DAFTAR LAMPIRAN
2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Rajungan
2.1.1 Klasifikasi dan morfolog
Klasifikasi rajungan menurut Stephanuson dan Chambel (1959) yang dikutip oleh Hermanto (2004) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Sub Kingdom : Eumetazoa Grade : Bilateria
Divisi : Eucelomata Section : Prostomia
Filum : Arthropoda
Sub Filum : Mandibulata Kelas : Crustacea
Sub Kelas : Malacostraca Ordo : Decapoda
Sub Ordo : Reptantia Seksi : Brachyura
Sub Seksi : Brachyrhyncha Famili : Portunidae
Sub Famili : Portuninae Genus : Portunus
Species : Portunus pelagicus
Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan famili Portunidae dari seksi Brachyura. Hewan ini memiliki sapit yang memanjang, kokoh dan berduri. Pada hewan ini terdapat perbedaan yang menyolok antara jantan dan betina. Rajungan jantan mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar, sapitnya pun lebih panjang dari yang betina. Rajungan jantan memiliki warna kebiru-biruan dengan bercak-bercak putih terang, sedangkan pada rajungan betina memiliki warna dasar kehijau- hijauan dan bercak-bercak keputih-putihan agak suram. Perbedaan warna ini jelas
Secara umum rajungan memiliki ciri khas berupa sepasang sapit berduri yang memanjang, tiga pasang kaki jalan, dan sepasang kaki renang. Pada rajungan terdapat 5 pasang kaki jalan. Pasangan pertama berubah menjadi sapit (cheliped), sedangkan pasangan kaki jalan ke-5 berubah fungsi sebagai alat pendayung. Kaki renang tereduksi dan tersembunyi di balik abdomen. Pada hewan betina, kaki renang berfungsi sebagai alat pemegang dan inkubasi telur (Oemarjati dan Wardhana, 1990). Sapit pada rajungan digunakan untuk menangkap dan memegang makanan. Kaki jalan digunakan untuk berjalan di dasar perairan. Sedangkan kaki renang dipergunakan untuk berenang dengan cepat di air sehingga tergolong kedalam Swimming Crab (Portunidae) (Rangka, 2007).
Oemarjati dan Wardhana (1990) mengatakan bahwa rajungan mempunyai karapas yang sangat menonjol dibandingkan abdomennya. Abdomen berbentuk segitiga dan melipat ke sisi ventral karapas. Pada kedua sisi muka (anterolateral) karapas terdapat 9 (sembilan) buah duri. Duri pertama di anterior berukuran lebih besar daripada ketujuh buah duri di belakangnya, sedangkan duri ke-9 yang terletak di sisi karapas merupakan duri terbesar.
Rajungan memiliki tiga pasang duri frontal dan sembilan pasang duri antero- lateral pada bagian dorsal. Adapun duri kesembilan pada antero-lateral memiliki ukuran paling besar dan panjang. Abdomen pada rajungan jantan berbentuk segitiga yang meruncing ke depan sedangkan pada rajungan betina berbentuk segitiga yang lebih lebar dan membulat (Schmitt, 1973).
Juwana dan Romimohtarto (2000) yang dikutip oleh Ramdani (2007) mengatakan bahwa rajungan dapat mencapai ukuran 18 cm dengan capit yang memanjang, kokoh, dan berduri. Rajungan yang ditangkap di perairan pantai umumnya mempunyai kisaran lebar karapas 8-13 cm dengan rata-rata berat ± 100 gram, sedangkan rajungan yang ditangkap pada perairan yang lebih dalam mempunyai kisaran lebar karapas 12-15 cm dengan berat rata-rata ±150 gram.
Tampak Dorsal
Abdomen jantan Abdomen betina
Sumber : www.sea-ex.com/fishphotos/crab.htm Gambar 1 Morfologi dan anatomi rajungan.
