BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Deskripsi Siklus I
Hal-hal yang dilakukan dalam perencanaan pelaksanaan tindakan siklus I adalah sebagai berikut:
1) Menyusun RPP dengan langkah- langkah Problem Based Learning.
2) Menyiapkan lembar kerja siswa yang akan digunakan dalam pembelajaran. 3) Menyiapkan evaluasi berupa tes tertulis.
4) Menyiapkan lembar observasi berupa instrumen pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran yang digunakan untuk menuliskan hal-hal yang belum tercantum dalam instrumen pengamatan.
b. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
Pada tahap ini guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP. Guru dibantu oleh peneliti melakukan observasi atau pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran yang berlangsung dengan menggunakan lembar observasi. Secara keseluruhan, guru sudah memberikan tindakan sesuai dengan RPP yang telah disusun sesuai model pembelajaran Problem Based Learning. Berikut ini
deskripsi pelaksanaan dan pengamatan kegiatan pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning:
1) Pertemuan 1
Siklus I dimulai pada hari Jumat, 4 Agustus 2017 pukul 07.30. Pada pukul 07.30, guru dan peneliti masuk ke kelas. guru kemudian mengecek kondisi kelas meliputi kebersihan kelas dan kebersihan papan tulis. Seluruh siswa dan guru berdoa untuk mengawali pelajaran. Kemudian, siswa mengucapkan salam. Guru membalas salam dan menanyakan apakah siswa siap belajar matematika. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu mempelajari Persamaan nilai mutlak linear satu variabe. Peneliti mengenalkan metode pembelajaran Problem Based
Learning pada siswa. Metode tersebut akan dilaksanakan selama pembelajaran
Nilai Mutlak. Guru menggunakan LKS sebagai media untuk membantu siswa ketika pembelajaran matematika nantinya. Guru juga memberikan nasehat pada siswa untuk belajar lebih tekun lagi, sehingga nilai pada ujian semester 2 bagus. Metode Problem Based Learning merupakan metode belajar berbasis masalah yang menggunakan kelompok diskusi. Oleh karenanya siswa harus dibagi dalam kelompok-kelompok diskusi. Guru membacakan pembagian kelompok yang telah ditentukan sebelumnya. Siswa dibagi dalam 5 kelompok yang masing-masing beranggotakan 6-7 siswa. Guru mengatur posisi tempat duduk untuk tiap kelompok. Guru kemudian membagi LKS “Persamaan nilai mutlak linear satu variabel” kepada setiap kelompok.
Untuk memahami materi “Persmaan nilai mutlak linear satu variabel” siswa melaksanakan:
a) Diskusi kelompok
Siswa berkelompok untuk mendiskusikan LKS Persamaan nilai mutlak linear satu variabel . LKS dikerjakan secara berkelompok dengan tujuan agar semua anggota kelompok memahami materi Nilai Mutlak.
Beberapa kelompok mampu untuk mengerjakan LKS sesuai panduan-panduan yang ada, namun terdapat beberapa kelompok yang ragu terhadap jawabannya. Siswa yang merasa ragu tersebut mengangkat tangan untuk bertanya kepada guru. Keraguan umumnya dikarenakan siswa masih kurang memahami bagaimana cara menjumlahkan atau mengurangkan kedua ruas dengan bilangan yang sama. Sesudah dijelaskan oleh guru, siswa langsung dapat memahami cara menjumlahkan atau mengurangkan kedua ruas dengan bilangan yang sama.
b) Presentasi siswa
Tiga puluh menit sebelum pelajaran usai, guru memberikan perintah kepada siswa untuk mengakhiri kegiatan mereka. Guru menunjuk setiap perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Masing-masing kelompok diwakili oleh dua orang siswa. Siswa yang satu menulis hasil diskusinya dipapan tulis dan siswa yang satu lagi menjelaskan hasil diskusinya. Guru dan kelompok lain menyimak setiap presentasi. Guru membimbing untuk mengoreksi hasil pengerjaan LKS setiap kelompok.
Di akhir pembelajaran, guru membimbing untuk menyimpulkan pembelajaran. Guru menyampaikan materi pertemuan selanjutnya adalah Pertidaksamaan nilai mutlak linear satu variabel. Guru juga memberi PR tentang
Persamaan nilai mutlak linear satu variabel. Pembelajaran ditutup dengan salam dari guru.
