• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

B. Deskripsi Permasalahan Penelitian

Data yang diperoleh di lapangan perlu dideskripsikan secara sistematis sehingga dapat mempermudah penulis dalam melakukan analisis secara cermat yang pada akhirnya dapat ditarik suatu kesimpulan dari hasi penelitian tersebut. Berkaitan dengan deskripsi permasalahan penelitian maka penulis menguraikan hasil peneitian sebagai berkut:

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan bagian produksi pada Housewares Furniture Indonesia tahun 2008.

a.Faktor Materi Pekerjaan 1) Keragaman ketrampilan

Pekerjaan yang memberikan banyak ragam ketrampilan untuk melakukan akltivitas kerja, akan memberikan rasa tidak cepat bosan pada pekerjaan tersebut. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan I pada tanggal 20 Oktober 2008 sebagai berikut:

“ Pekerjaan sebagai staff administrasi gudang cukup memberikan ragam ketrampilan, mengorganisir arsip dan dokumen-dokumen perusahaan mempunyai seni tersendiri bagi saya”.

Kegiatan karyawan dalam melakukan pekerjaan pada Housewares Furniture Indonesia terutama bagian produksi cukup beragam, walaupun pada bagian administrasi gudang, karyawan menganggap pekerjaannya cukup mempunyai seni, sehingga karyawan bagian produksi tidak cepat mengalami kebosanan dalam melakukan aktivitas pekerjaannya.

2)Jati diri tugas

Merupakan tingkat di mana suatu pekerjaan membutuhkan penyelesaian sebagai satu kesatuan dan dapat diidentivikasikan, yang dimaksud di sini adalah dapat melakukan pekerjaan dari awal sampai akhir dengan hasil yang nyata. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan II pada tanggal 23 Oktober 2008 sebagai berikut:

“Saya mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada saya dengan baik, bila ada kesulitan biasanya saya bertanya kepada rekan kerja

lxviii

atau atasan saya sehingga pekerjaan yang saya lakukan tidak membuang- buang waktu.”

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa karyawan bagian produksi pada Housewares Furniture Indonesia dapat melaksanakan tugas masing-masing dari awal sampai akhir atas beban kerja yang mereka tanggung.

3) Tugas yang penting

Rasa pentingnya tugas bagi seorang karyawan akan aktivitas pekerjaan yang dilakukannya memberikan keberartian bagi karyawan. Semakin seorang karyawan menganggap bahwa pekerjaan yang dilakukannya adalah penting maka karyawan cenderung mempunyai kepuasan kerja. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan III pada tanggal 25 Oktober 2008 sebagai berikut:

“Pekerjaan saya pada bagian QC adalah sallah satu bagian terpenting dalam produksi, karena kualitas dari produk yang dihasilkan perusahaan sangat tergantung dari hasil pekerjaan saya, bila saya teledor mdengan pekerjaan saya maka bisa-bisa kualitas produk yang dihasilkan akan berkualitas jelek, sehingga dengan demikian saya merasa saya sangat dibutuhkan perusahaan.”

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa karyawan Housewares Furniture Indonesia berpendapat bahwa pekerjaan mereka sangatlah penting bagi perusahaan.

4) Otonomi

Pekerjaan yang memberikan kebebasan dan ketidak ketergantungan, serta memberikan peluang mengambil keputusan akan lebih cepat menimbulkan kepuasan kerja. Hasil ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan IV pada tanggal 28 Oktober 2008 sebagai berikut:

“ Posisi saya sebagai Kasi QC memberikan kebebasan kepada saya untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan keadaan perusahaan serta permintaan pasar atau konsumen. Permintaan konsumen bagaimana maka saya mberusaha untuk memenuhinya, mau yang kualitas baik, sedang, atau rendah”

lxix

Hasil wawancara diatas dapat diketatahui bahwa otonomi atas pekerjaan yang dilakukan karyawan bagian produksi pada Housewares Furniture Indonesia memberikan kepuasan bagi karyawannya.

