5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2.1 Komposisi total hasil tangkapan
Hasil tangkapan yang diperoleh selama penelitian berlangsung adalah sebanyak 240 ekor yang terdiri dari enam spesies. Adapun keenam spesies tersebut adalah rajungan (Portunus pelagicus), kepiting bakau (Scylla sp), udang peci (Penaeus indicus), kepiting batu (Thalamita sp), kepiting bolem (Leptodius sp), dan beloso (Cryptocentrus caeruleomaculatus). Jumlah spesies yang tertangkap pada lokasi penelitian tidak sebanyak pada penelitian yang dilakukan di lokasi lainnya seperti penelitian yang dilakukan oleh Iskandar dan Lastari (2008) yang memperoleh hasil tangkapan sebanyak 15 spesies dengan menggunakan bubu lipat dengan target tangkapan rajungan di Perairan Kronjo, serta Iskandar dan Ramdani (2009) yang juga melakukan penelitian terkait jenis umpan di Perairan Kronjo dan menangkap hasil tangkapan sebanyak 12 spesies. Hasil penelitian yang dilakukan di perairan Desa Mayangan menunjukkan bahwa keragaman spesies yang tertangkap relatif lebih sedikit. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Rusdi (2010) di lokasi yang sama yaitu Mayangan yang juga menagkap jenis hasil tangkapan sebanyak 6 spesies. Hal ini karena operasi penangkapan dilakukan di perairan sekitar hutan bakau sehingga diduga berakibat pada jumlah keragaman spesies yang diperoleh. Perbedaan keragaman jenis spesies ini diduga terjadi karena adanya perbedaan lokasi penangkapan. Iskandar dan Lastari (2008) melakukan pengangkapan rajungan dengan bubu di wilayah laut terbuka sehingga variasi jumlah spesies lebih banyak. Adapun penelitian ini dilakukan di perairan mangrove dengan hutan bakau yang merupakan habitat yang spesifik. Hutan bakau merupakan komunitas laut dangkal yang didominasi oleh beberapa jenis pohon atau semak-semak yang mempunya kemampuan untuk tumbuh di air asin. Kondisi fisik lingkungan mangrove adalah memiliki arus yang kecil sehingga endapan partikel cenderung mengendap di dasar, kadar oksigen di perairan mangrove relatif rendah serta memiliki kadar garam yang tinggi. Oleh karenanya hanya beberapa biota laut yang bisa hidup di perairan mangrove (Nyabakken, 1993). Hutan mangrove memiliki fungsi biologis sebagai tempat pembesaran benih bagi spesies ikan, udang dan rajungan dari lepas pantai, tempat
hewan laut dominan yang hidup di hutan bakau adalah jenis moluska, beberapa krustasea dan jenis ikan-ikan tertentu.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bubu lipat berdimensi p x l x t = 45 x 30 x 18 cm. Ukuran bubu lipat ini lebih kecil dibandingkan dengan bubu lipat yang dioperasikan di beberapa daerah. Sebagai contoh bubu lipat yang dioperasikan di Perairan Kronjo dengan target tangkapan rajungan memiliki dimensi p x l x t = 50.5 x 34.5 x 19 cm (Iskandar dan Lastari 2007). Perbedaan ukuran bubu yang dioperasikan pada berbagai daerah disesuaikan dengan daerah pengoperasian bubu serta target spesies yang ingin ditangkap.
Operasi penangkapan pada penelitian ini dilakukan pada lima stasiun yang berbeda. Dari kelima stasiun tersebut, stasiun kelima merupakan daerah penangkapan rajungan yang paling baik dibandingkan dengan stasiun lainnya. Hal ini disebabkan karena lokasinya yang lebih mendekati ke arah laut dibandingkan stasiun lainnya. Selain itu jumlah pohon bakau yang ada di stasiun lima lebih banyak dibandingkan dengan stasiun lainnya, sehingga perairan di stasiun lima menjadi lebih banyak mengandung makanan bagi rajungan yang ada disekitar perairan tersebut.
