HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Deskripsi Data Pra Penelitian
3. Deskripsi data siklus
Pada siklus kedua peneliti dan kolabolator melakukan beberapa perencanaan. Secara teknis kegiatan ini sudah dapat dilakukan oleh peneliti pada siklus kedua dalam melakukan beberapa perencanaan, namun ada beberapa hal yang perlu perbaiki, antara lain: mendiskusikan berbagai hal tentang strategi-strategi pemebelajaran dan menambahkan kegiatan yang lebih bervariasi, teknik, media pembelajaran untuk mahasiswa program studi Matematika semester II. a) Perencanaan
Pada siklus kedua, peneliti dan kolaborator berdiskusi berbagai hal antara lain sebagai berikut: a) Dosen-peneliti dan kolaborator berdiskusi untuk memilih kegitan pembelajaran yang melibatkan aktivitas diskusi kelompok, mengembangkan kemampuan mahasiswa dan mengembangkan kreativitas, b) kolaborator memberikan masukan dengan berbagai media yang dapat digunakan oleh peneliti ketika proses pembelajaran berlangsung. Kolaborator dan peneliti membuat media untuk kegiatan pengamatan seperti facebook dan schology, c) peneliti bersama kolaborator mengatur ruangan, d) peneliti menjelaskan berbagai penguatan yang diberikan pada mahasiswa dan pengaruh penguatan tersebut pada mahasiswa. g) peneliti menjelaskan pentingnya peraturan dibuat dari hasil kesepakatan bersama. Strategi ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengelola kelas, i) peneliti menyadari berbagai pegaruh dosen sebagai model yang dapat ditiru oleh mahasiswa dalam diskusi kelompok dan presentasi dangan percaya diri, j) peneliti menyadari bahwa mahasiswa masih masuk dalam masa praoperasional kongkrit.
b) Tindakan
Pertemuan ketiga siklus 2
Dosen memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk melakukan presentasi dari hasil review biografi seorang figur pengusaha sebelum itu sukses sampai akhirnya sukses. Disaat mahasiswa mengidentifikasi apa yang menjadi masalah dari seorang pengusaha ketika terjadi kegagalan dan kendala yang dihadapi ketika mencoba ide bisnis, mahasiswa menganalisis terhadap kreativitas, ide bisnis, dan peluang. Saat mahasiswa mampu dengan sendiri mengidentifikasi masalah-masalah tersebut maka proses pembelajaran dapat berjalan sesuai rencana.
Mahasiswa menyusun strategi untuk menuangkan kreativitas, ide bisnis, dan peluang. Kemudian mahasiswa menyusun ide bisnis, peluang usaha dalam bentuk makalah. Setelah kelompok-kelompok menyusun strategi, peneliti meminta mereka untuk memulai dan memecahkan masalah dengan menerapkan strategi yang dipilih yang di upload ke media group
facebook (rumah Kewirausahaan Situbondo) agar mendapat tanggapan dari pelaku wirausaha yang ada didalam goup.
18
Dari hasil tersebut dosen meminta mahasiswa untuk mempresentasikan hasil pemecahan masalah tentang ide bisnis, peluang usaha. Dengan demikian hasil persentasi akan lebih baik dan disajikan dengan lebih komunikatif dalam menanggapi berbagai pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain saat persentasi berlangsung.
Pertemuan keempat siklus 2
Pada pertemuan ini, dosen-peneliti meminta menyusun rencana bisnis (menciptakan dan memulai usaha). Lalu mahasiswa menyusun strategi untuk memecahkan masalah dalam pembuatan rencana bisnis. Setelah mahasiswa selesai mempersentasikan rencana bisnisnya dan mendapat masukan serta penguatan oleh dosen. Mahasiswa siap melakukan tes mengenai materi yang telah diajarkan. tes tersebut di kerjakan di schology berbentuk short answer yang terdiri dari lima pertanyaan, sebelum dievaluasi di dalam kelas.
c. Pengamatan
Pengamatan dilakukan peneliti selama perencanaan dan proses pembelajaran berlangsung. Kolaborator mengamati kegiatan yang dilakukan peneliti dan reaksi mahasiswa ketika melakukan kegiatan melalui instrument tindakan. Kegiatan pengamatan ini dilakukan dari awal sampai akhir pembelajaran.
