• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Deskripsi Data dan Kegiatan Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SD Dharma Karya UT, Pondok cabe, Tangerang Selatan. Pengambilan data penelitian dimulai dari tanggal 24 April 2015 hingga 13 Mei 2015. Penelitian dilakukan di kelas II. Peneliti mengambil sampel sebanyak dua kelas, yaitu kelas II.3 dan kelas II.4. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode mendongeng terhadap keterampilan menyimak dongeng pada siswa kelas II di SD Dharma Karya UT, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, tahun pelajaran 2014/2015. Kegiatan yang dilakukan selama peneilitan meliputi kegiatan pretest, kegiatan pemberian tindakan dan kegiatan posttest.

1. Deskripsi Kegiatan Pretest

Sebelum peneliti memberikan proses pembelajaran dengan perlakuan yang berbeda terhadap kedua kelas, peneliti memberikan soal pretest berupa LKS dalam bentuk essay. Setiap siswa diminta untuk menyimak guru membacakan teks cerita dongeng kemudian siswa diminta menceritakan kembali cerita dongeng yang telah dibacakan guru ke dalam bentuk tulisan dengan menggunakan bahasa sendiri. Pretest ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Berikut ini adalah penskoran dan perincian nilai pretest yang diperoleh dari kelas II.3 dan kelas II.4.

Tabel 4.4

Data Hasil Pretes kelas II.3

No Nama Siswa Penilaian Nilai

Akhir Tokoh Alur Latar Amanat

1 Y1 20 20 15 15 70 2 Y2 15 10 15 5 45 3 Y3 15 15 15 5 50 4 Y4 20 20 20 15 75 5 Y5 15 15 15 5 50 6 Y6 20 10 15 15 60

7 Y7 15 15 15 15 60 8 Y8 15 15 10 15 55 9 Y9 20 15 20 10 65 10 Y10 20 10 15 15 60 11 Y11 20 20 20 15 75 12 Y12 15 15 10 20 60 13 Y13 10 20 15 10 55 14 Y14 15 10 15 10 50 15 Y15 15 10 15 5 45 16 Y16 20 25 15 20 80 17 Y17 20 15 15 15 65 18 Y18 15 25 10 20 70 19 Y19 10 20 10 15 55 20 Y20 10 20 20 10 60 21 Y21 15 15 15 10 55 22 Y22 20 20 15 5 60 JUMLAH 1320 RATA-RATA 60 Tabel 4.5

Daftar Distribusi Frekuensi Perolehan Nilai Pretest Kelas II.3 Nilai Frekuensi Persen %

45 2 9,1 50 3 13,6 55 4 18,2 60 6 27,3 65 2 9,1 70 2 9,1 75 2 9,1 80 1 4,5 Total 22 100

Tabel di atas dapat disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut:

Gambar 4.1

Grafik Nilai Rata-rata Pretest Kelas II.3

Berdasarkan tabel dan grafik nilai pretest kelas II.3, dapat diketahui bahwa siswa yang mendapatkan nilai terendah yaitu 45 ada dua orang, siswa yang mendapatkan nilai 50 ada tiga orang, siswa yang mendapatkan nilai 55 ada empat orang, siswa yang mendapatkan nilai 60 ada enam orang, siswa yang mendapatkan nilai 70 ada dua orang, siswa yang mendapatkan nilai 75 ada dua orang dan siswa yang mendapatkan nilai tertinggi yaitu 80 ada satu orang.

Tabel 4.6

Data Hasil Pretest Kelas II.4

No Nama Siswa Penilaian Nilai

Akhir Tokoh Alur Latar Amanat

1 X1 20 10 20 10 60 2 X2 25 20 20 15 80 3 X3 15 15 20 10 60 4 X4 20 15 15 5 55 5 X5 25 10 10 5 50 6 X6 15 15 10 5 45 7 X7 20 15 15 15 65 8 X8 20 15 20 10 65 9 X9 15 20 15 15 65 10 X10 25 20 25 10 80 11 X11 15 15 15 10 55 12 X12 20 20 25 5 70 13 X13 20 20 25 10 75 14 X14 15 20 20 10 65 15 X15 20 15 20 10 65 16 X16 20 20 15 5 60 17 X17 15 15 15 5 50 18 X18 15 15 15 5 50 19 X19 20 20 5 15 60 20 X20 15 10 10 10 45 21 X21 15 15 15 15 60 22 X22 15 10 10 15 50 JUMLAH 1330 RATA-RATA 60,45

