BAB III METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Dalam penelitian ini, desain penelitian yang digunakan peneliti adalah studi kasus. Menurut S. Arifianto (2016: 6), penelitian studi kasus merupakan penelitian yang dilakukan terhadap suatu objek yang disebut sebagai kasus secara menyeluruh dan sangat mendalam dengan menggunakan berbagai sumber. Peneliti akan mengumpulkan informasi melalui wawancara dan dokumentasi sehingga dapat memperoleh informasi yang jelas.
B. Tempat Dan Waktu Penelitan 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Klinik Utama Santa Elisabeth Padangsidimpuan Jl. Danau Kerinci Kelurahan Wek V Padangsidimpuan Selatan Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2021 sampai dengan bulan Februari 2021.
C. Subjek Dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian
a. Kepala Unit Klinik Utama Santa Elisabeth Padangsidimpuan
b. Bagian kefarmasian Klinik Utama Santa Elisabeth Padangsidimpuan
c. Bagian bendahara Klinik Utama Santa Elisabeth Padangsidimpuan
2.
Objek PenelitianObjek peneliti dalam penelitian ini adalah pengendalian internal sistem pembelian obat Klinik Santa Elisabeth Padangsidimpuan.
D. Jenis Data dan Sumber Data 1. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari narasumber.
Data yang diperoleh ialah data hasil wawancara dan dokumentasi.
2. Data sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh melalui media perantara.
Sumber data sekunder bersumber dari buku, jurnal, artikel dan hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitan yang dilakukan.
E. Data Penelitian
Data yang dibutuhkan pada penelitian ini berupa:
a. Gambaran umum klinik Santa Elisabeth b. Struktur Organisasi
c. Job description
d. Prosedur pengendalian internal sistem pembelian obat yaitu prosedur pengadaan persediaan obat, penerimaan persediaan obat, penyimpanan persediaan obat, dan pengeluaran persediaan obat, dan stock opname persediaan obat
e. Dokumen prosedur pengadaan persediaan obat, penerimaan persediaan obat, penyimpanan persediaan obat, dan pengeluaran persediaan obat, dan stock opname persediaan obat
F. Teknik Pengumpulan Data
Peneliti akan mengumpulkan data melalui dua cara yaitu teknik wawancara dan dokumentasi.
1. Teknik Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan pertanyaan secara lisan kepada responden. Pengajuan pertanyaan penelitian dapat berbicara langsung dengan responden, jika tidak memungkinkan untuk bertatap muka maka wawancara dapat dilakukan melalui alat komunikasi seperti telepon, video call atau alat komunikasi lainnya. Peneliti akan memberikan pertanyaan kepada responden berkenaan dengan pengendalian internal pengadaan obat di unit farmasi dan juga pihak yang terlibat dalam pengendalian internal sistem pembelian obat.
2. Teknik Dokumentasi
Dokumentasi adalah pengumpulan data yang berasal dari berbagai sumber seperti laporan keuangan, undang-undang, buku, jurnal dan lain sebagainya, data tersebut masih bersifat mentah dan perlu diolah untuk dapat dipahami secara jelas. Dokumentasi yang akan dikumpulkan oleh peneliti adalah dokumen yang menunjang proses penelitian berjalan dengan baik. Dokumen yang dikumpulkan berupa kartu stok, surat
pesanan obat, struk pembayaran, surat pembelian, surat izin operasional dan dokumen lainnya yang mendukung penelitian.
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang akan digunakan peneliti dalam penelitian pengendalian internal sistem pembelian obat Klinik Santa Elisabeth Padangsidimpuan adalah deskripsi komparatif. Perbandingan yang dilakukan oleh peneliti yaitu membandingkan pengendalian internal sistem pembelian obat Klinik Santa Elisabeth dengan prinsip-prinsip pengendalian internal komponen COSO.
