• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengalaman Spiritual

Dalam dokumen MEMAHAMI I WAYAN SWARSA (Halaman 46-63)

BAB III PROFIL I WAYAN SWARSA

3.2 Pengalaman Spiritual

Terlahir dengan Kemampuan Intuisi

Ia dapat dikatakan sebagai orang yang terlahir sebagai anak indigo yang kemudian sangat menentukan kesehariannya dalam caranya mendapatkan pengetahuan, mengolah pengetahuan, mendapatkan pengetahuan yang dianggapnya benar, dan kemudian

mengambil sikap serta bertindak, termasuk sikap dan tindakannya sebagai Bendesa Desa Adat Kuta dalam menolak reklamasi Teluk Benoa.

Indigo dalam hal dimaksudkan sebagai orang memiliki kemampuan intuisi dan kreativitas, bukan dalam artinya orang yang memiliki pandangan gaib ataupun mendengarkan wahyu. Intuisi ini yang menentukan cara ia mengambil keputusan dan bertindak. Dengan demikian, untuk memahami I Wayan Swarsa dalam segmen hidupnya menolak reklamasi, maka penting untuk memahami pandangannya dan keyakinannya terhadap intuisi yang ia miliki.

Sebagai anak indigo, sumber intuisi dan kreativitas Wayan Swarsa, di antaranya adalah melalui mimpi. Ia tidak pernah mengalami keadaan ia benar-benar tidur terlelap. Setiap tidurnya diisi oleh mimpi yang memuat pertanda-pertanda yang ia perlu olah kembali ketika bangun dari tidurnya. Ia kemudian menyadari bahwa itu bukanlah mimpi tetapi bentuk interaksi dirinya dengan sinar Ilahi yang ia sebut dengan lawat peteng yang secara harfiah berarti bayangan di kegelapan. Ketika menyebut bayangan dalam istilah ―bayangan dalam gelap‖ artinya pastilah ada sinar. Bayangan tidak akan muncul jika tidak ada sinar. Gelap yang ia maksud adalah kegelapan pikiran manusia. Dengan kata lain lawat peteng adalah cahaya pikiran yang dapat masuk menerobos kegelapan pikiran. Ketika menerima lawat peteng tersebut, ia tidak mengatakan ia melihat atau mendengar secara gaib namun lawat peteng itu hadir sebagai petunjuk-petunjuk niskala yang dalam Bahasa Bali dikenal dengan pakelep atau tetenger.

Kehadiran lawat peteng itu sudah dimulai semenjak ia kecil yaitu semenjak ia mulai mampu berfikir. Memejamkan mata baginya adalah bukan hal mudah karena ia tidak bisa tertidur sebelum membuat suatu cerita dalam pikirannya yang topiknya umum sesuai dengan perkembangan anak seusianya. Ketika ia masih anak-anak, cerita yang ia buat dalam pikirannya adalah cerita

tentang topik anak-anak. Cerita itu dibuatnya pada saat posisi tidur, namun ia belum tertidur. Saat matanya mulai terpejam dan tertidur, ia mulai bermimpi yang menurutnya sebetulnya itu bukan sebagai mimpi bunga tidur tetapi sebagai atman atau jiwa yang berinteraksi dalam alam atman.

Kejadian seperti ini terus berlanjut sampai dia menginjak SMA yang membuatnya kemudian berfikir bahwa ketika ia tertidur ia tidak pernah tidak melihat sesuatu. Ia merasa penasaran dan bertanya-tanya dalam dirinya apakah ia orang yang normal atau tidak. Waktu remaja ia sempat bertanya pada adiknya, ―Waktu matamu terpejam apa yang kamu lihat?‖. Adiknya lalu menjawab ―ya...gelap‖. Ia kemudian memahami bahwa mimpinya itu yaitu lawat peteng adalah caranya baginya untuk mendapatkan pengetahuan yang harus ia olah lagi dengan pikiran sekala-nya agar tanda-tanda itu dapat ia mengerti.

Saat menginjak SMA ia menemui pengalamannya lainnya. Saat memejamkan mata untuk tidur, kemudian ia merasakan ada sesuatu yang masuk dalam dirinya. Ketika terhenyak, ia bisa mendengarkan dan melihat namun ia tidak bisa menggerakkan badannya. Badannya seperti terkunci yang dalam Bahasa Bali disebut dengan kededepan. Ia kemudian bertanya pada Wa Pemangku, pamannya. Pamannya mengatakan dirinya tidak apa-apa, dan menasehatinya untuk tidur tidak dengan posisi masedakep (tidur dengan posisi berpangku tangan).

