• Tidak ada hasil yang ditemukan

GUBERNUR SULAWESI TENGGARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GUBERNUR SULAWESI TENGGARA"

Copied!
157
0
0

Teks penuh

(1)

GUBERNUR SULAWESI TENGGARA

KEPUTUSAN GUBERNUR SULAWESI TENGGARA NOMOR : 286 TAHUN 2020

TENTANG

RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI TAMAN WISATA PERAIRAN TELUK MORAMO DAN PULAU-PULAU KECIL SEKITARNYA

DAN TAMAN WISATA PERAIRAN PULAU WAWONII DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA

TAHUN 2020 - 2040

GUBERNUR SULAWESI TENGGARA,

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 31 ayat (11) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.30/MEN/2010 tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan, menyebutkan bahwa Dokumen Final Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan disampaikan kepada Gubernur untuk disahkan;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Gubernur Sulawesi Tenggara tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Wisata Perairan Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil Sekitarnya dan Taman Wisata Perairan Pulau Wawonii di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2020 - 2040.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang

Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1964 tentang

Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah

dan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dengan

mengubah Undang-Undang Nomor 47 Prp. Tahun

1960 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I

Sulawesi Utara – Tengah dan Daerah Tingkat I

Sulawesi Selatan – Tenggara (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 1964 Nomor 94,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 2687);

(2)

2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5073);

3. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5490);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 tentang Kelautan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 294, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5603);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4779);

7. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.17/MEN/2008 tentang Kawasan Konservasi Di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;

(3)

8. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.02/MEN/2009 tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi Perairan;

9. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.30/MEN/2010 tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan;

10. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Nomor 2 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2014 – 2034 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2014 Nomor 2);

11. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Nomor 9 Tahun 2018 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2018 – 2038 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2018 Nomor 9);

12. Peraturan Gubernur Sulawesi Tenggara Nomor 72 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi, serta Tata Kerja Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara.

MEMUTUSKAN : Menetapkan :

KESATU : Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Wisata Perairan Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil Sekitarnya dan Taman Wisata Perairan Pulau Wawonii di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2020 - 2040, sebagaimana tercantum pada Lampiran I dan II Keputusan ini.

KEDUA : Rencana Pengelolaan dan Zonasi sebagaimana dimaksud Diktum KESATU merupakan panduan operasional pengelolaan Taman Wisata Perairan Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil Sekitarnya dan Taman Wisata Perairan Pulau Wawonii di Provinsi Sulawesi Tenggara.

KETIGA : Rencana Pengelolaan dan Zonasi sebagaimana dimaksud

Diktum KESATU dapat ditinjau sekurang-kurangnya 5

tahun sekali.

(4)

KEEMPAT : Segala biaya yang dikeluarkan sebagai akibat ditetapkannya Keputusan ini, dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sulawesi Tenggara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Sumber lainnya yang sah dan tidak mengikat.

KELIMA : Keputusan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Kendari

pada tanggal 2020 GUBERNUR SULAWESI TENGGARA,

ALI MAZI

(5)

LAMPIRAN I : KEPUTUSAN GUBERNUR SULAWESI TENGGARA NOMOR : 286 TAHUN 2020

TANGGAL : 12 – 5 – 2020

RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI TAMAN WISATA PERAIRAN TELUK MORAMO DAN PULAU-PULAU KECIL SEKITARNYA

DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA TAHUN 2020 - 2040

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan salah satu provinsi yang berciri kepulauan yang memiliki luas perairan sebesar 114.879 km

2

atau 75% dari total luas wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara yang mencapai 153.019 Km

2

. Panjang garis pantai sebesar 4.106,98 Km dengan jumah pulau sebanyak 540 pulau dengan 115 pulau diantaranya telah berpenduduk. Secara administratif, Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki 17 Kabupaten/Kota dan 16 Kabupaten/Kota diantaranya terletak di wilayah pesisir.

Dengan potensi sumber daya pesisir dan laut yang prospek untuk pemanfaatan dan pengembangannya, maka wilayah pesisir Provinsi Sulawesi Tenggara tidak terlepas dari adanya tekanan atau gangguan aktivitas- aktivitas pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut yang tidak memperhatikan keberlanjutannya ataupun kelestariannya. Oleh karena itu, berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak-pihak terkait yang salah satunya melalui program perlindungan dan pelestarian sumber daya perikanan dan kelautan.

Sebagai bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam mendukung target konservasi nasional yaitu 20 Juta Ha pada Tahun 2020, terdapat 13 (tiga belas) kawasan konservasi di Sulawesi Tenggara baik yang dikelola oleh Pemerintah Daerah maupun Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Dan salah satu kawasan konservasi yang telah ditetapakan pencadangannya yaitu Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Provinsi Sulawesi Tenggara melalui Keputusan Gubernur Sulawesi Tenggara Nomor 324 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Gubernur Sulawesi Tenggara Nomor 98 Tahun 2016. Melalui keputusan tersebut, wilayah perairan Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil sekitarnya ditetapkan sebagai Taman Wisata Perairan (TWP) dengan luas sebesar 21.786,14 Ha. Wilayah pencadangan tersebut mencakup 3 (tiga) Kabupaten/Kota yaitu Konawe, Konawe Selatan dan Kota Kendari.

Sebelum penetapan pencadangan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara

(TWP Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil sekitarnya), telah dilakukan

inventarisasi dan identifikasi potensi calon kawasan konservasi pada tahun

2013. Dan dalam tahap legalisasi usulan wilayah perairan yang akan

dicadangkan melalui Keputusan Gubernur, beberapa rekomendasi

Pemerintah Kabupaten diperlukan untuk menguatkan dalam proses

(6)

penetapannya. Rekomendasi tersebut meliputi: 1). Rekomendasi Bupati Konawe Nomor 523/361/2014; 2). Rekomendasi Bupati Konawe Selatan Nomor 523/1867; dan 3). Rekomendasi Walikota Kendari Nomor 523/1299/2014. Dalam perkembangannya, KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami perubahan wilayah pencadangan dengan menyelaraskan kebijakan strategis nasional pada sektor energi kelistrikan yang menempatkan salah satu pembangkit listrik (PLTU) berada di wilayah pesisir yang perairannya masuk dalam kawasan konservasi. Sehingga pada Tahun 2016, dilakukan identifikasi potensi wilayah perairan disekitarnya dan diusulkan penambahan luas kawasan konservasi sebesar 11.414, 36 Ha yang pengembangannya diarahkan ke wilayah perairan Teluk Moramo Kabupaten Konawe Selatan.

Dengan telah ditetapkannya pencadangan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara dan terbentuknya kelembagaan yang akan bertugas mengelola kawasan tersebut, maka untuk pelaksanaannya diperlukan Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan sebagai pedoman dalam pengelolaan kawasan konservasi untuk mewujudkan pengelolaan yang efektif dan berkelanjutan. Rencana Pengelolaan dan Zonasi tersebut memuat Rencana Jangka Panjang (20 tahun), Rencana Jangka Menengah (5 tahun), dan Rencana Kerja Tahunan serta Zonasi Kawasan Konservasi Perairan.

1.2 Tujuan

Tujuan Rencana Pengelolaan dan Zonasi TWP Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tenggara adalah sebagai acuan dan panduan dalam:

1. Pelaksanaan program dan kegiatan;

2. Perlindungan dan pelestarian kawasan beserta sumber dayanya;

3. Pemanfaatan kawasan sesuai dengan zonasinya;

4. Pengembangan wisata berbasis konservasi; dan 5. Mengevaluasi efektifitas pengelolaan kawasan.

1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup dokumen Rencana Pengelolaan dan Zonasi TWP Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tenggara ini meliputi:

1. Potensi dan permasalahan meliputi kondisi biofisik, sosial, ekonomi, budaya dan permasalahan yang terkait dengan pengelolaan TWP Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil sekitarnya;

2. Penataan zonasi kawasan meliputi penetapan zonasi dan aturan yang berlaku dalam zonasi; dan

3. Rencana pengelolaan meliputi rencana jangka panjang (20 Tahun) dan

rencana jangka menengah (5 Tahun) serta rencana kerja tahunan.

(7)

BAB II

POTENSI DAN PERMASALAHAN PENGELOLAAN 2.1 Potensi

Secara administrasi Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara (TWP Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil sekitarnya) berada dalam 3 ( tiga) wilayah administrasi pemerintahan yaitu Kota Kendari, Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Selatan. Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki luas sebesar 21.786,14 Ha. Peta Kawasan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara selengkapnya ditunjukkan pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Peta Lokasi Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara

Ketiga kabupaten/ kota tersebut terdiri atas beberapa kecamatan yang berada di dalam maupun di sekitar kawasan konservasi. Tetapi dalam pemanfaatan kawasan konservasi juga dilakukan oleh masyarakat diluar bahkan jauh dari kawasan konservasi. Berikut ini adalah lokasi yang terdiri atas kecamatan dan kabupaten yang berada di dalam atau di sekitar areal KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara.

