BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
G. Sistem Pembelian Obat Klinik Santa ELisabeth
1. Sistem Pembelian Obat Klinik Santa Elisabeth
Prosedur sistem pembelian persediaan obat Klinik Santa Elisabeth terdiri dari empat prosedur yaitu prosedur pengadaan persediaan, prosedur penerimaan persediaan, prosedur penyimpanan persediaan dan prosedur pengeluaran persediaan obat dari gudang farmasi. Klinik Santa Elisabeth juga melakukan komplain terhadap pemasok atas penerimaan persediaan yang tidak sesuai dengan pesanan pembelian dan prosedur pemusnahan persediaan obat yang sudah kadaluarsa.
Berikut ini disajikan prosedur sistem pembelian obat.
a. Prosedur pengadaan obat
Proses pengadaan obat merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi seluruh kebutuhan persediaan obat Klinik Santa Elisabeth yang akan dijual kembali. Kegiatan pengadaan persediaan obat dilakukan dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada seluruh pasien yang datang melalui penjualan jasa Klinik Santa Elisabeth. Prosedur pengadaan obat menunjukkan awal adanya persediaan obat di Klinik Santa Elisabeth, dalam proses ini terdapat kondisi yang terkait dengan pengadaan obat yaitu perencanaan pembelian atas permintaan dari gudang farmasi dan permintaan pada saat pemeriksaan pasien berlangsung.
a) Permintaan pembelian persediaan obat dari gudang farmasi.
Perencanaan pembelian persediaan obat di Klinik Santa Elisabeth setiap bulannya dilakukan oleh pemimpin Klinik Santa Elisabeth sendiri setelah melakukan stock opname bersama dengan bagian gudang farmasi. Persediaan obat yang sudah habis dan mencapai batas minimum dicatat dalam buku permintaan pembelian. Setelah mencatat semua jenis persediaan obat yang dibutuhkan selanjutnya pemimpin Klinik Santa Elisabeth akan mengirimkan informasi kepada pihak pemasok melalui telepon ataupun pesan whatsapp. Permintaan pembelian persediaan obat dalam partai besar akan dibeli dari pemasok yang besar yang berada di kota Medan, permintaan
dalam skala kecil akan dibeli dari pemasok kecil yang berada di Padangsidimpuan.
Pemesanan pembelian persediaan dalam partai besar memiliki risiko yang tinggi karena membutuhkan waktu empat hari hingga pesanan pembelian tiba ditempat sementara kebutuhan akan ketersediaan obat sangat penting.
Keterlambatan pengangkutan menjadi pokok permasalahan utama didalamnya, keterlambatan pesanan pembelian tiba ditempat menjadikan Klinik Santa Elisabeth melakukan pembelian persediaan obat kepada pemasok terdekat untuk memenuhi kebutuhan pelayanan jasa. Risiko lain yang terjadi dalam proses pembelian persediaan obat yaitu minimnya komunikasi antara pemimpin dengan dokter sebelum dilakukan pesanan pembelian oleh pemimpin Klinik.
Pesanan pembelian dalam skala kecil tidak memiliki risiko karena jarak pemasok dari Klinik Santa Elisabeth cukup dekat dan dapat dijangkau dengan waktu yang cukup singkat.
Pesanan pembelian dalam skala kecil dilakukan dengan cara menjumpai pemasok atau melalui telepon dan pesan whatsapp oleh pemimpin. Persediaan yang dibeli dapat segera langsung dibawa tanpa perantara.
b) Permintaan pembelian persediaan obat pada saat pemeriksaan pasien berlangsung.
Permintaan pembelian persediaan obat pada saat pemeriksaan pasien berlangsung disebabkan oleh berbagai macam keadaan yaitu obat yang dibutuhkan tidak disediakan oleh Klinik Santa Elisabeth, dan kedua persediaan obat telah habis. Dalam keadaan seperti ini perawat maupun dokter akan memberikan informasi kepada pemimpin atau pihak yang berwenang untuk melakukan pembelian obat dengan segera untuk dapat memenuhi kebutuhan pelayanan jasa kepada pasien.
b. Prosedur penerimaan obat
Prosedur penerimaan obat adalah kegiatan menerima persediaan obat yang telah dipesan oleh Klinik Santa Elisabeth dari pemasok atau apotek yang telah menerima pesanan pembelian.
