dilambangkan dengan , dan habis dibagi Tentukan ! TUGAS MATEMATIKA
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 5E TERHADAP HASIL BELAJAR GEOGRAFI SMA NEGERI 8 MALANG
Suwito
Tenaga Pengajar FKIP Pendidikan Geografi Universitas Kanjuruhan Malang E-Mail: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh model pembelajaran learning cycle 5E terhadap hasil belajar siswa. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa/i kelas X SMAN 8 Malang semester genap tahun ajaran 2013/2014. Kelas X3 ditetapkan sebagai kelas eksperimen dan kelas X1 ditetapkan sebagai kelas kontrol. Kelas X1 dan kelas X3 ditetapkan sebagai subjek penelitian karena siswa/i pada kedua kelas ini memiliki kemampuan yang sama atau setara berdasarkan nilai UAS dan telah di uji menggunakan uji-t dengan hasil tidak signifikan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain penelitian Non Equivalent Control Group Design. Berdasarkan selisih nilai pre test dan post test, rata-rata gain score kelas eksperimen lebih tinggi dengan skor 29,2 dibandingkan kelas kontrol dengan skor 12,2. Hasil perhitungan analisis uji-t menggunakan independen sample t-test diperoleh data p-level lebih kecil dari 0,05 (p<0,05) yaitu dengan taraf sig 0,00. Hasil perhitungan ini membuktikan bahwa model pembelajaran learning cycle 5E berpengaruh terhadap hasil belajar geografi.
Kata Kunci: Hasil Belajar, Learning Cycle 5E. Abstract
Learning cycle is a planned and students centered learning model. It is a series of step which are coherently arranged so that students can master the competences that they ought to achieve through active participation in learning process. This learning model of Learning Cycle 5E is believed to improve the development of a concept. The research design used here is Quasi Experimental. The quasi experimental used in this research refers to Nonequivalent Control Group Design. The treatment for this research uses Learning Cycle 5E Model on experimental class and control class by using inquiry methods. The subjects of the research are second semester tenth graders of SMAN 8 Malang academic year 2013/2014. The research uses class X3 (experimental) and class X1 (control) a s research subjects. The numbers of the student in each class are 28. The data analysis on Learning Cycle Model 5E results p-level figures less than 0,05 (p< 0,05) with sig 0,00. The average of experimental class gain score is 10,78 that figures greater that control class which achieve only 5,53. These data show that learning process using 5E ha s positive influence towards students‟ learning outcomes.
Keywords: Learning Outcomes, Learning Cycle 5E. PENDAHULUAN
Atkin dan Karplus (dalam Iskandar, β001) mengemukakan bahwa ‖learning cycle
merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran konstruktivistik, yakni siswa mengkonstruk pengetahuannya sendiri dan terlibat aktif dalam berpikir pada setiap fasenya‖. Menurut Iskandar (2004) ‖learning cycle merupakan model pembelajaran sains yang efektif dan sangat dikenal oleh para pengajar sains‖. Pada mulanya model learning cycle
diusulkan oleh Aktin dan Karplus pada Tahun 1962, kemudian dikembangkan sebagai modal dasar dalam Science Curriculum Improvement Study oleh Karplus dan Their pada tahun 1967.
Bybee dkk, (1989) mengembangkan model pembelajaran learning cycle menjadi ‖lima fase, antara lain: (1) pembangkitan minat, menjelaskan, memperluas, dan evaluasi‖. Pada model ini, ‖tahap concept introduction dan concept application diistilahkan menjadi explanation dan
elaboration, sehingga model ini dikenal dengan learning cycle 5E‖ (Lorsbach, 2002). Pada fase
92
akan diajarkan melalui fenomena yang terjadi sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan dalam diri mereka.
Pada fase exploration, guru membagi kelompok dan menugaskan siswa agar mengumpulkan informasi untuk membuktikan hipotesis, melakukan pengamatan, dan berdiskusi serta menjawab pertanyaan dari guru. Pada fase explanation, siswa menjelaskan pengetahuan dan pemahaman konsep yang mereka peroleh menggunakan bahasa mereka sendiri. Pada fase elaboration, siswa menerapkan pengetahuan yang diperoleh ke dalam fenomena yang baru. Kemudian pada fase evaluation, guru mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa.
