PENGEMBANGAN MODUL DIGITAL PEMBELAJARAN
MEMBACA KRITIS DENGAN MEMANFAATKAN CERITA
RAKYAT TRADISIONAL JAWA TENGAH BAGI
MAHASISWA
SKRIPSI
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Disusun oleh: Dion Wahyu Widayat
NIM: 151224079
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2019
i
PENGEMBANGAN MODUL DIGITAL PEMBELAJARAN
MEMBACA KRITIS DENGAN MEMANFAATKAN CERITA
RAKYAT TRADISIONAL JAWA TENGAH BAGI
MAHASISWA
SKRIPSI
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Disusun oleh: Dion Wahyu Widayat
NIM: 151224079
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2019
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan untuk: 1. Tuhan Yang Maha Esa.
2. Kedua orang tua saya, Bambang Herlin dan Sarinten yang selalu memeberikan dukungan, bimbingan serta doa.
3. Adikku Wahyu Anan Fauzan yang selalu memberikan dukungan.
4. Keluarga besar Joyo Inangun, sahabat, dan semua orang yang telah mendukung proses penyelesaian skripsi ini.
v MOTO
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang
lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah, 6-8)
viii ABSTRAK
Widayat, Dion Wahyu. 2019. Pengembangan Modul Digital Pembelajaran Membaca Kritis dengan Memanfaatkan Cerita Rakyat Tradisional Jawa Tengah bagi Mahasiswa. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca kritis yang penting dikuasai oleh mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul digital pembelajaran membaca kritis integrasi cerita rakyat tradisional Jawa Tengah. Modul digital dapat dijadikan bahan ajar yang menarik dan sesuai dengan perkembangan abad XXI.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan atau research & development (R&D) menurut Borg & Gall. Penelitian pengembangan ini mengacu pada sepuluh langkah penelitian Borg dan Gall yang disederhanakan menjadi enam tahapan. Tahap yang dilakukan peneliti antara lain, (1) penelitian dan pengumpulan informasi, (2) pengembangan produk, (3) validasi produk, (4) revisi tahap I, (5) uji coba produk, dan (6) revisi tahap II.
Hasil penelitian berdasarkan enam tahap tersebut; (1) Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner ke mahasiswa dan melakukan wawancara dengan dosen pengampu membaca intensif didapatkan hasil jika pengembangan modul digital membaca kritis penting dan relevan. (2) Pengembangan bahan ajar modul dilakukan dengan menentukan judul, tujuan, pemilihan bahan, penyusunan bahan dan pengumpulan bahan sesuai dengan materi. (3) Uji validasi dilakukan oleh satu dosen ahli dan uji terbatas penilaian mahasiswa. (4) Revisi tahap I antara lain: perbaikan penyajian modul, penambahan materi, memperbaiki kesalahan penulisan, menambah soal pascamembaca, memperbaiki ejaan sesuai PUEBI, dan menentukan jenis huruf yang tepat. (5) Uji coba produk dilakukan oleh mahasiswa. (6) Revisi tahap II meliputi,: menambah contoh, revisi judul modul, menambah ilustrasi gambar, dan memperbaiki kesalahan pengetikan. Berdasarkan rekapitulasi hasil analisis aspek modul digital didapatkan hasil 3,60 untuk validasi dosen ahli dan 4,45 untuk hasil validasi mahasiswa. Berdasarkan hasil tersebut modul digital “Membaca Kritis untuk Mahasiswa” layak untuk digunakan dalam pembelajaran membaca kritis di tingkat perguruan tinggi.
Kata Kunci: Modul Digital, Cerita Rakyat, Membaca kritis, Paradigma Pedagogi Pembelajaran Reflektif (PPR).
ix ABSTRACT
Widayat, Dion Wahyu. 2019. Critical Reading Digital Learning Module by Using Central Java Traditional Folklore for University Students. Thesis. Yogyakarta: Indonesian Language Education and Arts Study Program, Language Education and Arts Department, Faculty of Teachers Training and Education, Sanata Dharma University.
Research problem in this research is the ability of critical reading that is very important to be mastered by university students. This research aims to produce critical reading digital learning module Central Java traditional folklore integrated. Digital module is an attractive teaching material that is also suitable with 21st century development.
This is a development research or Research & Development (R&D) according to Borg & Gall. This development research is in reference to Borg & Gall’s ten steps research that is simplified into six steps. The researcher did these steps (1) research and data gathering, (2) product development, (3) product validation, (4) Revision I, (5) product testing, and (6) Revision II.
Research result based on the six steps are: (1) From the preliminary study by spreading questionnaire to university students and doing interview with intensive reading lecture obtained a result that critical reading digital module development is important and relevant. (2) Teaching material module development was done by identifying the title, aims, material selection, material arrangement, and material gathering according to the material. (3) Validation test was done by an expert lecturer and student assesment limited test. (4) Revision I were: module presentation improvement, material addition, writing improvement, post-reading questions addition, spell check according to PUEBI, and decide the appropriate font. (5) Product testing was done by students. (6) Revision II included: examples addition, module title revision, illustration addition, and typing error improvement. The digital module aspect analysis recapitulation obtained 3.60 as the result for expert lecturer validation and 4.45 for students validation result. Based on the result, “Membaca Kritis untuk Mahasiswa” digital module is feasible for critical reading learning in university level.
Keywords: Digital Module, Folklore, Critical Reading, Paradigma Pedagogi Pembelajaran Reflektif (PPR).
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat, karunia, serta perlindungan-Nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga skripsi yang berjudul Pengembangan Modul Digital Pembelajaran Membaca Kritis dengan Memanfaatkan Cerita Rakyat Tradisional Jawa Tengah Bagi Mahasiswa dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa tanpa adanya bantuan, dukungan, bimbingan, dan kerjasama dari berbagai pihak maka skripsi ini tidak akan terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta yang telah mengesahkan skripsi penulis.
2. Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni dan dosen pembimbing, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian dan selalu sabar, setia dalam membimbing, mengarahkan, dan memberikan berbagai solusi, nasihat serta masukan positif kepada penulis.
3. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta yang telah
xi
memberikan izin terkait dengan segala kebutuhan dan berkenan menjadi validator untuk memvalidasi produk yang telah dikembangkan oleh penulis. 4. A. Danang Satria Nugraha, S.S., M.A. selaku Wakil Ketua Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah berkenan menjadi narasumber saat wawancara studi pendahuluan penulis.
5. Dr. Yuliana Setyaningsih, M.Pd., selaku dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang berkenan menjadi validator untuk memvalidasi produk yang telah dikembangkan oleh penulis.
6. Septina Krismawati, S.S., M.A., selaku dosen pengampu mata kuliah Membaca Intensif yang telah berkenan menjadi narasumber pada wawancara dan berkenan membantu selama proses pengerjaan skripsi.
7. Seluruh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah berkenan berbagi ilmu dan mendukung proses pengerjaan skripsi.
8. Theresia Rusmiyati, selaku karyawan sekretariat Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan arahan dan pelayanan dengan baik dan sabar kepada penulis dalam menyelesaiakan urusan administrasi.
9. Seluruh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2017 yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.
10. Teman-teman seperjuangan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2015 yang saling memberikan semangat dan motivasi.
