• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa, pelayanan keluhan pelanggan dalam suatu perusahaan ialah sangat penting dalam membangun citra baik suatu perusahaan. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 64 sampai dengan Pasal 66 UU Ketenagakerjaan dan putusan Mahkamah Konstitusi tahun 2004, menjadi legitimasi tersendiri bagi keberadaan outsourcing di Indonesia. Artinya, secara legal formal, sistem kerja outsourcing memiliki dasar hukum yang kuat untuk diterapkan. Keadaan demikian yang membuat pengusaha menerapkan sistem ini.

(Sumber: “Hadang Outsourcing dengan Framework Agreement”). Pada saat

menerima keluhan, penerima harus melihatnya sebagai kesempatan kedua untuk memuaskan pelanggan. Staff penerima harus: (1) Bersikap sopan dan berempati pada pelanggan; (2) Memastikan semua rincian keluhan telah dicatat dalam form keluhan; (3) Yakin bahwa informasi yang dicatat adalah factual; (4) Tidak mengakui kewajiban atau kesalahan pada tahap ini.

Sistem informasi akuntansi PT. PLN (Persero) adalah sekumpulan perangkat lunak dan perangkat keras yang membantu PT PLN untuk mengubah data menjadi informasi yang nantinya dikomunikasikan keberagam pengambilan keputusan. Prosedur penerimaan kas PT. PLN merupakan proses terjadinya penerimaan kas dari hasil penjualan rekening listrik. Prosedur penerimaan kas di PT PLN sudah terstruktur dengan baik. Sistem pengendalian internal yang dilakukan PT PLN meliputi struktur organisasi yang memisahkan tanggungjawab

fungsional secara tegas, sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap aktiva, hutang, pendapatan dan biaya, praktek yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit organisasi, dan karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawab.

Pendapatan merupakan hal yang penting dalam operasi suatu perusahaan, karena didalam melakukan suatu aktivitas usaha, perusahaan akan mengharapkan laba yang dipengaruhi oleh pendapatan dari aktivitas tersebut. Pendapatan juga merupakan faktor untuk menjamin kelangsungan hidup dan sekaligus merupakan ukuran keberhasilan suatu perusahaan dalam menjalankan operasinya.

Standar atau prinsip akuntansi yang mengatur penentuan atau pengukuran laba-rugi periodik, yaitu: prinsip realisasi pendapatan dengan prinsip-prinsip mempertemukan secara layak antara pendapatan dan biaya yang terkait. Didalam menetapkan prinsip realisasi, harus dipertimbangkan beberapa faktor termasuk saat, waktu, atau periode dan sifat pendapatan yang diakui. Di dalam menerapkan prinsip mempertemukan secara layak antara pendapatan dan biaya yang terkait, harus diidentifikasi biaya-biaya yang harus dipertemukan dengan pendapatannya.

Permasalahan utama di dalam akuntansi dalam hal pendapatan menentukan saat pengakuan pendapatan. Pendapatan diakui bila besar kemungkinan manfaat ekonomi masa depan akan mengalir ke perusahaan dan manfaat ini dapat diukur dengan andal. Pada dasarnya ada dua pendekatan terhadap konsep pendapatan didalam akuntansi, yaitu: pendekatan yang memusatkan perhatian pada arus masuk dari asset yang ditimbulkan oleh kegiatan operasional perusahaan, dan pendekatan yang memusatkan perhatian pada penciptaan barang dan jasa tersebut kepada konsumen atau produsen lain.

Terkait dengan perbedaan penghasilan dan biaya dapat membantu untuk memahami sebuah laporan laba rugi, maka diartikan sebagai kenaikan sumber-sumber perusahaan dengan penjualan barang atau jumlah asset yang dihasilkan melalui operasi usaha. Biaya adalah jumlah asset yang digunakan melalui kegiatan usaha untuk beban yang terjadi dalam kegiatan normal perusahaan untuk menghasilkan laba. Pendapatan adalah arus masuk atau penambahan lain atas harta suatu kesatuan atau penyelesaian suatu kewajiban selama satu periode dari penyerahan atau produksi barang, penyerahan jasa, atau aktivitas lain yang merupakan operasi utama kesatuan tersebut.

