BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. Uji Korelasi antara Rerata Pretest ke Posttest I
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengaruh Model PBL terhadap Kemampuan Interpretasi
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based
Learning (PBL) berpengaruh terhadap kemampuan interpretasi mata pelajaran
IPA materi energi pada siswa kelas IV SD Negeri Perumnas Condongcatur Yogyakarta semester gasal tahun ajaran 2016/2017. Pada sebaran data untuk kelompok kontrol dengan pembelajaran menggunakan metode ceramah dari
pretest ke posttest I mengalami peningkatan. Pada indikator menyebutkan
macam-macam sumber energi alternatif dengan soal “Sebutkan 4 macam-macam sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kelangkaan listrik!” menunjukkan bahwa nilai pretest siswa yang menjawab dengan nilai 1 ada 6 anak, pada saat posttest I mengalami penurunan dengan tidak ada siswa yang mendapat nilai 1. Pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 3 sebanyak 18 anak. Pada indikator menjelaskan pemanfaatan pada setiap sumber energi alterntaif dengan soal “Jelaskan 4 pemanfaatan sumber energi alternatif yang dapat digunakan sebagai sumber energi listrik!” menunjukkan bahwa pada pretest siswa mendapat nilai 1 sebanyak 8 anak dan pada posttest I mengalami penurunan hanya 1 anak yang mendapat nilai 1, siswa paling banyak menjawab mendapat nilai 2 sebanyak 12 anak saat pretest dan saat posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 3 sebanyak 17 anak, nilai 4 didapat oleh 3 anak saat posttest I. Pada indikator menjelaskan keuntungan dan kerugian sumber energi alternatif dengan soal “Jelaskan 2 keuntungan dan 2 kerugian dari sumber energi alternatif!” menunjukkan bahwa pada pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 sebanyak 15 anak dan pada posttest I mengalami penurunan hanya 1 anak yang mendapat nilai 1, siswa mendapat nilai 2 sebanyak 9 anak saat pretest dan saat posttest I mengalami penurunan yaitu sebanyak 6 anak mendapat nilai 2, siswa paling banyak mendapat nilai 3 sebanyak 17 anak saat posttest I dari 6 anak saat pretest,
95 dan nilai 4 didapat oleh 6 anak saat posttest I. Pada kelompok kontrol siswa mendapat nilai pretest paling banyak pada nilai 2 sebanyak 32 anak, sedangkan pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 3 sebanyak 52 anak yang sebelumnya yaitu saat pretest sebanyak 27 anak. Selain itu, siswa yang mendapat nilai 1 dan 2 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat nilai 3 dan 4 bertambah saat posttest I.
Pada sebaran data untuk kelompok eksperimen dengan pembelajaran menggunakan model PBL dari pretest ke posttest I mengalami peningkatan. Pada indikator menyebutkan macam-macam sumber energi alternatif dengan soal “Sebutkan 4 macam sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kelangkaan listrik!” menunjukkan bahwa nilai pretest siswa yang menjawab dengan nilai 1 ada 7 anak dan pada saat posttest I tidak ada siswa yang mendapat nilai 1. Pada pretest siswa paling banyak mendapat nilai 3 sebanyak 10 anak sedangkan pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 4 sebanyak 19 anak. Pada indikator menjelaskan pemanfaatan pada setiap sumber energi alterntaif dengan soal “Jelaskan 4 pemanfaatan sumber energi alternatif yang dapat digunakan sebagai sumber energi listrik!” menunjukkan bahwa pada pretest siswa mendapat nilai 1 sebanyak 2 anak dan pada posttest I tidak ada yang mendapat nilai 1, siswa paling banyak menjawab mendapat nilai 2 dan 3 sebanyak 12 anak saat pretest dan saat posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 4 sebanyak 18 anak. Pada indikator menjelaskan keuntungan dan kerugian sumber energi alternatif dengan soal “Jelaskan 2 keuntungan dan 2 kerugian dari sumber energi alternatif!” menunjukkan bahwa pada pretest siswa mendapat nilai 1 sebanyak 8 anak dan pada posttest I tidak ada anak yang mendapat nilai 1, siswa paling banyak mendapat nilai 2 sebanyak 12 anak saat pretest dan mengalami penurunan saat posttest I yaitu hanya ada 7 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 5 anak saat pretest dan mengalami peningkatan saat posttest I yaitu ada 14 anak, dan nilai 4 didapat oleh 5 anak. Pada kelompok eksperimen hasil saat
pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 sebanyak 30 anak, sedangkan saat posttest I menunjukkan bahwa siswa paling banyak mendapat nilai 4 sebanyak 42
anak yang sebelumnya yaitu saat pretest sebanyak 4 anak. Siswa yang mendapat nilai 1 dan 2 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat nilai 3 dan 4 bertambah
96 saat posttest I. Hal ini berarti bahwa terjadi peningkatan skor dari pretest ke
posttest I baik pada kelompok eksperimen dengan menggunakan model PBL
terhadap kemampuan interpretasi.
Data hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan model PBL pada pembelajaran IPA berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan
interpretasi. Hal ini dibuktikan melalui uji signifikansi pengaruh perlakuan yang
menunjukkan harga Sig. (2-tailed) sebesar 0,017 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan model PBL berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan interpretasi.
