BAB 2 DESA ADAT DAN DESA ADAT KUTA
2.2 Desa Adat Kuta
Secara administrasi pemerintahan, Desa Adat Kuta terletak di Kelurahan Kuta Kecamatan Kuta Kabupaten Badung. Namun wilayah Desa Adat Kuta tidak sama persis dengan wilayah Kelurahan Kuta. Ada satu lingkungan dalam keluarahan Kuta yaitu Lingkungan Abian Base yang bukan merupakan wilayah Desa Adat Kuta namun merupakan wilayah Desa Adat Denpasar. Desa Adat Kuta memiliki luas 639 ha. Luas ini belum termasuk hutan bakau seluas 80 ha.43 Desa Adat Kuta terdiri dari 13 banjar yaitu Banjar Jaba Jero, Banjar Pande Mas, Tegal, Teba Sari, Buni, Pemaron, Pengabetan, Pering, Temacun, Pelasa, Segara, Anyar, Mertha Jati. Kuta adalah desa pesisir dengan ketinggian 3-5 meter dari permukaan laut ini berbatasan dengan: Desa Adat Legian di sebelah Utara; Desa Adat Pemogan dan hutan bakau di Teluk Benoa di sebelah Timur, Desa Adat Tuban di sebelah Selatan; dan Samudera Hindia di sebelah Barat. Wilayah Desa Adat Kuta seperti tampak dalam peta di bawah ini:
42 Istilah pasidikaran juga disampaikan oleh subyek penelitian.
Peta Desa Adat Kuta di dalam Kecamatan Kuta44
Desa Adat Kuta mengeluarkan dokumen yang bernama Eka Likita Desa Adat Kuta yang mencakup cerita dari warga desa adat tentang sejarah desanya dengan mengambil sumber dari prasasti dan cerita turun temurun. Dalam dokumen itu disebutkan Desa Adat Kuta mulai dihuni oleh masyarakat dari desa di luar Bali, sejak kedatangan Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit pada tahun 1334. Jalur laut merupakan jalur yang ditempuh oleh dari tokoh-tokoh dari Jawa tersebut. Menurut I Wayan Swarsa,45 kecil kemungkinan pada masa lalu orang-orang dari Jawa datang ke Bali lewat jalur darat. Yang paling mungkin adalah jalur laut. Mereka yang melalui laut Selatan Bali berlabuh di Pantai Perahu Pantai Perahu yang sekarang terletak di Banjar Segara, Desa Adat Kuta. Dari Pantai Perahu itu kemudian orang-orang dari Jawa pada jaman dahulu menyeberang ke Teluk Benoa pada saat air pasang. Dulunya daerah di sekitar Desa Adat Tuban dan Desa Adat Kelan adalah dataran pasang surut.46 Saat air pasang, Pulau Bali terpisah oleh
44 BPS Kabupaten Badung, ―Kecamatan Kuta Dalam Angka 2016‖ (Mangupura, 2016).
45
Wawancara dengan Jero Bendesa Kuta, Wayan Swarsa, 20 April 2018.
46 Pada tahun 1960-an, daratan pasang surut ini diurug menjadi bagian dari Jalan by pass Ngurah Rai.
laut. Pada saat itulah orang-orang Jawa yang tadinya berlabuh di Pantai Perahu menggunakan akses laut di Teluk Benoa untuk menuju daerah-daerah lain di Pulau Bali47. Alur kedatangan dan persinggahan orang-orang Jawa ditunjukkan dengan nama-nama desa dan pura di kawasan ini yang menggunakan nama-nama tempat yang ada kaitannya dengan Jawa seperti Canggu, Tuban, dan Peti Tenget.48
Seperti yang dituturkan I Wayan Swarsa, di masa kuno, jalur laut adalah jalur yang paling mudah untuk menjangkau Bali dibandingkan dengan menggunakan jalur darat melalui Gilimanuk (ujung Pulau Bali yang lokasinya paling berdekatan dengan ujung Pulau Jawa). Bukti-atau jejak kedatangan orang Jawa ke Bali tidak ditemukan di Gilimanuk. Jalur darat saat itu kemungkinan memang tidak dipilih karena harus berhadapan dengan hutan lebat, binatang buas, serta harus menyeberangi sungai.
