategori padat.
Kondisi tutupan mangrove dengan kategori sedang ditemukan di tiga lokasi yaitu Desa Langara (73,63 %), Desa Watuondo (68,37%), dan Desa Ladianta (50,10 %). Sedangkan dua lokasi lainnya ditemukan dalam kategori baik yaitu berada pada Desa Palingi Induk (83,13%), dan Desa Palingi Timur (78,10%).
Kondisi vegetasi dengan kategori sedang terdapat 3 lokasi yaitu Desa Palingi Induk (1300 batang/ha), Desa Watuondo (1250 batang/ha), dan Desa Ladianta (1433 batang/ha). Sedangkan dua lokasi lainnya ditemukan dalam kategori padat berada di Desa Palingi Timur (2850 batang/ha) dan Desa Langara (4000 batang/ha). Mangrove dominan yang ditemukan dalam TWP Pulau Wawonii adalah Rhizophora stylosa, Bruguiera gymnorizha, Rhizophora mucronata dan Sonneratia alba.
Tabel 2. Kondisi Hutan Mangrove TWP Pulau Wawonii
Stasiun Koordinat Substrat
Kondisi Tutupan (%) Vegetasi Keterangan Lokasi
%
Cover Std.
dev. Kriteria Kerapatan
(phn/ha) Kriteria MG
3. Ekosistem Padang Lamun
Secara umum keberadaan lamun di Kabupaten Wawonii Kepulauan dapat dijumpai disepanjang pesisir utara Pulau Wawonii. Jenis lamun yang ada di kabupaten Konawe Kepulauan terdapat lima species yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Syringodium isoetifolium, Halophila minor, dan Holodule uninervis.
Kondisi lamun pada perairan Kabupaten Wawonii Kepulauan berada pada status kaya atau sehat, dimana 4 dari 6 stasiun monitoring memiliki persentase penutupan berkisar antara 63.3 % - 86.7 % yang berada di Desa Langara (63.3%), Desa Lansilowo (68,3%), Desa Palingi (86,7%), dan Desa Purauu (81,7%), sedangkan hanya 2 lokasi lainnya memiliki kondisi lamun kurang kaya atau kurang sehat berada di Tanjung Langara (48,3%) dan di Pantai Kampa (53,3%).
Tabel 3. Kondisi Padang Lamun TWP Pulau Wawonii Tahun 2018
No Stasiun Koordinat Kedalaman (m)
Cover (%)
Kategori
Tutupan Substrat
1 LM WWNI
01
S 04o 00' 10.7'' E 122o 59' 40.2''
± 1 65 Padat Pasir kasar,
Pasir bercampur pecahan karang
mati 2 LM
WWNI 02
S 03o 58' 45.4''
E 123o 00' 29.6'' ± 1 48.33 Cukup
Padat Pasir kasar, Pasir bercampur
pecahan karang mati 3 LM
WWNI 03
S 03o 59' 22.0'' E 123o 02' 21.7''
± 1 53.33 Padat Pasir kasar
4 LM WWNI
04
S 04o 01' 04.1''
E 123o 07' 13.9'' ± 0,5 68.33 Padat Lumpur berpasir
5 LM WWNI
05
S 04o 00' 35.4'' E 123o 09' 00.7'
± 0,15 86.66 Sangat Padat
Pasir kasar
6 LM WWNI
06
S 04o 02' 51.6''
E 123o 14' 20.4'' ± 1 81.66 Sangat
Padat Pasir berlumpur
4. Sumber Daya Ikan
Berdasarkan pemantauan kondisi sumber daya ikan di dalam TWP Pulau Wawonii menunjukkan kondisi kelimpahan dan juga biomassa yang berbeda pada setian stasiun dengan range kelimpahan 35-618 individu/500m², sedangkan biomassa ikan 21-897,6 kg/hektar.
Pengamatan ikan ini dilakukan pada lokasi yang sama dengan lokasi pengamatan terumbu karang yaitu Desa Langara Bajo dengan kelimpahan ikan 128, 616, dan 618 individu/500m², sedangkan untuk biomassa ikan 69.4, 393.0, 387.1 kg/hektar, Desa Wawolaa dengan kelimpahan ikan 146 individu/500m² dan biomassa ikan 34.4 kg/hektar, Pantai Kampa dengan kelimpahan ikan 302 individu/500m² dan 897,6 kg/hektar, Desa Palingi 35 individu/500m² dan biomassa ikan 25,2 kg/hektar sedangkan Desa Noko dengan kelimpahan ikan 50 individu/500m² dan biomassa ikan 21.0 kg/hektar.