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... I HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... II HALAMAN PENGESAHAN ... III HALAMAN PERSEMBAHAN ... IV MOTO ... V PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... VI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
KARYA ILMIAH UNTUK KEPERLUAN AKADEMIS ... VII ABSTRAK ... VIII ABSTRACT ... IX KATA PENGANTAR ... X DAFTAR ISI ... XIII DAFTAR TABEL ... XVII DAFTAR BAGAN ... XVII DAFTAR GAMBAR ... XIX DAFTAR DIAGRAM ... XX DAFTAR GRAFIK ... XXII DAFTAR LAMPIRAN ... XXIII BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan masalah... 4
xiv 1.3 Tujuan Penelitian ... 4 1.4 Manfaat Penelitian ... 4 1.5 Batasan Istilah ... 6 1.6 Spesifikasi Produk ... 7 1.7 Sistematika Penyajian ... 9
BAB II LANDASAN TEORI ... 11
2.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 11
2.2 Landasan Teori ... 15
2.2.1 Keterampilan Membaca sebagai Salah Satu Keterampilan berbahasa .. 15
2.2.2 Membaca Kritis ... 18
2.2.2.1 Hakikat Membaca Kritis ... 18
2.2.2.2 Aspek Membaca Kritis ... 19
2.2.3 Cerita Rakyat ... 24
2.2.3.1 Pengertian Cerita Rakyat... 24
2.2.3.2 Ciri-ciri Cerita Rakyat ... 25
2.2.3.3 Jenis-jenis Cerita Rakyat ... 26
2.2.3.4 Cerita Rakyat Jawa Tengah ... 29
2.2.4 Paradigma Pedagogi Reflektif... 32
2.2.4.1 Pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif ... 32
2.2.4.2 Pelaksanaan Paradigma Pedagogi Reflektif ... 33
2.2.5 Bahan Ajar ... 36
2.2.6 Modul ... 38
xv
2.2.6.2 Tujuan Modul Pembelajaran ... 39
2.2.6.3 Karakteristik Modul Pembelajaran ... 40
2.2.6.4 Prosedur Penulisan Modul ... 42
2.2.6.5 Struktur Penulisan Modul ... 45
2.2.6.6 Kriteria Penilaian Modul ... 52
2.2.6.7 Modul Digital Pembelajaran ... 54
2.2.3 Kerangka Berpikir ... 55
BAB III METODE PENELITIAN ... 58
3.1 Jenis Penelitian ... 58
3.2 Sumber Data dan Data Penelitian ... 59
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 60
3.4 Instrumen Pengumpulan Data ... 61
3.5 Teknik Analisis Data ... 63
3.6 Prosedur Pengembangan ... 69
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 76
4.1 Hasil Penelitian ... 76
4.1.1 Hasil Penelitian dan Pengumpulan Informasi ... 77
4.1.1.1 Deskripsi Data Analisis Kebutuhan Mahasiswa ... 77
4.1.1.2 Deskripsi Wawancara Dosen ... 98
4.1.2 Pengembangan Modul ... 100
4.1.2.1 Penentuan Tujuan ... 101
4.1.2.2 Pemilihan Bahan ... 101
xvi
4.1.2.4 Pengumpulan Bahan... 103
4.1.3 Uji Validasi ... 105
4.1.3.1 Hasil Validasi Modul Digital oleh Dosen Ahli ... 105
4.1.4 Revisi Produk Tahap I ... 111
4.1.5 Data Hasil Uji Coba Produk ... 117
4.1.5.1 Deskripsi Uji Coba Produk ... 117
4.1.5.2 Deskripsi Hasil Penilaian Mahasiswa ... 118
4.1.6 Revisi Produk Tahap II ... 122
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian ... 124
4.2.1 Deskripsi Modul Digital ... 125
4.2.2 Deskripsi Data Hasil Validasi ... 130
4.2.2.1 Deskripsi Data Hasil Validasi oleh Dosen Ahli ... 130
4.2.2.2 Deskripsi Data Hasil Penilaian oleh Mahasiswa ... 131
4.2.3 Analisis Kelayakan Modul Digital ... 133
BAB V PENUTUP ... 141
5.1 Kesimpulan ... 141
5.2 Saran ... 143
5.2.1 Bagi Para Dosen ... 144
5.2.2 Bagi Mahasiswa ... 145
5.2.3 Bagi Peneliti Lainnya ... 145
DAFTAR PUSTAKA ... 146
BIOGRAFI PENULIS ... 150
xvii
DAFTAR TABEL
2.1 Cerita Rakyat Tradisional Daerah Jawa Tengah ... 30
3.1 Kisi-kisi Kuesioner Membaca Kritis ... 61
3.2 Kisi-kisi Kuesioner Integrasi Cerita Rakyat dalam Pembelajaran ... 62
3.3 Kisi-kisi Kuesioner Pengembangan Modul Digital ... 62
3.4 Kisi-kisi Wawancara ... 63
3.5 Konversi Nilai dan Skala Sikap ... 64
3.6 Kategori Interval Skala Likert ... 66
3.7 Konversi Nilai Skala Lima Berdasarkan Penilaian Acuan Patokan... 67
3.8 Kisi-Kisi Validasi Modul Digital Oleh Dosen Ahli ... 68
3.9 Kisi-Kisi Penilaian Oleh Mahasiswa ... 68
4.1 Kategori Interval Skala Likert ... 78
4.2 Hasil Keseluruhan Perhitungan Kuesioner ... 97
4.3 Rumusan Tujuan Pembelajaran... 103
4.4 Data Hasil Validasi Dosen Ahli pada Aspek Kelayakan Isi/Materi ... 106
4.5 Data Hasil Validasi Dosen Ahli pada Aspek Kelayakan Penyajian ... 107
4.6 Data Hasil Validasi Dosen Ahli pada Aspek Kelayakan Bahasa ... 108
4.7 Data Hasil Validasi Dosen Ahli pada Aspek Kelayakan Kegrafikan ... 109
4.8 Data Skor Rata-rata Validasi Dosen Ahli pada Seluruh Aspek ... 110
4.9 Data Hasil Penilaian Mahasiswa pada Aspek Isi/Materi ... 118
4.10 Data Hasil Penilaian Mahasiswa pada Aspek Penyajian ... 119
xviii
4.12 Data Hasil Penilaian Mahasiswa pada Kegrafikan ... 120
4.13 Data Skor Rata-rata Penilaian Mahasiswa pada Seluruh Aspek ... 121
4.14 Data Rekapitulasi Validasi oleh Dosen Ahli ... 131
xix
DAFTAR BAGAN
2.1 Kerangka Berpikir Penelitian ... 57 3.1 Prosedur Pengembangan ... 75
xx
DAFTAR GAMBAR
2.1 Contoh Sistematika Uraian Modul ... 48
2.2 Contoh Sitematika Penomoran dalam Modul ... 49
4.1 Materi Sebelum Direvisi (Aspek Materi) ... 111
4.2 Materi Sesudah Direvisi (Aspek Materi) ... 112
4.3 Gambar Kiri dan Kanan Soal Sebelum Direvisi ... 113
4.4 Gambar kiri dan Kanan Soal Sesudah Direvisi ... 113
4.5 Gambar Kiri dan Kanan Aspek Penyajian Sebelum Direvisi ... 114
4.6 Gambar Kiri dan Kanan Aspek Penyajian Sesudah Direvisi ... 115
4.7 Gambar Kiri Sebelum Direvisi dan Gambar Kanan Sesudah Direvisi (Aspek Kegrafikan) ... 116
4.8 Kegiatan Aksi Sebelum Direvisi ... 123
4.9 Kegiatan Aksi Sesudah Direvisi... 123
4.10 Sebelah Kiri Judul Modul Sebelum Direvisi dan Sebelah Kanan Judul Modul Sesudah Direvisi ... 124
xxi
DAFTAR DIAGRAM
4.1 Diagram Hasil Kuesioner Pembelajaran Membaca Kritis 1 ... 80 4.2 Diagram Hasil Kuesioner Pembelajaran Membaca Kritis 2 ... 81 4.3 Diagram Hasil Kuesioner Pembelajaran Membaca Kritis 3 ... 82 4.4 Diagram Hasil Kuesioner Pembelajaran Membaca Kritis 4 ... 83 4.5 Diagram Hasil Kuesioner Pembelajaran Membaca Kritis 5 ... 85 4.6 Diagram Hasil Kuesioner Integrasi Cerita Rakyat 1 ... 86 4.7 Diagram Hasil Kuesioner Integrasi Cerita Rakyat 2 ... 87 4.8 Diagram Hasil Kuesioner Integrasi Cerita Rakyat 3 ... 88 4.9 Diagram Hasil Kuesioner Integrasi Cerita Rakyat 4 ... 89 4.10 Diagram Hasil Kuesioner Integrasi Cerita Rakyat 5 ... 90 4.11 Diagram Hasil Kuesioner Modul Digital 1 ... 92 4.12 Diagram Hasil Kuesioner Modul Digital 2 ... 93 4.13 Diagram Hasil Kuesioner Modul Digital 3 ... 94 4.14 Diagram Hasil Kuesioner Modul Digital 4 ... 95 4.15 Diagram Hasil Kuesioner Modul Digital 5 ... 96 4.16 Hasil Perbandingan Aspek Isi/Materi oleh Dosen Ahli dengan
mahasiswa ... 134 4.17 Hasil Perbandingan Aspek Penyajian oleh Dosen Ahli dengan
mahasiswa ... 135 4.18 Hasil Perbandingan Aspek Bahasa oleh Dosen Ahli dengan
xxii
4.19 Hasil Perbandingan Aspek Kegrafikan oleh Dosen Ahli dengan
xxiii
DAFTAR GRAFIK
4.1 Hasil Validasi Modul Digital oleh Dosen Ahli ... 130 4.2 Hasil Penilaian Modul Digital oleh Mahasiswa ... 132
xxiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Surat Izin Penelitian ... 152 Lampiran 2: Surat Permohonan Wawancara Dosen ... 153 Lampiran 3: Surat Permohonan Validasi Dosen Ahli ... 154 Lampiran 4: Kisi-kisi Angket Validasi Modul Digital oleh Dosen Ahli ... 155 Lampiran 5: Kisi-kisi Angket Penilaian Modul Digital oleh Mahasiswa ... 157 Lampiran 6: Panduan Wawancara Dosen ... 158 Lampiran 7: Kuesioner Studi Pendahuluan Mahasiswa ... 159 Lampiran 8: Hasil Kuesioner Studi Pendahuluan Mahasiswa ... 162 Lampiran 9: Hasil Validasi Dosen Ahli ... 166 Lampiran 10: Perhitungan Hasil Validasi oleh Dosen Ahli ... 173 Lampiran 11: Daftar Hadir Mahasiswa Saat Uji Coba ... 177 Lampiran 12: Hasil Penilaian Modul Digital oleh Mahasiswa ... 179 Lampiran 13: Rekap Butir Pernyataan Penilaian Mahasiswa ... 185 Lampiran 14: Perhitungan Hasil Penilaian Modul Digital oleh Mahasiswa ... 187 Lampiran 15: Hasil Kerja Mandiri Mahasiswa Saat Uji Coba ... 190 Lampiran 16: Dokumentasi ... 194
1 BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menyajikan tujuh subbab, yaitu (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) batasan istilah, (6) spesifikasi produk, dan (7) sistematika penyajian. Berikut rincian pemaparan tujuh subbab pada bagian pendahuluan.
