BAB II TINJAUAN PUSTAKA
G. Deskripsi Fokus Penelitian
Beberapa istilah atau konsep yang digunakan dalam penelitian ini yang perlu dideskripsikan sesuai dengan fakta empiris yang akan dibahas. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran atau pandangan tentang keterlibatan departemen akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing pada PT PLN (Persero) Unit Kantor Cabang Makassar.
Menyadari bahwa metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif, dengan instrument utama adalah peneliti sendiri maka istilah-istilah atau konsep yang digunakan dapat dijelaskan sebagai berikut:
Departemen Akuntansi PT. PLN (Persero)
Supervisor Pelayanan Supervisor
Pendapatan
Supervisor Administrasi dan Keuangan
Pengambilan Keputusan Outsourcing
Supervisor Cater
1. Departemen Akuntansi PT PLN (Persero), adalah manajer yang membawahi beberapa supervisor sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab yang diemban. Dalam hal ini sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku, di mana manajer departemen akuntansi melakukan koordinasi dengan supervisor yang ada di lingkungan Unit Kantor Cabang Makassar. Penelitian ini membatasi 4 (supervisor), yaitu supervisor pendapatan, supervisor pelayanan, supervisor pembacaan meter (Cater), dan supervisor administrasi dan keuangan.
2. Supervisor Pendapatan, adalah salah satu bagian yang memegang peran penting dalam rangka mengatur dan mengawasi pendapatan dan belanja atau keluar masuk data PT. PLN (Persero) Unit Kantor Cabang Makassar. Dalam hal ini, untuk memperoleh data dan informasi terkat dengan transaksi otomatis, rencana cash inflow, arus dana receipt di tempat-tempat pembayaran melalui Loket, KUD, Bank, dan lain-lain.
3. Supervisor Pelayanan, yaitu bertugas untuk mengevaluasi Data Indut Langganan (DIL), dan mengusulkan perbaikannya atau standarisasi data, untuk perbaikan berkelanjutan. Dengan kata lain, salah satu kepuasan masyarakat khususnya pelanggan adalah pelayanan prima, efisien dan efektif. Olehnya itu, supervisor pelayanan memiliki peran dan tanggung jawab penting dan kompleks sehingga perlu didukung oleh supervisor atau bagian lain yang saling terkait. Selain itu, juga mengelola proses pencatatan penerimaan, tagihan susulan dan pendapatan operasi lainya untuk pertanggunjawaban kerja sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
4. Supervisor Pencatatan Meter (Cater), merupakan salah satu bagian yang tidak kalah pentingnya dengan bagian terutama mengevaluasi efektifitas dan efesiensi
pencatatan meter, menyusun metode dan pola pembacaan meter, membentuk dan memelihara Route Baca Meter (RBM). Dalam Supervisor Cater sebagai salah satu sub yang sering menampung, mengevaluasi dan melaporkan kepada Manajer Unit PLN untuk ditindaklanjuti sesuai dengan harapan masyarakat.
5. Supervisor Administrasi dan Keuangan, memiliki tanggung jawab yang sangat kompleks karena terkait dengan semua bidang, unit dan sub dalam lingkungan unit kantor cabang PT. PLN (Persero) Unit Kantor Cabang Makassar. Seperti dietahui bahwa supervisor administrasi dan keuangan memilii tugas mengetahui keluar masuknya uang pendapatan atau pun pembiayaan dan juga kegiatan yang menyangkut pekerjaan pegawai.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi PT. PLN (Persero) Unit Kantor Cabang Kota Makassar sekaligus sebagai objek penelitian. Pengambilan lokasi penelitian ini didasarkan atas beberapa pertimbangan, antara lain:
1. Listrik merupakan Sumber Daya Energi siap pakai yang dikonversi dari bentuk energi primer melalui teknologi. Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, listrikpun berkembang menjadi kebutuhan primer. Hal ini tidak dapat dipungkiri, ketergantungan masyarakat masa kini terhadap penggunaan listrik memang sangat tinggi.