Tabel 4.7

Daftar Distribusi Frekuensi Perolehan Nilai Pretest Kelas II.4 Nilai Frekuensi Persen %

45 2 9,1 50 4 18,2 55 2 9,1 60 5 22,7 65 5 22,7 70 1 4,5 75 1 4,5 80 2 9,1 Total 22 100,0

Tabel di atas dapat pula disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut:

Gambar 4.2

Grafik Nilai Rata-rata Pretest kelas II.4

Berdsarkan tabel dan grafik di atas, dapat diketahui bahwa siswa yang mendapatkan nilai 45 ada dua orang, siswa yang mendapatkan nilai 50 ada

empat orang, siswa yang mendapatkan nilai 55 ada dua orang, siswa yang mendapatkan nilai 60 ada lima orang, siswa yang mendapatkan nilai 65 ada lima orang, siswa yang mendapatkan nilai 70 ada satu orang, siswa yang mendapatkan nilai 75 ada satu orang dan siswa yang mendapatkan nilai 80 ada dua orang. Nilai tertinggi yang dicapai oleh kelas II.4 saat dilakukan pretes adalah 80.

Tabel 4.8

Rangkuman Data Statistik Nilai Pretest Menyimak Dongeng Kelas II.3 dan II.4

No Kelas N Nilai

Maksimal

Nilai Minimal

Mean Median Modus

1 II.3 22 80 45 60 60 60

2 II.4 22 80 45 60,45 60 60

Dari tabel 4.4 di atas, dapat diketahui bahwa nilai pretest pada kelas II.3 dan kelas II.4 dengan jumlah siswa yang sama dari masing-masing kelas yaitu 22 siswa, memiliki nilai maksimal dan minimal yang sama yaitu 80 untuk nilai maksimal dari masing-masing kelas dan 45 untuk nilai minimal dari masing-masing kelas. Kedua kelas juga memiliki nilai median dan modus yang sama yaitu 60. Selain itu, kedua kelas memiliki nilai rata-rata yang berkategori kurang karena masih jauh dari batas KKM (75) yakni, nilai rata-rata kelas II.3 adalah 60 dan nilai rata-rata-rata-rata kelas II.4 adalah 60,45.

Berdasarkan perhitungan terhadap data pretest dapat diketahui bahwa sebelum diberi perlakuan kedua kelas tersebut memiliki kemampuan awal yang sama, terbukti dari hasil rata-rata nilai pretest yang tidak jauh berbeda diantara kedua kelas tersebut. Setelah diberikan pretest peneliti dapat menentukan kelas yang akan dijadikan sebagai kelas eksperimen dan kelas yang akan dijadikan sebagai kelas kontrol. Peneliti juga meminta pertimbangan dari wakil kepala sekolah bidang kurikulum dengan melihat pada karakteristik siswa kelas II.3 dan kelas II.4. Maka berdasarkan hasil

pretest dan pertimbangan tersebut peneliti dapat menentukan kelas ekperimen dan kelas kontrol. Kelas II.4 ditunjuk sebagai kelas ekperimen yaitu kelas yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan metode mendongeng dan kelas II.3 sebagai kelas kontrol, yaitu kelas yang pembelajarannya tanpa menggunakan metode mendongeng atau konvensional.

2. Deskripsi Kegiatan Tindakan

Penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali pertemuan. Setelah kedua kelas diberi perlakukan berbeda, pertemuan berikutnya peneliti memberikan soal posttest terhadap kedua kelas tersebut untuk mengetahui perbandingan antara kelas ekperimen dan kelas kontrol.

Hal-hal yang perlu diperhatikan seorang guru sebelum melakukan pembelajaran adalah sebagai berikut:

a. Menyampaikan Indikator yang Ingin Dicapai.

Penyampian indikator-indikator ketercapaian KD dilakukan agar siswa mengetahui apa saja yang harus dikuasainya pada hari itu. Sehingga tujan pembelajaran dapat tercapai.

Pada pertemuan pertama indikator yang akan dicapai siswa berkaitan dengan materi dongeng adalah (1) menceritakan kembali isi dongeng yang telah disimaknya dengan menggunakan kata-kata sendiri; (2) mendefinisikan dongeng secara sederhana; dan (3) mengemukakan tokoh dalam dongeng beserta watak/sifatnya. Adapun pada pertemuan kedua indikator yang akan dicapai adalah (1) menceritakan kembali isi dongeng yang telah disimak dengan kata-kata sendiri; (2) menyebutkan latar atau tempat kejadian peristiwa dalam dongeng; dan (3) menyebutkan amanat atau pesan yang terkandung dalam dongeng.

b. Menyajikan Materi sebagai Pengantar.

