• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMAHAMI I WAYAN SWARSA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MEMAHAMI I WAYAN SWARSA"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

i

MEMAHAMI I WAYAN SWARSA

(Bendesa Adat Kuta 2013-2018):

Penjabaran Pengetahuan Kula Kanti Jagat Bali

dalam Gerakan Desa Adat/Pakraman Bali

Tolak Reklamasi Teluk Benoa

Penulis: I Made Anom Wiranata, SIP. MA Editor: Dr. Ni Made Ras Amanda Gelgel, S.Sos. M.Si

PENERBIT JDS SURABAYA 2018

(2)

ii

MEMAHAMI I WAYAN SWARSA

(Bendesa Adat Kuta 2013-2018):

Penjabaran Pengetahuan Kula Kanti Jagat Bali dalam Gerakan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa

Penulis :

I Made Anom Wiranata, SIP. MA

Editor:

Dr. Ni Made Ras Amanda Gelgel, S.Sos. M.Si Surabaya: Penerbit JDS 2018

Vii+144 hlm

ISBN : 978-602-53023-3-6

Hak cipta pada pengarang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa seizin dari penerbit

Cetakan Pertama, 2018 Hak penerbitan

Penerbit JDS Surabaya

Dicetak di CV. JAUHAROH DARUSALAM

Penerbit JDS

Jl. Jemur Wonosari Lebar 61 Wonocolo, Surabaya-60237 Telp. 085649330626

(3)

iii

KATA PENGANTAR PENULIS

Om Swastyastu,

Telah lama literatur dalam gerakan sosial diisi oleh analisa yang melihat gerakan sosial seolah-olah sebagai entitas yang bergerak dalam panggung sejarah dan mengabaikan pentingnya subyek. Tulisan dalam buku ini tidak melihat gerakan sosial sebagai entitas, namun sebagai subyek-subyek atau individu-individu mengkonstruksikan makna dan saling berinteraksi di dalamnya membentuk suatu makna kolektif.

Setiap subyek yang terlibat dalam gerak tolak reklamasi Teluk Benoa tentu memiliki pemaknaan sendiri-sendiri atas sisi dari hidupnya yang telah didedikasikan untuk berkecimpung dalam gerakan yang berlangsung begitu lama. Penulis dalam buku ini menghadirkan pemahaman Penulis akan sikap, pikiran, dan tindakan dari seorang subyek dalam gerakan menolak reklamasi Teluk Benoa yaitu I Wayan Swarsa, Bendesa Adat Kuta (2013-2018) yang juga adalah Koordinator Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Buku itu bukanlah buku biografi namun buku yang menceritakan tentang satu sisi hidupnya yaitu menolak reklamasi Teluk Benoa. Sisi hidupnya dalam menolak reklamasi Teluk Benoa tidak terlepas dari pengalaman sejarah dirinya yang membentuk sikap, pikiran, dan tindakannya pada saat melakukan gerakan menolak reklamasi. Buku ini tidak dibuat dalam rangka memuji Jero Bendesa Wayan Swarsa, namun dibuat semata-mata untuk memahami pengalaman subyek.

Sikap, pikiran, dan tindakannya tersebut juga tidak bisa dipisahkan dari dunia kehidupan seorang pengayah adat yang berada dalam ranah adat Bali yang diilhami oleh Agama Hindu. Oleh karena itu, memahami seorang I Wayan Swarsa harus pula mengetahui latar belakang desa adat dan latar belakang Agama Hindu Bali Atas alasan itulah dalam bagian buku ini, desa adat dan

(4)

iv

landasan kepercayaan Agama Hindu juga dibahas terutama yang berhubungan dengan keyakinan kebenaran akan kesucian dari suatu kawasan.

Data dari buku ini diambil dari transkrip penelitian disertasi Penulis yang masih dalam proses. Data yang diambil dalam pembuatan buku ini bersumber dari wawancara Penulis dengan subyek yang bersangkutan dengan tema pengalaman subyektif dalam gerakan desa adat menolak reklamasi Teluk Benoa. Oleh karena ruang lingkup penelitiannya dibatasi pada gerakan desa adat dari tahun 2015-2017, penulis tidak membahas pengalaman subyek dalam gerakan di luar rentang waktu itu. Semoga buku ini dapat menghadirkan pemahaman tentang subyek I Wayan Swarsa dengan segenap dinamika dan secara umum dapat bermanfaat untuk memahami manusia yang berperan dalam gerakan sosial.

Om Shanti Shanti Shanti Om,

Surabaya, 15 Oktober 2018

(5)

v

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR PENULIS ... iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Pro Kontra Rencana Reklamasi Teluk Benoa ... 1

1.2. Desa Adat dalam Gerakan Tolak Reklamasi ... 10

1.3. Makna Kula Kanti ... 11

1.4. Makna Tempat dan Kawasan Suci ... 14

1.5. Fenomenologi, Membaca Pergulatan Makna Subyek ... 17

BAB II SEJARAH DESA ADAT KUTA 2.1. Desa Adat ... 23

2.2. Desa Adat Kuta ... 29

BAB III PROFIL I WAYAN SWARSA 3.1. Kelahiran Pendidikan, dan Pekerjaan ... 37

3.2. Pengalaman Spiritual ... 38

Terlahir dengan Kemampuan Intuisi ... 38

Koma dalam Waktu Bersamaan dengan Guru Penuntunnya ... 42

Touring dengan Sepeda Motor... 44

Momentum Kehidupan Spiritual... 45

Merasa Terpanggil untuk Mengabdi pada Desa Adat ... 48

Kehidupan Sosial Ekonomi... 52

BAB IV PROSES MENOLAK REKLAMASI TELUK BENOA: MENGAPA MENOLAK? 4.1. Desakan untuk Mengambil Sikap Menolak di Internal Desa Adat ... 55

4.2. Menunggu Alasan yang Tepat ... 57

4.3. Pertemuan Sebelumnya dengan Sugih Lanus yang Tidak Direncanakan ... 59

(6)

vi

4.5. Paruman Desa Adat untuk Menentukan Sikap ... 64

4.6 Interaksi dengan ForBali ... 66

4.7. Sepaham dengan Temuan Sugih Lanus ... 68

Campuhan Agung ... 68

Titik Temu Parhyangan di Daratan Sekitarnya ... 68

4.8. Sugih Lanus sebagai Narasumber Paruman ... 74

4.9. Teluk Benoa: Kesucian karena Simpul Peradaban Spiritual Jawa-Bali ... 79

4.10. Pembangkitan Nusantara ... 83

4.11. Dampak Sosial, Lingkungan, dan Ekonomi ... 85

BAB V PENGALAMAN DALAM GERAKAN 5.1. Makna Menjadi Orang Bali... 87

5.2. Tidak Ada Alasan yang Relevan untuk Mengurug Teluk Benoa ... 88

5.3. Rapat AMDAL: Aspek Sosial Budaya yang dari Awal Diabaikan ... 90

5.4. Memaknai Ulang Kebenaran dari Lembaga-Lembaga Modernitas ... 91

Reklamasi sebagai Produk dari Lembaga Modernitas ... 92

Peran Gubernur dalam Perpres No. 51 Tahun 2014 ... 94

DPRD Bali yang Tidak Punya Sikap ... 97

Ilmuwan yang Beda Temuan ... 98

Ketidakpercayaan pada Investor ... 100

6.5. Pasubayan Desa Adat/Pakraman ... 101

Awal Pembentukan ... 101

Mobilisasi Desa Adat Kuta ... 107

Konsistensi Gerakan ... 108

Pengerahan Massa Adat – Manifestasi Penolakan ... 112

Perjuangan dengan Cara Adat ... 113

6.6. Sikap Independen dan Kestabilan Emosi ... 119

6.7. Pernah Dilarang Ikut Demonstrasi oleh Aparat ... 124 6.8. Merespon Tuduhan dan Argumentasi dari Pihak

(7)

vii

Lawan ... 126 6.9. Mengapa Menentang Guru Wisesa (Pemerintah)? ... 134 6.10. Memperkirakan Sikap Jokowi ... 137

(8)
(9)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Pro Kontra Rencana Reklamasi Teluk Benoa

Rencana reklamasi Teluk Benoa berawal dari oleh kebijakan negara yang tertuang Perpres No. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025. Di antara enam koridor dalam MP3I, Bali bersama NTB dan NTT dimasukkan dalam koridor V. Ketiga provinsi ini difokuskan dalam peningkatan investasi di bidang pariwisata, perikanan, dan peternakan. Laporan perkembangan MPE3I koridor V pada tahun 2013 menyebutkan bahwa Teluk Benoa ditetapkan sebagai Kawasan Perhatian Investasi (KPI) dengan rencana reklamasi Teluk Benoa. Laporan MP3EI tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi yaitu:

1. Percepatan penerbitan Perda RTRW Kabupaten Badung untuk mengakomodasi investasi PT. Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI);

2. Percepatan penetapan rencana zonasi Kawasan Teluk Benoa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan;

3. Percepatan penerbitan izin pelaksanaan reklamasi oleh Menteri Kelautan dan Perikanan.

Di tingkat nasional, rekomendasi dari Laporan MP3EI ditindaklanjuti dengan dua Peraturan Menteri (Permen) yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang memberi peluang bagi rencana reklamasi di wilayah pesisir. Permen yang pertama adalah Permen Nomor 12/PERMEN-KP/2013 tentang Pengawasan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang di dalamnya juga telah membagi zona kawasan konservasi perairan menjadi beberapa zona yakni zona inti, zona perikanan berkelanjutan, zona pemanfaatan dan zona lainnya (Pasal 26 ayat (2). Yang kedua adalah Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17/PERMEN-KP/2013 tentang Perizinan Reklamasi di Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil

(10)

yang pada pokoknya memperbolehkan adanya reklamasi di kawasan konservasi sepanjang bukan di zona inti konservasi.