5) Pemberian balikan atau umpan balik

Merupakan tingkat di mana dalam melakukan pekerjaannya seorang karyawan mendapatkan hasil tentang prestasi yang telah dilakukannya, secara langsung dan jujur. Hal ini sesuai dengan wawancara dengan informan V pada tanggal 31 Oktober 2008 sebagai berikut:

“Rekan kerja memuji saya ketika saya dapat menyelesaikan pekerjaan saya kurang dari dead line yang diberikan atasan saya,dan kadang atasan saya juga demikian.Hal-hal kecil demikian membuat saya lebih percaya diri dan senang, karena ada bonus untuk karyawan yang berprestasi. He…”

Karyawan bagian produksi pada Housewares Furniture Indonesia berpendapat adanya upaya perusahaan dalam menghargai hasil kerja para karyawan yang bisa diungkapkan dengan pemberian pujian atas hasil kerja karyawan yang sesuai dengan keinginan perusahaan dengan pemberian bonus-bonus.

Pekerjaan merupakan bagian dari tugas yang dilakukan atau dikerjakan oleh para pemegang posisi. Pemegang posisi yang dimaksudkan dapat berupa posisi manajerial seperti manajer tingkat atas, menengah, dan bawah maupun posisi non manajerial seperti karyawan. Seorang karyawan apabila di dalam melaksanakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahlian, pendidikan, bakat dan minat sesungguhnya karyawan tersebut akan mengalami kejenuhan di dalam pekerjaannya.

Penempatan karyawan dalam suatu kedudukan haruslah sesuai dengan latar belakang pendidikan, keahlian, bakat dan minat karyawan. Hal ini sangat mendukung karyawan dalam mengembangkan pekerjaan, supaya karyawan dapat bekerja secara efektif dan dapat memenuhi standar pelaksanaan pekerjaan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan I pada tanggal 20 Oktober 2008 sebagai berikut :

lxx

” Pekerjaan yang saya geluti sudah sesuai dengan keahlian, latar belakang pendidikan, bakat, dan minat di perusahaan.... Beban yang saya tanggung dalam melaksanakan pekerjaan saya rasa biasa- biasa saja, saya merasakannya tidak terlalu berat, hal ini dikarenakan beban pekerjaan ini sesuai dengan kemampuan pikiran dan ketrampilan yang saya miliki”.

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa karyawan Housewares Furniture Indonesia merasa sudah puas penempatan pekerjaannya karena sudah sesuai dengan latar belakang pendidikan, keahlian, bakat dan minat karyawan serta harapan karyawan.

Hal lain diungkapkan oleh informan 1 sebagai berikut :

”Bila hasil pekerjaan yang saya lakukan tidak sesuai dengan harapan perusahaan maka saya akan sangat menyesal sekali, dan untuk memperbaikinya maka saya akan mencoba mengkonsultasikannya dengan orang-orang yang saya rasa lebih mumpuni dalam hal tersebut”.

Hal senada juga diungkapkan oleh informan II pada wawancara tanggal 23 Oktober 2008 sebagai berikut :

”Pengaruh hasil pekerjaan dengan kepuasan dalam bekerja sangat besar, apabila hasil pekerjaan kita bagus maka akan menimbulkan kepuasan kerja tersendiri”.

Tantangan pekerjaan yang dihadapi karyawan Housewares Furniture Indonesia beragam tergantung dari jabatan/ posisi yang diemban, biasanya mereka menghadapinya dengan cara belajar dan bertanya kepada rekan kerja, atasan, dan tenaga ahli yang lebih mengetahui kesulitan tersebut. Kesulitan-kesulitan (tantangan) yang dihadapi para karyawan dapat dilalui dengan baik, maka akan berdampak pula pada hasil pekerjaan yang telah dilakukan, hasil pekerjaan mereka bagus, maka kepuasan dalam bekerja akan tercapai.

b. Faktor Upah/ Pembayaran

Disamping memenuhi kebutuhan tingkat rendah (makan dan perumahan), uang merupakan simbol dan pencapaian (achievement), keberhasilan, dan pengakuan atau penghargaan. Pekerja dan keluarga bergantung pada upah

lxxi

yang mereka terima untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan I sebagai berikut :

“Upah yang diberikan perusahaan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal sehari-hari. Upahnya dibandingkan dengan tenaga dan pikiran yang saya keluarkan untuk bekerja sudah cukup sesuai, tetapi bila perusahaan ingin menaikkan lagi ya saya jadi tambah senang. He…”.