Penyajian materi sebagai pengantar adalah sesuatu yang sangat penting. Dari sinilah permulaan pembelajaran diberikan. Pada saat menyajikan materi dapat pula diberikan motivasi yang dapat membuat siswa tertarik untuk memulai dan melakukan pembelajaran.

Pada pertemuan pertama peneliti menyampaiakn materi tentang definisi dongeng, penokohan dan perwatakan. Cerita dongeng yang

disampaikan adalah “Koala Tak Malas Lagi”. Adapun pertemuan kedua

peneliti menyampaikan materi tentang latar dan amanat yang terkandung dalam sebuah dongeng. Cerita dongeng yang disampaikan adalah “Singa dan Tikus”.

Adapun deskripsi pembelajaran kelas ekperimen dan kelas kontrol adalah sebagai berikut:

1) Proses Pembelajaran di Kelas Eksperimen

Pembelajaran di kelas eksperimen dilakukan dengan metode mendongeng. Sebelum melakukan pembelajaran di kelas eksperimen peneliti telah melakukan persiapan untuk kegiatan mendongeng, diantaranya adalah peneliti telah menghafal cerita dongeng yang akan dibawakan. Peneliti hanya menyiapakan catatan kecil yang digunakan sewaktu-waktu jika peneliti lupa dengan kelanjutan jalannya cerita. Selain itu, peneliti juga telah menyiapkan alat peraga berupa bentuk gambar binatang.

Setelah peneliti menyampaikan indikator pembelajaran dan menyajikan materi sebagai pengantar, peneliti mengatur posisi duduk siswa. Hal ini bertujuan agar perhatian siswa terfokus pada cerita yang akan disampaikan. Posisi duduk yang baik saat mendengarkan dongeng adalah dengan posisi duduk membentuk setengah lingkaran di depan kelas dan posisi pendongeng (peneliti) berada di hadapan mereka, sehingga seluruh siswa dapat melihat peneliti dengan jelas serta kemungkinan pendengaran mereka pun akan jelas pula karena jarak antara peneliti dan para siswa tidak begitu jauh.

Gambar 4.3

Proses kegiatan Mengajar dengan Metode Mendongeng

Gambar 4.5 menunjukkan proses kegiatan belajar mengajar antara peneliti dan siswa. Terlihat bahwa peneliti telah mengatur posisi duduk siswa dan akan memulai kegiatan mendongeng.

Setelah posisi duduk telah diatur, selanjutnya peneliti melakukan kegiatan pembukaan cerita dengan menyampaikan judul dongeng dan memperkenalkan para tokoh. Peneliti menggunakan bantuan alat peraga berupa gambar binatang. Selanjutnya, peneliti mulai membawakan cerita dongeng dengan memperhatikan artikulasi yang jelas dan intonasi suara yang tepat serta berusaha menampakkan emosi cerita dengan menirukan suara-suara tokoh berdasarkan karakter tokoh dalam cerita dongeng tersebut. Peneliti berusaha mengkondisikan siswa yang tidak serius menyimak dengan menanyakan kepada siswa “kira-kira apa ya yang akan terjadi?.”

Setelah berhasil dikondisikan peneliti melanjutkan dongeng kembali. Peneliti juga menirukan beberapa adegan dalam cerita agar siswa lebih menjiwai dongeng yang peneliti bawakan.

Di akhir mendongeng, peneliti menanyakan kepada siswa

“kira-kira apa ya amanat atau pesan moral dari cerita dongeng ini?.”

peneliti memberi kesempatan kepada siswa yang ingin bertanya mengenai isi dongeng. Setelah itu, peneliti mengarahkan siswa untuk kembali ke tempat duduknya masing-masing untuk mengerjakan LKS berupa menceritakan kembali dongeng yang telah disimaknya dengan bahasa sendiri.

Setelah mengerjakan LKS, peneliti meminta tiga orang siswa membacakkan hasil kerjanya di depan kelas, kemudian peneliti akan memberikan mereka reward berupa tanda bintang yang dapat ditukarkan dengan hadiah setelah pembelajaran berakhir. Pada akhir kegiatan inti pembelajaran, peneliti memberikan penguatan materi dan pengarahan, serta melakukan evaluasi.

