• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desa Adat

Dalam dokumen MEMAHAMI I WAYAN SWARSA (Halaman 31-37)

BAB 2 DESA ADAT DAN DESA ADAT KUTA

2.1. Desa Adat

Untuk memahami desa adat di Bali, diperlukan perbandingan dengan bentuk pengorganisasian masyarakat lainnya yang setara yaitu desa dinas. Perbandingan dengan desa dinas diperlukan untuk membuat pengertian dan ranah desa adat menjadi lebih jelas. Desa dinas adalah organisasi pemerintahan di desa yang menyelenggarakan fungsi administratif kedinasan (pemerintah). Desa dinas umumnya berbentuk kelurahan jika berlokasi di daerah urban dan berbentuk desa jika berlokasi di pedesaan. Desa dinas adalah bagian dari hirarki pemerintahan. Desa adat dan desa dinas masing-masing memiliki sumber legitimasi, peran, sistem atau struktur organisasi berbeda. Sumber legitimasi dari desa adat adalah penerimaan dan ketaatan dari warga desa adat terhadap norma-norma adat yang berlangsung turun temurun melalui kebiasaan. Desa adat menjalankan peranan sebagai pemegang tradisi, keagamaan, di luar urusan otoritas pemerintah, sedangkan desa dinas menjalankan fungsi kedinasan sesuai kewenangan atau sebagai perpanjangan tangan pemerintah.29 Sumber legitimasi dari desa dinas adalah otoritas formal yang berasal dari peraturan perundangan dari negara. Di Bali jumlah desa adat lebih banyak dibandingkan dengan desa dinas. Pada bulan Januari 2015, desa dinas (desa dan kelurahan) berjumlah 716 dan desa adat berjumlah 1.488.30 Persyaratan dan dasar pembentukan desa adat dan desa dinas memiliki syarat yang berbeda.31 Maka dari pada itu,

29

I Gde Parimartha, Silang Pandang Desa Adat dan Desa Dinas Di Bali (Denpasar: Udayana University Press, 2013, 35-36).

30 Ady Sucipto, ―1.488 Desa Pakraman Dapat Kucuran Bantuan Hibah Rp 200 Juta per Desa,‖ bali.tribunnews.com, 26 Mei 2015.

31

Pembentukan desa dinas terjadi pada masa pemerintahan kolonial Belanda untuk kepentingan pengorganisasian daerah jajahan dalam rangka pengerahan tenaga kerja rodi.

batas wilayah dan jumlah penduduk pendukung kedua jenis desa tersebut tidak selamanya sama.

Struktur organisasi desa adat mencakup sistem keanggotaannya dan sistem pengorganisasiannya. Struktur organisasi desa adat bervariasi antara yang satu dengan yang lainnya. Namun secara umum terdapat perbedaan jelas antara tiga jenis desa di Bali yaitu desa Baliage, desa apanage, dan desa anyar. Pertama, desa Baliage (desa adat yang sudah ada sejak Bali Kuno) adalah desa yang umumnya terletak di daerah pegunungan, jauh dari pusat pemerintahan kerajaan. Kedua, desa apanage adalah desa yang umumnya terletak di Bali daratan yang mendapat pengaruh dari kerajaan sehingga struktur desa adatnya menyesuaikan dengan kebijakan raja. Warga dari desa apanaga umumnya adalah warga dari keturunan Majapahit yang datang ke Bali mulai abad ke-14 yang diawali dengan invasi pasukan yang dipimpin oleh Gadjah Mada. Tipe yang ketiga adalah desa anyar yaitu desa yang adat yang pembentukannya mulai terjadi pada masa pemerintahan kolonial Belanda sebagai akibat migrasi orang-orang Bali dataran untuk merambah hutan untuk membentuk lahan pertanian baru. Mereka tidak dipengaruhi secara langsung oleh kerajaan karena pada masa itu kerajaan berada dalam kontrol pemerintah kolonial. Struktur organisasi desa adat yang mereka gunakan adalah sama dengan desa asal mereka yaitu desa-desa dengan tipe desa apanage.32

Pada desa adat yang digolongkan sebagai desa apanage, pemimpin tertinggi dalam prajuru desa (pengurus desa adat) adalah bendesa atau kelihan desa, dibantu oleh pengurus lainnya seperti penyade/petajuh/pangliman (wakil bendesa) penyarikan/juru surat yang berfungsi sebagai sekretaris dan petengen/juru raksa yang berfungsi sebagai bendahara.33 Pada tingkat banjar, struktur prajuru umumnya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing

32 Windia and Sudantra, Pengantar Hukum Adat Bali, 62.

banjar. Struktur banjar umumnya diisi oleh kelian banjar atau kelian adat yang dibantu oleh penyarikan (juru tulis) dan patengen atau juru raksa (bendahara). Bagi banjar yang jumlah penduduknya banyak dan wilayahnya luas, banjar dibagi dalam unit yang lebih kecil yang disebut dengan tempekan yang dikoordinir oleh kelihan tempekan. Tempekan lebih banyak berfungsi sebagai kelompok kerja yang mengerjakan pekerjaan tertentu dari banjar yang tidak memerlukan pengerahan sumber daya seluruh anggota banjar.34

Sistem pemerintahan desa adat tipe desa apanage dan desa anyar umumnya menggunakan sistem pemerintahan tunggal dengan satu orang sebagai pemimpin tertinggi sementara pengurus lainnya bertugas untuk membantu.35 Berbeda dengan jenis desa tersebut, tipe desa baliage umumnya menganut sistem pemerintahan kembar atau sistem pemerintahan kolektif. Dalam sistem ini ada dua jenis pimpinan yang kedudukannya sederajat.

Otonomi yang dimiliki oleh desa adat membuat mereka menentukan sendiri cara untuk pemilih prajurunya termasuk di dalamnya struktur kepengurusan serta mekanisme pembagian tugas di antar masing-masing prajuru. Berdasarkan tradisi di Bali, cara dalam memilih prajuru pada desa adat di Bali secara umum dapat dibagi menjadi lima.36 Pertama adalah pemilihan yang langsung dipilih oleh warga adat. Kedua adalah dipilih oleh utusan dari perwakilan masing-masing banjar. Ketiga berdasarkan keturunan. Pemimpin adat harus berasal dari keturunan garis keturunan laki-laki dari suatu keluarga yang biasanya, adalah pendiri desa yang memilik peran yang bersejarah. Keempat adalah berdasarkan pada

34

Ibid, 66-67.

35 Tiga desa yang diteliti dalam penelitian ini semuannya termasuk dalam kategori Desa Apenaga.

36 Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, Tuntunan Tugas-Tugas Prajuru Desa Adat, 2000, 17-21, menyebutkan ada empat cara. Penulis menambahkan satu lagi cara yang digunakan dalam memilih Bendesa yaitu lewat perwakilan masing-masing banjar.

senioritas (usia). Kelima adalah dengan cara kombinasi antara kombinasi antara pemilihan langsung dengan keturunan. Ada jabatan-jabatan tertentu misalnya bendesa harus berasal dari anggota Pura Dadia tertentu. Pemilihan dilakukan di kalangan keluarga-keluarga yang menjadi anggota Pura Dadia tersebut. Sementara jabatan-jabatan lain dalam prajuru dipilih oleh warga adat berdasarkan musyarawah mufakat.

Prajuru disamping sebagai pengurus desa adat, juga merupakan anggota dari suatu majelis desa yang disebut kertha desa. Tidak semua desa adat menggunakan nama kertha desa sebagai nama resmi dari majelis desa. Namun pada umumnya semua desa memiliki wadah rapat pleno yang tidak hanya melibatkan prajuru namun juga perwakilan dari masing-masing unit sosial yang berhubungan dengan desa adat. Dilihat dari istilahnya kertha artinya damai dan desa artinya tempat atau wadah sehingga kertha desa berarti “tempat perdamaian”. Pada masa Bali Kuno, kertha desa ini disebut “sarwa sanat” atau “sanva kumni adhi”. Dewasa ini di beberapa desa adat dikenal dengan sebutan “paduluan”, “petinggi” atau “panglingsir desa”.37

Desa adat memiliki aset baik yang bernilai ekonomi (dapat diperjualbelikan atau ditukar) dan non-ekonomi. Yang dimaksud dengan aset desa adat yang bernilai ekonomi adalah aset desa adat yang dapat diperjualbelikan yang meliputi tanah dan tanaman yang tumbuh di atasnya, bangunan, uang, dan benda-benda lainnya yang bisa diperjualbelikan. Yang tergolong dengan aset desa adat non-ekonomi adalah aset yang atas dasar kepercayaan tentang kesakralan, tidak akan mungkin diperjualbelikan ataupun disewakan oleh desa adat yang meliputi pura dan sarana pemujaan di dalamnya, kuburan (setra), dan benda lainnya yang disepakati untuk tidak diperjual belikan.

Sebagian desa juga memiliki unit usaha berupa pasar desa termasuk pasar seni seperti yang dimiliki oleh Desa Kuta. Biasanya

pasar miliki desa tidak langsung dikelola oleh desa adat namun di sewakan kepada pihak lainnya baik warga dari desa itu sendiri maupu warga di luar desa adat. Unit usaha lain yang juga dimiliki oleh desa adat adalah Lembaga Perkreditan Desa (LPD) yang menjalankan usaha simpan pinjam terutama di kalangan warga desa adat yang bersangkutan. LPD ini digagas oleh Gubernur Bali Ida Bagus Mantera pada tahun 1984 dengan mengadopsi semangat dalam sekaa.