Tabel 2.1 Wilayah Kabupaten dan Kecamatan dalam Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara

No. Kabupaten Kecamatan

1. Kabupaten Konawe 1. Kecamatan Soropia 2. Kota Kendari 2. Kecamatan Abeli 3. Kabupaten Konawe

Selatan

3. Kecamatan Moramo Utara 4. Kecamatan Moramo

5. Kecamatan Laonti

(8)

A. Kabupaten Konawe

Kabupaten Konawe adalah salah satu dari 17 kabupaten dalam wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara dengan Ibukota Unaaha terletak 73 Km dari Kota Kendari. Secara geografis terletak di bagian Selatan Khatulistiwa, melintang dari Utara ke Selatan antara 02˚45’ dan 04˚15’

LS, membujur dari Barat ke Timur antara 121˚15’ dan 123˚30’ BT.

Dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

- Sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Konawe Utara;

- Sebelah Timur berbatasan dengan Kota Kendari dan Laut Banda;

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Konawe Selatan;

- Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Kolaka.

Luas wilayah Kabupaten Konawe adalah 579.894 Ha dengan wilayah pesisir hanya mencakup 4 (empat) kecamatan yaitu Kecamatan Kapoila, Kecamatan Morosi, Kecamatan Lalonggasumeeto, dan Kecamatan Soropia. Kabupaten Konawe memiliki beberapa pulau kecil yaitu Pulau Bokori, Pulau Saponda Laut, dan Pulau Saponda Darat. Kesemua pulau tersebut dikembangkan untuk tujuan wisata bahari baik melalui program wisata secara umum maupun melalui program konservasi.

B. Kota Kendari

Kota Kendari memiliki luas ± 295,89 km² atau 0,70 persen dari luas daratan Provinsi Sulawesi Tenggara, merupakan dataran yang berbukit dan dilewati oleh sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Kendari.

Kota Kendari terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi.

Wilayahnya sebagian besar terdapat di wilayah daratan, mengelilingi Teluk Kendari dan hanya terdapat satu pulau, yaitu Pulau Bungkutoko.

Secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, berada di antara 03˚54’40” dan 04˚5’05” Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur diantara 122˚26’33” dan 122˚39’14” Bujur Timur. Wilayah Kota Kendari berbatasan dengan :

- Sebelah Utara : Kabupaten Konawe - Sebelah Timur : Laut Kendari

- Sebelah Selatan : Kabupaten Konawe Selatan - Sebelah Barat : Kabupaten Konawe

C. Kabupaten Konawe Selatan

Secara geografis Kabupaten Konawe Selatan terletak diantara pada koordinat 03˚.58.56’ dan 04˚.31.52’ Lintang Selatan, dan antara 121˚58’

dan 123˚16’ Bujur Timur. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.779,47

Km2, atau 15,15 persen dari luas wilayah daratan Sulawesi Tenggara

yaitu 38.140 Km

2

. Sedangkan luas wilayah perairan (laut) adalah

mencapai 9.368 Km

2

, dengan panjang garis pantai mencapai ± 200 Km.

(9)

Dengan demikian luas wilayah daratan dan laut mencapai 15.147,47 Km

2

. Berdasarkan luas tersebut, Kabupaten Konawe Selatan

merupakan wilayah potensial untuk pengembangan sektor perikanan dan kelautanserta pertanian dengan luas daratan 38,15 % dan laut 61,85 %.

Batas wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Konawe Selatan adalah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Konawe dan Kota Kendari; sebelah barat berbatasan Kabupaten Bombana dan Kabupaten Kolaka; sebelah selatan berbatasan Kabupaten Muna, Kabupaten Muna Barat, dan Kabupaten Bombana; dan sebelah timur berbatasan dengan Laut Banda dan Laut Maluku.

2.1.1 Aksesibilitas

Ditinjau dari aspek geostrategis, Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara berada pada posisi atau letak yang strategis dan dapat dijangkau dengan mudah terutama untuk kegiatan wisata dan pengawasan kawasan. Kawasan konservasi ini dapat ditempuh melalui jalur laut dan darat. Jalur darat dapat ditempuh baik dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, namun daerah yang dapat dijangkau hanya wilayah KKPD di sisi timur Teluk Moramo yang mencakup 2 (dua) kecamatan yaitu Kecamatan Moramo Utara dan Kecamatan Moramo Kabupaten Konawe Selatan. Sedangkan untuk menuju kawasan konservasi yang masuk dalam wilayah Kota Kendari dan Kabupaten Konawe hanya dapat ditempuh melalui jalur laut dengan menggunakan transportasi laut yang mudah ditemukan disepanjang pesisir Teluk Kendari atau di sekitar daerah Pelabuhan Nusantara Kendari/Pelabuhan Beringin.

Penggunaan trasnportasi laut untuk menuju KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan pilihan yang tepat untuk dapat menjangkau seluruh wilayah kawasan konservasi terutama wilayah Teluk Moramo yang juga mencakup wilayah Kecamatan Laonti. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi kawasan konservasi bergantung pada jenis kapal dan kapasitas mesin yang digunakan, tetapi umumnya waktu yang ditempuh cukup singkat ± 20 menit – 2 Jam. Dengan daya jangkau yang mudah dalam mengakses kawasan konservasi, maka pengelolaan diharapkan akan lebih mudah dilakukan. Walaupun ke depannya tidak menutup kemungkinan akan banyak bermunculan potensi konflik pemanfaatan ruang di sekitar wilayah perairan kawasan konservasi karena lokasinya yang tidak jauh dari kota Kendari yang terus menerus dalam perkembangan khususnya pelabuhan dan alur pelayaran.

2.1.2 Iklim

Seperti halnya di daerah lainnya di Indonesia, ketiga Kabupaten yang

masuk dalam Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi

Tenggara (Konawe, Konawe Selatan, dan Kota Kendari) memiliki dua musim

yaitu musim kemarau dan musim penghujan . Keadaan musim umumnya

dipengaruhi oleh arus angin yang bertiup di atas wilayah masing-masing

kabupaten.

(10)

Pada bulan november sampai dengan maret, angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Benua Asia dan Samudera Pasifik, setelah sebelumnya melewati beberapa lautan. Pada bulan-bulan tersebut terjadi musim penghujan. Sekitar bulan April, arus angin selalu tidak menentu dengan curah hujan kadang-kadang kurang dan kadang-kadang lebih. Musim ini oleh para pelaut setempat dikenal sebagai musim Pancaroba. Sedangkan pada bulan Mei sampai dengan Agustus, angin bertiup dari arah timur yang berasal dari Benua Australia kurang mengandung uap air. Hal tersebut mengakibatkan minimnya curah hujan di daerah ini. Pada bulan Agustus sampai dengan Oktober terjadi musim kemarau. Sebagai akibat perubahan kondisi alam yang sering tidak menentu, keadaan musim juga sering menyimpang dari kebiasaan (BPS, 2017).

Untuk curah hujan di wilayah KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara umumnya tidak merata di setiap kabupaten/kota yang masuk dalam kawasan konservasi. Curah hujan sebagian besar dipengaruhi oleh perbedaan iklim, orografi, dan perputaran arus udara sehingga menimbulkan perbedaan curah hujan di setiap bulan di masing-masing kabupaten. Secara umum, curah hujan di Kabupaten Konawe Selatan pada tahun 2017 mencapai 4.600,3 mm dalam 236 Hari Hujan (HH). Sedangkan pola curah hujan tahunan di Kabupaten Konawe khususnya Kecamatan Soropia yaitu antara 1.500 – 1.900 mm dan curah hujan di Kota Kendari untuk tahun 2017 terjadi 3.030 mm dalam 165 HH.

Secara keseluruhan, Kabupaten Konawe Selatan merupakan daerah bersuhu tropis. Menurut data yang diperoleh dari Pangkalan Udara Wolter Monginsidi, selama Tahun 2015 suhu udara maksimum 32

o

C dan minimum 21

o

C. Tekanan udara rata-rata mencapai 1.005,2 milibar dengan kelembaban udara rata-rata 77 persen. Kecepatan angin pada umumnya berjalan normal yaitu disekitar 4 M/Sec.

2.1.3 Potensi Pengembangan

Kabupaten Konawe, Kota Kendari dan Kabupaten Konawe Selatan merupakan wilayah yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya terutama wilayah perairan yang menyatu dan terletak di wilayah kawasan konservasi. Keterkaitan masing-masing wilayah pesisir kabupaten/kota sangat kuat baik secara ekologi, sosial, budaya, dan ekonomi. Masyarakat pengguna sumber daya kawasan konservasi bukan hanya masyarakat di dalam maupun di sekitar kawasan tetapi juga berasal dari luar dan jauh dari kawasan tetapi sebagian besar masih berada dalam tiga kabupaten/kota tersebut.