Proses penerimaan barang dilakukan oleh pemimpin Klinik Padangsidimpuan atau pihak yang telah diberi tanggung jawab untuk menerima pesanan pembelian. Proses yang dilakukan oleh klinik Santa Elisabeth pada saat pesanan pembelian diterima adalah:
a) Memeriksa semua obat untuk memastikan obat yang diterima dalam keadaan baik.
b) Mencocokkan jenis obat yang diterima dengan daftar pesanan yang dikirimkan oleh pemimpin Klinik Santa Elisabeth.
c) Mencocokkan jumlah persediaan obat yang diterima dengan faktur yang dikirimkan oleh pemasok.
d) Memberikann informasi kepada pemasok bila pesanan pembelian telah sesuai dengan permintaan maupun tidak sesuai dengan permintaan pembelian.
Dalam penerimaan pesanan persediaan dari pemasok pada partai besar terdapat risiko yang dihadapi yaitu tidak sesuainya jenis obat yang dikirmkan oleh pemasok seperti jumlah obat yang terlalu banyak, jenis obat yang salah, tidak memenuhi semua permintaan, tidak memberikan informasi bahwa pesanan pembelian tidak dapat dipenuhi oleh pemasok dan total harga obat yang tidak sesuai dengan jumlah yang sebenarnya. Risiko ini berdampak pada ketersediaan obat tidak sesuai dengan pesanan yang dikirimkan sehingga harus melakukan pembelian kembali kepada pemasok yang ada di Padangsidimpuan.
c. Prosedur penyimpanan persediaan obat
Prosedur penyimpanan persediaan obat adalah kegiatan yang dilakukan untuk menyimpan persediaan sebelum dijual kembali kepada pasien. Prosedur penyimpanan membutuhkan ketelitian dan ketepatan sehingga mutu persediaan tetap dalam kondisi yang seharusnya. Prosedur penyimpanan persediaan obat dilakukan sebagai berikut:
a) Obat yang diterima dari pemasok akan dikelompokkan berdasarkan jenisnya. Persediaan obat injeksi akan disimpan diruang pemeriksaan karena akan segera dijual kepada pasein.
b) Persediaan obat yang bukan injeksi akan dibawa kegudang farmasi untuk disusun didalam lemari persediaan obat.
c) Bagian farmasi akan menyimpan dan mengatur letak obat agar mudah diambil sesuai dengan tanggal kadaluarsa yang berfungsi untuk mengurangi risiko penjualan obat yang baru dijual terlebih dahulu atau bisa disebut sistem First Expiret Firs Out (FEFO)
d) Mengatur suhu ruangan untuk menjaga kestabilan kwalaitas obat tetap baik.
Risiko-risiko yang mungkin timbul dari prosedur penyimpanan persediaan obat digudang farmasi yaitu pemesanan pembelian persediaan obat yang terlalu banyak, dokter menggunakan obat paten dan menggunakan jenis obat baru yang tidak tersedia di gudang farmasi sementara jenis obat yang sering digunakan oleh dokter sudah tersedia di gudang farmasi namun tidak dipakai lagi. Risiko seperti ini menjadi sangat rentan menjadikan obat menumpuk dan kadalursa.
Selain itu risiko yang paling tinggi adalah terjadinya bencana nasional yaitu Covid 19 menjadikan Klinik Santa Elisabeth menguah jam operasional dan menghentikan penerimaan rawat
inap sehingga banyak obat yang tersimpan digudang farmasi tidak terpakai hingga menjadi kadalursa.
d. Prosedur pengeluaran obat
Prosedur pengeluaran obat merupakan kegiatan mengeluarkan persediaan obat dari gudang kemudian dijual melalui pelayanan jasa yang telah diberikan oleh Klinik Santa Elisabeth kepada pasien. Pengeluaran persediaan obat dari gudang dapat disebabkan oleh dua hal yaitu karena dijual kepada pasien dan karena obat kadaluarsa sehingga harus dibuang.
