BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. Uji Korelasi antara Rerata Pretest ke Posttest I
4.2 Pembahasan
4.2.2 Pengaruh Model PBL terhadap Kemampuan Analisis
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based
Learning (PBL) berpengaruh terhadap kemampuan analisis mata pelajaran IPA
materi energi pada siswa kelas IV SD Negeri Perumnas Condongcatur Yogyakarta semester gasal tahun ajaran 2016/2017. Pada sebaran data untuk kelompok
99 kontrol dengan pembelajaran menggunakan metode ceramah dari pretest ke
posttest I mengalami peningkatan. Pada indikator membandingkan dua pernyataan
yang berbeda dengan soal “Apa yang membedakan dari 2 pernyataan di atas? Sebutkan minimal 2?” menunjukkan bahwa nilai pretest siswa yang mendapat nilai 1 ada 11 anak dan saat posttest I mengalami penurunan hanya ada 2 anak. Pada indikator melontarkan pernyataan prinsip kerja model mainan yang membutuhkan energi angin kepada publik untuk melihat reaksi dengan maksud menyetujui gagasan dengan soal “Apakah kamu setuju jika parasut menggunakan cara kerja udara yang mengalir? Berikan 3 alasanmu!” menunjukkan bahwa pada
pretest siswa mendapat nilai 1 sebanyak 8 anak dan pada posttest I hanya 1 anak
yang mendapat nilai 1, siswa mendapat nilai 2 sebanyak 15 anak untuk pretest dan
posttest I, siswa mendapat nilai 3 sebanyak 6 anak saat pretest dan mengalami
peningkatan saat posttest I yaitu sebanyak 12 anak, dan nilai 4 didapat oleh 2 anak saat posttest I. Pada indikator mengidentifikasi suatu permasalahan pada permainan yang membutuhkan energi angin dengan soal “Pada sore hari angin bertiup ke arah utara. Denis menerbangkan layang-layangnya ke arah selatan. Apakah yang dilakukan Denis sudah memanfaatkan energi angin? Berikan 3 alasanmu!” menunjukkan bahwa pada pretest siswa mendapat nilai 1 sebanyak 9 anak dan pada posttest I mengalami penurunan ada 6 anak yang mendapat nilai 1, siswa paling banyak mendapat nilai 2 sebanyak 13 anak saat pretest dan saat
posttest I sebanyak 6 anak, siswa mendapat nilai 3 sebanyak 7 anak saat pretest
dan 9 anak saat posttest I, dan nilai 4 didapat oleh 5 anak saat posttest I. Pada kelompok kontrol siswa mendapat nilai pretest paling banyak pada nilai 2 sebanyak 38 anak, sedangkan pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 3 sebanyak 39 anak yang sebelumnya yaitu saat pretest sebanyak 21 anak. Selain itu, siswa yang mendapat nilai 1 dan 2 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat nilai 3 dan 4 bertambah saat posttest I.
Pada sebaran data untuk kelompok eksperimen dengan pembelajaran menggunakan model PBL dari pretest ke posttest I mengalami peningkatan. Pada indikator membandingkan dua pernyataan yang berbeda dengan soal “Apa yang membedakan dari 2 pernyataan di atas? Sebutkan minimal 2?” menunjukkan bahwa nilai pretest siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 3 anak, akan tetapi pada
100 saat posttest I mengalami penurunan hanya ada 1 anak yang mendapat nilai 1, siswa mendapat nilai 2 sebanyak 7 anak saat pretest dan saat posttest I mengalami penurunan ada 3 anak yang mendapat nilai 2. Pada pretest siswa paling banyak mendapat nilai 3 sebanyak 16 anak sedangkan pada posttest I mengalami penurunan yaitu sebanyak 14 anak dan nilai 4 didapat oleh 8 anak pada posttest I. Pada indikator melontarkan pernyataan prinsip kerja model mainan yang membutuhkan energi angin kepada publik untuk melihat reaksi dengan maksud menyetujui gagasan dengan soal “Apakah kamu setuju jika parasut menggunakan cara kerja udara yang mengalir? Berikan 3 alasanmu!” menunjukkan bahwa pada
pretest siswa mendapat nilai 1 sebanyak 5 anak dan pada posttest I tidak ada yang
mendapat nilai 1, siswa paling banyak menjawab mendapat nilai 2 sebanyak 18 anak saat pretest dan saat posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 3 sebanyak 18 anak. Pada indikator Pada indikator mengidentifikasi suatu permasalahan pada permainan yang membutuhkan energi angin dengan soal “Pada sore hari angin bertiup ke arah utara. Denis menerbangkan layang-layangnya ke arah selatan. Apakah yang dilakukan Denis sudah memanfaatkan energi angin? Berikan 3 alasanmu!” menunjukkan bahwa pada pretest siswa mendapat nilai 1 sebanyak 5 anak dan pada posttest I tidak ada anak yang mendapat nilai 1, siswa paling banyak mendapat nilai 2 sebanyak 11 anak saat
pretest dan mengalami penurunan saat posttest I yaitu hanya ada 5 anak, siswa
yang mendapat nilai 3 sebanyak 9 anak saat pretest dan mengalami peningkatan saat posttest I yaitu ada 12 anak, dan nilai 4 didapat oleh 5 anak. Sedangkan pada kelompok eksperimen hasil saat pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 sebanyak 36 anak, sedangkan saat posttest I menunjukkan bahwa siswa paling banyak mendapat nilai 3 sebanyak 37 anak yang sebelumnya yaitu saat pretest sebanyak 28 anak. Siswa yang mendapat nilai 1 dan 2 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat nilai 3 dan 4 bertambah saat posttest I. Hal ini berarti bahwa terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I baik pada kelompok eksperimen dengan menggunakan model PBL terhadap kemampuan anaisis.