2. Perusahaan Listrik Negara (PLN) adalah salah satu sektor pelayanan publik yang dewasa ini mendapat banyak sorotan dan keluhan dari masyarakat atau pelanggan termasuk PLN Unit Kantor Cabang Makassar. Hal ini mengingat PLN sebagai perusahaan yang sekaligus menyediakan produk/jasa, PT. PLN (Persero) harus memberikan pelayanan yang berkualitas, yaitu pelayanan yang sesuai dengan harapan masyarakat khususnya pelanggan sehingga dapat memuaskan para pelanggannya. Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih tiga bulan, yaitu bulan September sampai dengan November 2016.
B. Pendekatan dan Tipe Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe peneitian fenomenologi, yang bertujuan untuk menjelaskan secara deskriptif berdasarkan fakta empirik atau fenomena-fenomena yang terjadi pada PT PLN (Persero) Unit
36
Kantor Cabang Makassar. Dengan demikian, pendekatan (jenis penelitian) yang peneliti gunakan adalah kualitatif yaitu ingin mendeskripsikan masalah yang diteliti melalui observasi dan wawancara dalam bentuk narasi, cerita atau kata-kata dan/ atau kalimat sesuai dengan fakta yang diperoleh.
Dalam dunia pendidikan pendekatan penelitian yang terkenal terbagi menjadi dua penelitian yaitu kualitatif dan kuantitatif. Dalam penulisan skripsi ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, yakni penelitian ini lebih menekankan pada makna dan proses daripada hasil suatu aktivitas. Untuk melakukan penelitian seseorang dapat menggunakan metode penelitian sesuai dengan tujuan, kegunaan dan kemampuan yang dimilikinya.
C. Informan Penelitian
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa, penelitian ini menggunakan metode atau pendekatan kualitatif di mana untuk mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan, peneliti menggunakan informan atau nara sumber yang kredibel untuk memberikan keterangan atau jawaban sesuai dengan fakta empirik yang diteliti. Menyadari hal tersebut, informan penelitian ini sebanyak 9 (sembilan) orang, terdiri dari 7 (tujuh) orang petugas PLN dan 2 (dua) orang pelanggan (masyarakat) di mana penentuan informan dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan atau alasan tertentu. Misalnya; memahami masalah pokok yang dibahas dan menguasai budang tugas serta tanggung jawab yang diemban, sehingga memberikan keterangan atau jawaban (data) yang dibutuhkan. Untuk lebih jelasnya dapat disimak tabel tentang identitas informan atau nara sumber yang dipilih pada penelitian ini sebagai berikut:
Tabel 3.1 Daftar Informan (Nara Sumber) Penelitian
No. Nama Umur Insial Pekerjaan/Jabatan
1 Agus Salim 50 AS Manager Unit PLN
2 Andi Peara Soping 45 AP Supervisor Pendapatan
3 Ernasanti 46 ES Supervisor Pelayanan
4 Antonius Maluda 43 AM Supervisor Cater
5 Sitti Rohani 44 SR Supervisor Adm & Keuangan 6 Syarifuddin Bundu 48 SB Departemen Akuntansi
7 Noor Syamsi 45 NS Supervisor Makassar Selatan
8 Rahmawati 47 RW Ibu Rumah Tangga
9 Abdul Muis 55 AM Tokoh Masyarakat
Sumber: Penentua Informan (Nara Sumber) Penelitian, Agustus 2016.
D. Jenis dan Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Data primer, Indrianto dan Supomo (2006) menjelaskan bahwa data primer merupakan sumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidakmelalui data perantara). Data primer dapat berbentuk opini subjek atau orang secara individu atau kelompok yang diperoleh dari penelitian lapangan yang menjadi objek penelitian dengan menyebarkan, hasil observasi, kejadian atau kegiatan. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui kuesioner.