Model pembelajaran learning cycle 5E memiliki sifat saling bergantung antar fase untuk mencapai tujuan pembelajaran dan berpusat pada siswa (student centered). Hal tersebut sejalan dengan pendapat sumarni (2008) bahwa ‖pembelajaran menggunakan model learning cycle 5E berpusat pada siswa, memberikan kesempatan dan keleluasaan untuk menemukan sendiri cara belajarnya‖. Karakteristik model pembelajaran learning cycle 5E yakni guru lebih banyak bertanya daripada memberikan penjelasan dan berorientasi pada keaktifan siswa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Soeprodjo (2007) bahwa ‖pembelajaran menggunakan model learning cycle 5E berorientasi pada keaktifan siswa‖.
Pembelajaran dengan menggunakan ‖model learning cycle 5E memiliki beberapa keuntungan, antara lain: (1) siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna‖ (Budiasih dan widiarti, β00γ); (β) ‖siswa lebih tertarik mengikuti pembelajaran karena terjadi komunikasi timbal balik antara guru dan siswa‖ (Budiasih dan Widiarti, 2003). Utami (2012) menambahkan beberapa keuntungan penggunaan model pembelajaran learning cycle 5E yaitu: (1) membantu siswa mengembangkan sikap ilmiah; (2) merangsang siswa untuk mengingat kembali materi pelajaran sebelumnya; (3) melatih siswa belajar menemukan konsep melalui kegiatan eksperimen; (4) memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, mencari, menemukan, dan men-jelaskan contoh penerapan konsep yang telah dipelajari; (5) guru dan siswa dapat menjalankan tahapan-tahapan pembelajaran yang saling mengisi satu sama lainnya.
Alasan pemilihan model pembelajaran learning cycle 5E karena memiliki ‖keuntungan yakni berpengaruh terhadap hasil belajar siswa‖ (Kusmariyatni, β01β). Hal tersebut ditunjukkan dari nilai rata-rata yang dibelajarkan dengan model pembelajaran learning cycle 5E adalah 23,11 lebih besar dari nilai rata-rata yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional adalah 14,03. Berdasarkan nilai rata-rata yang diperoleh siswa menunjukkan bahwa ‖terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara yang dibelajarkan dengan model
learning cycle 5E dan yang dibelajarkan dengan model konvensional‖ (Kusmariyatni, 2012). Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Soeprodjo (2007) bahwa ‖model pembelajaran
learning cycle 5E memberikan pengaruh terhadap hasil belajar secara signifikan‖.
Model pembelajaran learning cycle 5E yang bersifat konstruktivistik ini dapat diterapkan pada materi pembelajaran geografi yang bersifat teoritis atau konseptual, karena bentuk-bentuk pertanyaan pada fase ke dua sampai fase ke lima sifatnya esensial. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Lawson (1989) bahwa ‖pembelajaran learning cycle 5E cocok digunakan dalam mengajarkan materi yang banyak melibatkan konsep‖. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian menggunakan model pembelajaran learning cycle 5E akan diterapkan pada materi lithosfer, karena materi tersebut lebih banyak melibatkan konsep.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka disusun suatu rumusan masalah yakni ‖apakah model pembelajaran learning cycle 5E berpengaruh terhadap hasil belajar Geografi siswa SMA Negeri 8 Malang?‖. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran
learning cycle 5E terhadap hasil belajar Geografi siswa SMA Negeri 8 Malang. Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut: (1) Bagi guru geografi, dapat digunakan untuk pengembangan keprofesionalan sebagai guru dalam rangka perbaikan kualitas pembelajaran dikelas dan upaya peningkatan hasil belajar; (2) Bagi sekolah, memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kualitas pendidikan khususnya di SMAN 8 Malang; (3) Peneliti lain, memberikan sumbangan informasi di bidang ilmu pengetahuan, khususnya bidang studi
93
geografi bahwa model pembelajaran learning cycle 5E dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian sejenis dalam ruang lingkup yang lebih luas.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah quasi experiment (eksperimen semu). Penelitian ini dikatakan quasi
karena perlakuan yang diberikan pada subjek penelitian tidak dikendalikan sepenuhnya. Perlakuan ini juga tidak dilaksanakan terlalu ketat dan hanya terbatas pada pelaksanaan pembelajaran di kelas saja. Subjek penelitian ini dibagi menjadi 2 (dua) kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Kelompok eksperimen adalah kelompok yang mendapatkan perlakuan menggunakan model pembelajaran learning cycle 5E. Sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang mendapatkan perlakuan menggunakan metode penemuan (inquiry). Desain penelitian quasi experiment (eksperimen semu) ini adalah Nonequivalent control group design, karena penelitian ini memiliki dua kelompok yang tidak di pilih secara acak.