Dalam pertumbuhannya, rajungan sering berganti kulit (molting). Kulit kerangka tubuhnya terbuat dari bahan berkapur sehingga tidak dapat terus tumbuh. Jika rajungan akan tumbuh besar maka rajungan akan berganti kulit sehingga kulit lamanya akan ditanggalkan. Rajungan ketika baru berganti kulit memiliki karapas yang sangat lunak dan dibutuhkan beberapa waktu untuk dapat
rajungan. Tidak jarang rajungan disergap, dirobek, dan dimakan oleh sesama jenisnya. Kanibalisme pada rajungan merupakan hal yang sering terjadi terutama dalam ruangan yang terbatas, baik pada rajungan dewasa maupun dalam tahap larva (Nontji, 2007).
Menurut Warner (1977) yang dikutip oleh Hermanto (2004) tahap-tahap molting adalah sebagai berikut:
1) Tahap awal molting
- Eksoskeleton menjadi membran yang lunak. Kaki tidak sanggup mendukung bobot tubuh di air dan kepiting menjadi tidak aktif. Absorbs air berlangsung aktif, eksokutikel mulai mengalami mineralisasi;
- Ekseoskleton menjadi seperti kertas, kepiting dapat mendukung bobot tubuhnya. Kandungan air dalam tubuh 80%, endokutikel mengeras, mineralisasi dimulai.
2) Tahap baru saja molting
- Bentuk eksoskeleton menjadi rusak, tetapi tidak pecah; - Bagian eksoskeleton menjadi kaku
3) Tahap intermolting
- Karapas menjadi keras, tapi bagian branchitegites, sternites, bagian merus dan karpus tetap lunak. Bagian ini adalah bagian utama dari pertumbuhan jaringan;
- Karapas menjadi sangat keas. Branchitegites, sternites, serta kaki jalan lunak dan patah jika dibengkokan. Pertumbuhan jaringan tetap berlanjut; - Seluruh eksoskeleton keras, tetapi mineralisasi endokutikel tetap
berlangsung. Lapisan membran yang paling dalam belum sempurna sampai akhir tahap ini;
- Eksoskeleton sempurna, kehadiran lapisan membran dapat diduga dari pecah dan terangkatnya potongan karapas atau putusnya bagian dactylus kaki jalan. Lapisan membran akan mengangkatnya pada epidermis. Pertumbuhan jaringan sempurna dan mengumpulkan metabolism yang berbalik. Kandungan air 60%.
- Tahap anecdysis terakhir dibedakan oleh lapisan membran yang menempel pada begian eksoskeleton. Kepiting pada saat ini sering memperlihatkan tanda berapa umurnya, eksoskeleton rusak dan mendukung epifauna. 4) Tahap premolting
- Epidermis lepas dari lapisan membran dan mengeluarkan epikutikel baru. Punggung yang baru berkembang di dalam bagian yang sudah tua.bagian ini amat lunak, tetapi dapat dilihat jika dactylus patah dan jaringan diambil. Cadangan makanan dikerahkan dan glycogen dibentuk dalam jaringan epidermis;
5) Tahap ecdysis
- Kepiting lepas dari eksoskeleton tua dan minum air.
Menurut Thompson (1974) yang dikutip oleh Hermanto (2004) rajungan besar biasanya tidak menanggalkan karapasnya untuk jangka waktu yang lama. Rajungan seperti ini memiliki warna yang memudar dan karapasnya sering ditempeli oleh remis/teritip atau sulur rumput laut. Rajungan dapat berjalan sangat baik pada dasar perairan dan daerah interdal berlumpur yang lembab, dan jjuga perenang yang baik.
Menurut Moosa (1996) yang dikutip oleh Nontji (2007) di Indo-pasifik Barat diperkirakan terdapat 234 jenis hewan dari suku Portunidae. Di Indonesia terdapat 124 jenis kepiting dari suku tersebut. Di Teluk Jakarta dan Pulau-pulau Seribu diperkirakan terdapat 46 jenis. Dari sekian jenis tersebut, hanya beberapa jenis yang dikenal oleh banyak orang karena bisa dimakan. Kepiting yang biasanya dimakan adalah kepiting yang memiliki ukuran agak besar. Jenis kepiting yang tubuhnya berukuran kurang dari 6 cm tidak lazim dimakan karena tidak memiliki daging yang berarti.