2. Data sekunder, Indrianto dan Supomo (2006) menjelaskan bahwa data sekunder adalah data yang dikumpulkan dari sumber lain dengan pendekatan studi kepustakaan. Data sekunder dapat diperoleh melalui literatur-literatur, buku-buku, catatan danlaporan historis yang telah tersusun dalam arsip atau data dokumenter yang dipublikasikan maupun dokumen perusahaan yang berhubungan dengan objek penelitian selama tahun 2009. Data sekunder penelitian ini berasal dari informasilaporan periodik perusahaan, yaitu laporan jumlah pelanggan dan laporan jumlahpiutang pelanggan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Ada dua pendekatan penelitian, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif di mana dalam peneliti lebih menekankan pada makna dan proses daripada hasil suatu aktivitas. Untuk melakukan penelitian seseorang dapat menggunakan metode penelitian tersebut. Sesuai dengan masalah, tujuan, kegunaan dan kemampuan yang dimilikinya. Menurut Bagman dan Taylor mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskripsi berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Dalam rangka memperoleh data yang dibutuhkan, maka teknik pengumpulan dapat yang digunakan meliputi:
1. Observasi, yaitu penulis melakukan pengamatan langsung kepada objek yang diteliti, yaitu aktivitas keterlibatan departemen akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing PT PLN (Persero) Kantor Cabang Makassar.
2. Wawancara, adalah penulis melakukan wawancara langsung terhadap informan yang telah ditentukan sesuai dengan pedoman wawancara untuk memberikan jawaban atau informasi (data) yang dibutuhkan.
3. Dokumentasi, dalam hal ini penulis menelaah dokumen atau arsip terkait dengan aktivitas keterlibatan departemen akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing PT PLN (Persero) Kantor Cabang Makassar.
F. Teknik Analisis Data
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, teknik analisis data yang digunakan ialah deskriptif kualitatif yakni menjelaskan secara komprehensif (menyeluruh) data yang diperoleh dalam bentuk narasi berdasarkan fakta yang diperoleh di lapangan. Secara umum
penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami dunia makna yang disimbolkan dalam perilaku masyarakat menurut perspektif masyarakat itu sendiri.
Penelitian kualitatif adalah salah satu metode untuk mendapatkan kebenaran dan tergolong sebagai penelitian ilmiah yang dibangun atas dasar teori-teori yang berkembang dari penelitian dan terkontrol atas dasar empirik. Jadi dalam penelitian kualitatif ini bukan hanya menyajikan data apa adanya melainkan juga berusaha menginterpretasikan korelasi sebagai faktor yang ada yang berlaku meliputi sudut pandang atau proses yang sedang berlangsung. Menurut Lexy J.
Moleong berdasarkan pada pondasi penelitian, paradigma penelitian, perumusan masalah, tahap-tahap penelitian, teknik penelitian, kriteria, teknik pemeriksaan, analisis, dan penafsiran data.
Berpijak dari penelitian di atas yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana keterlibatan departemen akuntansi dalam pengambilan keputusan Outsourcing pada PT PLN (Persero) Unit Kantor Cabang Kota Makassar. Pada hakikatnya penelitian kualitatif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek dengan tujuan membuat deskriptif, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat tentang fenomena yang diteliti.
BAB IV
GAMBARAN UMUM OBJEK DAN LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Berdirinya PT. PLN (Persero) Kantor Cabang Kota Makassar Sejak tahun 1914 untuk pertama kalinya Kota Makassar mengenal dan memanfaatkan energi yang bertenaga uap (mesin uap) yang berlokasi di pelabuhan Makassar. Pada tahun 1925 dengan mengikuti perkembangan dan kebutuhan akan listrik dibangunlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berlokasi di Sungai Jeneberang Pandang-Pandang Sungguminasa, Kabupaten Gowa dengan kapasitas 2 x 1000 kw yang dikelola NV. NIGEM.
