• Tidak ada hasil yang ditemukan

Antyesti Arini-Tugas NKT

N/A
N/A
Antyesti Arini

Academic year: 2025

Membagikan "Antyesti Arini-Tugas NKT"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI KONSERVASI TINGGI SUATU KAWASAN Oleh: Antyesti Arini 2105134646

PENDAHULUAN

Saat ini di Indonesia dan Asia Tenggara praktisi dan profesional yang memiliki keahlian dan pengalaman lapang dalam pelaksanaan kajian penialaian NKT serta implementasi pengelolaan dan monitoring NKT masih terbatas jumlahnya. Situasi di Indonesia; pada aspek teknis keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem bahkan masih didominasi oleh para penilai lapangan dan penasehat ahli ekspatriat (bukan warganegara Indonesia). Disiplin ilmu biologi- konservasi di Indonesia, memiliki potensi besar untuk mengembangkan situasi pasar tenaga kerja dan profesi untuk memenuhi kebutuhan berkaitan dengan implementasi pendekatan NKT di Indonesia dan Asia Tenggara. (Miftahul et al., 2022)

Sejak pendekatan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) pertama kali dikembangkan oleh organisasi nirlaba Forest Stewardship Council (FSC) pada akhir tahun 1990an, keberadaannya terbukti bermanfaat untuk mengidentifikasi dan mengelola nilai-nilai lingkungan dan sosial dalam lanskap produksi. NKT kini dipakai secara luas dalam standar-standar sertifikasi (kehutanan, pertanian, dan sistem perairan) dan secara umum untuk pemakaian sumber daya dan perencanaan konservasi. Pada awalnya FSC mengembangkan konsep NKT, mengunakan pendekatan NKT sebagai bagian dari standar mereka (Prinsip-9 FSC) untuk memastikan kebertahanan nilai-nilai lingkungan dan sosial yang signifikan atau penting dalam konteks sertifikasi hutan. Untuk menerapkah kepatuhan terhadap Prinsip FSC ini, organisasi pengelola hutan diharuskan mengidentifikasi NKT yang ada dalam area unit pengelola hutan mereka, dan mengelolanya agar nilai-nilai yang ada terpelihara dan ditingkatkan. (Widayati et al., 2018)

PEMBAHASAN

NKT adalah sesuatu yang bernilai konservasi tinggi pada tingkat lokal, regional atau global yang meliputi nilai-nilai biologi, ekologi, sosial budaya - atau keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem alami. Definisi dan kriteria identifikasi nilai-nilai tersebut berpedoman pada Panduan Umum Identifikasi NKT Tahun 2013 dari Sekretariat Global untuk Pendekatan NKT (HCVRN). Panduan Identifikasi NKT Indonesia Revisi Tahun 2009 dipergunakan sebagai pedoman tata-cara dalam melakukan penilaian NKT di wilayah Indonesia.

NKT 1. Keanekaragaman Spesies

NKT 1 mencakup konsentrasi keanekaragaman hayati yang signifikan, yang diakui unik atau luar biasa dibandingkan dengan kawasan lainnya (di dalam negara yang sama misalnya, atau dalam negara yang besar, wilayah administrasi yang lebih kecil seperti negara bagian atau provinsi, dapat dijadikan unit referensi yang lebih sesuai; atau dibandingkan dengan unit biogeografi lainnya yang berukuran serupa).

Serta berdasarkan kerangka kerja prioritas atau melalui kajian lapangan dan konsultasi. Spesies endemik yang dimaksud merupakan spesies yang hanya

(2)

ditemukan dalam wilayah geografis yang terbatas, yang dapat beragam dari sebuah situs unik atau fitur geografis (seperti pulau, barisan pegunungan atau cekungan sungai), hingga batas politik seperti provinsi atau negara.

NKT 2. Ekosistem dan Mosaik pada Level Lanskap

Ekosistem dan Mosaik Ekosistem yang dimaksud NKT 2 mengandung yang layak dari sebagian besar spesies alami dengan pola distribusi dan jumlah sesuai dengan kondisi alaminya. NKT 2 didesain untuk areal berhutan dengan areal yang luas yang relatif utuh agar spesies alami terpelihara dan terlindungi dalam jangka panjang.

Kriteria yang memenuhi syarat sebagai NKT 2 adalah ekosistem yang memiliki ambang batas luas NKT 2 terkait luas areal yang dibutuhkan untuk memelihara populasi yang layak (khususnya spesies besar atas spesies yang memiliki persebaran yang luas seperti predator) yaitu dengan ambang batas wilayah sebesar 500 km2 (50.000 ha

NKT 3. Ekosistem dan Habitat

NKT 3 mencakup ekosistem, habitat atau refugia yang memiliki peranan penting karena langka, tingkat ancaman, komposisi spesies langka/unik, serta karakteristik lainnya. Kompleksitas dinamis yang melibatkan tumbuhan, hewan, dan komunitas mikro-organisme serta lingkungan abiotiknya yang saling berinteraksi sebagai kesatuan unit yang fungsional. Kriteria yang memenuhi syarat sebagai NKT 3 adalah ekosistem yang langka secara alami dikarenakan ketergantungannya terhadap jenis tanah, lokasi, hidrologi atau fitur klimatis atau fisik lainnya yang sangat terlokalisasi, seperti beberapa jenis hutan karst batu gamping, inselberg, hutan montana, atau hutan sungai di dalam zona tandus (Nurjannah et al., 2023) NKT 4. Jasa Ekosistem

Jasa ekosistem merupakan keuntungan yang diperoleh manusia melalui ekosistem, termasuk jasa penyediaan seperti makanan dan air; jasa pengaturan seperti pengaturan terhadap banjir, kekeringan, degradasi tanah, dan penyakit; jasa kultural seperti keuntungan rekreasional, spiritual, religi dan keuntungan non- materiil lainnya; serta jasa pendukung lainnya seperti pembentukan tanah dan daur nutrient. Jasa ekosistem dianggap penting apabila terjadi gangguan pada jasa tersebut akan menimbulkan ancaman yang sangat luar biasa terhadap kesejahteraan, kesehatan atau kelangsungan hidup masyarakat lokal, atau gangguan terhadap jasa ini menimbulkan dampak negate pada Nilai Konservasi Tinggi lainnya. Jasa ekosistem yang memenuhi syarat sebagai NKT 4 yaitu jasa ekosistem yang berada dalam kondisi kritis terkait dengan pengelolaan kejadian aliran air yang ekstrim, pemeliharaan rezim aliran sungai bagian hilir, pemeliharaan kualitas air.

