• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESKRIPSI SINGKAT BAB IV

Dalam dokumen i Pelatihan Dasar Penyuluhan Sosial ASN (Halaman 29-41)

BAB IV: TRADISI KEHIDUPAN MASYARAKAT

A. DESKRIPSI SINGKAT BAB IV

Tradisi adalah segala sesuatu yang disalurkan atau diwariskan dari masa lalu ke masa kini atau sekarang. Tradisi dalam arti sempit ialah warisan-warisan sosial khusus yang memenuhi syarat yaitu yang tetap bertahan hidup di masa kini, yang masih kuat ikatannya dengan kehidupan masa kini.

Tradisi dilihat dari aspek benda materialnya adalah benda material yang menunjukkan dan mengingatkan kaitan khususnya dengan kehidupan masa lalu. Contoh tradisi; Candi, Puing kuno, Kereta Kencana, sejumlah benda-benda peninggalan lainnya, jelas termasuk ke dalam pengertian tradisi.

A.

1. Pengertian Tradisi

Berikut ini terdapat beberapa pengertian tradisi menurut para ahli, terdiri atas:

a. Menurut imtima:2007, Tradisi adalah rumusan, cara, atau konsep yang pertama kali lahir yang dipergunakan oleh banyak orang pada masanya.

b. Menurut WJS Poerwadaminto (1976), Tradisi

adalah seluruh sesuatu yang melekat pada kehidupan dalam masyarakat yang dijalankan secara terus menerus, seperti: adat, budaya, kebiasaan dan kepercayaan.

c. Menurut Soerjono Soekamto (1990), Tradisi adalah suatu kegiatan yang dijalankan oleh sekelompok masyarakat dengan secara berulang-ulang.

BAB IV:

TRADISI KEHIDUPAN MASYARAKAT

A. DESKRIPSI SINGKAT BAB IV

B. URAIAN MATERI

25 | Pelatihan Dasar Penyuluhan Sosial ASN

d. Menurut Bastomi (1984), Tradisi adalah dari sebuah kebudayaan, dengan tradisi sistem kebudayaan akan menjadi kokoh. Apabila tradisi dihilangkan maka terdapat harapan suatu kebudayaan akan berakhir saat itu juga.

e. Menurut Van Reusen (1992), Tradisi adalah suatu norma adat istiadat, kaidah-kaidah, harta-harta. tetapi tradisi bukan suatu yang tidak dapat diganti.

Tradisi justru perpaduan dengan berbagai perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya.

f. Menurut Ensiklopedia, Tradisi adalah sesuatu hal yang telah dilakukan sejak lama dan terus menerus menjadi bagian dari kehidupan kelompok masyarakat hingga sekarang.

g. Menurut Shils (1981), Tradisi adalah segala sesuatu yang disalurkan maupundiwariskan dari masa lalu ke masa kini. Kriteria tradisi dapat lebih dibatasi dengan mempersempit cakupannya.

h. Menurut Piotr Sztompka (2011), Tradisi adalah keseluruhan benda material dan ide yang bersumber dari masa lalu, tetapi benar-benar masih terdapat kini, belum dihancurkan, dirusak maupun dilupakan.

i. Menurut KBBI, Tradisi adalah adat istiadat yang turun temurun dari nenek moyang yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat; penilaian maupun anggapan bahwa cara-cara yang sudah ada adalah yang paling baik dan benar.

j. Menurut Coomans, M (1987), Tradisi adalah suatu gambaran perilaku dan tingkah laku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dijalankansecara turun temurun dimulai sejak dari nenek moyang.

k. Menurut Wikipedia, Tradisi adalah tradisi atau kebiasaan adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu atau agama yang sama.

l. Menurut Funk dan Wagnalls, Tradisi adalah suatu pengetahuan, doktrin, istiadat, praktek dan lain-lain yang dimengerti sebagai pengetahuan yang sudah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang termasuk cara menyampaikan pengetahuan dan istiadat tersebut.

m. Menurut Hasan Hanafi, Tradisi adalah semua warisan masa lampau yang masuk pada kita dan masuk kedalam kebudayaan yang sekarang masih berlaku.

n. Menurut Mardimin, Tradisi adalah suatu istiadat yang turun temurun sejak dari nenek moyang dalam suatu masyarakat dan sebagai kebiasaan istiadat dan kesadaran kolektif sebuah masyarakat.

o. Menurut Khazanah Bahasa Indonesia, Tradisi adalah segala sesuatu seperti adat, kebiasaan, ajaran, dan sebagainya, yang turun temurun dari nenek moyang.

p. Menurut Ensiklopedia, Tradisi adalah adat “istiadat” dari sebuah masyarakat yang telah menjalankan secara turun menurun sejak dari nenek moyang.