Hasil pengamatan ketiga siklus 2
Mahasiswa melakukan semua kegiatan dengan bersemangat dan tetap berada di dalam kelompok diskusi dengan baik. Selama persentasi berlangsung mahasiswa mendengarkan dengan aktif, dan diakhir persentasi melakukan tanya jawab yang berlangsung komunikatif dan dosen memberikan penguatan-penguatan atas pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan oleh masing-masing kelompok. Semua permasalahan yang muncul di dalam diskusi mahasiswa mampu memecahkan masalah tersebut. Dosen menanggapi jawaban yang disampaikan oleh mahasiswa sesuai dengan permasalahan yang ada untuk mengontrol situasi kelas agar tetap tertib dan terkendali. Pada sesi ini berjalan dengan baik dan mahasiswa terlihat puas dengan jawaban yang diberikan oleh dosen. Peneliti masih harus terus memberikan pujian kepada mahasiswa.
Hasil pengamatan keempat siklus 2
Pengamatan terhadap mahasiswa pada pertemuan keempat ini dilakukan saat mahasiswa melakukan persentasi bersama dosen. Mahasiswa mempersentasikan dengan tertib dan dalam situasi kelas yang terkendali. Mahasiswa terlihat bersemangat dalam mempersentasikan hasil diskusi tersebut.
sebelum dan sesudah akhir proses pembelajaran, hasil pengamatan terhadap dosen menunjukkan bahwa hampir seluruh aspek aktivitas dosen telah dilaksanakan. sehingga mahasiswa lebih bersemangat lagi dalam mengungkapkan ide dan pemikirannya. Refleksi pada observasi siklus kedua ini, menunjukkan bahwa dosen masih harus meningkatkan cara dalam memberikan dorongan dan perlu meningkatkan pemberian pujian terhadap hasil kerja mahasiswa.
d. Refleksi
Refleksi ini dilakukan sama seperti refleksi pada siklus pertama dan dilakukan setelah tindakan dan pengamatan terakhir. Refleksi dilakukan dengan memperhatikan instrumen tindakan, data catatan lapangan, dan analisis temuan pengematan selama pelaksanaan kegiatan. Hasil refleksi pertemuan 3
Dilihat dari pengamatan tersebut terlihat bahwa kegiatan pembelajaran relatif sesuai dengan program yang sudah disepakati oleh peneliti dan kolaborator. Peneliti konsisten dalam melibatkan kegiatan pengamatan lapang yang dikemas secara kreatif dan mengembangkan kreativitas mahasiswa. Kegiatan lebih menarik dari pertemuan sebelumnya menggunakan media sosial facebook dalam mencari informasi tentang menganalisis terhadap kretivitas, ide bisnis dan peluang. Sehingga mahasiswa dapat memperbanyak penguatan (reinforcement) dan mengurangi intervensi, dan memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk berekspresi, bereksperimen dalam menuangkan ide bisnis terhadap peluang usahanya.dalammelakukan persentasi mahasiswa semakin percaya diri, pengelolaan kelas dengan cara yang bervariasi, dan proses persentasi serta aturan dalam persentasi bisa berjalan lancar dan di taati bersama.
19 Hasil refleksi pertemuan 4
Dosen-peneliti lebih mendapatkan banyak masukan dari kolabolator dan juga dari hasil pengamatan pada pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan keempat ini tidak perlu dilakukan banyak perubahan namun pada pertemuan ini perlu dilakukan tes kedua, agar hasil refleksi dari perencanaan yang disusun pada pertemuan sebelumnya dapat terlihat dari hasil tes akhir siklus kedua.
Dari hasil tes tersebut diperoleh nilai maksimal 100, dan nilai minimal 66, rentang 34 yang diperoleh dari selisih nilai maksimal dengan nilai minimal, dengan demikian presentase kemampuan mahasiswa dalam menganalisis kreativitas, ide bisnis, peluang usaha dan rencana bisnis mencapai 83,63%.
Hal ini terjadi karena kurangnya waktu mahasiswa untuk mempersiapkan diri menjelang tes. Peneliti juga kurang memberikan waktu bagi mahasiswa untuk melakukan persiapan, dan juga memberikan tugas yang menyita perhatian mahasiswa.
Setelah dilakukan tes akhir dari siklus 2, maka peneliti melaksanakan ujian tengah semester (UTS) yang merangkum semua materi pembelajaran dari sikuls pertama sampai siklus kedua. Dari hasil ujian tengah semester (UTS) diperoleh nilai maksimal 100, nilai minimal 65 rentang 35 yang diperoleh dari selisih nilai maksimal dengan nilai minimal. Mean atau rata-rata 82,49 dan median, nilai paling banyak muncul yaitu 80. Dengan demikian presentase kemampuan mahasiswa dalam memahami materi Kewirausahaan yang meliputi materi 1) sifat dasar dan arti penting kewirausahaan, 2) pola pikir Kewirausahaan, 3) analisis terhadap kreatifitas, ide bisnis, peluang, 4) rencana bisnis mencapai 81,82. Pada evaluasi akhir terjadi peningkatan pencapaian semua mahasiswa yang berdampak pada nilai rekapitulasi peerkelompok.