Wilayah Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi

Tenggara memiliki beberapa pulau-pulau kecil yang dapat dikembangkan

untuk tujuan wisata bahari dan kegiatan pemanfaatan lainnya seperti

perikanan budidaya melalui kegiatan pengembangan Karamba Jaring Tancap

(KJT). Pulau-pulau kecil tersebut antara lain: Pulau Saponda, Pulau Hari,

Pulau Lara, Pulau Wawosunggu, Pulau Gala dan Pulau Belete. Selain itu,

terdapat beberapa kondisi pantai yang indah yang juga dapat dijadikan

sebagai salah satu destinasi wisata pantai. Tetapi kesemuanya tetap akan

(11)

selalu memegang prinsip pengelolaan berkelanjutan dengan mengutamakan fungsi kawasan untuk tujuan pelestarian dan perlindungan sumber daya pesisir dan laut.

Pemanfaatan potensi yang ada di ketiga kabupaten/kota tersebut yang masuk dalam kawasan konservasi hingga saat ini belum optimal. Kawasan wisata pantai dan wisata bahari belum dikelola dengan maksimal, oleh karena sarana dan prasarana yang ada belum memadai, ketersediaan SDM yang minim serta belum operasionalnya pengelolaan kawasan konservasi.

Meskipun demikian, pemerintah daerah dan masyarakat setempat telah berupaya untuk terus menyampaikan informasi keberadaan kawasan konservasi dengan segala potensi wisata yang dimilikinya. Pembangunan beberapa fasilitas wisata juga dilakukan diantaranya pembangunan villa/cottage di Pulau Hari dan peningkatan peran serta masyarakat dalam ikut serta mengembangkan wisata berbasis konservasi melalui terlibat langsung dalam pengawasan, penyediaan homestay, dan pelayanan jasa transportasi laut bagi wisatawan.

2.1.4 Potensi Ekologis

Kondisi geomorfologi Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara yang terdiri dari beberapa anak teluk, anak sungai dengan didukung keberadaan ekosistem pesisir (mangrove, lamun dan terumbu karang) serta beberapa ekosistem lainnya seperti estuaria, laguna, pasir putih dan lain-lain menggambarkan besarnya potensi sumber daya di wilayah perairan kawasan konservasi. Keberadaan ekosistem dan sumber daya tersebut memberikan fenomena akan besarnya potensi yang bisa dikembangkan sesuai dengan peruntukan dan tujuan pengelolaan kawasan konservasi.

A. Ekosistem Pesisir

1). Ekosistem Terumbu Karang

Terumbu karang mempunyai peran utama sebagai habitat/tempat

tinggal, tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan

pembesaran (nursery ground) dan tempat pemijahan (spawning ground)

bagi berbagai biota yang hidup di ekosistem terumbu karang atau

sekitarnya. Terdapat 2 tipe terumbu karang yang dapat ditemukan di

sekitar KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu terumbu karang tepi

(fringing Reef) dan gosong terumbu (patch reef). Terumbu karang tepi

ditemukan disepanjang pesisir Teluk Moramo, Pulau Hari dan Pulau

Saponda. Sedangkan gosong terumbu ditemukan di depan mulut Teluk

Kendari “Pasi Jambe” , di beberapa wilayah perairan Sapa Pulau Hari dan

di dalam Teluk Moramo. Kondisi terumbu karang karang KKPD Provinsi

Sulawesi Tenggara berada dalam kategori sedang dengan nilai rata-rata

persentase tutupan karang hidup sebesar 43,2%. Nilai tersebut

menunjukkan terjadi penurunan kondisi terumbu karang yang pada

tahun 2016 masih berada pada nilai 52,8%. Secara detail,

persentase/kondisi tutupan karang hidup dalam kawasan konservasi

disajikan pada Tabel 2.2 berikut ini.

(12)

Tabel 2.2 Kondisi Terumbu Karang Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara pada Tahun 2018

No. Stasiun Koordinat Kedalaman (m)

Kondisi Tutupan

(%)

Kategori Keterangan Bujur Lintang

1 TK STRA

001 122,680007 -3,98213 5 40,5 Sedang Pasi Jambe 2 TK STRA

002 122,77629 -3,971432 11 47,0 Sedang Pulau

Saponda 3 TK STRA

003 122,768089 -3,984584 4 26,5 Sedang Pulau

Saponda 4 TK STRA

004 122,739509 -4,00228 5 19,5 Rusak Sapa Pulau

Hari 5 TK STRA

005 122,735736 -4,026099 5 57,5 Baik Sapa Pulau

Hari 6 TK STRA

006 122,757359 -4,019257 3 22,0 Rusak Sapa Pulau Hari 7 TK STRA

007 122,775642 -4,036352 8 42,0 Sedang Pulau Hari 8 TK STRA

008 122,774033 -4,057014 5 9,0 Rusak Tanjung

Gomo 9 TK STRA

009 122,771314 -4,082263 6 62,0 Baik Tanjung

Lemo /Labutaone 10 TK STRA

010 122,816408 -4,113522 3 66,0 Baik Woru-Woru

11 TK STRA

011 122,812538 -4,132049 4 25,0 Rusak Pulau Gala 12 TK STRA

012 122,761626 -4,150392 4 56,0 Baik Rumbi-

Rumbia 13 TK STRA

013 122,723162 -4,125989 7 54,5 Baik Pulau

Wawosunggu 14 TK STRA

014 122,7014 -4,132802 5 59,5 Baik Panambea

Barata 15 TK STRA

015 122,673953 -4,11961 3 40,5 Sedang Pulau

Moramo 16 TK STRA

016 122,669807 -4,101262 7 63,5 Baik Pulau Lara

Dari Tabel 2.2 di atas, menunjukkan bahwa secara umum ekosistem terumbu karang di perairan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara masih dalam kondisi yang cukup baik. Terumbu Karang di wilayah perairan Desa Woru-Woru memiliki persentase tutupan karang yang tinggi dari semua stasiun pengamatan yaitu mencapai 66% dan berada dalam kategori baik, sedangkan daerah Tanjung Gomo merupakan stasiun pengamatan dengan nilai persentase tutupan karang hidup yang paling rendah yang hanya mencapai 9% atau berada dalam kategori rusak.

Kerusakan terumbu karang tersebut disebabkan oleh aktivitas

pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut yang tidak ramah lingkungan

seperti penggunaan bahan peledak dan bius dalam menangkap ikan,

kegiatan wisata yang tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya,

keberadaan sampah serta penempatan jangkar kapal pada posisi yang

tidak tepat. Hal ini dapat terlihat dari keberadaan hamparan

(13)

patahan/pecahan karang mati (rubble) dan karang mati yang ditumbuhi oleh alga (dead coral with algae) yang nilainya cukup tinggi. Secara visual, kondisi terumbu karang dalam Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2.2. Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Perairan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara

Dari hasil pengamatan ikan karang dengan menggunakan metode Underwater Visual Cencus (UVC) yang terdiri dari 16 stasiun pengamatan di lokasi KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2018, didapatkan sebanyak 1810 individu/500 m

2

, yang terbagi atas ikan target, mayor dan indikator. Kelimpahan ikan target yang ditemukan sebanyak 1386 individu/500 m

2

, kelimpahan ikan mayor 410 individu/500 m

2

dan kelimpahan ikan indikator 14 individu/500 m

2

. Secara umum kondisi kelimpahan ikan karang disajikan pada Gambar 2.3 berikut.

Pasi Jambe

Pulau Saponda

Pulau Hari

Teluk Moramo

(14)

Untuk kondisi biomassa ikan diperoleh nilai yang cukup bervariasi dari masing wilayah perairan atau stasiun pengamatan. Lokasi yang memiliki jumlah biomassa ikan yang tertinggi adalah stasiun 7 (Pulau Hari) sebanyak 186,44 Kg/Ha, dan terendah adalah stasiun 15 (Pulau Moramo) sebanyak 21,114 Kg/Ha.

Biomassa total semua kategori tiga kelompok utama yakni ikan target, mayor dan indikator adalah 1191, 149 Kg/Ha. Biomassa ikan karang didominasi oleh ikan target 970,313 Kg/Ha, selanjutnya ikan mayor 209,728 Kg/Ha dan ikan indikator 11,108 Kg/Ha. Kategori ikan target diwakili oleh famili Lutjanidae, Nemiptiridae, dan Scaridae. Ikan mayor diwakili oleh famili Pomacentridae. Dalam pengamatan di lapangan, sering ditemukan ikan-ikan tersebut berkelompok dalam jumlah besar (schooling).