Pengeluaran persediaan obat dari gudang farmasi karena dijual kepada pasien melalui prosedur pemeriksaan oleh dokter atau perawat kemudian dokter atau perawat memberikan resep obat dan selanjutnya resep tersebut dikonsultasikan oleh dokter atau perawat kepada pasien untuk mengetahui harga obat yang akan dibayarkan, setelah terjadi kesepakatan harga maka pelayan kesehatan akan memberikan resep obat kepada apoteker, selanjutnya apoteker akan memenuhi seluruh resep yang telah diberikan dan kemudian diberikan kepada pasien. Setelah obat diterima oleh pasien maka pasien atau keluarga pasien akan menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Slip pembayaran terdiri dari dua lembar, lembar asli akan diberikan kepada pasien dan lembar kedua akan menjadi arsip Klinik Santa Elisabeth sebagai bukti pembayaran obat telah dilakukan oleh pasien.
Pengeluaran persediaan obat dari gudang disebabkan kadaluarsa tidak memiliki dokumen pemusnahan. Persediaan dalam bentuk cairan akan dimasukkan kedalam air kemudian dikubur kedalam tanah, sementara untuk persediaan yang berbentuk tablet akan dilarutkan kedalam air lalu dikubur kedalam tanah atau air larutan disiramkan ke tanaman. Pengeluaran persediaan obat karena kadaluarsa termasuk kerugian Klinik Santa Elisabeth Padangsidimpuan.
e. Prosedur stock opname obat
Prosedur stock opname adalah kegiatan yang dilakukan untuk menghitung secara fisik jumlah persediaan yang masih ada di gudang penyimpanan persediaan. Klinik Santa Elisabeth melakukan stock opname sekali dalam seminggu. Perhitungan fisik dilakukan sesuai dengan kebutuhan yang selalu berubah tergantung dari jumlah pasien yang dilayani oleh Klinik Santa Elisabeth dan juga jenis penyakit yang diderita oleh pasien. Stock opname sekali seminggu menjadi sumber informasi penting untuk pengadaan persediaan obat di gudang farmasi Klinik Santa Elisabeth, melalui perhitungan fisik, pengadaan persediaan obat bisa terjadi dua sampai tiga kali dalam satu bulan
2. F
lian obat Klinik Santa Elisabeth
Bagian Pembelian
AS : Arsip sementara
SOP : Surat order pembelian LPB : Laporan penerimaan barang
Gambar 5.2 Sistem Pembelian Obat Klinik Santa Elisabeth Sumber: Wawancara
Gambar 5.2 Sistem Pembelian Obat Klinik Santa Elisabeth Sumber: Wawancara
LPB: Laporan penerimaan barang SPB: Surat penerimaan barng SOP: Surat order pembelian
BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Pengendalian Internal Sistem Pembelian Obat Klinik Santa Elisabeth Padangsidimpuan.
1. Pengendalian internal Sistem Pembelian Obat Klinik Santa Elisabeth a. Komponen Lingkungan Pengendalian
1) Prinsip 1: Komitmen terhadap integritas dan nilai-nilai etika.
Klinik Santa Elisabeth menetapkan standar perilaku yang harus dipatuhi oleh seluruh karyawan tenaga medis maupun karyawan lainnya dalam bentuk buku pedoman. Buku pedoman berisikan peraturan yang harus dipatuhi oleh seluruh karyawan tenaga medis termasuk di dalamnya aturan kontrak perjanjian, etika dalam melayani pasien, tugas dan tanggung jawab sebagai tenaga medis, kedisiplinan, konsekuensi pelanggaran perjanjian.
