• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi hasil penelitian siklus I

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh ROSLIAH NIM (Halaman 42-53)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi hasil penelitian siklus I

Materi yang diajarkan pada siklus 1 yaitu memahami konsep persamaan linear dua variabel, menyelesaiakan sistem persamaan linear dua variabel dengan menggambar grafik dan menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel dengan cara subtitusi. Tahap-tahap yang dilakukan pada siklus I yaitu sebagai berikut:

a. Tahap Perencanaan

1. Mengadakan pertemuan dengan guru matematika untuk menelaah kurikulum dan mempersiapkan materi pembelajaran.

2. Membuat perangkat pembelajaran untuk setiap pertemuan, yang meliputi: rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) terkait pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran PACE, lembar kerja aktivitas dan lembar kerja diskusi.

b. Tahap Pelaksanaan (Tindakan)

Tahap pelaksanaan pembelajaran pada siklus I terdiri dari 4 kali pertemuan, 3 kali pertemuan digunakan sebagai proses pembelajaran dan 1 kali pertemuan untuk tes siklus 1, dengan materi sistem persamaan linear dua variabel. Pada penelitian ini peneliti sendiri yang bertindak sebagai guru bidang studi matematika. Kegiatan pembelajaran dibagi dalam tiga tahap yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Tahap-tahap tersebut sesuai dengan RPP dan sintak model PACE.

Pertemuan pertama pada tanggal 18 september 2019 (orientasi siswa pada masalah) yaitu guru membuka pembelajaran dengan salam pembuka, perkenalan dan memeriksa kehadiran siswa. Kemudian guru memberitahukan materi yang akan dibahas serta menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang ingin dicapai. Kemudian guru memberikan LKA (lembar kerja aktivitas) dan LKD (lembar kerja diskusi) dimana dalam kelompok pembelajaran terdiri 3 orang siswa.

Kegiatan selanjutnya yaitu pertemuan kedua pada tanggal 19 september 2019 (mengorganisasikan peserta didik). Guru menjelaskan materi yang akan dibahas serta menyeampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang ingin dicapai menggunakan langkah-langkah model PACE.

Kemudian guru memberikan LKA (lembar kerja aktivitas), dan LKD (lembar kerja diskusi). Kemudian guru memberi kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti.

Pertemuan 3 pada tanggal 25 september 2019 (membimbing penyelidikan individu maupun kelompok). Selama proses diskusi kelompok berlangsung, jika siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan LKA dan LKD, guru membimbingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah agar siswa bisa memecahkan permasalahan, dan menuntun mereka dalam mengerjakan LKA dan LKD sesuai dengan langkah-langkah model PACE. Setiap kelompok yang sudah yakin dengan jawaban yang mereka dapatkan, mereka diarahkan untuk menuliskan jawaban pada lembar LKD.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan hasil kerja kelompok. Salah satu kelompok tampil mempresentasikan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapinya.

Pada akhir pembelajaran guru memberikan penghargaan kepada siswa yang telah mempresentasikan hasil kerjanya, mengumpulkan hasil kerja, dan guru mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan.

Selanjutnya pada kegiatan penutup, siswa bersama-sama dengan guru merefleksi kegiatan yang telah digunakan. Guru menyampaikan pertemuan berikutnya akan diadakan tes siklus I, dan guru menutup pembelajaran dengan memberi salam.

c. Tahap Pengamatan

1) Analisis Deskriptif Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Siswa pada siklus I

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti, maka diperoleh data hasil berpikir kreatif siswa pada siklus I. Data kemampuan

berpikir kreatif matematika siswa pada siklus I diperoleh melalui pemberian tes kemampuan berpikir kreatif matematika setelah penyajian sub pokok pembahasan sistem persamaan linear dua variabel. Adapun deskriptif skor kemampuan berpikir kreatif matematika siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel 4.1 sebagai berikut:

Tabel 4.1 Statistik Skor Kemampuan Berpikir Kreatif matematika siswa

Statistika Nilai Statistika

Subjek

Berdasarkan tabel 4.1 dapat dikemukakan bahwa jumlah siswa yang mengikuti tes akhir siklus I berjumlah 16 orang. Dimana skor tertinggi yaitu 66, sedangkan skor terendah yaitu 16, rentang skor 50 (selisih skor tertinggi dengan skor terendah), dimana skor rata-ratanya adalah 41.62 dengan standar deviasi 15,62.

