BAB IV. ANALISA DATA DAN INTERPRETASI
2. Deskripsi Hasil Wawancara
Partisipan berinisial RS yang berusia 12 tahun ini merupakan anak kesepuluh dari sebelas bersaudara. Ayah RS sudah dua kali menikah karena istri pertamanya telah meninggal dan RS terlahir dari istri kedua ayahnya. RS memiliki 4 orang saudara tiri dan 7 orang saudara kandung. RS bersekolah di SMP Budi Insani yang berada di daerah Simalingkar dan sekarang RS duduk di kelas I (satu). RS masuk sekolah pada pukul 07.25 dan pulang pukul 14.00. Setelah pulang sekolah RS biasanya pergi ke Simpang Pos untuk mengamen, menyapu ataupun menyemprot. Pendapatan rata-rata RS dapat dikatakan sekitar Rp 20.000,- s/d Rp25.000,- kecuali pada hari-hari tertentu (misalnya Hari Raya) RS akan mendapatkan uang yang jauh di atas rata-rata. Uang yang didapatkan RS biasanya digunakan untuk keperluan sehari-hari dirinya dan keluarganya serta untuk keperluan sekolah RS.
a. Klasifikasi anak jalanan
Sewaktu RS masih berusia sekitar 8 tahun, kakak RS (Elita) yang pada saat itu berusia 10 tahun, mengajak RS untuk berjualan aqua di daerah Simpang Pos, Medan. Pada awalnya RS tidak mau karena RS merasa takut, namun pada
akhirnya kakak RS berhasil membujuk RS untuk mengikutinya berjualan aqua di lampu merah sekitar Simpang Pos.
“Eee, diajak sama kakak. Si Elita. Ada dia disitu.” (W1P1B031-032/Hal.5)
“Eee, dibilangnya kan, ayo Rosi jualan, trus dibawanya aku lari ke simpang pos.”
(W1P1B041-042/Hal.5)
“Si Elita kak, kakak ku yang kemaren itu. Kan dia yang ngajak aku, diajaknya aku waktu itu jualan aqua.”
(W2P1B086-088/Hal.17)
Kakak RS mengajak RS berjualan aqua dengan alasan agar mereka bisa mendapatkan uang tambahan untuk jajan mereka karena menurut pengakuan RS penghasilan orang-tuanya tidak terlalu banyak sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga. Oleh karena itu, RS mau diajak kakaknya untuk berjualan aqua karena dengan berjualan aqua mereka akan memperoleh uang tambahan untuk dapat dipergunakan mereka membeli makanan.
“Iya, dibilang si Elita kan, ayo Rosi jualan aqua kita di simpang pos, biar dapat duit kita Rosi. Bisa nanti kita jajan. Pertama nggak mau aku, takut aku lah, tapi kan karena sama-sama kami jadi bisa juga lah aku.”
(W2P1B091-096/Hal.17)
“Ah, bapak pun susah nya itu uangnya. Untuk makan kami ajanya itu. Nggak bisa jajan jadinya.”
(W2P1B099-101/Hal.18)
Namun setelah beberapa lama RS mendapatkan uang dari hasil menjual aqua, orang-tua RS menasehatinya agar RS tidak lupa menabung sebagian dari pendapatannya agar kelak RS dapat mempergunakan tabungannya tersebut untuk melanjutkan sekolahnya apabila orang-tuanya tidak memiliki uang untuk membayar keperluan sekolahnya. Hal itu juga yang menjadi alasan bagi RS mau
menjadi anak jalanan yaitu agar dapat uang untuk membeli buku dan keperluan sekolah lainnya. RS mengikuti nasehat ibunya yaitu menabung sebagian uang yang didapatnya dari jalanan, tetapi hal tersebut hanya dilakukan apabila RS mendapatkan uang yang lebih banyak dari biasanya.
