BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelompok Eksperimen
4.1.2 Deskripsi Sebaran Data
Pada deskripsi sebaran data, peneliti memperlihatkan perbedaan data yang diperoleh pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk setiap indikator. Hasil dari sebaran data dapat dilihat pada tabel berikut.
4.1.2.1 Kemampuan Interpretasi 1. Kelompok Kontrol
Tabel 4.1 Sebaran Data Kelompok Kontrol
No Indikator Soal Pretest Posttes I
1 2 3 4 Total 1 2 3 4 Total
1
Menyebutkan macam-macam sumber energi alternatif
6 11 11 2 30 - 7 18 5 30
2
Menjelaskan
pemanfaatan pada setiap sumber energi alternatif
8 12 10 - 30 1 9 17 3 30
3
Menjelaskan keuntungan dan kerugian sumber energi alternatif
15 9 6 - 30 1 6 17 6 30
Jumlah 29 32 27 2 90 2 22 52 14 90
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa hasil sebaran data soal pretest pada kelompok kontrol untuk ketiga indikator dari kemampuan interpretasi, siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 29 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 32 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 27 anak, dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 2 anak. Nilai yang sering muncul dari 30 siswa yang mengerjakan soal pretest yaitu nilai 2 sebanyak 32 anak. Siswa yang mendapat nilai 1 paling banyak terdapat pada indikator ketiga yaitu sebanyak 15 anak, yang mendapat nilai 2 paling banyak terdapat pada indikator kedua yaitu sebanyak 12 anak, yang mendapat nilai 3 paling banyak terdapat pada indikator pertama yaitu sebanyak 11 anak dan yang mendapat nilai 4 hanya terdapat pada indikator pertama yaitu sebanyak 2 anak.
62 Dari hasil sebaran data soal posttest I pada kelompok kontrol untuk ketiga indikator dari kemampuan interpretasi, siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 2 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 22 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 52 anak, dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 14 anak. Hasil
posttest I menunjukkan bahwa siswa paling banyak mendapat nilai 3 yaitu
sebanyak 52 anak, sedangkan pada pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 32 anak. Hal ini berarti terjadi peningkatan skor dari pretest ke
posttest I. Selain itu, siswa yang mendapat nilai 1 dan 2 berkurang, sedangkan
siswa yang mendapat nilai 3 dan 4 bertambah saat posttest I.
2. Kelompok Eksperimen
Tabel 4.2 Sebaran Data Kelompok Eksperimen
No Indikator Soal Pretest Posttes I
1 2 3 4 Total 1 2 3 4 Total
1
Menyebutkan macam-macam sumber energi alternatif
7 6 10 3 26 - 3 4 19 26
2
Menjelaskan
pemanfaatan pada setiap sumber energi alternatif
2 12 12 - 26 - 2 6 18 26
3
Menjelaskan keuntungan dan kerugian sumber energi alternatif
8 12 5 1 26 - 7 14 5 26
Jumlah 17 30 27 4 78 - 12 24 42 78
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa hasil sebaran data soal pretest pada kelompok eksperimen untuk ketiga indikator dari kemampuan interpretasi, siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 17 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 30 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 27 anak, dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 4 anak. Nilai yang sering muncul dari 30 siswa yang mengerjakan soal pretest yaitu nilai 2 sebanyak 30 anak. Siswa yang mendapat nilai 1 paling banyak terdapat pada indikator ketiga yaitu sebanyak 8 anak, yang mendapat nilai 2 paling banyak terdapat pada indikator kedua dan ketiga yaitu sebanyak 12 anak, yang mendapat nilai 3 paling banyak terdapat pada indikator kedua yaitu sebanyak 11 anak dan yang mendapat nilai 4 paling banyak terdapat pada indikator pertama yaitu sebanyak 3 anak.
63 Dari hasil sebaran data soal posttest I pada kelompok eksperimen untuk ketiga indikator dari kemampuan interpretasi, siswa tidak ada yang mendapat nilai 1, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 12 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 54 anak, dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 42 anak. Hasil
posttest I menunjukkan bahwa siswa paling banyak mendapat nilai 4 yaitu
sebanyak 42 anak, sedangkan pada pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 30 anak. Hal ini berarti terjadi peningkatan skor dari pretest ke
posttest I pada kelompok eksperimen dengan penerapan model PBL. Selain itu,
siswa yang mendapat nilai 1 dan 2 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat nilai 3 dan 4 bertambah saat posttest I.