Kemudian dalam konsep pendapatan berhubungan dengan pertambahan di dalam sumber penghasilan suatu satuan usaha yang berasal dari penjualan barang dan jasa. Pertambahan tersebut diperoleh dari operasi normal perusahaan (PT.

PLN). Pendapatan juga diartikan sebagai penghasilan yang sudah direalisir yang berasal dari transaksi selama periode tertentu dengan harga pokok historis yang bersangkutan. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan menyebutkan tentang penghasilan sebagai berikut :

1. Penghasilan adalah Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan sebagai peningkatan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi tertentu dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Penghasilan (income) meliputi baik pendapatan (revenue) maupun keuntungan (gain).

2. Pendekatan kedua dalam konsep pendapatan yang memusatkan perhatian pada arus keluar menekankan bahwa dasar timbulnya pendapatan adalah

diawali dengan proses penciptaan barang atau jasa yang kemudian menimbulkan pendapatan bagi perusahaan. Pendapatan juga merupakan hasil usaha perusahaan, yakni penciptaan barang/jasa yang diperoleh atas usaha perusahaan secara keseluruhan melalui proses operasi yang terpadu.

Dari berbagai definisi pendapatan yang telah disebutkan sebelumnya, maka dapat diinterprestasikan bahwa pendapatan merupakan: (1) Arus masuk aktiva bersih sebagai hasil dari penjualan barang maupun jasa; (2) Arus keluar barang dan jasa dari perusahaan kepada konsumen.

Pendapatan diperoleh melalui transaksi dan kegiatan ekonomi dari penjualan barang, penjualan jasa, dan penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak-pihak lain.

Pendapatan dan laba diakibatkan oleh aktivitas-aktivitas perusahaan yang memanfaatkan faktor-faktor produksi untuk mempertahankan diri dan pertumbuhan seluruh aktivitas perusahaan yang menimbulkan income secara keseluruhan disebut Earning Process. Pendapatan umumnya diklasifikasikan atas pendapatan yang bukan berasal dari kegiatan normal perusahaan.

Penerima keluhan, bila perlu bersama manager-nya, harus memutuskan apakah ini merupakan masalah besar atau kecil berdasarkan temuan informasi yang tepat, dan analisa fakta yang ada. Masalah kecil dapat disebabkan oleh salah tafsir,kesalahpahaman, kesalahan rincian informasi, atau kecerobohan kecil. Masalah besar dapat meliputi pelanggaran hokum pidana, hal-hal yang berakibat burukpada kesehatan dan keselamatan, atau masalah keuangan.

1. Membangun kepemilikan dan tanggung jawab

Staff harus diberdayakan untuk mengambil tindakan yang tepat jika keluhan telah diakui kebenarannya dengan jelas, berada dalam wilayah

tanggung jawabnya, dan dapat segera diselesaikan. Jika keluhan tidak dapat diselesaikan oleh penerima, rincian pelanggan dan keluhannya harus dicatat dalam form yang telah tersediauntuk itu, dan segera mengirimkannya ke bagian atau tingkat tanggung jawab yang relevan. Pelanggan harus diberi tahu siapa yang berhubungan dengan keluhannya dan jawaban akan diberikan secepat mungkin dalam batas waktu tertentu. Sangat menjengkelkan bila pelanggan harus berhubungan dengan organisasi yang tidak jelas tanggung jawabnya, atau dilempar dari satu orang ke orang lainnya.

2. Menentukan prosedur eskalasi

Bila keluhan merupakan masalah besar, manager harus memutuskan tindakan yang tepat, dan hal ini dapat meliputi: (1) Berkonsultasi dengan otoritas yang lebih tinggi; (2) Membuat laporan kejadian secara rinci; (3) Menghubungi pengacara perusahaan; (4) Menghubungi polisi.