Sebelum proses pembelajaran dimulai, di beri pretest untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Penelitian eksperimen ini mengukur apakah ada pengaruh hasil belajar menggunakan model pembelajaran learning cycle 5E pada proses pembelajarannya. Berikut tabel desain penelitian ‖Nonequivalent control group design‖.
Tabel 3.1 Rancangan Eksperimen Semu Kelompok Pre test Perlakuan Post test
Eksperimen O1 X O2
Kontrol O1 - O2
Sumber: Arikunto, (2008)
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa/i kelas X SMAN 8 Malang semester genap tahun ajaran 2013/2014. Kelas X3 ditetapkan sebagai kelas eksperimen dan kelas X1 ditetapkan sebagai kelas kontrol. Kelas X1 dan kelas X3 ditetapkan sebagai subjek penelitian karena siswa/i pada kedua kelas ini memiliki kemampuan yang sama atau setara berdasarkan nilai UAS dan telah di uji menggunakan uji-t dengan hasil tidak signifikan.Selain menetapkan dua kelas sebagai subjek penelitian, menetapkan satu kelas sebagai kelas ujicoba yaitu kelas X2 dengan jumlah siswa sebanyak 28 siswa. Kelas ujicoba ini berfungsi sebagai kelas uji instrumen. Hal ini dimaksudkan agar instrumen yang dipergunakan dalam penelitian benar-benar valid.
Instrumen penilaian hasil belajar dalam penelitian ini menggunakan tes esai berjumlah 5 soal. Soal uraian lebih tepat digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang telah mendapatkan perlakuan menggunakan model pembelajaran learning cycle 5E. Tujuannya adalah mengetahui kesesuaian soal dengan tujuan pembelajaran, ketetapan jumlah soal, dan kebenaran konsep yang digunakan. Analisis tersebut meliputi validitas butir soal, reliabilitas butir soal, tingkat kesukaran butir soal, dan analisis daya pembeda soal.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar. Tes dilaksanakan sebanyak dua kali yakni pretest dan posttes. Pretest dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sedangkan Posttes dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan akhir siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sesuai dengan rumusan masalah, metode analisis data dari bentuk penilaian quasi eksperiment (eksperimen semu) ini menggunakan metode statistik inferensial. Dalam metode statistik inferensial, terdapat statistik parametrik dan non parametrik. Maka dalam analisisnya penelitian ini menggunakan uji-t dengan taraf signifikansi 5%. Pengujian hipotesis didasarkan pada hasil perhitungan menggunakan SPSS 16.0 for windows.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran learning cycle 5E berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar geografi siswa SMA Negeri 8 Malang. Temuan
94
tersebut sejalan dengan temuan Kartini (β007) yakni ‖pembelajaran menggunakan model
learning cycle 5E mempunyai hasil belajar yang lebih baik daripada pembelajaran menggunakan metode ceramah‖. Pendapat senada juga disampaikan oleh Kusmariyatni (β01β) yang menemukan bahwa ‖terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara yang dibelajarkan dengan model learning cycle 5E dan yang dibelajarkan dengan model konvensional‖. Penelitian Purnajanti (β005) juga mengemukakan bahwa ‖model pembelajaran learning cycle5E berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa‖.
Penyebab model pembelajaran learning cycle 5E berpengaruh terhadap hasil belajar siswa diduga antara lain: pertama, siswa terlibat langsung dalam mengembangkan pengalaman belajarnya. Cahyo (2012) mengemukakan bahwa ‖salah satu keuntungan menggunakan model pembelajaran learning cycle 5E yakni siswa dapat mengembangkan pengalaman belajarnya dan melahirkan konsep mereka sendiri‖. Dalam pembelajaran ini siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dengan cara mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi mengkaitkan pengalaman pribadinya dengan informasi baru yang telah mereka dapatkan dari pembelajaran di kelas.
Kedua, pada fase engagement siswa mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari guru tentang beberapa kejadian atau fenomena kehidupan sehari-hari sesuai dengan materi yang akan dipelajari. Qarareh (β01β) mengemukakan bahwa ‖salah satu keuntungan menggunakan model
learning cycle 5E yakni terjadi perubahan konsepsi pada pikiran siswa karena pengaruh dorongan (motivasi) dan rasa keingintahuan siswa yang dibangun melalui pertanyaan tentang fenomena kehidupan sehari-hari‖. Dalam pembelajaran, guru membangkitkan minat dan menarik perhatian siswa agar terlibat dalam sebuah konsep yang baru melalui pertanyaan. Siswa diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan pada tahap eksplorasi.