“Tapi setelah lama-lama itu aku jualan aqua, trus dibilang mamak, kau tabung duitmu itu Rosi, mana tau nanti nggak ada duit kita, biar bisa nanti bayar uang sekolahmu. Jangan kayak si Elita kau nanti, nggak bisa sekolah gara-gara nggak ada duit mamak bayar uang sekolahnya.”
(W2P1B105-112/Hal.18) “Eee, mau nyari uang buku kak.” (W1P1B260/Hal.10)
“Kutabungi lima ribu, sepuluh ribu. Tapi itupun kalau banyak dapatku, kutabungi, kalau dikit ya nggak lah.”
(W1P1B276-278/Hal.10)
“Ya dari bapak lah kak, tapi mau juga kutabung duit ngamenku kalau pas banyak dapatku. Seribu, dua ribu, lima ribu. Trus nanti itulah yang dipakai buat uang sekolah.”
(W2P1B069-072/Hal.17)
“Yaaa, gitu juga kak. Kalau ada uang bapak, kuminta tapi kalau nggak ada, ya kucari sendirilah. Ngamen aku kan di simpang pos itu. Ngamen, gini-gini dapat duit, kutabung buat beli buku.”
(W2P1B074-078/Hal.17)
Selain itu, setiap kali RS mendapatkan uang RS selalu memberikannya pada ibu RS untuk membantu sedikit beban orang-tuanya dan uang tersebut biasanya digunakan untuk membeli kebutuhan keluarga sehari-hari.
“Iya kak, bantu-bantu mamak dikit-dikit lah kak.” (W2P1B127-128/Hal.18)
“Iyalah kak. Tapi sebagian kan kujajankan, main-main, jalan-jalan ke Ramayana, kadang juga belanja, beli tomat, cabe. Sebagian juga kutabung kak.” (W1P1B199-202/Hal.8)
“Beli makan, beli gula, beli minyak, gitulah kak.” (W1P1B263-264/Hal.10)
Setiap harinya setelah selesai melakukan kegiatannya di jalanan, RS selalu pulang dan tidur di rumah karena RS tinggal dengan orang-tua dan saudara-saudaranya.
“Pulang ke rumah lah kak.” (W1P1B013/Hal.5)
“Tinggal sama orang-tua, sama opungku, kakak sama abangku juga.” (W1P1B015-016/Hal.5)
Selain RS menjadi seorang anak jalanan, RS juga masih tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang anak yang berusia 12 tahun yaitu bersekolah, dimana sekarang RS duduk di kelas I (satu) SMP Budi Insani.
RS berangkat ke sekolah pada pagi hari dan pulang sekolah sekitar jam dua siang. Setelah pulang sekolah, RS biasanya pulang ke rumah terlebih dahulu untuk makan siang dan menukar seragamnya kemudian setelah itu barulah RS pergi ke jalanan untuk mencari uang. Pada hari biasa (Senin-Kamis) RS biasanya pergi ke jalanan sekitar jam setengah tiga atau jam tiga siang. Akan tetapi pada hari Jumat dan Sabtu, karena jadwal pulang sekolah lebih cepat, maka RS juga lebih cepat pergi ke jalanan. Begitu pula halnya pada hari Minggu.
“Habis pulang sekolah lah kak, jam-jam tiga, tengah tiga.” (W1P1B292-293/Hal.10)
“Pulang sekolah, aku ke rumah, ganti baju, makan baru ke simpang pos.” (W1P1B430-431/Hal.13)
“Iya, tiap hari, tapi kalau Sabtu cepat aku kesini, karena cepat pulang sekolah itu kan kak, jam dua belas udah disini aku kak, Minggupun kayak gitu, pulang gereja jam sebelas, trus jam dua belasnya kesini aku.”
(W1P1B295-299/Hal.10)
Setelah RS selesai mencari uang di jalanan, RS selalu pulang ke rumah, namun waktunya tidak menentu tergantung dari jumlah pendapatannya pada hari
tersebut. Terkadang RS berada di jalanan sampai jam delapan dan bahkan sembilan malam hanya karena belum mendapatkan uang yang dirasa RS cukup untuk dibawa pulang.