1. Peneliti mendeskripsikan prosedur pengendalian internal sistem pembelian obat Klinik Santa Elisabeth.
2. Peneliti menggambarkan pengendalian internal sistem pembelian obat yang terdapat di Klinik Santa Elisabeth dengan menggunakan bagan alir atau flowchart
3. Peneliti melakukan perbandingan pengendalian internal sistem pembelian obat Klinik Santa Elisabeth dengan prinsip-prinsip pengendalian internal komponen COSO berdasarkan tabel berikut:
Tabel 3.1 Komponen Lingkungan Pengendalian Internal Pengendalian
Internal
Teori Internal Klinik
Santa Elisabeth
Komitmen atas integritas dan nilai etika merupakan unsur pokok lingkungan pengendalian yang mempengaruhi perancangan pengurusan dan pemantauan komponen pengendalian internal lainnya. Komitmen atas integritas dan nilai etika meliputi tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi hal-hal yang bisa menyebabkan pegawai bertindak tidak jujur, melanggar peraturan, dan berperilaku tidak etis.
2. Melaksanakan tanggung jawab pengawasan
Independensi terhadap manajemen dalam melakukan pengawasan terhadap pengembangan dan pengendalian internal berkaitan dengan pengalaman, luasnya interaksi, dan ketepatan tindakan serta pengawasan atas pelaporan keuangan dan ketaatan pada peraturan.
3. Menetapkan struktur,
wewenang, jalur pelaporan, dan tanggung jawab
Orgnaisasi membentuk struktur, jalur pelaopran, wewenang dan tanggung jawab dalam mencapai tujuan. Struktur organisasi membatasi garis tanggung jawab dan wewenang yang ada, menghubungkan garis arus komunikasi suatu entitas. Struktur organisasi biasanya dituangkan dalam bentuk bagan organisasi.
4. Komitmen
Organisasi menujukkan komitmen untuk memperoleh, mengembangkan dan mepertahankan individu yang kompoten dalam upaya mencapai tujuan. Komitmen terhadap kompetensi meliputi pertimbangan manajemen terhadap tingkat kompetensi dari pekerjaan dan bagaimana tingkatan tersebut menjadi keterampilan dan pengetahuan pegawai.
Tabel 1.2 Komponen Lingkungan Pengendalian Internal (Lanjutan) Pengendalian
Internal Teori Internal
Klinik Santa Elisabeth
Temuan
5. Mendorong akuntabilitas dan tanggun jawab
Organisasi mewajibkan masing-masing individu mengembangkan akuntabilitas atas tanggung jawabnya dalam hal pengendalian internal untuk mencapai tujuan. setiap individu mengimplementasikan tindakan perbaikan jika dibutuhkan.
Tabel 3.3 Komponen Penilaian Risiko No Prinsip Pengendalian
Internal Teori
Menetapkan tujuan secara jelas meliputi tujuan operasi, tujuan pelaporan, dan tujuan kepatuhan.
Hal-hal yang berhubungan dengan tujuan operasi yaitu tujuan kinerja operasi, keuangan, batas toleransi yang dapt diterima.
Hal-hal yang berhubungan dengan tujuan pelaporan yaitu pelaporan terhadap pihak eksternal dan patuh terhadap peraturan yang berlaku.
2. Mengidentifikasi dan menganalisis risiko
Organisasi mengidentifikasi risiko terkait pencapaian tujuan entitas serta menganalisis risiko untuk menemukan solusi atas risiko yang ada.
3. Mempertimbangkan potensi fraud
Organisasi mempertimbangkan potensi kecurangan dalam menilai risiko dalam upaya mencapai tujuan.
4. Mengidentifikasi dan menilai risiko yang signifikan
Organisasi mengidentifikasi dan menilai perubahan-perubahan yang dapat memengaruhi sistem pengendalian internal secara signisikan.
Tabel 3.4 Komponen Aktivitas Pengendalian
Organisasi memilih dan mengembangkan aktivitas pengendalian yang berkontribusi terhadap mitigasi risiko sampai pada tingkat yang dapat diterima. Kebijakan ini meliputi pemisahan tugas, otorisasi atas transaksi dan aktivitas, dokumen dan pencatatan yang up to date, ruang penyimpanan yang aman, pembatasan akses, pengecekan secara fisik dan penilaian kinerja.