Berdasarkan uraian di atas, maka keterampilan bertanya dalam rangka melakukan perubahan konsepsi pada pikiran siswa perlu dikembangkan dan dikelola dengan baik oleh guru untuk mendorong kemampuan berpikir siswa. Hamzah (2012) mengemukakan bahwa ‖keuntungan peningkatan kualitas bertanya yakni merangsang kemampuan berpikir siswa, membantu siswa dalam belajar, dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa‖. Namun hal tersebut dapat menurunkan minat belajar siswa apabila guru terlalu sering menjawab pertanyaannya sendiri, mengulang-uang jawaban, dan mengulang-ulang pertanyaan sendiri.
Ketiga, siswa menemukan konsep secara langsung dengan cara melakukan pengamatan dan mengumpulkan informasi melalui lembar kerja siswa. Cahyo (2012) mengemukakan bahwa ‖salah satu keuntungan penggunaan model pembelajaran learning cycle 5E yakni siswa dapat mengidentifikasi dan menemukan konsep secara langsung melalui hasil pengamatan berdasarkan sumber informasi (LKS)‖. Dalam pembelajaran, lembar kerja siswa dipergunakan sebagai petunjuk pelaksanaan pengamatan dan mengumpulkan informasi tentang materi pelajaran lithosfer. Keberhasilan ditandai oleh kemampuan siswa memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berdasarkan hasil diskusi yang disampaikan pada fase selanjutnya.
Keempat, siswa menjelaskan konsep menggunakan bahasa dan kalimatnya sendiri. Cahyo (β01β) mengemukakan bahwa ‖salah satu keuntungan menggunakan model pembelajaran
learning cycle 5E yakni siswa mampu menunjukkan pemahaman konseptual dan keterampilan proses yang telah dikuasai melalui penjelasan hasil pengamatan menggunakan bahasa dan kalimatnya sendiri‖. Pendapat tersebut diperkuat oleh Marek dan Methven (dalam Iskandar, β004) bahwa ‖siswa yang gurunya mengimplementasikan LC mempunyai keterampilan menjelaskan yang lebih baik dari pada siswa yang gurunya menerapkan metode ekspositori‖. Dalam pembelajarannya siswa menjelaskan pemecahan masalah atau memberikan jawaban kepada siswa yang lain menggunakan catatan hasil pengamatan dan membuat kesimpulan kegiatan eksperimen.
Kelima, pembelajaran berpusat kepada siswa (student centered) dan berorientasi pada keaktifan siswa. Turkmen dan Usta (β007) mengemukakan bahwa ‖pembelajaran menggunakan model learning cycle 5E berpusat pada siswa, memberikan kesempatan dan keleluasaan untuk menemukan sendiri cara belajarnya‖. Dalam pembelajaran, siswa terlibat langsung untuk mengkonstruksi pemahaman mereka sendiri menggunakan penalaran melalui diskusi kelompok,
95
dan guru berperan sebagai fasilitator dalam proses membangun pengetahuan tersebut. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Suparno (1997) bahwa ‖seorang guru berperan sebagai mediator dan fasilitator agar pembelajaran berjalan dengan baik‖.
Selain temuan utama, terdapat temuan tambahan dalam penelitian ini yang menarik untuk dibahas sekaligus menjadi kelebihan dari model pembelajaran learning cycle 5E, antara lain:
pertama, siswa menjadi lebih aktif ketika belajar menggunakan model pembelajaran learning cycle 5E. Fajaroh dan Dasna (β00γ) mengemukakan bahwa ‖tahapan-tahapan (fase) model pembelajaran learning cycle 5E memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam memahami konsep dengan cara bertanya, menjawab pertanyaan, dan mengemukakan pendapat‖. Temuan tersebut diperkuat oleh pendapat Cahyo (β01β) bahwa ‖sebagai akibat konstruksi mandiri, siswa dituntut aktif dan kreatif untuk mengaitkan ilmu baru yang mereka dapat dengan pengalaman mereka sebelumnya‖.