Di tingkat lokal di Bali, geliat upaya menuju reklamasi Teluk Benoa tampak dari ditandatanganinya surat perjanjian kerjasama antara PT. TWBI dan LPPM UNUD untuk pembuatan kajian kelayakan reklamasi Teluk Benoa pada tanggal 1 Oktober 2012. Gayung bersambut, DPRD Bali pada tanggal 20 Desember 2012 menerbitkan rekomendasi untuk tindak lanjut kajian kelayakan oleh LPPM UNUD dengan nomor 660.1/142781/DPRD. Atas dasar rekomendasi tersebut Gubernur Bali kemudian mengeluarkan SK Nomor: 2138/02-C/HK/2012 tentang tentang Izin dan Hak Pemanfaatan, Pengembangan dan Pengelolaan Wilayah Perairan Teluk Benoa kepada PT. TWBI pada tanggal 26 Desember 2012. Keputusan itu memberikan izin kepada PT. TWBI, anak perusahaan Group Artha Graha, untuk mengelola Teluk Benoa seluas 838 hektare selama 30 tahun dan dapat diperpanjang lagi selama 20 tahun.

Tidak lama berselang pada tanggal 1 Januari 2013, koran online bisnis.com yang berpusat di Jakarta memberitakan tentang konsorsium perusahaan multinasional yang akan membangun proyek reklamasi di Teluk Benoa yang difungsikan untuk resor, marina, dan sirkuit Formula 1 dengan total lahan seluas 100 hektare.1 Berita itu bagi Direktur Eksekutif WALHI Bali, Wayan Gendo Suardana, adalah berita yang tendensius. Baginya lahan 100 hektar tidak mungkin didapatkan di sekitar Teluk Benoa, kecuali dengan cara reklamasi. Menurutnya, reklamasi juga tidak mungkin secara hukum karena bertentangan dangan Perpres No. 45 Tahun 2011. Perpres itu ditandatangani oleh Presiden SBY yang

1 Bisnis.com, ―Konsorsium Multinasional Akan Bangun SIRKUIT FORMULA 1

Di Teluk Benoa Bali,‖ January 1, 2013,

http://sport.bisnis.com/read/20130101/59/300/konsorsium-multinasional-akan-bangun-sirkuit-formula-1-di-teluk-benoa-bali, accessed July 3, 2017.

(11)

mengkategorikan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi.2 Sangkaan itu mendapatkan konfirmasi ketika pada tanggal 28 Juni 2013, aktivis lingkungan di Bali mendapatkan salinan studi kelayakan reklamasi Teluk Benoa yang dilakukan oleh LPPM UNUD. Dokumen itu menunjukkan adanya rencana reklamasi Teluk Benoa seluas 400 hektar untuk membangun sarana wisata alam dan bahari.3

Dengan adanya dokumen dan pemberitaan-pemberitaan tersebut, WALHI pada bulan Juli 2013 kemudian mengambil kesimpulan bahwa sedang ada upaya serius untuk mereklamasi Teluk Benoa untuk tujuan bisnis.4 Salah satu langkah untuk memuluskan rencana reklamasi Teluk Benoa itu adalah melalui SK Gubernur Bali Nomor: 2138/02-C/HK/2012. Sekelompok aktivis masyarakat sipil dalam payung KEKAL berdemonstrasi di depan kantor Gubernur Bali pada tanggal 31 Juli 2013 menuntut Gubernur Bali mencabut SK tersebut. Alasannya adalah SK Gubernur tersebut bertentangan dengan Perpres No. 45 Tahun 2011 yang menjadikan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi. Aksi penolakan juga dilakukan ratusan warga Tanjung Benoa yang berunjuk rasa di tengah laut perairan Tanjung Benoa, menolak reklamasi Teluk Benoa. Dengan menggunakan perahu nelayan dan perahu cepat, warga membentangkan berbagai spanduk meminta Gubernur Bali mencabut SK Nomor 2138/02-C/HK/2012 tentang pemberian izin reklamasi Teluk Benoa.

Atas desakan dari masyarakat yang berdemonstrasi dan desakan dari DPRD Bali, Gubernur Bali pada tanggal 16 Agustus 2013 mencabut SK 2138/02-C/HK/2012, namun justru

2

Taufik Subarkah, ―Menguruk Benoa,‖ Tirto.co.id, September 16, 2016, https://tirto.id/menguruk-benoa-bKUN, accessed July 2, 2017.

3 Ade Faizal Alami and Birny Birdieni, ―Konservasi Untuk Reklamasi,‖

Majalah.gatra.com, June 2014, http://majalah.gatra.com/2014-06-23/majalah/artikel.php?pil=23&id=157006, accessed July 3, 2017.

4 Wawancara dengan salah seorang perintis gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa

(12)

menerbitkan SK 1727/01-B/HK/2013 tentang Izin Studi Kelayakan Rencana Pemanfaatan, Pengembangan dan Pengelolaan Wilayah Perairan Teluk Benoa kepada PT. TWBI selama dua tahun. Para penggiat penolak reklamasi menilai SK Gubernur yang baru itu sebagai langkah untuk memuluskan reklamasi Teluk Benoa.

Pro-kontra rencana reklamasi Teluk Benoa juga terjadi pada level Pendidikan Tinggi yaitu di Universitas Udayana. Ketika LPPM UNUD mengeluarkan draft laporan final studi kelayakan yang menyatakan bahwa reklamasi Teluk Benoa layak bersyarat pada tanggal 19 Agustus 2013, keesokan harinya muncul tim reviewer UNUD yang menyatakan reklamasi itu tidak layak. Sikap UNUD secara institusi akhirnya menyatakan reklamasi tidak layak. Keputusan itu diambil dalam rapat Senat Universitas Udayana pada tanggal 2 September 2013.5

Di tingkat internal desa adat, kontestasi yang sengit terjadi antara kelompok yang pro dan kontra reklamasi di Desa Adat Tanjung Benoa. Desa adat ini adalah desa penyangga Teluk Benoa yang kehidupannya masyarakat paling terpengaruh dengan adanya reklamasi. Bendesa Adat saat itu yaitu Nyoman Wana Putra diduga mendukung reklamasi oleh masyarakat setempat. Sempat beredar bocoran perjanjian rahasia yang mulai berlaku 8 Maret 2013 antara Desa Adat Tanjung Benoa yang diwakili oleh Bendesa Adat Wana Putera dengan PT. TWBI. Perjanjian rahasia yang dibuat di hadapan notaris Evy Susanthi itu intinya memposisikan Desa Adat Tanjung Benoa sebagai pihak yang mengamankan proyek reklamasi Teluk Benoa dengan imbal balik pihak investor PT. TWBI akan mereklamasi dan memperluas Pulau Pudut yang telah mengalami abrasi. Sikap Bendesa yang diam-diam mendukung reklamasi itu, mendapat penentangan dari warga Tanjung Benoa.

5 Ni Luh Rhismawati, ―Unud Putuskan Reklamasi Teluk Benoa Tidak Layak,‖

Antara.news.com, September 3, 2013,

http://www.antarabali.com/berita/43332/unud-putuskan-reklamasi-teluk-benoa-tidak-layak, accessed July 8, 2017.

(13)

Dalam rapat sabha desa (dewan perwakilan desa)6 pada tanggal 14 Agustus 2013, anggota sabha desa memutuskan untuk menganulir perjanjian rahasia Desa Adat Tanjung Benoa dengan TWBI sekaligus memutuskan untuk menolak reklamasi Teluk Benoa.7

Di pihak yang berlawanan, warga yang pro-reklamasi melakukan demonstrasi balasan di Gedung DPRD pada tanggal 16 Oktober 2013. Puluhan orang-orang Tanjung Benoa yang menamakan diri ―Bali Harmoni‖ tersebut menuntut agar Teluk Benoa segera direvitalisasi untuk mengindari ancaman kerusakan lingkungan bahkan ancaman tenggelam.8 Istilah revitalisasi yang digunakan oleh aksi itu serupa dengan konsep yang dipromosikan oleh PT. TWBI. Revitalisasi itu dimaksudkan bahwa reklamasi tidak saja untuk pembangunan ekonomi namun juga secara bersamaan memperbaiki hutan mangrove dan menangani masalah sampah di Teluk Benoa.

Posisi kelompok pro-reklamasi Teluk Benoa mengalami penguatan dengan keluarnya Perpres No. 51 Tahun 2014 tentang Perubahan Perpres Nomor 45 Tahun 2011 tentang Tata Ruang Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan yang juga ditandatangani oleh Presiden SBY pada tanggal 30 Mei 2014. Perpres yang baru ini mengubah kawasan Teluk Benoa yang semula diperuntukkan untuk konservasi berubah menjadi kawasan atau zona pemanfaatan. Artinya Teluk Benoa dapat direklamasi untuk pemanfaatan kepentingan komersial. Ratusan massa yang tergabung dalam

6 Sabha desa lembaga dalam pemerintahan Desa Tanjung Benoa yang

merupakan perwakilan dari semua banjar adat. Banjar adat adalah sub bagian dari desa adat.

7 ―Tanjung Benoa Resmi Tolak Reklamasi,‖ Bali Post, October 1, 2013,

https://www.facebook.com/balipost/posts/540452259354753, acessed June 20, 2017.

8

IGR Suryana, ―‗Bali Harmoni‘ Dukung Reklamasi Tanjung Benoa,‖

Inilahbali.com, October 18, 2013, http://inilahbali.com/2013/10/18/bali-harmoni-dukung-reklamasi-tanjung-benoa/, accessed July 4, 2017.