Dari hasil wawancara diatas dapat dijelaskan bahwa Housewares Furniture Indonesia selama ini memberikan upah kepada karyawan sudah sesuai dengan UMK dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal sehari- hari dengan layak, serta sesuai dengan pengorbanan yang dikeluarkan untuk bekerja.

Selain mendapatkan upah pokok dari perusahan, karyawan juga mendapat balas jasa lain. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan II sebagai berikut:

“Selain upah yang saya terima , saya juga memperoleh balas jasa yang lain diantaranya adalah bonus lembur dan jamsostek”

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa selain mendapatkan kenaikan upah dari masa kerja di perusahaan, karyawan juga mendapatkan balas jasa lain yaitu bonus lembur dan jamsostek.

c. Faktor Kesempatan Promosi

Promosi merupakan perpidahan dari satu jabatan ke jabatan lain yang lebih tinggi di dalam suatu perusahaan yang disertai dengan wewenang dan tanggung jawab yang besar dan disertai pula dengan kenaikan status. Kesempatan promosi sangat didambakan oleh para karyawan apalagi bagi mereka yang telah bekerja lama di perusahaan atau yang memiliki jenjang pendidikan yang tinggi. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan III sebagai berikut:

“Lama masa kerja diperusahaan sangat berpengaruh terhadap kesempatan promosi jabatan.”

lxxii

“Lama masa kerja menurut saya berpengaruh terhadap kesempatan promosi, selain dilihat dari kinerja, skill dari karyawan juga menjadi pertimbangan disisi lain karyawan yang berpengalaman lebih diutamakan. Selama ini jarang terjadi promosi. Tingkat pendidikan juga berpengaruh terhadap promosi walaupun ada faktor lain yang menjadi pertimbangan pelaksanan promosi. Pelaksanaan promosi yang saya lihat selama ini sudah adil menurut kriteria yang berlaku sesuai peraturan dari perusahaan.”

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa karyawan yang telah bekerja cukup lama di Housewares Furniture Indonesia akan dipromosikan oleh perusahaan dengan melihat pada kredibilitas dalam melaksanakan pekerjaan, memiliki etos kerja yang tinggi, memiliki kemampuan dan pengalaman di dalam melakukan pekerjaan di perusahaan. Mengenai tingkat keadilan dalam mempromosikan jabatan kepada karyawan selama ini perusahaan berlaku secara adil artinya dalam memberikan promosi jabatan kepada karyawan perusahaan melihat dari sisi lama masa kerja, pendidikan yang dimiliki karyawan, serta kemampuan dan pengalaman yang dimiliki karyawan. Jenjang waktu promosi tidak dilaksanakan secara periodik tetapi disesuaikan dengan tingkat kekosongan pada jabatan di perusahaan.

d. Faktor Pengawasan

Pengawasan merupakan suatu usaha sistematik dengan tujuan-tujuan perusahaan, merancang sisten informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan korektif yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat digunakan secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan perusahaan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan III pada tanggal 25 Oktober 2008 sebagai berikut:

“…mengadakan pengawasan baik secara langsung maupun tidak langsukng yang man atujuannya adalah untuk mengontrol kerja kami agar sesuai dengan harapan perusahaan”.

lxxiii

Hal lain diungkapkan informan III sebagai berikut:

“Perilaku ketika sedang ada pengawasan dari atasan saya merasakan hal yang buiasa-biasa saja, saya tidak merasa ketakutan akan aktivitas pekerjaan yang saya lakukan… dengan pengawasan atasan tersebut kerja kami menjadi sangat terkontrol, karyawan menjadi lebih bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Pengawasan yang dilakukan atasan sudah sesuai dengan kondisi karyawan”.