Ditinjau dari posisi dan bobot umpan yang digunakan maka bubu dengan posisi umpan di bawah dengan bobot umpan 50 g memiliki nilai Index Shannon Wiener yang paling kecil yakni sebesar 1,3581. Hal ini berarti bahwa bubu dengan posisi umpan di bawah dengan bobot umpan 50 g menangkap hasil tangkapan dengan keragaman spesies yang paling sedikit. Indeks Shannon Wiener merupakan indikator yang menunjukkan spesies yang tertangkap oleh bubu dengan menggunakan kategori umpan yang berbeda. Apabila nilai indeks Shannon Wiener yang diperoleh kecil, maka berarti bahwa keragaman spesies yang tertangkap dengan kategori umpan tersebut relatif kecil. Semakin besar nilai indeks Shannon Wiener maka keragaman spesies yang tertangkap relatif besar.
Umpan berperan dalam menarik ikan dan biota lain untuk masuk ke dalam bubu. Bobot umpan yang lebih sedikit berarti bahwa jumlah bau yang dilepas relatif lebih sedikit dibanding umpan dengan bobot yang lebih besar (Marie and Cyr, 1995). Biota mendekat kepada umpan sebagai bentuk respon terhadap
McLeese (1970) memperoleh fakta bahwa beberapa campuran asam amino merupakan zat yang dapat memikat lobster Homarus americanus.
Berdasarkan uji Mann-Whitney terhadap total hasil tangkapan bubu dengan posisi umpan yang berbeda, diperoleh nilai Asymp.Sig.(2-tailed) sebesar 0.761 pada taraf nyata 0,05. Nilai tersebut menunjukkan bahwa posisi umpan tidak memberikan berbedaan total hasil tangkapan secara signifikan. Dengan kata lain, dalam penelitian ini, posisi umpan baik di atas maupun di bawah tidak memberikan perbedaan secara nyata terhadap jumlah hasil tangkapan yang diperoleh secara keseluruhan. Umpan juga berperan dalam meningkatkan hasil tangkapan . Engas et al (2000) menemukan bahwa penggunaan umpan pada gillnet berhasil meningkatkan hasil tangkapan ikan cod sebesar 61%. Hasil yang diperoleh berbeda dengan Archdale et al (2003). Pada pengamatan yang dilakukan oleh Archdale et al (2003) diperoleh hasil bahwa posisi umpan berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan bubu. Umpan yang dipasang di bagian atas bubu dengan posisi melengkung memperoleh hasil tangkapan kepiting ”ishigami” dalam jumlah yang lebih banyak dibanding dengan bubu yang menggunakan umpan dengan posisi dihamparkan di bagian dasar bubu. Perbedaan hasil penelitan ini dengan hasil penelitian Archdale et al (2003) kemungkinan diakibatkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:
1. Perlakuan posisi umpan pada penelitian yang dilakukan oleh Archdale et al (2003) lebih tinggi posisinya dibanding dengan posisi umpan pada penelitian ini. Apabila posisi umpan lebih tinggi maka bau umpan dapat tersebar dengan jarak yang lebih luas.
2. Posisi pemasangan umpan pada Archdale et al (2003) melengkung di atas sehingga bau umpan menyebar dalam jangkauan yang luas. Adapun dalam penelitian ini umpan dipasang pada posisi bagian atas dengan posisi tegak.
Total hasil tangkapan yang paling sedikit terdapat pada bubu dengan posisi umpan di atas dengan jumlah bobot umpan sebesar 50 g dengan total hasil tangkapan sebanyak 28 ekor. Setelah itu diikuti dengan bubu dengan posisi umpan di bawah dengan bobot umpan sebesar 50 g dengan total hasil tangkapan
mengakibatkan terjadinya peningkatan total hasil tangkapan. Walaupun total hasil tangkapan yang diperoleh mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya bobot umpan yang dipasang pada bubu, namun total hasil tangkapan yang diperoleh tidak berbeda secara signifikan. Adapun total hasil tangkapan terbesar diperoleh bubu dengan posisi umpan di atas dengan bobot umpan sebesar 100 g dengan jumlah sebanyak 54 ekor. Hal ini sesuai dengan hasil yang deiperoleh Sainte-Marie (1995) bahwa peningkatan kuantitas umpan akan meningkatkan hasil tangkapan pada level tertentu.