(14)

ForBali9 (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi) berdemonstrasi di depan kantor Gubernur Bali pada tanggal 8 Agustus 2014, dikooordinir oleh Wayan Gendo Suardana.10

Perpres 51 Tahun 2014 itu menjadi angin segar yang menambah kepercayaan diri kelompok pro-reklamasi. Mereka menyambut Perpres itu dengan aksi demonstrasi pada tanggal 27 Agustus 2014 sebagai bentuk dukungan pada Perpres tersebut. Kelompok pendukung reklamasi tersebut berasal dari berbagai organisasi seperti Forum Bali Harmoni (FBH), Aksi Elemen Patra Bali, GASOS (Gerakan Solidaritas Sosial Bali), Asosiasi Sopir Pariwisata Bali, dan Forbara (Forum Relawan Bali Mandara).11 Forbara adalah organisasi pendukung Mangku Pastika ketika maju untuk Pilkada Gubernur Bali pada tahun 2013.

Payung hukum reklamasi Teluk Benoa berupa Perpres No. 51 Tahun 2014 tidak menyurutkan aksi penolakan terhadap reklamasi. Alih-alih menyurut, gerakan menolak reklamasi justru semakin banyak dan bersebaran di berbagai tempat. Aksi massa penolakan reklamasi tidak hanya terjadi di Tanjung Benoa namun bermunculan di tempat lain seperti di Banjar Kedaton Desa Adat Kesiman pada tanggal 7 September 2014. Dua hari kemudian aksi penolakan juga dilakukan oleh kalangan rohaniawan dengan melakukan upacara agama di Teluk Benoa yang dipimpin oleh 17 sulinggih (pendeta Hindu). Upacara itu bertujuan untuk mendoakan agar para petinggi daerah ataupun negara dapat segera membatalkan rencana reklamasi yang dirasa akan menimbulkan berbagai dampak buruk. Kelompok masyarakat Tanjung Benoa

9 Nama ForBali kemudian menjadi nama yang populer bagi kelompok penentang

reklamasi Teluk Benoa.

10

Rohmat, ―Teken Perpres Muluskan Reklamasi, SBY Kecewakan Warga Bali,‖ Sindonews.com, August 8, 2014,

https://daerah.sindonews.com/read/889301/27/teken-perpres-muluskan-reklamasi-sby-kecewakan-warga-bali-1407484061, accessed June 21, 2017.

11

―Sejumlah Ormas Bali Dukung Reklamasi Teluk Benoa,‖ Detik.com, August 27, 2014, https://news.detik.com/adv-nhl-detikcom/d-2673477/sejumlah-ormas-bali-dukung-reklamasi-teluk-benoa/komentar, accessed July 4, 2017.

(15)

yang menolak reklamasi yaitu kelompok Tanjung Benoa Tolak Reklamasi (TBTR) dan Aliansi Pengusaha Water Sports Tanjung Benoa turut menyaksikan acara tersebut.12 Mereka mendukung acara tersebut dengan mengenakan baju beridentitas tolak reklamasi.

Isu reklamasi Teluk Benoa telah masuk ke ranah agama karena adanya perdebatan soal kesucian kawasan Teluk Benoa. Akibatnya, isu reklamasi ini masuk dalam agenda rapat Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Ketika isu tentang kesucian Teluk Benoa itu dibahas oleh PHDI pada bulan Oktober 2015, muncul seorang ahli sastra Jawa Kuno, Sugi Lanus, yang memaparkan hasil penelitiannya tentang kesucian kawasan Teluk Benoa. Ia mengambil kesimpulan bahwa Teluk Benoa adalah kawasan yang suci setelah melakukan kajian lontar, sejarah, wawancara dengan beberapa pemangku13, tokoh spiritual, dan masyarakat tentang pengetahuan tradisional dan kebiasaan turun temurun dalam melakukan ritual-ritual keagamaan dan persembahyangan di tempat-tempat tertentu di kawasan Teluk Benoa.

Ia menyampaikan hasil penelitiannya tersebut dalam suatu diskusi yang berjudul ―Telaah Sosial Budaya Kawasan Suci Teluk Benoa‖di Denpasar pada tanggal 6 November 2015. Melalui forum itu ia mengingatkan kembali tentang pengertian kawasan suci yang sudah dirujuk oleh Perda Provinsi Bali No 16 Tahun 2009-2029 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali, yang disebutkan oleh Ketentuan Umum No 40, "Kawasan Suci adalah kawasan yang disucikan oleh umat Hindu seperti kawasan gunung,

12 Gede Nadi Jaya, ―17 Pendeta Pimpin Sembahyangan Tolak Reklamasi Teluk

Benoa,‖ Merdeka.com, September 9, 2014,

https://www.merdeka.com/peristiwa/17-pendeta-pimpin-sembahyangan-tolak-reklamasi-teluk-benoa.html, accessed July 1, 2017.

13 Rohaniawan yang sehari-sehari bertugas melaksanakan ritual keagamaan di

(16)

perbukitan, danau, mata air, campuhan (pertemuan dua arus sungai atau lebih), laut dan pantai".

Secara lebih spesifik, ia mendeskripsikan tentang Teluk Benoa dalam aspek kesejarahan dan kosmologi Hindu Bali. Dengan pemetaan digital yang menampilkan adanya 60 titik yang disucikan di kawasan Teluk Benoa yang saling terhubung antara satu titik suci dengan titik suci lainnya. Titik-titik suci itu terdiri dari: 24 pura yang menjadi tempat persembahyangan umat Hindu yang berada di kawasan Teluk Benoa; 19 loloan (pertemuan sungai dengan laut); dan 17 muntig (bagian teluk yang menjadi daratan saat air surut) yang juga secara tradisi disakralkan.14

Pendapat Sugi Lanus tentang kesucian kawasan Teluk Benoa tersebar luas di media sosial dan tersebar pula ke desa-desa adat terutama desa adat yang memiliki batas langsung dengan Teluk Benoa. Pada bulan November dan Desember 2015, wacana tentang kesucian kawasan Teluk Benoa memberi warna baru dalam argumentasi kelompok yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Sebelumnya wacana penolakan reklamasi Teluk Benoa lebih banyak bersifat material atau fisik, seperti ancaman terhadap air laut yang meluap, kemacetan lalu lintas, kepadatan penduduk yang tidak terkendal, suplai air bersih, dan alasan material lainnya.

Alasan kesucian Teluk Benoa menjadi dasar penguat bagi kelompok tolak reklamasi untuk mendesak prajuru adat di masing-masing desa penyangga Teluk Benoa untuk mengambil sikap menolak reklamasi. Pada periode November 2015 sampai dengan Januari 2016, kelompok penolak reklamasi di sebagian besar desa adat penyangga Teluk Benoa, mengalami pematangan dan berujung pada sikap resmi desa adat untuk menolak reklamasi. Diantaranya

14 Agustina Cisilia, ―Kajian Sugi Lanus: 60 Titik Area Suci, Teluk Benoa Titik

Temu Sekala Dan Niskala,‖ Tribun-Bali.com, November 7, 2015,

http://bali.tribunnews.com/2015/11/07/kajian-sugi-lanus-60-titik-area-suci-teluk-benoa-titik-temu-sekala-dan-niskala, accessed July 1, 2017.

(17)

adalah Desa Adat Kuta yang resmi menolak reklamasi pada tanggal 23 Januari 2016.

Titik penting dari keterlibatan desa adat dalam menolak reklamasi adalah dengan hadirnya ribuat massa adat dari desa-desa yang memiliki batas langsung dengan Teluk Benoa pada saat konsultasi publik kajian AMDAL reklamasi Teluk Benoa pada tanggal 29 Januari 2016. Sekitar 8 orang Bendesa Adat ikut dalam rapat tersebut di dalam ruangan di kantor Gubernur Bali di Renon, sementara massa dari desa adat melakukan demonstrasi di luar gedung pertemuan untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. Ini adalah aksi publik pertama yang dilakukan oleh gabungan massa dari berbagai desa adat.

Semenjak desa adat menurunkan massa dalam demonstrasi di depan kantor Gubernur pada tanggal 29 Januari 2016 tersebut, jumlah desa adat yang menolak reklamasi menjadi bertambah banyak. Untuk saling berkoordinasi dan saling membangun solidaritas, desa-desa adat yang menolak reklamasi Teluk Benoa membentuk ikatan bersama yang dinamakan dengan Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa yang dalam perkembangannya sering disingkat dengan Pasubayan Desa Adat atau Pasubayan saja.15 Pasubayan ini dideklarasikan secara resmi dalam rapat antar bendesa adat di Sanur pada tanggal 16 Maret 2016. Saat itu sudah ada 26 desa adat yang menjadi anggota Pasubayan dengan sebaran: 13 desa adat di Kabupaten Badung; 8 desa adat di Kota Denpasar; 2 desa adat di Kabupaten Gianyar; dan 2 desa adat di Kabupaten Karangasem.16 Masuknya Pasubayan dalam gelanggang gerakan tolak reklamasi menambah kekuatan gerakan tolak reklamasi yang sebelumnya dilakukan oleh ForBali. Mereka melakukan aksi publik secara intensif terutama di

15 Pasubayan berasal kata ―sebaya‖ artinya janji bersama dari dalam hati untuk

berjuang dalam keadaan berhasil ataupun gagal.

16

Tempo.co, ―Tolak Reklamasi Teluk Benoa, 26 Bendesa Adat Siap Berdemo,‖ March 16, 2016, https://m.tempo.co/read/news/2016/03/16/206754238/tolak-reklamasi-teluk-benoa-26-bendesa-adat-siap-berdemo, accessed July 5, 2017.

(18)

sepanjang tahun 2016. Pasubayan dan Forbali menyepakati bahwa ForBali adalah pelaksana mandat teknis dari Pasubayan.17 Dalam aksi-aksi kolektif menentang reklamasi, logo dari Pasubayan dan ForBali sering terlihat digunakan secara bersama-sama.