Kedua, pembelajaran menggunakan model learning cycle 5E menjadikan siswa lebih mudah memahami konsep. Cahyo (β01β) mengemukakan bahwa ‖siswa lebih mudah memahami materi pelajaran apabila pembelajarannya menggunakan model pembelajaran
learning cycle 5E, karena tahapan (fase) learning cycle 5E mengajak siswa mengkonstruksi ilmu barunya‖. Pendapat tersebut diperkuat oleh Fajaroh dan Dasna (β00γ) bahwa ‖penerapan model pembelajaran siklus belajar dalam pembelajaran menjadikan siswa lebih mudah memahami suatu konsep sehingga hasil belajar siswa lebih baik‖. Keberhasilan siswa dalam memahami konsep dibuktikan dari nilai rata-rata (gain score) kedua kelas tersebut, yaitu nilai
gain score kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol.
Ketiga, pembelajaran menggunakan model learning cycle 5E menjadikan siswa lebih percaya diri pada saat mengikuti pembelajaran, hal tersebut disebabkan pada fase elaboration
siswa diberikan kesempatan untuk menggunakan pengalaman mereka sendiri untuk melahirkan konsep baru. Cahyo (2012) mengemukakan bahwa ‖salah satu keuntungan penggunaan model pembelajaran learning cycle 5E yakni meningkatkan rasa percaya diri dengan cara memberikan kesempatan langsung kepada siswa untuk menemukan konsep melalui pengalaman belajar mereka‖. Penerapan model pembelajaran learning cycle 5E telah memberikan konstribusi yang optimal kepada siswa untuk mengkaitkan pengetahuan awal dengan informasi yang diterimanya setelah mengikuti pembelajaran di kelas.
Keempat, pembelajaran menggunakan model learning cycle 5E dapat meningkatkan sikap ilmiah siswa pada setiap pertemuan. Purnajanti (β005) mengemukakan bahwa ‖model pembelajaran learning cycle 5E dapat meningkatkan sikap ilmiah siswa‖. Pendapat tersebut diperkuat oleh temuan Dasna (β004) bahwa ‖model pembelajaran learning cycle 5E dapat meningkatkan kemampuan bekerja ilmiah/sikap ilmiah siswa‖. Hal ini disebabkan oleh keterlaksanaan fase-fase model learning cycle 5E, pada fase engagement siswa diberikan pertanyaan oleh guru untuk meningkatkan rasa ingin tahu terhadap materi yang akan dipelajari.
Kelima, model pembelajaran learning cycle 5E dapat meningkatkan daya ingat siswa. Hamzah (β01β) mengemukakan bahwa ‖kelebihan pembelajaran konstruktivisme yakni siswa dapat mengingat konsep lebih lama, karena siswa terlibat langsung dan aktif‖. Selain itu keterlibatan mereka secara terus-menerus membuat mereka menjadi paham, ingat, mempunyai keyakinan untuk melakukan hubungan sosialnya dengan baik.
Kendala yang dihadapi dalam penelitian ini antara lain: pertama, penyesuaian antara pelaksanaan pembelajaran dengan perencanaan alokasi waktu yang telah ditetapkan oleh sekolah. Alokasi pembelajaran geografi sering kali terbengkalai dengan jam istirahat, sehingga berpengaruh negatif terhadap fokus atau perhatian siswa. Kedua, hari libur sekolah yang panjang karena kegiatan Try Out UN, ujian sekolah, dan UN mengakibatkan pelaksanaan eksperimen berjalan kurang lancar.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran learning cycle 5E mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa. Hal tersebut dipengaruhi oleh karakteristik model
96
pembelajaran learning cycle 5E yang selalu memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan, menerapkan, dan menggunakan gaya belajar mereka dalam rangka memahami konsep materi lithosfer. Selain temuan utama, ditemukan pula kelebihan dan kelemahan tambahan penggunaan model pembelajaran learning cycle 5E.
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis memberikan saran kepada peneliti selanjutnya bahwa siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran learning cycle 5E harus dapat menghubungkan konsep yang baru dipelajari dan dipahami dengan konsep yang lain, karena setiap konsep yang baru dipelajari oleh siswa akan berdampak pada konsep yang telah difahami. Sebelum memulai proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran
learning cycle 5E, disarankan membuat suatu rancangan yang matang agar semua tahapan pelaksanaan model pembelajaran learning cycle 5E dapat berjalan dengan baik sesuai tujuan pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Akar, E. 2005. Effectiveness of 5E learning cycle model on student understanding of acid-base concepts. Dissertation Abstracts International, (Online), (http:etd.lib.metu.edu.tr/upload/12605747/index.pdf), diakses tanggal 13 mei 2013). Budiasih, E & Widiarti, H.R. 2003. Penerapan Pendekatan Daur Belajar (Learning cycle)
dalam pembelajaran mata kuliah praktikum kimia analisis instrumen. Jurnal pendidikan dan pembelajaran, Vol 10 (1), hal 70-78.