Nasehat itu ia ikuti dengan posisi tidur memiringkan badang (nyingkrung), namun tetap saja gejala itu terjadi. Ia terus mengalami kejadian itu sampai saat ia kuliah di STAN di Jakarta. Tidak hanya dalam posisi tertidur terlentang namun juga saat tidur di dalam bus. Dalam perjalanannya dari Jakarta-Denpasar atau sebaliknya yang ditempuh selama 24 jam, ia bisa sampai 10 kali mengalami kededepan dalam satu kali perjalanan yang sangat menguras energinya baik secara fisik maupun mental.

Ia sempat mengusahakan berbagai cara untuk menanggulangi masalah tersebut. Pertama di tahun 1991, ia berusaha dengan mengucapkan Gayatri Mantram, namun tidak juga berhasil. Kedua, ia mencoba dengan mengecilkan nafas dan ada sedikit perubahan. Frekuensi gejala kededepan yang dalam Bahasa Inggris disebut sleeping paralysis itu bisa berkurang. Dengan menahan nafas, bisa terbangun dan terlepas dari posisi badan terkunci. Namun cara itu juga tidak bisa menuntaskan persoalan karena ia bangun dengan susah payah dan setelahnya badannya masih sempoyongan.

Titik terang kemudian datang ketika ia berusaha menjadikan benda pemberian Wa Pemangku pamannya, sebagai bagian dari kesulitan yang dihadapinya. Sebelum ia berangkat kuliah ke Jakarta, ia diberi benda yang berisi doa dari orang tua pada anaknya, yang dalam istilah Bali disebut dengan pesikepan. Pemberian pesikepan ini adalah umum diberikan oleh para tetua bagi anggota keluarganya yang bepergian jauh. Pesikepan yang diberikan oleh pamannya itu berupa kotak perak yang ia tidak berani buka sampai sekarang. Ia meyakini kotak itu adalah isi hati dan doa dari pamannya. Saat kededepan menimpanya, ia segera mengecilkan nafas agar dapat terbangun dan terbebas dari badannya yang terkunci. Kemudian secepat mungkin ia mengambil pesikepan itu dan mencakupkan tangan dengan sikap menyembah. Setelah itu ia dapat tertidur sampai dengan keesokan harinya. Dengan cara itu ia dapat mengurangi frekuensi dari kededepan tersebut dan lebih dapat mengendalikannya walaupun kededepan itu sesekali tetap muncul. Peran penting pesikepan tersebut membuatnya mengartikan bahwa pesikepan tersebut tidak boleh jauh darinya. Kededepan yang ia alami itu kemudian terhenti ketika ia menikah pada tahun 2000. Ia mengartikan pernikahannya sebagai penyupatan (pembersihan kembali secara spiritual) atas dirinya.

Setelah menikah, fase pengalaman spiritualnya memasuki tahapan yang sebut dengan wewerenga, suatu konsep yang ia temukan sendiri. Wewerenga itu ia artikan sebagai pikiran yang terdalam yang bisa melihat dan bisa mendengar. Ia menunjukkan contoh ketika ia mem-posting sebuah status di media sosial FB yang direspon oleh sejumlah orang termasuk orang yang tidak dikenalnya. Dengan kekuatannya ini maka ia dalam pikirannya dapat mengetahui wajah dari orang yang memberi komen tersebut. Demikian juga ketika menerima telpon dari orang yang tidak dikenalnya, ia bisa melihat wajahnya.

Koma dalam Waktu Bersamaan dengan Guru Penuntunnya

Saat yang berkesan dan fase kehidupan spiritualnya adalah ketika mengalami koma pada waktu yang bersamaan dengan guru penuntunnya yang juga mengalami koma. Guru penuntunnya itu adalah Ida Ratu Peranda di Griya Buduk yang waktu walaka (sebelum menjadi pendeta) bernama Ida Bagus Bhaskara. Koma yang dalam waktu bersamaan itu ia artikan sebagai hubungan yang satu kesatuan antara penuntun spiritual dengan orang yang dituntun.