Klinik Santa Elisabeth menjunjung tinggi nilai kejujuran dan profesionalisme dalam melayani pasien, misalnya seorang tenaga medis harus bisa mengesampingkan persoalan pribadi dengan pekerjaan melalui sikap ramah, sopan santun, menunjukkan kegembiraan dalam melayani pasien sehingga pasien dapat merasakan penerimaan yang baik, jujur mengakui kesalahan yang dilakukan, jujur dalam pengeluaran obat dari gudang farmasi sekalipun tidak terdapat kartu pengeluaran obat.
Untuk karyawan yang baru diterima, pemimpin memberikan pendampingan secara khusus untuk memperkenalkan lingkungan dan aktivitas di dalam Klinik Santa Elisabeth. Kegiatan evaluasi kinerja dilakukan oleh Klinik Santa Elisabeth secara rutin sekali dalam dua bulan, dan evaluasi profesionalitas dalam bekerja untuk Yayasan dilakukan sekali dalam enam bulan
Peraturan lain yang tidak tertulis dalam buku panduan dikomunikasikan secara langsung kepada karyawan pada saat pengarahan setiap pagi sebelum aktivitas operasional Klinik Santa Elisabeth dimulai dan informasi penting disampaikan melalui pesan whatsapp.
Buku pedoman yang bukan tenaga medis dibuat secara terpisah dan disusun secara detail untuk memudahkan karyawan melihat dan melaksanakan tugas dan tanggung jawab sehari-hari.
2) Prinsip 2: Melaksanakan tanggung jawab pengawasan.
Dewan pengawas Klinik Santa Elisabeth dibentuk oleh Yayasan yang melaksanakan pengawasan terhadap kinerja pengendalian internal sistem pembelian obat. Pengawasan pada sistem pembelian obat dari pihak eksternal adalah dinas kesehatan yang datang secara mendadak dan tidak teratur. Dinas kesehatan melakukan pemeriksaan terhadap Klinik Santa Elisabeth dalam hal obat-obatan, kebersihan lingkungan, kelengkapan administrasi dan kepatuhan terhadap undang-undang yang berlaku.
Pengawasan Klinik Santa Elisabeth pertama-tama dilakukan oleh pemimpin klinik sendiri yang secara langsung ambil bagian dalam aktivitas operasional sehari-hari. Pengawasan kedua dilakukan oleh dewan pengawas Yayasan yang berperan sebagai tempat berkonsultasi saat menemukan kesulitan. Pengawasan inti adalah ketua Yayasan. Ketua Yayasan melakukan pengawasan melalui komunikasi dengan pemimpin Klinik kemudian dari laporan setiap bulan, melalui evaluasi DP3 karyawan, pada saat pengauditan laporan keuangan dan kunjungan yang terjadwal secara teratur. Laporan keuangan Klinik Santa Elisabeth diaudit oleh audit internal Yayasan minimal sekali dalam satu tahun.
3) Prinsip 3: Menetapkan stuktur, wewenang, jalur pelaoran, dan tanggung jawab.
Klinik Santa Elisabeth memiliki struktur organisasi yang jelas menunjukkan tugas dan tanggung jawab dari setiap tingkat.
Pembagian tugas dan tanggung jawab memudahkan setiap karyawan tenaga medis mengetahui tugas dan tanggung jawabnya.
Secara khusus bagi yang berprofesi sebagai bidan melatih diri untuk bisa memberikan perawatan kepada pasien melalui ilmu yang ditemukan di dalam Klinik Santa Elisabeth karena Klinik Santa Elisabeth belum dikenal luas sebagai tempat yang melayani persalinan.
Struktur Klinik Santa Elisabeth berguna dalam membatasi wewenang serta tanggung jawab dan memperlancar jalur pelaporan terhadap segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kegiatan operasional sehari-hari. Setiap keputusan harus melalui pemimpin atau orang yang diberi wewenang, dalam hal kesalahan yang dilakukan oleh siapapun di dalam Klinik Santa Elisabeth harus dilaporkan kepada pemimpin atau jika orang yang bersangkutan tidak melaporkan kesalahan yang telah dilakukan maka pihak lain yang mengetahui kesalahan dapat melaporkan kepada pemimpin.