Gambar 4.4

Kegiatan Belajar Siswa dengan Metode Mendongeng

Gambar di atas menunujukan kegiatan siswa dengan metode mendongeng. Pada gambar terlihat seorang siswa sedang membacakan hasil kerjanya mengerjakan LKS berupa menceritakan kembali dongeng yang telah disimaknya. Setelah siswa tersebut membacakan hasil kerjanya, peneliti memberinya reward berupa tanda bintang.

2) Proses Pembelajaran di Kelas Kontrol

Pembelajaran di kelas kontrol dilakukan dengan metode pembelajaran konvensional. Metode yang digunakan adalah metode ceramah, tanya-jawab dan penugasan. Dalam pembelajaran konvensional peneliti memulai pembelajaran dengan menyampaiakan indikator pembelajaran kepada siswa. Kemudian, menjelaskan materi terkait indikator yang akan dicapai pada hari itu. Selanjutnya peneliti membacakan teks cerita dongeng di depan kelas tanpa ekspresi, tanpa mimik, tanpa melakukan peniruan suara berdasarkan karakter tokoh dan tanpa alat bantu peraga. Posisi duduk siswa juga tidak berubah atau tetap duduk di kursinya masing-masing. Sehingga hal ini memungkinkan siswa yang duduk di belakang tidak fokus menyimak pembacaan teks cerita dongeng yang dibacakan oleh peneliti. Diakhir pembacaan cerita peneliti menyampaikan amanat atau pesan moral dari cerita dongeng tersebut. Setelah menyimak pembacaan cerita dongeng, peneliti membagikan LKS kepada siswa berupa menceritakan kembali dongeng yang telah disimaknya dengan menggunakan bahasanya sendiri. Setelah itu peneliti memberikan kesempatan kepada tiga orang siswa yang ingin membacakan hasil kerjanya di depan kelas. Peneliti akan memberikan mereka reward berupa tanda bintang. Setelah itu, peneliti memberikan kesempatan bertanya kepada siswa mengenai hal-hal yang belum dipahami. Kemudian peneliti melakukan penguatan materi dan melakukan evaluasi.

Pembelajaran dengan metode konvensional cenderung membuat siswa tidak fokus terhadap proses kegiatan pembelajaran. Karena pembelajaran dengan metode konvensional tidak atraktif dan ekspresif. Hal ini dapat mengakibatkan siswa kurang menerima dan memahami materi yang diajarkan, sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar yang kurang maksimal.

3. Deskripsi Kegiatan Posttest

Setelah diberikan perlakuan yang berbeda terhadap kedua kelas, maka kedua kelas diberikan soal posstest. Kegiatan posttest ini dilakukan untuk melihat hasil pencapaian keterampilan menyimak dongeng siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kegiatan posttest ini serupa dengan kegiatan pembelajaran hanya saja dalam kegiatan ini peneliti tidak lagi memberikan materi pelajaran terkait unsur-unsur dongeng, peneliti hanya memberikan

cerita dongeng “Moncil Si Kera” cerita yang dibuat oleh peneliti sendiri. Kemudian peneliti akan meminta siswa menuliskan hasil simakannya dalam bahasa tulis. Di kelas kontrol peneliti membacakan teks cerita dongeng dengan metode konvensional sedangkan di kelas eksperiman peneliti membawakan cerita dongeng dengan metode mendongeng. Adapun hasil penskoran dan penilaian posttest kelas ekperimen dan kelas kontrol adalah sebagai berikut:

Tabel 4.9

Data Hasil Posttest Siswa Kelas Ekperimen

No Nama Siswa Penilaian Nilai

Akhir Tokoh Alur Latar Amanat

1 X1 15 20 20 15 70 2 X2 25 20 25 20 90 3 X3 20 20 15 25 80 4 X4 20 20 15 20 75 5 X5 20 20 20 15 75 6 X6 15 20 15 15 65 7 X7 20 20 15 25 80 8 X8 25 20 20 20 85 9 X9 20 15 20 15 70 10 X10 25 20 20 25 90 11 X11 20 15 15 15 65 12 X12 25 20 25 20 90 13 X13 20 20 15 25 80

14 X14 15 20 25 10 70 15 X15 20 20 15 15 70 16 X16 25 20 15 20 80 17 X17 20 20 20 20 80 18 X18 20 20 15 25 80 19 X19 20 20 15 20 75 20 X20 20 20 15 15 70 21 X21 20 20 20 25 85 22 X22 20 25 20 20 85 JUMLAH 1710 RATA-RATA 77,73 Tabel 4.11