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa pengawasan di Housewares Furniture Indonesia, karyawan yang diawasi atasan perilakunya biasa-biasa saja dan tidak ada perilaku yang tegang maupun takut kalau pekerjaan yang dilakukannya tidak beres, selain itu atasan juga bisa sebagai tempat konsultasi mengenai pekerjaan.

Bentuk pengawasan yang dilakukan atasan terhadap aktivitas pekerjaan, dilaksanakan secara langsung yaitu atasan terjun sendiri untuk mengawasi aktivitas-aktivitas pekerjaan karyawan, maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menugaskan orang kepercayaan atasan untuk mengawasi pekerjaan karyawan. Pengaruh bentuk pengawasan yang mana akan menumbuhkan semangat kerja yang tinggi, rasa disiplin, ketelitian, serius dalam bekerja, dan karyawan merasa pekerjaannya terkontrol, sehingga dapat mencapai target ataupun sesuai dengan deadline atasan.

e. Faktor teman Kerja

Keberadaan rekan kerja tidak dapat dikesampingkan begitu saja, karena keberadaan mereka tidak lepas dari kodrat manusia sebagai makhluk sosial, karyawan harus menjalin hubungan sosial dengan rekan kerja mereka. Hal ini sesuai dengan wawancara dengan informan III sebagai berikut:

“…saya sering mendapat dukungan dari rekan kerja saya, mereka selalu memotivasi saya untuk lebih baik lagi dalam bekerja. Pergaulan yang terjadi di perusahaan antar rekan kerja saya merasakan sudah berjalan dengan harmonis”.

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan dengan rekan kerja yang baik dapat meningkatkan semangat dan motivasi dalam bekerja. Sesama rekan kerja membantu dan bekerja sama dalam

lxxiv

menyelesaikan beban kerja, berdiskusi tentang pekerjaan, bersedia membantu jika ada masalah, dan menghargai hasil kerja keras rekan kerjanya. Pergaulan yang terjadi antara rekan kerja yang satu dengan yang lain terjalin dengan cukup harmonis, akrab, saling menjaga kredibilitas diantara sesama rekan kerja, serta tercipta rasa kekeluargaan satu dengan yang lainnya.

f. Faktor Kondisi Kerja

Kondisi kerja merupakan faktor yang cukup penting dalam melaksanakan proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi kerja yang meliputi:

1) Penerangan

Penerangan di sini tidak hanya terbatas pada penerangan listrik tetapi juga penerangan yang berasal dari sinar matahari. Penerangan yang baik adalah penerangan yang cukup tetapi tidak menyilaukan, penerangan harus disesuaikan dengan luas ruangan kerja dan kondisi mata. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan IV pada tanggal 28 Oktober 2008 sebagai berikut:

”Penerangan ditempat kerja saya sudah baik, tidak menyilaukan mata juga tidak terlalu redup sehingga kerja kami juga baik”.

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa penerangan pada Housewares Furniture Indonesia dirasakan cukup dan tidak menyiaukan mata, sehingga bisa membuat karyawan betah dalam bekerja. Kondsi penerangan yang cukup dapat menunjang aktivitas pekerjaan para karyawan karena kondisi penerangan yang baik dapat membuat karyawan bekerja dengan lebih baik.

2) Suhu udara

Suhu udara pada ruang kerja karyawan perusahaan akan sangat mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan III sebagai berikut:

lxxv

”Suhu udara yang sejuk dan nyaman juga dapat menunjang saya dalam melakukan aktivitas pekerjaan. Ventilasi udara di tempat saya bekerja sudah mencukupi.”

Hal senada juga diungkapkan oleh informan VI pada wawancara tanggal 4 Oktober 2008 sebagai berikut:

”Suhu udara yang saya rasakan nyaman untuk bekerja karena tidak terlalu

panas”.