1.1 Latar Belakang
Membaca kritis merupakan salah satu bagian dari kegiatan membaca intensif yang membutuhkan tingkat berpikir tinggi. Kegiatan membaca kritis sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa terlebih lagi mahasiswa yang menekuni bidang bahasa seperti program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sanata Dharma (USD). Seorang mahasiswa hendaknya memiliki keterampilan membaca kritis karena mahasiswa dituntut tidak hanya sekedar memahami bahan bacaan secara umum akan tetapi mampu menilai bahan bacaan tersebut. Membaca kritis menjadi hal sangat penting untuk meningkatkan ketelitian, meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan meningkatkan karakter positif seorang mahasiswa.
Mahasiswa Prodi PBSI FKIP USD pasti akan berkecimpung di bidang bahasa dan sastra Indonesia. Sebaiknya, mahasiswa sudah akrab dengan kegiatan membaca. Namun, peneliti mendapatkan data yang memprihatinkan terkait minat baca penduduk Indonesia. Rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali
per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari sekitar 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun hanya 5-9 buku. Hal ini berdasarkan hasil penelitian perpustakaan nasional tahun 2017 (www.litbang.kemendagri.go.id, 15/11/2019). Data dari UNESCO minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca (www.kaskus.co.id, 17/11/2019).
Berdasarkan data survei dari beberapa lembaga di atas dapat disimpulkan bahwa minat membaca di Indonesia sangat rendah. Tidak menutup kemungkinan bahwa mahasiswa dari Prodi PBSI FKIP USD pun mempunyai minat baca yang rendah. Kondisi ini baru berkaitan dengan minat membaca, belum menyinggung ke kegiatan membaca intensif khususnya membaca kritis. Jika keinginan membaca saja sudah rendah dapat kita asumsikan bahwa kegiatan membaca kritis jauh lebih rendah. Selain minat baca, kurangnya modul pembelajaran yang menarik juga menjadi faktor mengapa kalangan mahasiswa memiliki kemampuan keterampilan membaca yang dirasa kurang.
Menurut Nasution (2005: 205), mendefinisikan modul merupakan suatu unit yang lengkap, berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu mahasiswa mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas. Modul cetak yang memiliki sifat tidak interaktif dan kurang praktis di abad XXI. Modul cetak membuat mahasiswa kurang termotivasi untuk membaca dan menerapkan kegiatan yang terdapat dalam modul tersebut. Dengan adanya modul pembelajaran membaca kritis yang menarik dan
memadai diharapkan mahasiswa memiliki keterampilan membaca yang jauh lebih baik.
Pengembangan modul digital dalam pembelajaran membaca dirasa sesuai dengan perkembangan teknologi yang serba komputer dan praktis. Modul pembelajaran digital membaca kritis dapat membuat mahasiswa memiliki minat untuk membaca yang lebih tinggi karena sifat modul digital yang interaktif, praktis dan efisien. Modul digital diharapkan dapat menjadi solusi untuk melatih kemampuan membaca kritis mahasiswa.
Selain keterampilan membaca kritis yang meningkat, peneliti juga berharap dapat memberikan edukasi dan nilai-nilai kehidupan di dalam modulnya. Edukasi dan nilai-nilai kehidupan akan mengembangkan karakter positif mahasiswa. Mahasiswa dituntut tidak hanya kompeten dalam bidang pengetahuan tetapi juga memiliki kepekaan hati terhadap lingkungan sekitar dan sesama. Oleh karena itu, peniliti memanfaatkan cerita rakyat tradisional Jawa Tengah sebagai media yang akan dikembangkan di modul digital pembelajaran membaca kritis. Menurut Hutomo (1991: 4) , cerita rakyat dapat diartikan sebagai ekspresi budaya suatu masyarakat melalui bahasa tutur yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek budaya dan susunan nilai sosial masyarakat. Cerita rakyat yang mengandung nilai-nilai kehidupan dan budaya dapat memberi dampak positif untuk karakter mahasiswa.
Mahasiswa juga dapat menjadi lebih tahu dan paham tentang cerita rakyat yang merupakan warisan dari generasi ke generasi. Pendokumentasian cerita rakyat sebagai media modul digital pembelajaran membaca kritis juga merupakan upaya
untuk melestarikan dan memperkenalkan cerita rakyat itu sendiri di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti akan mengembangkan modul digital pembelajaran untuk melatih kemampuan membaca kritis mahasiswa dengan memanfaatkan cerita rakyat tradisional Jawa Tengah.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan di atas, terdapat rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu “Bagaimana pengembangan modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat tradisional Jawa Tengah bagi mahasiswa Prodi PBSI FKIP USD?”.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan yang linier dengan rumusan masalah yang telah disebutkan yakni mengembangkan modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat tradisional Jawa Tengah bagi mahasiswa Prodi PBSI FKIP USD.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian pengembangan modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat tradisional Jawa tengah bagi mahasiswa diharapkan memberi manfaat baik secara praktis maupun teoretis. Berikut manfaat dari penelitian ini:
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini dapat dijadikan sumber tambahan atau acuan untuk melakukan penelitian yang sejenis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangsih bagi pengembangan modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat tradisional Jawa Tengah.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat memberi manfaat praktis bagi para dosen bahasa dan sastra Indonesia, mahasiswa dan peneliti lain. Manfaat praktis yang peneliti maksud adalah sebagai berikut:
a. Bagi Dosen
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber belajar tambahan yang dapat mempermudah dosen dalam menjelaskan dan memberikan tugas pada mahasiswa untuk membaca secara kiritis. Kemudian, dapat membantu dosen membangkitkan motivasi dan minat mahasiswa dalam membaca kritis. b. Bagi Mahasiswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber belajar mandiri mahasiswa dalam melatih keterampilan membaca kritis. Selain itu, semoga dapat mendorong dan meningkatkan minat mahasiswa dalam kegiatan membaca kritis dan membentuk karakter positif mahasiswa.
c. Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini diharapkan memotivasi peneliti lain untuk mengembangkan bahan ajar yang lebih kreatif dan inovatif.
1.5 Batasan Istilah
Peneliti menggunakan batasan isitilah untuk menyamakan konsep dari bermacam-macam istilahyang digunakan dalam penelitian ini. Berikut adalah batasan istilah yangdigunakan dalam penelitian ini.
1. Keterampilan Membaca
Keterampilan membaca adalah suatu proses yang dilakukan dan digunakan pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis (Hodgson via Tarigan, 2008: 7).
2. Membaca Kritis
Membaca kritis adalah kemampuan pembaca mengolah bahan bacaan secara kritis untuk menemukan keseluruhannya makna bahan bacaan, baik makna tersurat maupun makna tersiratnya melalu tahap mengenal, memahami, menganalisis, mensintesis, dan menilai (Nurhadi, 2010: 59).
3. Bahan Ajar
Bahan ajar adalah seperangkat materi yang tersusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak tertulis yang menciptakan lingkungan/suasana belajar untuk siswa (Ali Mudhlofir, 2011: 128).
4. Paradigma Pedagogi Reflektif
Paradigma pedagogi reflektif yang merupakan suatu pendekatan, suatu cara dosen mendampingi mahasiswa berkembang menjadi pribadi yang utuh, bukan hanya sekedar metode pembelajaran (Suparno 2015: 8).
5. Modul Digital
Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru (Mulyasa, 2008: 43). Kemudian, modul digital adalah modul yang diubah menjadi elektronik modul (e-modul) yang dapat dilengkapi dengan komponen media lain seperti audio, video, gambar, dan multimedia interaktif.
6. Cerita Rakyat
Cerita rakyat dapat diartikan sebagai ekspresi budaya suatu masyarakat melalui bahasa tutur yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek budaya dan susunan nilai sosial masyarakat (Hutomo, 1991: 4).
