• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Rajungan

2.2.1 Deskripsi Bubu

Bubu adalah alat tangkap sejenis perangkap dimana ikan atau target lainnya dapat memasuki ruangan penangkapan namun sulit untuk keluar, khususnya ketika jalan keluar dilengkapi dengan alat pencegah hasil tangkapan untuk meloloskan diri (non-return device) (Brandt, 1984). Selanjutnya Brandt (1984) Keterangan :

a. Mendekat perlahan

b. Kontak dengan jaring atau frame c. Berusaha menjangkau umpan melalui

jaring dan pergerakan lateral

d. Menemukan pintu masuk e. Memasuki bubu

f. Memakan umpan

dua dimensi, kadang-kadang pagar perangkap dibuat lebih tinggi dari permukaan air untuk mencegah ikan-ikan lolos dengan cara melompati pagar tersebut. Berbeda dengan perangkap, bubu merupakan alat tangkap tiga dimensi yang memiliki ruangan yang sepenuhnya tertutup, dengan pengecualian, satu atau lebih pintu masuk dilengkapi dengan alat pencegah ikan lolos (non-return device). Perangkap terbuat dari pagar-pagar dimana terdapat satu atau lebih ruangan penangkapan yang terhubung satu dengan yang lain, dan pada tiap ruangan penangkapan tersebut memiliki pintu masuk yang berbentuk corong. Semua jenis bubu merupakan alat tangkap yang dapat dibawa dan dipindah-pindahkan, sedangkan perangkap bersifat menetap sehingga tidak dapat dipindah-pindahkan karena konstruksi dan ukurannya yang besar.

Perikanan bubu skala kecil dioperasikan di perairan yang dangkal, sedangkan untuk skala menengah dan besar biasanya dilakukan di perairan lepas pantai pada kedalaman antara 20 m sampai 700 m (Martasuganda, 2003). Penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap bubu telah banyak digunakan mulai dari skala kecil, menengah, sampai skala besar. Penangkapan skala kecil dan menengah biasanya banyak dilakukan di perairan pantai di hampir seluruh negara yang masih belum maju sistem perikanannya, sedangkan untuk skala besar banyak dilakukan di negara yang sudah maju sistem perikanannya.

Penggunaan bubu memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan alat tangkap lain . Adapun kelebihan dari penggunaan bubu menurut Martasuganda (2003) adalah:

1) Pembuatan alatnya mudah; 2) Pengoperasiannya mudah;

3) Memiliki tingkat kesegaran hasil tangakapan yang tinggi; 4) Daya tangkapnya bisa diandalkan; dan

5) Bisa dioperasikan di tempat-tempat dimana alat tangkap lain tidak bisa dioperasikan.

Menurut Martasuganda (2003), secara umum bubu terdiri atas bagian-bagian rangka, badan, dan mulut. Ada juga bubu yang dilengkapi dengan pintu untuk mengambil hasil tangkapan dan kantung umpan sebagai tempat untuk menyimpan

terdiri atas kerangka (frame), dinding (wall), mulut (funnel), pintu (hatch), dan tempat umpan (bait case) (Subani dan Barus, 1989).

2.2.2 Klasifikasi alat tangkap bubu

Menurut Brandt (1984), bubu digolongkan ke dalam kelompok perangkap (traps). Subani dan Barus (1989) junga mengelompokkan bubu kedalam kategori perangkap. Pengelompokan bubu kedalam golongan perangkap dikarenakan alat tangkap ini berusaha untuk memerangkap ikan-ikan yang masuk kedalamnya.

Secara umum Sainsbury (1996) membagi bubu kedalam dua klasifikasi berdasarkan lokasi pemasangannya yaitu :

1) Bubu laut dangkal (Inshore potting)

Alat tangkap bubu ini dioperasikan dengan menggunakan kapal yang berukuran kecil. Bubu ini dioperasikan hingga kedalaman 50 depa (75 meter). 2) Bubu laut dalam (Offshore potting)

Alat tangkap bubu ini dioperasikan di perairan laut dalam sampai kedalaman 300 depa (450 m). Pengoperasian alat tangkap ini melibatkan peralatan dan kapal yang berukuran jauh lebih besar dibandingkan dengan bubu laut dangkal. Selain itu, ukuran bubu yang dioperasikan juga jauh lebih besar dibandingkan dengan bubu laut dangkal.