Nama Kuta identik dengan kedatangan Mahapatih Gadjah Mada ke Bali pada abad ke-14. Dalam ekspedisinya menyerang Kerajaan Bali Kuno, Gadjah Mada mendarat terlebih dulu di Pantai Pantai Perahu di wilayah Kuta. Pendaratan itu dimonumenkan dengan pendirian pura yang bernama Pura Sanggaran yang berasal dari kata ―sanggaran‖ yang berarti tempat berhenti. Nama Kuta adalah pemberian dari Sang Mahapatih pada wilayah yang menjadi tempat pendaratan pasukannya. Nama Kuta sendiri sebelumnya melekat dengan kitab hukum yang dibuat oleh Gadjah Mada dengan nama ―Kuta Manawa‖.49
Penduduk awal Desa Adat Kuta yang disebut dengan krama wed (penduduk asli) adalah orang-orang pendatang. Ini
47 Cerita mengenai sejarah Teluk Benoa sebagai lalu lintas tokoh-tokoh besar dan orang-orang suci dari Jawa adalah salah satu alasan bagi orang Kuta untuk menjadikan Teluk Benoa sebagai kawasan yang suci.
48 Desa Adat Kuta, ―Eka Likita Desa Adat Kuta‖ (Kuta, 2013).
terbukti dari fakta bahwa tidak ada satupun Pura Kawitan50 yang ada di Kuta.51 Migrasi penduduk ke Kuta terus bertambah seiring dengan tumbuhnya Kuta sebagai pelabuhan laut pada masa kerajaan dan masa kolonial serta ketika menjadi setra pembangunan industri pariwisata di masa republik. Migrasi yang datang ke Kuta tidak hanya dari orang-orang Hindu Bali namun juga berasal dari etnis lain seperti Cina, Bugis, Jawa, Madura, dan Sasak. Mereka membangun kampung berdasarkan komunitas etnis. Pemukiman orang-orang Hindu Bali pada masa kerajaan juga hidup mengelompok. Mereka membentuk membentuk sekaa suka duka52 yang kemudian secara gotong royong membangun balai pertemuan. Lama kelamaan balai pertemuan itu menjadi balai banjar. Lingkungan di sekitarnya lama kelamaan menjadi wilayah banjar.53 Penduduk Kelurahan Kuta pada tahun 2015 berjumlah 12.747.54 Penduduk yang beragama Hindu di Kelurahan Kuta menurut data tahun 2015 berjumlah 8.961 jiwa (70% dari total penduduk Kelurahan Kuta).55 Di tingkat desa adat jumlah krama adat Desa Adat kuta sampai tanggal 30 Juni 2016 berjumlah 2.205 KK.56
50 Pura Kawitan adalah pura untuk memuliakan leluhur yang menjadi cikal bakal dari suatu klan. Pura Kawitan dari satu klan hanya terdapat di satu tempat yang berhubungan dengan domisi atau tempat bertugas dari orang yang menurunan klan yang bersangkutan. Pura Kawitan dari Klan Pasek Gelgel ada di Pura Kawitan Pasek Gelgel di Kelungkung.
51 Desa Adat Kuta, ―Eka Likita Desa Adat Kuta.‖
52 Kelompok yang bergotong royong melaksanakan upacara yang digolongkan ―duka‖ seperti kematian serta upacara yang digolongkan sebagai ―suka‖ seperti pernikahan.
53 Desa Adat Kuta, ―Eka Likita Desa Adat Kuta.‖
54 Untuk mengetahui jumlah penduduk di Desa Adat Kuta, jumlah itu harus dikurangi dengan jumlah penduduk Lingkungan Abianbase yang merupakan bagian dari Kelurahan Kuta namun bukan bagian dari Desa Adat Kuta.
55 Sumber: Laporan Kelurahan Kuta 2015. Dalam laporan ini angka-angka mendekati angka komposisi penganut agama di Desa Adat Kuta karena satu lingkungan dalam Kelurahan Kuta yaitu Lingkungan Abian Base, tidak masuk dalam wilayah Desa Adat Kuta.