1.6 Spesifikasi Produk
Hasil penelitian ini adalah produk modul digital pembelajaran membaca kritis yang berjudul “Membaca Kritis untuk Mahasiswa”. Modul digital dikembangkan untuk menarik minat mahasiswa dalam melatih keterampilan membaca kritis. Kekhasan yang terdapat dalam modul ini adalah pemanfaatan cerita rakyat tradisional Jawa Tengah dalam kegiatan membaca kritis dan pemanfaatan teknologi untuk mengembangkan modul berbasis digital. Peneliti memilih cerita rakyat tradisional Jawa Tengah karena dalam cerita tersebut mengandung nilai-nilai kehidupan yang dapat dicontoh oleh mahasiswa. Terdapat dua belas cerita rakyat tradisional Jawa Tengah yang digunakan peneliti untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran.
Modul Membaca Kritis untuk Mahasiswa menggunakan pendekatan paradigma pedagogi reflektif (PPR). Modul digital Membaca Kritis untuk Mahasiswa dirancang sesuai dengan proses pelakasanaan PPR, yaitu konteks→pengalaman→refleksi→aksi→evaluasi. Melalui pendekatan PPR, mahasiswa diharapkan tidak hanya mempelajari materi saja melainkan dapat menjadi pribadi yang peka dan peduli dengan sesama. Modul digital Membaca Kritis untuk Mahasiswa dapat digunakan secara mandiri oleh mahasiswa.
Modul digital Membaca Kritis untuk Mahasiswa terdiri dari dua bab, yaitu (I) Membaca sebagai Keterampilan Berbahasa dan (II) Membaca Kritis Teks Prosa. Pada bab I terdapat materi tentang konsep dasar mengenai kegiatan membaca, pertanyaan-pertanyaan pemahamam, dan strategi dalam membaca. Kemudian, bab II berisi materi tentang hakikat membaca kritis, cerita rakyat dan latihan-latihan membaca kritis. Setiap pembelajaran terdapat judul bab, gambar ilustrasi, tujuan pembelajaran, peta konsep, materi pokok, contoh, ilustrasi, video, aktivitas, refleksi, aksi, rangkuman, dan tes formatif. Bagian refleksi berfungsi untuk mengingat kembali tentang apa yang sudah dipelajari. Tes formatif yang terdapat dalam modul digital berfungsi untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa memahami materi setiap babnya.
Pada dasarnya modul digital yang dikembangkan peneliti hampir sama dengan modul cetak, akan tetapi dalam modul digital terdapat video yang dapat menunjang proses belajar membaca kritis. Video-video yang terdapat dalam modul digital berkaitan dengan cerita rakyat dan materi-materi pembelajaran. Modul digital yang dikembangkan peneliti juga dilengkapi dengan hyperlink. Hyperlink
terdapat dalam daftar isi disetiap subnya agar pada saat menekan tombol click akan langsung menuju halaman yang diinginkan. Icon rumah yang terdapat pada bagian pojok kanan bawah modul digital juga dilengkapi hyperlink oleh peneliti. Jika icon rumah tersebut ditekan tombol click maka akan otomatis kembali menuju daftar isi. Modul digital yang dikembangkan oleh peneliti dapat dibuka menggunakan laptop atau personal computer (PC). Selain itu, random access memory (RAM) yang terdapat dalam laptop atau PC minimal adalah 2 GB untuk dapat menjalankan modul digital dengan lancar. RAM merupakan salah satu perangkat keras yang terdapat dalam komputer untuk meningkatkan kinerja/performa komputer itu sendiri. Untuk pertama kali pemakaian, laptop atau PC juga harus dilengkapi dengan slot compact disk (CD) untuk mempermudah menjalankan modul digital. Hal ini dikarenakan file modul digital diinput ke dalam CD. Jika CD sudah dimasukkan dalam laptop atau PC maka modul digital langsung dapat dijalankan. Untuk mempermudah pemakaian selanjutnya, file modul digital dapat dipindah ke penyimpanan internal laptop, PC, atau flashdisk. Jika file sudah dipindah di laptop atau PC maka pemakaian selanjutnya tidak perlu lagi menggunakan CD.
1.7 Sistematika Penyajian
Penyajian penelitian ini akan dijabarkan menjadi lima bab. Setiap bab akan diuraikan secara sistematis sebagai berikut. Pada bab I berisi tentang pendahuluan yang terdiri dari tujuh subbab, yaitu tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah, spesifikasi produk, dan sistematika penyajian. Bab II adalah landasan teori yang terdiri dari 3 subbab,
yaitu penelitian terdahulu yang relevan, landasan teori, dan kerangka berpikir. Bab III berisi tentang metodologi penelitian terdiri dari enam subbab yang akan menjelaskan tentang jenis penelitian, sumber data dan data penelitian, teknik pengumpulan data, instrument pengumpulan data, teknik analisis data, dan prosedur pengembangan. Bab IV adalah hasil penelitian dan pembahasan terdiri dari dua subbab yang akan menjabarkan tentang hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Bab V merupakan penutup yang terdiri dari dua subbab yaitu kesimpulan penelitian dan saran untuk pihak terkait.
11 BAB II
LANDASAN TEORI
Pada bab ini membahas tiga subbab, yaitu (1) penelitian terdahulu yang relevan, (2) landasan teori, dan (3) kerangka berpikir. Penelitian terdahulu yang relevan merupakan hasil penelitian-penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini. Landasan teori memaparkan kumpulan teori-teori dari para ahli yang digunakan peneliti sebagai acuan berpikir dalam penelitian ini. Kerangka berpikir menyajikan langkah-langkah yang sistematis penelitian berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian yang relevan. Berikut rincian pemaparan tiga subbab pada bagian landasan teori.
2.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian pertama yang relevan adalah penelitian yang dilakukan oleh Rishe Purnama Dewi dan J. Prapta Diharja, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dengan judul Pengembangan Modul dan CD Interaktif Pembelajaran Menulis Laporan
Kunjungan, Menulis Petunjuk, dan Surat Dinas, dengan MindManager X5 untuk
Siswa SMP Kelas VIII. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan modul dan
CD interaktif pembelajaran menulis laporan kunjungan, menulis petunjuk, dan surat
dinas dengan menggunakan mind manager X5 untuk siswa kelas VIII. Tahapan pengembangan penelitian untuk menghasilkan modul dan CD interaktif pembelajaran siswa SMP kelas 7 meliputi (1) kajian Standar Kompetensi, (2)
analisis kebutuhan dan pengembangan program pembelajaran, (3) memproduksi modul dan media pembelajaran, dan (4) validasi dan revisi produk.
Hasil validasi produk modul yang dilakukan oleh ahli pembelajaran bahasa, ahli media, guru bahasa Indonesia diperoleh skor 4,53; 4,91; dan 5. Kemudian, hasil validasi media yang dilakukan oleh ahli pembelajaran bahasa, ahli media, guru bahasa Indonesia diperoleh skor 4,46; 4,75; dan 4,6. Hasil validasi uji coba lapangan diperoleh skor 4,11. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa produk modul dan CD interaktif yang dihasilkan layak untuk digunakan dalam pembelajaran.
Terdapat beberapa persamaan dan perbedaan antara peneltian dari Rishe Purnama Dewi & J. Prapta Diharja dengan penelitian ini. Persamaannya adalah sama-sama melakukan penelitian pengembangan dan produk yang dihasilkan berupa modul dengan elaborasi teknologi. Perbedaan yang peneliti temukan, yaitu subjek penelitian relevan adalah siswa kelas VIII SMP sedangkan peneliti adalah Mahasiswa. Kemudian, fokus materi pembelajaran skripsi relevan adalah menulis laporan kunjungan, menulis petunjuk, dan surat dinas sedangkan peneliti fokus dengan materi pembelajaran membaca kritis. Selanjutnya, modul yang dihasilkan dalam skripsi relevan didukung dengan CD interaktif dengan aplikasi MindManager X5 sedangkan produk yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah
modul digital yang dikembangkan dengan aplikasi flipbook.
Penelitian kedua yang dianggap relevan oleh peneliti yaitu penelitian dari Rizqi Aji Pratama (2016), mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan
Indonesia, dengan judul Pengembangan Modul Membaca Kritis dengan Model Instruksi Langsung Berbasis Nilai Karakter. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengembangkan bahan ajar modul berbasis nilai karakter untuk meningkatkan kemampuan membaca kritis siswa dengan menggunakan model pembelajaran instruksi langsung. Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner kebutuhan, tidak tersedia bahan ajar yang secara khusus meningkatkan keterampilan membaca kritis di kelas X, SMAN 1 Lembang.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hasil adaptasi dari metode Dick dan Carey (2009). Bahan ajar yang dikembangkan menghasilkan produk modul dengan penyajian materi membaca kritis menggunakan model instruksi langsung hasil adaptasi, yang mencakup empat tahapan, antara lain: (1) orientasi, (2) uraian materi, (3) aktivitas, dan (4) latihan mandiri. Hasil validasi ahli dan praktisi menunjukkan rata-rata skor 96%, uji coba perseorangan dengan skor 92%, dan uji coba lapangan sebesar 89%. Hasil pengujian lain menggunakan onegrup pretest-posttest menunjukkan bahwa modul membaca kritis model
instruksi langsung berbasis karakter mampu meningkatkan kemampuan membaca kritis siswa.