Selanjutnya Sainsbury (1996) membagi bubu kedalam dua kategori berdasarkan metode pengoperasiannya, yaitu sistem tunggal dan sistem rawai. 1) Sistem tunggal

Pada pengoperasian bubu dengan menggunakan sistem tunggal, bubu dipasang di dasar perairan secara satu per satu. Bubu jenis ini biasanya dioperasikan pada daerah berkarang dan berbatu dengan jarak yang cukup jauh antara bubu yang satu dengan lainnya. Pada bubu dilengkapi dengan pemberat agar posisi bubu tidak tersapu oleh arus dan berpindah posisi. Untuk dapat mengetahui posisi pemasangan bubu ini, dipasang pelampung tanda untuk memudahkan dalam pencarian bubu. Pemasangan bubu dengan sistem tunggal dapat dilihat pada Gambar 7.

Sumber : Sainsbury (1996) Gambar 7 Pengoperasian bubu dengan sistem tunggal.

2) Sistem rawai

Pengoperasian bubu pada sistem rawai yaitu bubu dipasang dalam jumlah banyak dan dirangkai menggunakan tali antara bubu satu dengan bubu lainnya. Biasanya bubu dengan system rawai dioperasikan pada laut dalam. Bubu yang dipasang dengan sistem rawai biasanya dihubungkan dengan pengait (snap) antara tali cabang dan tali utama. Kemudian ditandai dengan pelampung tanda pada kedua ujungnya dan dilengkapi pemberat agar bubu tidak berpindah tempat. Pemasangan bubu dengan system rawai dapat dilihat pada Gambar 8

Gambar 8 Pengoperasian Bubu dengan sistem rawai.

Subani dan Barus (1989), membagi bubu menjadi tiga golongan berdasarkan cara pengoperasiannya yaitu: bubu dasar (ground fishpot), bubu apung (floating fishpot), dan bubu hanyut (drifting fishpot).

1) Bubu Dasar (Ground Fishpot)

Bubu dasar adalah bubu dioperasikan di dasar perairan. Pengoperasian bubu jenis ini bisa dilakukan secara tunggal dan bisa pula dioperasikan secara rawai. Tempat pemasangan bubu dasar biasanya di perairan karang atau di antara karang- karang atau bebatuan. Pengambilan hasil tangkapan dilakukan dua sampai tiga hari setelah bubu dipasang, bahkan beberapa hari setelah dipasang. Sasaran tangkapan bubu ini adalah jenis ikan demersal.

2) Bubu Apung (Floating Fishpot)

Bubu apung adalah bubu yang dioperasikan dengan cara diapungkan di permukaan perairan. Bubu ini umumnya terbuat dari bambu dan dilengkapi dengan pelampung. Bentuk bubu apung ada yang silindris dan ada pula yang berbentuk seperti kurung-kurung. Bubu jenis ini menangkap jenis ikan pelagis.

3) Bubu Hanyut

Bubu hanyut adalah bubu yang dioperasikan di permukaan air. Ditinjau dari kedudukannya di air, bubu hanyut sama dengan bubu apung, namun bubu ini kemudian dihanyutkan mengikuti arus air. Bubu jenis ini umumnya dirangkai dari beberapa bubu yang berukuran kecil berjumlah 20-30 buah. Bubu hanyut di Indonesia umumnya dikenal dengan sebutan pakaja, luka, atau patorani. Pakaja atau luka artinya sama yaitu bubu, sedangkan patorani merupakan penamaan bubu karena bubu ini menangkap ikan torani atau ikan terbang (flying fish).