4) Prinsip 4: Komitmen merekrut, mengembangkan dan mempertahankan individu yang kompeten.
Klinik Santa Elisabeth dalam hal memperoleh karyawan yang kompeten dilakukan melalui proses seleksi karyawan. Penerimaan seorang karyawan tenaga medis melalui prosedur yang telah ditentukan oleh Yayasan. Proses seleksi seorang karyawan pertama-tama melalui penerimaan surat lamaran yang diberikan oleh pelamar, kemudian pemimpin klinik melakukan pemeriksaan berkas dan mengajukan kepada Yayasan selanjutnya melakukan wawancara, keputusan seorang diterima atau tidak tergantung dari keputusan Yayasan namun pada keadaan tertentu pemimpin klinik dapat memberikan rekomendasi kepada Yayasan agar seorang pelamar diterima. Jenjang pendidikan bagi calon karyawan baru harus sesuai dengan yang dibutuhkan Klinik Santa Elisabeth yaitu
memiliki latar belakang pendidikan minimal Diploma Tiga (D3) di bidang kesehatan, untuk bagian administrasi, pendaftaran, kasir dan cleaning service minimal lulusan SMA.
Klinik Santa Elisabeth tidak melakukan training secara khusus bagi karyawan tenaga medis baru namun pemimpin Klinik memberikan pendampingan dan pengawasan secara khusus hingga mengenal seluruh lingkungan dan bertindak profesional. Seorang karyawan tenaga medis baru tidak secara langsung diangkat menjadi pegawai tetap melainkan sistem kontrak. Kontrak kerja seorang karyawan akan yang segera berakhir dan tidak akan memperpanjang kontrak harus memberikan surat pengunduran diri tiga bulan sebelum masa kontrak berakhir dan kontrak yang tidak dipatuhi diberi sanksi sesuai peraturan Yayasan.
Karyawan yang ingin memperpanjang kontrak kerja harus memberikan informasi kepada pemimpin untuk melakukan perpanjangan kontrak dan harus melalui evaluasi seluruh karyawan, pemimpin dan ketua Yayasan. Hasil evaluasi menjadi kriteria untuk menentukan apakah seorang karyawan tenaga medis dipertahankan atau tidak dan gaji seorang karyawan dapat ditingkatkan atau tidak.
Seluruh karyawan tenaga medis meningkatkan kompetensi yang dimiliki melalui program yang disediakan oleh Yayasan
walaupun tidak terjadwal secara rutin, selain itu kegiatan webinar, seminar dapat diikuti untuk menambah pengetahuan. Pelatihan internal juga dilakukan oleh klinik melalui tanya jawab kepada dokter yang bekerja di klinik.
5) Prinsip 5: Mendorong akuntabilitas dan tanggun jawab.
Klinik Santa Elisabeth mewajibkan setiap karyawan bertanggung jawab sesuai dengan profesi yang dimilikinya.
Seorang dokter bertindak sebagai dokter, seorang perawat bertindak sebagai perawat, seorang bidan bertindak sebagai bidan, seorang apoteker bertindak sebagai apoteker, bagian administrasi bertanggung jawab dibidang administrasi pasien dan seluruh karyawan di dalamnya bertindak sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya dalam melayani pasien sehingga aktivitas operasi berjalan sesuai dengan tujuan organisasi.