Tabel 2.3 Penyebaran Jenis Ikan yang dilindungi di KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara

Stasiun Lokasi/Wilayah

perairan Jenis Biota Laut yang Dilindungi TK STRA 001 Pasi Jambe Bambu Laut, Kima

TK STRA 002 Pulau Saponda Bambu Laut

TK STRA 003 Pulau Saponda Bambu Laut, Kima TK STRA 004 Sapa Pulau Hari Bambu Laut

TK STRA 005 Sapa Pulau Hari Bambu Laut, Kima TK STRA 006 Sapa Pulau Hari Bambu Laut, Kima TK STRA 007 Pulau Hari Bambu Laut

TK STRA 008 Tanjung Gomo Bambu Laut TK STRA 009 Tanjung

Lemo/Labutaone Bambu Laut, Penyu TK STRA 010 Woru-Woru Penyu, Bambu Laut TK STRA 011 Pulau Gala Bambu Laut, Kima TK STRA 012 Rumbi-Rumbia Bambu Laut

TK STRA 013 Pulau Wawosunggu Bambu Laut, Penyu TK STRA 014 Panambea Barata Bambu Laut, Kima

TK STRA 015 Pulau Moramo Bambu Laut, Benur lobster TK STRA 016 Pulau Lara Bambu Laut, Penyu, Napoleon,

Kima

Gambar 2.3. Kelimpahan

Total Ikan Karang di KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2018

(15)

B. Ekosistem Mangrove

Ekosistem mangrove hanya ditemukan di wilayah pesisir Teluk Moramo mulai dari wilayah pesisir Desa Labotaone Kecamatan Laonti sampai Desa Ranooha Raya Kecamatan Moramo. Penyebaran mangrove ditemukan di wilayah tertentu seperti di muara Sungai Laonti atau di dekat beberapa anak sungai dalam Teluk Moramo. Kondisi substrat daerah ditemukannya mangrove yaitu substrat lumpur berpasir. sedangkan jenis mangrove yang ditemukan sebanyak 7 jenis dari seluruh stasiun pengamatan yakni jenis Rizophora mucronata, Rizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymborizha, Sonneratia alba, Avicenia marina, dan Xilocarpus moluccensis.

Di Muara Sungai Laonti jenis yang umumnya adalah R. mucronata, Sonneratia alba dan jenis Bruguiera gymnorrhiza. Di pesisir Desa Tambolosu jenis B. gymnorrhiza, jenis Nypa fruticans dan Acanthus ilicifolius. Di pesisir Desa Lapuko jenis R. mucronata, B. gymnorrhiza dan jenis S. alba. Secara keseluruhan, kondisi mangrove dalam kawasan konservasi berada dalam kondisi rusak hingga baik, dengan nilai persentase tutupan kanopi berkisar antara 45,3 – 86,74%.

Kondisi hutan mangrove yang terdapat di pesisir Teluk Moramo dan sekitarnya secara umum termasuk dalam kategori sedang hingga padat, dengan nilai kerapatan antara 1067 ind/ha – 2300 ind/ha. Kehadiran R. mucronata di beberapa ekosistem mangrove dengan kerapatan yang tinggi, menjadi alasan yang kuat bahwa jenis R. mucronata memegang peran penting secara ekologis, seperti produksi detritus sebagai sumber makanan dan energi untuk ekosistem mangrove. Daun mangrove merupakan bagian terbesar dari produksi primer serasah dan menyediakan makanan bagi konsumen serta mempunyai kontribusi penting bagi rantai makanan di wilayah pesisir melalui daun yang mati dan gugur.

Gambar 2.4. Kondisi Ekosistem Mangrove KKPD Provinsi Sulawesi

Tenggara Tahun 2018

(16)

Serasah daun sangat penting dalam menjaga rantai makanan yang berbasis detritus. Produksi serasah yang telah mengalami proses dekomposisi dapat dihubungkan dengan keberadaan ikan yang memanfaatkan kawasan mangrove. Serasah daun yang gugur dan berjatuhan ke dalam air merupakan sumbangan terpenting hutan mangrove terhadap ekosistem pesisir. Bagian terbesar dari serasah merupakan bahan pokok tempat berkumpulnya bakteri dan fungi. Bagian partikel daun yang mengalami dekomposisi berlanjut sampai menjadi partikel-partikel yang berukuran sangat kecil (detritus) yang kaya akan protein dan akhirnya dimakan oleh hewan-hewan pemakan detritus, seperti moluska dan krustasea kecil. Selama perombakan ini, substansi organik terlarut yang berasal dari serasah sebagian dilepas sebagai materi yang berguna bagi fitoplankton dan sebagian lagi diabsorbsi oleh partikel sedimen yang menyokong rantai makanan.

Besarnya bahan organik diekspor dari kawasan mangrove tergantung pada proses geofisika: ukuran ekosistem mangrove, frekuensi dan durasi pasang, ukuran saluran pengeringan, frekuensi dan besarnya hujan, dan aliran air segar. Semua faktor ini bervariasi dari satu ekosistem mangrove dengan ekosistem mangrove lainnya. Kehilangan hutan mangrove sebagai penghasil detritus akan menyebabkan terputusnya awal rantai makanan yang berdampak pada penurunan populasi ikan.

Dari ketiga kabupaten/kota yang masuk dalam kawasan konservasi, hanya wilayah Kabupaten Konawe Selatan memiliki ekosistem pesisir yang lengkap yang terdiri atas ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang khususnya di wilayah Teluk Moramo. Sedangkan Kabupaten Konawe dan Kota Kendari hanya ditemukan 2 (dua) ekosistem pesisir yaitu lamun dan terumbu karang.

Wilayah Kabupaten Konawe dalam kawasan konservasi mencakup wilayah Desa Saponda Darat dan Saponda Laut yang terletak di pulau Saponda Darat. Kondisi pantai yang berupa substrat pantai berpasir sehingga maka tidak ditemukan adanya ekosistem mangrove. Begitupun dengan wilayah Kota Kendari yang masuk dalam kawasan konservasi terletak ditengah perairan pesisirnya dan tidak bersinggungan langsung dengan daratan utama atau wilayah daratan Kota Kendari.

Tabel 2.4 Kondisi Tutupan Kanopi dan Kerapatan Individu Ekosistem Mangrove pada KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara

Stasiun Koordinat Substrat

Kondisi Tutupan (%) Vegetasi Keterangan Lokasi

%

Cover Stdv. Kriteria Kerapatan (phn/ha) Kriteria MG

STRA 01

S ; 04° 05′ 06,7″

E ; 122° 46′ 40,3″ Lumpur

berpasir 66,78 7,87 Sedang 1067 Sedang Desa Labutaone MG

STRA 02

S : 04° 06′ 11,0″

E : 122° 48′38,3″

Lumpur

berpasir 45,295 27,48 Rusak 1700 Padat Desa Tambeanga MG

STRA 03

S : 04° 07′ 17,3″

E : 122° 50′ 00,4″

Lumpur

berpasir 82,62 4,86 Baik 2167 Padat Desa Woru- Woru

(17)

MG STRA

04

S : 04° 09′ 13,8″

E : 122° 49′ 58,8″ Lumpur 86,74 1,61 Baik 2300 Padat Desa Wandaeha MG

STRA 05

S : 04° 09′ 22,1″

E : 122° 47′ 58,5″ Lumpur

berpasir 77,44 6,41 Baik 1567 Padat

Sekitar Mata Air

Emba MG

STRA 06

S : 04° 09′ 09,2″

E : 122° 46′ 52,5″ Lumpur 72,28 15,45 Sedang 1700 Padat Desa Tambolosu MG

STRA 07

S : 04° 07′ 24,5″

E : 122° 39′ 48,9″

Lumpur

berpasir 78,72 10,53 Baik 2133 Padat Desa Ranooha

Raya

Melihat kondisi lapangan dan berdasarkan data di atas, hampir seluruh stasiun pengamatan terancam upaya penebangan atau pengrusakkan hutan mangrove yang dilakukan oleh masyarakat disekitarnya baik untuk keperluan bangunan atau bahan bakar maupun penyediaan lahan tambak. Selain itu, keberadaan hutan mangrove dalam kawasan konservasi juga terancam oleh adanya aktivitas pembukaan pabrik nikel (smelter) yang terletak di wilayah pesisir Kecamatan Moramo Kabupaten Konawe Selatan.

C. Padang Lamun

Ekosistem lamun yang terdapat di kawasan ini memiliki keanekaragaman tertinggi. Ekosistem lamun yang dijumpai masih beragam, sebagian besar berbentuk sporadis (spot-spot) dengan jenis yang dominan adalah Enhalus acoroides. Kondisi ini disebabkan perairannya pada musim hujan sering terjadi peningkatan sedimen akibat aliran sungai sehingga dapat menghambat pertumbuhan lamun. Jenis-jenis lamun yang ditemukan dalam KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara terdiri dari E. acoroides, Cymodocea rotundata, C. serrulata, Syringodium isotifelium, Halodule uninervis. Jenis dan karakteristik substrat lamun disajikan pada Gambar 2.5 berikut.

Gambar 2.5. Kondisi Ekosistem Lamun dan Tipe Substrat di Pesisir KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara

Secara umum, kondisi lamun dalam KPPD Provinsi Sulawesi Tenggara

berada dalam kategori jarang hingga padat dengan nilai kisaran

persentase penutupan antara 25 – 85%. Jumlah spesies lamun

sebanyak tujuh jenis terdiri atas Enhalus acoroides, Cymodocea

(18)

rotundata, C. Serrulata, Thalassia hemprichii, Halodule pinifolia, H.