Relevansi penelitian di atas dengan penelitian ini yaitu sama-sama fokus terhadap kemampuan membaca kritis. Peneliti menganggap pentingnya keterampilan membaca kritis untuk seseorang. Selain itu, peneliti juga sama-sama ingin meningkatkan karakter melalui kegiatan membaca. Namun, dalam penelitian ini peneliti fokus untuk memanfaatkan cerita rakyat sebagai media yang kental akan
nilai budaya dan nilai kehidupan untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang positif.
Penelitian ketiga yang dianggap relevan oleh peneliti yaitu penelitian oleh Debby Maharani (2016), mahasiswa PBSI Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang berjudul Pengembangan Strategi Pembelajaran Kemampuan Membaca Pemahaman pada Mahasisawa Kelas B Semester IV Program Studi Pendidikan
Bahasa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Tahun Ajaran
2015/2016. Tujuan penelitian yaitu pengembangan strategi pembelajaran
kemampuan membaca pemahaman pada mahasiswa semester IV kelas B PBSI USD yang dikemas menjadi sebuah modul pembelajaran. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pengembangan yang dilaksanakan pada 37 mahasiswa semester IV kelas B PBSI USD yang menempuh mata kuliah membaca intensif. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dijadikan dasar pengembangan.
Relevansi dari penelitian yang dilakukan oleh Debby (2016) yaitu subjeknya sama-sama mahasiswa yang sudah menempuh mata kuliah membaca intensif. Produk yang dihasilkan juga sama-sama berupa modul. Namun, produk yang akan dihasilkan pada penelitian ini adalah modul berbasis digital. Selain itu, perbedaan dengan ketiga penelitian di atas yakni pemanfaatan cerita rakyat yang dilakukan oleh peneliti untuk media pembelajaran.
2.2 Landasan Teori
Landasan teori memaparkan hasil kumpulan teori-teori dari para ahli yang digunakan peneliti sebagai acuan berpikir dalam penelitian ini. Dalam landasan teori terdapat lima pokok pembahasan yaitu, (1) keterampilan membaca sebagai salah satu keterampilan berbahasa, (2) membaca kritis, (3) cerita rakyat, (4) paradigma pedagogi reflektif (PPR), (5) bahan ajar, dan (6) Modul. Berikut adalah penjelasan masing-masing pokok pembahasan dalam lamdasan teori.
2.2.1 Keterampilan Membaca sebagai Salah Satu Keterampilan Berbahasa Keterampilan berbahasa terdapat empat aspek, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Menurut Mulyati (2009: 7) menyimak dan membaca merupakan aspek reseptif, sedangkan berbicara dan menulis merupakan aspek produktif. Maksudnya aspek reseptif ketika aktivitas membaca dan menyimak, seorang pembaca dan penyimak akan menyerap informasi atau pesan dari bahan bacaan atau bahan simakan. Sedangkan, aspek produktif ketika melakukan aktivitas keterampilan berbicara dan menulis.
Pada saat berbicara dan menulis, seseorang akan menyampaikan gagasan atau idenya melalui lisan ataupun tulisan. Oleh karena itu, keterampilan berbicara dan menulis merupakan aspek produktif. Masing-masing keterampilan berbahasa saling berhubungan dan mempunyai keterkaitan. Keterampilan membaca yang bersifat reseptif akan memengaruhi keterampilan berbicara dan keterampilan menulis. Seseorang akan terampil dalam berbicara dan menulis ketika memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas. Pengetahuan dan wawasan yang luas
didapatkan melalui kegiatan membaca. Oleh karena itu, keterampilan membaca penting sekali dikuasai oleh seorang mahasiswa.
Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Kegiatan membaca akan membuat seseorang mengetahui informasi-informasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Banyak ahli yang mendefinisikan tentang keterampilan membaca. Menurut Hodgson (dalam Tarigan, 2008: 7), membaca adalah suatu proses yang dilakukan dan digunakan pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Menurut pendapat dari Hodgson membaca merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk memahami maksud dari penulis.
Harju Sujana dan Mulyati (1997: 5) mengemukakan bahwa membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Dalam hal ini kegiatan membaca bukan semata-mata hanya melihat tulisan, namun ada proses yang kompleks dalam pikiran kita untuk memaknai kata, frasa, atau kalimat. Menurut pendapat dari Hudgson dan Harju Sujana dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu kegiatan untuk memahami maksud penulis yang disampaikan melalui tulisan dengan melibatkan daya berpikir yang kompleks.
Anderson dalam Tarigan (2008: 7) mengemukakan bahwa membaca adalah proses dekoding (decoding). Artinya, suatu kegiatan untuk memecahkan lambang-lambang verbal. Proses dekoding atau dapat diartikan pula sebagai proses penghubung kata-kata tulis (written word) dengan bahasa lisan (oral langage meaning) yang mencakup pengubahan tulisan atau cetakan menjadi bunyi yang
bermakna. Dari pendapat Anderson dapat kita simpulkan bahwa membaca adalah suatu kegiatan atau proses yang melibatkan indera penglihatan dan pikiran untuk memperoleh suatu informasi tertentu dari bahan bacaan. Pendapat Anderson sejalan dengan pendapat Hudgson dan Harju, dalam kegiatan membaca sama-sama melibatkan pemikiran untuk mendapatkan suatu informasi dari bahan bacaan.
Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, Mencakup isi dan memahami makna bacaan. Nurhadi (2005: 11) berpendapat bahwa tujuan membaca antara lain: (1) memahami secara detail dan menyeluruh isi buku, (2) menangkap ide pokok atau gagasan utama buku secara (waktu terbatas); (3) mendapatkan informasi tentang sesuatu (misalnya, kebudayaan suku Indian); (4) mengenali makna kata-kata (istilah sulit); (5) ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di masyarakat sekitar; (6) ingin memperoleh kenikmatan dalam karya fiksi; (7) ingin memperoleh informasi tentang lowongan pekerjaan; (8) ingin mencari informasi merek barang yang cocok untuk dibeli; (9) ingin menilai kebenaran gagasan pengarang atau penulis; (10) ingin medapatkan alat tertentu (instrumens affect) dan (11) ingin medapatkan keterangan tentang pendapat seseorang (ahli) atau keterangan definisi suatu istilah. Setiap pembaca pasti mempunyai motivasi atau tujuan untuk membaca. Motivasi dan tujuan membaca yang dikemukakan oleh Nurhadi sangat beragam, namun semakin besar motivasi seseorang dan semakin menarik bahan bacaan akan membuat pembaca terdorong untuk melakukan aktivitas membaca.
2.2.2 Membaca Kritis
Membaca kritis merupakan salah satu kegiatan membca intensif. Membaca kritis menjadi salah satu keterampilan yang penting dikuasai oleh mahasiswa. Berikut akan dijabarkan mengenai (1) hakikat membaca kritis dan (2) aspek-aspek membaca kritis.
2.2.2.1 Hakikat Membaca Kritis
Membaca kritis merupakan salah satu bagian dari membaca intensif. Menurut Soedarso (1988:71) membaca secara kritis adalah cara membaca dengan melihat motif penulis dan menilainya. Motif penulis yang dimaksud adalah alasan seorang penulis ketika mengeskpresikan gagasannya ke dalam ragam tulisan. Seorang pembaca kritis hendaknya mampu mengetahui motif dari penulis kemudian menilainya dengan sudut pandang tertentu.
Pakar lain yakni Nurhadi lebih komperhensif menjabarkan pengertian membaca kritis, Nurhadi (2010: 59) menyatakan bahwa membaca kritis adalah kemampuan pembaca mengolah bahan bacaan secara kritis untuk menemukan keseluruhannya makna bahan bacaan, baik makna tersurat maupun makna tersiratnya melalu tahap mengenal, memahami, menganalisis, mensintesis, dan menilai. Sebenarnya pendapat dari Soedarso dan Nurhadi memiliki kesamaan yaitu titik akhir dalam membaca kritis adalah mampu menilai bahan bacaan baik dari segi isi maupun bentuknya. Namun, Nurhadi lebih menjelaskan aspek-aspek yang dilakukan seorang pembaca kritis sebelum sampai akhirnya menilai suatu bahan bacaan.