26 | Pelatihan Dasar Penyuluhan Sosial ASN

q. Menurut Cannadine, Tradisi adalah lembaga baru didasari dengan daya pikat kekunoan yang melanggar zaman, namun menjadi karya yang mengagumkan.

r. Menurut Harapandi Dahri, Tradisi adalah suatu istiadat yang teraplikasikan secara terus-menerus dengan beraneka macam simbol dan aturan yang berlaku pada sebuah kelompok.

2. Tujuan Tradisi

Tradisi yang dimiliki masyarakat bertujuan agar membuat hidup manusia kaya akan budaya dan nalai-nilai bersejarah. Selain itu, tradisi juga akan menciptakan kehidupan yang harmonis. Namun hal tersebut akan terwujud hanya apabila manusia menghargai, menghormati dan menjalankan suatu tradisi secara baik dan benar serta sesuai aturan.

3. Fungsi Tradisi

a. Tradisi berfungsi sebagai penyedia fragmen warisan historis yang kita pandang bermanfaat. Tradisi yang seperti onggokan gagasan dan material yang dapat digunakan orang dalam tindakan kini dan untuk membangun masa depan berdasarkan pengalaman masa lalu.

b. Contoh: peran yang harus diteladani “misalnya tradisi kepahlawanan, kepimpinan karismatis, dan sebagainya”.

4. Penyebab Perubahan Tradisi

Dalam hal ini disebabkan oleh banyaknya tradisi dan bentrokan antara tradisi yang satu dengan saingannya. Benturan itu dapat terjadi antara tradisi masyarakat atau antara kultur yang berbeda atau di dalam masyarakat tertentu.

Perubahan tradisi dari segi kuantitatifnya terlihat dalam jumlah penganut atau pendukungnya. Rakyat dapat ditarik untuk mengikuti tradisi tertentu yang kemudian memengaruhi seluruh rakyat satu negara atau bahkan dapat mencapai skala global.

Perubahan tradisi dari segi kualitatifnya yaitu perubahan kadar tradisi, gagasan, simbol dan nilai tertentu ditambahkan dan yang lainnya dibuang.

Contoh tradisi mandi balimau kasai di sungai Kampar, Riau oleh masyarakat Kampar setiap satu hari sebelum memasuki bulan suci ramadhan, masyarakat Kampar meyakini bahwa mandi balimau kasai yang dilakukan di sungai Kampar tersebut guna untuk memersihkan atau mensucikan diri dari dosa selama setahun yang lalu agar memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan suci.

Hal tersebut adalah suatu tradisi turun temurun dari leluhur yang hingga saat ini masih dilakukan oleh masyarakat Kampar, Riau.

5. Beberapa Contoh Tradisi Dan Kearifan Lokal

27 | Pelatihan Dasar Penyuluhan Sosial ASN

a. Suku Batak

Berdasarkan Sensus Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2010, Suku Batak merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia. Batak merupakan rumpun suku-suku yang mendiami sebagian besar wilayah Sumatera Utara. Beberapa suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola, dan Mandailing.

Suku Batak menjadi yang paling banyak disoroti karena sangat unik dengan bahasa, budaya, dan adat kebiasaan yang khas. Berikut ini telah diulas empat kebiasaan Suku Batak yang hanya dapat ditemui di Provinsi Sumatera Utara.

1) Tarian Sigale-gale

Tarian Sigale-gale merupakan tarian yang dilakukan oleh sebuah boneka kayu yang dipahat menyerupai bentuk manusia dengan pkaian adat dari Suku Batak. Boneka Sigale-gale digerakkan oleh manusia yang berada di belakangnya. Menurut legenda masyarakat Suku Batak, SIgale-gale adalah putra tunggal kesayangan dari Raja Rahat

yang meninggal karena sakit. Raja sangat bersedih hati, untuk mengobati kesedihan raja maka dibuatlah sebuah boneka kayu yang menyerupai Sigale-gale.

Menggerakkan boneka Sigale-gale agar dapat menari diantara iringan musik terlebih dahulu harus dilakukan ritual pemanggilan arwah Sigale-gale dari alam kematian. Tarian Sigale-gale kini menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Provinsi Sumatera Utara.