Uninervis, dan Syringodium isotifolium. Beberapa biota laut dapat ditemukan di sekitar padang lamun diantaranya yaitu bulu babi, ular laut, teripang, dan beberapa jenis kerang-kerangan.

2.1.5 Kondisi Perairan

Secara umum, kondisi perairan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara masih berada dalam batas normal untuk mendukung pertumbuhan biota laut. Namun terdapat perbedaan nilai beberapa parameter kualitas perairan antara wilayah Teluk Moramo dan di luar Teluk Moramo, tetapi selisih/perbedaan tidak signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh keberadaan beberapa muara sungai dalam Teluk Moramo yang dapat mempengaruhi beberapa parameter kualitas air seperti salinitas, kecerahan, pH, dan suhu perairan.

Tabel 2.5 Beberapa Parameter Kualitas Perairan KKPD Sulawesi Tenggara Stasiun Suhu

(⁰C) Salinitas

(ppt) pH Clorofil-A

(Mg/L) Keterangan ST001 28 31 7.2 1.91 Pasi Jambe,

Kota Kendari

ST002 29 32 7.1 2.27 Pulau Saponda,

Kab. Konawe

ST003 28 32 7.2 0.68 Sapa Pulau Hari,

Kab. Konawe Selatan

ST004 29 32 7.2 2.48 Pulau Hari, Kab.

Konawe Selatan

ST005 29 32 6.9 1.06 Desa Tambeanga,

Kab. Konawe Selatan ST006 29 31 6.9 1.50 Pulau Gala,

Kab. Konawe Selatan

ST007 29 32 7.8 1.53 Desa Pandambea

Barata, Kab. Konawe Selatan

ST008 29 30 6.9 1.73 Pulau Moramo Besar,

Kab. Konawe Selatan

ST009 29 32 6.9 2.72 Pulau Lara, Kab.

Konawe Selatan Kisaran 28 - 29 30 - 32 6.9 – 7.8 1.06 – 2.72

Rata-

rata 28.78 31.56 7.12 1.76 Stdv. 0.44 0.73 0.29 0.66

a. Suhu

Suhu suatu perairan dipengaruhi oleh radiasi matahari, posisi matahari,

letak geografis, musim, kondisi awan, serta proses interaksi antara air

(19)

dan udara, penguapan, dan hembusan angin (Dahuri et al. 2004).

Sebaran suhu di lokasi kajian berkisar antara 28 – 29

o

C, dengan suhu rata-rata 28,78˚C (± 0,44). Kisaran suhu perairan ini secara umum masih mendukung kelangsungan hidup atau pertumbuhan bagi biota laut. Tetapi pada waktu tertentu, fenomena suhu permukaan air laut dapat meningkat dan dapat mengakibatkan terjadinya pemutihan karang.

b. Salinitas

Sebaran salinitas di perairan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara berada di kisaran 30 – 32 ppt, dengan rata-rata salinitas 31,56 (±0,73). Kadar salinitas terendah diperoleh di bagian Teluk Moramo yaitu di sekitar Muara Sungai Moramo dan yang tertinggi sebagian besar tersebar di luar Teluk Moramo, karena tidak adanya pengaruh masuknya air tawar ke wilayah laut. Nilai salinitas tersebut masih dalam batas toleransi bagia biota laut untuk hidup dan tumbuh. Oleh karenanya, masih ditemukan ekosistem terumbu karang di sekitar muara Sungai Moramo.

c. pH

Parameter pH di perairan sekitar KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara berkisar antara 6.9 – 7.8 dengan pH rata-rata 7.12 (± 0,29), dimana parameter ini masih mendukung kelangsungan hidup biota laut dan masih layak untuk kegiatan budidaya perikanan laut.

d. Clorofil-A

Parameter clorofil-a di perairan sekitar KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara berkisar antara 1.06 – 2.72 mg/l, dengan rata-rata 1.76 (± 0669), dimana parameter ini masih mendukung untuk kegiatan budidaya perikanan laut.

e. Kedalaman Perairan

Kedalaman perairan di perairan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara berkisar antara 0 – 45 meter. Kedalaman di sekitar pantai yakni pada kedalaman antara 0 – 5 memiliki jarak yang bervariasi dari garis pantai.

Perairan yang sangat landai terdapat di sekitar muara-muara sungai di Dusun Beroro Desa Ranooha Raya, Desa Lapuko, dan Muara Sungai Laonti. Beberapa gugusan pulau kecil seperti Pulau Lara dan Pulau Wawosunggu memiliki kedalaman yang cukup dangkal dengan tipe pantai berpasir. Kedalaman terbesar berada di bagian tengah Teluk Moramo yakni mencapai 45 meter.

f. Arus

Arus merupakan salah satu faktor penting dalam pemanfaatan kawasan laut. Arus laut yang dibangkitkan oleh angin berfungsi sebagai pembersih kotoran, sisa pakan, ataupun mengganti suplai nutrient di perairan.

Kecepatan arus di perairan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara bervariasi

antara 0,04 – 0,35 m/s dengan rata-rata 0,17 m/s.

(20)

h. Material Dasar Perairan

Secara umum, substrat dasar perairan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara adalah pasir. Hanya di beberapa tempat yang memiliki substrat lumpur dan lumpur berpasir yaitu di Muara Sungai Laonti dan Dusun Beroro (Desa Ranooha Raya) Kec. Moramo (kurang lebih 100 – 200 meter dari garis pantai). Di daerah pesisir Dusun Beroro bermuara sungai yang tersebar di beberapa titik muara hingga ke daerah pesisir Lapuko. Keberadaan sungai tersebut berpengaruh terhadap padatan tersuspensi yang terbawa saat musim hujan yang dapat menyebabkan perairan menjadi keruh.

i. Kecerahan

Secara umum perairan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki tingkat kecerahan tinggi hingga 100%. Hanya di daerah-daerah yang memiliki muara sungai saja yang memiliki kecerahan dibawah 60-80%, terlebih pada saat musim hujan, dimana aliran air sungai membawa partikel-partikel yang menyebabkan meningkatnya kekeruhan perairan.

j. Keterlindungan

Sebagian besar perairan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan sebuah kawasan semi terbuka yang berhadapan langsung dengan perairan Laut Banda sehingga pengaruh gelombang pada musim timur relatif besar dan memberikan pengaruh terhadap aktivitas pemanfaatan kawasan konservasi seperti kegiatan wisata dan penangkapan ikan oleh nelayan sekitar.

2.1.6 Potensi Sosial, Ekonomi dan Budaya

Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki beberapa pulau-pulau kecil baik yang berada di dalam maupun di luar Teluk Moramo. Dari 10 pulau kecil tersebut, hanya 2 pulau kecil yang berpenduduk yaitu Pulau Saponda dan Pulau Wawosunggu.

Sedangkan pulau lainnya hanya dijadikan sebagai tempat persinggahan sementara masyarakat sekitar saat mencari ikan dan biota laut lainnya di sekitar perairan tersebut. Selain itu beberapa pulau kecil telah dijadikan sebagai daerah destinasi wisata seperti Pulau Hari dan Pulau Lara.

Umumnya masyarakat yang berada di dalam atau di sekitar KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan (tangkap, budidaya) selebihnya bertani/berkebun, ASN, dan swasta yang berasal dari berbagai macam suku seperti Tolaki, Buton, Muna, Wakatobi, Bajo, Bugis, dan Wawonii. Terdapat perbedaan karakteristik atau pola mata pencaharian masyarakat dalam kawasan konservasi yang mendiami pulau (diluar Teluk Moramo) dan di wilayah pesisir Teluk Moramo yang merupakan bagian dari daratan utama (main island) Pulau Sulawesi. Masyarakat di sekitar Teluk Moramo bukan hanya menggantungkan hidupnya dengan mencari ikan di laut tetapi hampir sebagian besar masyarakat memiliki lahan perkebunan yang sewaktu-waktu dapat menjadi pilihan masyarakat ketika

sedang tak melaut. Sedangkan masyarakat Pulau Saponda yang berada

(21)

di luar Teluk Moramo, menangkap dan membudidayakan ikan merupakan mata pencaharian utama dan dilakoni oleh hampir seluruh masyarakatnya.

Dalam tahap pencadangan kawasan konservasi di wilayah perairan Teluk Moramo dan sekitarnya telah mendapat dukungan dari masyarakat sekitar. Hal ini dikarenakan adanya pemahaman yang sama terhadap pentingnya kawasan konservasi bagi keberlanjutan sumber daya perikanan dan kelautan, sehingga menguatkan komitmen bersama terhadap pengelolaan kawasan konservasi yang efektif dan berkelanjutan ke depannya. Beberapa dukungan tersebut dapat dilihat melalui kegiatan/

aktivitas pengawasan kawasan secara swadaya yang dilakukan oleh masyarakat pasca penetapan pencadangan kawasan konservasi, inisiatif pembentukan Daerah Perlindungan Laut (DPL) dalam kawasan konservasi, dan penyampaian informasi apabila ditemukan aktivitas penggunaan bahan peledak dalam menangkap ikan.