2) Pertemuan 2
Pertemuan kedua siklus I dilaksanakan pada hari Rabu, 9 Agustus 2017 pukul 07.30-09.30. Guru memasuki kelas bersama peneliti. Guru dibantu oleh peneliti kemudian membersihkan papan tulis yang masih kotor. Guru mengecek apakah siswa sudah siap belajar matematika dan menyuruh siswa untuk duduk berkelompok. Guru menegaskan kembali metode pembelajaran yang digunakan yaitu Problem Based Learning. Guru menyampaikan tujuan. Kemudian, guru memberikan apersepsi tentang bagaimanakah bentuk pertidaksamaan.
Untuk memahami materi “Pertidaksamaan nilai mutlak linear satu variabel”, siswa melaksanakan:
a) Diskusi kelompok
Guru dibantu oleh peneliti membagikan LKS “Pertidaksamaan nilai mutlak linear satu variabel” kepada setiap kelompok. Guru memberikan LKS kepada setiap kelompok agar siswa berdiskusi bersama teman satu kelompok. Selanjutnya, siswa aktif dalam diskusi kelompok untuk menyelesaikan LKS. Siswa mengerjakan LKS sesuai petunjuk-petunjuk yang ada dan bekerjasama dalam mengerjakan masalah/soal Pertidaksamaan nilai mutlak linear satu variabel yang diberikan guru.
b) Presentasi siswa
Guru menanyakan apakah siswa sudah selesai dalam mengerjakan, namun sebagian besar siswa menjawab belum. Guru memberikan waktu 10 menit lagi
untuk menyelesaikan diskusi. Setelah itu, guru menanyakan kelompok mana yang ingin presentasi. Kelompok 3 dan kelompok 4 menawarkan diri untuk presntasi.
Dua orang perwakilan setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Salah satu siswa menuliskan hasil diskusi, sedangkan yang lain menjelaskan hasil diskusinya. Guru dan kelompok lain menyimak dan mengoreksi hasil pengerjaan LKS kelompok presentasi. Dari kelompok yang presentasi ternyata terdapat satu kelompok yang salah dalam menghitung soal pertidaksamaan nilai mutlak yang diperolehnya berbeda dengan yang diperoleh oleh kelompok lain.
Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan hasil pembelajaran yaitu bagaimana cara mengerjakan soal pertidaksamaan nilai mutlak. Guru menyampaikan pembelajaran pada pertemuan berikutnya yaitu latihan soal yang berkaitan dengan pertidaksamaan nilai mutlak linear satu variabel. Guru juga memberi PR bagi tiap kelompok mengenai pertidaksamaan nilai mutlak. Guru menutup pelajaran dengan salam.
3) Pertemuan 3
Pertemuan ketiga siklus I dilaksanakan pada hari Jumat, 11 Agustus 2017 pukul 07.30-09.20. Pelajaran diawali dengan berdoa. Siswa mengucapkan salam kepada Guru, dan peneliti. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu latihan soal yang berkaitan dengan Pertidaksamaan nilai mutlak. Guru menyuruh siswa duduk berkelompok. Dalam memecahkan masalah tahapan-tahapan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning yang terlaksana adalah sebagai berikut:
a) Diskusi Kelompok
Siswa saling mencocokan dan berpendapat untuk memecahkan soal yang dirasa sulit. Beberapa siswa masih bingung dalam menghitung bilangan atau variabel berpangkat. Oleh karenanya, guru menerangkan di depan kelas bagaimana cara menghitung bilangan dan variabel berpangkat . Selain itu, siswa juga masih ragu dalam memeriksa jawaban. Walaupun demikian siswa lebih terampil dalam pemeriksaan jawaban dibanding pada LKS sebelumnya. Guru membimbing dan memandu siswa yang merasa kesulitan mengerjakan soal. Secara umum, diskusi kelompok berjalan lancar. Siswa cukup aktif dalam diskusi kelompok. Diskusi secara keseluruhan sudah melibatkan semua anggotanya. b) Presentasi Siswa
Ketika semua kelompok selesai mengerjakan soal, guru memanggil perwakilan setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Perwakilan setiap kelompok kemudian menuliskan jawabannya di papan tulis. Pekerjaan tersebut dikoreksi bersama-sama oleh guru dan siswa.