1.2. Desa Adat dalam Gerakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa Gerakan tolak reklamasi memasuki babak baru dengan munculnya penolakan serupa dari beberapa desa adat di Bali. Masuknya desa adat di Bali dalam gelanggang gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa sejak tanggal 29 Januari 2016 tidak hanya membawa perubahan pada dukungan massa yang menolak, namun juga perubahan dalam hal cara pandang dalam menentang rencana reklamasi tersebut. Ketika awal gerakan penolakan ini dilakukan oleh aktivis masyarakat sipil, narasi penolakannya berkisar pada ancaman dampak reklamasi tersebut pada kualitas lingkungan dan kualitas hidup masyarakat yang meliputi: meluapnya air di Teluk Benoa ke daratan di pinggir teluk (banjir), kerusakan ekosistem, gangguan pada mata pencaharian nelayan, kemacetan lalu lintas, krisis air, dan ketimpangan pembangunan antara Bali Selatan dan Bali Utara. Masuknya desa adat dalam gerakan ini membawa cara pandang narasi yang berbeda yaitu penolakan reklamasi karena reklamasi akan merusak kawasan suci di Teluk Benoa berdasarkan keyakinan agama Hindu Bali. Semenjak desa adat masuk dalam gelanggang gerakan, pesan-pesan tentang ancaman kesucian Teluk Benoa ini kemudian lebih mendominasi dibanding dengan alasan-alasan lainnya. Dengan kata lain, masuknya desa adat dalam gerakan ini telah membawa muatan adat dan agama dalam memandang realitas rencana reklamasi.

17 TribunJambi.com, ―Aksi Ribuan Warga Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa,

Pengelola Bandara Ngurah Rai Lakukan Antisipasi,‖ March 20, 2016,

http://jambi.tribunnews.com/2016/03/20/aksi-ribuan-warga-bali-tolak-reklamasi-teluk-benoa-pengelola-bandara-ngurah-rai-lakukan-antisipasi, accessed July 5, 2017.

(19)

Keterlibatan dari desa-desa adat dalam gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa menunjukkan fenomena baru yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Baru pertama kali terjadi dalam sejarah di Bali, desa-desa adat berkoalisi untuk melakukan gerakan sosial. Secara tradisi, koalisi atau kerja sama antar desa adat terbatas pada wilayah ritual untuk melaksanakan upacara pada pura-pura besar karena tanggung jawab bersama untuk menjadi pengempon-nya (penanggungjawab pelaksana ritual dan perawatan pura).

Hal baru lainnya dari kontroversi reklamasi Teluk Benoa adalah sebagian desa adat yang secara resmi mengambil sikap yang berseberangan dalam menentang kebijakan negara yaitu Perpres NO. 51 Tahun 2014. Pemosisian desa adat untuk bersikap dan bertindak antagonistik dengan negara juga melibatkan pergulatan pemaknaan tentang kebijakan negara antara desa adat yang dulu dengan desa adat saat ini. Secara tradisi, kepercayaan agama Hindu Bali yang ditransfer dari generasi ke generasi, memposisikan pemerintah adalah salah satu dari empat guru yang harus dihormati dalam ajaran Catur Guru yaitu Guru Rupaka (orang tua yang melahirkan kita), Guru Pengajian (guru yang memberikan pendidikan), Guru Wisesa (penguasa atau pemerintah) serta Guru Swadyaya (Tuhan). Apa sebenarnya yang terjadi dalam desa adat sehingga desa mengambil posisi berseberangan dengan kebijakan negara? Apa yang membuat desa adat turun ke jalan untuk berdemonstrasi dalam kurun yang begitu panjang? Apa yang membuat jati diri adat itu teraktivasi dalam bentuk gerakan?

1.3. Makna Kula Kanti

Kula Kanti adalah prinsip yang membimbing gerak langkah I Wayan Swarsa dalam upaya menolak reklamasi Teluk Benoa. Kula dalam Bahasa Jawa Kuno berarti ―nyama‖ atau keluarga dan kanti yang berarti teman atau sahabat. Jadi Kula Kanti itu ia artikan sebagai paham yang menganggap bahwa semua adalah keluarga, semua adalah teman. Ajaran ini ia terima dalam bentuk wewerenga

(20)

pada sekitar tahun 2008. Wewerenga ia artikan sebagai pikiran yang melihat dan pikiran yang mendengar. Dalam pengertian sederhana, wewerenga adalah petunjuk gaib. Ajaran ini ia terapkan dalam gerakan menolak reklamasi Teluk Benoa. Ia melihat dan merasakan orang-orang yang berkumpul dalam satu aksi demonstrasi sebagai teman dan saudara, meskipun tidak saling kenal satu sama lainnya. Kula Kanti itu adalah bentuk solidaritas yang muncul dari hasil interaksi atas dasar kebenaran.

Pasubayan menurut I Wayan Swarsa adalah satu wujud dari Kula Kanti. Pasubayan bukanlah semata-mata kumpulan antar desa-desa adat yang menolak reklamasi, namun adalah pertemuan antara satu jiwa dengan jiwa lainnya. Orang-orang yang menolak reklamasi tentu saja memiliki alasan yang berbeda-beda, namun ketika orang-orang yang menolak reklamasi ini berkumpul pada suatu tempat, ada perasaan sejiwa. Orang-orang merasakan solidaritas bersama, meskipun berangkat dengan alasan yang berbeda-beda untuk menolak reklamasi.

Kula Kanti itu juga mempengaruhi cara I Wayan Swarsa dalam melihat pihak yang pro-reklamasi. Ia tidak memposisikan diri kelompok pro-reklamasi sebagai musuh. Mereka kelompok pro-reklamasi memang memiliki sikap yang berbeda dengan dirinya yang menolak reklamasi namun itu tidak berarti ada permusuhan. Permusuhan menurutnya tidak diperlukan karena kelompok yang pro dan kontra reklamasi berinteraksi dengan kelompoknya masing-masing.

Ajaran Kula Kanti membuat I Wayan Swarsa tidak menganggap kelompok lawan (pro reklamasi) sebagai musuh. Ia dalam orasi-orasinya tidak pernah menghujat lawan dan menjatuhkan martabat lawan. Sebaliknya, ia mengajak masyarakat untuk membela dan menjaga kesucian Teluk Benoa dengan tetap menjaga harkat dan martabat manusia (termasuk lawan) tanpa perlu bersikap bermusuhan dengan lawan. Dalam ajaran Kula Kanti terkandung pandangan-pandangan yang humanis. Jika orang-orang

(21)

yang berada dalam posisi mendukung reklamasi, mereka harus disadarkan dan diarahkan untuk melihat kebenaran. Orang yang melakukan kesalahan harus dimaafkan sepanjang tindakannya yang salah tidak diulangi. Ajaran Kula Kanti itulah yang membuat I Wayan Swarsa berpandangan bahwa ia bersikap humanis bahkan terhadap lawan-lawannya.

Dalam ajaran Kula Kanti, terdapat solidaritas yang muncul dari pertemuan jiwa. Pertemuan jiwa tersebut didasari oleh pertemuan fisik antar manusia. Pertanyaan yang muncul adalah apa yang membuat orang-orang dapat bertemu dan merasakan pertemuan jiwa? Menurut I Wayan Swarsa, pertemuan fisik antar manusia diatur oleh putaran semesta. Putaran semestalah yang menyebabkan orang-orang berkumpul dalam Pasubayan. Dengan menyebut putaran semesta sebagai penyebab pertemuan fisik manusia, I Wayan Swarsa ingin menunjukkan bahwa manusia adalah obyek sekaligus subyek. Di hadapan alam semesta, manusia adalah obyek. Subyeknya adalah alam semesta yang mempengaruhi tindakan dan sikap manusia sebagai obyek dari alam semesta tersebut. Sebaliknya, di hadapan alam semesta, manusia juga adalah subyek karena manusialah yang dapat menjaga atau sebaliknya merusak keseimbangan alam.

Demikian pula dalam aspek Kula Kanti sebagai solidaritas antar manusia. Orang-orang yang merasakan solidaritas dalam Kula Kanti adalah subyek sekaligus obyek. Disebut subyek karena ia dapat bertindak dan bersikap kepada orang lain. Disebut obyek karena tindakan dan sikap dari sesorang juga dipengaruhi oleh orang-orang lainnya. Atas alasan itulah, solidaritas dalam Pasubayan dapat terjaga karena adanya perasaan tepa selira. Orang mengetahui dirinya sebagai subyek dan sekaligus sebagai obyek. Manusia tidak pernah terlepas dari orang lainnya.

(22)

I.4. Pemahaman Kawasan Suci dan Tempat Suci

Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pusat pada tahun 1994 mengeluarkan bhisama atau fatwa tentang kesucian pura sebagai tempat suci agama Hindu Bali. Kawasan suci merujuk pada kawasan yang disucikan oleh umat Hindu. Tempat suci bagi umat Hindu Bali mengacu pada pura yang memiliki batas-batas tertentu atau sering disebut penyengker (pembatas). Dalam bhisama tersebut PHDI menyatakan bahwa agama Hindu dalam kitab sucinya yaitu Weda telah menyebutkan gunung, danau, campuhan (pertemuan dua sungai atau lebih)18, pantai dan laut adalah kawasan yang memiliki nilai-nilai kesucian. Di kawasan suci itulah orang-orang suci dan umat Hindu mendapatkan wahyu atau pikiran-pikiran suci. Oleh karena itu, di kawasan suci itulah didirikan pura dan tempat suci umat Hindu secara umum.19

Seorang intelektual Hindu, I Made Titib menunjukkan sloka dalam Weda yang menyatakan kesucian pada gunung, mata air, sungai, pertemuan aliran sungai, dan laut. Titib mengutip sloka dalam Rig Weda VIII. 6. 28 yang menyebutkan bahwa ―Di tempat-tempat yang tergolong hening (upahvare), di gunung-gunung dan pada pertemuan dua sungai (campuhan), di sanalah para maharesi mendapatkan pemikiran yang jernih (suci).‖20

Paparan oleh PHDI dan Made Titib juga menjelaskan kesamaan dari kesucian sebuah kawasan yaitu di mana para resi di sana mendapatkan wahyu dan pikiran yang jernih melalui pertapaan, yoga, dan semedi.