2.2.3 Konstruksi bubu

Menurut Subani dan Barus (1989) bubu secara umum terdiri atas kerangka (frame), dinding (wall), ijeb/mulut (funnel), pintu (hatch), dan tempat umpan (bait case). Slack and Smith (2001) menyatakan bahwa bubu terdiri dari rangka, badan, mulut, tempat umpan, pintu, celah pelolosan dan pemberat.

1) Rangka

Rangka bubu berfungsi memberi bentuk pada bubu. Rangka dibuat dari material yang kuat dan dapat mempertahankan bentuk bubu ketika dioperasikan. Rangka bubu dapat terbuat dari kayu, besi, baja atau bahkan terbuat dari plastik. Pada umumnya rangka bubu dibuat dari besi atau baja. Namun demikian dibeberapa tempat rangka bubu dibuat dari papan atau kayu. Di Kanada dan Timur Laut Amerika Serikat, penangkapan lobster tradisional menggunakan bubu dengan rangka kayu dan kini digantikan dengan rangka besi yang dilapisi plastik. Lain halnya di Kanada dan Barat Laut Amerika Serikat. Di Australia dan New Zealand, bubu dan perangkap kini dibuat dengan menggunakan mata jaring yang terbuat dari baja sehingga tidak memerlukan rangka untuk menjaga bentuknya. Bubu di Indonesia masih banyak yang menggunakan rangka berbahan rotan atau bambu seperti bubu tambun yang digunakan di kepulauan seribu untuk menangkap jenis ikan karang serta bubu wadong untuk menangkap kepiting. Monintja dan Martasuganda (1991) menyatakan bahwa saat ini bubu di Indonesia sudah menggunakan besi sebagai kerangka.

2) Badan

Badan bubu pada alat tangkap bubu modern biasanya terbuat dari kawat, jaring nylon, baja, bahkan plastik. Pemilihan material badan bubu tergantung dari penggunaan tradisional, dan ketersediaan material, serta biaya dalam pembuatan. Pada beberapa daerah, bambu dan anyaman rotan masih digunakan dalam pembuatan badan bubu. Selain itu, pemilihan material tergantung pula pada hasil tangkapan dan kondisi daerah penangkapan.

3) Mulut

Salah satu bentuk mulut pada bubu adalah corong. Lubang corong bagian dalam biasanya mengarah ke bawah dan dipersempit untuk menyulitkan ikan keluar dari bubu. Selain itu ada juga yang berbentuk celah seperti pada bubu lipat segi empat serta berbentuk horse neck pada jenis bubu tambun. Jumlah mulut bubu bervariasi ada yang hanya satu buah dan ada pula yang lebih dari satu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bubu yang memiliki lebih dari satu mulut menangkap lebih banyak dibandingkan bubu dengan satu mulut (Miller, 1990).

Archdale et al (2003) melakukan penelitian mengenai tingkah laku kepiting dengan menggunakan dua jenis bubu yang memiliki mulut berbentuk corong dan bubu berbentuk celah. Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa bubu dengan mulut berbentuk corong lebih memudahkan kepiting untuk masuk kedalam bubu dibandingkan dengan bubu dengan mulut berbentuk celah. Hal ini dikarenakan mulut bubu berbentuk celah dapat menyebabkan duri kepiting terjerat serta menyulitkan kepiting untuk masuk kedalam bubu.

4) Tempat umpan

Tempat umpan pada umumnya terletak di dalam bubu. Tempat umpan ini bisa terbuat dari kawat, plastik ataupun jaring sintetis. Fungsinya untuk menahan umpan agar tidak terpisah dan tetap pada tempatnya. Dalam beberapa kasus, umpan diletakkan pada ruangan yang terbuat dari besi atau plastik dengan beberapa lubang kecil untuk mengamankan umpan. Cara ini hanya bisa dilakukan apabila umpan yang digunakan sangat atraktif pada ikan yang ingin ditangkap

5) Pintu untuk mengeluarkan hasil tangkapan

Pintu biasanya terletak pada bagian tengah badan bubu agar mudah untuk mengeluarkan hasil tangkapan. Kebanyakan perangkap dilengkapi dengan pintu untuk memudahkan dalam mengeluarkan hasil tangkapan.