Menurut Wiryodijoyo (1989: 54), membaca kritis merupakan kegiatan membaca yang bertujuan untuk mencari keputusan (judgement) dan keterlibatan yang dalam. Pembaca akan berinteraksi secara intensif dengan penulis lewat bahan bacaan. Pembaca yang melakukan kegiatan membaca kritis harus dapat memahami, menganalisis dan memberikan penilaian terkait gagasan yang dituangkan oleh penulis lewat tulisan. Untuk mampu mengkritisi bacaan seorang pembaca harus terlebih dahulu memahami bacaan tersebut (Abidin, 2012: 102). Oleh karena itu, membaca kritis merupakan subketerampilan membaca pemahaman, ini artinya seorang pembaca kritis tidak akan dapat membaca kritis apabila ia gagal memahami teks secara tersurat dan tersirat.
Dari pendapat ahli di atas dapat kita simpulkan bahwa membaca kritis adalah kemampuan pembaca untuk mengolah bahan bacaan dengan melihat berbagai alasan penulis, keseluruhan makna bacaan, dan mampu menilai tulisan yang sedang dibaca. Pembaca kritis tidak hanya sekedar memahami makna bacaan saja, akan tetapi dituntut berpikir tingkat tinggi agar dapat menilai bahan bacaan. Kesungguhan, kecermatan, dan kemampuan mengkritisi bahan bacaan menjadi kunci untuk membaca kritis.
2.2.2.2 Aspek Membaca Kritis
Membaca Kritis erat kaitannya dengan kegiatan berpikir kritis. Pada saat pembaca melakukan aktivitas membaca kritis secara tidak langsung pembaca akan melakukan kegiatan berpikir kritis. Membaca kritis adalah teknik menemukan informasi dan ide-ide dalam teks secara teliti, aktif, analitik, dan reflektif.
Kemudian, berpikir kritis adalah teknik mengevaluasi informasi dan ide-ide untuk menentukan apakah ide/informasi tersebut bisa diterima atau dipercaya (Priyatni dan Nurhadi, 2017). Membaca kritis pada hakikatnya jenis membaca yang tinggi tingkatannya, yang dirancang untuk penerapan berpikir kritis dalam kegiatan membaca.
Jika melihat pengertian membaca kritis dan berpikir kritis maka kegiatan membaca krtis akan muncul terlebih dahulu. Setelah melakukan kegiatan membaca kritis (critical reading) dengan memahami bahan bacaan secara menyeluruh kemudian pembaca akan mengevaluasi pernyataan-pernyataan yang ada di dalam bahan bacaan (critical thinking). Aspek-aspek membaca kritis menurut Nurhadi (2010: 59-60) adalah (1) menginterpretasi makna tersirat, (2) mengaplikasikan konsep-konsep bacaan, (3) kemampuan menganalisis, (4) kemampuan membuat sintesis, dan (5) kemampuan menilai isi bacaan.
Berikut adalah penjabaran aspek-aspek membaca kritis menurut Nurhadi: 1. Kemampuan Menginterpretasi Makna Tersirat
Aspek menginterpretasi makna tersirat artinya pembaca harus mampu menafsirkan makna yang tidak disampaikan langsung dalam sebuah teks. Pembaca dituntut untuk memahami bahan bacaan secara menyeluruh. Berikut adalah kemampuan-kemampuan menginterpretasi: kemampuan menafsirkan ide pokok paragraf, menafsirkan gagasan utama bacaan, menafsirkan ide-ide penunjang, membedakan fakta-fakta atau detail bacaan, memahami secara kritis hubungan sebab akibat, dan memahami secara kritis unsur-unsur perbandingan.
2. Kemampuan Mengaplikasikan Konsep-Konsep dalam Bacaan
Pembaca harus mampu menghubungkan isi bacaan dengan penerapan kehidupan sehari-hari secara nyata. Gagasan atau ide yang terdapat dalam bahan bacaan dapat diaplikasikan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Aplikasi konsep bacaan ini tidak selalu dalam bentuk tindakan melainkan dapat juga bersifat konseptual. Ketika pembaca mampu menunjukkan kesesuaian antara gagasan utama dengan situasi yang dihadapi juga sudah termasuk ke dalam aplikasi konsep bacaan. Kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep bacaan sebagai berikut: kemampuan mengikuti petunjuk dalam bacaan, menerapkan konsep-konsep atau gagasan utama bacaan ke dalam situasi baru yang problematis, menunjukkan kesesuaian antara gagasan utama dengan situasi yang dihadapi.
3. Kemampuan Menganalisis Isi Bacaan
Kemampuan menganalisis isi bacaan merupakan kemampuan pembaca untuk melihat komponen-komponen atau unsur-unsur yang membentuk kesatuan. Jika bahan bacaan merupakan sebuah karya sastra unsur-unsurnya adalah unsur pembangun karya sastra itu sendiri. Unsur pembangun karya sastra adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik. Kemampuan menganalisis isi bacaan meliputi: kemampuan memberikan gagasan utama bacaan, memberikan detai-detail dan fakta-fakta penunjang, mengklasifikasi fakta-fakta dan membandingkan tokoh-tokoh yang ada dalam bacaan.
4. Kemampuan Membuat Sintesis
Kemampuan membuat sintesis adalah kemampuan mengintegrasikan bahan bacaan dengan konsep-konsep yang sudah diketahui pembaca sebelumnya sehingga
menghasilkan pengetahuan yang baru. Kemampuan membuat sintesis sebagai berikut: kemampuan membuat kesimpulan bacaan, mengorganisasi gagasan utama bacaan, menentukan sebuah tema bacaan, menyususn kerangka bacaan, menghubungkan data-data sehingga diperoleh kesimpulan, dan membuat ringkasan.
5. Kemampuan Menilai Isi Bacaan
Titik akhir dalam membaca kritis adalah mampu membuat penilaian terhadap bahan bacaan. Pembaca melakukan penilaian-penilaian terhadap bahan bacaan melalui kegiatan mempertimbangkan, menyimpulkan, menilai itu sendiri, dan mengambil sebuah keputusan-keputusan secara tegas. Kemampuan menilai isi bacaan meliputi: kemampuan menilai kebenaran gagasan utama atau ide pokok paragraf atau bacaan secara keseluruhan, menentukan sebuah pernyataan termasuk fakta atau sekedar opini, menentukan dan menilai bahwa sebuah bacaan itu diangkat dari realitas atau fantasi pengarang, menentukan tujuan pengarang dalam menulis karangannya, menetukan relevansi antara tujuan dengan pengembangan gagasan, menentukan keselarasan antara data yang diungkapkan dengan kesimpulan yang dibuat, dan menilai keakuratan dalam menggunakan bahasa, baik pada tataran kata, frase, atau penyusunan kalimatnya.
Berdasarkan aspek membaca kritis yang dikemukakan oleh Nurhadi, peneliti menyimpulkan aspek-aspek dalam membaca kritis. Aspek pertama, pembaca mampu memahami setiap kata yang terdapat dalam bahan bacaan. Jika pembaca menemukan kata-kata yang sukar maka pembaca harus berusaha mencari
arti kata tersebut. Pembaca akan susah memahami bahan bacaan jika tidak mengerti arti setiap kata yang dituangkan penulis. Aspek yang kedua, pembaca mampu menemukan gagasan utama dan ide pokok dalam bacaan. Isi bacaan tercermin dalam ide pokok dan gagasan utama yang dirangkai penulis.
Aspek ketiga adalah menemukan makna tersurat, setelah mengerti arti kata yang sukar dan gagasan utama bacaan maka akan mudah memahami makna yang disampaikan penulis secara langsung. Aspek keempat adalah menemukan makna tersirat. Pembaca harus mampu menafsirkan makna-makna tersirat yang disampaikan penulis secara implisit. Aspek kelima adalah menyimpulkan bahan bacaan menggunakan bahasa dan kalimat sendiri. Kemampuan menyimpulkan pembaca didasari pemahaman setiap detail dan hal pokok yang terdapat dalam bahan bacaan. Aspek keenam adalah memberi kritik atau menilai bahan bacaan. Penilaian pembaca diharapkan secara mendalam. Keenam aspek membaca kritis yang disimpulkan peneliti sesuai dengan kemampuan berpikir mahasiswa.
Jika pembaca melakukan kegiatan membaca kritis maka secara otomatis akan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis menjadi hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam kegiatan membaca. John W. Santrock (dalam Muammar, 2014) mengungkapkan 7 cara untuk membangun pemikiran kritis yaitu, (1) Tanyakan tidak hanya apa yang terjadi, tetapi juga “bagaimana” dan “mengapa”. (2) Periksalah “fakta-fakta” yang dianggap benar untuk menentukan apakah terdapat bukti untuk mendukungnya. (3) Berargumen dengan cara bernalar daripada menggunakan emosi. (4) Kenalilah bahwa kadang-kadang terdapat lebih dari satu jawaban atau penjelasan yang bagus. (5) Bandingkan beragam jawaban
dari sebuah pertanyaan dan nilailah mana yang benar-benar merupakan jawaban terbaik. (6) Evaluasi dan lebih baik menanyakan apa yang dikatatakan orang lain daripada segera menerimanya sebagai kebenaran. (7) Ajukan pertanyaan dan lakukan spekulasi lebih jauh yang telah kita ketahui untuk menciptakan ide-ide baru dan informasi-informasi baru.