18 Teluk Benoa adalah tergolong campuhan (pertemuan dua aliran sungai atau

lebih) dan bahkan diyakini sebagai campuhan agung. Ini adalah salah satu dasar yang membuat Teluk Benoa diyakini sebagai kawasan suci. Keyakinan tentang campuhan sebagai kawasan suci sudah dipraktekkan sejak jaman Bali Kuno. Di Gianyar terdapat Pura Campuhan Gunung Lebah yang didirikan oleh Maha Resi Markandeya yang berlokasi di dekat campuhan.

19 PHDI, ―Keputusan Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pusat Nomor:

11/Kep/I/PHDIP/1994 Tentang Bhisama Kesucian Pura‖ (1994).

20 I Made Titib, Veda: Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan (Surabaya:

(23)

Dalam Agama Hindu Bali, lokasi kawasan suci di daerah pesisir khususnya di Teluk memiliki rujukan tempat yang spesifik. Di antaranya adalah: loloan atau estuari yaitu pertemuan antaran aliran sungai dengan air laut; sawangan yaitu loloan yang sangat dalam; muntig atau daratan pasang surut, yang terlihat pada saat air surut; dan lamun yaitu kumpulan tanaman yang laut yang berkumpul di suatu tempat di laut.

Kesucian dari kawasan tersebut bersumber dari lontar atau karya sastra suci maupun dari praktek keseharian warga setempat. Keyakinan masyarakat tentang kesucian suatu kawasan atau kesucian suatu pura menjadi semakin bertambah atau bahkan dimulai ketika merasakan mukjizat di tempat tersebut atau mendengarkan cerita mukjizat dari orang lain atau sebaliknya ketika mendapatkan hal buruk ketika berperilaku atau berkata tidak pantas di suatu kawasan ataupun tempat suci.

Sumber air lainnya yang diyakini sebagai kawasan suci bagi umat Hindu Bali adalah kawasan laut atau samudera. Laut yang diyakini sebagai wilayah kekuasaan dari Dewa Laut atau Dewa Baruna. Oleh karena itulah Pura-Pura Segara untuk memuliakan Dewa Baruna, terdapat di sepanjang pantai di Bali. Laut bagi masyarakat Hindu Bali adalah sumber air kehidupan dan pelebur kekotoran sekala dan niskala. Atas dasar keyakinan itulah masyarakat Hindu Bali melaksanakan Upacara Melasti di laut atau sumber air yang mengarah ke laut di setiap menjelang Hari Raya Nyepi. Dalam ajaran Hindu Bali tujuan melasti dikenal bertujuan untuk nganyudang malaning gumi ngamet Tirtha Amerta21 yang berarti menghanyutkan kekotoran alam dengan menggunakan air kehidupan abadi. Dalam upacara melasti tersebut, masyarakat Hindu Bali melakukan persembahyangan mengarah pada laut untuk

21

Tirtha amerta (air kehidupan abadi) merujuk pada mitologi pemutaran Gunung Mandara terletak di tengah lautan yang dilakukan oleh para Dewa dan para Raksasa untuk mendapatkan tirtha amerta. Tirtha amerta itulah yang kemudian menyebabkan para Dewa menjadi abadi (immortal).

(24)

memuja Dewa Baruna. Setelah melakukan pemujaan dilanjutkan dengan menyucikan pralingga atau pratima (patung Dewa atau Bhatara) dan sarana-sarana persembahyangan dengan menggunakan air laut.

Dalam ritual keagamaan, keyakinan akan kesucian kawasan laut tetap hidup dalam masyarakat Hindu Bali melalui pelaksanaan sad kertih22 yang salah satu di antaranya memuat upacara yang ditujukan pada laut. Sad kertih yang dimuat dalam Purana Bali terdiri dari enam bagian yaitu samudera kertih, danu kertih, wana kertih, jagad kertih, jana kertih dan atma kertih. Samudera kertih adalah upacara agama yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan atau keharmonisan laut secara niskala (gaib). Salah satu wujud dari samudera kertih ini antara lain adalah upacara nangkluk merana23. Danu kertih adalah upacara untuk memohon kelestarian sumber air tawar yang ada di daratan seperti danau, mata air, dan sungai. Wana kertih adalah upacara yang bertujuan untuk memohon kerahayuan dan kelestarian hutan, gunung, dan tumbuh-tumbuhan yang ada di dalamnya. Jagad kertih adalah upacara yang bertujuan untuk terjadinya keseimbangan antara manusia sebagai microcosmos dengan alam semesta sebagai macrocosmos. Wujud dalam dari upacara Jagad kertih ini antara lainnya adalah upacara caru yang diperuntukkan untuk penghuni alam bawah (patala) yaitu bhuta kalau yang perlu untuk diberikan laba (upah) agar tidak mengganggu keharmonisan hidup manusia. Jana kertih adalah upaya untuk mewujudkan keharmonisan dan

22 Sad kertih secara harfiah berarti enam hasil yang baik.

23 Upacara nangkluk merana adalah upacara untuk memohon kepada Tuhan agar

hama tanaman bisa teratasi. Upacara ini dilakukan di laut karena laut dianggap sebagai sumber dari perubahan musim (panca roba) yang kemudian

menyebabkan munculnya hama. (Pernyataan dari tokoh Desa Adat Lebih, Ida Bagus Semara Putera seperti termuat dalam Bali Express, ―Upacara Nangluk Merana di Pantai Lebih, Untuk Keseimbangan Alam,‖ Bali Express, December 19, 2017,

https://baliexpress.jawapos.com/baliexpress/read/2017/12/19/34509/upacara-nangluk-merana-di-pantai-lebih-untuk-keseimbangan-alam.)

(25)

keseimbangan di dalam diri. Upacara Agama Hindu Bali dalam kategori ini misalnya adalah ritual memperingati hari lahir berdasarkan kalender Bali (otonan), upacara mebayuh (ruwatan) untuk menetralisir peruntungan yang buruk akibat kelahiran pada waktu tertentu dan keadaan tertentu. Sedangkan Atma kertih adalah upacara untuk membebaskan atma dari keterikatan pada duniawi. Salah satu wujud dari Atma kertih adalah ngaben atau kremasi untuk menghilangkan belenggu atma terhadap duniawi dan untuk mendoakan atman keluarga yang meninggal agar mendapatkan tempat yang layak di alam gaib.

I.5. Fenomenologi, Memahami Makna Gerakan Tolak Reklamasi

Yang tampak (dimensi visible) di mata publik adalah tindakan-tindakan kolektif dalam wujud unjuk rasa dan atraksi budaya untuk menolak reklamasi yang dilakukan oleh ribuan warga adat Bali. Yang tidak tampak di hadapan publik adalah individu warga adat yang bergulat dengan pemaknaan dalam dirinya, berinteraksi dalam kesehariannya untuk mendiskusikan sikap, merumuskan makna, membangun kesepahaman dan solidaritas serta merencanakan tindakan, yang disebut oleh Melluci dimensi laten.24 Warga adat yang menjadi aktor dari gerakan tersebut melalui kedua proses yang kompleks itu baik pada proses gerakan yang bersifat visible (terlihat oleh publik) maupun laten.

Pergulatan diri atau refleksi dari warga adat dengan identitasnya dan makna dari identitas itu terjadi melalui pengalaman. Penulis menyebut ―pengalaman‖ tidak hanya merujuk pada pengalaman yang bisa diakses oleh panca indera (pengalaman jasmani), namun juga pengalaman dalam bentuk lain yang melibatkan pikiran dan perasaan yang hanya dapat diketahui oleh pelakunya termasuk di dalamnya adalah pengalaman dalam

24 Alberto Melluci, ―The Symbolic Challenge of Contemporary Movements,‖

(26)

mengalami mimpi. Pengalaman dengan kata lain merujuk pada apa saja yang pernah dialami oleh seseorang baik nyata maupun tidak, baik diketahui oleh orang lain, maupun yang hanya diketahui oleh subyek itu sendiri. Dari pengalaman-pengalaman tersebutlah seseorang (subyek) kemudian membangun konstruksi makna yang dalam hal tema ini adalah konstruksi makna tentang Teluk Benoa, tentang desa adatnya, tentang pengabdiannya pada desa adat, tentang bhaktinya pada Dewa Baruna, tentang kebijakan negara, dan tentang apapun yang berhubungan reklamasi Teluk Benoa. Konstruksi makna tersebut tidak hanya terjadi pada diri individu warga adat namun juga dilakukan dengan melibatkan orang lainnya (inter-subyektif).25

Pertanyaan yang kemudian muncul, bagaimana seseorang memaknai Teluk Benoa, memaknai tentang reklamasi atas teluk itu? Mengapa warga adat menolak reklamasi Teluk Benoa? Jawaban dari pertanyaan ini pasti akan berbeda-beda pada masing-masing orang oleh karena realitas hadir dalam kesadaran orang dengan cara berbeda dan kemudian akan menghasilkan pemaknaan yang belum tentu sama. Sebagai ilustrasi di bawah ini adalah pohon sebagai suatu realitas. Pohon ini hadir dalam kesadaran orang dalam versi yang berbeda-beda. Dalam kesadaran tukang kayu, realitas pohon hadir sebagai bahan baku dalam membuat meubel seperti meja, kursi, lemari, dan sejenisnya. Dalam kesadaran pelintas (orang yang melintas), realitas kayu hadir sebagai tempat berteduh. Dalam kesadaran pencinta alam, realitas pohon hadir sebagai penyerap gas karbon dioksida. Dalam kesadaran penduduk desa yang tinggal dekat hutan, realitas pohon hadir sebagai bahan kayu bakar.