Pada tahun 1948 mulai dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD) dengan daya terpasang 8.110 kw yang berlokasi di Bontoala Makassar. Dengan meningkatnya kebutuhan akan listrik, maka dalam hal ini PLN merencanakan membangun PLTU sebanyak 2 unit dengan daya terpasang 12,5 MW. Pada tahun 1962-1963 Pemerintah mengadakan studi kelayakan oleh Departemen PUTL dan Energainvest Yugo. Pada tahun 1966 dimulai pembangunan PLTU yang berlokasi di Tello (Data Dokumentasi, PT PLN (Persero) Cabang Makassar, Oktober 2016).
PLTU Tello mulai beroperasi dan diresmikan oleh Presiden RI, Soeharto pada tahun 1973, dipasang 2 buah mesin diesel dengan daya terpasang masing-masing sebesar 2,84 MW yang berlokasi di dekat PLTU Tello. Pada tahun 1976, tepatnya bulan Juni dibentuk unit-unit sektor Tello. Dengan nama PLN Wilayah VIII dengan unit asuhan PLTD Bontoala dan Gardu Induk Transmisi. Pada tahun yang sama PT. PLN Wilayah VIII Sektor Tello mendapat tambahan 1 unit PLTG
41
dengan daya terpasang 14,66 MW. Dengan berkembangnya pembangunan di Kota Makassar, serta sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat, PLN mendapat tambahan beberapa pembangkit, yaitu:
1. Tahun 1982 dibangun 2 unit PLTG Alston dengan daya terpasang 21,35 MW.
2. Tahun 1984 dibangun 2 unit PLTD Mitsubishi dengan daya terpasang 2 x 12,6 MW.
3. Tahun 1989 dibangun 2 unit PLTD SWD dengan daya terpasang 2 x 12,4 MW.
4. Tahun 1997 di bangun 2 unit PLTG GE dengan daya 2 x 33,4 MW.
Dalam menyalurkan saluran energi dan pembangkit-pembangkit yang berada di lingkungan kerja PT. PLN Makassar kepada pelanggan, serta untuk menunjang dan mengantisipasi peningkatan beban pada daerah-daerah baru, maka tahap pertama sejak tahun 1969 dibangun saluran transmisi sistem tegangan 30 KV dan Gardu Induk (Tello, Bontoala, Kalukuang, Sungguminasa, Parangloe, Mandai, dan Tonasa I). Selanjutnya di bangun saluran transmisi sistem tegangan 70 KV dan sistem tegangan 150 KV dan Gardu Induk (Pangkep, Tonasa II, Daya, Tello, dan Tello Lama) serta perluasan Gardu Induk Existing.
Pusat-pusat pembangkit PT. PLN Makassar dapat beroperasi dalam sistem kelistrikan Sulawesi-Selatan yang terinter koneksi dengan PLTA Bakaru, PLTG Sengkang, PLTD Suppa serta Unit Sektor Tello. Sedangkan peraturan beban sistem kelistrikan Sulawesi-Selatan dikelola oleh Unit Pengaturan Beban. Berikut ini data-data Unit Pembangkit PT PLN (Persero) Sektor Tello (PT PLN Wilayah VIII), di mana salah satu wilayah kerja adalah PT PLN (Pesero) Unit Kantor Cabang Makassar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel berikut:
Tabel 4.1 Data Unit Pembangkit PT. PLN (Persero) Sektor Tello (Makassar) Jenis Pembangkit
Unit Tello Merk Daya Terpasang Tahun Mulai Operasi
Sumber: Dokumentasi PT. PLN (Persero) Cabang Makassar, Oktober 2016.
PT. PLN (Persero) Wilayah Sulseltra-bar Sektor Tello terletak pada bagian timur Kota Makassar, tepatnya di Jalan Urip Sumoharjo Kilometer 7. Letak PT.