2 Mengembangkan aktivitas
pengendalian terkait teknologi
Organisasi memilih dan mengembangkan aktivitas pengendalian secara umum terkait teknologi dalam rangka mencapai tujuan.
penggunaan dan perancangan dokumen dan catatan yang memadai untuk membanu pencatatan secara semestinya transaksi dan peristiwa. Penyimpanan arsip dalam lemari terkunci, file yang diback up serta penyimpanan dokumen penting yang terjamin.
3 Menerapakan kebijakan dan prosedur
Organisasi menerapkan aktivitas pengendalian melalui kebijakan mengenai apa yang diharapkan manajemen dan prosedur mengenai implementasi kebijakan tersebut.
No Prinsip
Organisasi memperoleh dan menghasilkan dan menggunakan informasi yang berkualitas, relevan untuk menukung berfungsinya pengendalian internal. Informasi yang dibutuhkan bersumber dari eksternal dan internal. Informasi yang akurat dan tepat waktu yang diperoleh akan memudahkan perusahaan mengeloa informasi dengan tepat.
2 Komunikasi internal yang efektif
Organisasi secara internal mengomunikasikan informasi termasuk tujuan dan tanggung jawab pengendalian internal untuk mendukung berfungsinya pengendalian internal. Informasi harus diidentifikasi, di proses dan dikomunikasikan ke personel yang tepat sehingga orang dalam perusahaan dapat melaksanakan tanggung jawabnya dengan tepat.
3 Komunikasi eksternal yang efektif
Organisasi berkomunikasi dengan pihak eksternal terkait hal-hal yang memengaruhi fungsi pengendalian internal.
Tabel 3.6 Komponen Aktivitas Pemantauan
4. Manarik kesimpulan
No Prinsip
Pengendalian
Internal Teori
Praktik Pengendalian Internal Klinik Santa Elisabeth
Temuan
1 Evaluasi yang terpisah dan/atau berkelanjutan
Organisasi memilih, mengembangkan, dan melaksanakan evaluasi yang berkelanjutan dan/atau terpisah untuk memastikan seluruh komponen pengendalian internal ada dan berfungsi dengan baik. Evaluasi yang berkesinambungan dibangun untuk menyajikan informasi yang tepat waktu.
2 Mengevaluasi dan mengomunikasikan kelemahan
pengendalian
Organisasi mengevaluasi dan mengomunikasikan kekurangan pengendalian internal pada pihak yang bertanggung jawab, termasuk manajemen dan dewan pengawas untuk diambil tindakan korektif, apabila diperlukan.
Padangsidimpuan dengan 17 prinsip-prinsip pengendalian internal komponen COSO untuk menarik kesimpulan pengendalian internal sistem pembelian obat Klinik Santa Elisabeth telah memenuhi prinsip-prinsip pengendalian internal komponen COSO.
BAB IV
GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
A. Profil Perusahaan
Nama perusahaan: Klinik Pratama Santa Elisabeth Padangsidimpuan Alamat Perusahaan: Jl. Danau Kerinci Kelurahan Wek V
Padangsidimpuan Selatan Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara. 22711 Telepon: 0823-6020-6106
Jenis usaha: Jasa kesehatan
B. Sejarah Berdiri Dan Berkembangnya Perusahaan
Sejarah berdirinya Klinik Santa Elisabeth Padangsidipuang tidak banyak ditemukan dala arsip Klinik Santa Elisabeth Padangsidimpuan karena alasan keterbatasan kemampuan bahasa Indonesia yang masih terbatas.