Dari hasil wawancara tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa suhu udara di Housewares Furniture Indonesia adalah cukup nyaman untuk bekerja karena tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, sehingga karyawan merasa nyaman dalam melaksanakan aktivitas pekerjaannya. Ventilasi udara yang ada dirasakan para karyawan sudah sesuai dan dan berfungsi dengan baik yang bisa membuat sinar matahari masuk ke ruang kerja dan membuat sirkulasi udara cukup baik.

3) Suara bising

Menurut Mc. Cormic dalam Ashar S. Munandar (2006: 143) ”Suara bising adalah suara yang tidak diinginkan dengan batasan bunyi yang tidak memiliki hubungan informasi dengan tugas atau aktivitas yang dilaksanakan”Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan V pada tanggal 31 Oktober 2008 sebagai berikut:

”Tingkat kebisingan di tempat kerja tidak terlalu bising karena jauh dari kendaraan umum tapi jadi agak bising saat mesi beroperasi”.

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat kebisingan yang terjadi di Housewares Furniture Indonesia adalah tergolong cukup bising karena dalam ruang kerja bagian produksi terdapat mesin-mesin yang cukup keras suaranya ketika beroperasi,akan tetapi karena suara bising tersebut berasal dari mesin produksi yang mana hal itu merupakan bagian dari aktivitas kerja mereka maka hal itu bisa dikatakan tidak mengganggu aktivitas kerja karyawan.

lxxvi 4) Keamanan kerja dalam perusahaan

Keamanan kerja di tempat bekerja sangatlah penting, karena keamanan kerja dapat menciptakan situasi yang kondusif serta nyaman. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan V sebagai berikut:

”Alat keamanan tersedia seperti tabung pemadam kebakaran dan pakaian kerja.... Kondisi alat kerja baik karena jika ada kerusakan akan segera diperbaiki. Keamanan akan barang-barang karyawan terjamin dengan baik”. Hal senada juga diungkapkan oleh informan VI sebagai berikut:

”Keamanan di tempat kerja saya terjamin karena selama ini saya merasakan tidak adanya laporan kehilangan barang yang berarti. Kondisi peralatan kerja dalam keadaan layak pakai. Bila terjadi kerusakan akan segera diperbaiki.” Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa kondisi keamanan peralatan kerja, peralatan kerja bekerja sebagaimana mestinya, dan bila terjadi kerusakan dengan segera akan diperbaiki, penyediaan alat-alat keamanan seperti tanda bahaya, alat pemadam kebakaran, pakaian kerja, dan lain-lain di Housewares Furniture Indonesia sudah cukup memadai. Keamanan barang-barang karyawan sudah cukup aman. Selama ini belum pernah terjadi pencurian atas barang-barang maupun kendaraaan para karyawan.

2. Faktor-faktor yang lebih dominan pengaruhnya terhadap kepuasan kerja karyawan bagian produksi pada Housewares Furniture Indonesia

Untuk mengetahui faktor-faktor yang dominan dalam mempengaruhi kepuasan kerja karyawan bagian produksi pada Housewares Furniture Indonesia ini didasarkan pada pendapat para karyawan di Housewares Furniture Indonesia sebagai berikut:

a.Informan I

”...Rekan kerja karena kita bekerja ibarat sebuah keluarga yang harus saling membantu baik saat ada masalah maupun saat tidak ada masalah” b.Informan II

lxxvii

”Faktor dominan yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut saya pribadi adalah faktor pengawasan, karena dengan adanya pengawasan selain kerja saya menjadi lebih terkontrol, saya mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dengan atasan saya”

c.Informan III

”faktor yang sangat dominan mempengaruhi kepuasan kerja karyawan adalah faktor pengawasan, karena selama ini yang saya rasakan saya seperti diperhatikan oleh pihak perusahaan,dan dengan pengawasan tersebutsaya merasa pekerjaan saya menjadi lebih terkontrol ya walaupun tanpa pengawasan saya juga bekerja dengan baik, namun dengan adanya pengawasan tersebut saya menjadi nyaman dalam bekerja”