3. Menekankan kontak pelanggan untuk penyelesaian keluhan

Tindakan tepat untuk penyelesaian keluhan akan menjadi jelas setelah tingkat keseriusan dipahami dengan baik, dan analisa fakta dilakukan dengan benar. Penyelesaian masalah bukanlah waktu untuk negosiasi atau barter dengan pelanggan yang memiliki keluhan asli, bukan mengada-ada atau mencari kompensasi. Jika ada keterlambatan dalam menyelesaikan keluhan, pelanggan harus dihubungi secara berkala dengan interval waktu yang disetujui bersama.

4. Pastikan form keluhan pelanggan ditandatangani

Ketika keluhan telah diatasi untuk kepuasan pelanggan, penerima atau atasan harus menandatangani form keluhan pelanggan dan menyatakan

masalah selesai. Form ini selanjutnya diperlukan untuk analisa terhadap kecenderungan keluhan. Hal ini bisa jadi tidak ada penyelesaian yang memuaskan, bila pelanggan menuntut sesuatu yang “tidak masuk akal” atau diluar batas ketentuan perusahaan. Bila ini terjadi, mungkin perlu untuk: (1) beritahu pelanggan bahwa apa yang diinginkannya diluar kemampuan perusahaan; (2) pastikan langkah apa yang dapat diambil selanjutnya, dan (3) nyatakan bahwa hal ini akan dilaporkan ke managemen senior.

5. Putuskan tindakan korektif internal

Setelah berurusan dengan keluhan, putuskan apakah sistem, peralatan atau kemampuan personil yang memerlukan perbaikan. Uruslah keperluan perbaikan proses internal atau pelatihan sesegera mungkin setelah ada keluhan.

6. Bangun evaluasi kepuasan pelanggan

Setelah selang waktu yang tepat, misalnya dua minggu, hubungi kembal ipelanggan untuk memastikan bahwa keluhannya telah diselesaikan dengan memuaskan dan untuk memastikan bahwa mereka masih menjadi pelanggan yang loyal.

7. Analisis keluhan secara periodik

Semua forum keluhan harus disimpan oleh orang yang ditugaskan untuk itu, seorang manager harus bertanggungjawab untuk memantau sifat dan tingkat keluhan secara teratur. Hasil analisa ini, dan rincian tiap tindakan korektif, harus dilaporkan ke managemen senior secara teratur.

Menyadari hal tersebut, maka hal-hal yang perlu dan tidak perlu atau boleh dilakukan, adalah:

a. Membuat layanan pelanggan (Customer Service) sebagai bagian dari budaya perusahaan;

b. Berdayakan staff untuk menangani keluhan;

c. Jaga hubungan dengan pelanggan untuk memastikan bahwa keluhan mereka ditangani dengan memuaskan;

d. Analisa pola keluhan dan ambil tindakan perbaikan. Terima dan perlakukan keluhan secara positif.

Kesopanan, cepat tanggap dan sentuhan pribadi sangat penting. Pelanggan yang mengeluh dan mendapatkan ketiga hal tersebut biasanya akan tampil sebagai pelanggan yang lebih puas dari sebelumnya. Dan mereka akan bercerita kepada orang lain. Dimuatnya ketentuan outsourcing pada Undang-Undang Tenaga Kerja dimaksudkan untuk mengundang para investor agar mau berinvestasi di Indonesia. Penggunaan outsourcing seringkali digunakan sebagai strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada core business-nya. Namun, pada prakteknya outsourcing didorong oleh keinginan perusahaan untuk menekan cost hingga serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda walaupun seringkali melanggar etika bisnis.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah diuraikan di atas, maka perusahaan dari berbagai industri (sebagian besar) perusahaan di Indonesia menggunakan tenaga outsource, dan hanya sebagian kecil tidak menggunakan tenaga outsource dalam operasional di perusahaannya. Perusahaan termasuk PT.