Data hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan model PBL pada pembelajaran IPA berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan analisis. Hal ini dibuktikan melalui uji signifikansi pengaruh perlakuan yang menunjukkan
101 harga Sig. (2-tailed) sebesar 0,005 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor
pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan model PBL berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan analisis.
Pada sebaran data kelompok kontrol dan kelompok eksperimen nilai pretest ke posttest I mengalami peningkatan. Pada kelompok kontrol siswa mendapat nilai pretest paling banyak pada nilai 2 sebanyak 38 anak, sedangkan pada
posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 3 sebanyak 39 anak yang
sebelumnya yaitu saat pretest sebanyak 21 anak. Sedangkan pada kelompok eksperimen hasil saat pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 sebanyak 36 anak, sedangkan saat posttest I menunjukkan bahwa siswa paling banyak mendapat nilai 3 sebanyak 37 anak yang sebelumnya yaitu saat pretest sebanyak 28 anak. Siswa yang mendapat nilai 1 dan 2 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat nilai 3 dan 4 bertambah saat posttest I. Hal ini berarti bahwa terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I baik pada kelompok kontrol dengan menggunakan metode ceramah maupun kelompok eksperimen dengan menggunakan model PBL terhadap kemampuan anaisis.
Pada uji besar pengaruh perlakukan menunjukkan bahwa harga r = 0,36 (efek menengah) atau yang setara dengan 13% pengaruh yang diakibatkan oeh variabel dependen. Hal ini berarti bahwa model PBL memberikan efek menengah terhadap kemampuan analisis. Model PBL memberikan pengaruh 10% terhadap kemampuan analisis, sedangkan 90% lainnya merupakan pegaruh yang disebabkan oleh variabel lain di luar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain tersebut berasal dari diri siswa seperti konsentrasi, minat, inteligensi, kesehatan tubuh dan motivasi. Selain itu terdapat variabel yang berasal dari lingkungan seperti kondisi latar belakang keluarga dan lingkungan yang ramai di sekitar.
Perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan
analisis pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada
gambar 4.3. Kelompok eksperimen peningkatan rerata skor pretest ke posttest I lebih besar daripada kelompok kontrol. Peningkatan rerata skor pada kelompok
102 kelompok kontrol sebesar 0,51 sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 0,93. Selanjutnya persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Selanjutnya persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol sebesar 25% sedangkan persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 42,72%. Hal ini berarti bahwa terjadi peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dengan metode ceramah maupun pada kelompok eksperimen dengan model PBL terhadap kemampuan analisis.
Pada uji besar efek peningkatan rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dengan penerapan model PBL lebih besar daripada kelompok kontrol dengan penerapan metode ceramah. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memiliki besar pengaruh sebesar 0,9 atau 81% yang setara dengan efek besar, sedangkan persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol memiliki besar pengaruh sebesar 0,63 atau setara 40% yang setara dengan efek besar. Hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan analisis dengan sama-sama memiliki harga Sig.
