HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Hasil Penelitian dan Pengumpulan Informasi
4.1.1.1 Deskripsi Data Analisis Kebutuhan Mahasiswa
Kuesioner dibagi menjadi tiga bagian mengenai pembelajaran membaca kritis, integrasi cerita rakyat dalam pembelajaran, dan pengembangan modul digital. Bagian pertama tentang pembelajaran membaca kritis berisi 5 pernyataan mengenai sumber belajar mandiri membaca kritis, tuntutan mahasiswa saat ini dalam kegiatan membaca, kemampuan mahasiswa dalam mengkritisi bacaan, manfaat membaca kritis, dan kebiasaan membaca mahasiswa. Bagian kedua tentang integrasi cerita rakyat dalam pembelajaran yang terdiri dari 5 pernyataan. Pernyataan-pernyataan yang terdapat pada bagian kedua berisi tentang manfaat cerita rakyat dalam pembelajaran, mengenalkan cerita rakyat pada mahasiswa, nilai-nilai cerita rakyat. Bagian ketiga tentang modul digital yang terdapat 5 pernyataan yang berisi mengenai efektifitas modul digital, daya tarik modul digital untuk dipelajari, dan manfaat modul digital.
Pengidentifikasian kuesioner ini menggunakan skala likert yaitu 5 skala yaitu, 1= sangat tidak setuju, 2= tidak setuju, 3= netral/tidak menentukan pilihan. 4= setuju, 5= sangat setuju. Responden akan memberikan pendapat mereka dengan cara menuliskan tanda centang (√) pada kolom skala yang sudah disediakan. Pengklasifikasian data kuantitatif dalam skala likert ini digunakan rumus yaitu 100 dibagi jumlah skor pada skala likert yaitu 5.
Rumus tersebut digunakan untuk menentukan interval atau rentang skor. Interval yang diperoleh dari rumus tersebut adalah 20. Namun, agar semua data terakumulasi dengan baik maka interval skor dibuat 20,99 karena hasil penghitungan data bukan nilai yang utuh tetapi terdapat nilai desimal di belakangnya. Untuk pengklasifikasian data secara kualitatif dalam skala likert ini terdiri dari 5 kategori yaitu sangat rendah, rendah, cukup, tinggi, dan sangat tinggi. Berikut ini adalah tabel kategori berdasarkan interval skala likert.
Tabel 4.1 Kategori Interval Skala Likert
Rentang Skor Kategori
81,00% - 100% Sangat Tinggi 61,00% - 80,99% Tinggi 41,00% - 60,99% Cukup 21,00% - 40,99% Rendah
0,00% - 20,99% Sangat Rendah
Hasil analisis dari sikap responden tentang kuesioner yang sudah diklasifikasikan baik kuantitatif maupun kualitatif akan diinterpretasi dan dilaporkan dalam bentuk narasi. Sikap responden akan diperkuat oleh hasil
wawancara dari dosen pengampu mata kuliah Membaca Intensif. Wawancara dengan dosen pengampu mata kuliah Membaca Intensif akan disimpulkan oleh peneliti dan akan dikorelasikan dengan pendapat dari responden yang sudah mengisi kuesioner. Berikut ini adalah penjabarannya:
a. Pembelajaran Membaca Kritis
Penelitian ini akan mengembangkan modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat tradisional Jawa Tengah. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan pada poin pembelajaran membaca kritis berisi tentang manfaat pembelajaran membaca kritis dari umum ke yang spesifik. Selain itu, pernyataan tentang kebiasaan membaca mahasiswa pada saat ini juga akan disinggung. Total keseluruhan responden dalam penelitian ini adalah 63 mahasiswa angkatan 2017 program studi PBSI FKIP USD. Berikut ini adalah pendapat-pendapat responden mengenai pernyataan 1 sampai 5 pada bagian pembelajaran membaca kritis.
Pernyataan pertama adalah pada saat ini minim sekali sumber belajar mandiri yang berisi pembelajaran membaca kritis. Jawaban sangat setuju dan setuju dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Berdasarkan klasifikasi tersebut diketahui bahwa 44 mahasiswa (20 orang sangat setuju dan 22 orang setuju) menyatakan bahwa sumber belajar mandiri yang berisi pembelajaran membca kritis minim pada saat ini. Jika diubah dalam bentuk persen maka menjadi 66,66% mahasiswa masuk ke dalam kategori tinggi.
Pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju dipandang sebagai sikap negatif karena menyatakan bahwa jumlah sumber belajar mandiri yang berisi pembelajaran membaca kritis sudah cukup atau bahkan sudah banyak pada saat ini. Terdapat 17 mahasiswa yang menyatakan tidak setuju dengan pernyataan tersebut, persentasenya adalah 26,98%. Persentase tersebut masuk dalam kategori rendah. Terdapat 4 orang mahasiswa dengan persentase 6,34% yang netral/tidak menentukan pilihan dan jumlah tersebut masuk dalam kategori sangat rendah.
Diagram 4.1
Hasil Kuesioner Pembelajaran Membaca Kritis Nomor 1
Pernyataan kedua adalah “Mahasiswa harus memiliki keterampilan membaca kritis karena mahasiswa dituntut tidak hanya sekedar memahami bahan bacaan secara umum akan tetapi mampu menilai bahan bacaan tersebut”. Jawaban sangat setuju dan setuju dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Berdasarkan klasifikasi data diketahui bahwa 63 mahasiswa (38 orang sangat setuju dan 25 orang setuju) menyatakan bahwa mahasiswa harus memiliki keterampilan membaca kritis karena mahasiswa
0 5 10 15 20 25 SS S RR TS STS 20 22 4 17 0
PERNYATAAN 1
Pada saat ini minim sekali sumber belajar mandiri yang berisi pembelajaran membaca kritis.
dituntut tidak hanya sekedar memahami bahan bacaan secara umum akan tetapi mampu menilai bahan bacaan tersebut. Persentase pernyataan kedua ini adalah 100% dan masuk kategori sangat tinggi. Artinya seluruh responden sadar akan keterampilan membaca kritis harus dikuasai oleh mahasiswa. Tidak ada responden yang memilih jawaban tidak setuju, sangat tidak setuju atau netral.
Diagram 4.2
Hasil Kuesioner Pembelajaran Membaca Kritis Nomor 2
Pernyataan ketiga adalah “Kemampuan mahasiswa dalam mengkritisi bahan bacaan masih kurang”. Jawaban sangat setuju dan setuju dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Terdapat 57 mahasiswa (24 orang sangat setuju dan 33 orang setuju) menyatakan bahwa kemampuan yang dimiliki mahasiswa dalam mengkritisi bahan bacaan masih kurang. Persentasenya mencapai 90,47% dan ini masuk ke dalam kategori sangat tinggi. Pada pernyataan kedua 100% responden sepakat bahwa keterampilan membaca kritis perlu dikuasai oleh mahasiswa. Namun, pada pernyataan nomor 3 90,47% responden menyadari bahwa kemampuan membaca kritis mahasiswa masih kurang. Banyak faktor yang menyebabkan
0 10 20 30 40 SS S RR TS STS 38 25 0 0 0
PERNYATAAN 2
Mahasiswa harus memiliki keterampilan membaca kritis karena mahasiswa dituntut tidak hanya sekedar memahami bahan bacaan secara umum akan tetapi mampu menilai bahan bacaan tersebut.
keterampilan membaca kritis mahasiswa masih kurang, salah satunya adalah kurangnya sumber belajar mandiri yang menarik untuk mendorong mereka mempelajari membaca kegiatan kritis.
Pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju dipandang sebagai sikap negatif karena menyatakan bahwa kemampuan membaca kritis mahasiswa sudah cukup atau baik. Tidak satu pun responden menyatak tidak setuju atau sangat tidak setuju. Persentase sikap negatif pada pernyataan nomor 3 adalah 0% dan itu artinya masuk ke dalam kategori sangat rendah. Terdapat 6 orang mahasiswa dengan persentase 9,52% yang netral/tidak menentukan pilihan dan jumlah tersebut masuk dalam kategori sangat rendah.
Diagram 4.3
Hasil Kuesioner Pembelajaran Membaca Kritis Nomor 3
Pernyataan nomor 4 tentang manfaat membaca kritis. Pernyataan tersebut ialah “Membaca kritis dapat meningkatkan ketelitian dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa”. Jawaban sangat setuju dan setuju dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Grafik di atas menunjukkan jawaban bahwa 61 mahasiswa (43 orang
0 10 20 30 40 SS S RR TS STS 24 33 6 0 0
PERNYATAAN 3
sangat setuju dan 18 orang setuju) menyatakan manfaat membaca kritis diantaranya adalah dapat meningkatkan ketelitian dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Jika diubah dalam bentuk persen maka menjadi 96,82% mahasiswa masuk ke dalam kategori sangat tinggi.
Pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju dipandang sebagai sikap negatif karena menyatakan bahwa membaca kritis tidak dapat meningkatkan ketelitian dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Tidak ada responden yang memilih jawaban tidak setuju atau sangat tidak setuju. Persentasenya adalah 0% dan masuk dalam kategori sangat rendah. Hampir semua responden sepakat atau mempunyai sikap positif terhadap pernyataan nomor 4. Sebanyak 2 orang mahasiswa dengan persentase 3,17% yang netral/tidak menentukan pilihan dan jumlah tersebut masuk dalam kategori sangat rendah.
Diagram 4.4
Hasil Kuesioner Pembelajaran Membaca Kritis Nomor 4
Pernyataan kelima terdapat pernyataan tentang kebiasaan membaca mahasiswa. Pernyataannya adalah “Kebiasaan saya pada saat membaca hanya memahami isi bahan bacaan secara umum”. Jawaban sangat setuju dan setuju
0 20 40 60 SS S RR TS STS 43 18 2 0 0
PERNYATAAN 4
Membaca kritis dapat meningkatkan ketelitian dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Berdasarkan klasifikasi data tersebut diketahui bahwa 54 mahasiswa (14 orang sangat setuju dan 40 orang setuju) menyatakan bahwa kebiasaan yang dilakukan oleh mereka pada saat membaca adalah memahami isi bahan bacaan secara umum. Sebanyak 85,71% mahasiswa masuk dalam kategori sangat tinggi. Terdapat kesenjangan antara kesadaran mereka tentang pentingnya membaca kritis dengan realita kebiasaan mereka pada saat membaca. Kebiasaan membaca yang memahami bacaan secara umum seharusnya diubah menjadi libih mendalam dalam memahami bahan bacaan. Mahasiswa harus lebih kritis dalam kegiatan membaca karena itu modal penting umtuk menilai sebuah bahan bacaan atau sebuah informasi.
Pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju dipandang sebagai sikap negatif karena menyatakan bahwa kebiasaan mereka pada saat membaca tidak hanya memahami bahan bacaan secara umum saja. Terdapat 4 mahasiswa saja yang menyatakan tidak setuju dengan pernyataan tersebut, persentasenya adalah 7,93%. Persentase tersebut masuk dalam kategori sangat rendah. Terdapat 4 orang mahasiswa dengan persentase 6,34% yang netral/tidak menentukan pilihan dan jumlah tersebut masuk dalam kategori sangat rendah. Berdasarkan data di atas hanya 7,93% saja mahasiswa yang mempunyai kebiasaan membaca dengan memahami secara mendalam bahan bacaan. Oleh karena itu, modul digital membaca kritis dengan memanfaatkan cerita tradisonal Jawa Tengah ini akan membantu mahasiswa untuk dapat berlatih memahami bahan bacaan secara mendalam.
Diagram 4.5
Hasil Kuesioner Pembelajaran Membaca Kritis Nomor 5
b. Integrasi Cerita Rakyat dalam Pembelajaran
Pernyataan-pernyataan pada poin integrasi cerita rakyat dalam pembelajaran berisi seputar cerita rakyat sebagai salah satu sastra daerah yang akan dimanfaatkan dalam pembelajaran membaca kritis. Terdapat 5 pernyataan dalam poin integrasi cerita rakyat dalam pembelajaran. Berikut ini penjabaran pendapat-pendapat responden mengenai pernyataan 1 sampai 5 yang akan diberi pemaknaan.
Pernyataan pertama ”Salah satu kearifan lokal yang perlu untuk dilestarikan dan dapat diintegrasikan dalam pembelajaran membaca kritis adalah cerita rakyat”. Jawaban sangat setuju dan setuju dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Berdasarkan klasifikasi tersebut diketahui bahwa 61 mahasiswa (23 orang sangat setuju dan 38 orang setuju) menyatakan bahwa kearifan lokal yang perlu untuk dilestarikan dan dapat diintegrasikan dalam pembelajaran membaca kritis adalah cerita rakyat. Jika
0 10 20 30 40 SS S RR TS STS 14 40 5 4 0
PERNYATAAN 5
Kebiasaan saya pada saat membaca hanya memahami isi bahan bacaan secara umum.
diubah dalam bentuk persen maka menjadi 96,82% mahasiswa masuk ke dalam kategori tinggi. Cerita rakyat menjadi penting untuk dilestarikan atau didokumentasikan agar tidak dilupakan. Sebanyak 96,82% mahasiswa sepakat akan pernyataan tersebut. Hal ini menandakan bahwa mahasiswa juga masih mempunyai kepedulian tehadap cerita rakyat suatu daerah.