Ia mengalami koma pada tahun 2006 saat ia berumur 34 tahun. Ia dirawat di Rumah Sakit Prima Medika karena sakit demam berdarah. Jumlah trombositnya merosot hanya sampai mencapai angka 15. Selama 6 hari dan 6 malam ia tidak bisa tidur. Dalam keadaan itu ia masih bisa mendengar pembicaraan dokter. Dalam keadaan koma itu, pikirannya merasakan kehadiran Ida Bhatari Dalem Kuta. Pikiran yang bisa melihat itulah yang ia istilahkan dengan wewerenga, seperti yang dijelaskan dalam paragrap di atas. Dalam keadaan pikirannya yang bertemu dengan Ida Bhatari Dalem, ia bertanya tentang Wa Pemangku yang sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Lalu ia dipertemukan dengan pamannya itu. Ia kemudian bertanya pada pamannya,

―Apakah saat ini Saya akan mati?‖. Wan Pemangku menjawab ―tidak‖ dan mengatakan sakitnya itu adalah bentuk godaan dalam hidup. Setelah mengajukan permohohan kepada pamannya, ia mendengarkan suara tepuk tangan dari banyak orang yang dari sekian banyak orang itu hanya satu orang yang dikenalnya. Orang itu ternyata adalah orang yang keesokan harinya menjenguknya di rumah sakit.

Ia menghubungkan antara mimpinya itu dengan kedatangan dari orang itu yang menjenguknya dan kemudian ia mendapatkan pembelajaran tentang suatu paham yang ia terima dengan nama ―Kula Kanti‖. Kula dalam Bahasa Jawa Kuno berarti ―nyama‖ atau keluarga dan kanti yang berarti teman atau sahabat. Jadi Kula Kanti itu ia artinya sebagai paham yang menganggap bahwa semua adalah teman, semua adalah saudara. Ajaran ini ia terapkan dalam gerakan menolak reklamasi Teluk Benoa. Ia melihat dan merasakan orang-orang yang berkumpul dalam satu aksi demonstrasi sebagai teman dan saudara, meskipun tidak saling kenal satu sama lainnya. Kula Kanti itu adalah bentuk solidaritas yang muncul dari hasil interaksi atas dasar kebenaran.

Lawat peteng atau wewerenga itu ia yakini sebagai petunjuk-petunjuk niskala yang ia perlu rangkai dengan pengetahuan sekala sehingga dapat menghasilkan pengetahuan yang ia yakini kebenarannya. Penerimaan tanda-tanda niskala dan kemudian merangkainya menjadi suatu pengetahuan yang benar adalah persoalan kapasitas. Tidak semua orang memiliki kapasitas yang sama. Ia menganalogikan dengan air mineral yang dalam botol kemasan dan air mineral yang ada dalam sebuah ember. Walaupun isinya sama namun kapasitas penampungnya yang berbeda. Akibatnya adalah sikap orang juga akan berbeda. Air mineral dalam botol kemasan akan diminum orang tanpa berfikir. Namun air mineral yang ditaruh di ember, akan membuat orang tidak menganggap sebagai air minum. Dengan kata lain, kapasitas botol itulah yang membuat air itu dapat diminum. Demikian pula

dengan Wayan yang yakin bahwa ia memang terlahirkan untuk memiliki kapasitas menerima lawat peteng tersebut dan mengolahnya menjadi pengetahuan yang benar.

Dalam pandangannya, ia terlahir dengan mendapatkan pengetahuan dengan mengkombinasikan intuisi dengan percakapannya orang lain. Ketika orang lain, lawan bicara yang bercerita tentang sesuatu, ia dapat melihat sesuatu yang dibicarakannya itu dalam pikirannya. Ia juga memiliki kemampuan spasial yang kuat yaitu kemampuan untuk memvisualisasikan gambar dan ruang dalam pikirannya. Kemampuan ini ia terapkan ketika ia membuat bangunan. Ia tidak menggunakan arsitek namun langsung berkomunikasi dengan kepala tukang untuk menerjemahkan gagasannya. Setelah bangunannya jadi baru kemudian ia mencari tukang gambar untuk menggambar bangunan yang sudah jadi untuk keperluan pengurusan ijin di kantor pemerintah. Bawaan lahir yang juga ia miliki adalah ingatan yang kuat. Ketika ia berdiskusi dengan orang lain atau membaca pengetahuan di internet ia dapat mengingatnya. Kemampuannya ini dengan mudah teridentifikasi termasuk oleh Penulis. Ketika Penulis melakukan wawancara, ia dapat mengingat waktu dan tempat dari suatu peristiwa dengan detail termasuk peristiwa sejarah ratusan tahun lalu. Sepanjang yang ia sudah alami, ia memiliki keyakinan bahwa ia akan dipertemukan dengan orang-orang yang dapat membantunya atau melengkapi kelemahan atau keterbatasannya.