Pada uji besar pengaruh perlakukan menunjukkan harga r = 0,32 (efek menengah) atau yang setara dengan 10% pengaruh yang diakibatkan oeh variabel dependen yaitu kemampuan interpretasi. Hal ini berarti bahwa model PBL memberikan efek menengah terhadap kemampuan interpretasi. Model PBL memberikan pengaruh 10% terhadap kemampuan interpretasi, sedangkan 90% lainnya merupakan pegaruh yang disebabkan oleh variabel lain di luar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain tersebut berasal dari diri siswa seperti konsentrasi, minat, inteligensi, kesehatan tubuh dan motivasi. Selain itu terdapat variabel yang berasal dari lingkungan seperti kondisi latar belakang keluarga dan lingkungan di sekitar yang ramai.
Perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan
interpretasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada
gambar 4.1. Kelompok eksperimen mengalami peningkatan rerata skor pretest ke
posttest I lebih besar daripada kelompok kontrol. Peningkatan rerata skor pada
kelompok kelompok kontrol sebesar 0,82 sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 1,17. Selanjutnya persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol sebesar 40% sedangkan persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 52,2%. Hal ini berarti bahwa terjadi peningkatan skor pretest
97 ke posttest I pada kelompok kontrol dengan metode ceramah maupun pada kelompok eksperimen dengan model PBL terhadap kemampuan interpretasi.
Pada uji besar efek peningkatan rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dengan penerapan model PBL lebih besar daripada kelompok kontrol dengan penerapan metode ceramah. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memiliki besar pengaruh sebesar 0,87 atau 77% yang setara dengan efek besar, sedangkan persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol memiliki besar pengaruh sebesar 0,83 atau setara 69% yang setara dengan efek besar. Hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan interpretasi dengan sama-sama memiliki harga
Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (p < 0,05). Hal ini berarti bahwa ada perbedaan yang
signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan interpretasi pada kelompok eskperimen sehingga kesimpulan yang dapat diambil bahwa terdapat peningkatan skor yang signifikan dari skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan interpretasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Uji korelasi rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol harga Sig. (2-tailed) sebesar 0,035 (p < 0,05), artinya bahwa pada kelompok kontrol ada korelasi atau hubungan yang signifikan antara hasil rerata pretest dan posttest I pada kemampuan interpretasi dan hubungan menunjukkan hasil positif sedangkan pada kleompok eksperimen harga Sig.
(2-tailed) sebesar 0,574 (p > 0,05) artinya bahwa pada kelompok eksperimen tidak
ada korelasi atau hubungan yang signifikan antara hasil rerata pretest dan posttest
I pada kemampuan interpretasi dan hubungan menunjukkan hasil positif.
Pengaruh model PBL tidak sekuat pada posttest I karena terjadi penurunan skor rereta posttest II terhadap kemampuan interpretasi. Penurunan terjadi secara signifikan pada kelompok kontrol dan kelompok ekpserimen. Hal ini ditunjukkan dengan harga Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (p < 0,05) pada kelompok kontrol dan harga Sig. (2-tailed) sebesar 0,013 (p < 0,05) pada kelompok eksperimen. Persentase penurun rerata posttest I dan posttest II pada kelompok kontrol lebih
98 tinggi daripada kelompok eksperimen. Persentase penurunan kelompok kontrol sebesar 19,01% sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 9,17%.
Kegiatan pembelajaran pada kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen berbeda. Pada kelompok kontrol kegiatan pembelajaran menggunakan metode tradisional yaitu ceramah sedangkan pada kelompok eksperimen menggunakan model PBL. Siswa pada kelompok kontrol menerima materi melalui penjelasan-penjelasan dari guru mitra. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan hanya duduk mendengarkan penjelasan materi dari guru. Pembelajaran pada kelompok kontrol didominasi komunikasi antara guru dengan siswa. Hasil posttest I pada kelompok kontrol juga tidak sebagus hasil posttest I pada kelompok eksperimen. Rerata skor posttest I pada kelompok kontrol sebesar 2,84 sedangkan rerata posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 3,38.
Siswa pada kelompok eksperimen lebih aktif dalam menerima pembelajaran di kelas. Siswa pada kelompok eksperimen dapat mengembangkan kemampuan
interpretasi dalam aspek membuat kategori, memahami arti, dan menjelaskan
makna. Selama kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model PBL, siswa kelompok eksperimen mampu menyebutkan macam-macam sumber energi alternatif, menjelaskan pemanfaatan pada setiap sumber energi alternatif, serta menjelaskan keuntungan dan kerugian sumber energi alternatif. Siswa pada kelompok ini aktif mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang ingin mereka ketahui. Siswa mampu berdiskusi bersama teman sekelompoknya dengan baik ketika menyusun rencana strategi dalam menyelesaikan masalah. Adapun pada kelompok kontrol siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan interpretasi. Kegiatan pembelajaran pada siswa kelompok kontrol melakukan tanya jawab hanya mengenai materi yang dijelaskan oleh guru. Siswa menjawab pertanyaan dari guru berdasarkan materi yang telah di pelajari.