Pada Konsili Vatikan II tahun 1960 Uskup menghimbau agar para biarawan dan biarawati dari Eropa rela melibatkan diri dalam karya misi supaya cinta kasih Kristus lebih dikenal banyak orang. Uskup Gratian Grimm, Administrator Prefektur Apostolik Sibolga singgah di Reute dan berdiskusi dengan pimimpin umum Biara OSF Reute untuk menanggapi himbauan para uskup pada Konsili Vatikan. Pada tanggal 25 Agustus tahun 1964 lima suster dari Reute diutus untuk memulai misi di Indonesia dan tiba di Indonesia pada tanggal 07 Oktober tahun 1964. Pada bulan Agustus tahun 1965 para suster OSF membuka karya balai pengobatan
Santa Elisabeth di Padangsidimpuan dengan tujuan untuk melayani masyarakat setempat.
Perkembangan zaman semakin maju demikian juga balai pengobatan berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan sekarang menjadi klinik Santa Elisabeth Padangsidimpuan yang banyak dikunjungi oleh masyarakat karena pelayanan yang baik dan memuaskan masyarakat.
C. Visi Dan Misi a. Visi
Menjadi klinik yang berkualitas, terpercaya yang mengacu pada kasih Allah.
b. Misi
1) Menyalurkan kasih Allah melalui pelayanan kesehatan 2) Melayani dengan sungguh dan penuh cinta
3) Menjadikan diri sebagai pelayan yang rendah hati dan profesional dalam pekerjaan
4) Meningkatkan kompentensi sumber daya manusia D. Struktur Organisasi
1. Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah kerangka kerja formal yang dibuat oleh organisasi, dengan kerangka kerja itu tugas-tugas dan pekerjaan dibagi-bagi, dikelompokkan, dan dikoordinasikan. Struktur organisasi
yang jelas membantu entitas melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara efekif dan efisien.
Struktur organisasi Klinik Santa Elisabeth digambarkan dalam bagan berikut:
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Klinik Santa ELisabeth Padangsidimpuan
2. Tugas dan wewenang
a. Dokter penanggung jawab
Dokter penanggung jawab merupakan tempat berkonsultasi terhadap kesulitan yang dialami oleh klinik Santa Elisabeth Padangsidimpuan.
b. Pemimpin unit
Pemimpin unit bertanggung jawab untuk seluruh kegiatan operasional Klinik Santa Elisabeth dan menjamin seluruh aktivitas berjalan dengan baik serta bertanggung jawab kepada pihak eksternal dan Yayasan Karya Dharma Bakti Sibolga.
c. Pelayan kesehatan
Bagian pelayan kesehatan, dokter, bidan, dan perawat bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal kepada semua pihak yang datang dengan tujuan untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan diberikan sesuai dengan kebutuhan setiap pasien sehingga semua pasien mendapatkan hak dan pelayanan yang maksimal.
d. Bagian kefarmasian
Bagian kefarmasian bertanggung jawab untuk bagian gudang farmasi, menjaga kualitas obat, mencatat obat yang keluar dan obat yang masuk kedalam gudang. Bagian farmasi juga memiliki tanggung jawab untuk mencatat persediaan obat yang telah habis dan mengusulkan pembelian obat.
e. Administrasi
Bagian administrasi memiliki tanggung jawab untuk menjamin administrasi pasien tercatat dengan baik dan disimpan dengan rapi.
Administrasi yang tersimpan dengan baik membantu pelayanan kesehatan berjalan dengan efektif.
f. Cleaning service
Bagian cleaning service memiliki tanggung jawab untuk kebersihan lingkungan dan ruangan Klinik Santa Elisabeth.
Kebersihan ruangan dan lingkungan merupakan salah satu bagian penting untuk terlaksananya kegiatan operasional dengan baik.
E. Personalia
1. Jumlah Tenaga Kerja
Jumlah tenaga kerja yang ada di Klinik Santa Elisabeth Padangsidimpuan berjumlah 15 orang yang terdiri dari dokter penanggung jawab klinik, penanggungjawab unit, dokter jaga, dokter gigi, empat tenaga perawat, tiga bidan, farmasi, dan dua bagian administrasi.