6) Celah pelolosan

Celah pelolosan dibuat agar ikan-ikan yang belum layak tangkap dari segi ukuran dapat keluar dari bubu. Bentuk celah pelolosan dapat mempengaruhi keberhasilan bubu dalam meloloskan hasil tangkapan sampingan. Bentuk escape gap sebaiknya disesuaikan dengan morfologi maupun tingkah laku dari target spesies yang akan diloloskan. Adapun bentuk celah pelolosan yang umum digunakan yaitu kotak, persegi panjang, lingkaran, dan oval. Pada beberapa negara, celah pelolosan sudah menjadi keharusan pada setiap alat tangkap untuk meloloskan ikan-ikan dan crustacea yang masih berukuran kecil. Seperti pada pemerintah Australia, New Zealand, dan Kuba yang mengharuskan setiap alat tangkap bubu dipasang celah pelolosan untuk meloloskan ikan-ikan ukuran juvenile. Di Australia dan New Zealand, lobster batu dengan panjang karapas kurang dari 7.6 cm harus dibebaskan atau diperbolehkan untuk meloloskan diri.

7) Pemberat

Pemberat dipasang pada bubu untuk mengatasi pengaruh pasang surut, arus laut, dan gelombang. Sehingga posisi bubu tidak berpindah-pindah dari tempat setting semula. Pemberat diperlukan terutama untuk bubu yang terbuat dari kayu dan material ringan lainnya. Pemberat pada bubu bisa terbuat dari besi, baja, batu bata, dan jenis batuan lainnya.

2.2.3.1 Bahan

Pemilihan bahan dalam pembuatan bubu tergantung pada tipe bubu yang ingin dibuat dan jenis tangkapan yang diinginkan (Slack and Smith, 2001). Menurut Subani dan Barus (1989), perangkap terbuat dari anyaman bambu (bamboos netting), anyaman rotan (rattan netting), anyaman kawat (wire netting), kere bambu (bamboos screen). Adapun Sudirman dan Mallawa (2004)

atau bahan buatan lainnya seperti jaring. Beberapa jenis bubu menggunakan bahan keramik, cangkang kerang, dan potongan paralon. Pada bagian rangka bubu biasanya terbuat dari bahan lempengan besi, besi behel, bambu serta kayu. Berbeda dengan bagian badan bubu yang tebuat dari anyaman kawat, jaring, waring maupun anyaman bambu. Selanjutnya Martasuganda (2003), menambahkan bahwa kantong umpan pada bubu kebanyakan menggunakan bahan kawat kasa.

Brandt (1984) mengatakan bahwa bahan pembuatan bubu umumnya terbuat dari kayu, kawat besi dan plastik. Kayu merupakan jenis bahan yang pertama kali digunakan untuk membuat bubu. Bubu yang terbuat dari bahan kayu biasanya terbuat dari potongan alang-alang, bambu, rotan, ataupun bilah kayu. Bubu dengan bahan kawat merupakan pengembangan lanjutan dari bubu yang terbuat dari bahan kayu. Bahan kawat dapat digunakan untuk membuat bubu dengan bentuk yang bervariasi. Kekurangan dari bubu yang menggunakan bahan kawat besi adalah rentan terhadap karat. Bubu berbahan kawat yang digunakan pada perikanan laut umumnya dilengkapi dengan anode timah atau aluminium yang berfungsi untuk mengeluarkan arus listrik, mencegah korosi dan meningkatkan kualitas bubu. Adapun bubu dengan bahan plastik awalnya dibuat untuk sport fishing yang menginginkan perangkap yang ringan dan mudah dibawa menggantikan botol kaca yang bagian bawahnya dilubangi secara tradisional untuk menangkap ikan umpan. Walaupun penggunaan bahan plastik sangat menarik untuk diterapkan dalam sport fishing, namun bahan plastik sangatlah mahal untuk digunakan dalam perikanan komersial yang secara umum membutuhkan bubu dengan ukuran lebih besar, jumlah yang lebih banyak, dan harga yang lebih terjangkau. Penggunaan plastik sebagai bahan pembuatan bubu dalam perikanan komersial dapat bernilai ekonomis apabila bubu diproduksi dalam jumlah yang besar.