4.1.2.2 Kemampuan Analisis 1. Kelompok Kontrol
Tabel 4.3 Sebaran Data Kelompok Kontrol
No Indikator Soal Pretest Posttes I
1 2 3 4 Total 1 2 3 4 Total 1 Membandingkan dua pernyataan yang berbeda 11 10 8 1 30 2 8 18 2 30 2 Melontarkan pernyataan prinsip kerja model mainan yang membutuhkan energi angin kepada publik untuk melihat reaksi dengan maksud menyetujui gagasan 8 15 6 1 30 1 15 12 2 30 3 Mengidentifikasi suatu permasalahan pada permainan yang membutuhkan energi angin 9 13 7 1 30 6 10 9 5 30 Jumlah 28 38 21 3 90 9 33 39 9 90
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa hasil sebaran data soal pretest pada kelompok kontrol untuk ketiga indikator dari kemampuan analisis, siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 28 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 38 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 21 anak, dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 3 anak. Nilai yang sering muncul dari 30 siswa yang mengerjakan soal pretest yaitu nilai 2 sebanyak 38 anak. Siswa yang mendapat
64 nilai 1 paling banyak terdapat pada indikator pertama yaitu sebanyak 11 anak, yang mendapat nilai 2 paling banyak terdapat pada indikator kedua yaitu sebanyak 15 anak, yang mendapat nilai 3 paling banyak terdapat pada indikator pertama yaitu sebanyak 8 anak dan yang mendapat nilai 4 terdapat pada indikator pertama, kedua dan ketiga yaitu sebanyak 3 anak.
Dari hasil sebaran data soal posttest I pada kelompok kontrol untuk ketiga indikator dari kemampuan analisis, siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 9 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 33 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 39 anak, dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 9 anak. Hasil
posttest I menunjukkan bahwa siswa paling banyak mendapat nilai 3 yaitu
sebanyak 39 anak, sedangkan pada pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 38 anak. Hal ini berarti terjadi peningkatan skor dari pretest ke
posttest I. Selain itu, siswa yang mendapat nilai 1 dan 2 berkurang, sedangkan
siswa yang mendapat nilai 3 dan 4 bertambah saat posttest I.
2. Kelompok Eksperimen
Tabel 4.4 Sebaran Data Kelompok Eksperimen
No Indikator Soal Pretest Posttes I
1 2 3 4 Total 1 2 3 4 Total
1 Membandingkan dua
pernyataan yang berbeda 3 7 16 - 26 1 3 14 8 26
2
Melontarkan pernyataan prinsip kerja model mainan yang membutuhkan energi angin kepada publik untuk melihat reaksi dengan maksud menyetujui gagasan 5 18 3 - 26 - 6 11 9 26 3 Mengidentifikasi suatu permasalahan pada permainan yang membutuhkan energi angin 5 11 9 1 26 - 5 12 9 26 Jumlah 13 36 28 1 78 1 14 37 26 78
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa hasil sebaran data soal pretest pada kelompok eksperimen untuk ketiga indikator dari kemampuan analisis, siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 13 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 36 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 28 anak, dan siswa yang
65 mendapat nilai 4 sebanyak 1 anak. Nilai yang sering muncul dari 30 siswa yang mengerjakan soal pretest yaitu nilai 2 sebanyak 36 anak. Siswa yang mendapat nilai 1 paling banyak terdapat pada indikator kedua dan ketiga sebanyak 5 anak, yang mendapat nilai 2 paling banyak terdapat pada indikator kedua sebanyak 18 anak, yang mendapat nilai 3 paling banyak terdapat pada indikator pertama sebanyak 16 anak dan yang mendapat nilai 4 hanya terdapat pada indikator pertama sebanyak 1 anak.
Dari hasil sebaran data soal posttest I pada kelompok eksperimen untuk ketiga indikator dari kemampuan analisis, siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 1 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 14 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 37 anak, dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 26 anak. Hasil
posttest I menunjukkan bahwa siswa paling banyak mendapat nilai 4 yaitu
sebanyak 26 anak, sedangkan pada pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 36 anak. Hal ini berarti terjadi peningkatan skor dari pretest ke
posttest I pada kelompok eksperimen dengan penerapan model PBL. Selain itu,
siswa yang mendapat nilai 1 dan 2 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat nilai 3 dan 4 bertambah saat posttest I.
4.1.3 Hasil Uji Hipotesis Penelitian I
Hipotesis penelitian I adalah penerapan model PBL berpengaruh terhadap kemampuan interpretasi pada mata pelajaran IPA dengan materi energi kelas IV SD Negeri Perumnas Condongcatur Yogyakarta semester gasal tahun ajaran 2016/2017. Variabel terikat pada hipotesis penelitian ini adalah kemampuan
interpretasi, sedangkan variabel bebasnya adalah penerapan model PBL.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel terikat terdiri dari 2 soal uraian yaitu item soal nomor 1 yang mengandung indikator membuat kategori, memahami arti, dan menjelaskan makna dan item soal nomor 2 yang mengandung indikator menguji gagasan-gagasan, mengidentifikasi argumen-argumen, dan menganalisis argumen-argumen.