“Jam tujuh, jam lapan, pernah juga jam sembilan.” (W1P1B301-302/Hal.10)
“Hehe...nggak lah kak. Kalau baru sikit yang kudapat, lama aku pulangnya kak. Tapi kalau udah banyak kudapat, ya pulang lah aku.”
(W1P1B304-306/Hal.10) b. Latar belakang anak jalanan
RS terlahir sebagai anak ke sepuluh dari sebelas bersaudara dimana ayah RS telah dua kali menikah karena ibu pertama RS telah meninggal dan RS lahir dari ibu kedua. Saudara tiri RS yang berasal dari ibu pertama berjumlah empat orang dan saudara kandung RS berjumlah tujuh orang. RS tinggal di daerah sekitar Simalingkar B, Medan bersama dengan kedua orang-tuanya, neneknya serta lima orang saudaranya. Tiga orang saudara RS telah berkeluarga dan tiga orang lagi pergi merantau.
“Eee, bapak dua kali kawin itu.” (W1P1B360/Hal.11)
“Eee, lima di rumah, tiga udah kawin, tiga lagi merantau.” (W1P1B374-375/Hal.12)
Tempat tinggal RS merupakan daerah persawahan dan warga yang tinggal di daerah tersebut kebanyakan memang bermatapencaharian sebagai petani termasuk orang-tua RS. Kedua orang-tua RS adalah buruh tani yang sehari-harinya menjaga sawah milik mereka pribadi yang terletak di daerah sekitar rumah mereka. RS mengatakan bahwa penghasilan orang-tuanya tidak mencukupi untuk biaya hidup mereka sekeluarga karena penghasilan orang-tuanya tidak tetap setiap bulannya.
“Iyalah kak, banyak sawah di situ kak.” (W3P1B085/Hal.23)
“Nggak lah kak, itu aja nya kerja bapak. Nanti kalau udah panen kan, dijualnya lah beras kami itu.”
(W2P1B050-052/Hal.17)
“Nggak tentu juga kak, nggak tau aku berapa kak. Tapi kan kak, bapak nggak dapat uang tiap bulan, paling-paling kalau pas panen aja baru bapak dapat duit. Tapi sebentar nya itu kak, langsung habis, karena banyak itu kami kan.” (W2P1B054-059/Hal.17)
Selain dari bertani, orang-tua RS juga mendapat kiriman uang setiap bulannya dari saudara RS yang sudah menikah, namun RS mengatakan itu belum cukup untuk memenuhi semua kebutuhan mereka sekeluarga. Bahkan untuk membayar biaya sekolah RS dan saudara-saudaranya yang lainpun terkadang mereka tidak memiliki uang yang cukup.
“Yaaa, dari jualan bapaklah, trus dari kiriman abang tadi, sama dari ngamenku inilah kak.”
(W1P1B382-383/Hal.12)
“Heh? Nggak gitu kak. Kan yang udah nikah itu udah nggak tinggal dirumah lagi, trus ada juga yang pergi merantau. Jadi tiap bulan ada juganya mereka yang ngirimin bapak uang untuk biaya-biaya kami.”
(W2P1B062-066/Hal.17)
“Iya, tapi nggak cukup untuk kami semua, makanya aku cari duit sendiri.” (W1P1B273-274/Hal.10)
c. Tugas-tugas yang dihadapi anak jalanan berkaitan dengan aspek-aspek self-efficacy
1.) Magnitude Level
Sebagai seorang anak berusia 12 tahun, RS pastinya memiliki tugas-tugas yang harus dilakukannya setiap harinya, baik itu tugas-tugas rumah maupun juga
tugas-tugas (pekerjaan rumah) yang RS dapat dari sekolah, semuanya itu harus dapat dikerjakan RS dengan baik.