Touring dengan Sepeda Motor

Ia memiliki hobi touring dengan kawan-kawannya dengan mengendarai sepeda motor dengan mesin motor berkapasitas besar. Tempat yang ia kunjungi adalah tempat-tempat yang bersejarah dan tempat-tempat yang disucikan atau berhubungan dengan spiritualitas. Mulai tahun 2003 saat masih menjadi Kelian Banjar Buni, ia touring masuk ke gunung-gunung di pelosok Bali. Setelah menjadi bendesa ia tetap melakukan touring bahkan mencapai

jarak yang lebih jauh yaitu tempat-tempat di Pulau Jawa termasuk tanah Sunda. Dalam perjalanan itu ia sempat masuk ke kampung Baduy Dalam dan memegang tangan Pemimpin atau Raja Badui. Tindakan itu menurutnya bermakna spiritual karena Raja Baduy tidak berjabatan tangan dengan semua orang, bahkan ia pernah mendengar berita Raja Baduy menolak bersalaman dengan Pangdam sekalipun.

Momentum Kehidupan Spiritualnya

Leluhurnya secara turun temurun adalah pemangku atau pengayah (pengabdi) Pura Dalem di Desa Adat Kuta. Sebagai orang yang terlahir di lingkungan keluarga pemangku, ia terbiasa mendengarkan tutur (cerita yang berisi nasehat) yang berhubungan dengan pengetahuan spiritual Hindu Bali yang mencakup aspek sekala dan niskala. Orang yang menjadi penuntun rohani dalam hidupnya adalah pamannya (kakak dari ayahnya), I Wayan Pugeg atau Pan Musti (Bapak Musti) yang ketika masih hidup adalah pemangku di Pura Dalem di Desa Adat Kuta. Pamannya yang ia panggil dengan Wa70 Pemangku ini adalah penekun spiritual yang sejak tahun 1950 sudah belajar spiritual di berbagai tempat dan terakhir ia belajar pada Nini Datu. Nini Datu ini adalah juga guru spiritual dari Pedanda Ida Made Sidemen, seorang pendeta dari Sanur yang terkenal sebagai pendeta dengan berbagai keahlian dari menggubah kekawin, arsitek tradisional, dan juga pemahat tradisional. Nini Datu ini tinggal di Pulau Serangan yang berbatasan langsung dengan Teluk Benoa yang saat itu Pulau Serangan masih terpisah dengan daratan Pulau Bali.

Semenjak kecil ia mengenal tentang Teluk Benoa dari pamannya itu. Waktu itu istilah Teluk Benoa bagi orang Kuta belumlah lumrah. Orang Kuta mengenalnya dengan sebutan Pasih Kangin (Pantai Timur) karena perairan Teluk Benoa memang letaknya di sebelah Timur Desa Adat Kuta. Itu adalah momentum

pertamanya mengetahui tentang Teluk Benoa yaitu sebagai tempat pamannya belajar spiritual kepada gurunya Nini Datu. Nini Datu seperti cerita yang ia terima dari pamannya adalah narasumber untuk berbagai pengetahuan agama yang mancakup seni dan sastra, kesidhian (ilmu magis), pengobatan, penerawangan gaib dan lain sebagainya. Pengetahuan yang diberikan oleh Nini Datu akan disesuai dengan kapasitas dari masing-masing muridnya.

Momentum keduanya adalah ceritanya ayahnya tentang sejarah kelahiran dirinya yang berkaitan dengan Teluk Benoa. Pada akhir tahun 1999, enam bulan sebelum ia menikah, ia diceritakan oleh ayahnya yang bernama I Nyoman Pugig tentang latar belakang kelahirannya yang sebelumnya tidak pernah diceritakan kepada siapaun. Sampai ayahnya berumur 40 tahun, ayahnya belum dikarunia anak. Tingkah laku ayahnya saat itu masih seperti orang muda yang suka bepergian sampai dijuluki di desanya dengan sebutan Kak Minyeng (kakek yang ke sana ke mari). Suatu hari ayahnya menonton film di Indra Theatre di Denpasar yang berjarak 10 km dari Desa Kuta. Ayahnya tidak sadar bahwa hari ini adalah hari Kajeng Kliwon yang merupakan hari yang sakral yang menjadi kewajibannya untuk menghaturkan sesajen di tempat suci di rumah. Saat itu rumah dalam keadaan kosong karena saudaranya saat itu sudah menempuh laku spiritual di Bongkasa (Kabupaten Badung bagian Utara) menjalankan perintah gurunya Nini Datu.