Di akhir pembelajaran, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran. Guru menyampaikan bahwa akan ada tes persamaan dan pertidaksamaan nilai mutlak pada pertemuan berikutnya. Terlihat beberapa siswa menunjukkan rasa khawatirnya dengan menanyakan tingkat kesulitan soal tes. Guru menutup dengan salam.
4) Pertemuan 4
Pertemuan keempat siklus I dilaksanakan pada hari Rabu, 16 Agustus 2017 pukul 07.30-09.30. Guru memasuki kelas bersama peneliti. Guru membuka pembelajaran dengan salam. Guru mengecek kesiapan siswa sebelum mengerjakan soal tes. Guru memberikan waktu 10 menit untuk belajar dan mempersiapkan diri. Guru dibantu peneliti membagikan lembar soal tes dan lembar jawab kepada siswa. Tes yang diberikan bersifat individu. Secara keseluruhan tes berjalan dengan lancar dan tertib. Walaupun masih ada beberapa siswa yang mencontek, tetapi selalu diingatkan oleh guru untuk mengerjakan sendiri-sendiri.Tes berlangsung selama 90 menit. Tes berakhir pukul 09.30. Lembar jawab siswa yang telah selesai mengerjakan maupun yang belum selesai mengerjakan dikumpulkan. Berikut ini adalah hasil tes belajar siswa siklus I.
c. Data Hasil Observasi Siklus 1
1) Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Matematika
Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I yang dilaksanakan selama 3 kali pertemuan. Dalam penelitian pengamatan aktivitas dilakukan pada 30 siswa diperoleh data hasil observasi yaitu: Memperhatikan apa yang disampaikan guru, nilai rata-rata indikator tersebut pada siklus I yaitu 4,17. Menjawab pertanyaan dari guru, nilai rata-rata indikator tersebut pada siklus I yaitu 4,27. Mengerjakan LKS yang diberikan guru, nilai rata-rata indikator tersebut pada siklus I yaitu 4,13. Bekerja sama dengan teman satu kelompok, nilai rata-rata indikator tersebut pada siklus I yaitu 4,28. Membendingkan jawaban dengan teman kelompok, nilai rata-rata indikator
tersebut pada siklus I yaitu 4,23. Mendiskusikan masalah yang dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar, nilai rata-rata indikator tersebut pada siklus I yaitu 4,38. Bertukar pendapat antar teman dalam kelompok, nilai rata-rata indikator tersebut pada siklus I yaitu 4,31. Mengambil keputusan dari semua jawaban yang dianggap paling benar, nilai rata-rata indikator tersebut pada siklus I yaitu 4,30. Mempresentasikan jawaban di depan kelas, nilai rata-rata indikator tersebut pada siklus I yaitu 4,22. Merespon jawaban teman, nilai rata-rata indikator tersebut pada siklus I yaitu 4,53.
Berdasarkan data yang diperoleh dapat dilihat bahwa jumlah skor rata-rata siswa pada siklus I sebesar 42,82 dengan kriteria tinggi, adapun tebel aktivitas siswa pada siklus I dapat dilihat pada lampiran C2.
Tabel 4.1 Skala Aktivitas Siswa Siklus I Skala Aktivitas Siswa Kategori
43,6≤ skor ≤ 50 Sangat Tinggi 34,2≤ skor <43,6 Tinggi 25,8≤ skor <34,2 Cukup 17,4 ≤ skor <25,8 Rendah
10 ≤ skor <17,4 Sangat rendah
2) Hasil Belajar siswa dalam Pembelajaran Matematika
Berdasarkan data hasil penelitian pada siklus I mengenai hasil belajar matematika melalui Problem Based Learning (PBL) diperoleh data seperti pada tabel berikut.
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Ketuntasan Klasikal Siklus I
Interval Nilai Frekuensi Persentase
Frekuensi Kategori Kualifikasi
85 ≤ 2 6,66 % Sangat Baik Tuntas
80 – 84 4 13,33 % Baik Tuntas
75 – 79 13 43,33 % Cukup Tuntas
70 – 74 7 23,33% Kurang Tidak tuntas ≤ 69 4 13,33% Sangat Kurang Tidak Tuntas
Jumlah 30 100%
Berdasarkan tabel 4.2 distribusi frekuensi ketuntasan klasikal hasil belajar siklus I menunjukkan bahwa ada 2 siswa tuntas dengan persentase 6,66% pada kategori sangat baik, 4 siswa tuntas dengan persentase 13,33% pada ketegori baik, 13 siswa cukup dengan persentase 43,33% pada ketegori cukup, 7 siswa tidak tuntas dengan persentase 23,33% pada kategori kurang. 4 siswa sangat kurang dengan persentase 13,33% pada kategori sangat kurang.