Menurut Hermanto (2004) jenis rajungan yang umum dimakan (edible crab) ialah jenis-jenis yang termasuk cukup besar yaitu sub famili Portunidae atau prodopthalnae. Adapun jenis-jenis lainnya walaupun dapat dimakan tetapi berukuran kecil dan tidak memiliki daging yang berarti. Hal ini menyebabkan jenis kepiting tersebut tidak umum untuk dimakan.
Jenis rajungan yang umum dijumpai di pasar indonesia ada empat spesies yaitu : rajungan (portunus pelagicus), rajungan bintang (Portunus sanguinolentus), rajungan angin (Podopthalmus vigil), dan rajungan karang (Charybdis feriatus). Menurut Nontji (2007) rajungan bintang mudah dikenali dengan adanya tiga bintik berwarna merah coklat dipunggungnya. Rajungan jenis ini memiliki ukuran lebih kecil dari P. pelagicus, hidup di laut terbuka mulai dari tepi pantai hingga kedalaman lebih dari 30 m. Rajungan karang mempunyai warna yang khas, coklat kemerah-merahan dan di punggungnya terdapat gambaran pucat menyerupai salib. Rajungan angin mempunyai ukuran yang lebih kecil lagi, jenis rajungan ini hidup di laut terbuka sampai kedalaman 70 m. Ciri yang menonjol pada rajungan jenis ini adalah matanya yang mempunyai tangkai yang amat panjang dan bisa direbahkan. Adapun keempat jenis rajungan tersebut dapat dilihat secara lebih jelas pada Gambar 2.
(a) (b)
sumber : www.dpi.nsw.gov.au/fisheries/crab sumber : www.hk-fish.net/eng/database/crabs
(c) (d)
sumber : www.seafood.nmmba.gov.tw sumber : www.cookislands.bishopmuseum.org
2.1.2 Habitat
Rajungan hidup pada habitat yang beraneka ragam seperti pantai dengan dasar pasir, pasir lumpur, dan juga di laut terbuka. Hewan ini hidup dengan membenamkan diri dalam pasir di daerah pantai berlumpur, hutan bakau, atau kadang-kadang dijumpai berenang-renang di permukaan (Oemarjati dan Wardhana, 1990). Dalam keadaan biasa, ia diam di dasar laut hingga kedalaman lebih dari 65 m, tetapi sesekali ia juga terlihat berenang dekat ke permukaan laut (Nontji, 2007).
Menurut Thomson (1974) yang dikutip oleh Saedi (1997) rajungan dapat merayap dengan baik di dasar dan daerah intertidal (pasang surut) sampai pada lumpur basah yang terbuka. Rajungan juga dapat menguibur diri di bawah pasir dalam sekejap mata untuk menghindari musuh-musuhnya. Seperti kebanyakan penghuni laut aktif lainnya, rajungan menjadikan muara sebagai tempat mencari makan (feeding place) dan pergi ke laut untuk memijah.
Hutan bakau merupakan komunitas laut dangkal yang didominasi oleh beberapa jenis pohon atau semak-semak yang mempunya kemampuan untuk tumbuh di air asin. Hutan bakau dapat terbentuk dengan sendirinya apabila kondisi fisik lingkungan memilki arus yang kecil sehingga endapan partikel yang halus cenderung berkumpul di dasar; substrat di daerah hutan mangrove pada umumnya adalah lumpur; kadar oksigen tanah mangrove rendah dan kadar garamnya tinggi; dan merupakan bagian dari daerah pasang surut (Nyabakken, 1993).
Menurut Nyabakken (1993) hutan bakau dihuni oleh berbagai jenis makhluk hidup. Sementara di bagian atasnya hidup beberapa organisme terestrial, terdapat hewan-hewan laut yang tinggal di bawahnya. Kelompok hewan laut dominan yang hidup di hutan bakau adalah jenis moluska, beberapa krustasea dan jenis ikan-ikan tertentu. Dengan banyaknya sumberdaya yang terdapat pada hutan bakau, menjadikannya sebagai salah satu tempat yang baik untuk perkembangan rajungan.