Hasil tangkapan utama pada penelitian ini adalah rajungan (Portunus pelagicus) dengan jumlah 49 ekor atau setara dengan 20 % dari total hasil tangkapan. Nilai ini berada di urutan ke-2 setelah hasil tangkapan kepiting batu (Thalamita sp) yang berjumlah 87 ekor atau setara dengan 36 %. Hasil uji Mann Whitney terhadap posisi umpan berbeda menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan terhadap total jumlah serta bobot total hasil tangkapan rajungan (Portunus pelagicus) yang diperoleh selama penelitian. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Asymp-Sig. (2-tailed) dengan nilai probabilitas sebesar 1.000 pada taraf nyata 0,05 untuk jumlah hasil tangkapan, dan nilai Asymp-Sig. (2-tailed) dengan nilai probabilitas sebesar 0.307 pada taraf nyata 0,05 untuk bobot total hasil tangkapan rajungan. Adapun uji Friedman digunakan untuk menentukan adanya perbedaan jumlah dan bobot total hasil tangkapan rajungan jika ditinjau dari segi posisi dan bobot umpan berbeda. Berdasarkan uji Friedman diperoleh nilai Chi-Square sebesar 8.105 dengan nilai probabilitas sebesar 0,151 pada taraf nyata 0,05 untuk jumlah hasil tangkapan rajungan, dan nilai Chi-Square sebesar 7.800 dengan nilai probabilitas sebesar 0,168 pada taraf nyata 0,05 untuk bobot total hasil tangkapan rajungan. Nilai tersebut menunjukkan bahwa perbedaan posisi dan bobot umpan yang diberikan tidak memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap jumlah dan bobot total hasil tangkapan rajungan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan posisi serta penambahan bobot umpan pada bubu tidak memberikan perbedaan jumlah dan bobot total hasil tangkapan rajungan (Portunus pelagicus) yang cukup signifikan.
umpan berpengaruh terhadap hasil tangkapan bubu. Hal ini karena dengan bertambahnya bobot umpan maka pelepasan bau umpan akan semakin bertambah banyak. Bau umpan yang diduga menjadi penyebab berkumpulnya kepiting dan biota lainnya ke dalam bubu adalah asam amino. Semakin lama umpan direndam di dalam air maka proses pelepasan asam amino akan semakin lama sehingga berakibat terkurasnya kandungan asam amino (Mackie, 1973). Pada penelitian ini jumlah dan bobot total hasil tangkapan rajungan pada posisi dan bobot umpan berbeda tidak berbeda secara signifikan pada taraf nyata 0,05. Hal ini diduga dapat terjadi karena beberapa faktor. Faktor yang pertama mungkin disebabkan oleh adanya saturasi (kejenuhan) pada proses penangkapan dengan bubu. Saturasi terjadi pada saat proses penangkapan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Proses pertambahan hasil tangkapan tidak be rbanding lurus dengan waktu penangkapan karena adanya loss bait odor (kehilangan bau umpan) (Miller, 1990). Kemungkinan yang lain adalah karena jumlah populasi rajungan di lokasi pemasangan bubu tidak cukup banyak sehingga penambahan bobot umpan tidak berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan.
5.2.2 Distribusi ukuran hasil tangkapan rajungan (Portunus pelagicus)
Bobot rajungan yang tertangkap selama penelitian berkisar pada 5 – 160 g. Ukuran bobot rajungan yang dominan tertangkap yaitu pada selang 20 – 60 g dengan jumlah 30 ekor. Berdasarkan posisi umpan yang dipasang pada bubu, bubu dengan posisi umpan di atas menangkap rajungan dengan selang bobot 10 – 160 g, sedangkan bubu dengan posisi umpan di bawah hanya menangkap rajungan dengan selang bobot antara 5 – 90 g. Hasil uji Mann-Whitney terhadap sebaran bobot hasil tangkapan rajungan pada bubu dengan posisi umpan yang berbeda menunjukkan nilai Asymp-Sig. (2-tailed) dengan nilai probabilitas sebesar 0.130 pada taraf nyata 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan posisi umpan tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap berat rata-rata rajungan yang tertangkap.