Apabila skor kemampuan berpikir kreatif matematika siswa tersebut dikelompokkan kedalam 5 kategori, maka diperoleh distrubusi frekuensi dan presentase skor kemampuan berpikir kreatif matematika siswa pada siklus I, sebagai berikut:

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Siswa Pada Siklus I

Skor Kategori Frekuensi Persentase %

90-100 Sangat tinggi 0 0

80-89 Tinggi 0 0

75-79 Sedang 3 18,75

55-74 Rendah 1 6,25

<55 Sangat rendah 12 75

Jumlah 16 100

Berdasarkan Tabel 4.2, maka dapat disimpulkan bahwa skor rata-rata kemampuan berpikir kreatif matematik siswa pada siklus I dari 16 siswa, ada 12 orang siswa yang berada pada kategori sangat rendah dengan persentase 75% orang siswa yang berada pada kategori rendah dengan persentase 6,25% dan pada kategori sedang 18,75%

2) Observasi Aktivitas Siswa

Data sikap siswa pada siklus I diperoleh melalui lembar observasi aktivitas siswa selama proses pembelajaran setiap pertemuan. Adapun deskripsi sikap siswa pada siklus I dapat dilihat tabel 4.3 (Lampiran B).

Gambar 4.1 persentase Aktivitas Siswa Keterangan:

A = Tahap perkenalan

B = Siswa yang menyimak dan mendengarkan penjelasan guru selama pembelajaran berlangsung

C = Siswa yang mengamati permasalah yang diberikan D = Siswa mencari solusi dan menyelesaikannya

E = Siswa yang belajar bersama-sama dan saling tukar pikiran

F = Siswa yang berani mempresentasikan hasil kerjanya dipapan tulis

G = Siswa yang mampu menyelesaikan permasalahan baru yang diberikan guru H = Siswa yang melakukan aktivitas lain ( bercerita, main hp dan yg lain-lain)

Berdasarkan data hasil aktivitas siswa pada gambar 4.1, tentang hasil aktivitas siswa dapat disimpulkan sebagai berikut:

95.80% 95.80% 95.80%

a. Pertemuan pertama pada siklus I yang merupakan awal penerapan model pembelajaran PACE yang baru dialami oleh siswa, sehingga dalam pertemuan ini merupakan tahap pengenalan dan adaptasi terhadap suasana belajar yang baru dan berbeda dengan pertemuan sebelumnya.

b. Kehadiran siswa pada pertemuan pertama dalam pembelajaran pada siklus I adalah 87,5,% dari jumlah siswa, sedangkan pada pertemuan kedua dan ketiga siswa yang hadir mencapai 100 %.

c. Siswa yang menyimak dan mendengarkan penjelasan guru selama pembelajaran lebih banyak dengan antusias siswa dalam memperhatikan penjelasan yang dipaparkan oleh guru.

d. Siswa yang menyelesaikan masalah yang diberikan dalam bentuk kelompok dari pertemuan pertama 31,2%, pertemuan kedua 37,5% dan pertemuan ketiga 43,7%.

e. Siswa yang belajar bersama-sama dalam kelompok dan saling tukar pikiran terbilang masih sedikit yaitu pertemuan pertama 25%, pertemuan kedua 31,2% dan pertemuan ketiga mencapai 31,2%.

f. Siswa yang berani mempresentasikan hasil kerjanya dipapan tulis dari pertemuan pertama yaitu 37,5%, kedua 43,7% dan ketiga 37,5%.

g. Siswa yang mampu menyelesaikan permasalahan baru yang diberikan guru masih cenderung rendah dengan 25% siswa yang mampu menyelesaikan permasalahan pada pertemuan pertama, 31,2% siswa pada pertemuan kedua dan 43,7% siswa pada pertemuan ketiga.

h. Siswa yang melakukan aktivitas lain seperti bercerita, tidur dan bermain hp pada pertemuan pertama 37,5% kedua 43,7% dan pertemuan ketiga 43,7%.

Dari tabel terlihat bahwa pada siklus I siswa masih kurang termotivasi belajar sehingga kurang terfokus pada materi. Hal ini nampak pada banyaknya siswa yang mengajukan pertanyaan pada masalah yang diberikan masih dan kurangnya keberanian siswa dalam mengajukan solusi. Sikap siswa umumnya masih kurang memberikan respon positif terhadap model yang digunakan. Hal ini disebabkan siswa belum terbiasa diberikan pertanyaan sebelum proses pembelajaran apalagi bekerja secara berkelompok untuk menyelesaikan masalah.

Pada setiap pertemuan untuk siklus I, juga dicatat hal-hal yang berkaitan dengan siswa utamanya dalam kemampuan berpikirnya.

a. Flexibility atau flexibilitas siswa

Fleksibilitas siswa diukur dengan memperhatikan 2 kategori yakni:

1) Siswa mencari solusi atau menyelesaikan dari permasalahan yang diberikan dalam bentuk kelompok, maksudnya adalah siswa menyelesaikan masalah yang diberikan dengan cara saling tukar pikiran antar kelompok. Namun, rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu yang diberikan merupakan salah satu ciri bahwa siswa tersebut mempunyi bakat. Siswa yang mencari solusi atau menyelesaikan permasalahan disiklus I mencapai 37,45%

2) Siswa yang mampu menyelesaikan permasalahan baru yang diberikan, artinya siswa tersebut mampu menelaah dan menerima dengan baik apa yang telah diberikan guru. Siswa yang ampu menyelesaikan permasalahan pada siklus I mencapai 33,3%

b. Fluency

Fluency siswa diukur dengan memperhatikan 2 kategori yakni:

(1) Siswa yang berani mengemukakan alasannya atau menerima tugas yang diberikan mencapai 39,56% pada siklus I.