(2-tailed) sebesar 0,000 (p < 0,05). Hal ini berarti bahwa ada perbedaan yang
signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan analisis pada kelompok eskperimen sehingga kesimpulan yang dapat diambil bahwa terdapat peningkatan skor yang signifikan dari skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan analisis pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Uji korelasi rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor yang positif dan signifikan. Hal ini dapat dilihat dari harga Sig. (2-tailed) sebesar 0,010
(p < 0,05), artinya bahwa pada kelompok kontrol ada korelasi atau hubungan
yang signifikan antara hasil rerata pretest dan posttest I pada kemampuan analisis dan hubungan menunjukkan hasil positif sedangkan pada kelompok eksperimen harga Sig. (2-tailed) sebesar 0,001 (p > 0,05) artinya bahwa pada kelompok eksperimen tidak ada korelasi atau hubungan yang signifikan antara hasil rerata
103
pretest dan posttest I pada kemampuan analisis dan hubungan menunjukkan hasil
positif. Pengaruh model PBL tidak sekuat pada posttest I karena terjadi penurunan skor rereta posttest II terhadap kemampuan analisis. Penurunan terjadi secara signifikan pada kelompok kontrol dan kelompok ekpserimen. Hal ini ditunjukkan dengan harga Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (p < 0,05) pada kelompok kontrol dan harga Sig. (2-tailed) sebesar 0,004 (p < 0,05) pada kelompok eksperimen.
Pada uji retensi pengaruh perlakuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terjadi penurunan skor yang signifikan dari skor posttest I dan
posttest II terhadap kemampuan analisis. Hal ini ditunjukkan dengan harga Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (p < 0,05) pada kelompok kontrol dan Sig. (2-tailed)
sebesar 0,004 (p < 0,05) pada kelompok eksperimen. Persentase penurunan rerata
posttest I dan posttest II pada kelompok kontrol lebih tinggi daripada kelompok
eksperimen. Persentase penurunan kelompok kontrol sebesar 18,80% sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 10,50%.
Kegiatan pembelajaran pada kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen berbeda. Pada kelompok kontrol kegiatan pembelajaran menggunakan metode tradisional yaitu ceramah sedangkan pada kelompok eksperimen menggunakan model PBL. Siswa pada kelompok kontrol menerima materi melalui penjelasan-penjelasan dari guru mitra. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan hanya duduk mendengarkan penjelasan materi dari guru. Pembelajaran pada kelompok kontrol didominasi dengan komunikasi antara guru dengan siswa. Hasil posttest I pada kelompok kontrol juga tidak sebagus hasil
posttest I pada kelompok eksperimen. Rerata skor posttest I pada kelompok
kontrol sebesar 2,50 sedangkan rerata posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 3,14.
Siswa pada kelompok eksperimen lebih aktif dalam menerima pembelajaran di kelas. Siswa pada kelompok eksperimen dapat mengembangkan kemampuan
analisis dalam aspek menguji gagasan-gagasan, mengidentifikasi
argumen-argumen, dan menganalisis argumen-argumen. Selama kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model PBL, siswa kelompok eksperimen mampu membandingkan dua pernyataan yang berbeda, melontarkan pernyataan prinsip kerja model mainan yang membutuhkan energi angin kepada publik untuk melihat
104 reaksi dengan maksud menyetujui gagasan, serta mengidentifikasi suatu permasalahan pada permainan yang membutuhkan energi angin. Siswa pada kelompok ini aktif mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang ingin mereka ketahui. Siswa mampu berdiskusi bersama teman sekelompoknya dengan baik ketika menyusun rencana strategi dalam menyelesaikan masalah. Adapun pada kelompok kontrol siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan analisis. Kegiatan pembelajaran pada siswa kelompok kontrol melakukan tanya jawab hanya mengenai materi yang dijelaskan oleh guru. Siswa menjawab pertanyaan dari guru berdasarkan materi yang telah di pelajari.
4.2.3 Persepsi terhadap Perlakuan
Krathwohl (2004: 546-547) menyatakan bahwa penelitian eksperimental mencakup unsur penelitian kualitatif yang bertujuan untuk membantu memahami sudut pandang subjek. Wawancara kepada siswa setelah penelitian dilakukan sebagai data untuk memperkuat setelah diberikan perlakuan atau treatment dan merujuk pada penjelasan yang lebih mendalam. Pada bagian ini dibahas persepsi terhadap perlakuan dengan melakukan triangulasi data yang terdiri dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan ketika kegiatan pembelajaran berlangsung di kelas eksperimen selama tiga kali pertemuan.