PLN (Persero) yang tidak berada pada pusat kontrol merupakan letak yang cukup strategis dimana aktivitas PT. PLN (Persero) adalah melakukan produksi untuk menghasilkan daya, sehingga aktivitas tersebut tidaklah terganggu masyarakat khususnya di Makassar. Meskipun tidak berada di pusat kota namun PT. PLN (Persero) Sektor Tello dapat dijangkau denganmudah melalui transportasi umum maupun pribadi.
PT. PLN (Persero) Cabang Makassar mempunyai luas wilayah kerja 5.372,4 km2, yang meliputi: Kota Makassar, Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar, dengan total 35 unit kerja, masing-masing terdiri dari 4 Unit Rayon, 6 Unit Ranting, 15 Unit Kantor Jaga
dan 11 Unit Lisdes. Semua wilayah tersebut mendapatkan suplai tenaga listrik dari 12 Gardu Induk tersebar yang dihubungkan dari Sistem Sulsel dengan jaringan Transmisi 150, 70 dan 30 KV. Beban puncak pada sistem Sulsel yang mencatut wilayah kerja Cabang Makassar sebesar 222 MW. Selain dari sistem Sulsel, PT. PLN (Persero) Wilayah Sulsel-Sultra Cabang Makassar mensuplai masyarakat kepulauan dengan Pembangkit sendiri (diesel/isolated) pada 11 pulau yang tersebar di Makassar, kabupaten Pangkep dan Takalar. Berikut merupakan tahun-tahun penting dalam sejarah kelistrikan pada PLN Cabang Makassar.
Tahun 1914 Pengusahaan ketenagalistrikan di Kota Makassar dan sekitarnya sudah ada (zaman penjajahan Belanda di Indonesia). Saat itu penyediaan tenaga listrik dikelola oleh suatu lembaga yang disebut Electriciteit Weizen.
Konon pembangkit listrik di Kota Makassar yang pertama kali terpasang, yaitu sekitar tahun 1914 dengan menggunakan mesin uap yang berlokasi di pelabuhan Makassar. Sejalan dengan pertumbuhan kota yang diikuti dengan meningkatnya kebutuhan akan tenaga listrik, pada tahun 1925 dibangun Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) di tepi sungai Jeneberang daerah Pandang-pandang, Sungguminasa. PLTU tersebut berkapasitas 2000 KW. Sejarah mencatat bahwa PLTU Pandang-pandang Sungguminasa ini hanya mampu beroperasi hingga tahun 1957.
Tahun 1975 menindaklanjuti momentum Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, sebagai dampak perkembangan politik pemerintahan Negara Kesatuan RI, pertengahan tahun 1975 pengusahaan ketenagalistrikan di Kota Makassar dinasionalisasi. Pengusahaan ketenagalistrikan selanjutnya
diserahkan kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) Makassar. PLN Makassar inilah yang kita kenal dewasa ini. PLN Makassar memiliki wilayah operasi pengusahaan terbatas hanya di Kota Makassar. Adapun di daerah-daerah di luar Kota Makassar antara lain Majene, Bantaeng, Bulukumba, Watampone, dan Kota Palopo untuk pusat pembangkitannya ditangani oleh PLN Cabang Luar Kota sedangkan pendistribusiannya dilaksanakan oleh PT. Maskapai untuk perusahaan-perusahaan Setempat (PT. MPS)
Tahun 1961 PLN pusat di Jakarta membentuk unit PLN Exploitasi IV dengan wilayah kerja meliputi Propinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara yang berkedudukan di Makassar. Dengan dikeluarkannya Surat Edaran PLN Pusat No.