2. Hari Kerja dan Jam Kerja
Hari kerja karyawan Klinik Santa Elisabeth sebelum masa pandemi covid 19 adalah senin sampai minggu mulai dari pukul 07.30 WIB hingga pukul 21.30 WIB yang terbagi dalam tiga shift namun
setelah adanya pandemi covid 19 jam kerja dimulai pukul 07.30 WIB hingga pukul 17.00 WIB yang terdiri dari dua shift. Klinik Santa Elisabeth tidak menerima pasien rawat inap untuk mengantisipasi penyebaran covid 19
3. Sistem Penggajian
Karyawan yang bekerja di klinik Santa Elisabeth Padangsidimpuan mendapatkan gaji setiap bulan dan sistem penggajian yang dilakukan di Klinik Santa Elisabeth berdasarkan sistem penggajian Yayasan Karya Dharma Bakti sebagai pemilik dari Klinik Santa Elisabeth Padangsidimpuan.
4. Jaminan Sosial Dan Kompensasi Karyawan
Setiap karyawan mendapat jaminan sosial ketenagakerjaan yang dibantu oleh Yayasan karya dharma bakti, pegawai tetap mendapatkan dana hari tua. Setiap karyawan mendapatkan tunjangan hari raya, tunjangan libur, tunjangan ibu hamil untuk kaum ibu yang sedang hamil dan setiap karyawan mendapatkan waktu libur selama dua belas hari kerja bagi karyawan yang sudah bekerja selama satu tahun.
5. Prosedur Rekrutmen dan Penerimaan Karyawan
Prosedur dan seleksi penerimaan karyawan dilakukan oleh penanggungjawab unit melalui seleksi berkas yang diterima dari pelamar kemudian melakukan pengajuan kepada pihak Yayasan untuk pertimbangan selanjutnya. Pada saat klinik Santa Elisabeth sangat
membutuhkan tenaga kerja, penanggungjawab klinik dapat secara langsung mengajukan permohonan kepada pihak Yayasan agar menerima pelamar yang ditentukan oleh pihak klinik Santa Elisabeth tanpa meminta pertimbangan dari pihak Yayasan.
F. Pemodalan
Klinik Santa Elisabeth didirikan oleh para misionari kongregasi suster-suster Fransiskanes Sibolga dengan menggunakan dana Kongregasi.
Tujuan dari kehadiran klinik ini adalah untuk memenuhi harapan masyarakat yang mengharapkan adanya pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau oleh masyarakat sekitar.
G. Sistem Pembelian Obat Klinik Santa Elisabeth Padangsidimpuan
1. Sistem Pembelian Obat Klinik Santa Elisabeth
Prosedur sistem pembelian persediaan obat Klinik Santa Elisabeth terdiri dari empat prosedur yaitu prosedur pengadaan persediaan, prosedur penerimaan persediaan, prosedur penyimpanan persediaan dan prosedur pengeluaran persediaan obat dari gudang farmasi. Klinik Santa Elisabeth juga melakukan komplain terhadap pemasok atas penerimaan persediaan yang tidak sesuai dengan pesanan pembelian dan prosedur pemusnahan persediaan obat yang sudah kadaluarsa.
Berikut ini disajikan prosedur sistem pembelian obat.
a. Prosedur pengadaan obat
Proses pengadaan obat merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi seluruh kebutuhan persediaan obat Klinik Santa Elisabeth yang akan dijual kembali. Kegiatan pengadaan persediaan obat dilakukan dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada seluruh pasien yang datang melalui penjualan jasa Klinik Santa Elisabeth. Prosedur pengadaan obat menunjukkan awal adanya persediaan obat di Klinik Santa Elisabeth, dalam proses ini terdapat kondisi yang terkait dengan pengadaan obat yaitu perencanaan pembelian atas permintaan dari gudang farmasi dan permintaan pada saat pemeriksaan pasien berlangsung.
a) Permintaan pembelian persediaan obat dari gudang farmasi.