Observasi pertama diaksanakan pada hari Rabu, 28 September 2016 dari pukul 07.00-08.45 WIB. Sub materi yang dipelajari adalah sumber energi alternatif. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung siswa merasa sangat senang dan beberapa kali bertanya kepada guru mengenai langkah-langkah kegiatan selanjutnya. Diawal pembelajaran ditunjukkan sebuah video berita kelangkaan listrik, semua siswa tenang mendengarkan dan melihat berita tersebut. Setelah video selesai, ada salah satu siswa perempuan bertanya kepada guru, “Pak, terus
bagaimana kalau tidak ada listrik, tidak bisa mandi pak?” (Komunikasi pribadi,
28 September 2016). Guru menjelaskan langkah-langkah kegiatan selanjutnya untuk bekerja dalam kelompok. Saat berdiskusi dalam kelompok, semua siswa dapat bekerjasama dengan baik, baik dalam hal menyelesaikan soal, melakukan percobaan, membuat laporan hingga maju ke depan menyampaikan hasil diskusi.
105 Observasi kedua dilaksanakan pada hari Kamis, 29 September 2016 pada pukul 07.00-08.45 WIB dengan sub materi perubahan energi. Siswa dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik, sesuai dengan arahan guru. Ketika belajar dalam kelompok untuk menyelesaikan soal, semua siswa dapat bekerjasama dengan baik antar teman, begitu juga antar kelompok saling membantu. Siswa terlihat antusias dan semangat ketika mengamati perubahan energi seperti lampu, kipas, setrika, dan lain-lain. Rasa ingin tahu siswa juga terlihat saat ada salah satu anak yang bertanya kepada guru, ”Pak, kalau AC
perubahan listrik jadi energi apa pak?” (Komunikasi, 29 September 2015).
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung siswa merasa antusias dan bersemangat mulai dari bekerja dalam kelompok, mencoba perubahan energi pada alat-alat, sampai menyampaikan hasil laporan di depan kelas.
Observasi ketiga dilaksanakan pada hari Jumat, 30 September 2016 pukul 09.05-10.40 WIB dengan sub materi hemat energi. Guru menunjukkan gambar tentang pemborosan air atau listrik yang terjadi. Ketika guru menunjukkan gambar, siswa mulai aktif bertanya mengenai gambar tersebut. Siswa bertanya jawab dan bersama dengan kelompoknya berdiskusi menemukan pokok masalah dari gambar yang ditunjukkan guru. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung siswa merasa antusias dan bersemangat mulai dari bekerja dalam kelompok, mencoba perubahan energi pada alat-alat, sampai menyampaikan hasil laporan di depan kelas. Di akhir pembelajaran, siswa sangat senang ketika membuat sebuah “AKSI” tentang hemat energi. Setiap kelompok mampu bekerjasama dengan baik dengan saling membantu.
Wawancara dilakukan peneliti pada hari Senin, 3 Oktober 2016 kepada guru mitra sesudah dilakukannya perlakuan. Guru mitra mengungkapkan bahwa beliau biasanya dalam mengajar mata pelajaran IPA menggunakan eksperimen atau percobaan. Berikut adalah pemaparan dari guru mitra, “IPA itu akan mudah
dipahami kalau menggunakan praktik. Biasanya saya kalau mengajar juga melakukan percobaan tetapi tergantung sama materinya juga.” (W G B4). Guru
mitra juga mengungkapkan bahwa model PBL belum pernah diterapkan sebelumnya dalam pembelajaran IPA. Berikut adalah pernyataan guru, “Belum
106 di terapkan dalam pembelajaran IPA karena menarik dan mendorong anak untuk berpikir lebih mendalam, berpikir kreatif dan ada hubungan kerjasama yang baik dnegan teman-teman. Berikut adalah pemaparan guru mitra, “Menggunakan
model PBL baik, menarik, model PBL dapat memicu anak untuk berpikir lebih mendalam, berpikir kreatif, ada kerjasama yang baik dengan teman-temannya.”
(W G B18).Selain itu, guru mitra juga mengungkapkan bahwa model PBL efektif untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran khususnya IPA. Berikut penjelasan guru, “Iya, efektif untuk kegiatan pembelajaran apalagi IPA.” (W G B23).
Guru mitra mengalami sedikit kesulitan ketika menggunakan model PBL. Kesulitannya yaitu bahwa anak masih susah dan bingung menemukan pokok masalah dari kasus karena baru pertama kali pembelajaran menggunakan model PBL. Berikut penjelasan beliau, “Kalau kemarin kesulitannya itu anak masih
susah menemukan masalah dari kasus, inti dari masalah masih bingung. Karena mungkin ini baru pertama kali menggunakan model PBL di kelas.” W G B12).
Mengenai hal tersebut, guru mitra memberikan saran kepada peneliti untuk menjelaskan dengan detail kepada siswa agar siswa tidak merasa bingung, seperti yang diungkapkan oleh beliau, “Sarannya untuk pembelajaran PBL itu mungkin
perlunya mengkondisikan siswa dan disosialisasikan dengan jelas langkah-langkah PBL karena langkah-langkah-langkah-langkah PBL banyak sehingga banyak siswa yang mungkin ada yang bingung.” (W G B33).
