dilambangkan dengan , dan habis dibagi Tentukan ! TUGAS MATEMATIKA
PENDIDIKAN EKONOMI STKIP PGRI SITUBONDO Miftahus Surur, Jefri Aulia Marta
2. Siklus II Pertemuan Kedua
Pada pertemuan kedua diawali dengan mengucapkan salam dan membaca presensi. Kegiatan selanjutnya dosen mereview pelajaran pada pertemuan pertama dan memberikan pertanyaan kepada mahasiswa. Kegiatan selanjutnya yaitu tes akhir siklus. Selanjutnya dosen menghitung skor dan memberikan penghargaan pada individu dan kelompok dengan skor terbaik.
Observasi
Observasi dilakukan untuk merekam proses yang terjadi saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Peneliti melakukan obsevasi pada aktivitas belajar mahasiswa dan hasil skor tes pada akhir siklus. Hasil observasi pada siklus II sebagai berikut.
164
Hasil pengamatan peneliti yang dibantu dengan pengamat kita ketahui bahwa tidak ada mahasiswa yang tidak aktif. Mahasiswa yang cukup aktif berjumlah 4 orang sedangkan 20 orang aktif dan 18 orang masuk dalam kategori sangat aktif.
2. Hasil belajar Metodologi Penelitian
Berdasarkan hasil kegiatan pembelajaran pada siklus II diperoleh data tentang hasil belajar mahasiswa. Data hasil belajar yang diperoleh pada siklus II adalah ketuntasan individual dan klasikal. Dari hasil tes pertemuan disiklus ke dua diperoleh nilai maksimum 100, nilai minimun 50 rentang dari nilai maksimum dengan nilai minimum adalah 50, nilai rata-rata 78,81, dan persentase ketuntasan mahasiswa 88,10%. Dari nilai tersebut sudah sesuai dengan harapan peneliti, yakni mahasiswa sudah mengalami kenaikan dari yang ditargetkan dibandingkan dengan nilai mahasiswa sebelumnya.
Refleksi
Hasil observasi pada siklus II menunjukkan bahwa proses pembelajaran dan semua aktivitas yang dilakukan sudah sangat baik. Ini ditunjukkan dengan peningkatan yang terjadi pada setiap siklusnya. Baik dari aspek aktivitas dan hasil belajar mahasiswa. Namun ada beberapa kekurangan yang masih perlu dibenahi yaitu: 1) Masih terdapat mahasiswa yang kurang aktif dan belum tuntas dalam belajar. Sedangkan ada beberapa kelebihan pada pelaksanaan tindakan siklus II yaitu: 1) peneliti mampu mengelola kelas agar konsisi kelas selalu kondusif; 2) meminimalisir kegaduhan dan perbuatan mahasiswa yang mengganggu mahasiswa lain; 3) mahasiswa lebih bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran serta berperan aktif dalam kerjasama kelompok; 4) hasil belajar mahasiswa pada tes akhir siklus II meningkat lebih baik dari pada sebelumnya.
Hasil analisis data yang diperoleh dari tahap pra tindakan menunjukkan rendahnya presentase hasil belajar mahasiswa yang telah mencapai ketuntasan belajar yaitu 19,05%. Hal ini berpengaruh pada pencapaian rata-rata kelas yang juga rendah yaitu 57,52. Dilihat dari hasil belajar mahasiswa pada saat pra tindakan ternyata mahasiswa belum mampu menguasai materi secara optimal. Penyebabnya antara lain adalah, kurangnya perhatian mahasiswa terhadap materi, model pembelajaran konvensional yang digunakan membuat mahasiswa cepat jenuh, kurang memiliki kesempatan untuk berkreasi dalam bentuk penyampaian pendapat.
Pada hasil pra tindakan, proses pembelajaran memang belum optimal dan perlu dilakukan perbaikan dengan menerapkan model pembelajaran yang mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar mahasiswa. Model yang diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Model ini dapat meningkatkan aktivitas mahasiswa dan hasil belajar mahasiswa. Selain itu dengan penerapan model ini mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan untuk berdiskusi dalam memecahkan suatu masalah serta membangun kerjasama tim yang baik dengan teman kelompok.
Dalam proses pembelajaran dengan model Jigsaw mahasiswa lebih mampu berperan aktif dalam kelompok. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan aktifitas mahasiswa pada siklus I sebesar 69,66% dan meningkat pada siklus II 78,84% . Mahasiswa lebih berani bertanya tentang materi yang belum dipahami. Mahasiswa lebih berani dalam menyampaikan dan menanggapi pendapat dari teman sekelas dan meningkatkan tanggung jawab mahasiswa dalam penyelesaian masalah.