Pada awal pembentukan kawasan konservasi terdapat pro kontra di tengah-tengah masyarakat sekitar kawasan, tetapi hanya sebagian kecil masyarakat yang menolak dibentuknya kawasan konservasi. Karena ada anggapan masyarakat bahwa kawasan konservasi akan membatasi ruang bagi masyarakat dalam mencari atau menangkap ikan. Namun, dengan upaya-upaya sosialisasi dalam rangka memberikan pemahaman yang benar terhadap arti konservasi terus digalakkan baik oleh Pemerintah Daerah maupun mitra/pihak-pihak terkait, perlahan-lahan masyarakat yang menolak dapat menerima kebijakan Pemerintah Daerah untuk menetapkan wilayah perairan Teluk Moramo dan pulau-pulau kecil sekitarnya sebagai KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara. Pengelolaan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara ke depannya tentunya akan terus melibatkan masyarakat sekitarnya melalui pemberdayaan ataupun kemitraan. Dan salah satu modal pengelolaan kawasan konservasi di wilayah perairan Teluk Moramo dan sekitarnya yaitu masih adanya kultur sebagian masyarakat sekitar (kearifan lokal) yang menganggap bahwa laut punya penghuni yang harus dijaga.

Untuk potensi ekonomi KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara, dapat dilihat dari gambaran kondisi ekosistem pesisir kawasan yang masih cukup baik. Kondisi ekosistem pesisir kawasan konservasi memiliki hubungan keterkaitan terhadap potensi ekonomi khususnya potensi perikanan dalam kawasan. Dengan ekosistem pesisir yang masih baik dan terjaga dapat menyediakan larva ikan ekonomis penting untuk kemudian menyuplai wilayah perairan lainnya sehingga dalam kurun waktu tertentu larva menjadi dewasa dengan ukuran yang layak untuk dikonsumsi dan ditangkap oleh masyarakat sekitarnya. Dengan kata lain, ekosistem pesisir yang baik akan meningkatkan pendapatan masyarakat dengan meningkatnya hasil tangkapan nelayan. Selain kegiatan penangkapan ikan, masyarakat kawasan konservasi juga melakukan kegiatan budidaya ikan melalui Keramba Jaring Tancap (KJT), dengan jenis ikan yang banyak dibudidayakan yaitu ikan Kuwe (putih).

Jumlah hasil tangkapan nelayan atau masyakat sekitar kawasan

beragam dengan jenis ikan antara lain: ikan Cakalang kecil (deho), Ikan

Kembung, Tenggiri, Layang, Katambak, Kuwe, Kerapu, Kakap, dan dari

(22)

kelompok krustasea (udang, lobster, dan kepiting). Untuk jenis ikan pelagis, hasil tangkapan nelayan dapat mencapai 20 Kg untuk sekali trip dengan wilayah penangkapan di dalam kawasan konservasi dengan armada yang masih bersifat tradisional. Sedangkan untuk ikan demersal, kisaran hasil tangkapan antara 3 – 15 Kg per sekali trip. Dan hasil tangkapan pada salah satu jenis kelompok krustasea yaitu udang kecil (ebi) dapat mencapai 300 Kg pada musim tertentu.

Gambar 2.6. Aktivitas Perikanan dalam Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara

Disamping sebagai daerah penangkapan ikan dan budidaya, secara morfologi keberadaan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara potensial sebagai sumber plasma nutfah perikanan yang berupa sumber daya ikan, moluska, crustacea dan sumberdaya lainnya. Berdasarkan hasil wawancara dan survei lapangan di KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara, ditemukannya larva berbagai jenis biota perairan yaitu larva ikan kakap, larva lobster, larva ikan teri dan larva rajungan. Masyarkat sudah lama melakukan penangkapan benur lobster di sekitar perairan Dusun Beroro Desa Ranooha Raya Kecamatan Moramo. Adapun lokasi yang potensial yang diduga sebagai daerah pemijahan di kawasan konservasi adalah perairan Tanjung Gomo, sekitar Muara sungai Laonti dan perairan Beroro.

2.1.8 Potensi Pariwisata

Kondisi alam yang cukup beragam, dimana Kabupaten Konawe, Kota

Kendari dan Kabupaten Konawe Selatan memiliki garis pantai yang cukup

panjang serta daerah pegunungan, sangat berpotensi untuk pengembangan

wisata alam yang dapat dikemas menjadi objek wisata keluarga. Beberapa

pantai telah menjadi destinasi wisata baik masyarakat lokal Kabupaten

Konawe maupun masyarakat sekitar Kota Kendari dan daerah-daerah lainnya

yang menjadikan objek wisata tersebut sebagai salah satu pilihan wisata

keluarga. Selain itu, Kabupaten Konawe, Kota Kendari dan Kabupaten

Konawe Selatan merupakan pusat kebudayaan tolaki yang merupakan suku

terbesar di Sulawesi Tenggara adalah magnet tersendiri bagi pengembangan

wisata edukasi dan wisata keluarga. Banyaknya situs-situs peninggalan

budaya tolaki sangat memungkinkan di 3 kabupaten/kota ini dijadikan

sebagai pusat wisata budaya.

(23)

Ekosistem pesisir yang baik dan memiliki keunikan serta kondisi pantai pasir putih beberapa lokasi dalam KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara dapat menjadi objek wisata seperti wisata pantai dan wisata diving atau snorkeling. Hal ini juga akan mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Perairan (TWP). Untuk wisata pantai dapat dikembangkan di Pulau Lara, Pulau Hari, dan Pantai Senja.

Dan saat ini, ketiga objek wisata tersebut telah banyak dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Namun, untuk pengelolaan wisata ini belum optimal karena belum didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai.

Melalui situs resmi daerah potensi-potensi pariwisata ini dapat dipublikasi sehingga informasi mengenai objek-objek wisata ini dapat di ketahui oleh masyarakat luas. Jika pengelolaan pariwisata ini dapat dikelola dengan baik, akan memberikan sumbangan pendapatan daerah yang menguntungkan bagi masyarakat dan Pemerintah Daerah.

Gambar 2.7. Obyek Wisata di Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara

Di wilayah perairan KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara, potensi wisata bawah laut juga memiliki prospek pengembangan yang tak kalah dengan wisata pantai karena didukung oleh keanekaragaman terumbu karang dan ikan yang cukup tinggi terutama pada pulau-pulau kecil yang terdapat dalam kawasan konservasi seperti Pulau Lara, Pulau Wawonsunggu, dan Pulau Hari.

Selain itu, potensi pesisir dalam kawasan juga dapat dikembangkan sebagai wisata pemancingan dan traking mangrove khususnya di sekitar muara sungai Laonti dan pesisir Beroro Kec. Moramo.

2.2 Permasalahan Pengelolaan

Beberapa permasalahan baik secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan pengelolaan TWP Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil sekitarnya, adalah sebagai berikut:

1. Aspek Ekologis

a. Penangkapan ikan dengan menggunakan alat dan cara yang tidak ramah lingkungan

Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ekosistem pesisir didalam kawasan yaitu masih adanya pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut yang dilakukan oleh masyarakat sekitar

Pulau Saponda

Pulau Lara

Pulau Hari

Mata Air Emba

(24)

kawasan maupun di luar kawasan yang menggunakan alat dan cara yang tidak ramah lingkungan (destructive fishing). Pemanfaatan tersebut dilakukan dengan menggunakan bahan peledak dan penggunaan bius.

b. Penangkapan jenis ikan dan biota laut lainnya yang berlebih (over fishing)

Beberapa jenis ikan atau biota laut yang bernilai ekonomis tinggi seperti ikan kerapu, napoleon, teripang dan jenis kerang menjadi target utama penangkapan oleh nelayan. Penangkapan ini dilakukan dengan tidak memperhatikan ukuran maupun waktu penangkapan.

c. Penambangan karang dan pasir pantai sebagai bahan bangunan Keterbatasan sumber material di daratan untuk keperluan bahan bangunan menjadi alasan masyarakat dalam pengambilan karang dan pasir pantai di sekitar kawasan. Kegiatan tersebut dilakukan dengan pertimbangan biaya yang tergolong murah dan kemudahan dalam proses pengambilannya. Bahan tersebut selain digunakan untuk bangunan hunian masyarakat juga untuk keperluan pembangunan fasilitas umum di wilayah pesisir kawasan. Penambangan yang dilakukan akan berdampak pada ekosistem pesisir terutama ekosistem terumbu karang dan lamun serta mempengaruhi struktur pantai dan pola arus. Jika hal ini tidak mendapat perhatian yang serius maka dikhawatirkan proses abrasi pantai akan berlangsung terus menerus dan mengancam keberaadan masyarakat pesisir khususnya masyarakat Pulau Saponda.

d. Penebangan Hutan Mangrove

Aktivitas penebangan pohon mangrove yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan dilakukan untuk keperluan bahan bakar dan permukiman. Perubahan alih fungsi mangrove yang tidak lagi untuk menyokong keberlanjutan sumber daya pesisir mengakibatkan terjadinya pengurangan luas dan kondisi hutan mangrove di dalam kawasan. Konversi lahan menjadi kawasan tambak dan industri smelter juga menjadi penyebab rusaknya mangrove di sekitar kawasan konservasi.

e. Pembuangan jangkar perahu yang tidak tepat

Tanpa disadari bahwa pembuangan jangkar perahu yang tidak

memperhatikan kondisi terumbu karang yang ada turut merusak

ekosistem terumbu karang. Walaupun luasan terumbu karang yang

rusak akibat jangkar tidak begitu besar, tapi mengingat pertumbuhan

karang berlangsung lamban dan membutuhkan waktu yang cukup

lama untuk pulih, maka hal ini akan mempengaruhi kondisi terumbu

karang yang baik di sekitar kawasan.