2.2.3 Cerita Rakyat
Bagian cerita rakyat akan memaparkan tentang (1) pengertian cerita rakyat, (2) ciri-ciri cerita rakyat, dan (3) jenis cerita rakyat (4) cerita rakyat Jawa Tengah.
2.2.3.1 Pengertian Cerita Rakyat
Hutomo (1991: 4) mengungkapkan bahwa cerita rakyat dapat diartikan sebagai ekspresi budaya suatu masyarakat melalui bahasa tutur yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek budaya dan susunan nilai sosial masyarakat. Ekspresi budaya merupakan wujud nyata kebudayaan suatu daerah yang tersebar melalui bahasa lisan atau mulut ke mulut yang erat kaitannya dengan nilai-nilai sosial dan budaya. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Endraswara (2010: 3) bahwa cerita rakyat diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam masyarakat tertentu.
Dari pendapat Hutomo dan Endraswara dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat adalah wujud nyata kebudayaan suatu daerah yang diwariskan secara turun-temurun yang di dalamnya mengandung nilai-nilai sosial dan budaya suatu daerah.
Penyebaran cerita rakyat dari generasi ke generasi disampaikan secara lisan. Cerita rakyat menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Hampir di setiap daerah Indonesia mempunyai cerita rakyat masing-masing. Biasanya cerita rakyat di setiap daerah akan mencerminkan kebudayaan dan nilai-nilai sosial daerah tersebut.
2.2.3.2 Ciri-ciri Cerita Rakyat
Salah satu kekayaan yang dimiliki negara Indonesia adalah cerita rakyat. Hampir di setiap daerah Indonesia mempunyai cerita rakyat masing-masing. Penyebaran cerita rakyat yang disampaikan hanya dari mulut ke mulut membuat cerita rakyat suatu daerah hanya dikenal di daerah itu saja. Namun, seiring berkembangnya zaman cerita rakyat mulai didokumentasikan. Cerita rakyat merupakan salah satu dari karya sastra yang memiliki ciri pengenal sendiri. Ciri pengenal cerita rakyat dapat dijadikan sebagai acuan untuk membedakan cerita rakyat dengan cerita-cerita karya sastra yang lain.
Endraswara (2010: 6) mengemukakan bahwa ada sepuluh ciri pengenal utama yang membedakan cerita rakyat dari yang lainnya, ciri-cirinya adalah (1) disebarkan secara lisan, artinya dari mulut ke mulut, dari satu orang ke orang yang lain, dan secara alamiah tanpa paksaan, (2) nilai-nilai tradisi amat menonjol. Tradisi ditandai dengan keberulangan atau yang telah menjadi kebiasaan, (3) dapat bervariasi antara satu wilayah, namun hakikatnya sama. Variasi disebabkan keragaman bahasa, bentuk, dan keinginan masing-masing wilayah, (4) pencipta dan perancangnya tidak jelas. Meskipun demikian, ada cerita rakyat yang telah
dibukukan, sehingga bagi yang kurang paham seolah-olah pengumpulnya adalah penciptanya, (5) cenderung memiliki formula atau rumus yang tetap, namun ada pula yang bersifat lentur, (6) mempunyai kegunaan dalam kehidupan suatu masyarakat, misalnya sebagai alat pendidik, pelipur lara, dan proyeksi keinginan terpendam, (7) bersifat pralogis, yaitu memiliki logika sendiri sehingga berbeda dengan logika umum, (8) menjadi milik bersama dari kolektif tertentu hal ini disebabkan karena pencipta pertamanya sudah tidak diketahui lagi, (9) umumnya bersifat polos dan lugu, sehingga seringkali terlihat agak kasar, (10) memiliki unsur humor dan wejangan.
2.2.3.3 Jenis-Jenis Cerita Rakyat
Bascom (Danandjaja, 2007: 50) mengungkapkan bahwa cerita rakyat dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu mite, dongeng, dan legena. Agar mendapat gambaran yang jelas, maka tiga bentuk cerita rakyat tersebut akan diuraikan secara teoretis sebagai berikut:
1. Mite
Mite adalah prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empunya cerita. Pada umumnya, mite mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk tipografi, gejala alam, dan sebagainya. Mite juga mengisahkan petualangan para dewa dan seluk beluknya. Mite selalu dipercayai oleh masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya meskipun isi ceritanya terkadang di luar jangkauan norma dan terkadang tidak dapat diterima oleh akal dan logika. Namun, mite bermanfaaat
bagi kehidupan manusia karena mengandung nilai-nilai tertentu yang memberi pedoman bagi kehidupan manusia. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mite adalah cerita yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap sakral oleh pemilik ceritanya.
2. Dongeng
Dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi. Senada dengan hal tersebut, Danandjaja (2007) menyatakan bahwa dongeng adalah cerita fiktif dan tidak terikat oleh waktu maupun tempat. Jadi, jika legenda adalah sejarah kolektif, maka dongeng adalah cerita pendek kolektif kesusastraan lisan. Hidayat (2009: 224) juga mengemukakan bahwa dongeng adalah cerita khayal yang tidak mungkin terjadi dalam kenyataan.
Biasanya dongeng memuat pelajaran (moral), hiburan, bahkan sindiran. Dongeng biasanya mempunyai kalimat pembuka dan penutup yang sifatnya klise. Sebelum era masyarakat mengenal tulisan, dongeng merupakan media penanaman nilai-nilai sosial yang luhur oleh orang tua dan nenek moyang pada generasi penerus. Senada dengan pendapat di atas, Ahyani (2010: 26) menjelaskan bahwa dongeng dapat dijadikan sebagai media pembentuk kepribadian dan moralitas anak. Dongeng memiliki sejumlah aspek yang diperlukan dalam perkembangan kejiwaan anak, karena memberi wadah bagi anak untuk belajar berbagai emosi dan perasaan. 3. Legenda
Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu yang sungguh-sungguh pernah terjadi. Legenda merupakan cerita yang mengisahkan sejarah suatu tempat atau peristiwa di zaman silam yang
berkisah tentang seorang tokoh, keramat, dan sebagainya. Dalam kaitannya dengan sejarah, ditegaskan bahwa legenda seringkali dipandang sebagai “sejarah” kolektif, walaupun “sejarah” itu karena tidak tertulis telah mengalami distorsi, sehingga seringkali dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya (Danandjaja, 2007: 66). Jadi, dapat dikatakan bahwa legenda memang erat dengan sejarah kehidupan masa lampau, meskipun tingkat kebenarannya seringkali tidak bersifat murni, karena legenda bersifat semi historis.
Hal senada juga diungkapkan oleh Haviland (1993: 231) bahwa legenda adalah cerita-cerita semi historis yang memaparkan perbuatan para pahlawan, perpindahan penduduk, terciptanya adat kebiasaan lokal, dan yang istimewa selalu berupa campuran antara realisme, supernatural, dan yang luar biasa. Legenda dapat memuat keterangan-keterangan langsung atau tidak langsung tentang sejarah, kelembagaan, hubungan, nilai, dan gagasan-gagasan. Hutomo (1991: 64) menyatakan bahwa legenda adalah cerita-cerita yang oleh masyarakat empunya cerita dianggap sebagai peristiwa sejarah. Itulah sebabnya ada yang mengatakan jika legenda merupakan sejarah rakyat.
Brunvand (Danandjaja, 2007) menggolongkan legenda menjadi empat kelompok, yaitu: legenda keagamaan, legenda alam gaib, legenda perseorangan, dan legenda setempat, (1) legenda keagamaan merupakan cerita mengenai kehidupan orang-orang saleh, (2) legenda alam gaib biasanya berbentuk kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami oleh seseorang. Fungsi legenda semacam ini untuk meneguhkan kebenaran “takhyul” atau kepercayaan rakyat, (3) legenda perseorangan merupakan cerita mengenai tokoh-tokoh tertentu yang
dianggap oleh pemiliknya benar-benar pernah terjadi. Tokoh-tokoh utama dalam cerita ini biasanya seseorang yang memiliki kharisma, yang telah mengalami liku-liku kehidupan yang pada mulanya sengsara namun pada akhirnya menjadi akhir yang bahagia, (4) legenda setempat ialah cerita yang berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat, dan bentuk tipografi suatu tempat. Cerita mengenai asal-usul suatu tempat ini bertalian erat dengan kejadian atau kenyataan alam, misalnya Asal-usul Salatiga, legenda Nusakambangan, dan legenda Candi Roro Jonggrang.