Di tengah malam, ayahnya baru ingat bahwa hari itu adalah hari Kajeng Kliwon saatnya untuk menghaturkan sesajen pada benda-benda yang disucikan duwe (milik) Pura Dalem yang ada di rumahnya. Begitu ingat dengan hari sakral itu, ia langsung pulang ke Kuta dengan mengayuh sepeda gayung dan kemudian menghaturkan sesajen di tempat sucinya di rumah. Kemudian ia di tengah malam itu berjalan ke arah Pura Dalem dan duduk di depan bangunan Pura Dalem (yang sekarang berada di dekat Matahari Kuta Square). Di sana ayahnya seorang diri mengadu kepada

Bhatara di Pura Dalem. Ia menangis mengutarakan kesedihannya karena sudah berumur 40 tahun belum memiliki anak.

Antara tertidur dan tidak yang dalam Bahasa Bali disebut ngerawang sawa, ayahnya melihat gambar atau visual. Ia melihat pemandangan di Pasih Kangin/Pantai Timur (sebutan orang Kuta untuk Teluk Benoa). Kemudian dilihatnya ada bayi dalam keranjang yang terapung di laut. Wajah bayi itu kata ayahnya mirip dengan wajah Wayan saat masih kecil. Dari cerita ayahnya itu ia menyimpulkan bahwa secara gaib ia ternyata dilahirkan di Pasih Kangin (Teluk Benoa) atas restu dari Bhatari Pura Dalem.71 Ia meyakini dirinya putra Teluk Benoa. Keyakinannya sebagai putra Teluk Benoa meneguhkan sikapnya untuk konsisten mempertahankan kesucian Teluk Benoa.

Momentum ketiga dialaminya pada tahun 1991 menjelang tamat SMA. Antara tidur dan sadar, ia melihat satu pelinggih di jalan by pass Ngurah Rai dengan latar belakang laut. Di sana ia melihat seorang pendeta yang menunjuk ke arah laut. Laut dibelakang Jl. by pass Ngurah Rai tidak lain adalah perairan Teluk Benoa. Ia tidak sempat mencari lokasi tempat mimpinya itu karena terburu untuk datang ke Jakarta untuk kuliah di STAN. Pada tahun 2003, saat ia sudah menjadi Kelian Banjar Buni, ia berusaha mencari lokasi dari mimpinya tersebut dan menemukan tempat itu adalah Pura Karangasem di Kampung Kepiting yang menjadi sungsungan Adat Tuban, desa tetangganya.

Ia mengartikan laut Teluk Benoa yang ditunjukkan oleh pendeta dalam mimpinya itu adalah sthana dari Sanghyang Siwa Mertha yang ia artikan sebagai pusat mertha atau pusat kemakmuran dari Pulau Bali baik aspek sekala dan niskala. Pendeta yang ia lihat dalam mimpinya itu adalah Dang Hyang Dwijendra, seorang pendeta dari Jawa Timur yang datang ke Bali

71

Bhatari Pura Dalem dalam istilah Agama Hindu Bali dikenal dengan Bhatari Ratu Ayu yang dalam istilah literatur Hindu sama dengan Dewi Parwati sebagai istri atau shakti dari Dewa Siwa.

pada tahun 1489 dan melakuan perjalanan suci di pura-pura di pantai Bali Selatan termasuk pura-pura sekitar Teluk Benoa.72

Ketiga momentum itu kemudian hadir dalam pikirannya ketika kontroversi Teluk Benoa merebak. Namun belum menjurus pada kaitan antara pengalaman niskala-nya itu dengan posisinya dalam pergerakan menentang reklamasi. Semenjak membaca diktat tentang titik suci kawasan Teluk Benoa, ia menjadi paham bahwa tiga momentum itu sebagai bagian-bagian yang saling terhubung dengan sikap yang diambil dalam menolak reklamasi Teluk Benoa.