PLN (Persero) yang menggunakan tenaga outsource dilandasi beberapa alasan menggunakan outsourcing, yaitu agar perusahaan dapat fokus terhadap core business, untuk menghemat biaya operasional, turn over karyawan menjadi

rendah, modernisasi dunia usaha dan lainnya, seperti telah dijelaskan di atas.

Adapun yang menjadi alasan lainnya adalah: (a) Efektifitas manpower; (b) Tidak perlu mengembangkan sumber daya manusia (SDM) untuk pekerjaan yang bukan utama; (c) Memberdayakan anak perusahaan, dan (d) Dealing with unpredicted business condition.

Outsourcing, tidak terlepas dari perusahaan penyedia (provider) jasa tenaga outsource. Perusahaan harus memilih provider yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan di mana perusahaan outsourcing tersebut harus teruji kualitas yang dijanjikan, serta adanya kesepatan untuk membuat hubungan jangka panjang.

Karena itu, perlu diketahui faktor-faktor yang menjadi pertimbangan.

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa harga menjadi faktor utama dalam pemilihan partner outsourcing sangat baik. Sedangkan reputasi yang baik dari provider outsource menempati posisi kedua baik. Untuk tenaga outsource yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan perusahaan, maka pengetahuan provider outsource terhadap proses bisnis perusahaan. Selain itu, pengalaman sebelumnya menempati posisi kelima dalam pemilihan partner outsourcing, diikuti stabilitas provider outsource dan lainnya. Adapun faktor-faktor lainnya adalah pemenuhan persyaratan ketentuan tenaga kerja dan penyerapan tenaga terdekat dengan unit kerja lain yang saling terkait.

Jenis pekerjaan yang dapat menggunakan outsourcing adalah pekerjaan-pekerjaan yang bukan merupakan tanggungjawab inti dari perusahaan. Adapun komposisi jenis pekerjaan yang paling banyak menggunakan tenaga outsource adalah cleaning service, security, driver, sekretaris, customer service, dan lain-lain, seperti telah dijelaskan sebelumnya. Untuk jenis pekerjaan lainnya terdiri

atas: (a) bagian pengepakan barang (packing); (b) helper baik untuk maintenance maupun mechanic; (c) facilitator training; (d) resepsionis/operator telepon; (e) data entry, dan (f) Call center.

Harus dipahami bahwa tidak semua perusahaan berhasil menerapkan sistem outsourcing. Hasil wawancara dengan beberapa informan sebagaimana telah diuraikan di atas, melihat indikator keberhasilan dalam penerapan outsourcing adalah pihak-pihak yang terlibat harus bertanggungjawab, mendukung, dan berkomitmen untuk melaksanakan outsourcing. Sedangkan sebagian menyatakan bahwa keberhasilan dilihat dari detail aturan main outsourcing didefinisikan dalam kontrak kerja. Untuk kejelasan ruang lingkup proses outsourcing yang ingin dilakukan menjadi faktor keberhasilan yang dipilih ialah sangat baik.

Update perjanjian antar pengguna dan penyedia tenaga outsource (baik), ada atau tidaknya prosedur formal dalam tender calon perusahaan outsourcing (kurang baik) dan jangka waktu penyelenggaraan outsourcing (tidak baik). Dengan melihat alasan menggunakan outsourcing, faktor-faktor pemilihan perusahaan penyedia jasa outsourcing, serta kepuasan perusahaan terhadap tenaga outsource, sebagian besar warga menyatakan bahwa penggunaan tenaga outsource dinilai efektif dan akan terus menggunakan outsourcing dalam kegiatan operasionalnya.