2.2.3.2 Bentuk alat tangkap bubu

Bentuk bubu yang dioperasikan berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Sainsbury (1996) mengatakan bahwa perbedaan bentuk bubu biasanya

Keterangan :

a = Bubu kepiting di bagian tenggara Amerika Serikat b = Bubu lobster di Curacao, Amerika bagian Utara

c = Bubu kepiting dan lobster di Curacao, Amerika bagian Utara d = Bubu belut di perairan Miami

(Gambar9). Akan tetapi bentuk bubu yang dipakai bisa juga berbeda walaupun hasil tangkapan yang diperoleh sama, hal ini tergantung pada kebiasaan atau pengetahuan nelayan yang mengoperasikannya (Martasuganda, 2003).

Sumber : Sainsbury (1996)

Gambar 9 Perbedaan bentuk bubu berdasarkan target tangkapan.

Alat tangkap bubu digunakan di berbagai daerah di seluruh dunia seperti halnya di Perancis, India, Malaysia, Jepang, Cina, Australia serta di pantai timur dan barat Amerika Utara yaitu di wilayah New Zealand serta di sekitar Laut Utara. Bubu berbentuk seperti tong atau drum berasal dari Perancis sedangkan

dan Sri Lanka, selain itu terdapat juga bubu yang berbentuk huruf Z yang disebut Antillean Z-pot yang berasal dari Karibia. Di Indonesia dan Thailand terdapat bubu yang disebut dengan tubular traps. Bubu tersebut berbentuk seperti corong dan tidak mempunyai mulut (funnel) dengan bagian ujung bebu terbelah-belah (Brandt 1984).

Menurut Subani dan Barus (1989), bubu mempunyai bentuk yang beraneka ragam seperti bentuk bujur sangkar, silinder, gendang, segitiga memanjang, trapesium, setengah silinder, segi banyak, dan bulat setengah lingkaran. Adapun menurut Martasuganda (2003), bubu merupakan alat tangkap yang bersifat pasif. Bentuknya sangat beraneka ragam, ada yang berbentuk segi empat, trapesium, silinder, lonjong, persegi panjang, atau bentuk lainnya. Beberapa jenis bubu yang biasa digunakan di Indonesia untuk menangkap kepiting adalah bubu wadong, pintur/rakkang, dan bubu lipat.

a) Wadong

Wadong adalah alat tangkap yang sifatnya pasif, dipasang menetap di tempat yang diperkirakan akan dilewati kepiting dan supaya kepiting mau memasuki wadong, di dalamnya diberi umpan yang ditusuk dengan bambu supaya tidak terbawa arus atau terjatuh dari bubu. Keseluruhan bagian dari alat tangkap ini terbuat dari bahan bambu termasuk alat pemancang dan alat penusuk umpan. Konstruksi bubu wadong dapat dilihat pada Gambar 10.

Sumber: Martasuganda (2003) Gambar 10 Konstruksi bubu wadong.

b) Pintur/rakkang

Adapun alat tangkap pintur adalah alat tangkap yang digunakan untuk Keterangan : 1. Rangka 2. Pintu 3. Pintu masuk 4. Tiang penyangga 5. Penusuk umpan

dikenal dengan sebutan bubu rakkang. Alat tangkap ini umumnya memakai rangka dari bambu dan bisa menggunakan besi sebagai rangkanya. Bahan jaring yang digunakan umumnya memakai potongan jaring bekas atau potongan dari jaring yang sudah tidak dipakai lagi, oleh karena itu tidak ada spesifikasi khusus untuk membuatnya. Konstruksi bubu pintur/rakkang dapat dilihat pada Gambar 11.