076/PST/1967 tentang klasifikasi bagi Kesatuan-kesatuan Perusahaan Listrik Negara maka PLN Cabang Luar Kota tidak dapat dimasukkan klasifikasi dalam organisasi sebagai Cabang. Oleh karena itu berdasarkan Surat Keputusan Pemimpin PLN Exploitasi IV No. 001/E.VI/1986 PLN Cabang Luar Kota dibubarkan. Serentak dengan itu segala sesuatunya diserahkan dan ditangani PLN Exploitasi VI. Dalam perkembangan selanjutnya PLN Exploitasi VI selain membawahi beberapa unit PLTD juga membawahi unit PLN Cabang Makassar dan PLTU Makassar yang diresmikan pada tahun 1971 oleh Presiden Soeharto. Sementara PLN Cabang Makassar membawahi unit-unit kerja antara lain PLN Ranting Sengkang , Watansoppeng, kendari serta unit pengusahaan pembangkit yaitu PLTD Bontoala.
Tahun 1972 Pemerintah RI mengeluarkan PP. 18 tahun 1972 tentang perusahaan Umum Listrik Negara yang mempunyai arti penting bagi PLN
karena merupakan dasar hukum perubahan status dari Perusahaan Negara menjadi Perusahaan Umum dan Tenaga Listrik No. 01/PRT/1973 tentang Struktur Organisasi dan Pembagian Tugas Perusahaan Umum Listrik Negara, PLN Exploitasi VI berubah namanya menjadi PLN Exploitasi VIII. Sebagai tindak lanjut Peraturan Menteri tersebut, Direksi PLN mengeluarkan SK.No.050/DIR/1973 tanggal 20 Oktober 1973 tentang Struktur Organisasi dan Tugas-tugas Pokok Perum Listrik Negara Exploitasi VIII yang di dalamnya terdapat unit pelaksana yaitu Sektor Tello dan Cabang Ujung Pandang.
Tahun 1990 Melalui Peraturan Pemerintah No 17, PLN ditetapkan sebagai pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan, dan pada tahun 1992, Pemerintah memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan tenaga listrik. Sejalan dengan kebijakan di atas maka pada bulan Juni 1994 status PLN dialihkan dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).
B. Visi dan Misi PT PLN (Persero) Unit Kantor Cabang Makassar Visi:
1. Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang bertumbuh kembang. Unggul dan Terpercaya dengan bertumpu pada Potensi Insani.
2. Menjadi unit pembangkitan yang andal, efisien dan berwawasan lingkungan.
Misi:
1. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan, dan pemegang saham.
2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media unguk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
3. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.
5. Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia.
6. Melaksanakan pemeliharaan yang berorientasi kepada ”On Condition Base Maintenance” serta selalu mengikuti dan memperlihatkan buku petunjuk
pabrik dan pengalaman operasi.
7. Memantau dan mengendalikan secara terus menerus pengaruh operasi pembangkitan terhadap mutu.
8. Kecelakaan nihil.
C. Struktur Organisasi dan Job Deskription 1. Struktur Organisasi
2. Job Description
a. Manager Cabang, mempunyai tugas
1) Merumuskan sasaran kerja dan konsep kebijakan teknis cabang berdasarkan program kerja dan target pengusahaan sesuai kebijakan.
Manager
2) Merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, mengendalikan tugas-tugas dan sumber daya di lingkungan Cabang agar efektif dan efisien.
3) Mengaanlilis dan mengevaluasi kinerja cabang dalam rangka mencapai target-target yang telah ditetapkan.
4) Mengarahkan, mengendalikan, dan mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan palayanan pelanggan, pembangkitan, pendistribusian tenaga listrik, serta pemeliharaan dan pembangunan sarana pendistribusian tenaga listrik.
b. Supervisor Pendapatan
1) Memantau proses transaksi otomatis
2) Membuat rencana cash inflow dengan mengacu pada RAKP.
3) Mamantau arus dana receipt di tempat-tempat pembayaran (Loket, KUD, Bank).
c. Supervisor Pelayanan
1) Mengevaluasi Data Indut Langganan (DIL) dan mengusulkan perbaikannya atau standarisasi data, untuk perbaikan berkelanjutan.