Selanjutnya agar lebih efektif disarankan adanya: (1) komunikasi dua arah antara perusahaan dengan provider jasa outsource (Service Level Agreement) akan kerjasama, perubahan atau permasalahan yang terjadi; (2) tenaga Outsource telah ditraining terlebih dahulu agar mereka memiliki kemampuan (ketrampilan), dan (3) memperhatikan hak dan kewajiban baik pengguna outsource maupun tenaga kerja yang ditulis secara detail dan mengingformasikan apa yang menjadi

hak-haknya. Sedangkan yang menyebabkan outsourcing menjadi tidak efektif adalah karena kurangnya knowledge, skill dan attitude (K.S.A) dari tenaga outsource.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah pelanggan PLN unit kantor cabang Kota Makassar terhadap efektivitas sistem akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar pelanggan unit kantor cabang, maka semakin besar efektivitas sistem akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing. Hal ini disebabkan karena unit kantor pusat yang lebih besar cenderung sulit atau lebih rumit untuk dikelola dan oleh karena itu membutuhkan sistem akuntansi yang lebih canggih.

Uraian di atas menunjukkan bahwa jumlah piutang pelanggan unit kantor pusat berpengaruh negatif dan signifikan terhadap efektivitas sistem akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing. Oleh karena itu semakin besar jumlah piutang pelanggan unit kantor pusat, semakin kecil efektivitas sistem akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing. Hal ini karena alasan pemeliharaan kualitas layanan diharapkan, unit kantor pusat dengan kualitas relatif tinggi (jumlah piutang pelanggan yang relatif rendah) akan menerapkan sistem akuntansi yang lebih canggih untuk membantu proses pengambilan keputusan outsourcing dan mengawasi kualitas layanan yang disediakan pemasok.

Hasil wawancara dari beberapa informan menjelaskan tingkat pendidikan infprman memiliki peran penting terhadap efektivitas sistem akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan responden unit kantor pusat, maka semakin besar kecanggihan sistem akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing, namun perbedaanya

tidak menunjukkan nilai yang signifikan. Hal ini dapat disebabkan karena pengaruh faktor lain, misalnya usia dan pengalaman atau lama bekerja karyawan

Pemecahan masalah (problem solving) terdiri atas respon terhadap hal yang berjalan baik, serta terhadap hal yang berjalan dengan buruk dan mendefinisikan masalah sebagai kondisi yang berbahaya terhadap perusahaan (bermanfaat) atau dapat memberikan manfaat. Dalam proses penyelesaian masalah manajer terlibat dalam proses pembuatan keputusan (decision making). Keputusan (decision) sebagai tindakan pilihan dan seringkali perlu untuk mengambil banyak keputusan dalam proses pemecahan satu masalah.

Perusahaan yang sepenuhnya menggunakan tenaga outsource merupakan jenis industri perbankan, kertas, jasa pendidikan, pengolahan karet dan plastik, serta industri makanan dan minuman. Sedangkan industri alat berat, mesin dan sarana transportasi (otomotif dan suku cadang) menggunakan tenaga outsource hanya sebagian besar). Untuk industri farmasi dan kimia dasar hanya sebagian menggunakan tenaga outsource, industri telekomunikasi dan informasi teknologi juga sebagian menggunakan tenaga outsource. Di samping itu, industri lainnya seperti industri jasa pemeliharaan pembangkit listrik, konsultan, dan enginering, procurement, construction (EPC), pengolahan kayu, kesehatan, percetakan dan penerbitan, serta elektronik. Jika dilihat dari status kepemilikan, diketahui bahwa BUMN seperti PT. PLN (Persero) adalah perusahaan Nirlaba yang menggunakan tenaga outsource secara utuh dalam kegiatan operasionalnya. Sedangkan untuk swasta nasional menggunakan tenaga outsource sesuai dengan kebutuhan, dan swasta asing menggunakan sebagian besar tenaga outsource.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Mencermati hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. PT. PLN (Persero) merupakan salah satu BUMN yang kegiatan utamanya adalah penyediaan tenaga listrik dan rentan terhadap isu-isu negatif dari masyarakat terkait dengan dampak sosial yang ditimbulkan. Olehnya itu, untuk melakukan program-program kerja yang terkait dengan departemen akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing melalui efektivitas sistem akuntansi sebagai suatu metode dan standar yang digunakan dalam mengklasifikasi, mencatat dan meringkas peristiwa-peristiwa dan transaksi untuk didistribusikan kepada unit-unit PLN yang ada di wilayah kerjanya.