56 Desa Adat Kuta, ―Profil Desa Adat Kuta,‖ accessed July 21, 2018, https://www.kuta.web.id/portal/profil.php.
Sebelum menjadi pusat pariwisata internasional, Kuta memiliki sejarah sebagai tempat pertemuan orang-orang dari berbagai negara. Kuta pada jaman kerajaan merupakan salah satu pelabuhan laut di Bali. Pada sekitar tahun 1620-an, Raja Gelgel57 memberikan ijin pada pedagang Belanda untuk mendirikan pos dan pergudangan di Kuta untuk menyimpan barang-barang sebelum diperdagangkan ke tempat-tempat lainnya. Posisi Kuta sebagai pusat perdagangan pada saat itu menarik perhatian orang-orang untuk datang ke Kuta untuk mencari sumber penghidupan.58 Arus migrasi ke Kuta menjadi semakin tinggi semenjak Kuta tumbuh menjadi destinasi wisata mulai tahun 1969. Disamping memiliki pasir putih yang indah, posisi Kuta sebagai destinasi wisata juga ditunjang dengan jarak bandar udara yang dekat dan sarana akomodasi pariwisata di Kuta yang sangat baik. Banyak warga pendatang baik dari Bali maupun luar Bali yang mencari sumber penghasilan di Kuta dari sektor pariwisata. Sebagian dari mereka menetap dan membentuk komposisi penduduk Kuta sampai dengan sekarang ini.
Desa Adat tidak hanya menjalankan kegiatan tradisi seperti umumnya desa adat di Bali namun juga memiliki peran ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Semenjak tahun 1999, Desa Adat Kuta mengambil alih pengelolaan Pantai Kuta yang sebelumnya dipegang oleh Puskopad.59 Dalam mengelola Pantai Kuta, Desa Adat Kuta mengambil peran untuk mengatur posisi tempat kegiatan
57 Gelgel adalah nama kerajan di Kelungkung. Sebelum Bali terpecah menjadi kerajaan-kerajaan yang lebih kecil, penguasa Bali adalah Kerajaan Majapahit yang berhasil mengalahkan Kerajaan Bali Kuno Bedahulu pada abad ke-14. Kerajaan Gelgel adalah perwakilan dari Kerajaan Majapahit di Bali. Ketika Kerajaan Majapahit runtuh pada abad ke-15, Raja Kerajaan Gelgel menjadi penguasa Bali dengan tidak lagi menjadi raja bawahan Kerajaan Majapahit.
58 A.A Gde Putra Agung, A.A Bagus Wirawan, and Sri Sutjiatiningsih, Puputan Badung 20 September 1906 Perjuangan Raja dan Rakyat Melawan Kolonialisme Belanda (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1999), 50.
59
Pengambilalihan pengelolaan pantai dilakukan dalam momentum reformasi politik di tahun 1998/1999. Pengelolaan Pantai Kuta oleh Puskopad sebenarnya baru berakir tahun 2009.
antara lain tempat nelayan, tempat berjualan, tempat melasti, dan tempat rekreasi. Desa Adat Kuta juga menerapkan tata tertib untuk kebersihan pantai dengan mewajibkan para pedagang pantai untuk membersihkan sampah di sekitar tempatnya berjualan. Disamping itu, Desa Adat Kuta melibatkan warga setempat untuk menjadi petugas kebersihan. Untuk menjaga ketertiban di Pantai Kuta, desa adat melibatkan warga lokal untuk terlibat dalam satuan tugas pengamanan.60
Desa Adat Kuta ikut menjadi pelaku usaha dalam perekonomian di Kuta. Desa Adat Kuta memiliki beberapa aset diantaranya adalah Pasar Seni Desa Adat Kuta yang terletak di Jalan Dewi Sartika yang terdiri dari 201 toko. Pedagang yang berjualan di pasar seni ini adalah warga Desa Adat Kuta dan warga pendatang. Dari pasar seni tersebut, Desa Adat Kuta memperoleh pemasukan yang berasal dari retribusi dan kontrak toko. Selain Pasar Seni, Desa Adat Kuta juga memiliki toko yang dikontrak oleh warga Desa Adat Kuta dan pedagang lainnya, yaitu sebagai berikut: toko yang terletak di Jalan Poppies II, sebanyak 27 toko; toko yang terletak di Jalan Singosari Kuta, banyaknya 20 toko; dan toko yang terletak di Jalan Blambangan Kuta, banyaknya 17 toko.