(25)

f. Pencemaran sampah

Sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga masyarakat kawasan dan yang bersumber dari aktivitas masyarakat lainnya yang beraktivitas di perairan kawasan konservasi akan mengakibatkan terjadi penurunan kualitas perairan. Kualitas perairan yang tercemar mempengaruhi kelangsungan hidup biota laut yang ada dalam kawasan. Keberadaan sampah juga akan mengurangi keindahan (estetika) pantai sehingga mengurangi daya tarik wisatawan untuk berwisata di dalam kawasan konservasi.

g. Sedimentasi

Aktivitas pertambangan batu dan pelabuhan khusus sektor pertambangan di wilayah pesisir sekitar kawasan konservasi turut memberikan dampak negatif terhadap kondisi lingkungan, apalagi pemantauan dan pengawasan oleh pihak terkait tidak dilakukan secara rutin dan maksimal. Sedimentasi akan mempengaruhi penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan sehingga dapat menyebabkan terganggunnya kehidupan bahkan kematian bagi biota laut. Sedimen yang masuk ke perairan akan menutupi dasar perairan yang semula terdapat biota laut yang hidup seperti terumbu karang.

2. Aspek Sosial, Ekonomi dan Budaya

a. Konflik pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut 1). Kehadiran nelayan luar

Sebagian besar nelayan luar melakukan penangkapan ikan menggunakan kapal dengan ukuran yang besar terutama yang menggunakan jaring lingkar di malam hari dirasakan cukup mengganggu nelayan kecil. Akibatnya jumlah tangkapan nelayan kecil yang beraktivitas di pagi hari semakin menurun. Hal ini pula yang kadang memicu masyarakat lokal atau sekitar kawasan untuk melakukan perlawanan, karena ada indikasi bahwasanya nelayan tersebut tidak hanya membuang jaring tetapi juga menggunakan bahan peledak dalam menangkap ikan.

2). Kegiatan pertambangan dan keberadaan kawasan industri

Meliputi penambangan batu di sekitar Tanjung Opa Kecamatan Moramo Utara dan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Desa Tanjung Tiram juga akan mempengaruhi wilayah penangkapan, aktivitas budidaya nelayan atau masyarat pesisir kawasan serta aktivitas wisata bahari yang dilakukan di sekitarnya seperti wisata pantai di Pantai Senja dan Snorkeling/Diving di Pulau Lara.

3). Alur kapal yang berukuran besar yang menggunakan sumber daya

di Pelabuhan Lapuko Kec. Moramo. Kapal pengangkut semen curah

menjadikan wilayah perairan dalam kawasan konservasi sebagai

alur pelayaran reguler dalam melaksanakan aktivitas transportasi

dan bongkar muat.

(26)

4). Status kepemilikan pantai dan pulau-pulau kecil di sekitar kawasan konservasi

Terdapat beberapa lokasi pantai dan pulau-pulau kecil di dalam kawasan yang diklaim oleh masyarakat sebagai pemilik. Hal ini membatasi aktivitas pemanfaatan sumber daya pesisir yang akan dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan.

b. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap informasi keberadaan kawasan konservasi

Belum optimalnya sosialisasi keberadaan Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara di level masyarakat, mengakibatkan minimnya pemahaman dan informasi yang berkaitan dengan kawasan konservasi perairan yang dicadangkan sejak tahun 2014.

c. Minimnya sarana dan prasarana kegiatan perikanan nelayan lokal Sebagian besar masyarakat sekitar kawasan yang berprofesi sebagai nelayan, namun sarana prasarana untuk mendukung kegiatan perikanan nelayan setempat belum begitu memadai. Penanganan hasil tangkapan nelayan harus menemui gangguan, terutama ketersediaan es untuk keperluan pembekuan ikan yang akan ditampung sebelum dibawa ke Kota Kendari. Dengan demikian, untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi melakukan kegiatan perikanan masyarakat lokat maka diperlukan pembangunan sarana dan prasarana seperti Tempat Pendaratan Ikan (TPI) dengan skala yang disesuaikan, cold storage, Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Nelayan, modernisasi armada, dan lainnya.

3. Aspek Kelembagaan

a. Kurangnya Sumber Daya Manusia pengelola

Keterbatasan SDM pengelola baik secara kualitas maupun kuantitas merupakan salah satu kendala dalam pengelolaan kawasan konservasi. Dengan luas keseluruhan kawasan konservasi yang dikelola Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara yang mencapai ± 400 ribu Ha (10 KKPD) dan hanya menempatkan level seksi dalam struktural Dinas Kelautan dan Perikanan untuk mengelola kawasan, maka dapat diperkirakan bahwa pengelolaan kawasan konservasi tidak dapat berjalan efektif.

b. Kurangnya Sarana dan Prasarana Pengelola

Pengelolaan TWP Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil sekitarnya (KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara) memerlukan sarana dan prasarana yang dapat mendukung berjalannya kegiatan pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan tidak hanya memperhatikan kebutuhan bagi wisatawan, melainkan juga untuk efektivtas pengelolaan kawasan.

Sarana dan prasarana dasar yang sangat dibutuhkan di dalam

kawasan antara lain kantor pengelola, dermaga/pelabuhan jetty,

sarana air bersih (MCK), infrastruktur pendukung kegiatan

pariwisata, serta pos jaga/pengawasan. Fasilitas pendukung

(27)

pengawasan sumber daya dalam kawasan juga sangat dibutuhkan berupa kapal pengawas dan peralatan komunikasi. Dengan belum adanya sarana pendukung tersebut, maka kegiatan pengawasan pun belum dapat dilakukan secara optimal.

Gambar 2.8. Pembangunan Pos Jaga Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara pada Tahun 2018 c. Lemahnya Kelembagaan Masyarakat

Untuk mendukung keberhasilan pengelolaan TWP Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil sekitarnya diperlukan partisipasi masyarakat lokal.

Saat ini, terdapat beberapa kelompok masyarakat mitra konservasi dan Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) yang berfungsi sebagai lembaga pelestarian sumber daya kawasan yang juga mencakup pengawasan dan pencegahan terhadap kegiatan penangkapan ikan yang merusak. Namun, keberadaan kelompok ini memerlukan dukungan dan pembinaan dari pemerintah dan lembaga pengelola dalam upaya meningkatkan kemampuan dan pengetahuan serta partisipasi dalam rangka mendukung keberhasilan pengelolaan kawasan.

d. Masih lemahnya koordinasi antara lembaga/Kemitraan/Jejaring Pengelola

Dalam mewujudkan pengelolaan kawasan yang efektif dan berkelanjutan maka diperlukan upaya-upaya dari lembaga pengelola untuk membangun kemitraan dengan berbagai pihak-pihak terkait.

Berbagai program dapat diimplementasikan dalam pengelolaan kawasan konservasi seperti kegiatan pengawasan, monitoring dan evaluasi, rehabilitasi dan lainnya, yang disesuaikan dengan tugas pokok masing-masing.

Saat ini, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara

telah menjalin beberapa NGO (Non Goverment Organization) untuk

bersama-sama melaksanakan program perlindungan, pelestarian,

pengawasan, dan pemberdayaan masyarakat dalam kawasan

konservasi di Teluk Moramo dan sekitarnya.

(28)

BAB III

PENATAAN ZONASI 3.1. Umum

Zonasi kawasan konservasi perairan adalah suatu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang di kawasan konservasi perairan melalui penetapan batas-batas fungsional sesuai dengan potensi sumberdaya dan daya dukung, serta proses-proses ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan ekosistem. Zonasi dalam Kawasan Konservasi Perairan dibagi atas 4 (empat) zona yaitu Zona Inti, Zona Perikanan Berkelanjutan, Zona Pemanfaatan, dan Zona Lainnya (Permen KP No.30 Tahun 2010).