2. Regulasi tentang tanggung jawab sosial perusahaan (PT. PLN) terkait dengan keterlibatan departemen akuntansi sebagai salah satu BUMN di Kota Makassar diatur dalam Peraturan Menteri Negara BUMN, bahwa Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil, selanjutnya disebut Program Kemitraan, adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN.

3. Outsourcing, tidak terlepas dari perusahaan penyedia (provider) jasa tenaga outsource. Perusahaan harus memilih provider yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan di mana perusahaan outsourcing tersebut harus teruji kualitas yang dijanjikan, serta adanya kesepatan untuk membuat hubungan jangka

76

panjang. Oleh karena itu, PT. PLN (Persero) khususnya unit kantor cabang Makassar harus mempertimbangkan secara sebelum mengambil keputusan.

4. Departemen Akuntansi PT. PLN (Persero) adalah subsistem akuntansi yang melaksanakan fungsi pemberian jasa kepada organisasi. Jasa yang diberikan akuntansi ialah mengolah data keuangan menjadi informasi yang bermanfaat dan membantu manajemen, kreditur, investor, dan pihak lainnya dalam aktivitas pengambilan keputusan. Jika akuntansi merupakan penghasil dari informasi, maka yang menjadi bahan baku adalah data yang bersangkutan dengan kegiatan akuntansi itu sendiri. Dalam hal ini data menjadi input adalah transaksi sehari-hari PT. PLN (Persero) Unit Kantor Cabang Kota Makassar.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas sebagai permasalahan pokok yang dibahas, maka peeliti memberikan saran-saran sebagai berikut :

1. Menyadari bahwa Kota Makassar merupakan persentase pembangunan dari Kawasan Indonesia Timur, maka untuk penanganan masalah termasuk listrik hal yang dilakukan adalah, Pertama, mengganti diesel dengan pembangkit listrik kecil berjumlah 70 unit. Kedua, mengadakan pembangkit listrik tenaga matahari besaran. Ketiga, membangun pembangkit mikro hidro besar-besaran di Sulawesi dan Papua. Tidak hanya masalah teknis yang dibenahi, tetapi juga birokrasi, yaitu dengan memangkas jalur pengambilan keputusan.

2. Agar lebih efektif keterlibatan departemen akuntansi dalam pengambilan keputusan outsourcing, maka disarankan adanya: (1) komunikasi dua arah antara perusahaan dengan provider jasa outsource (Service Level Agreement)

akan kerjasama, perubahan atau permasalahan yang terjadi; (2) tenaga outsource telah ditraining terlebih dahulu agar mereka memiliki kemampuan (ketrampilan), dan (3) memperhatikan hak dan kewajiban baik pengguna outsource maupun tenaga kerja yang telah disepakati (ditulis) secara detail dan mengingformasikan apa yang menjadi hak-haknya.

3. Agar lebih efektif maka disarankan adanya: (a) komunikasi dua arah antara perusahaan dengan provider jasa outsource (Service Level Agreement) akan kerjasama, perubahan atau permasalahan yang terjadi; (b) tenaga Outsource telah ditraining terlebih dahulu agar mereka memiliki kemampuan, dan (3) memperhatikan hak dan kewajiban baik pengguna outsource maupun tenaga kerja yang ditulis secara detail dan mengingformasikan apa yang menjadi hak-haknya. Sedangkan yang menyebabkan outsourcing menjadi tidak efektif adalah karena kurangnya knowledge, skill dan attitude (K.S.A) dari tenaga outsource.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiyos. 2007. Kamus Besar Akuntansi. Jakarta: Citra Harta Prima.