2) Lompat Batu

Lompat batu yang dikenal juga hombo batu berasal dari Desa Bawo Mataluo Nias, Kabupaten Nias Selatan. Desa ini dikenal dengan situs megalitik atau batu besar berukir, dan di dalamnya terdapat Omo Hada yaitu perumahan tradisional khas Nias. Tradisi ini merupakan ritual

wajib bagi para lelaki sebagai simbol menuju kedewasaan. Setiap lelaki yang akan menikah harus mampu melompati batu setinggi dua meter melalui sebuah batu kecil sebagai pijakan.

28 | Pelatihan Dasar Penyuluhan Sosial ASN

3) Mangokkal Holi (Menggali TulaBelulang) Mangokkal Holi berarti mengambil tulang-belulang dari leluhur dari dalam kuburan lalu ditempatkan di dalam peti dan diletakkan dalam tugu khusus. Inti dan tujuan dari tradisi ini adalah untuk mempertahankan silsilah garis keturunan

marga, dan juga menunjukkan eksistensi dan taraf hidup keluarga yang melaksanakannya. Suku Batak percaya dengan menempatkan bagian tubuh dari leluhur di tugu merupakan simbol bahwa mereka tidak pernah lupa dengan nenek moyangnya. Tradisi Ritual Mangokkal Holi digelar secara meriah selama beberapa hari dengan memotong beberapa hewan ternak.

4) Kenduri Laut

Tradisi Kenduri Laut berasal dari Tapanuli Tengah, dilaksanakan satu tahun sekali pada bulan Oktober. Kenduri Laut digelar dengan seremonial yang melibatkan semua elemen dari 11 kecamatan yang ada di Tapanuli Tengah. Kenduri Laut mulai digelar

pada malam kemudian berlanjut hingga siang hari. Tradisi ini menjadi wujud ungkapan rasa syukur masyarakat Batak di Tapanuli Tengah kepada Tuhan atas melimpahnya hasil laut dan pertanian.

b. Suku Jawa

Suku Jawa dikenal sebagai suku dengan jumlah penduduk terbesar di seluruh Indonesia. Selain dikenal memiliki kepribadian yang ramah, lemah lembut, masyarakat Jawa memiliki tradisi dan budaya yang beraneka ragam. Seperti beberapa tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Jawa. Berikut beberapa tradisi yang masih berjalan di masyarakat Jawa. Bahkan tradisi ini tetap dilestarikan hingga saat ini.

1) Sekaten

Sekaten adalah upacara tradisional Jawa yang diadakan dalam 7 hari sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad. Upacara ini berasal dari kota Surakarta dan Yogyakarta. Berdasarkan asalnya, istilah Sekaten adalah upacara yang berasal dari istilah Syahadatain yang dalam Islam dikenal sebagai frasa tauhid. Upacara Sekaten dilakukan dengan melepas dua alat gamelan dari

29 | Pelatihan Dasar Penyuluhan Sosial ASN

Keraton yaitu gamelan Kyai Gunturmadu dan gamelan Kyai Guntursari untuk ditematkan di Masjid Agung Surakarta.

2) Pernikahan

Dalam pernikahan tradisional Jawa juga dikenal dengan upacara pernikahannya yang sangat unik dan sakral. Tradisi pernikahan ini memiliki beberapa tahapan yang harus dilalaui loleh pengantin perempuan dan pria.

Banyak tahapan yang harus dilalui mulai dari upacara siraman, upacara ngerik, midodareni, peningsetan, temu pengantin, ritual kacar-kucur, dhahar kembul, sungkeman dan sebagainya.

Dalam pernikahan tradisional Jawa juga dikenal dengan upacara pernikahannya yang sangat unik dan sakral. Tradisi pernikahan ini memiliki beberapa tahapan yang harus dilalaui loleh pengantin perempuan dan pria.

Banyak tahapan yang harus dilalui mulai dari upacara siraman, upacara ngerik, midodareni, peningsetan, temu pengantin, ritual kacar-kucur, dhahar kembul, sungkeman dan sebagainya.

3) Tedak Siten

Upacara tedak siten adalah upacara tradisional Jawa yang diadakan untuk bayi berusia 8 bulan ketika mereka mulai belajar berjalan.