Daftar Distribusi Frekuensi Perolehan Nilai Posttest Kelas Eksperimen Nilai Frekuensi Persen %

65 2 9,1 70 5 22,7 75 3 13,6 80 6 27,3 85 3 13,6 90 3 13,6 Total 22 100,0

Tabel berikut dapat disajikan pula dalam bentuk grafik sebagai berikut:

Gambar 4.5

Grafik Nilai Rata-rata Posttest Kelas Eksperimen

Berdasarkan tabel dan grafik tersbut, dapat diketahui bahwa siswa yang mendapatkan nilai 60 ada dua orang, siswa yang mendapatkan nilai 70 ada lima orang, siswa yang mendapatkan nilai 75 ada tiga orang, siswa yang mendapakan nilai 80 ada enam orang, siswa yang mendapatkan nilai 85 ada tiga orang, siswa yang mendapatkan nilai 85 ada tiga orang, dan siswa yang mendapatkan nilai 90 ada tiga orang.

Tabel 4.10

Data Hasil Posttest Kelas Kontrol No Nama Siswa

Penilaian Nilai

Akhir Tokoh Alur Latar Amanat

1 Y1 25 15 15 25 80 2 Y2 20 15 20 10 65 3 Y3 20 20 10 20 70 4 Y4 25 15 25 15 80 5 Y5 20 15 15 10 60 6 Y6 25 15 15 10 65 7 Y7 15 20 15 25 75 8 Y8 20 15 25 15 75 9 Y9 25 20 20 5 70 10 Y10 20 15 20 20 75 11 Y11 20 20 20 20 80 12 Y12 20 20 20 10 70 13 Y13 25 10 20 10 65 14 Y14 20 20 10 15 65 15 Y15 25 15 15 5 60 16 Y16 20 20 25 20 85 17 Y17 20 25 15 20 80 18 Y18 25 20 20 15 80 19 Y19 20 20 20 10 70 20 Y20 20 20 20 15 70 21 Y21 25 20 15 5 65 22 Y22 20 20 15 15 70 JUMLAH 1575 RATA-RATA 71,59

Tabel 4.12

Daftar Distribusi Frekuensi Perolehan Nilai Posttest Kelas Kontrol Nilai Frekuensi Persen %

60 2 9,1 65 5 22,7 70 6 27,3 75 3 13,6 80 5 22,7 85 1 4,5 Total 22 100,0

Tabel di atas dapat pula disajikan dalam bentuk grafik batang sebagai berikut:

Gambar 4.6

Berdasarkan tabel dan grafik tersebut, dapat diketahui bahwa siswa yang mendapatkan nilai 60 ada dua orang siswa, siswa yang mendapatkan nilai 65 ada lima orang siswa, siswa yang mendapatkan nilai 70 ada enam orang siswa, siswa yang mendapatkan nilai 75 ada tiga orang siswa, siswa yang mendapatkan nilai 80 ada lima orang siswa dan siswa yang mendapatkan nilai 85 ada satu orang siswa.

Adapun rangkuman deskripsi data Posttest kelas ekperimen dan kelas kontrol adalah sebagai berikut:

Tabel 4.13

Rangkuman Data Statistik Nilai Posttest Menyimak Dongeng Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

No Kelompok N Nilai Maksimal

Nilai Minimal

Mean Median Modus

1 Eksperimen 22 90 65 77,73 80 80

2 Kontrol 22 85 60 71,59 70 70

Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa nilai posttest pada kelas eksperimen dengan jumlah 22 siswa, memiliki skor maksimal sebesar 90, skor minimal 65, dengan nilaii rata-rata sebesar 77,73 dan ini berkategori baik. Nilai median atau nilai tengahnya adalah 80, dan nilai modusnya adalah 80.

Sedangkan nilai posttest kelas kontrol dengan jumlah siswa 22 siswa, memiliki skor maksimal 85 dan skor minimal 60, dengan nilai rata-rata sebesar 71,59 dan ini berkategori cukup. Nilai median atau nilai tengahnya adalah 70, dan nilai modusnya adalah 70.

Data hasil tes posttest keterampilan menyimak ini kemudian dihitung dengan SPSS 22 Hasil rata-rata nilai posttest kelas ekperimen dan kelas kontrol diuji dengan uji normalitas, uji homogenitas dan kemudian dilakukan uji hipotesis. Sehingga akan diketahui perbandingan hasil postttes kelas eksperimen dan kelas kontrol

Dokumen terkait