Perencanaan pembelian persediaan obat di Klinik Santa Elisabeth setiap bulannya dilakukan oleh pemimpin Klinik Santa Elisabeth sendiri setelah melakukan stock opname bersama dengan bagian gudang farmasi. Persediaan obat yang sudah habis dan mencapai batas minimum dicatat dalam buku permintaan pembelian. Setelah mencatat semua jenis persediaan obat yang dibutuhkan selanjutnya pemimpin Klinik Santa Elisabeth akan mengirimkan informasi kepada pihak pemasok melalui telepon ataupun pesan whatsapp. Permintaan pembelian persediaan obat dalam partai besar akan dibeli dari pemasok yang besar yang berada di kota Medan, permintaan
dalam skala kecil akan dibeli dari pemasok kecil yang berada di Padangsidimpuan.
Pemesanan pembelian persediaan dalam partai besar memiliki risiko yang tinggi karena membutuhkan waktu empat hari hingga pesanan pembelian tiba ditempat sementara kebutuhan akan ketersediaan obat sangat penting.
Keterlambatan pengangkutan menjadi pokok permasalahan utama didalamnya, keterlambatan pesanan pembelian tiba ditempat menjadikan Klinik Santa Elisabeth melakukan pembelian persediaan obat kepada pemasok terdekat untuk memenuhi kebutuhan pelayanan jasa. Risiko lain yang terjadi dalam proses pembelian persediaan obat yaitu minimnya komunikasi antara pemimpin dengan dokter sebelum dilakukan pesanan pembelian oleh pemimpin Klinik.
Pesanan pembelian dalam skala kecil tidak memiliki risiko karena jarak pemasok dari Klinik Santa Elisabeth cukup dekat dan dapat dijangkau dengan waktu yang cukup singkat.
Pesanan pembelian dalam skala kecil dilakukan dengan cara menjumpai pemasok atau melalui telepon dan pesan whatsapp oleh pemimpin. Persediaan yang dibeli dapat segera langsung dibawa tanpa perantara.
b) Permintaan pembelian persediaan obat pada saat pemeriksaan pasien berlangsung.
Permintaan pembelian persediaan obat pada saat pemeriksaan pasien berlangsung disebabkan oleh berbagai macam keadaan yaitu obat yang dibutuhkan tidak disediakan oleh Klinik Santa Elisabeth, dan kedua persediaan obat telah habis. Dalam keadaan seperti ini perawat maupun dokter akan memberikan informasi kepada pemimpin atau pihak yang berwenang untuk melakukan pembelian obat dengan segera untuk dapat memenuhi kebutuhan pelayanan jasa kepada pasien.
b. Prosedur penerimaan obat
Prosedur penerimaan obat adalah kegiatan menerima persediaan obat yang telah dipesan oleh Klinik Santa Elisabeth dari pemasok atau apotek yang telah menerima pesanan pembelian.
Proses penerimaan barang dilakukan oleh pemimpin Klinik Padangsidimpuan atau pihak yang telah diberi tanggung jawab untuk menerima pesanan pembelian. Proses yang dilakukan oleh klinik Santa Elisabeth pada saat pesanan pembelian diterima adalah:
a) Memeriksa semua obat untuk memastikan obat yang diterima dalam keadaan baik.
b) Mencocokkan jenis obat yang diterima dengan daftar pesanan yang dikirimkan oleh pemimpin Klinik Santa Elisabeth.
c) Mencocokkan jumlah persediaan obat yang diterima dengan faktur yang dikirimkan oleh pemasok.
d) Memberikann informasi kepada pemasok bila pesanan pembelian telah sesuai dengan permintaan maupun tidak sesuai dengan permintaan pembelian.