Dengan demikian secara umum telah terjadi peningkatan kemampuan pada mahasiswa program studi Matematika semester II STKIP PGRI Situbondo melalui kegiatan pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran berbasis masalah (PBL).
Semua mahasiswa menyatakan senang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran berbasis masalah (PBL) dengan berkelompok dan berkompetisi. Menurut mereka belajar terasa sangat mengasyikkan dan tidak membosankan juga mendapat banyak pengetahuan tidak hanya dari dosen tetapi juga dari teman sekelompok. Mereka berpendapat bahwa belajar kelompok dan kegiatan seperti ini membuat mereka cepat mengerti pelajaran dan melatih mereka untuk berani mengungkapkan pendapat didalam kelompok kecil.
Kendala yang dihadapi oleh sebagian mahasiswa terkadang mereka merasa malu dan takut pada saat harus memberikan penjelasan kepada teman sekelompok karena mereka takut melakukan kesalahan dalam memberikan penjelasan. Dosen-peneliti merasa senang dengan keberhasilannya dalam melakukan tidakan pada siklus kedua. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan aktifitas berkelompok yang diperkenalkan dosen-penelitimembuat mahasiswa bersemangat dan tidak bosan. Dosen-peneliti merasa mudah dalam menerapkan pembelajarannya.
Dosen senang melihat perkembangan dan kemampuan mahasiswa yang bagus dalam menyerap materi pembelajaran yang diberikan. Walaupun ada beberapa mahasiswa yang masih kurang aktif dalam berdiskusi dan menerapkan pengamatannya, tetapi dosen menyatakan bahwa mahasiswa yang kategori kemampuannya kurang itu sudah mengalami peningkatan dibandingkan dengan saat mengikuti pembelajaran sebelumnya. Hal-hal yang menjadi kendala dalam pembelajaran berkelompok dengan strategi pembelajaran berbasis masalah (PBL) adalah dosen pada saat awal pembelajaran tidak menjelaskan dengan cermat kegiatan yang akan dilakukan oleh mahasiswa. Adapun hal itulah yang meyebabkan mahasiswa ada yang belum mencapai ketuntasan hasil belajar. Akan tetapi kendala-kendala tersebut dapat diatasi dengan, a) menyiapkan rencana pembelajaran secermat mungkin, b) menyediakan media semaksimal mungkin demi kelancaran proses pembelajaran, c) mengatur alokasi waktu seefisien mungkin. Dengan ini kendala-kendala yang dihadapi peneliti dapat diatasi untuk mencapai hasil akhir yang sesuai dengan yang diinginkan.
20
Berdasarkan hasil analisis data persentase peningkatan kemampuan mahasiswa program studi Matematika Semester II pada mata kuliah Kewirausahaan pada siklus 1 yakni 74,54, dan pada siklus 2 yakni 83,63%. Peneingkatan tersebut melebihi target yang ditetapkan peneliti dan kolaborator yakni sebesar 50%. Peningkatan tersebut terjadi karena faktor-faktor berikut ini, antara lain: dosen berhasil membentuk kegiatan berkelompok dan kompetisi dalam mencapai kompetisi dengan cara saling mendukung diantara anggotanya, dosen berhasil memilih beragam kegiatan kreatif didalam tugas berkelompok untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa secara perorangan dalam memahami materi yang diberikan oleh dosen, dosen-peneliti memberi kesempatan pada mahasiswa untuk berekspresi, menggunakan variasi dalam mengelola kelas, mengatur posisi kelompok dengan baik sehingga memudahkan mahasiswa diskusi, dosen mencoba memberikan tes yang dilakukan dengan membuat skema, melibatkan aspek lain dari bahasa dengan membimbing mahasiswa dalam melakukan pengamatan, membuat laporan tertulis dan prsesntasi, banyak memberi penguatan pada siswa.
Nilai rata-rata prestasi hasil belajar mahasiswa terhadap penguasaan materi Kewirausahaan mengalami peningkatan dari siklus 1 dan 2. Begitu juga dengan prosentase mahasiswa yang mencapai ketuntasan belajar meningkat banyak dari siklus 1 ke siklus 2.