Bybee, R., Taylor, J., Gardner, A., Scotter, P., Powell, J., Westbrook, A., & Landes, N. 2006. The BSCS 5E Instructional Model: Origins and Effectiveness. A Report Prepared for the Office of Science Education National Institutes of Health: BSCS Colorado Springs, CO, (online), (http://science.education.nih.gov/houseofreps.nsf/Appendix), diakses tanggal 10 juni 2013.
Bybee, R.W., Buchwald, C.E., Crissman, S., Heil, D.R., Kuerbis, P.J., Matsumoto, C., and Mclnerney, J.D 1989. Science and technology education for the elementary years: Frameworks for the curriculum and intruction. Washington DC: National Center For Improving Science Education.
Cahyo, Agus. 2012. Panduan Apliksi Teori-teori Belajar Mengajar. Yogyakarta: DIVA Press. Fajaroh, F., Dasna, I.W. 2003. Penggunaan Model Pembelajaran Learning Cycle Untuk
Meningkatkan Motivasi Belajar Dan Hasil Belajar Kimia Zat Aditif Dalam Bahan Makanan Pada Siswa Kelas II SMU Negeri 1 Tumpang-Malang. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Volume 11 No. 2 Oktober 2004, halaman 112–122.
Fajaroh, Fauziatul dan I Wayan D. 2007. Pembelajaran Dengan Model Siklus Belajar(Learning Cycle). Tersedia di http://lubisgrafura.wordpress.com diakses tanggal 23/12/13 10:14. Hamzah, Uno. 2012. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara .
Iskandar, M. 2001. Pendekatan Pembelajaran Sains Berbasis Konstruktivis. Malang: Bayumedia Publishing.
Iskandar, S.M. 2004. Strategi Pembelajaran Konstruktivistik dalam Kimia. Malang: FMIPA UM.
Johnson, David W. 2012. Dinamika Kelompok, Edisi Kesembilan teori dan Aplikasi. Jakarta: PT INDEKS.
97
Kartini. 2007. Kefektifan Pembelajaran Menggunakan Model Learning Cyle dan Diagram Alir untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Laboratorium Universitas Negeri Malang pada Konsep Stokhiometri Larutan dan Larutan Penyangga. Tesis Tidak Diterbitkan . PPs. UM.
Kusmariyatni. 2012. Pengaruh Model Pembelajaran Learning Cycle 5E Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V di Gugus VII Kecamatan Buleleng. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Univeritas Pendidikan Ganesha.
Lawson, A. E. 1989. A Theory of Intruction: Using the Learning Cycle to Teach Science Concepts and Thinking Skills. NARST Monograph, Number One.
Lawson, A.E. 1995. Science Teaching and The Development of Thinking. California: International Thomson Publishing.
Lorsbach, A. W. 2002. The Learning Cycle asaTool for Planning Science Instruction. (Online), (http:www.coe.ilstu.edu/scienceed /lorsbach/257lrcy), diakses 24 Februari 2013).
Masykuri, M. 2012. Penerapan learning cycle 5E untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kartasura. Jurnal Pendidikan Kimia. Vol [1], hal 51-58.
Purnajanti, L. 2005. Implementasi Daur Belajar Terhadap Ketuntasan Kompetensi Dasar Dalam Pembelajaran Kimia Kelas X Semester Genap Tahun Ajaran 2004/2005 di SMA Negeri 2 Malang. Makalah dalam seminar nasional dan pembelajaran exchange experience of IMSTEP FMIPA. Malang: Universitas Negeri Malang.
Qarareh, Ahmed. O. 2012. The Effect of Using the Learning Cycle Method in Teaching Science on the Educational Achievement of the Sixth Graders. Int J Edu Sci,4(2):123–132. Tersedia pada
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&source=web&cd=2&cad=rja&ved=0CD0Q FjAB&url=http%3A%2F%2Fwwwkrepublishers.com.pdf diakses diakses tanggal 24 November 2013).
Setyowati, I. 2010. Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI-IPA