Bagian farmasi bertanggung jawab untuk melihat persediaan obat di gudang dan memberikan informasi bahwa persediaan sudah hampir habis atau sudah habis. Informasi dari gudang persediaan obat menjadi informasi penting untuk melakukan pemesanan pembelian persediaan obat. Klinik Santa Elisabeth melakukan evaluasi sistem pembelian obat setiap kali dalam satu bulan. Proses menentukan jenis obat yang akan dipesan melalui pengalaman bulan sebelumnya, lewat konsultasi dengan dokter dan dari jenis penyakit yang ditangani setiap harinya.
b. Komponen penilaian risiko
Pengendalian internal yang baik didukung oleh adanya penilaian risiko yang dibuat oleh organisasi untuk mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang baik yang berasal dari eksternal maupun dari internal, oleh karena itu penilaian risiko sejak dini menjadi pokok penting dilakukan untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi. Menurut COSO, komponen penilaian risiko terdiri dari empat prinsip yaitu menentukan tujuan yang spesifik, mengidentifikasi dan menganalisis risiko, mempertimbangkan potensi fraud, mengidentifikasi dan menilai risiko yang signifikan.
1) Prinsip 6: Menentukan tujuan yang spesifik
Klinik Santa Elisabeth Padangsidimpuan menetapkan dan menjalankan tujuan pengendalian internal baik tujuan operasi, tujuan pelaporan dan tujuan kepatuhan. Klinik Santa Elisabeth menjalankan kegiatan operasi menentukan dua teknik pengeluaran obat dari gudang yaitu sistem First In First Out (FIFO) dan berdasarkan tanggal masa kadaluarsa. Secara umum sistem pengeluaran obat dari gudang menggunakan FIFO namun disisi lain dapat dilakukan berdasarkan tanggal masa kadaluarsa karena ditemukan persediaan obat yang dikirimkan oleh pemasok dengan tanggal kadaluarsa yang lebih cepat dibandingkan dengan persediaan yang ada di gudang.
Dalam upaya meminimalisir terjadinya penumpukan obat hingga menjadi kadaluarsa, Klinik Santa Elisabeth melakukan pemesanan pembelian persediaan obat dengan jumlah yang terbatas, melakukan Stock Opnem sekali dalam seminggu untuk melihat persediaan obat di gudang masih dapat memenuhi kebutuhan operasional.
Pemasok tidak selalu dapat memenuhi permintaan pembelian, terjadinya keterlambatan pengiriman dan adanya perbedaan harga oleh karena itu Klinik Santa Elisabeth menjalin kerjasama dengan pemasok lebih dari satu. Pemasok dalam partai yang besar berada di Medan dan untuk pemesanan dalam partai yang kecil berada di Padangsidimpuan.
Dalam meningkatkan kualitas pelayanan yang semakin bermutu, Klinik Santa Elisabeth melakukan evaluasi internal secara rutin sekali dalam dua bulan untuk menilai kinerja secara keseluruhan. Evaluasi merupakan wadah untuk berbagi pengalaman, memecahkan masalah dan menemukan solusi.
Tujuan pelaporan Klinik Santa Elisabeth dilakukan dengan membuat laporan rutin setiap bulan, melakukan transfer saldo kas ke Yayasan, menyimpan dokumen penerimaan dan pengeluaran yang dilakukan setiap harinya. Sebagai bukti kepatuhan kepada peraturan yang berlaku, Klinik Santa
Elisabeth memenuhi syarat dan ketentuan yang ditentukan oleh pemerintah dari dinas kesehatan dalam hal lingkungan dan tata ruang bangunan, pembuangan limbah, penggunakan obat, administrasi Klinik, penggajian, lembur, insentif dan berusaha memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku baik kepada eksternal maupun internal.
2) Prinsip 7: Mengidentifikasi dan menganalisis risiko
Klinik Santa Elisabeth mengidentifikasi dan mengevaluasi setiap risiko yang akan dialami dengan memperhatikan risiko yang sering terjadi maupun yang jarang terjadi. Risiko yang sering dialami yaitu keterlambatan pengiriman obat dari pemasok karena masalah pengangkutan. Pemasok mengirimkan pesanan pembelian namun pengangkutan lambat untuk mengirimkan barang hingga membutuhkan waktu empat hari hingga tiba ditempat yang sebenarnya dapat dilakukan kurang lebih dua atau tiga hari.