Augustine, Emilia., Winarto., Widodo, Arief. 2008. ”Pertimbangan-pertimbangan IT Outsourcing dan proses pemilihan vendor: Suatu kajian literatur”. The2nd National Conference UKWMS.

Handayati, P. dan Laksiani, T. 2008. Implementasi Corporate Social Responsibility sebagai Upaya Mengatasi Konflik Saluran Udara Ekstra Tinggi (SUTET) (Sdtudi Kasus pada PLN Kota Malang). Jurnal Penelitian Kependidikan, Tahun 18, Nomor 1

Hansen, Don R., Mowen, Maryanne M. 2005. Management Accounting 7thEdition.

Singapore: Thomson Learning.

Hasan, M. Iqbal. 2002. Teori Pengambilan Keputusan. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Lamminmaki, Dawne. 2008. “Accounting and the management of outsourcing:An empirical study in the hotel outsourcing”. Management Accounting Research 19, 163-181. Elseiver.

Luhgiatno. 2007. Akuntansi Sosial Bentuk Kepedulian Perusahaan Terhadap Lingkungan (Social Accounting is A Attention Corporate Model by Environment). Fokus Ekonomi, 2 (2): 1-16.

Priambada, Komang., Maharta, A. E. 2008. Outsourcing versus serikat pekerja?:An introduction of outsourcing. Jakarta: Alihdaya Media Network.

Richardus Eko Indrajit dan Richardus Djokopranoto. 2006. Proses Bisnis Outsourcing, Cetakan ke-3. Jakarta: Penerbit PT. Grassindo.

Sinaga, Pariaman, 2008. Menuju Pasar yang Berorientasi Pada Peilaku Konsumen.

Bahan Pertemuan Nasional tentang Pengembangan Pasar Internasional oleh Koperasi dan UKM.

Soemardi, B.W., Santoso, T.L. 2005. Kajian penerapan outsourcing pada perusahaan kontraktor dan konsultan”.Jurnal Teknik Sipil, vol 12.

Sondang P.Siagian. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Sugiyono, 2010. Metodelogi Penelitian Bisnis. Penerbit Alfabeta, Bandung.

Sunyoto, Danang. 2015. Manajemen dan Pengembangan Suber Daya Manusia : dilengkapi dengan Budaya Organisasi, Pengembangan Organoisasi, Outsourcing, Jakarta: Centyer for Academic Publishing Service (CAPS).

79

Suwardjono, 2010. Teori Akuntansi. Yogyakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Vagadia, Bharat. 2007. “Identifyng, understanding, and resolving legaloperational issues in outsourcing-Bharat Vagadia’s outsourcing to India: Alegal handbook”. International Law and Management Review, volume 4.

Wasrin, Rosalina. 2010. Paparan Kebijakan Kementerian BUMN. 2010. Program Corporate Social Responsibility (CSR). Bandung.

Widodo, Suparno Eko. 2015. Manajemen Pengembangan Suber Daya Manusia.

Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Winartie, H. dan Sujono. 2006. Penerapan Akuntansi Sosial Ekonomi Pada PT Pupuk Sriwidjaja: Suatu Penelitian Pendahuluan (Preliminary Research).

Fordema, 4(1): 749-770.

Yenfita, A. dan Handayani, D. Desember 2008. Implementasi Program “Corporate Social Responsibility” (CSR) PT. Semen Padang. Jurnal Akuntansi dan Manajemen 3(2):

RIWAYAT HIDUP

DIAN INDRIANI USMAN, Lahir di Makassar pada tanggal 4 November 1993. Anak kedua dari empat bersaudara, anak dari pasangan Dr. Jaelan Usman, M.Si dan Atika Les.

Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) pada tahun 2000 SD Negeri

Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) pada tahun 2000 SD Negeri

Dokumen terkait