Pengelolaan harta kekayaan desa adat dilakukan oleh prajuru desa sesuai dengan awig-awig di masing-masing desa adat. Pengalihan/perubahan status harta kekayaan desa adat umumnya harus disertai dengan persetujuan paruman (sangkepan) desa. Melalui paruman desa, warga desa adat melakukan pengawasan terhadap aset desa adat.38 Pendapatan desa adat diperoleh dari berbagai sumber, antar lain: peturunan (urunan)39 dari warga desa adat, hasil pengelolaan kekayaan desa adat, hasil usaha lembaga perkreditan desa (LPD), dan bantuan pemerintah baik pusat maupun daerah.

Konsep kehidupan di Bali salah satunya adalah konsep Tri Hita Karana. Konsep Tri Hita Karana ini pertama kali dimunculkan ke publik pada tahun 1966 pada Konferensi Daerah Badan Perjuangan Umat Hindu Bali yang bertempat di Perguruan Dwijendera Denpasar.40 Konsep Tri Hita Karana hadir sebagai representasi atas praktik-praktik agama Hindu Bali yang didasarkan pada tulisan dalam lontar-lontar Agama Hindu Bali.

Tri Hita Karana yang secara harfiah berarti tiga (tri) penyebab (karana) kebahagiaan (hita). Unsur dari Tri Hita Karana adalah Tuhan Sang Pencipta, bhuana (alam semesta) dan manusa (manusia). Dalam keyakinan umat Hindu di Bali, kesejahteraan

38 Ibid, 76.

39 Ibid, 42.

40

inputbali.com, ―Sejarah dan Penerapan Tri Hita Karana yang Tidak Boleh Dilupakan,‖ 2015, http://inputbali.com/budaya-bali/sejarah-dan-penerapan-tri-hita-karana-yang-tidak-boleh-dilupakan.

umat manusia di dunia ini hanya akan dapat dicapai apabila manusia memiliki hubungan yang harmonis di antara unsur-unsur Tri Hita Karana tersebut, yaitu: keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa; keharmonisan hubungan antara manusia dengan sesamanya; dan keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam semesta. Bagi warga desa adat di Bali hubungan harmonis itu tidak semata-mata dalam arti sekala (nyata atau terlihat) namun juga niskala (gaib atau tidak terlihat).

Dalam kehidupan desa adat, prinsip Tri Hita Karana itu termanifestasikan dalam tiga ranah atau aspek pembentuk desa adat di Bali yaitu parhyangan, pawongan, dan palemahan. Parhyangan berarti tempat pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pawongan adalah warga desa adat yang disebut dengan kerama desa (warga desa adat). Pawongan berasal dari kata wong (Bahasa Jawa) yang berarti orang. Pawongan berarti perihal yang berkaitan dengan orang dalam kehidupan masyarakat. Palemahan berasal dari kata lemah yang artinya tanah. Palemahan dalam arti luas berarti bhuwana atau alam semesta, dan dalam arti sempit berarti wilayah pemukiman atau tempat tinggal dari warga desa adat.41

Kehidupan keseharian di desa adat terjadi melalui pengelompokan sosial yang memiliki karakteristik dan tujuan tertentu serta sistem interaksi yang ada di dalamnya. Pengelompokan atau unit sosial tersebut ada yang berhubungan langsung dengan desa dan ada yang tidak langsung. Lembaga tradisional yang berhubungan langsung dengan desa adat dan merupakan bagian hirarki dari desa adat adalah seperti yang disebutkan di atas yaitu banjar adat, sub banjar (tempekan/kober), sub sub banjar (kelompok/regu).

Untuk menggambarkan semangat komunal dari warga desa adat di Bali, desa adat di Bali memiliki sejumlah istilah adat yang sering digunakan dalam ranah adat seperti: masuka duka (bersama

41 Majelis Pembina Lembaga Adat Daerah Tingkat I Bali, ―Desa Adat: Pusat Pembinaan Kebudayaan Bali,‖ 1991, 45-46.

dalam suka dan duka), manyama braya (persaudaraan & kekerabatan), sagilik-saguluk (bersatu padu), paras-paros sarpanaya (toleransi), salunglung sabayantaka (seiya sekata), duwenang sareng-sareng (rasa saling memiliki), saling asah asih asuh (saling menyayangi dan memperhatikan), dan pasidikaran atau sidikaran (rasa kekeluargaan). Dari konsep-konsep adat tersebut, konsep yang disebut terakhir yaitu pesidikaran adalah konsep yang penting dan relevan dalam gerakan desa adat tolak reklamasi Teluk Benoa. Istilah itu sering diucapkan oleh orator dari desa adat ketika melakukan tindakan kolektif.42

Dalam dokumen MEMAHAMI I WAYAN SWARSA (Halaman 31-37)

Dokumen terkait