• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESAIN SKEMATIK

Dalam dokumen Expressions of The River Flows (Halaman 64-69)

45Gambar 4.2.4 Konsep Penerapan

DESAIN SKEMATIK

5.1 Dimensi

Setelah melewati tahap pra desain, yaitu tahap survey, analisa dan pengumpulan data dan fakta, serta konsep dan penerapannya pada bangunan, maka tahap selanjutnya yang perancang lakukan yaitu tahap desain, dalam tahap ini kegiatan pertama yang perancang lakukan yaitu tahap rancangan skematik, dimana dalam tahap rancangan skematik ini perancang juga melakukan sketsa terhadap perkiraan layout ruang dalam bangunan, serta sketsa terhadap site, tampak dan potongan bangunan. Kegiatan skematik ini merupakan salah satu alur kegiatan yang penting dalam proses desain, karena tahap skematik yang akan menentukan apakah konsep sebelumnya yang direncanakan dapat terpakai atau tidak. Tahap skematik ini juga menunjukan batasan-batasan dalam merancang. Dalam tahap skematik ini umumnya rancangan yang dihasilkan telah lebih presisi dibandingkan pada tahap konsep yang hanya sebatas khayalan yang ingin diterapkan oleh perancang pada desainnya. Dalam tahap skematik ini meski penggambarannya masih belum tepat dan terukur seperti pada penggambaran pada tahap pengembangan rancangan, tetapi dalam prosesnya telah menggunakan sedikit pengukuran yang menunjukkan modul dari layout yang akan kita rancang atau desain. Dari proses penentuan modul ini, perancang menggunakan gabungan antara modul polar dan grid. Penggunaan modul polar ini diambil dari bentuk tower yang berbentuk bulat sehingga bertujuan untuk mempermudah penyusunan layout kamar pada tower. Dari modul yang berbentuk polar ini didapat kamar dengan tipe deluxe dengan luasan 32 m2 berjumlah 16 buah, yang kemudian kamar tersebut akan dibagi menjadi beberapa tipe kamar lagi, yaitu tipe kamar junior dengan area kamar yang memiliki ukuran 1,5 kali lebih luas

47

dibandingkan dengan kamar tipe deluxe, tipe kamar family yang didalamnya terdapat tambahan kamar yaitu master room dan anak, serta tipe kamar president yang berukuran jauh lebih luas dan fasilitas yang lebih baik dibandingkan dengan tipe kamar lain. Jika modul polar membantu pembagian kamar pada hotel, maka pada modul grid bertujuan untuk mempermudah sirkulasi dan susunan parkir kenderaan pada lantai basement. Pada penyusunan modul grid ini lebih mengarah pada segi fungsionalitas.

Pada awal proses skematik, sketsa pertama yang direncanakan oleh perancang adalah sketsa layout ground plan, sebab dari sketsa ground plan perancang dapat mengetahui batasan luasan bangunan yang akan dibangun setelah dikurangi dengan peraturan pada rancangan undang-undang yaitu peraturan berupa GSB depan dari jalan, dan GSB dari sungai, serta menghitung luasan lantai yang dapat dibangun dari peraturan KDB yang dimana hanya 60% dari lahan yang dapat dibangun. Setelah menentukan batasan yang akan dibangunan, kegiatan selanjutnya yang dilakukan oleh perancang yaitu melakukan sketsa bentukan layout bangunan yang disesuaikan dengan konsep yang telah digunakan pada penerapan tema bangunan. Kegiatan selanjutnya yang perancang lakukan yaitu membagi zona, serta menentukan letak dari entrance dari hotel, mall dan ballroom. Penentuan zona merupakan bagian yang penting, sebab seperti zona mall yang merupakan area publik dan memiliki intensitas pengunjung yang tinggi sebaiknya terletak pada daerah depan dan memberikan kesan lebih mendekatkan diri kejalan, area hotel sebaiknya berada pada belakang agar terhindar dari kebisingan yang dihasilkan oleh jalan arteri dan mall. Hal lain yang menyebabkan peletakan entrance merupakan hal yang penting yaitu peletakan entrance ini menentukan tata jalur perjalanan yang akan dilalui pengunjung untuk mencapai suatu generator aktifitas. Peletakan entrance juga merupakan faktor yang penting jika ditinjau dari segi view, sebagai area yang memiliki intensitas pengunjung yang tinggi, entrance pada mall sebaiknya berada pada posisi yang lebih

mudah terlihat dan dicapai dari jalan arteri, sedangkan entrance pada hotel, diposisikan pada area yang berhubungan dengan area belakang mall, sehingga pengunjung hotel yang berada pada aea lobby juga menikmati suasana pada area mall. Hal ini juga sesuai dengan penggambaran konsep yang dimana jalur kendaraan diekspresikan sebagai air yang mengalir melewati pertengahan kedua batu.