2) Mengelola proses pencatatan penerimaan BP, UJL, tagihan susulan P2TL dan pendapatan operasi lainya untuk pertanggunjawaban kerja.
d. Supervisor Cater
1) Mengevaluasi efektifitas dan efesiensi pencatatan meter.
2) Menyusun metode dan pola pembacaan meter.
3) Membentuk dan memelihara Route Baca Meter (RBM).
e. Supervisor Administrasi dan Keuangan
1) Mengetahui keluar masuknya uang pendapatan atau pun pembiayaan dan juga kegiatan yang menyangkut pekerjaan pegawai.
2) Menyusun metode dan pola keluar masuknya uang pendapatan atau pun pembiayaan dan juga kegiatan yang menyangkut pekerjaan pegawai.
3) Membentuk dan memelihara laporan keluar masuknya uang pendapatan atau pun pembiayaan dan juga kegiatan yang menyangkut pekerjaan pegawai.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dijelaskan di atas, menunjukkan bahwa dipilihnya PT. PLN (Persero) sebagai obyek penelitian atas dasar pertimbangan “listrik merupakan infrastruktur yang penting bagi kualitas hidup manusia juga sebagai penunjang berbagai kegiatan perekonomian. Selain itu, pembangunan ekonomi yang berkembang dengan cepat menuntut PT. PLN (Persero) untuk menyediakan tenaga listrik dalam berbagai kebutuhan industri, ekonomi, perdagangan, pemerintahan dan bagi masyarakat luas.
PT. PLN (Persero) sebagai salah satu BUMN yang kegiatan utamanya dalam penyediaan tenaga listrik tersebut tentunya rentan terhadap isu-isu maupun sentiment negatif dari masyarakat yang terkait dengan dampak sosial yang ditimbulkan perusahaan. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri BUMN No.
Per-05/MBU/2007 menyatakan maksud dan tujuan pendirian BUMN tidak hanya mengejar keuntungan melainkan turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi dan masyarakat.
Senada dengan hal menurut salah satu informan (Manajer PT. PLN (Persero) Unit Kantor Cabang Kota Makassar, wawancara tentang keterlibatan bidang (Departemen Akuntansi), mengatakan bahwa:
“PT. PLN (Persero) untuk melakukan program-program yang terkait dengan departemen akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing, dijelaskan bahwa efektivitas sistem akuntansi sebagai suatu metode dan standar yang digunakan dalam mengumpulkan, mengklasifikasi, mencatat dan meringkas peristiwa-peristiwa bisnis dan transaksi untuk didistribusikan kepada PT.
PLN” (Hasil wawancara dengan AS-50, tanggal 15 Oktober 2016).
50
Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa, efektivitas sistem akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing mengacu pada seberapa besar pertimbangan fokus biaya, penggunaan metode diskonto (DFC), dan penilaian resiko digunakan dalam pengambilan keputusan outsourcing. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa, fokus penelitian ini lebih banyak pada kinerja karyawan outsourcing pada PT. PLN (Persero) Unit Kantor Cabang Makassar.
Selain itu juga difokuskan pada pengambilan keputusan outsourcing terutama dilihat dari segi efektivitas tugas dan tanggung jawab sistem akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing masih belum banyak diminati.
Lebih lanjut dijelaskan oleh informan lain (Supervisor Pendapatan) PT. PLN (Persero) Unit Kantor Cabang Kota Makassar, terkait dengan struktur organisasi dan perubahan sistem birokrasi yang telah memberikan dampak posisitif, di mana
Lebih lanjut dijelaskan oleh informan lain (Supervisor Pendapatan) PT. PLN (Persero) Unit Kantor Cabang Kota Makassar, terkait dengan struktur organisasi dan perubahan sistem birokrasi yang telah memberikan dampak posisitif, di mana