Merasa Terpanggil untuk Mengabdi pada Desa Adat Ketertarikan dengan adat tidak datang dengan tiba-tiba. Masa kecil, masa remaja sampai dengan SMA, ia sering berinteraksi dengan pamannya, Pemangku Pura Dalem Desa Adat Kuta yang dipanggilnya Wa Pemangku. Ia sering berdiskusi dan mendengarkan tutur (cerita yang berisi nasehat) dari pamannya itu yang mengandung muatan adat dan agama. Awalnya sekitar usia anak SMP ia berkunjung ke rumah pamannya yang terletak di sebelah selatan rumahnya. Ia ditanya pamannya tentang pelajaran Agama Hindu di sekolah. Karena tidak siap dengan pertanyaan itu, ia menjawab tidak tahu. Kesempatan berikutnya ketika datang ke rumah pamannya ia mempersiapkan diri untuk belajar pelajaran Agama Hindu agar bisa menjawab ketika ditanya pamannya. Ketika ditanya ia pun menjawab pertanyaannya sesuai dengan ia baca di buku pelajaran sekolah. Jawabannya diledek oleh pamannya, sambil pamannya memberikan pengembangan-pengembangan. Ketika dewasa ia baru mengerti bahwa pamannya itu menginginkan agar ia tidak memahami agama dengan kaku.

Pamannya memberikan tutur dengan mengajaknya untuk berfikir. Suatu hari saat usia SMA ia ditanya oleh pamannya.

72

Danghyang Nirarta ketika di Bali diangkat sebagai penasehat raja oleh Raja Bali, Dalem Waturenggong. Perjalanan dari Dang Hyang Nirarti dan syairnya kemudian dijadikan rujukan untuk meyakini kesucian Teluk Benoa.

―Yang mana yang akan menjadi istri pertamamu?‖ Wayan kebingungan dan menjawab seasalnya ―perempuan‖. Pamannya menjawab bukan itu jawabannya. Lebih lanjut pamannya berujar bahwa istri pertama adalah kemampuan, baru selanjutnya baru lawan jenis. Kemampuan yang terlebih dulu harus dikejar karena itu akan dibawa sampai mati. Kalau kemampuanmu bagus (kebisan) maka istri juga akan bagus dan begitu sebaliknya. Percakapan-percakapan seperti itulah yang membentuknya menjadi pribadi dapat mengembangkan gagasan dan kearifan, sesuatu yang kemudian tampak ketika ia memimpin Banjar Buni dan Desa Adat Kuta.

Keaktifannya dalam kepemimpinan adat di Desa Adat Kuta bukanlah sesuatu yang ia cita-citakan. Penempatan tugas pertamanya di Penggadaian justru di tempat yang jauh dari desa adatnya yaitu di Pulau Sumbawa. Ada peristiwa yang ia alami pada tahun 1994 yang beberapa tahun setelahnya ia artikan sebagai panggilan dari alam niskala untuknya agar berpindah ke Bali. Ia bermimpi didatangi oleh pamannya yang sudah meninggal dunia tahun 1992 dan disuruh untuk menghaturkan kain putih kuning di Pura Dalem Kuta. Ia kemudian terbangun di pagi harinya dan sudah harus bersiap-siap untuk bekerja. Siangnya harinya ia menerima telepon masuk di kantornya. Seseorang berencana untuk menggadaikan emasnya seberat 6 kg dan berjanji akan mendatangi kantornya sejam kemudian. Penelpon itu bertanya kepadanya tentang prosedur menggadaikan emasnya itu. Ia tidak menganggap itu sebagai orang iseng ataupun omong kosong. Ia tetap memberikan penjelasan sebagai prosedur untuk menggadaikan barang, walapun dalam hatinya dia bertanya siapa orang di kota kecil di Sumbawa yang punya emas 6 kg. Penelpon itu meminta identitas Wayan dan sejam kemudian penelpon itu memang datang ke kantornya.

Ternyata, yang datang bukanlah orang yang akan menggadaikan 6 kg emas, tetapi pejabat Perum Penggadaian yang

menyamar untuk menguji standar pelayanan dari pegawai. Wayan kemudian dipanggil oleh Pejabat Perum Pengadaian tersebut yang bernama Dedi Kuspedi, Direktur Operasional Perum Pegadaian. Rupanya pejabat Pengadaian itu masih ingat dengan Wayan yang

Dalam dokumen MEMAHAMI I WAYAN SWARSA (Halaman 46-63)

Dokumen terkait