Selain itu mahasiswa juga mampu membangun interaksi sosial yang baik melalui kerjasama kelompok. Hal ini sejalan dengan pendapat Slavin (dalam Sanjaya, 2006:242) mengemukakan bahwa ―pembelajaran kooperatif (kelompok) dapat meningkatkan kemampuan prestasi belajar sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial mahasiswa, merealisasikan kebutuhan mahasiswa dalam belajar berfikir, memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan‖. Dari teori tersebut dapat dikatakan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa secara individual melalui proses kerja sama yang baik dalam pencapaian kompetensi mahasiswa, seperti yang telah dilaksanakan dalam penelitian ini.
165
Hasil belajar mahasiswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah mahasiswa yang dinyatakan tuntas belajar pada pra tindakan berjumlah 8 orang atau 19,05%, kemudian jumlah itu meningkat pada siklus I menjadi 29 mahasiswa atau 69,05% dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 37 mahasiswa atau 88,10% dan dinyatakan tuntas secara klasikal karena angka tesebut melebihi angka minimal yaitu 85% hal ini dapat terwujud karena diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
Pembelajaran Jigsaw dilakukan dengan pendekatan kelompok yang memberi ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan teman sekelas. Membangun kerjasama yang kompak, saling membantu dan bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing. Setiap mahasiswa akan mengetahui tingkat pemahaman masing-masing terhadap materi yang diberikan, sehingga mahasiswa yang merasa kurang mengerti tentang suatu materi dapat bertanya kepada teman satu kelompok. Dan mahasiswa yang telah memahami materi dengan baik dapat membantu mahasiswa lain dalam kelompok. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurhadi dkk. (β004:61), ―dengan bekerjasama dalam kelompok akan muncul saling ketergantungan positif, saling membantu antar mahasiswa dan saling memberikan motivasi‖. Dengan demikian pembelajaran kooperatif mampu membantu mahasiswa aktif dan mencapai hasil belajar yang baik.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar mahasiswa, penerapan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut : Membaca (Reading) Anggota kelompok membaca sub pokok bahasan yang telah dipilih untuk dipahami, Diskusi Kelompok Ahli (Expert) Mahasiswa dengan sub pokok bahasan yang sama, bertemu untuk mendiskusikan hal tersebut. Setiap anggota kelompok menerima lembar kerja ―ahli‖ yang memuat pertanyaan dan dan kegiatan untuk mengarahkan diskusi kelompok. Pelaporan kelompok (Team Report) masing-masing kelompok ahli kembali ke kelompok asal untuk melaporkan hasil diskusi dalam kelompok ahli. Test (Test) tes dilaksanakan pada setiap akhir siklus untuk mengetahui hasil belajar mahasiswa. Penghitungan Skor dan Penghargaan Kelompok (Team Recognition) setelah diadakan tes pada akhir siklus, dilakukan penghitungan skor individu dan kelompok. Kemudian dosen memberikan penghargaan kepada mahasiswa dan kelompok yang mendapat skor terbaik.
Penerapan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar mahasiswa. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan aktifitas belajar mahasiswa pada siklus I sebesar sebesar 69,66% dan meningkat pada siklus II menjadi 78,84% dan dari pencapaian ketuntasan belajar mahasiswa secara klasikal pada siklus I 69,05% kemudian meningkat pada siklus II menjadi 88,10%.
DAFTAR PUSTAKA
Agustiningsih, Rini Ika. 2009. Penerapan Belajar Kooperatif Model Jigsaw Dalam Pembelajaran Konsep Sistem Urinaria Berbasis Pengalaman Langsung Untuk Meningkatkan Aktivitas Individu Dan Kelompok Serta Hasil Belajar Di SMAN 10 Malang. Peneilitian tidak diterbitkan. Malang: Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang.
Arikunto, S. 2008. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Arikunto, S. 2010. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Eggen, P. Kauchak, D. 2012. Strategi dan Model Pembelajaran Mengerjakan Konten dan Keterampilan Berpikir. Kembang Utara Jakarta Barat: Pt Indeks.
166
Elliot, (Kunandar). 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Kelapa Gading Permai Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada.
Elliot, (Trianto). 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik Konsep, Landasan Toeritis-Praktis dan Implementasinya. Jakarta: Prestasi Pustaka. Masykuri & Wahid. 2009. Quo Vadis Pendidikan Islam Klasik. Surabaya: Visipress Media. Rakib, Muhammad. (2009). Kewirausahaan dan Kinerja Usaha Kecil. Pamekasan Madura.
STAIN Pamekasan Press.
Slavin, Robert E. Tanpa Tahun. Cooperative Learning (Teori Riset dan Praktek). Terjemahan. 2010. Bandung: Nusa Media.
Susilo, Herawati dkk. 2008. Penelitian tindakan kelas (Sebagai Sarana Pengembangan Keprofesionalan Guru Dan Calon Guru). Malang: Bayumedia Publishing.
Utami, Sri. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Sebagai Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA 3 SMA 7 Malang. Skripsi Tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Kemendiknas. 2011. Model Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah UNESA.
167
PENGEMBANGAN MEDIA AUDIO VISUAL BERBASIS SEJARAH LOKAL DALAM