Gambar 1. Kondisi Sumber Daya Ikan TPW Pulau Wawonii Tahun 2018
Berdasarkan hasil taging, TWP Pulau Wawonii juga merupkan daerah yang menjadi jalur migrasi penyu, data ini didukung dengan adanya informasi dari masyarakat bahwa salah satu pantai yang ada di dalam TPW Pulau Wawonii yaitu pantai kampa sering dijadikan penyu sebagai tembat bertelur. Selain itu TWP Pulau Wawonii juga diindikasikan sebagai jalur migrasi dugong yang ditandai dengan informasi dan dokumentasi dari masyarakat bahwa dugong sering muncul dan pernah terdampar disalah satu pantai yang terdapat di dalam TWP Pulau Wawonii.
B. Kualitas Perairan
Kualitas air secara umum merupakan suatu ukuran kondisi air dilihat dari karakteristik fisik, kimiawi, dan biologisnya (Diersing dan Nancy, 2009).
Kualitas air juga menunjukkan ukuran kondisi air relatif terhadap kebutuhan biota air dan manusia. Secara khusus, untuk perairan laut, kualitas air seringkali menjadi ukuran standar terhadap kondisi kesehatan dan/atau kualitas ekosistem perairan laut tersebut. Kondisi air bervariasi seiring waktu tergantung pada kondisi lingkungan setempat. Air terikat erat dengan kondisi ekologi setempat sehingga kualitas air termasuk suatu subjek yang sangat kompleks dalam ilmu lingkungan. Aktivitas industri seperti manufaktur, pertambangan, konstruksi, dan transportasi merupakan penyebab utama pencemaran air, juga limpasan permukaan dari pertanian dan perkotaan dan/atau pemukiman.
Kualitas air yang diukur dalam penyusunan dokumen KKP TWP Pulau Wawonii berdasarkan Pedoman Umum (Pedum) adalah parameter fisika (suhu, kecerahan, kecepatan arus); parameter kimia (salinitas, pH, oksigen terlarut (DO), BOD, COD, Nitrat, Fosfat), dan parameter biologi (klorofil dan plankton). Sebagai acuan dalam menentukan atau mengatur pengelolaan kawasan TWP Pulau Wawonii, maka varibilitas kualitas air di kawasan konservasi yang dimaksud juga sangat perlu untuk diketahui. Olehnya itu, survei lapangan pengambilan data kualitas air di kawasan TWP Pulau Wawonii dilakukan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Selain pengukuran di lapangan langsung, analisis laboratorium juga dilakukan guna menentukan kualitas beberapa parameter perairan yang tidak dapat dilakukan pengukuran secara langsung di lapangan. Di sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii, total terdapat sepuluh (10) titik yang dijadikan sebagai lokasi pengambilan sampel kualitas air. Lokasi-lokasi pengambilan sampel kualitas air dan titik koordinatnya serta nilai kualitas airnya disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Parameter kualitas air di wilayah TWP Pulau Wawonii
Parameter
Stasiun/Lokasi Iga
Menui Tanjung
Palia Pantai
Kampa Perairan
Kampa Perairan
Orea Tanjung
Maluma Perairan
Labeau Tanjung
Palingi Perairan
Mawa Tanjung Noko
Suhu (°C) 31 29 32 31 31 30 31 30 30 31
Salinitas (ppt) 32 29 32 33 35 35 33 34 32 32
pH 8.2 8.1 8.2 8.3 8.2 8.2 8.1 8.1 8.1 8.1
Kec. Arus
(m/det.) 0.20 0.16 0.28 0.41 0.48 0.53 0.52 0.68 0.52 0.70
Kecerahan (m) 100%
(1.93 m)
100%
(13.23 m)
100%
(10.81 m)
100%
(18.62 m)
100%
(4.40 m)
100%
(8.30 m)
5.995 m 100%
(8.95 m)
18.29 m 21.75 m
DO (mg/l) 8.1 7.8 7.6 7.2 6.8 7.6 7.7 7.3 7.5 7.1
BOD (mg/l 16.1 13.8 11.5 12.3 13.1 12.4 8.8 10.9 12.9 15.2
COD (mg/l) 26.1 27.45 28.8 26.95 25.1 24.68 18.7 21.9 25.12 26.9
Nitrat (mg/I) 0.075 0.0815 0.088 0.0895 0.091 0.0828 0.077 0.084 0.069 0.016 Fosfat (mg/I) 0.008 0.005 0.002 0.0015 0.001 0.003 0.001 0.001 0.003 0.002
Klorofil (mg/I) 1.99 2.9 3.81 5.23 6.65 4.09 3.94 5.29 4.53 6.28
1. Arus
Arus laut merupakan suatu pergerakan massa air secara vertikal serta juga horizontal sehingga menuju suatu keseimbangannya. Arus dapat disebabkan oleh tipuan angin atau juga perbedaan densitas ataupun pergerakan gelombang panjang. Selain itu, pergerakan arus dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: arah angin, pasang surut, perbedaan tekanan air, perbedaan densitas air, gaya Coriolis dan arus Ekman, topografi dasar laut, arus permukaan, upwelling dan downwelling (Wyrtki 1961). Hasil survei kecepatan arus laut bervariasi antara satu lokasi perairan dengan perairan lainnya di sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii (Gambar 2).