Sumber: Martasuganda (2003) Gambar 11 Konstruksi bubu pintur.

Selanjutnya Lastari (2007) menyatakan bahwa terdapat bentuk bubu lipat kotak yang sering digunakan oleh nelayan untuk menangkap rajungan. Iskandar dan Ramdani (2009), juga melakukan penelitian mengenai jenis umpan untuk menangkap rajungan dengan menggunakan bubu lipat berbentuk kotak. Konstruksi dari bubu lipat dapat dilihat pada Gambar 12.

Sumber: Lastari (2007) Keterangan : 1. Tali penyangga 2. Rangka 3. Jaring 4. Pemberat 5. Umpan Keterangan : a. Rangka b. Mulut bubu c. Badan bubu d. Engsel e. Tempat umpan

2.2.3.3 Umpan

Menurut Miller (1990), salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan dengan menggunakan bubu adalah umpan. Umpan berperan sebagai salah satu bentuk pemikat (atractant) yang memberikan rangsangan (stimulus) yang bersifat fisika dan kimia bagi ikan-ikan tertentu pada proses penangkapan ikan. Bau-bau yang terlarut di dalam air dapat merangsang reseptor pada organ olfaktorius yang merupakan bagian dari indera penciuman ikan, sehingga menimbulkan reaksi terhadap ikan tersebut (Syandri, 1988).

King (1991) yang dikutip oleh Fitri (2008) menjelaskan bahwa umpan pada bubu dan perangkap digunakan untuk menangkap ikan dan crustacea. Prinsip kerja umpan adalah menarik ikan mendekati bubu kemudian masuk ke dalam bubu melalui mulut bubu dan sulit untuk melarikan diri. Selanjutnya menurut Slack and Smith (2001), umpan yang baik dibutuhkan untuk penangkapan ikan yang efektif menggunakan bubu. Tipe umpan bervariasi tergantung tipe ikan yang ingin ditangkap. Penggunaan umpan dalam proses penangkapan ikan menggunakan bubu sudah dilakukan sejak lama oleh nelayan.

Monintja dan Martasuganda (1991), menyatakan bahwa terperangkapnya udang, kepiting atau ikan-ikan dasar pada bubu disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya dikarenakan tertarik oleh bau umpan. Penciuman crustasea sangat sensitif dan akurat ketika mereka mencari sumber bau-bauan walaupun bau tersebut telah dikacaukan oleh turbulensi lingkungan pada saat bau tersebut didistribusikan (Grasso, 2002). Menurut Miller (1990), umpan dapat dipilih guna mengurangi spesies tangkapan yang tidak diinginkan. Terdapat empat cara untuk mengurangi hasil tangkapan sampingan pada bubu dan salah satunya adalah pemilihan umpan dengan bau yang dapat menolak spesies yang tidak diinginkan.

Slack dan Smith (2001), menyatakan syarat umpan yang baik adalah sebagai berikut:

1) Efektif untuk menarik ikan target; 2) Ketersediiannya melimpah;

3) Mudah untuk disimpan dan diawetkan dan,

Martasuganda (2003) mengatakan bahwa umpan yang baik memiliki karakteristik yaitu :

1) Efektif dalam menarik ikan; 2) mudah diperoleh;

3) Murah;

4) Mudah disimpan dan, 5) Tahan lama;

(1) Jenis-jenis umpan

Umpan digunakan untuk membantu agar ikan masuk ke dalam bubu. Jenis umpan yang sering digunakan beraneka ragam, ada yang menggunakan umpan hidup, ikan rucah, atau jenis umpan lainnya (Martasuganda, 2003). Berdasarkan sifat asalnya, umpan dibedakan sebagai umpan alami (natural bait) dan umpan buatan (artificial bait) (Miller 1990). Umpan alami merupakan irisan-irisan daging, sedangkan umpan buatan merupakan campuran substrat kimia yang dibuat menyerupai struktur kimia umpan asli (Mackie, 1973).