“Itulah kak, nyapu. Abis itu eee cuci piring, lipat kain, kadang itu aku kak, eee jaga adekku juga. Nyucipun iya juga kak, tapi nyuci sepatu sama tas ku. Sama kami dua sama kakakku pun.”
(W2P1B035-039/Hal.16)
Selain berstatus sebagai seorang pelajar, RS juga seorang anak jalanan dimana tugas RS adalah mencari uang. Banyak macam kegiatan yang dilakukan RS selama berada di jalanan, antara lain berjualan aqua, mengamen, menyapu ataupun menyemprot. Semua hal tersebut harus dikerjakan oleh RS dan RS harus mampu bertahan dalam situasi apapun dan mampu menemukan bagaimana cara mengatasi agar tugasnya tersebut dapat terpenuhi dengan baik.
“Kami ambil dari grosir sana itu. Dari mereka seribu empat ratus, kami jual dua setengah. Tapi sedikitnya dapat kalau jualan aqua.”
(W1P1B046-049/Hal.6)
“Iya, nggak laku kak, jarang orang mau beli aqua.” (W1P1B051-052/Hal.6)
“Dulu itu kak waktu pertama-tama, tapi dikit kali untungnya, jadi ngamenlah aku jadinya.”
(W1P1B070-071/Hal.6)
Selama di jalanan, RS tidak hanya melakukan satu jenis pekerjaan saja karena itu semua tergantung dari jumlah uang yang didapatkannya dari jenis pekerjaan tersebut. Apabila satu jenis pekerjaan dirasa sulit untuk menghasilkan uang, maka RS akan mencoba jenis pekerjaan lain yang mungkin dapat memberikan hasil yang lebih baik lagi. Setiap harinya, RS lebih sering melakukan kegiatan mengamen dan memang RS lebih menyukai kegiatan tersebut karena RS merasa kegiatan itu lebih mudah untuk dilakukan dan menghasilkan lebih banyak uang,
berbeda dengan sewaktu pertama kali RS menjadi anak jalanan dimana RS berjualan aqua.
“Ngamennya aku sering kak.” (W1P1B153/Hal.8)
“Karena bisa banyak dapatku dari situ kak.” (W1P1B513/Hal.14)
Ketika RS melakukan kegiatan-kegiatannya di jalanan, RS juga menggunakan peralatan untuk membantunya melakukan kegiatan tersebut yang diperoleh dengan cara disewa (gitar) ataupun dipinjam dari teman RS (kemoceng). Namun, karena RS merasa biaya untuk menyewa gitar tersebut terlalu mahal (Rp 2000,- /jam) maka RS dan teman-temannya mencari cara agar mereka dapat memperoleh uang yang lebih banyak dengan uang sewa yang lebih sedikit.
“Nggak kak, kami sewa itu gitarnya, di kedai yang tempat main PS itu kak.” (W1P1B157-158/Hal.8)
“Iya kak, makanya kalau cuma dikit dapatku, udahlah, habis untuk bayar sewa. Makanya kan kak, kami sering gabung, kami sewa satu gitar kan sama-sama sama-sama si Lena, si Nora.”
(W1P1B162-166/Hal.8)
Kegiatan RS di jalanan tentunya akan mengurangi waktu belajar RS. RS mengatakan bahwa dirinya termasuk anak yang malas belajar namun RS merasa bahwa statusnya sebagai anak jalanan bukanlah alasan mengapa RS malas belajar.
“Nggak kak… malas kali aku.” (W1P1B433/Hal.13)
“Yaaa, eee apa ya kak? Habisnya aku pun malas kali kak, makanya rendah nilaiku kan.”
Semua tugas-tugas serta kegiatan-kegiatan RS tersebut tidak mudah untuk dilakukan oleh anak seusia RS, namun RS merasa bahwa dirinya sanggup untuk melakukan semua hal tersebut karena memang dia tidak ada pilihan lain.