Peneliti juga melakukan wawancara kepada tiga siswa dengan tingkat kognitif tinggi, sedang, dan rendah. Hasil wawancara menyatakan bahwa siswa merasa senang belajar IPA. Berikut ungkapan siswa, “Senang karena bisa belajar
sama kelompok.” (W2 SA B3), siswa lain juga mengungkapkan “Senang, kemarin juga ada percobaan, ada lampu-lampu juga, menarik dan saya lebih bisa mudeng.” (W2 SB B3), siswa lain menjawab, “Senang, soalnya praktik.” (W2 SC
B3). Model PBL membantu siswa dalam memahami materi IPA tentang energi. Berikut ungkapan siswa, “Iya, lebih ngerti tentang materi.” (W2 SA B6), siswa lain juga menjawab, “Senang, kemarin juga ada percobaan, ada lampu-lampu
juga, menarik dan saya lebih bisa mudeng.” (W2 SB B3), siswa lain menjawab, “Iya, lebih paham.” (W2 SC B6). Siswa tidak mengalami kesulitan saat belajar
107
belajarnya praktik bareng sama teman.” (W2 SC B12). Siswa merasa senang
karena menggunakan alat-alat sederhana dan langkah-langkah kegiatannya di arahakan oleh guru mitra dengan jelas. Berikut penjelasan dari salah satu anak,
“Senang, karena ada alat-alat sederhana, kegiatannya dijelasin jelas, tidak bingung.” (W2 SB B16).
Wawancara juga dilakukan peneliti untuk mengetahui kemampuan
interpretasi siswa sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil wawancara sebelum
perlakuan menunjukkan bahwa salah satu siswa bisa mengerjakan, “Bisa, tidak
merasa kesulitan.” (W1 SA B13). Namun, ada pula siswa yang bingung, “Itu bingung, belum pernah dijelaskan Bu guru soalnya.” (W1 SB B16). Akan tetapi,
setelah diadakan perlakuan dengan model PBL siswa lebih bisa menjawab soal nomor 1a, 1b, dan 1c. Berikut ungkapan siswa, “Iya, lebih bisa ngerjakan.” (W2 SA B15), “Iya bisa, saya kemarin bisa mengisi semua yang nomor 1. Soalnya kan
sudah dipelajari, saya juga masih ingat.” (W2 SB B20), “Bisa, semuanya saya kerjakan.” (W2 SC B15).
Wawancara selanjutnya dilakukan peneliti untuk mengetahui kemampuan
analisis siswa sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil wawancara sebelum
perlakuan menunjukkan bahwa ada siswa yang bisa mengerjakan soal nomor 2a, 2b, dan 2c, ada yang ragu-ragu dan ada yang mengalami kesulitan. Berikut adalah ungkapan dari siswa yang bisa mengerjakan, “Bisa, tidak merasa kesulitan.” (W1 SA B16), berikut ungkapan siswa yang menjawab ragu-ragu, “Bisa. Tapi tidak
tahu benar apa tidak, tapi saya isi kemarin.” (W1 SB B18), dan berikut ungkapan
siswa yang mengalami kesulitan, “Em agak, soalnya sulit.” (W1 SC B18). Akan tetapi, setelah diadakan perlakuan dengan model PBL ketiga siswa lebih bisa mengerjakan. Berikut ungkapan dari ketiga siswa, “Iya, jadi lebih bisa
ngerjakan.” (W2 SA B18), “Yang kemarin nomor 2 saya juga bisa mengerjakan.” (W2 SB B24), “Bisa sedikit.” (W2 SC B18).
Wawancara berikut untuk mengetahui soal yang dirasa sulit oleh siswa. dari ketiga siswa yang diwawancarai, ketiga mengatakan bahwa soal nomor 2 soal yang sulit. Berikut hasil wawancara tiga siswa, “Soal nomor 2 karena sulit waktu
mencari alasan yang benar.” (W1 SA B19), “Emm nomor 2. Saya bingung.”
108 pembelajaran menggunakan model PBL dapat membantu siswa mengerjakan soal yang sulit yaitu soal nomor 2. Siswa mengungkapkan bahwa model PBL juga lebih menarik dan dapat bekerja bersama teman-teman, “Menarik, karena
menggunakan alat-alat sederhana, bekerja kelompok bareng-bareng. Terus maju juga dan dijelasin lagi sama Pak guru.” (W2 SB B11).