(27)

Gambar/Ilustrasi Realitas Pohon

Realitas pohon itu tampil dalam versi yang berbeda-beda di masing-masing kesadaran orang karena orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda sehingga ia memaknai pohon itu sesuai dengan pengalamannya masing-masing. Demikian pula halnya dengan reklamasi Teluk Benoa, orang memiliki pemaknaan tertentu yang dibentuk dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, termasuk pengalaman-pengalaman dia semenjak kecil, pengalaman dia dibesarkan oleh orang tua dan lingkungannya.

Gerakan menolak reklamasi Teluk Benoa telah melibatkan partisipasi dari begitu banyak orang. Salah seorang di antaranya adalah I Wayan Swarsa yang saat gerakan ini terjadi ia adalah Bendesa Adat Kuta periode 2013-2018. Oleh bendesa-bendesa yang lainnya, ia disepakati menjadi Koordinator Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Tulisan dalam buku ini adalah untuk memahami tindakan, sikap, pikiran, dan perasaannya dalam satu dimensi kehidupannya yaitu dalam menolak reklamasi Teluk Benoa.

(28)

Untuk memahami I Wayan Swarsa, Penulis menggunakan pendekatan fenomenologi hermeneutik yang bersumber dari filsafat Heideggger yang kemudian diteruskan oleh muridnya Gadamer. Menurut Heidegger, kesadaran seseorang tidak bisa dipisahkan dari dunianya, namun merupakan formasi pengalaman hidup yang terbentuk secara historis. Orang dan dunianya tidak terpisahkan dengan konteks budaya, sosial, dan historis.26

Gambar/Ilustrasi Subyek yang Tidak Pernah Terpisah dari Dunianya27

Ilustrasi dari subyek (orang) tersebut digambarkan dalam lingkaran untuk menunjukkan manusia sejak lahir selalu berada di dalam dunia kehidupannya. Dunia kehidupannya itu tentu saja bisa berubah seiring usia dan pengalamannya yang beragam. Dunia adalah keseluruhan keadaan yang mempengaruhi eksistensi total dari satu subyek, seperti tempat tinggal, lingkungan sosial budaya, pendidikan, lingkungan pergaulan, pekerjaan, dan sebagainya.

Demikian pula dengan I Wayan Swarsa, sejak ia lahir ia berada dalam dunianya. Interaksi dia dengan dunianya secara timbal balik semenjak ia lahir mempengaruhi cara ia menginterpretasi realitas dalam hal ini adalah realitas reklamasi Teluk Benoa. Cara orang untuk memahami sesuatu ditentukan

26

Munhall, 1989, seperti dikutip dalam Laverty, ―Hermeneutic‖, 2003, 8.

27 Ilustrasi ini diadatasi dari materi kuliah Metodelogi Penelitian dari Prof. Dr.

(29)

pemahamannya. I Wayan Swarsa tidak dengan serta bisa langsung memahami Teluk Benoa. Ia menggunakan pra-pemahamannya untuk memahami Teluk Benoa. Pra-pemahamannnya itu terbentuk secara historis yang membentuk perspektifnya hingga saat ini. Hal serupa dinyatakan oleh Gadamer bahwa manusia secara fundamental adalah makluk yang menyejarah (historical being). Sejarah efektif (sejarah keterpengaruhan) berarti bahwa kita tidak akan menjadi diri kita tanpa ada efek atau pengaruh dari sejarah hidup kita. Menurut Gadamer, diri kita adalah bagian dari sejarah yang kita coba untuk pahami.28

Buku ini mencoba memahami dua hal yaitu: pertama mengapa subyek (I Wayan Swarsa ) menolak reklamasi Teluk Benoa?; dan kedua bagaimana pengalaman subyektif dari I Wayan Swarsa dalam gerakan menolak reklamasi Teluk Benoa? Pengalaman subyektif yang dimasud di sini bukanlah pengertian subyektif dalam pengertian sehari-hari yang sering dimaknai sebagai ―bias‖ namun pengalaman subyektif berarti pengalaman menurut subyek itu sendiri yang mengada di dalam dunianya.

Dalam memahami I Wayan Swarsa, Penulis mendapatkan data melalui wawancara, membaca statusnya di FaceBook, melihat rekaman orasi dan pidatonya, serta melihat berita tentang dirinya di media online. Dalam menginterpretasi data tersebut, Penulis adalah pembaca teks atau penerjemah teks. Teks di sini bukan berarti tulisan namun apa saja yang bisa dimaknai termasuk tulisan, ucapan, lukisan, artefak, dan sebagainya. Perspektif dari Penulis dalam hal ini ikut masuk dalam membangkitkan kembali makna teks oleh karena Penulis (dan juga semua orang lainnya) selalu menggunakan pra-pemahamannya untuk memahami sesuatu. Hal ini disebut dengan fusi horizon yaitu penggabungan antar teks dengan pra-pemahaman pembaca teks dalam ini adalah Penulis. Pra-pemahaman itu dapat berwujud khasanah perbendaharaan kata, pengetahuan awal, ataupun teori yang dimiliki serta cara pandang

(30)

dari pembaca teks. Namun hal ini bukan berarti pembaca teks (Penulis) mengintervensi atau memaksakan sudut pandangnya dalam mengiterpretasikan teks. Sebaliknya Penulis membaca teks dengan mempertimbangkan berbagai macam kemungkinan makna. Ketika Penulis melakukan pengumpulan data dalam rangka memahami I Wayan Swarsa, pra-pemahaman dari Penulis tidak ikut masuk alias parkir. Setelah data terkumpul dan memasuki tahap interpretasi baru kemudian pra-pemahaman dari pembaca teks ikut masuk berinteraksi dengan teks.

(31)

BAB 2 DESA ADAT DAN DESA ADAT KUTA

2.1. Desa Adat

Untuk memahami desa adat di Bali, diperlukan perbandingan dengan bentuk pengorganisasian masyarakat lainnya yang setara yaitu desa dinas. Perbandingan dengan desa dinas diperlukan untuk membuat pengertian dan ranah desa adat menjadi lebih jelas. Desa dinas adalah organisasi pemerintahan di desa yang menyelenggarakan fungsi administratif kedinasan (pemerintah). Desa dinas umumnya berbentuk kelurahan jika berlokasi di daerah urban dan berbentuk desa jika berlokasi di pedesaan. Desa dinas adalah bagian dari hirarki pemerintahan. Desa adat dan desa dinas masing-masing memiliki sumber legitimasi, peran, sistem atau struktur organisasi berbeda. Sumber legitimasi dari desa adat adalah penerimaan dan ketaatan dari warga desa adat terhadap norma-norma adat yang berlangsung turun temurun melalui kebiasaan. Desa adat menjalankan peranan sebagai pemegang tradisi, keagamaan, di luar urusan otoritas pemerintah, sedangkan desa dinas menjalankan fungsi kedinasan sesuai kewenangan atau sebagai perpanjangan tangan pemerintah.29 Sumber legitimasi dari desa dinas adalah otoritas formal yang berasal dari peraturan perundangan dari negara. Di Bali jumlah desa adat lebih banyak dibandingkan dengan desa dinas. Pada bulan Januari 2015, desa dinas (desa dan kelurahan) berjumlah 716 dan desa adat berjumlah 1.488.30 Persyaratan dan dasar pembentukan desa adat dan desa dinas memiliki syarat yang berbeda.31 Maka dari pada itu,

29

I Gde Parimartha, Silang Pandang Desa Adat dan Desa Dinas Di Bali (Denpasar: Udayana University Press, 2013, 35-36).

30 Ady Sucipto, ―1.488 Desa Pakraman Dapat Kucuran Bantuan Hibah Rp 200

Juta per Desa,‖ bali.tribunnews.com, 26 Mei 2015.

31

Pembentukan desa dinas terjadi pada masa pemerintahan kolonial Belanda untuk kepentingan pengorganisasian daerah jajahan dalam rangka pengerahan tenaga kerja rodi.

(32)

batas wilayah dan jumlah penduduk pendukung kedua jenis desa tersebut tidak selamanya sama.