Berdasarkan kondisinya, umpan dibagi menjadi dua, yaitu umpan hidup (live bait) dan umpan mati (dead bait) (Leksono, 1983). Jenis umpan yang digunakan tergantung pada spesies ikan yang akan menjadi target penangkapan (Ferno dan Olsen, 1994) Jenis umpan yang sering digunakan dalam penangkapan yaitu ikan herring (Daniel and Bayer, 1989), potongan mackerel (Lokkeborg, 1989), serta potongan kepiting atau lobster (Miller, 1995).

Menurut Miller (1995), Penggunaan umpan yang dicampur dengan potongan kepiting atau lobster akan menurunkan hasil tangkapan spesies sejenis secara drastis. Ramdani (2007), melakukan penelitian untuk menentukan umpan yang paling baik dalam menangkap rajungan dengan menggunakan empat umpan yang berbeda yaitu pepetek segar, pepetek asin, pepetek segar campur potongan rajungan, dan pepetek segar yang diolesi minyak kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bubu dengan umpan ikan pepetek segar campur potongan rajungan menangkap rajungan dengan jumlah yang lebih banyak dan ukuran yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena rajungan yang berukuran besar memiliki

dikeluarkan oleh rajungan yang telah mati. Adapun Komarudin (2009) dalam penelitiannya mengenai celah pelolosan pada bubu tambun, menggunakan bulu babi (diadema sp.) yang dihancurkan sebagai umpan untuk menangkap kerapu koko. Umpan tersebut digunakan berdasarkan kebiasaan nelayan kepulauan seribu yang selalu menggunakan bulu babi dalam pengoperasian bubu tambun.

(2) Posisi umpan

Menurut Martasuganda (2003) umumnya umpan diletakkan di tengah- tengah yaitu pada bagian bawah, tengah atau bagian atas dari bubu baik dengan cara diikat ataupun digantung menggunakan pembungkus umpan. Archdale et al. (2003) mengatakan bahwa bau umpan akan terdifusi oleh arus air dan akan menyebabkan area yang dipengaruhi oleh aroma umpan akan menjadi daerah aktif.

Archdale, et al. (2003) melakukan penelitian mengenai tingkah laku kepiting batu jepang ’ishigani’ Charybdis japonica terhadap dua jenis bubu yang diberi umpan. Dalam penelitiannya, ia menggunakan dua jenis bubu yang berbentuk kotak serta bubu yang berbentuk kubah. Kedua bubu yang digunakan memiliki bentuk yang memanjang, sehingga menyebabkan jarak antara mulut bubu dengan umpan akan lebih jauh dibandingkan dengan kedua sisi dinding bubu. Hal ini akan menyebabkan konsentrasi bau umpan yang dilepaskan akan lebih tinggi pada bagian dinding bubu dibandingkan pada bagian mulut bubu.

Berdasarkan observasi yang dilakukan selama penelitiannya, Archdale, et al. (2003) menemukan bahwa kepiting mendatangi bubu dari arah yang berlawanan dengan arah arus (75%). Hal ini menunjukkan adanya dominasi dari peran aroma yang dikeluarkan oleh umpan yang berfungsi sebagai pemikat. Kepiting yang mendatangi bubu dari arah arus berasal tidak menunjukkan adanya pergerakan bagian mulut dan tidak melakukan gerakan zigzag, hal ini mengindikasikan bahwa kepiting tersebut tidak mengikuti jejak aroma umpan dan hanya bertemu dengan bubu secara tidak disengaja (Gambar 13).

Gambar 13 Persentase dan jumlah kepiting yang mendekati bubu yang diberi umpan berdasarkan pada arus air.

Archdale, et al. (2003) memasang umpan pada kedua jenis bubu yang diujicobakan dengan cara yang berbeda. Pada bubu berbentuk kotak, umpan

Dokumen terkait