Hasil analisis secara keseluruhan dihitung menggunakan program statistik
IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahapan
66 mengetahui data berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat dilakukan analisis tahap selanjutnya menggunakan statistik parametrik atau nonparametrik, 2) uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, 3) uji signifikansi pengaruh perlakuan, 4) uji besar pengaruh perlakuan. Selanjutnya dilakukan analisis lebih lanjut yang terdiri dari 1) perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke
posttest, 2) uji signifikansi peningkatan rerata pretest ke posttest, 3) uji korelasi
rerata pretest ke posttest, dan 4) uji retensi pengaruh perlakuan.
4.1.3.1 Uji Normalitas Distribusi Data
Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak sehingga untuk menentukan jenis statistik yang digunakan dalam menganalisis data selanjutnya (Field, 2009: 144). Data dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diuji normalitasnya menggunakan
One Samples Kolmogorov-Smirnov test dan Shapiro-Wilk. Pada uji normalitas
distribusi data peneliti menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk karena pada penelitian ini sampel yang digunakan kecil yaitu 26 siswa dari kelompok eksperimen dan 30 siswa dari kelompok kontrol sehingga dengan uji
Shapiro-Wilk lebih akurat, akan tetapi hanya 26 data yang mempunyai pasangan
yang dipakai dalam uji normalitas. Adapun menggunakan uji
Kolmogorov-Smirnov adalah dapat digunakan untuk jumlah sampel yang lumayan banyak serta
tidak terbatas pada data yang berpasangan. Data yang diuji normalitasnya yaitu data pretest, posttest I, posttest II dan selisih pretest ke posttest I.
Kritera yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu 1) jika harga Sig. (2-tailed) > 0,05, distribusi data normal. Jika data terdistribusi normal, maka teknik statistik inferensial yang digunakan yaitu statistik parametrik uji t
(independent-samples t-test dan paired-samples t-test). 2) Jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05, distribusi data tidak normal. Jika data terdistribusi tidak normal,
maka teknik statistik yang digunakan yaitu statistik nonparametrik dalam hal ini yaitu Mann-Whitney atau Wilcoxon (Priyatno, 2012: 136). Hasil uji normalitas kemampuan interpretasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut. (Lihat lampiran 4.3.1)
67
Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data
Kelompok Aspek Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Sig. (2-tailed) Kesimpulan Sig. (2-tailed) Kesimpulan Kontrol
Pretest 0,200 Normal 0,169 Normal
Posttest I 0,052 Normal 0,072 Normal
Posttest II 0,061 Normal 0,069 Normal Selisih rerata skor
pretest posttest I 0,087 Normal 0,411 Normal
Eksperimen
Pretest 0,055 Normal 0,276 Normal
Posttest I 0,058 Normal 0,065 Normal
Posttest II 0,200 Normal 0,175 Normal Selisih rerata skor
pretest posttest I 0,145 Normal 0,378 Normal
Tabel 4.5 menunjukkan harga Sig. (2-tailed) > 0,05 untuk semua aspek. Aspek yang dimaksud adalah pretest, posttest I, posttest II dan selisih pretest ke
posttest I untuk kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Semua aspek
memiliki distribusi data normal sehingga analisis selanjutnya menggunakan statistik parametrik. Statistik parametrik dengan Independent samples t-test digunakan untuk analisis data dari kelompok yang yang berbeda yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326). Sedangkan statistik nonparametrik dengan menggunakan Paired samples t-test digunakan untuk analisis data dari kelompok yang sama, misalnya kelompok kontrol dengan kelompok kontrol atau kelompok eksperimen dengan kelompok eksperimen.
4.1.3.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal
Uji perbedaan kemampuan awal bertujuan untuk mengetahui kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama atau berbeda terhadap kemampuan interpretasi, sehingga kedua kelompok dapat dibandingkan. Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal yaitu jenis pengujian (testing). Pretest pada awal penelitian bisa mempengaruhi hasil posttest sehingga hasil posttest menjadi lebih tinggi dari jika tanpa ada pretest (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 156). Uji perbedaan kemampuan awal skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menggunakan uji statistik parametrik dalam hal ini
Independent samples t-test. Sebelum dilakukan analisis ini perlu dilakukan uji
68
Sig. > 0,05 ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan
sedangkan jika harga Sig. < 0,05 tidak ada hmogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut adalah tabel hasil uji asumsi homogenitas varians. (Lihat lampiran 4.4.1)
Tabel 4.6 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians
Uji Statistik F Sig. Keputusan Levene’s Test for Equality of Variances 1,47 0,23 Homogen
Tingkat kepercayaan Levene’s test 95% menunjukkan harga F = 1,47 dan harga Sig. = 0,23, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas varians. Apabila variansnya homogen maka data uji statistik Independent samples
t-test yang diambil adalah data pada baris pertama output SPSS (Field, 2009:
340).