d.Informan IV

”Faktor yang paling dominan mempengaruhi kepuasan kerja saya adalah upah kerja karena pada dasarnya yang dicari pada kerja adalah upah, dengan upah yang sesuai dengan kebutuhan karyawan memungkinkan karyawan untuk lebih berpikir untuk memberikan yang terbaik untuk perusahaan, dan hal itu bisa memberikan kepuasan tersendiri yang pada akhirnya akan memberikan kemanfaatan pada perusahaan”

e.Informan V

”Faktor dominan yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah upah kerja kami,karena memasuki dunia kerja yang dicari adalah upah selain pengalaman kerja dan ingin mengembangkan kemampuan yang saya miliki di perusahaan,dengan kemampuan yang saya miliki itulah saya mendapatkan upah”

f.Informan VI

”faktor yang paling dominan mempengaruhi kepuasan kerja saya adalah faktor upah dan materi pekerjaan, jika upah yang saya terima sesuai dengan pengorbanan dari beban kerja yang harus sya selesaikan maka saya akan merasa puas,saya merasa pekerjaan saya dihargai”

Dari hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor yang lebih dominan dalam mempengaruhi kepuasan kerja karyawan bagi tiaptiap individu

lxxviii

karyawan adalah berbeda namun dari 6 (enam) informan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang dominan mempengaruhi kepuasan kerja karyawan adalah faktor pengawsan dan faktor upah . Faktor yang berupa upah atau pembayaran, karena dari para karyawan mengatakan bahwa orang memasuki dunia kerja yang dicari adalah upah dan kepuasan batin yang nantinya bisa dijadikan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Selain itu juga pada faktor pengawasan, dengan pengawasan yang dilakukan atasan yang sudah sesuai dengan kondisi karyawan maka karyawan akan merasa diperhatikan oleh perusahaan yang secara tidak langsung adalah dari pimpinan perusahaan. Dengan diakui keberadaan mereka di perusahan maka mereka akan lebih termotivasi untuk memberikan yang terbaik pada perusahaan.

Dari pernyataan d atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dominan mempengaruhi kepuasan kerja karyawan bagian produksi pada Housewares Furniture Indonesia adalah faktor pembayaran atau upah dan faktor pengawasan, faktor-faktor selain tersebut tetap mempunyai pengaruh terhadap kapuasan kerja karyawan bagian produksi pada Housewares Furniture Indonesia tetapi tidak dominan dari ketiga faktor tersebut.

3. Gejala timbulnya ketidakpuasan kerja karyawan bagian produksi pada Housewares Furniture Indonesia

Karyawan bisa menggunakan hampir semua faktor yang melibatkan upah, jam kerja, atau kondisi kerja sebagai dasar ketidakpuasan kerja.

a.Keluar (Exit). Ketidakpuasan kerja yang diungkapkan dengan meninggalkan pekerjaan termasuk mencari pekerjaan baru.

Seperti yang diungkapkan oleh informan II sebagai berikut:

”Saya pernah berkainginan untuk pindah kerja tapi itu dulu saat awal-awal saya bekerja karena saya merasa kurang nyaman dengan rekan kerja saya....”.

Hal senada juga diungkapkan oleh informan IV sebagai berikut: ”Saya secara pribadi pernah merasakan ingin pindah kerja....”

lxxix

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa gejala-gejala ketidakpuasan kerja karyawan adalah berupa keinginan untuk pindah kerja. b. Menyuarakan (Voice). Ketidakpuasan kerja yang diungkapkan melalui

usaha aktif dan konstruktif untuk memperbaiki kondisi, termasuk memberikan saran perbaikan, mendiskusikan masalah dengan atasannya. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan VI sebagai berikut:

”Bila kami mendapati kesulitan dalam tugas yang kami terima maka kami biasanya minta tolong pada rekan kerja dan apabila mereka tidak bisa membantu maka saya berkonsultasi dengan atasan saya. Atasan saya selalu bersedia memberikan masukan-masukan kepada para karyawan bagaimana kami harus menghadapi permasalahan kami....”

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa para karyawan

Dokumen terkait