Setelah menentukan zona dan letak entrance, perancang mulai merancang tapak dalam bentuk sketsa, pada sketsa tapak ini bertujuan untuk menentukan posisi bangunan pada site. Sesuai dengan konsep, terdapat suatu esplanade yang merupakan area pejalan kaki, yang dimana pada konsep tersebut menggambarkan area esplanade secara ekspresionis in-tangible merupakan gambaran tepian disekitar air. Sehingga pada skematik tapak ini perancang menggambarkan bentuk sirkulasi pejalan kaki dalam bentuk spiral yang menggambarkan gelembung udara atau rongga, dengan lebar esplanade berkisar antara 2 sampai 3 meter sehingga dapat dilalui secara dua arah oleh pejalan kaki, pada bagian yang merupakan penggambaran rongga merupakan area duduk yang dalamnya terdapat pepohonan, sehingga pengunjung yang duduk dibawahnya merasa rindang dibawah pepohonan tersebut. Pada area belakang yang berdekatan dengan bangunan hotel terdapat suatu jembatan yang menghubungkan antara jalan sei deli dengan site, sehingga pejalan kaki dari sei deli juga memiliki suatu akses untuk mencapai area site. Pada rancangan skematik ruang dalam mall menggambarkan ruang dalam pada bangunan mall, pembagian retail dalam bangunan mall, pada area ground, area retail yang berdekatan dengan sungai atau area yang dapat memberikan view positif dirancang sebagai area foodcourt outdoor, sehingga suasana sungai juga dapat dinikmati oleh pengguna bangunan baik oleh pengguna bangunan dari luar maupun penggunabangunan dari dalam. Pada area foodcourt juga terdapat perbedaan level atau ketinggian yang membedakan area sirkulasi mall dengan area foodcourt. Area kantin dirancang terletak

49

pada pertengahan area foodcourt outdoor dan indoor merupakan salah satu fungsi retail pada mall, retail tersebut yang membedakan area foodcourt outdoor dengan area foodcourt indoor. Selain itu area retail yang berbatasan dengan sungai tersebut juga merupakan pembatas bangunan dengan area luar. Pada area retail menggunakan sistem service 2 arah dimana pengguna bangunan dapat mengorder makanan baik dari sisi indoor maupun dari sisi outdoor, dengan sistem ini pengguna foodcourt yang berupa mahasiswa atau karyawan, yang datang kearea foodcourt tetapi tidak bertujuan mengunjungi mall melainkan sekedar datang hanya untuk menikmati waktu istirahat, tanpa terganggu oleh suara keramaian dari mall, dapat berada pada area foodcourt outdoor ini. Sedangkan pada sisi lain, area foodcourt indoor bertujuan sebagai area makan serta area menonton kegiatan didalam bangunan mall, yaitu atrium mall. Atrium mall merupakan generator aktifitas utama pada mall, pada area atrium ini terletak diarea tengah zona mall yang bersifat publik, sebagai pusat kegiatan pada mall. Kegiatan pada atrium umumnya dapat sebagai area pameran, promosi, perlombaan atau acara yang memiliki kegiatan kecil. Area retail yang berdekatan dengan area atrium, dapat menjadi area dengan harga jual yang lebih mahal sebab akan banyak aktifitas ditengahnya. Area selain dari area retail dengan fungsi foodcourt terdapat area retail yang tertutup yang merupakan area retail yang kurang kaya akan view sehingga area retail tersebut dapat berupa area fashion shop atau toko-toko yang tidak banyak memerlukan view. Area retail tersebut umumnya merupakan area yang berdekatan dengan area hotel dan jalan, sehingga area tersebut juga dapat sebagai buffer antara area mall dan hotel.

Dalam dokumen Expressions of The River Flows (Halaman 64-69)

Dokumen terkait