NKT 5. Kebutuhan Masyarakat

NKT 5 dititikberatkan pada situs/tempat/areal dan sumber daya alam / hayati yang penting untuk pemenuhan kebutuhan dasar (kebutuhan dasar : sandang, pangan, papan) bagi masyarakat lokal. Kebutuhan masyarakat yang memenuhi syarat sebagai NKT 5 jika dipastikan memiliki peranan fundamental untuk

(3)

memenuhi kebutuhan dasar yang meliputi lahan berburu dan penjeratan (untuk daging hewan buruan, kulit dan bulu). PHBK (produk hutan bukan kayu) seperti kacang-kacangan, beri, jamur, tanaman obat, rotan. Bahan bakar untuk aktivitas rumah tangga seperti memasak, penerangan, dan pemanasan.

NKT 6. Nilai Kultural

Nilai kultural pada NKT 6 terdiri menjadi nilai kultural dengan signifikansi global atau nasional, dan nilai yang kritis bagi masyarakat lokal pada skala situs. Adapun syarat sebagai NKT 6 diantaranya adalah situs yang diakui oleh kebijakan dan legislasi nasional memiliki nilai kultural yang tinggi. Situs yang memiliki penetapan resmi dari pemerintah nasional dan/atau lembaga internasional seperti UNESCO.

Situs dengan nilai-nilai historis dan kultural penting yang diakui, bahkan apabila tidak dilindungi oleh legislasi.

Pendekatan Nilai Konservasi Tinggi (NKT)

Elemen-elemen penting dari Kajian Penilaian NKT, dijabarkan dibawah ini.

a. Identifikasi NKT

b. Analisis Ancaman-Ancaman NKT c. Rekomendasi Pengelolaan NKT d. Rekomendasi Monitoring NKT KESIMPULAN

Untuk mencapai pengelolaan suatu kawasan dengan maksimal dibutuhkan upaya kolaboratif antara pemerintah, komunitas ilmiah, serta masyarakat lokal. Kehati- hatian dalam pengelolaan kawasan akan sangat diperlukan, terkadang sering sekali terjadi konflik antara masyarakat lokal dengan tim pengelolaan karena adanya kawasan yang dipergunakan masyarakat berada sebagai daerah konservasi begitupun sebaliknya. Maka dari itu, diperlukannya komunikasi intensif antara masyarakat lokal dengan tim pengelola agar dapat mencapai tujuan yang maksimal.

Referensi:

Miftahul, N., Lingkar, J., & Lingkar, P. (2022). Pendekatan Nilai Konservasi Tinggi. https://www.researchgate.net/publication/358266731

Nurjannah, S., Arif, N., Ashari, R., Nurhikmah, N., Kurniawan, A., Irmayanti, L.,

& Sabaruddin, S. (2023). Efektivitas Areal Nilai Konservasi Tinggi Dalam Mendukung Keanekaragaman Hayati Di Perkebunan Kelapa Sawit Provinsi Riau. Cannarium, 21(1). https://doi.org/10.33387/cannarium.v21i1.6326 Widayati, A., Purwanto, E., Kasumawijaya, & Zagt, R. (2018). Nilai Konservasi

Tinggi (NKT) Tingkat Lanskap dan Wilayah Administrasi. Policy Brief 01/2018, Tropenbos Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengatasi permasalahan yang timbul karena interaksi budaya yang semakin terbuka antara tataran nilai lokal dan global, tindak lanjut yang diperlukan dalam pembangunan

lokal, budaya dan adat istiadat sekaligus menjadi warga negara dalam masyarakat global dengan berbagai macam nilai yang menyertainya.10 Berbeda dari peneliti sebelumnya, penelitian

217 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini diperoleh data mengenai nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Dayak Pipitak Jaya yang berada di sekitar kawasan hutan Piani, data

R NILAI KELOKALAN ATAU KESETEMPATAN NILAI KESEMESTAAN arsitektur yang memperhatikan karakteristik regional yang erat kaitannya dengan aspek budaya, iklim dan teknologi pada saat

Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilatarbelakangi oleh perkembangan usaha tenun songket tradisional di Kabupaten Sambas yang belum memadukan aspek ekologi dan budaya dalam berbisnis. Usaha tenun songket saat ini masih menggunakan konsep lama yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan kewirausahaan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa industri tenun songket dapat punah di masa depan. Urgensi dari program ini adalah memperkenalkan model bisnis baru yang menggabungkan konsep ekonomipreneurship dan sociopreneurship menjadi model sustainopreneurship. Model sustainopreneurship ini perlu diujicobakan sebagai sebuah inovasi baru yang harus diterapkan oleh para pengrajin dalam menjalankan bisnis mereka. Penerapan model sustainopreneurship ditargetkan agar pengrajin memiliki nilai tambah ekonomi, ekologi, dan sosial yang beretika bisnis serta menjaga kelestarian budaya kearifan lokal Kabupaten