Berdasarkan hasil analisis marxan serta mempertimbangkan tanggapan/masukan dari berbagai pihak, zonasi Taman Wisata Perairan Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil sekitarnya terdiri atas Zona inti, Zona Perikanan Berkelanjutan, Zona Pemanfaatan dan Zona Lainnya ( sub zona DPL dan sub zona rehabilitasi). Pengalokasian ruang dalam zonasi telah mempertimbangkan potensi sumber daya, daya dukung dan proses ekologis kawasan konservasi. Dalam penataan zonasi kawasan dilakukan penyesuaian terhadap Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) Tahun 2017, sehingga terdapat penambahan luas kawasan konservasi sebesar 116, 20 Ha dan total keseluruhan kawasan konservasi menjadi 21.902, 34 Ha.

Berdasarkan hasil analisis diperoleh luas lokasi masing-masing zona dalam KKPD Prov. Sultra, disajikan pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Zonasi Kawasan Konservasi Perairan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara

No. Zonasi Lokasi Luas (Ha) Persentase

(%)

1. Zona Inti 2.299, 81 10,50

- Zona Inti I Sapa Pulau Hari 1.666,35 7,61 - Zona Inti II Wilayah Perairan Desa

Tambolosu 633,46 2,89

2. Zona Perikanan Berkelanjutan

Wilayah perairan Teluk Moramo, Pulau Moramo, Pulau Wawosunggu, Pulau Gala, Pulau Saponda, Pulau Hari, Pasi Jambe, Tanjung Gomo dan Tanjung Lemo

18.490,96 84,42

3. Zona

Pemanfaatan 1.070, 95 4,89

- Zona

Pemanfaatan I Pulau Hari 295,89 1,35

- Zona

Pemanfaatan II

Wilayah perairan Desa Woru-

Woru dan sekitarnya 480,27 2,19 - Zona

Pemanfaatan III Pulau Lara 294,79 1,35

4. Zona Lainnya 40,61 0,19

- Sub zona DPL Pulau Saponda 4,49 0,02

(29)

- Sub zona

Rehabilitasi I Pulau Saponda 8,59 0,04

- Sub zona

Rehabilitasi II Pulau Saponda 27,53 0,13

Total 21.902, 34 100

Dari Tabel 3.1 di atas, secara rinci Zonasi KKPD Prov. Sultra dapat diuraikan sebagai berikut :

1) Zona Inti terletak di wilayah perairan Sapa Pulau Hari dan Desa Tambolosu Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan dan sekitarnya dengan luas keseluruhan mencapai 2.299,81 Ha atau 10,50% dari total luas KKPD Prov. Sultra.

2) Zona Perikanan Berkelanjutan terletak hampir di seluruh wilayah perairan KKPD Prov. Sultra yaitu Wilayah perairan Teluk Moramo, Pulau Moramo, Pulau Wawosunggu, Pulau Gala, Pulau Saponda, Pulau Hari, Pasi Jambe, Tanjung Gomo dan Tanjung Lemo, dengan luas 18.490,96 Ha atau 80,42% dari total luas kawasan konservasi.

3) Zona Pemanfaatan terletak di wilayah perairan Pulau Hari dan Pulau Lara serta Desa Woru-Woru dan sekitarnya dengan luas 1.070, 95 Ha atau 4,89% dari total luas KKPD Prov. Sultra.

4) Zona Lainnya, zona ini terbagi atas 2 (dua) sub zona yaitu sub zona Daerah Perlindungan Laut (DPL) dan sub zona Rehabilitasi. Kedua sub zona tersebut terletak di wilayah perairan Pulau Saponda, dengan luas keseluruhan Zona Lainnya yaitu sebesar 40,61 Ha atau 0,19% dari total luas KKPD Prov. Sultra.

Gambar 3.1. Peta Zonasi Kawasan Konservasi Perairan TWP

Teluk Moramo dan Pulau-Pulau Kecil Sekitarnya

di Provinsi Sulawesi Tenggara

(30)

3.1.1 Zona Inti

A. Zonasi dan Koordinat

Zona Inti adalah zona yang mempunyai kriteria ciri khas ekosistem alami, dan mewakili keberadaan biota tertentu serta merupakan lokasi yang harus dilindungi untuk menjamin kelangsungan hidup jenis-jenis ikan tertentu untuk menunjang pengelolaan perikanan yang efektif dan menjamin berlangsungnya proses bio-ekologis secara alami.

Berdasarkan hasil analisis data dan masukan dari berbagai pihak- pihak terkait termasuk masyarakat sekitar kawasan, bahawa Zona Inti Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di dua lokasi, yaitu wilayah perairan Sapa Pulau Hari dan Desa Tambolosu dan sekitarnya, dengan total 2.299,81 Ha atau 10,50% dari total luas KKPD Prov. Sultra. Nilai persentase tersebut telah melebihi dari luas yang disyaratkan sesuai dengan Permen KP No.30 Tahun 2010 yaitu minimal sebesar 2% dari total luas kawasan konservasi.

Distribusi zona inti dalam KKPD Provinsi Sulawesi Tenggara dibagi menjadi 2 (dua) zona inti dengan lokasi yang berbeda yaitu wilayah perairan Sapa Pulau Hari dengan luas 1.666,35 Ha (7,61%) dan wilayah perairan sekitar Desa Tambolosu (Teluk Moramo) sebesar 633,46 Ha (2,89%). Dari kedua Zona Inti tersebut, hanya wilayah Zona Inti yang terletak di wilayah pesisir Desa Tambolosu dan sekitarnya yang memiliki tiga ekosistem pesisir yaitu terumbu karang, lamun, dan mangrove. Sedangkan Zona Inti yang terletak di wilayah perairan Sapa Pulau Hari hanya ditemukan eksositem terumbu karang dan lamun. Lokasi atau wilayah Zona Inti dapat dilihat pada peta yang tersaji pada Gambar 3.2 dan Gambar 3.3 serta titik koordinat pada Tabel 3.2 berikut.

Gambar 3.2 Peta Zona Inti KKPD Prov. Sultra pada Wilayah Perairan

Sapa Pulau Hari

(31)

Gambar 3.3 Peta Zona Inti KKPD Prov. Sultra pada Wilayah Perairan Teluk Moramo

Tabel 3.2 Titik Koordinat Zona Inti pada Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Provinsi Sulawesi Tenggara

No. Zone_Id Koordinat

Lokasi Zona Luas (Ha)

Target Pengelolaan

X Y

1. 26 122,786791 -4,000848 Sapa Pulau Hari

Zona

Inti I 1.666,35

Ekosistem Terumbu

Karang, Mangrove, Lamun, Jenis

Biota Dilindungi (Bambu Laut,

Napoleon), Lokasi Pemijahan 2. 27 122,737368 -4,000833 Sapa Pulau

Hari

3. 28 122,737364 -4,014226 Sapa Pulau Hari

4. 29 122,72714 -4,014222 Sapa Pulau Hari

5. 30 122,727134 -4,032079 Sapa Pulau Hari

6. 31 122,750694 -4,032086 Sapa Pulau Hari

7. 32 122,750697 -4,021818 Sapa Pulau Hari

8. 33 122,78693 -4,021834 Sapa Pulau Hari

9. 43 122,793402 -4,151965

Tambolosu dan

sekitarnya

Zona

Inti II 633,46 10. 44 122,793405 -4,140256 Tambolosu

dan sekitarnya 11. 45 122,754662 -4,140245 Tambolosu

dan sekitarnya 12 46 122,754656 -4,15149

Tambolosu dan

sekitarnya

Referensi

Dokumen terkait

yang dapat dilakukan untuk mencegah erosi adalah dengan konservasi tanah.. Konservasi tanah meliputi konservasi tanah secara fisik, kimia, maupun

Misi Departemen Biologi FMIPA UI mengemban misi mampu berperan aktif mengembangkan Biologi, terutama dalam lingkup konservasi biodiversitas, melalui pelaksanaan pengembangan

Strategi konservasi sumber daya hayati baik tingkat nasional maupun global meliputi 3 aspek penting yaitu (1) perlindungan terhadap habitat asli yang merupakan bagian dari

yang dapat dilakukan untuk mencegah erosi adalah dengan konservasi tanah. Konservasi tanah meliputi konservasi tanah secara fisik, kimia,

Strategi konservasi sumber daya hayati baik tingkat nasional maupun global meliputi 3 aspek penting yaitu (1) perlindungan terhadap habitat asli yang merupakan bagian dari

(5) Untuk kepentingan pemeriksaan di pengadilan dalam perkara pidana atau perdata, atas permintaan hakim sesuai dengan Hukum Acara Pidana dan Hukum Acara Perdata, Gubernur

Maka tahapan penelitian yang perlu dilakukan dari tahun ke tahun dapat meliputi aspek biologi, ekologi, fisiologi, biokimia, yang antara lain meliputi : (1) penetapan

Widayati et al., 2018 PEMBAHASAN NKT adalah sesuatu yang bernilai konservasi tinggi pada tingkat lokal, regional atau global yang meliputi nilai-nilai biologi, ekologi, sosial budaya