Struktur organisasi desa adat mencakup sistem keanggotaannya dan sistem pengorganisasiannya. Struktur organisasi desa adat bervariasi antara yang satu dengan yang lainnya. Namun secara umum terdapat perbedaan jelas antara tiga jenis desa di Bali yaitu desa Baliage, desa apanage, dan desa anyar. Pertama, desa Baliage (desa adat yang sudah ada sejak Bali Kuno) adalah desa yang umumnya terletak di daerah pegunungan, jauh dari pusat pemerintahan kerajaan. Kedua, desa apanage adalah desa yang umumnya terletak di Bali daratan yang mendapat pengaruh dari kerajaan sehingga struktur desa adatnya menyesuaikan dengan kebijakan raja. Warga dari desa apanaga umumnya adalah warga dari keturunan Majapahit yang datang ke Bali mulai abad ke-14 yang diawali dengan invasi pasukan yang dipimpin oleh Gadjah Mada. Tipe yang ketiga adalah desa anyar yaitu desa yang adat yang pembentukannya mulai terjadi pada masa pemerintahan kolonial Belanda sebagai akibat migrasi orang-orang Bali dataran untuk merambah hutan untuk membentuk lahan pertanian baru. Mereka tidak dipengaruhi secara langsung oleh kerajaan karena pada masa itu kerajaan berada dalam kontrol pemerintah kolonial. Struktur organisasi desa adat yang mereka gunakan adalah sama dengan desa asal mereka yaitu desa-desa dengan tipe desa apanage.32

Pada desa adat yang digolongkan sebagai desa apanage, pemimpin tertinggi dalam prajuru desa (pengurus desa adat) adalah bendesa atau kelihan desa, dibantu oleh pengurus lainnya seperti penyade/petajuh/pangliman (wakil bendesa) penyarikan/juru surat yang berfungsi sebagai sekretaris dan petengen/juru raksa yang berfungsi sebagai bendahara.33 Pada tingkat banjar, struktur prajuru umumnya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing

32 Windia and Sudantra, Pengantar Hukum Adat Bali, 62. 33 Windia and Sudantra, Pengantar Hukum Adat Bali, 61.

(33)

banjar. Struktur banjar umumnya diisi oleh kelian banjar atau kelian adat yang dibantu oleh penyarikan (juru tulis) dan patengen atau juru raksa (bendahara). Bagi banjar yang jumlah penduduknya banyak dan wilayahnya luas, banjar dibagi dalam unit yang lebih kecil yang disebut dengan tempekan yang dikoordinir oleh kelihan tempekan. Tempekan lebih banyak berfungsi sebagai kelompok kerja yang mengerjakan pekerjaan tertentu dari banjar yang tidak memerlukan pengerahan sumber daya seluruh anggota banjar.34

Sistem pemerintahan desa adat tipe desa apanage dan desa anyar umumnya menggunakan sistem pemerintahan tunggal dengan satu orang sebagai pemimpin tertinggi sementara pengurus lainnya bertugas untuk membantu.35 Berbeda dengan jenis desa tersebut, tipe desa baliage umumnya menganut sistem pemerintahan kembar atau sistem pemerintahan kolektif. Dalam sistem ini ada dua jenis pimpinan yang kedudukannya sederajat.

Otonomi yang dimiliki oleh desa adat membuat mereka menentukan sendiri cara untuk pemilih prajurunya termasuk di dalamnya struktur kepengurusan serta mekanisme pembagian tugas di antar masing-masing prajuru. Berdasarkan tradisi di Bali, cara dalam memilih prajuru pada desa adat di Bali secara umum dapat dibagi menjadi lima.36 Pertama adalah pemilihan yang langsung dipilih oleh warga adat. Kedua adalah dipilih oleh utusan dari perwakilan masing-masing banjar. Ketiga berdasarkan keturunan. Pemimpin adat harus berasal dari keturunan garis keturunan laki-laki dari suatu keluarga yang biasanya, adalah pendiri desa yang memilik peran yang bersejarah. Keempat adalah berdasarkan pada

34

Ibid, 66-67.

35 Tiga desa yang diteliti dalam penelitian ini semuannya termasuk dalam

kategori Desa Apenaga.

36 Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, Tuntunan Tugas-Tugas Prajuru Desa Adat,

2000, 17-21, menyebutkan ada empat cara. Penulis menambahkan satu lagi cara yang digunakan dalam memilih Bendesa yaitu lewat perwakilan masing-masing banjar.

(34)

senioritas (usia). Kelima adalah dengan cara kombinasi antara kombinasi antara pemilihan langsung dengan keturunan. Ada jabatan-jabatan tertentu misalnya bendesa harus berasal dari anggota Pura Dadia tertentu. Pemilihan dilakukan di kalangan keluarga-keluarga yang menjadi anggota Pura Dadia tersebut. Sementara jabatan-jabatan lain dalam prajuru dipilih oleh warga adat berdasarkan musyarawah mufakat.

Prajuru disamping sebagai pengurus desa adat, juga merupakan anggota dari suatu majelis desa yang disebut kertha desa. Tidak semua desa adat menggunakan nama kertha desa sebagai nama resmi dari majelis desa. Namun pada umumnya semua desa memiliki wadah rapat pleno yang tidak hanya melibatkan prajuru namun juga perwakilan dari masing-masing unit sosial yang berhubungan dengan desa adat. Dilihat dari istilahnya kertha artinya damai dan desa artinya tempat atau wadah sehingga kertha desa berarti “tempat perdamaian”. Pada masa Bali Kuno, kertha desa ini disebut “sarwa sanat” atau “sanva kumni adhi”. Dewasa ini di beberapa desa adat dikenal dengan sebutan “paduluan”, “petinggi” atau “panglingsir desa”.37

Desa adat memiliki aset baik yang bernilai ekonomi (dapat diperjualbelikan atau ditukar) dan non-ekonomi. Yang dimaksud dengan aset desa adat yang bernilai ekonomi adalah aset desa adat yang dapat diperjualbelikan yang meliputi tanah dan tanaman yang tumbuh di atasnya, bangunan, uang, dan benda-benda lainnya yang bisa diperjualbelikan. Yang tergolong dengan aset desa adat non-ekonomi adalah aset yang atas dasar kepercayaan tentang kesakralan, tidak akan mungkin diperjualbelikan ataupun disewakan oleh desa adat yang meliputi pura dan sarana pemujaan di dalamnya, kuburan (setra), dan benda lainnya yang disepakati untuk tidak diperjual belikan.

Sebagian desa juga memiliki unit usaha berupa pasar desa termasuk pasar seni seperti yang dimiliki oleh Desa Kuta. Biasanya

(35)

pasar miliki desa tidak langsung dikelola oleh desa adat namun di sewakan kepada pihak lainnya baik warga dari desa itu sendiri maupu warga di luar desa adat. Unit usaha lain yang juga dimiliki oleh desa adat adalah Lembaga Perkreditan Desa (LPD) yang menjalankan usaha simpan pinjam terutama di kalangan warga desa adat yang bersangkutan. LPD ini digagas oleh Gubernur Bali Ida Bagus Mantera pada tahun 1984 dengan mengadopsi semangat dalam sekaa.

Pengelolaan harta kekayaan desa adat dilakukan oleh prajuru desa sesuai dengan awig-awig di masing-masing desa adat. Pengalihan/perubahan status harta kekayaan desa adat umumnya harus disertai dengan persetujuan paruman (sangkepan) desa. Melalui paruman desa, warga desa adat melakukan pengawasan terhadap aset desa adat.38 Pendapatan desa adat diperoleh dari berbagai sumber, antar lain: peturunan (urunan)39 dari warga desa adat, hasil pengelolaan kekayaan desa adat, hasil usaha lembaga perkreditan desa (LPD), dan bantuan pemerintah baik pusat maupun daerah.

Konsep kehidupan di Bali salah satunya adalah konsep Tri Hita Karana. Konsep Tri Hita Karana ini pertama kali dimunculkan ke publik pada tahun 1966 pada Konferensi Daerah Badan Perjuangan Umat Hindu Bali yang bertempat di Perguruan Dwijendera Denpasar.40 Konsep Tri Hita Karana hadir sebagai representasi atas praktik-praktik agama Hindu Bali yang didasarkan pada tulisan dalam lontar-lontar Agama Hindu Bali.

Tri Hita Karana yang secara harfiah berarti tiga (tri) penyebab (karana) kebahagiaan (hita). Unsur dari Tri Hita Karana adalah Tuhan Sang Pencipta, bhuana (alam semesta) dan manusa (manusia). Dalam keyakinan umat Hindu di Bali, kesejahteraan

38 Ibid, 76. 39 Ibid, 42. 40

inputbali.com, ―Sejarah dan Penerapan Tri Hita Karana yang Tidak Boleh Dilupakan,‖ 2015, http://inputbali.com/budaya-bali/sejarah-dan-penerapan-tri-hita-karana-yang-tidak-boleh-dilupakan.

(36)

umat manusia di dunia ini hanya akan dapat dicapai apabila manusia memiliki hubungan yang harmonis di antara unsur-unsur Tri Hita Karana tersebut, yaitu: keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa; keharmonisan hubungan antara manusia dengan sesamanya; dan keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam semesta. Bagi warga desa adat di Bali hubungan harmonis itu tidak semata-mata dalam arti sekala (nyata atau terlihat) namun juga niskala (gaib atau tidak terlihat).

Dalam kehidupan desa adat, prinsip Tri Hita Karana itu termanifestasikan dalam tiga ranah atau aspek pembentuk desa adat di Bali yaitu parhyangan, pawongan, dan palemahan. Parhyangan berarti tempat pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pawongan adalah warga desa adat yang disebut dengan kerama desa (warga desa adat). Pawongan berasal dari kata wong (Bahasa Jawa) yang berarti orang. Pawongan berarti perihal yang berkaitan dengan orang dalam kehidupan masyarakat. Palemahan berasal dari kata lemah yang artinya tanah. Palemahan dalam arti luas berarti bhuwana atau alam semesta, dan dalam arti sempit berarti wilayah pemukiman atau tempat tinggal dari warga desa adat.41

Kehidupan keseharian di desa adat terjadi melalui pengelompokan sosial yang memiliki karakteristik dan tujuan tertentu serta sistem interaksi yang ada di dalamnya. Pengelompokan atau unit sosial tersebut ada yang berhubungan langsung dengan desa dan ada yang tidak langsung. Lembaga tradisional yang berhubungan langsung dengan desa adat dan merupakan bagian hirarki dari desa adat adalah seperti yang disebutkan di atas yaitu banjar adat, sub banjar (tempekan/kober), sub sub banjar (kelompok/regu).