(2) Siswa belajar bersama-sama dalam kelompok atau anggota dalam kelompok tersebut untuk saling tukar pikiranmencapai 29,13% pada siklus I.

3) Data Keterlaksanaan Pembelajaran

Data hasil lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran siswa pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel 4.4 (Lampiran B).

2.8

3.5

3.9

3.4

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5

pertemuan 1 pertemuan 2 pertemuan 3 rata-rata

Gambar 4.2 keterlaksanaan pembelajaran siklus I Aspek yang diamati pada keterlaksanaan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran PACE sistem persamaan linear dua variabel dan deskripsi keterlasksanaan pembelajaran dengan rata-rata pada lembar observasi adalah 3,41 dengan kategori baik.

d. Refleksi

Pada awal pengajaran siklus I dengan diterapkan model pembelajaran PACE pada umumnya siswa belum mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Hal ini ditandai dengan adanya siswa yang kurang aktif dalam proses pembelajaran, karena pada umumnya siswa hanya mendengar dan melakukan apa yang diperintahkan oleh guru. Siswa masih merasa kaku dan tegang unuk mengungkapkan pendapatnya atau pertanyaannya, sehingga guru sesering mungkin memberikan penguatan kepada siswa.

Selain itu, suasana ribut dalam kelas yang sering terjadi pada saat pembelajaran berlangsung yang dipicu oleh responden yang tidak memperhatikan penjelasan peneliti dan memilih mengganggu temannya. Pada siklus ini siswa yang aktif hanya terihat pada siswa yang sama disetiap pertemuannya yakni siswa yang tergolong ―bisa‖, tetapi hal ini dapat memberikan contoh dan motivasi kepada temannya.

Proses pembelajaran pada pertemuan kedua penelitian adalah membahas tentang sistem persamaan linear dua variabel mengenai grafik.

Menyikapi proses pembelajaran tersebut, bentuk refleksi lebih ditekankan pada

bagaimana pengelolaan kelas yang lebih baik untuk pertemuan berikutnya dan memotivasi siswa untuk lebih giat belajar.

Proses pebelajaran pada pertemuan ketiga siklus I, membahas materi sistem persamaan linear dua variabel mengenai subtitusi. Peneliti berusaha memberikan motivasi dan umpan balik terhadap hasil refleksi pada siklus I dan peneliti juga sebagai contoh menunjukkan bahwa guru itu sebagai fasilitator, sehingga siswa harus lebih banyak bertanya yang dipelajari dan mengajarkan LKD dan LKA sehingga dapat menemukan sendiri pengetahuannya dan mengerjakan tugas dengan pemikirnya sendiri. Namun untuk membimbing setiap siswa dengan kemampuan yang heterogen dan tergolong rendah ini, proses pembelajaran akan membutuhkan banyak waktu. Untuk itu, bentuk refleksi lebih ditekankan pada pengelolaan waktu agar proses pembelajaran tercapai.

Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa, pada awal pertemuan siklus I siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran yang diberikan.

Namun pada pertemuan-pertemuan berikutnya siswa sudah mulai terbiasa dan tertarik dalam mengikuti pelajaran matematika. Hal ini ditunjukkan dengan berkurangnya peserta didik yang tidak hadir pada saat mata pelajaran matematika berlangsung. Dari hasil pengamatan secara keseluruhan mulai dari pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga pada siklus I, terlihat bahwa pada umumnya siswa semangat mencatat poin-poin penting dari materi yang diberikan dan mengerjakan tugas dengan bekerja sama dengan kelompok masing-masing, namun dari hasil pengamatan peneliti pula, ternyata masih ada

beberapa siswa yang kurang memperhatikan penjelasan guru atau siswa dan masih ada beberapa siswa juga yang malu-malu bertanya ketika temannya memamparkan atau menjelaskan materi serta masih ada juga beberapa siswa yang main-main saat diskusi ataupun mengganggu temannya. Melihat situasi tersebut, peneliti kemudian menindaklanjuti dengan memberikan motivasi siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Sedangkan dari tugas/latihan yang diberikan, baik itu latihan yang dikerjakan dikelas maupun dirumah, sebagian besar siswa sudah dapat mengerjakannya.

Pada akhir pertemuan siklus I, siswa diberikan tes untuk menguji kemampuan mereka atas materi yang telah dibahas selama pembelajaran disiklus I. Dalam pelaksanaan tes tersebut berlangsung dengan tertib dan lancar, walau masih ada siswa yang berusaha menyontek pekerjaan temannya.

Berdasarkan hasil analisis kuantitatif dan hasil observasi serta masalah-masalah yang muncul pada siklus I, maka penelitian ini dilanjutkan ke siklus II.

1. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus II

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh ROSLIAH NIM (Halaman 42-53)

Dokumen terkait