Diagram 4.6
Hasil Kuesioner Integrasi Cerita Rakyat dalam Pembelajaran Nomor 1
Pernyataan kedua adalah “Cerita rakyat merupakan ekspresi budaya suatu masyarakat tertentu yang berhubungan dengan berbagai aspek budaya dan nilai sosial masyarakat”. Jawaban sangat setuju dan setuju dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Berdasarkan klasifikasi data diketahui bahwa 63 mahasiswa (39 orang sangat setuju dan 24 orang setuju) menyatakan bahwa cerita rakyat merupakan ekspresi budaya suatu masyarakat tertentu yang berhubungan dengan berbagai aspek budaya dan nilai sosial masyarakat. Persentase pernyataan kedua ini adalah 100% dan masuk kategori sangat tinggi. Artinya seluruh responden memhami cerita rakyat sebagai cara pengungkapan budaya suatu masyarakat tertentu yang erat kaitannya dengan
0 10 20 30 40 SS S RR TS STS 23 38 2 0 0
PERNYATAAN 1
Salah satu kearifan lokal yang perlu untuk dilestarikan dan dapat diintegrasikan dalam pembelajaran membaca kritis adalah cerita rakyat.
berbagai nilai sosial dan budaya masyarakat tersebut. Tidak ada responden yang memilih jawaban tidak setuju, sangat tidak setuju atau netral.
Diagram 4.7
Hasil Kuesioner Integrasi Cerita Rakyat dalam Pembelajaran Nomor 2 Pernyataan nomor 3 ialah “Cerita rakyat mempunyai unsur estetis atau keindahan sehingga menarik untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran membaca kritis”. Jawaban sangat setuju dan setuju dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Grafik di atas menunjukkan jawaban bahwa 58 mahasiswa (26 orang sangat setuju dan 32 orang setuju) menyatakan cerita rakyat mempunyai unsur estetis atau keindahan sehingga menarik untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran membaca kritis. Jika diubah dalam bentuk persen maka menjadi 92,06% mahasiswa masuk ke dalam kategori sangat tinggi. Unsur estetik dari cerita rakyat dapat dimanfaatkan untuk mendorong mahasiswa membaca cerita rakyat secara mendalam.
Pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju dipandang sebagai sikap negatif karena menyatakan bahwa cerita rakyat tidak mempunyai unsur estetis atau keindahan sehingga tidak menarik untuk dimanfaatkan sebagai media
0 10 20 30 40 SS S RR TS STS 39 24 0 0 0
PERNYATAAN 2
Cerita rakyat merupakan ekspresi budaya suatu masyarakat tertentu yang berhubungan dengan berbagai aspek budaya dan nilai sosial masyarakat.
pembelajaran membaca kritis. Tidak ada responden yang memilih jawaban tidak setuju atau sangat tidak setuju. Persentasenya adalah 0% dan masuk dalam kategori sangat rendah rendah. Hampir semua responden sepakat atau mempunyai sikap positif terhadap pernyataan nomor 3. Sebanyak 5 orang mahasiswa dengan persentase 7,93% yang netral/tidak menentukan pilihan dan jumlah tersebut masuk dalam kategori sangat rendah.
Diagram 4.8
Hasil Kuesioner Integrasi Cerita Rakyat dalam Pembelajaran Nomor 3
Pernyataan keempat adalah “Cerita rakyat mengandung nilai-nilai kehidupan yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk membentuk karakter positif mahasiswa.”. Jawaban sangat setuju dan setuju dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Berdasarkan klasifikasi data diketahui bahwa 63 mahasiswa (36 orang sangat setuju dan 27 orang setuju) menyatakan bahwa cerita rakyat mengandung nilai-nilai kehidupan yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk membentuk karakter positif mahasiswa. Persentase pernyataan keempat ini adalah 100% dan masuk kategori sangat tinggi. Artinya seluruh responden sepakat bahwa cerita rakyat mengandung nilai-nilai kehidupan dan nilai-nilai
0 20 40 SS S RR TS STS 26 32 5 0 0
PERNYATAAN 3
Cerita rakyat mempunyai unsur estetis atau keindahan sehingga menarik untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran membaca kritis.
tersebut mampu membentuk karakter yang positif untuk mahasiswa. Nilai kehidupan dalam cerita rakyat sangat beragam, ada nilai spiritualitas, sosial, budaya, estetika, dll. Nilai-nilai tersebut dapat dicontoh mahasiswa untuk berkembang menjadi pribadi yang positif. Tidak ada responden yang memilih jawaban tidak setuju, sangat tidak setuju atau netral.