Tujuan dari upacara ini adalah sebagai ungkapan terima kasih atas kesehatan anak yang sudah mulai

menapaki alam sekitarnya. Ilustrasi/copyrighthsutterstock/SyirulBaryFirman syah

4) Tingkeban

Upacara tingkeban atau mitoni dilakukan ketika seorang perempuan hamil denga kandungan berusia 7 bulan. Rangkaian upacara yang harus dijalankan dalam upacara mitoni meliputi siraman dengan air bunga. Setelah itu ibu didoakan oleh para penatua agar bayi yang dikandung selamat sampai proses persalinan selesai.

c. Suku Makasar

Upacara daur hidup suku Makassar tidak berakhir ketika si anak telah lahir, tetapi berlanjut hingga si anak dewasa. Upacara ini merupakan perlambang untuk

30 | Pelatihan Dasar Penyuluhan Sosial ASN

menjaga keselamatan si anak dari gangguan roh-roh jahat selama hidupnya.

Berikut adalah lanjutan upacara daur hidup suku Makassar. Ada 5 Upacara Daur Hidup Suku Makassar Menuju Kedewasaan

1) Upacara Annatta’ Pocci’

Setelah bayi lahir tidak serta-merta upacara daur hidup berakhir, upacara setelah kelahiran ini diawali dengan upacara annatta pocci’ (memotong tali pusar).

Upacara ini adalah memisahkan antara si bayi dengan saudara kembarnya yaitu tahoni (plasenta). Masyarakat percaya bahwa bila sanro tidak sempurna melaksanakan ketentuan upacara annatta’ pocci’ maka ia akan dikejar-kejar oleh roh si tembuni dan di akhirat dia akan mempertanggungjawabkan kesalahan itu.

Persalinan berlangsung di ruangan tengah rumah yang berlubang, seperti jeruji biasa disebut dasere’. Apabila si ibu telah dibersihkan menyusul bayinya dipersiapkan memasuki upacara annatta’ pocci’.

Tahap pertama lai’ (tali pusar) nipurusu’ (diusap) mulai dari plasenta menuju pusat sebanyak lima kali. Kemudian, sanro mengikat tali pusar dengan benang yang sama panjang dengan tali pusar dan membuat simpul sebanyak lima kali.

Sanro kemudian memasang kain kaci sebagai kerudung, persalinan pakaian passaling disampirkan di pundak sambil duduk di atas badi’ luhu dengan mengibaskan tangan menjumput asap kemenyan untuk mengusir roh jahat.

Selesai melafalkan mantera dalam hati, sanro lalu memasukkan emas ke dalam mulutnya (anggomong). Setelah itu, memotong tali pusar dalam keadaan tidak bernapas.

Kemudian tali pusar yang sudah terpotong itu dipertemukan kembali, sambil sanro mambaca mantera “Bismillah Allah Taala ta’ta’ko, Nabi Muhammad ampasialleko”.

2) Upacara A’ Tampolo

Seperti umumnya acara aqiqah, suku Makassar pun mengadakan acara yang serupa, yakni upacara penutupan ubun-ubun bayi, pengguntingan rambut dan pemberian nama.

Upacara ini diawali dengan sanro meramu sangka mama dengan kayu tanning, kayu bambang, rakki kanre, golla eja dan menumbuknya jadi satu untuk dijadikan obat penutup ubun-ubun.

Kemudian dengan khusu’ dan hati-hati sanro kemudian menempelkan ramuan tadi pada buhung-buhung (ubun-ubun) bayi yang disusul oleh tujuh orang kerabat dekat.

31 | Pelatihan Dasar Penyuluhan Sosial ASN

Upacara kemudian dilanjutkan dengan acara pengguntingan rambut bayi.

Guntingan rambut kemudian dimasukkan ke dalam buah kelapa yang telah dilubangi bagian atasnya sambil membaca barzanji sampai habis.

Buah kelapa yang berisi rambut bayi, kemudian dihanyutkan ke laut dengan harapan semoga si anak mempunyai pandangan hidup seluas laut.

3) Upacara A’ Paeba

Upacara ini diawali dengan membuat kue gula merah (dumpi) sebanyak 14 buah. Kue ini merupakan picuru supaya si anak senantiasa mendapatkan rejeki (natujuangngi). Kemudian anak dimandikan dan diberi pakaian rapi lalu dituntun ke ri latta riolo (ruangan muka).

Setelah itu, si anak didudukkan dengan menjulurkan kakinya menghadap pintu (a’torirang), kemudian dumpi dipukulkan ke kedua lututnya disertai ucapan “a’ kinrengmako anu, ia minne gau’gau’ sebagai pannimbarangngi”

sambil menggoyangkan lutunya.