Untuk menggambarkan semangat komunal dari warga desa adat di Bali, desa adat di Bali memiliki sejumlah istilah adat yang sering digunakan dalam ranah adat seperti: masuka duka (bersama

41 Majelis Pembina Lembaga Adat Daerah Tingkat I Bali, ―Desa Adat: Pusat

(37)

dalam suka dan duka), manyama braya (persaudaraan & kekerabatan), sagilik-saguluk (bersatu padu), paras-paros sarpanaya (toleransi), salunglung sabayantaka (seiya sekata), duwenang sareng-sareng (rasa saling memiliki), saling asah asih asuh (saling menyayangi dan memperhatikan), dan pasidikaran atau sidikaran (rasa kekeluargaan). Dari konsep-konsep adat tersebut, konsep yang disebut terakhir yaitu pesidikaran adalah konsep yang penting dan relevan dalam gerakan desa adat tolak reklamasi Teluk Benoa. Istilah itu sering diucapkan oleh orator dari desa adat ketika melakukan tindakan kolektif.42

2.2 Desa Adat Kuta

Secara administrasi pemerintahan, Desa Adat Kuta terletak di Kelurahan Kuta Kecamatan Kuta Kabupaten Badung. Namun wilayah Desa Adat Kuta tidak sama persis dengan wilayah Kelurahan Kuta. Ada satu lingkungan dalam keluarahan Kuta yaitu Lingkungan Abian Base yang bukan merupakan wilayah Desa Adat Kuta namun merupakan wilayah Desa Adat Denpasar. Desa Adat Kuta memiliki luas 639 ha. Luas ini belum termasuk hutan bakau seluas 80 ha.43 Desa Adat Kuta terdiri dari 13 banjar yaitu Banjar Jaba Jero, Banjar Pande Mas, Tegal, Teba Sari, Buni, Pemaron, Pengabetan, Pering, Temacun, Pelasa, Segara, Anyar, Mertha Jati. Kuta adalah desa pesisir dengan ketinggian 3-5 meter dari permukaan laut ini berbatasan dengan: Desa Adat Legian di sebelah Utara; Desa Adat Pemogan dan hutan bakau di Teluk Benoa di sebelah Timur, Desa Adat Tuban di sebelah Selatan; dan Samudera Hindia di sebelah Barat. Wilayah Desa Adat Kuta seperti tampak dalam peta di bawah ini:

42 Istilah pasidikaran juga disampaikan oleh subyek penelitian. 43 Kelurahan Kuta, ―Monografi Kelurahan Kuta 2015‖ (Kuta, 2015).

(38)

Peta Desa Adat Kuta di dalam Kecamatan Kuta44

Desa Adat Kuta mengeluarkan dokumen yang bernama Eka Likita Desa Adat Kuta yang mencakup cerita dari warga desa adat tentang sejarah desanya dengan mengambil sumber dari prasasti dan cerita turun temurun. Dalam dokumen itu disebutkan Desa Adat Kuta mulai dihuni oleh masyarakat dari desa di luar Bali, sejak kedatangan Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit pada tahun 1334. Jalur laut merupakan jalur yang ditempuh oleh dari tokoh-tokoh dari Jawa tersebut. Menurut I Wayan Swarsa,45 kecil kemungkinan pada masa lalu orang-orang dari Jawa datang ke Bali lewat jalur darat. Yang paling mungkin adalah jalur laut. Mereka yang melalui laut Selatan Bali berlabuh di Pantai Perahu Pantai Perahu yang sekarang terletak di Banjar Segara, Desa Adat Kuta. Dari Pantai Perahu itu kemudian orang-orang dari Jawa pada jaman dahulu menyeberang ke Teluk Benoa pada saat air pasang. Dulunya daerah di sekitar Desa Adat Tuban dan Desa Adat Kelan adalah dataran pasang surut.46 Saat air pasang, Pulau Bali terpisah oleh

44 BPS Kabupaten Badung, ―Kecamatan Kuta Dalam Angka 2016‖ (Mangupura,

2016).

45

Wawancara dengan Jero Bendesa Kuta, Wayan Swarsa, 20 April 2018.

46 Pada tahun 1960-an, daratan pasang surut ini diurug menjadi bagian dari Jalan

(39)

laut. Pada saat itulah orang-orang Jawa yang tadinya berlabuh di Pantai Perahu menggunakan akses laut di Teluk Benoa untuk menuju daerah-daerah lain di Pulau Bali47. Alur kedatangan dan persinggahan orang-orang Jawa ditunjukkan dengan nama-nama desa dan pura di kawasan ini yang menggunakan nama-nama tempat yang ada kaitannya dengan Jawa seperti Canggu, Tuban, dan Peti Tenget.48

Seperti yang dituturkan I Wayan Swarsa, di masa kuno, jalur laut adalah jalur yang paling mudah untuk menjangkau Bali dibandingkan dengan menggunakan jalur darat melalui Gilimanuk (ujung Pulau Bali yang lokasinya paling berdekatan dengan ujung Pulau Jawa). Bukti-atau jejak kedatangan orang Jawa ke Bali tidak ditemukan di Gilimanuk. Jalur darat saat itu kemungkinan memang tidak dipilih karena harus berhadapan dengan hutan lebat, binatang buas, serta harus menyeberangi sungai.

Nama Kuta identik dengan kedatangan Mahapatih Gadjah Mada ke Bali pada abad ke-14. Dalam ekspedisinya menyerang Kerajaan Bali Kuno, Gadjah Mada mendarat terlebih dulu di Pantai Pantai Perahu di wilayah Kuta. Pendaratan itu dimonumenkan dengan pendirian pura yang bernama Pura Sanggaran yang berasal dari kata ―sanggaran‖ yang berarti tempat berhenti. Nama Kuta adalah pemberian dari Sang Mahapatih pada wilayah yang menjadi tempat pendaratan pasukannya. Nama Kuta sendiri sebelumnya melekat dengan kitab hukum yang dibuat oleh Gadjah Mada dengan nama ―Kuta Manawa‖.49

Penduduk awal Desa Adat Kuta yang disebut dengan krama wed (penduduk asli) adalah orang-orang pendatang. Ini

47 Cerita mengenai sejarah Teluk Benoa sebagai lalu lintas tokoh-tokoh besar dan

orang-orang suci dari Jawa adalah salah satu alasan bagi orang Kuta untuk menjadikan Teluk Benoa sebagai kawasan yang suci.

48 Desa Adat Kuta, ―Eka Likita Desa Adat Kuta‖ (Kuta, 2013). 49 Ibid.

(40)

terbukti dari fakta bahwa tidak ada satupun Pura Kawitan50 yang ada di Kuta.51 Migrasi penduduk ke Kuta terus bertambah seiring dengan tumbuhnya Kuta sebagai pelabuhan laut pada masa kerajaan dan masa kolonial serta ketika menjadi setra pembangunan industri pariwisata di masa republik. Migrasi yang datang ke Kuta tidak hanya dari orang-orang Hindu Bali namun juga berasal dari etnis lain seperti Cina, Bugis, Jawa, Madura, dan Sasak. Mereka membangun kampung berdasarkan komunitas etnis. Pemukiman orang-orang Hindu Bali pada masa kerajaan juga hidup mengelompok. Mereka membentuk membentuk sekaa suka duka52 yang kemudian secara gotong royong membangun balai pertemuan. Lama kelamaan balai pertemuan itu menjadi balai banjar. Lingkungan di sekitarnya lama kelamaan menjadi wilayah banjar.53 Penduduk Kelurahan Kuta pada tahun 2015 berjumlah 12.747.54 Penduduk yang beragama Hindu di Kelurahan Kuta menurut data tahun 2015 berjumlah 8.961 jiwa (70% dari total penduduk Kelurahan Kuta).55 Di tingkat desa adat jumlah krama adat Desa Adat kuta sampai tanggal 30 Juni 2016 berjumlah 2.205 KK.56

50 Pura Kawitan adalah pura untuk memuliakan leluhur yang menjadi cikal bakal

dari suatu klan. Pura Kawitan dari satu klan hanya terdapat di satu tempat yang berhubungan dengan domisi atau tempat bertugas dari orang yang menurunan klan yang bersangkutan. Pura Kawitan dari Klan Pasek Gelgel ada di Pura Kawitan Pasek Gelgel di Kelungkung.

51 Desa Adat Kuta, ―Eka Likita Desa Adat Kuta.‖

52 Kelompok yang bergotong royong melaksanakan upacara yang digolongkan

―duka‖ seperti kematian serta upacara yang digolongkan sebagai ―suka‖ seperti pernikahan.

53 Desa Adat Kuta, ―Eka Likita Desa Adat Kuta.‖

54 Untuk mengetahui jumlah penduduk di Desa Adat Kuta, jumlah itu harus

dikurangi dengan jumlah penduduk Lingkungan Abianbase yang merupakan bagian dari Kelurahan Kuta namun bukan bagian dari Desa Adat Kuta.

55 Sumber: Laporan Kelurahan Kuta 2015. Dalam laporan ini angka-angka

mendekati angka komposisi penganut agama di Desa Adat Kuta karena satu lingkungan dalam Kelurahan Kuta yaitu Lingkungan Abian Base, tidak masuk dalam wilayah Desa Adat Kuta.

56 Desa Adat Kuta, ―Profil Desa Adat Kuta,‖ accessed July 21, 2018,

Gambar

Gambar Baliho Hasil Paruman Desa Adat Kuta

Referensi

Dokumen terkait

Berdasar pada pemaparan di atas penulis hendak meneliti “KONSEP AGAMA MENURUT GERAKAN DIALOG KEAGAMAAN (Studi tentang Pemahaman Agama dari Jaringan Kerja Antar Umat

Penelitian sama tentang lingkungan hidup yang juga meneliti soal reklamasi Teluk Benoa adalahpenelitian dari Mia Angeline dan Lidia Wati Evelina (2013)dosen dari

Karena kebutuhan pertama penulis adalah untuk mengetahui bagaimana latar belakang (konteks) pemikiran dan pemahaman mengenai bentuk-bentuk kesenangan serta sikap terhadap