Diagram 4.9
Hasil Kuesioner Integrasi Cerita Rakyat dalam Pembelajaran Nomor 4
Pernyataan nomor 5 ialah “Mahasiswa penting untuk mempelajari aspek kebudayaan suatu daerah”. Jawaban sangat setuju dan setuju dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Grafik di atas menunjukkan jawaban bahwa 61 mahasiswa (33 orang sangat setuju dan 28 orang setuju) menyatakan bahwa mahasiswa penting untuk mempelajari aspek kebudayaan suatu daerah. Jika diubah dalam bentuk persen maka menjadi 96,82% mahasiswa masuk ke dalam kategori sangat tinggi. Tidak ada salahnya jika kita mempelajari kebudayaan suatu daerah. Jika kita mempelajari kebudayaan daerah-daerah di Indonesia dapat menambah wawasan kita tentang prespektif masyarakat di daerah lain.
0 10 20 30 40 SS S RR TS STS 36 27 0 0 0
PERNYATAAN 4
Cerita rakyat mengandung nilai-nilai kehidupan yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk membentuk karakter positif mahasiswa.
Dalam penelitian ini akan mempelajari kebudayaan masyrakat Jawa Tengah yang digambarkan melalui cerita rakyatnya. Kebudayaan, nilai-nilai kehidupan masyarakat dapat dilihat dari cerita rakyat daerah tersebut. Hal ini dikarenakan cerita rakyat suatu daerah merupakan cerminan kebudayaan daerah tersebut. Pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju dipandang sebagai sikap negatif karena menyatakan bahwa tidak penting untuk mempelajari aspek kebudayaan suatu daerah. Tidak ada responden yang memilih jawaban tidak setuju atau sangat tidak setuju. Persentasenya adalah 0% dan masuk dalam kategori sangat rendah rendah. Hampir semua responden sepakat atau mempunyai sikap positif terhadap pernyataan nomor 5. Namun, tedapat 2 orang mahasiswa dengan persentase 3,17% yang netral/tidak menentukan pilihan dan jumlah tersebut masuk dalam kategori sangat rendah.
Diagram 4.10
Hasil Kuesioner Integrasi Cerita Rakyat dalam Pembelajaran Nomor 5
c. Modul Digital
Penelitian ini akan mengembangkan modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat tradisional Jawa Tengah. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan pada poin modul digital akan dipadukan
0 10 20 30 40 SS S RR TS STS 33 28 2 0 0
PERNYATAAN 5
dengan kegiatan pembelajaran membaca kritis yang memanfaatkan cerita rakyat tradisional. Modul digital memang erat kaitannya dengan perkembangan zaman abad XXI. Generasi milenial sangat akrab dengan teknologi. Berikut ini adalah pendapat-pendapat responden mengenai pernyataan 1 samapai 5 pada bagian modul digital.
Pernyataan pertama terkait modul digital adalah ”Pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat yang dikemas dengan modul digital dapat digunakan sebagai sumber belajar mandiri yang dapat membantu mahasiswa dalam meningkatkan pemahaman kognitif”. Jawaban sangat setuju dan setuju dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Berdasarkan klasifikasi tersebut diketahui bahwa 62 mahasiswa (31 orang sangat setuju dan 31 orang setuju) menyatakan bahwa pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat yang dikemas dengan modul digital dapat digunakan sebagai sumber belajar mandiri yang dapat membantu mahasiswa dalam meningkatkan pemahaman kognitif. Persentasenya adalah 96,82% dan masuk dalam kategori sangat tinggi
Pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju dipandang sebagai sikap negatif karena menyatakan bahwa pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat yang dikemas dengan modul digital dapat digunakan sebagai sumber belajar mandiri yang tidak dapat membantu mahasiswa dalam meningkatkan pemahaman kognitif. Dalam grafik di atas tidak satu pun responden menjawab tidak setuju ataupun sangat tidak setuju. Hal ini artinya 0% mahasiswa dan masuk dalam kategori sangat rendah. Namun,
terdapat 1 orang mahasiswa dengan persentase 1,58% yang netral/tidak menentukan pilihan dan jumlah tersebut masuk dalam kategori sangat rendah.