61
Dari segi pemerintahan adat, menurut awig-awig Desa Adat Kuta, yang termasuk prajuru (pengurus) di Desa Adat Kuta adalah bendesa adat, penyarikan (sekretaris), patengen (bendahara), pangliman (wakil bendesa adat), di bidang parhyangan, pawongan, palemahan serta kelihan banjar. Sejak tahun 2013 Desa Adat Kuta menambahkan kertha desa dalam struktur pemerintahan desa adat yang berperan untuk memberikan pertimbahan kepada prajuru desa adat.
Awig-awig juga melarang adanya rangkap jabatan dalam struktur adat. Warga Desa Adat Kuta memilih bendesa adat (ketua
60 Wawancara dengan Bendesa Adat Kuta Wayan Swarsa, 20 April 2018.
prajuru) setiap 5 tahun sekali, yang bermula dari pembentukan formatur atau panitia. Panitia ini berasal dari utusan masing-masing banjar. Masing-masing banjar mengajukan calon bendesa adat. Nama-nama yang muncul dari masing-masing banjar tersebut kemudian menjadi calon bendesa yang kemudian dipilih secara langsung oleh warga adat. Calon yang mendapatkan suara terbanyak diangkat menjadi bendesa adat.
Bagan Struktur Pemerintahan Desa Adat Kuta62
Bendesa Adat Kuta disamping memiliki tugas-tugas sebagaimana umumnya bendesa adat di Bali, Bendesa Adat Kuta juga menjadi pengayom berbagai paiketan (asosiasi profesi dalam ranah adat) seperti paiketan pemangku,63 paiketan sarati64, dan paiketan pecalang65. Tugas pengayoman juga dimiliki oleh Bendesa Adat Kuta atas berbagai sekaa di wilayah Desa Adat Kuta
62 Diadopsi dari Desa Adat Kuta, ―Eka Likita Desa Adat Kuta‖ (Kuta, 2013) dan Desa Adat Kuta, ―Awig-Awig Desa Adat Kuta‖ (Kuta, n.d.). Pada tahun 2013, Desa Adat Kuta menambahkan struktur Kertha Desa pada struktur pemerintahan adatnya.
63 Pemangku adalah rohaniawan yang bertugas memimpin upacara persembahyangan di suatu pura tertentu.
64
Sarati adalah orang yang ahli dalam membuat banten (sesajen). Umumnya sarati adalah perempuan.
65 Pecalang adalah aparat keamanan desa adat.
Patengen Penyarikan Bendesa Adat (Ketua Prajuru) Pangliman Parhyangan Pangliman Pawongan Pangliman Palemahan Kertha Desa
seperti sekaa santi66, sekaa gong.67 Bendesa Adat Kuta juga menjadi pengayom pada organisasi-organisasi yang dibentuk atas dasar awig-awig seperti organisasi pengelola pasar seni.68 Di LPD (Lembaga Perkreditan Desa) Bendesa Adat Kuta duduk sebagai pembina dan ketua pengawas.69
66 Sekaa santi atau sering juga disebut sekaa kidung adalah kelompok penggiat kesenian menyangi tembang Bali klasik yang umumnya menggunakan Bahasa Bali halus ataupun Bahasa Kawi (Jawa Kuno).
67
Sekaa santi dan sekaa gong di tingkat desa adat adalah gabungan dari sekaa santi dan sekaa gong yang ada di tingkat banjar, mereka sudah berlatih di banjar-nya masing-masing. Sekaa di tingkat desa koordinasi antar sekaa di tingkat banjar. Seperti dinyatakan dalam Adiputra, ―Pemertahanan Agama Hindu di Desa Adat Kuta Sebagai Representasi Kampung Global,‖ 160.
68 Ibid, 168.