Bobot hasil tangkapan rajungan ditinjau berdasarkan posisi dan bobot umpan menunjukkan bahwa bubu dengan posisi umpan di atas dan bobot umpan
dibandingkan bubu jenis lainnya. Hal ini cukup mengejutkan karena penggunaan umpan yang lebih sedikit justru menangkap rajungan dengan bobot rata-rata yang lebih besar dibandingkan dengan bubu jenis lainnya. Studi mengenai bagaimana lobster, udang karang, dan kepiting menentukan lokasi sumber bau yang dilakukan oleh Grasso dan Basil (2002) menemukan bahwa crustacea decapoda dapat menemukan sumber bau yang telah dikacaukan oleh efek turbulensi arus dan distribusi bau berdasarkan ruang dan waktu dengan menggunakan antena luar yang dilengkapi sensor kimia dan mekanik. Dalam penelitian terhadap tiga spesies lobster pasir diketahui bahwa peningkatan panjang antennule akan meningkatkan efektifitas area efektif reseptor. Dengan demikian rajungan dengan ukuran yang lebih besar akan memiliki antennule yang lebih panjang sehingga mampu melacak keberadaan umpan dengan jumlah yang lebih sedikit dengan lebih baik dibandingkan rajungan dengan ukuran yang masih kecil. Hal inilah yang diduga menyebabkan rajungan dengan rata-rata bobot yang lebih besar cenderung tertangkap pada bubu dengan posisi umpan di atas dan bobot umpan sebesar 50 g.
Adapun ukuran panjang karapas (CL) dan lebar karapas (CW) rajungan yang tertangkap selama penelitian berkisar antara 15 – 70 mm (untuk CL) dan 30 – 130 mm (untuk CW). Ditinjau dari segi perbedaan posisi umpan pada bubu dengan menggunakan uji Mann-Whitney terhadap CL rata-rata hasil tangkapan rajungan pada bubu dengan posisi umpan yang berbeda, diperoleh nilai Asymp-Sig. (2- tailed) dengan nilai probabilitas sebesar 0.406 pada taraf nyata 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan posisi umpan tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap CL rata-rata rajungan yang tertangkap. Adapun uji Mann- Whitney terhadap CW rata-rata hasil tangkapan rajungan pada bubu dengan posisi umpan yang berbeda, diperoleh nilai Asymp-Sig. (2-tailed) dengan nilai probabilitas sebesar 0.364 pada taraf nyata 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan posisi umpan tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap CL rata-rata rajungan yang tertangkap.
Ditinjau dari segi posisi dan bobot umpan yang berbeda pada bubu dengan menggunakan uji Friedman, dapat diketahui bahwa dengan menggunakan posisi
dan kebar karapas (CW) rajungan yang tertangkap secara signifikan berbeda nyata (P < 0,05 dengan Chi-Square terhadap panjang karapas 29.814 dan Chi-Square terhadap lebar karapas 28.381). Hal ini menunjukkan bahwa pemasangan umpan dengan posisi dan bobot tertentu dapat meberikan hasil tangkapan rajungan dengan ukuran yang lebih besar.
Bubu dengan posisi umpan di atas dan bobot umpan sebesar 50 g menangkap rajungan dengan rata-rata panjang karapas (CL) dan lebar karapas (CW) paling baik dibandingkan dengan bubu dengan posisi dan bobot umpan lainnya. Sama seperti dugaan terhadaap hasil tangkapan rajungan berdasarkan bobot rajungan rata-rata yang diperoleh, kemungkinan besar rajungan dengan ukuran yang lebih besar akan memiliki antenule yang lebih panjang dibandingkan rajungan yang masih kecil sehingga mampu melacak keberadaan umpan yang lebih sedikit dengan lebih baik dibandingkan rajungan dengan ukuran yang masih kecil. Hazlett, 1971; Arche, 1972 dalam Mackie, 1973 mengatakan bahwa jarak receptor kimia pada crustasea decapoda ditentukan oleh antennules sehingga memungkinkan hewan-hewan tersebut untuk dapat bergerak mendekati sumber bau yang telah dideteksi oleh antennules. Hal inilah yang diduga menyebabkan rajungan dengan rata-rata CL dan CW yang lebih besar cenderung tertangkap pada bubu dengan posisi umpan di atas dan bobot umpan sebesar 50 g.
Bubu dengan posisi dan bobot umpan lainnya menangkap rajungan dengan ukuran yang jauh lebih bervariasi dibandingkan bubu dengan posisi umpan di atas dan bobot umpan sebesar 50 g. Hal ini diduga karena bobot umpan yang digunakan lebih banyak sehingga menyebabkan bau umpan (bait’s odor) yang dilepaskan cenderung lebih banyak. Hal ini mengakibatkan rajungan dengan ukuran yang lebih kecil dapat dengan lebih mudah melacak posisi umpan dengan lebih akurat sehingga menyebabkan ukuran rajungan yang tertangkap menjadi lebih bervariasi.