Risiko kedua yaitu pemasok tidak dapat memenuhi seluruh permintaan pembelian obat Klinik Santa Elisabeth namun tidak memberikan informasi kepada Klinik sehingga ketika pesanan pembelian tiba di tempat tidak semua pesanan terpenuhi.
Keadaan seperti ini membuat pihak Klinik melakukan komplain dengan pemasok dan harus melakukan pemesanan kembali kepada pemasok lain. Risiko ketiga yaitu, persediaan
obat di gudang telah habis sebelum pesanan tiba dari pemasok, persediaan obat di gudang tidak ada karena tidak disediakan sehigga Klinik Santa Elisabeth melakukan pesanan pembelian dengan segera kepada pemasok yang ada di Padangsidimpuan untuk memenuhi kebutuhan..
Risiko yang jarang terjadi yaitu jumlah obat yang dikirim oleh pemasok tidak sesuai dengan jumlah yang ada di struk pembayaran. Biasanya penyesuaian jumlah obat dengan struk pembelian akan segera dilakukan pada saat obat tiba di tempat sehingga bagian penerima pesanan dari pemasok akan segera melaporkan kepada pemimpin Klinik untuk melakukan komplain dengan pemasok. Kedua yaitu, pasien yang datang ke Klinik Santa Elisabeth kurang merasa puas atas pelayanan yang diterima sehingga pasien memberikan komentar negatif kepada karyawan tenaga medis secara langsung ditempat maupun diluar sehingga menjadi buah bibir dimasyarakat maupun di kalangan tertentu.
Risiko ketiga yaitu, relasi antar pribadi pegawai Klinik Santa Elisabeth yang kurang harmonis karena melakukan kesalahan yang menimbulkan rasa takut dan tidak jujur.
3) Prinsip 8: Mempertimbangkan potensi fraud.
Klinik Santa Elisabeth telah mempertimbangkan risiko-risiko yang mungkin terjadi yang dapat menimbulkan adanya
fraud baik dari internal maupun eksternal Klinik Santa Elisabeth.
Faktor internal terjadi yaitu ketidak sesuaian harga obat yang diberikan oleh tenaga medis yang menangani pasien dengan harga yang telah ditentukan oleh Klinik. Untuk menghindari risiko tersebut Klinik Santa Elisabeth Padangsidimpuan membuat daftar harga obat dalam bentuk file di komputer dan tercetak. Daftar obat yang dicetak diletakkan di ruang pemeriksaan tempat kasir dan di gudang farmasi.
Klinik Santa Elisabeth membuat struk pembayaran dengan keterangan yang lengkap secara terkomputerisasi sehingga pasien dapat mengetahui total pengeluaran dari setiap pelayanan yang diberikan. Struk pembayaran terdiri dari dua lembar satu lembar untuk pasien, satu lembar sebagai arsip Klinik Santa Elisabeth dan file struk tersimpan di dalam komputer kasir. Untuk akses masuk ke gudang persediaan dapat dilakukan oleh semua tenaga medis dan orang yang diberi wewenang dan setiap persediaan obat yang keluar dari gudang harus menuju kasir untuk diberi keterangan dan pembuatan struk. Klinik Santa Elisabeth memasang CCTV di
Klinik Santa Elisabeth membuat struk pembayaran dengan keterangan yang lengkap secara terkomputerisasi sehingga pasien dapat mengetahui total pengeluaran dari setiap pelayanan yang diberikan. Struk pembayaran terdiri dari dua lembar satu lembar untuk pasien, satu lembar sebagai arsip Klinik Santa Elisabeth dan file struk tersimpan di dalam komputer kasir. Untuk akses masuk ke gudang persediaan dapat dilakukan oleh semua tenaga medis dan orang yang diberi wewenang dan setiap persediaan obat yang keluar dari gudang harus menuju kasir untuk diberi keterangan dan pembuatan struk. Klinik Santa Elisabeth memasang CCTV di