Gambar 2. Variasi Kecepatan Arus di Beberapa Lokasi Survei pada Kawasan TWP Pulau Wawonii
Secara umum, kecepatan arus di sepanjang kawasan TWP Pulau
Wawonii tergolong cepat. Kecepatan arus di kawasan ini berkisar 0,16 - 0,7 m/det, terendah terdapat di perairan tanjung Palia dan tertinggi
terdapat di Perairan Tanjung Noko. Hal ini didukung oleh letak pesisir kawasan KKPD yang terbuka. Tepat di depan pesisir kawasan ini adalah perairan laut terbuka (Laut Banda). Sesuai dengan letaknya, pola arus di perairan kawasan TWP Pulau Wawonii di pengaruhi oleh massa air dari Laut Banda. Berbeda dengan perairan laut lain yang tertutup ataupun semi tertutup, dengan kecepatan arusnya lebih lambat. Selain itu, banyaknya tanjung di sepanjang kawasan KKPD juga menjadi sebab arusnya tergolong cepat.
Pada musim-musim tertentu, arus di sepanjang kawasan ini dapat menjadi lebih kencang yang dipengaruhi oleh angin laut dan gelombang.
Pada musim-musim tersebut peluang untuk terjadinya abrasi di bibir pantai sangat tinggi. Meskipun demikian, terdapatnya vegetasi
mangrove di beberapa titik pesisir kawasan KKPD dapat meredam
pengaruh arus dan gelombang pada musim-musim tersebut. Olehnya itu, perlindungan ekosistem pesisir terutama ekosistem mangrove di
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8
Kecepatan Arus (m/det.)
sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii sangat perlu, sehingga peuang-peluang abrasi di pada musim-musim tertentu dapat dicegah. Nilai kecepatan arus tersebut juga masih memenuhi baku mutu kisaran kecepatan arus peruntukan kehidupan biota maupun terumbu karang.
Hal ini ditunjukkan oleh masih banyaknya spot-spot ekosistem terumbu karang dengan biomassa ikan-ikan target yang tergolong tinggi di sepanjang kawasan TWP Pulau Wawonii.
2. Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Proses kehidupan yang vital yang secara kolektif disebut metabolisme, hanya berfungsi didalam kisaran suhu yang relative sempit biasanya antara 0-40°C, meskipun demikian bebarapa beberapa ganggang hijau biru mampu mentolerir suhu sampai 85°C. Selain itu, suhu juga sangat penting bagi kehidupan organisme di perairan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas maupun perkembangbiakan dari organisme tersebut. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis ikan yang terdapat di berbagai tempat di dunia yang mempunyai toleransi tertentu terhadap suhu. Ada yang mempunyai toleransi yang besar terhadap perubahan suhu, disebut bersifat euryterm. Sebaliknya ada pula yang toleransinya kecil, disebut bersifat stenoterm.
Pengukuran suhu di lokasi TWP Pulau Wawonii diperoleh suhu yang fluktuasinya tidak signifikan yaitu berkisar 29-31˚C dengan rata-rata suhu perairan 30˚C. Dari 9 titik pengamatan variasi suhu yang dipeoleh di lokasi pengamatan berbeda-beda, nilai suhu tertinggi diperoleh di Pantai Kampa (32˚C) dan terendah di Tanjung Palia (29˚C) (Gambar 3).
Gambar 3. Sebaran Nilai Suhu di wilayah perairan KKPD TWP Pulau Wawonii
Secara umum hasil pengukuran suhu sangat dipengaruhi oleh waktu, kondisi cuaca maupun kedalaman perairan yang mempengaruhi sebaran suhu di perairan. Kisaran suhu di perairan rencana TWP Pulau Wawonii yaitu antara 29 - 31˚C. Hasil pengukuran suhu di perairan ini
masih memenuhi baku mutu kisaran suhu yang optimal untuk kehidupan biota laut, wisata bahari maupun pelabuhan. Terjadinya penurunan suhu di Tanjung Palia mencapai 29OC. disebabkan oleh penyinaran matahari yang kurang optimal saat waktu pengukuran dilakukan karena terhalang awan.