“Ya, harus bisa lah kak, mau nggak mau.” (W1P1B534/Hal.15)
2.) Generality
Sebagai seorang pelajar yang juga anak jalanan, RS merasa bahwa dirinya lebih menyukai kegiatannya di jalanan daripada bersekolah karena RS dapat memperoleh uang dengan cara mengamen dan sekaligus RS juga dapat bermain-main. RS juga mengatakan bahwa dirinya malas untuk bersekolah.
“Iyalah, bisa dapatku duit kalau ngamen, bisa maen-maen.” (W1P1B501-502/Hal.14)
“Eee,,,, hehehe... nggak tahu lah kak. Udah malas kali kurasa ini.” (W1P1B537-538/Hal.15)
“Malas kali aku kak, lebih enak kurasa ngamen ini, dapat uang. Emang susah kak, kalau anak kecil terlalu cepat kenal uang, jadi kek kami-kami inilah.” (W1P1B542-545/Hal.15)
“Eee, suka di jalan lah kak, bisa dapat duit, bisa main-main juga, kalau belajar kan capek kak. Hehehe...”
(W2P1B178-180/Hal.19)
RS merasa bahwa dirinya lebih kesulitan ketika ia harus belajar daripada mencari uang di jalanan karena menurut RS mencari uang hanyalah mengandalkan suara dan tidak serumit pelajaran matematika yang harus berhitung.
“Belajar lah. Susah kali apalagi kalau yang ngitung-ngitung itu. Kalau cari duit, ya nggak gampang juga, capek juga kak karena kan harus panas-panasan, berdiri terus. Cuman ya makanya gampang karena nggak perlu kayak belajar
kak, nggak ada hitung-hitungnya atau menghapalnya, cuman nyanyi-nyanyi aja nya udah abis itu dapatku duit. Hehehe..”
(W2P1B142-150/Hal.18)
Hal tersebut pada akhirnya mempengaruhi cara belajar RS yang tidak teratur. RS sangat jarang mengerjakan tugas sekolahnya dengan alasan RS telah merasa lelah karena kegiatannya di jalanan.
“Malas kali aku kak. Malam-malam itu, kalau ingat aku ada PR ku, kukerjakan.”
(W1P1B479-480/Hal.14)
“Eee, jarang kali lah kak. Nanti sampai rumah kan udah capek aku, abis itu tidurlah.”
(W2P1B162-163/Hal.19)
“Hehehe... biasanya aku ngerjain pr ku di sekolah kak, kalau ada yang bisa dicontek, kucontek lah punya kawan-kawanku. Hehehe... kalau ada ulangan lah baru aku mau belajar, tapi itu pun nggak serius-serius kali kak. Makanya rendah-rendah nilai ku itu kak.”
(W2P1B166-172/Hal.19)
Akan tetapi, RS tidak merasa bahwa statusnya sebagai anak jalanan lah yang membuat dirinya malas belajar melainkan karena memang dirinya sendirilah yang memang malas belajar.
“Ah, nggak juga kak, karena kan kak, kalau misalnya pas aku nggak ngamen kan, tetapnya aku malas belajar. Hehe...”
(W2P1B264-266/Hal.21) 3.) Strength
Selama menjadi anak jalanan, RS pernah merasakan berbagai macam rintangan-rintangan yang mau tidak mau harus dihadapinya. Namun karena semua hal itu telah menjadi resiko yang harus dihadapinya sebagai seorang anak jalanan, maka RS harus bisa bertahan dalam situasi apapun.
“Pernah kak, itulah yang waktu hari raya itu kan kak, jatuh aku, terpeleset, sakit kali pantatku.”
(W1P1B093-095/Hal.6)
“Enggak kak... Ini kak luka kaki ku, jatuh aku kemaren.” (W3P1B010-011/Hal.22)
“Ngejar supir kak. Mau ngamen aku kan, rupanya jatuh aku, luka lah jadinya.” (W3P1B021-022/Hal.22)
Ketika RS sedang tidak sehat atau sakit, RS akan menghentikan kegiatannya mencari uang sampai ia merasa sudah pulih barulah RS kembali melakukan kegiatan mengamen nya dan hal tersebut tidak menjadi masalah bagi orang-tua RS karena mereka dapat memakluminya. Begitu pula dengan kegiatan sekolah RS.