Dalam penerimaan pesanan persediaan dari pemasok pada partai besar terdapat risiko yang dihadapi yaitu tidak sesuainya jenis obat yang dikirmkan oleh pemasok seperti jumlah obat yang terlalu banyak, jenis obat yang salah, tidak memenuhi semua permintaan, tidak memberikan informasi bahwa pesanan pembelian tidak dapat dipenuhi oleh pemasok dan total harga obat yang tidak sesuai dengan jumlah yang sebenarnya. Risiko ini berdampak pada ketersediaan obat tidak sesuai dengan pesanan yang dikirimkan sehingga harus melakukan pembelian kembali kepada pemasok yang ada di Padangsidimpuan.
c. Prosedur penyimpanan persediaan obat
Prosedur penyimpanan persediaan obat adalah kegiatan yang dilakukan untuk menyimpan persediaan sebelum dijual kembali kepada pasien. Prosedur penyimpanan membutuhkan ketelitian dan ketepatan sehingga mutu persediaan tetap dalam kondisi yang seharusnya. Prosedur penyimpanan persediaan obat dilakukan sebagai berikut:
a) Obat yang diterima dari pemasok akan dikelompokkan berdasarkan jenisnya. Persediaan obat injeksi akan disimpan diruang pemeriksaan karena akan segera dijual kepada pasein.
b) Persediaan obat yang bukan injeksi akan dibawa kegudang farmasi untuk disusun didalam lemari persediaan obat.
c) Bagian farmasi akan menyimpan dan mengatur letak obat agar mudah diambil sesuai dengan tanggal kadaluarsa yang berfungsi untuk mengurangi risiko penjualan obat yang baru dijual terlebih dahulu atau bisa disebut sistem First Expiret Firs Out (FEFO)
d) Mengatur suhu ruangan untuk menjaga kestabilan kwalaitas obat tetap baik.
Risiko-risiko yang mungkin timbul dari prosedur penyimpanan persediaan obat digudang farmasi yaitu pemesanan pembelian persediaan obat yang terlalu banyak, dokter menggunakan obat paten dan menggunakan jenis obat baru yang tidak tersedia di gudang farmasi sementara jenis obat yang sering digunakan oleh dokter sudah tersedia di gudang farmasi namun tidak dipakai lagi. Risiko seperti ini menjadi sangat rentan menjadikan obat menumpuk dan kadalursa.
Selain itu risiko yang paling tinggi adalah terjadinya bencana nasional yaitu Covid 19 menjadikan Klinik Santa Elisabeth menguah jam operasional dan menghentikan penerimaan rawat
inap sehingga banyak obat yang tersimpan digudang farmasi tidak terpakai hingga menjadi kadalursa.
d. Prosedur pengeluaran obat
Prosedur pengeluaran obat merupakan kegiatan mengeluarkan persediaan obat dari gudang kemudian dijual melalui pelayanan jasa yang telah diberikan oleh Klinik Santa Elisabeth kepada pasien. Pengeluaran persediaan obat dari gudang dapat disebabkan oleh dua hal yaitu karena dijual kepada pasien dan karena obat kadaluarsa sehingga harus dibuang.
Pengeluaran persediaan obat dari gudang farmasi karena dijual kepada pasien melalui prosedur pemeriksaan oleh dokter atau perawat kemudian dokter atau perawat memberikan resep obat dan selanjutnya resep tersebut dikonsultasikan oleh dokter atau perawat kepada pasien untuk mengetahui harga obat yang akan dibayarkan, setelah terjadi kesepakatan harga maka pelayan kesehatan akan memberikan resep obat kepada apoteker, selanjutnya apoteker akan memenuhi seluruh resep yang telah diberikan dan kemudian diberikan kepada pasien. Setelah obat diterima oleh pasien maka pasien atau keluarga pasien akan menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Slip pembayaran terdiri dari dua lembar, lembar asli akan diberikan kepada pasien dan lembar kedua akan menjadi arsip Klinik Santa Elisabeth sebagai bukti pembayaran obat telah dilakukan oleh pasien.
Pengeluaran persediaan obat dari gudang disebabkan kadaluarsa tidak memiliki dokumen pemusnahan. Persediaan
Pengeluaran persediaan obat dari gudang disebabkan kadaluarsa tidak memiliki dokumen pemusnahan. Persediaan