2.2.3.4 Cerita Rakyat Jawa Tengah
Cerita rakyat adalah wujud nyata kebudayaan suatu daerah yang diwariskan secara turun-temurun yang di dalamnya mengandung nilai-nilai sosial dan budaya suatu daerah. Cerita rakyat merupakan salah satu hasil kebudayaan daerah dan merupakan unsur kebudayaan nasional yang perlu dipelihara dan dibina karena banyak mengandung nilai-nilai pendidikan yang berharga (Depdikbud, 1982: 1). Hampir di setiap daerah di Indonesia mempunyai cerita rakyat masing-masing. Penelitian ini akan memanfaatkan cerita rakyat yang berasal dari Jawa Tengah. Cerita rakyat tradisional Jawa Tengah akan mencerminkan kebudayaan dan nilai-nilai sosial masyarakat Jawa Tengah itu sendiri.
Penyebaran cerita rakyat pada zaman dahulu dilakukan secara lisan atau dari mulut ke mulut. Perkembangan cerita rakyat secara lisan mengakibatkan potensi hilangnya dari tengah-tengah masyarakat sangat besar. Cerita rakyat juga dapat memperkaya kebudayaan nasional, akan tetapi kurang mendapat perhatian dari masyarakat atau dunia pendidikan. Berdasarkan masalah tersebut Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan melakukan proyek inventarisasi dan dokumentasi pada tahun 1982. Dokumentasi yang dilakukan merupakan pencatatan cerita rakyat tradisional Jawa Tengah sebagai bahan bacaan umum.
Hasil dokumentasi dan pencatatan yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan terdapat 20 judul cerita rakyat daerah Jawa Tengah. Berikut adalah judul cerita rakyat Jawa Tengah dan informan menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1982: 151-155).
Tabel 2.1 Cerita Rakyat Tradisional Daerah Jawa Tengah No. Judul Cerita
Rakyat
Nama Informan Pekerjaan Informan 1. Bulus Jimblung A. Ikhsan Ketua R.K. 2. Si Gringsing dan
Si Kasur
Daryono Staf Kasi Kebudayaan Dep. P dan K Kabupaten Tegal
3. Saridin Sarbini -
4. Kyai Ageng Atas Angin
Soewarno Riyodiprojo
Juru Kunci Makam Temu Ireng
5. Kyai Ageng Pandanaran
Kardono Juru Kunci Makam Pandanaran
6. Sunan Kalijaga Sri Soeparmo Staf Kasi Kebudayaan Dep. P dan K Kabupaten Demak 7. Jaka Sangkrip Abdul Charim Kepala Desa Tanjungseto 8. Jaka Kusnun Bedjo Soetrisno Staf Kasi Kebudayaan Dep. P
dan K Kabupaten Batang 9. Nyai Bagelan Wiryo Soeprapto Tani
10. Punden Watu Gilang
Sutiyo Wiyono Carik Desa Tambakboyo, Tawangsari, Sukoharjo 11. Punden Bawang Sastrosiswojo Lurah Desa 12. Ki Ageng
Selomanik
Ki Sumodiguno Pensiunan Pegawai Penerangan
13. Empu Supa A.S. Jatiwinarko Kasi Kebudayaan Dep. P dan K Kabupaten Grobogan 14. Joko Poleng J. Parsuki Staf Kasi Kebudayaan Dep. P
dan K Kabupaten Brebes 15. Terjadinya Kota
Magelang
Eko Pardani Staf Kasi Kebudayaan Dep. P dan K Kabupaten Magelang 16. Gapura Asal
Majapahit
No. Judul Cerita Rakyat
Nama Informan Pekerjaan Informan 17. Riwayat
Terjadinya Sedang Lamang dan Bukit Pace
Sastromartojo Lurah Desa
18. Kembang Wijaya Kusuma
Sudjangi Kebayan
19. Gunung Tidar Soekirman B.A. Kasi Kebudayaan Dep. P dan K Kotamadya Magelang 20. Dewi Lanjar Soeroyo Prawiri Kasi Kebudayaan Dep. P dan
K Kodya Pekalongan
Cerita rakyat di Jawa Tengah masih berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat pendukungnya yang meliputi bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Peneliti memutuskan untuk menggunakan cerita rakyat Jawa Tengah yang terdapat dalam buku Departemen Pendidikan Kebudyaan (1982). Dari 20 cerita rakyat, peneliti memilih 12 cerita rakyat yang akan dimanfaatkan dalam modul digital pembelajaran membaca kritis yang peneliti kembangkan.
Cerita rakyat yang dipilih peneliti untuk dimanfaatkan dalam modul pembelajaran membaca kritis antara lain: (1) Ki Ageng Pandanaran, (2) Saridin, (3) Ki Ageng Selomanik, (4) Jaka Sangkrip, (5) Sunan Kalijaga, (6) Gapura Asal Majapahit, (7) Empu Supa, (8) Gunung Tidar, (9) Terjadinya Kota Magelang, (10)
Kembang Wijaya Kusuma, (11) Punden Bawang, dan (12) Riwayat Terjadinya
Sedang Lamang dan Bukit Pace. Ada cerita rakyat yang peneliti tulis secara utuh
dan ada yang dicuplik sebagian ceritanya. Penulisan secara utuh atau cuplikan cerita rakyat disesuaikan dengan keterkaitan materi dan kebutuhan modul. Peneliti memilih memanfaatkan cerita rakyat dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1982) karena bahasa yang digunakan dalam cerita rakyat sesuai dengan tingkat
berpikir mahasiswa, alur ceritanya menarik, dan di setiap cerita terdapat informan yang kompeten untuk mengisahkan cerita rakyat yang berkembang di daerahnya masing-masing. Cerita rakyat yang sudah peneliti pilih di atas merupakan cerita rakyat Jawa Tengah jenis mite dan legenda.
2.2.4 Paradigma Pedagogi Reflektif
Pembelajaran yang menerapkan paradigma pedagogi reflektif dapat membentuk kepribadian peserta didik sesuai nilai-nilai kemanusian. Berikut akan dijabarkan materi tentang paradigma pedagogi reflektif.
2.2.4.1 Pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif
Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) merupakan pola pikir dalam menumbuhkembangkan pribadi peserta didik menjadi pribadi yang manusiawi (Tim Redaksi Kanisius, 2008: 39). Menurut Suparno (2015: 8), paradigma pedagogi reflektif yang merupakan suatu pendekatan, suatu cara dosen mendampingi mahasiswa berkembang menjadi pribadi yang utuh, bukan hanya sekedar metode pembelajaran. Menjadi pribadi yang utuh artinya tidak hanya cerdas tetapi juga humanis. Dalam pembelajaran yang menerapkan pendekatan PPR, peserta didik menjadi pusat proses belajar untuk menemukan ilmu-ilmu yang baru dan nilai-nilai kemanusiaan dengan penuh tanggung jawab. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Suparno (2015: 15) yaitu pendidikan dinilai berhasil bila peserta didik sendiri menemukan pengetahuan, pengertian, keterampilan, serta nilai, dan tugas pendidik adalah sebagai fasilitator.
Tujuan manusia menempuh pendidikan dirumuskan dalam 3C yang meliputi competence, conscience, dan compassion (Suparno, 2015: 19). Competence artinya menguasai ilmu pengetahuan/keterampilan sesuai dengan
bidangnya. Consience artinya mempunyai hati nurani yang dapat membedakan baik dan tidak baik. Compassion artinya mahasiswa mempunyai kepekaan untuk berbuat baik bagi orang lain yang membutuhkan, punya kepedulian pada orang lain terutama yang miskin dan kecil. Peserta didik tidak hanya dituntuk untuk cerdas secara akademik namun juga harus mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Keinginan berbuat baik dan membantu sesama menjadi sebuah kewajiban umat manusia. Melalui pendekatan PPR mahasiswa dibimbing untuk
2.2.4.2 Pelaksanaan Paradigma Pedagogi Reflektif
Pelaksanaan PPR meliputi lima langkah yang berkesinambungan dimulai dari konteks→ pengalaman→ refleksi→ aksi→ evaluasi (Subagya, 2010: 40). Unsur utama dalam paradigma pedagogi reflektif adalah pengalaman, refleksi, aksi. Ketiga unsur utama didukung oleh konteks yang dilakukan sebelum pembelajaran dan unsur evaluasi yang dilakukan setelah pembelajaran.
1. Konteks
Konteks merupakan keadaan awal (kesiapan) peseta didik untuk berproses dalam suatu pembelajaran (Wahana, 2016: 20). Menurut Subagya (2008: 42) konteks untuk menumbuhkembangkan pendidikan antara lain. Pertama, wacana tentang nilai-nilai yang ingin dikembangkan, agar semua anggota komunitas, guru, dan siswa menyadari bahwa menjadi landasan pengembangan bukan peraturan,