“Nggak kak, tunggu sembuh dulu.” (W1P1B111/Hal.7)
“Ooo kalau sekolah nggak boleh aku bolos sama mamak ku, kalau masih bisa sekolah, sekolah aku, tapi kalau eee misalnya kan kak demam aku, kalau panas kali badanku, ya barulah aku nggak sekolah.”
(W2P1B185-189/Hal.19)
“Semalam itu kan kak, nggak sekolah aku disuruh mamak, karena masih baru jatuh itu, tapi tadi aku udah sekolah kak.”
(W3P1B047-049/Hal.23)
Selain kecelakaan ringan seperti hal di atas, tantangan yang juga harus mereka hadapi adalah petugas keamanan yang sesekali akan datang untuk melakukan razia dan RS merasa sangat ketakutan ketika ia dan teman-temannya dikejar-kejar oleh petugas keamanan.
“Aku nggak pernah, cuman dikejar-kejar ajanya kami waktu itu. Lari-lari kami, sembunyi.”
(W1P1B253-255/Hal.9)
“Eee, bisa lah kak. Waktu itu kan kami lari-lari terus biar nggak ditangkap sama pamong itu. Nggak pernah memang aku kena tangkap kak.”
(W2P1B199-202/Hal.19)
“Heh? Takut lah aku kak, lari-lari langsung kami sama kawan-kawan.” (W2P1B195-196/Hal.19)
Namun RS merasa sanggup dan harus mampu untuk bertahan dalam kondisi tersebut karena ia harus terus mencari uang.
“Sanggup lah kak. Ini kan sebentar aja nya udah sembuh nya ini.” (W3P1B066-067/Hal.23)
“Ah, nggak pa-pa lah kak. Nanti kalau nggak ngamen aku, nggak ada uang jajanku, kan sekalian untuk bantu-bantu mamak juga nya kak.”
(W3P1B069-072/Hal.23)
Hal yang paling tidak disukai RS selama menjadi anak jalanan adalah teriknya matahari yang harus selalu dirasakannya dan yang paling disukainya karena RS dapat bermain-main selama ia berada di jalanan.
“Eee, panas kali kak, apalagi kalau cuman dikit dapatku, malas kali lah jadinya, main game aja kami jadinya. Hehe...”
(W1P1B516-518/Hal.14)
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi self-efficacy
Guru dan pihak sekolah RS tidak mengetahui bahwa RS adalah seorang anak jalanan karena apabila pihak sekolah sampai mengetahuinya maka RS akan mendapatkan sanksi begitu pula dengan teman-temannya akan mengejek dirinya apabila mengetahui statusnya sebagai anak jalanan tersebut.
“Dikasih tahu sama kawan-kawan, dimarahin. Trus, bisa juga dipecat.” (W1P1B402-405/Hal.12)
“Nggak tahu orang itu kak, kalau tahu diejek lah aku.” (W2P1B206-207/Hal.20)
Prestasi yang diperoleh RS di sekolah tergolong biasa-biasa saja bahkan bisa dikatakan rendah karena RS mengaku bahwa dirinya memang malas dan kurang bersemangat untuk belajar.
“Hahaha,,, nggak tahu lah kak, rendah kali….” (W1P1B420-421/Hal.13)
“Iya kak, waktu yang hari itu kan kak, waktu kelas enam, ada nol ku.” (W1P1B423-424/Hal.13)
“Hehe, malas kak, ngantuk kali aku kak jam tujuh itu.” (W1P1B427-428/Hal.13)
RS mengatakan bahwa kakaknya dan juga teman RS yang tinggal di dekat rumahnya yang juga merupakan anak jalanan, mereka memiliki prestasi sekolah yang lebih baik dari RS. Namun hal tersebut tidak menjadikan RS lebih bersemangat untuk belajar karena memang RS merasa sangat malas untuk belajar.