Selanjutnya, dumpi dipikulkan atau dijunjungkan ke anak tadi. Setelah acara ini selesai, maka beberapa bulan kemudian disusul dengan acara a’palingka.

4) Upacara A’ Palingka

Upacara ini diadakan bila si anak belum mampu berjalan walaupun usainya telah memasuki masanya untuk berjalan. Diawali dengan membersihkan si anak, selanjutnya anak disandarkan pada tangga para (rangkiang) kemudian didudukan dengan menjulurkan kedua kakinya (a’ tonrang) sambil kedua kakinya digoyang-goyangkan oleh neneknya.

Setelah si anak pintar berjalan diadakan acara kecil untuk a’pajumpangi (pamasangan, jumping dan jiping = alat penutup kelamin) yang dibuat dari perak/emas yang dibuat khusus dengan ornament tradisional.

5) Upacara Khitanan

a) Upacara ini diadakan di latta riolo (ruang depan) dengan disaksikan oleh para pegawai syarat (sanro pasunna’). Upacara ini tidak dibenarkan disaksikan oleh kaum laki-laki bila disunat adalah perempuan dan begitupun sebaliknya.

b) Selanjutnya sanro pasunna’ memulai menghilangkan bagian tertentu alat kelamin sambil membaca mantera “Bismillahi rahmani rahim mayyajebaha…..dilalati, ashabuhu lillahi ta’ala”.

c) Setelah itu, si anak didudukkan agar si anak senantiasa merasakan kenikmatan hidup berumah tangga. Bila yang disunat perempuan maka, si anak kemudian dipakaikan baju bodo sebanyak 7 lembar.

32 | Pelatihan Dasar Penyuluhan Sosial ASN

d) Bagian kelamin yang diiris kemudian dibungkus dengan kapas dan dinaikkan di rangkiang. Selesai acara inti ini, dilanjutkan dengan pembacaan barzanji dan acara santap bersama.

e) Setelah disunat, anak tersebut tidak boleh turun ke tanah selama jangka waktu tujuh hari. Setelah upacara ini berakhir, berarti bahwa si anak telah dewasa dan telah mampu menjalani hidupnya secara mandiri.

d. Suku Jawa Cirebon dan Cilacap

Berikut ini terdapat beberapa contoh tradisi dan kearifan lokal di cirebon dan cilacap, terdiri atas:

1) Sambatan, Merupakan gotong royong dalam membuat rumah yang dilakuan oleh warga setempat tanpa diberi upah,melainkan hanya diberi makan saja.

2) Unjuk Sunan, Syukuran pada daerah setempat apabila dalam membuat rumah sudah sampai atap dalam pembangunannya.

3) Bacakan, Syukuran apabila mendapatkan rezeki lebih atau jika telah membei barang baru(motor,mobil,dll). Biasanya memasak nasi kemudian diletakkan diatas nampan yang telah dialasi daun pisang,kemudian mengundang para tetangga untuk datang kerumah dan makan nasi tersebut secara bersama.

4) Barikan, Kegitan yang dilakukan oleh para warga setempat yang berkumpul dilapangan dengan tujuan sebagai penolak bala. Stiap kepala keluarga wajib membawa nasi (biasanya nasi uduk), kemudian nasi itu dikumpulkan jadi satu dan dido’akan, setelah nasi itu dido’akan, dimakan bersama-sama.Acara ini biasanya dilakukan setiap malam Jum’at Kliwon.

5) Sedekah Bumi, Kegiatan masyarakat yang membawa makanan dari masing- masing rumah dan berkumpul dijalan desa untuk diadakan do’a bersama,kemudian bertukar makanan tersebut dan dimakan dijalan itu secara bersamaan.Kegiatan ini memiliki tujuan untuk mensyukuri hasil bumi dan biasanya diadakan setlah para warga setampat panen.

6) Unjungan, Mengunjungi makam saudara biasanya diadakan secara bersama oleh warga setempat dan warga tersebut membawa tumpeng dari rumah masing-masing yang kemudian tumpeng tersebut dijadikan satu pada tempat yang sudah disediakan. Kemudian semua warga mengadakan tahlilan bersama,setelah selesai tahlilan,tumpeng yang telah dijadikan satu tadi dimakan bersama oleh warga dimakam tadi. Setelah acara makan bersama selesai,bagi orang yang mampu memberikan surak(sawer) yaitu membagi uang pada warga yang hadir. Acara ini dilakukan ketika akan menginjak bulan Romadhon.