Diagram 4.11
Hasil Kuesioner Modul Digital Nomor 1
Pernyataan kedua adalah “Modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat menarik untuk dipelajari karena dalam modul digital dilengkapi dengan komponen audio, video, animasi dan gambar”. Jawaban sangat setuju dan setuju dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Berdasarkan klasifikasi data diketahui bahwa 63 mahasiswa (43 orang sangat setuju dan 20 orang setuju) menyatakan bahwa modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat menarik untuk dipelajari karena dalam modul digital dilengkapi dengan komponen audio, video, animasi dan gambar. Persentase pernyataan kedua ini adalah 100% dan masuk kategori sangat tinggi. Dalam pernyataan nomor 2 ini tidak ada responden yang menyatakan tidak setuju, sangat tidak setuju, atau netral. Semuanya sepakat bahwa modul digital menarik untuk dipelajari karena
0 10 20 30 40 SS S RR TS STS 31 31 1 0 0
PERNYATAAN 1
Pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat yang dikemas dengan modul digital dapat digunakan sebagai sumber belajar mandiri yang dapat membantu mahasiswa dalam meningkatkan pemahaman kognitif.
komponen-komponen yang ada di dalamnya mendorong mereka untuk membaca dan mempelajarinya.
Diagram 4.12
Hasil Kuesioner Modul Digital Nomor 2
Pernyataan nomor 3 ialah “Modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat memiliki tingkat interaksi yang lebih tinggi dengan pembaca”. Jawaban sangat setuju dan setuju dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Diagram di atas menunjukkan jawaban bahwa 57 mahasiswa (23 orang sangat setuju dan 30 orang setuju) menyatakan modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat memiliki tingkat interaksi yang lebih tinggi dengan pembaca. Persentasenya mencapai 92,06% dan masuk dalam kategori sangat tinggi. Modul digital dianggap mempunyai hubungan atau umpan balik yang lebih tinggi dengan pembaca disbanding modul cetak.
Pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju dipandang sebagai sikap negatif karena menyatakan bahwa modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat memiliki tingkat interaksi yang rendah
0 20 40 60 SS S RR TS STS 43 20 0 0 0
PERNYATAAN 2
Modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat menarik untuk dipelajari karena dalam modul digital dilengkapi dengan komponen audio, video,animasi dan gambar.
dengan pembaca. Tidak ada responden yang memilih jawaban tidak setuju atau sangat tidak setuju. Persentasenya adalah 0% dan masuk dalam kategori sangat rendah rendah. Hampir semua responden sepakat atau mempunyai sikap positif terhadap pernyataan nomor 3. Sebanyak 6 orang mahasiswa dengan persentase 7,93% yang netral/tidak menentukan pilihan dan jumlah tersebut masuk dalam kategori sangat rendah.
Diagram 4.13
Hasil Kuesioner Modul Digital Nomor 3
Pernyataan keempat tentang penerapan modul digital dalam pembelajaran. Pernyataannya adalah “Modul berbasis digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat belum banyak dijumpai oleh mahasiswa dalam pembelajaran”. Jawaban sangat setuju dan setuju dipandang sebagai sikap positif yang mendukung pernyataan tersebut. Berdasarkan klasifikasi data tersebut diketahui bahwa 52 mahasiswa (26 orang sangat setuju dan 26 orang setuju) menyatakan bahwa modul berbasis digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat belum
0 10 20 30 SS S RR TS STS 27 30 6 0 0
PERNYATAAN 3
Modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat memiliki tingkat interaksi yang lebih tinggi dengan pembaca.
banyak dijumpai oleh mahasiswa dalam pembelajaran. Sebanyak 82,53% mahasiswa masuk dalam kategori sangat tinggi.
Pilihan tidak setuju dan sangat tidak setuju dipandang sebagai sikap negatif karena menyatakan bahwa modul berbasis digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat banyak dijumpai oleh mahasiswa dalam pembelajaran. Terdapat 3 mahasiswa yang menyatakan tidak setuju dengan pernyataan tersebut, persentasenya adalah 4,76%. Persentase tersebut masuk dalam kategori sangat rendah. Terdapat 8 orang mahasiswa dengan persentase 12,69% yang netral/tidak menentukan pilihan dan jumlah tersebut masuk dalam kategori sangat rendah. Berdasarkan data di atas kebanyakan mahasiswa belum menjumpai implementasi modul berbasis digital