Tingkat kepercayaan yang digunakan untuk melakukan uji perbedaan kemampuan awal adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika Sig. (2-tailed) < 0,05 (Field, 2009: 53). Hasil uji perbedaan kemampuan awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen adalah sebagai berikut. (Lihat lampiran 4.4.1)
Tabel 4.7 Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest
Uji Statistik Sig. (2-tailed) Kesimpulan Independent samples t-test 0,17 Tidak ada perbedaan
Rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 2,22, SE = 0,09 ) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = 2,02,
SE = 0,09). Perbedaan skor tersebut tidak signifikan dengan t (54) = -1,39, p = 0,17 (p > 0,05) maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sehingga kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama untuk kemampuan interpretasi.
4.1.3.3 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan
Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model PBL terhadap kemampuan interpretasi, dengan melihat rerata selisih skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
69 Untuk mengetahui pengaruh perlakuan menggunakan rumus: (O2 – O1) – (O4 – O3) yaitu dengan mengurangi selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, 2007: 277). Apabila hasil perhitungan lebih besar dari 0 maka ada pengaruh. Hasil perhitungan menunjukkan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen sebesar 1,167 dan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol sebesar 0,81. Hasil perhitungan diperoleh angka 0,35 atau positif (didapat dari selisih 1,167-0,81), sehingga ada pengaruh penerapan model PBL terhadap kemampuan interpretasi. Untuk mengetahui apakah pengaruhnya signifikan atau tidak, akan dianalisis dengan statistik selanjutnya.
Uji normalitas distribusi data menunjukkan bahwa rerata selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berdistribusi normal. Analisis selanjutnya adalah menggunakan statistik parametrik dengan
Independent samples t-test karena data berasal dari kelompok yang berbeda yaitu
kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326).
Sebelum dilakukan uji statistik untuk mengetahui signifikansi pengaruh perlakuan, perlu dilakukan uji asumsi terhadap homogenitas varians dengan melihat harga Sig Levene’s test. Jika harga Sig. < 0,05 maka tidak terdapat homogenitas varians pda dua data yang dibandingkan (Field, 2009: 340). Jika harga Sig. > 0,05 maka terdapat homogenitas varians pada dua data yang dibandingkan. Hasil uji asumsi homogenitas varians dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut. (Lihat lampiran 4.5.1)
Tabel 4.8 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians
Uji Statistik F Sig. Keputusan Levene’s Test for Equality of
Variances 1,54 0,22 Homogen
Tingkat kepercayaan Levene’s test yang digunakan 95% menunjukkan bahwa F = 1,54 dan harga Sig. = 0,22 (Sig. > 0,05), hal ini berarti terdapat homogenitas varians data. Jika terdapat homogenitas varians, data uji statistik yang digunakan Independent samples t-test yang diambil adalah data pada baris beris pertama output SPSS (Field, 2009: 340).
Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Field (2009: 53) menyatakan bahwa kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah apabila
70
Sig. (2-tailed) < 0,05. Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan pada kelompok
kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan interpretasi dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut. (Lihat lampiran 4.5.1)
Tabel 4.9 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan
Uji Statistik Sig. (2-tailed) Kesimpulan Independent samples t-test 0,017 Ada perbedaan
Rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 1,167, SE =0,12) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = 0,81,
SE = 0,07). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (54) = -2,47, p = 0,017 (p < 0,05) maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan interpretasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil signifikansi pengaruh perlakuan adalah penerapan model PBL berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan interpretasi. Hasil perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan
interpretasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada
diagram berikut.
71 4.1.3.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan
Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model PBL terhapap kemampuan interpretasi. Data yang diperoleh berdistribusi normal sehingga menggunakan rumus koefisien Pearson untuk data normal (Field, 2009: 57). Independent samples t-test digunakan untuk mengambil t dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Persentase pengaruh perlakuan didapat dengan menghitung koefisien determinasi (R2) dengan cara mengkuadratkan harga r (harga koefisien korelasi Pearson yang didapat) selanjutnya dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Besar pengaruh penerapan model PBL pada kelompok eksperimen terhadap kemampuan interpretasi adalah r =
0,32 atau 10%. Berdasarkan kriteria yang digunakan untuk menentukan besarnya
efek, maka hasil perhitungan r setara dengan efek menengah. Berikut hasil perhitungan effect size terhadap kemampuan interpretasi. (Lihat lampiran 4.6).
Tabel 4.10 Hasil Uji Effect Size
Variabel t t2 df r (effect size) R
2 % Kategori Efek Interpretasi -2,47 6,11 54 0,32 0,10 10 Menengah
4.1.3.5 Analisis Lebih Lanjut