Untuk mengetahui kemajuan hasil belajar ranah kognitif siswa disajikan tabel berikut.
Tabel 4.3 Hasil Analisis Tes Siklus I
NO KETERANGAN SIKLUS I
1 Nilai Rata-rata 74,86 2 Nilai Tertinggi 90
3 Nilai Terendah 65
4 Siswa Tuntas Belajar 19 5 Siswa Tidak Tuntas Belajar 11 6 Persentase Ketuntasan Belajar Klasikal 63,33%
Gambar 4.1 Hasil Belajar Siklus I
Berdasarkan tabel 4.3 dan gambar 4.1 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata siklus II adalah 74,86 dengan nilai terendah 65, nilai tertinggi 90. Siswa yang memperoleh nilai tuntas sebanyak 19 siswa, sedangkan siswa yang tidak tuntas sebanyak 11 siswa, sehingga diperoleh ketuntasan belajar klasikal sebesar 63,33 %. Adapun tabel hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada lampiran C1.
d. Refleksi
Refleksi bertujuan sebagai pedoman perbaikan bagi pelaksanaan tindakan selanjutnya. Refleksi pembelajaran matematika melalui Problem Based Learning pembelajaran pada siklus 1 lebih difokuskan pada permasalahan dan keberhasilan dalam pembelajaran. Adapun hasil refleksi tersebut adalah sebagai berikut.
1. Dalam membuka pelajaran, guru memberikan apersepsi dengan mengaitkan pengetahuan yang dimiliki siswa dengan topik yang akan dipelajari. Akan tetapi apersepsi yang diberikan belum mengarah kepada pengetahuan yang dimiliki siswa. Selain itu guru juga belum menginformasikan materi yang akan dipelajari. Jadi siswa masih terlihat bingung.
0 20 40 60 80 100 SIKLUS I Nilai Rata-rata Nilai Tertinggi Nilai Terendah
2. Guru juga belum memberikan motivasi belajar kepada siswa, sehingga siswa terlihat kurang bersemangat.
3. Ketika membimbing diskusi kelompok, guru memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topik diskusi. Guru juga masih belum berhasil menyebarkan partisipasi siswa, sehingga tidak semua anggota kelompok ikut menyelesaikan permasalahan. Hal ini dikarenakan banyaknya siswa yang harus ditangani, walaupun guru telah meminta siswa untuk menyelesaikan permasalahan bersama teman-temannya, tetapi tetap saja ada siswa yang belum mematuhi perintah guru.
4. Siswa terlihat kurang dalam mengingat permasalahan, menganalisis, memecahkan permasalahan, merumuskan serta menguji solusi karena banyak dari mereka tidak mencatat permasalahan yang diberikan guru.
5. Dalam penyampaian diskusi siswa juga masih belum tertib, karena pada saat waktu habis ada kelompok yang belum mengumpulkan pekerjaannya, dan saat menyampaikan cukup memakan waktu karena dilakukan dengan bercanda.
6. Guru telah memberikan penguatan dengan segera ketika siswa melaksanakan suatu tindakan, dan memberikan tepuk tangan setelah siswa selesai melakukan tugas ataupun menyajikan hasil kerja kelompok, akan tetapi guru belum menyebutkan nama siswa dengan jelas.
7. Pada saat menyajikan laporan hasil kerja kelompok siswa ada telah aktif memberikan komentar dan bertanya kepada kelompok lain, tetapi masih ada siswa yang kurang percaya diri untuk menyampaikan.
8. Keterampilan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan Problem
Based Learning dalam kategori tinggi.
9. Aktivitas siswa dalam pembelajaran masih sudah mengalami peningkatan, dari yang sebelumnya dalam kategori cukup, pada pertemuan ini sudah masuk dalam kategori tinggi.
10. Ketuntasan klasikal siswa mencapai angka 63,33%. Akan tetapi pencapaian ketuntasan tersebut belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu 80%.
2. Deskripsi Siklus II