“Iya kak, sama si Grace kayak aku, kelas satu juga. Eee, nggak juara kak, cuma nilai mereka bagus-bagus kak nggak kayak nilaiku, rendah-rendah kali. Hahaha...”
(W2P1B224-227/Hal.20)
“Hehe, biasa ajalah kak, gimana lagi, emang aku yang malas belajar kak.” (W2P1B231-232/Hal.20)
Pelajaran yang paling RS suka adalah Kesenian Budaya dan RS mendapatkan nilai enam puluh atau tujuh puluh untuk mata pelajaran tersebut.
“Ibunya baik, nggak cerewet, tapi kalau ribut kami ya cerewet lah. Trus, belajarnya enak. Nyanyi-nyanyi.”
(W1P1B460-462/Hal.13)
Sedangkan mata pelajaran yang paling tidak disukai RS adalah Matematika dan Bahasa Inggris karena RS merasa kurang mampu untuk pelajaran berhitung dan ia memperoleh nilai yang rendah untuk mata pelajaran tersebut.
“Iya kak, nggak pandai aku hitung-hitung.” (W1P1B470/Hal.14)
Apabila RS memperoleh nilai yang rendah maka ia akan dimarahi dan bahkan dipukul oleh orang-tuanya terutama jika RS tinggal kelas. Oleh karena itu semampunya RS akan berusaha agar ia tidak tinggal kelas.
“Kalau jelek nilaimu lagi, kupukul kau nanti, belajar kau jangan sampai tinggal kelas.”
(W1P1B441-442/Hal.13)
“Iya… kalau jelek nilaiku dipukulnya. Kalau bandel aku dipukulnya.” (W1P1B445-446/Hal.13)
Selain karena alasan nilai yang rendah, orang-tua RS juga akan memarahinya apabila RS melawan, tidak melakukan tugas rumahnya (misalnya menyapu, menyuci), malas ke sekolah ataupun jika ia terlambat pulang ke rumah dan hanya mendapatkan sedikit uang dari hasil mengamennya.
“Eee, itu kan kak, kalau misalnya disuruh mamak nyapu aku, trus nggak mau aku kan, dipukulnya langsung, pakai eee pakai kayu kadang dicubitnya juga.” (W2P1B028-031/Hal.16)
“Ih, sekolah aku ya kak. Dimarahin nanti sama mamakku kalau nggak sekolah aku.”
(W2P1B019-021/Hal.16)
“Marah mamak, tapi kadang. Pernah juga kan kak kalau dapatku agak banyak, misalnya kan lima puluh, nanti kukasih sama mamak sepuluh aja, trus marah-marah mamak, kok cuma segini dapatmu Rosi? Dikit kali? Trus kan kalau udah marah-marah dia, barulah kukasihkan yang sisanya empat puluh lagi, nah nah,,, ini semua yang kudapat, main-mainnya aku tadi.”
(W1P1B212-220/Hal.9)
“Nggak ada kak, cuman kalau dikit dapatku, dimarahin mamak aku. Kok dikit dapatmu Rosi? Jam sebelas kau pigi, kok cuman dikit dapatmu? Main-main aja kau kan? Nggak ah, dikejar-kejar pamong tadi kami, gitu kubilang mamak.”
(W1P1B231-236/Hal.9)
Meskipun RS menyukai kegiatannya di jalanan karena dapat menghasilkan uang sambil bermain, namun RS tidak ingin menjadi anak jalanan sampai selamanya dan RS bercita-cita ingin menjadi seorang guru.
“Eee, nggak tahu juga aku kak. Paling nanti kayak abang atau kakak ku gitu lah kak, mereka dulu kan pernah jadi anak jalanan juga, tapi sekarang mereka