Penelitian tindakan kelas terhadap materi pada mata kuliah Kewirausahaan dilakukan agar keefektifan strategi PBL (problem based learning) dapat dibuktikan. Dosen peneliti melakukan pengamatan terhadap perencanaan pembelajaran dan juga mempersiapkan instrumen pengamatan yang dilakukan secara kolaborasi bersama seorang rekan. Perencanaan terhadap pembelajaran dilakukan dengan tujuan menciptakan kegiatan didalam kelas lebih beragam untuk menumbuhkan minat siswa yang dapat berdampak bagi peningkatan kemampuan siswa apabila kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan menyenangkan.
Dari deskripsi data di atas dan juga analisis data yang dimiliki oleh dosen-peneliti maka secara singkat dapat dikatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan strategi PBL (problem based learning) efektif untuk pembelajaran Kewirausahaan pada mahasiswa program studi Matematika semester II STKIP PGRI Situbondo. Efektifitas tersebut terlihat dari meningkatnya nilai yang didapatkan oleh mahasiswa dibandingkan dengan sebelum dilakukannya pembelajaran dengan strategi PBL (problem based learning).
KESIMPULAN
Kemampuan mahasiswa dalam menyerap materi kuliah pada mata kuliah Kewirausahaan meningkat setelah dosen menggunakan strategi pembelajaran berbasis masalah dalam melaksanakan pembelajara. Hasil tes akhir mahasiswa program studi Matematika semester II STKIP PGRI Situbondo sudah mencapai ketuntasan hasil belajar. Hal ini membuktikan bahwa strategi pembelajaran berbasis masalah efektif digunakan untuk pembelajaran Kewirausahaan.
Penggunaan strategi pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran ide bisnis, rencana bisnis, dan peluang usaha dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa program studi Matematika semester II STKIP PGRI Situbondo. Kemampuan siswa dapat dilihat dari hasil tesnya yang terbukti meningkat. Kalau dibandingkan hasil tes awal, tes akhir siklus 1 dan 2 serta ujian tengah semester (UTS) terbukti meningkat. Mahasiswa juga mampu mengeksplorasi ide bisnis, menganalisis peluang usaha dan menulis rencana bisnis.
Kreatifitas siswa dan kemampuan mahasiswa dalam menyerap materi kuliah dapat meningkat. Pembelajaran dengan strategi pembelajaran berbasis masalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, suasana kelas yang lebih hidup, lebih dinamis dan tidak menjenuhkan. Pada saat pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran berkelompok dosen lebih mudah berinteraksi dengan mahasiswa, suasana pembelajaran lebih santai, gembira, beremangat, dinamis, tetapi efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Brown, C.( 2000). Entrepreneurial Teaching Guide, December, 2000 Digest, Number 00-7, (on line), (http://www.celcee.edu).
21
Degeng, INS. (2013). Ilmu Pembelajaran, Klasifikasi Variable untuk Pengembangan Teori dan Penelitian: Bandung: Aras Media.
Dewey, J. (1958). Philosophy of Education: America: Philosophical Library, Inc.
Duch, Barbara. J., Groh, Susan. E., Allen, Deborah. E. (2001) The Power of Problem-Based Learning. United States of America: Stylus Publishing, LLC
Eggen, P. Kauchak, D. (2012). Startegi dan Model Pembelajaran Mengajarkan Konten dan Keterampilan Berpikir. Kembang Utara Jakarta Barat: PT Indeks
Gagne, R. M. (1970). The Conditions of Learning: America: Holt, Rinehart and Winston, Inc. Gijselaers, W. H., Wilkerson, L. (1996). Bringing Problem-Based Learning to Hinger
Education: Theory and Prctice., San Francisco: Jossey-Bass Inc.
Gredler, M. E. (2009). Learning and Instructional, Theory into Practice: New Jersey: Pearson. Hanke, R. (2005). A Scalaable Problem-Based Learning System for Entrepreneurship
Education: Academy of Management Best Conference Paper ENT: E1-E6. Hopkins (Sanjaya, Wina). (2010). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana
Moore, Kenneth D. (2005). Effective Instructional Strategies – From Theory to Practice.London. Sage Publications.
Muhson, Ali. (2005). Implementasi Problem-Based Learning dalam Pembelajaran Kewirausahaan. Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 2, Nomor 3 : 48-64.
Rakib, Muhammad. (2009). Kewirausahaan dan Kinerja Usaha Kecil. Pamekasan Madura. STAIN Pamekasan Press.
Reigeluth, Charles M. (2009). Instructional – Design Theoris and Models, Vol. III.New York. Routledge.
22
PRONUNCIATION DIF F ICULTIES ENCOUNTERED BY EFL STUDENTS IN