7) Nadran (Pesta Laut), Pesta laut yang diadakan oleh para nelayan dengan mengadakan arak-arakan berupa monster laut yang disimbolkan sebagai

33 | Pelatihan Dasar Penyuluhan Sosial ASN

penghalang para nelayan dalam melaut. Sore hari menjelang magrib para nelayan tersbut membawa sesaji makanan dan kepala kerbau,kemudian dihanyutkan ke laut dengan tujuan agar hasil tangkapan ikan meningkat.

8) Panjang Jimat, Yaitu acara penyucian benda-benda keramat yang ada di Kraton Cirebon(keris,dll) kemudian diadakan acara arak-arakan mengelilingi daerah yang berada disekeliling Kraton. Biasanya diadakan pada bulan Maulud.

9) Mitoni/Kekeba/Ngrujaki, Upacara ketujuh bulan orang hamil,biasanya orang hamil tersebut dimandikan dengan air kembang 7 rupa,yang memandikan adalah para anggota kelurganya. Orang hamil itu duduk dikursi, dibawah kursi disediakan ember berisi uang dan air,setelah selesai dimandikan uang itu menjadi rebutan orang-orang yang menyaksikan acara tersebut. Setelah itu diadakan tahlilan.

10) Mapag Sri, Acara yang diadakan menjelang masa tanam padi yang diadakan syukuran agar selama penanaman hingga panen tidak ada halangan apa pun dan hasil panen melimpah.

11) Berjanji/Marhabanan/Adiyuan, Setiap malam senin dan jum’at diadakan acara marhabanan di mushola setempat.

12) Pepatah, “Aja sok kedolan lemah,engko mboke mati” yang artinya jangan suka bermain tanah nanti ibunya meninggal,biasanya pepatah ini dituukan pada anak kecil. “Aja ndodoki bantal engko wudhunen” yang artinya jangan duduk diatas bantal nanti bisulan.

13) Ungkup-Ungkup, Acara pembakaran menyan pada malam Jum’at.

14) Ngobeng, Apabila ada orang hajatan,para tetangga biasanya membantu yang punya hajat tersebut.

15) Tarian, Tari topeng,tari jaipongan, tari sintren, tari ronggeng.

16) Nyanyian, Warung pojok, waru doyong.

17) Makanan, Nasi jamblang,tahu gejrot,empal gentong,gadungan (singkong yang direbus kemudian diiris-iris tipis kemudian diberi parutan kelapa), lolos, jinten, intip, bubur sura, bubur lemu, bubur glintir, sirup campolay, dongkalan dll.

18) Permainan, Wayang golek, sandal barepan.

34 | Pelatihan Dasar Penyuluhan Sosial ASN

1. Tradisi adalah seluruh sesuatu yang melekat pada kehidupan dalam masyarakat yang dijalankan secara terus menerus, seperti: adat, budaya, kebiasaan dan kepercayaan.

2. Tradisi yang dimiliki masyarakat bertujuan agar membuat hidup manusia kaya akan budaya, nalai-nilai bersejarah, dan akan menciptakan kehidupan yang harmonis.

3. Tradisi berfungsi sebagai penyedia fragmen warisan historis yang kita pandang bermanfaat, misalnya tradisi kepahlawanan, kepimpinan karismatis, dan sebagainya

4. Perubahan tradisi dari segi kuantitatifnya terlihat dalam jumlah penganut atau pendukungnya. Rakyat dapat ditarik untuk mengikuti tradisi tertentu yang kemudian memengaruhi seluruh rakyat satu negara atau bahkan dapat mencapai skala global.

5. Beberapa Contoh Tradisi Dan Kearifan Lokal, Suku Batak: Tarian Sigale-gale, Lompat Batu di Nias, Mangokkal Holi (Menggali TulaBelulang), Kenduri laut; Suku Jawa: Sakaten, pernikahan, Tedak Sisten, Tingkeban; Suku Makasar: Upacara Annatta’ Pocci’, Upacara A’ Tampolo, Upacara A’ Paeba, Upacara A’ Palingka, Upacara Khitanan; Suku Jawa Cirebon dan Cilacap: Sambatan, Unjuk Sunan, Bacakan, Barikan, Sedekah Bumi, Unjungan, Nadran (Pesta Laut), Panjang Jimat, Mitoni/Kekeba/Ngrujaki, Mapag Sri, Berjanji/Marhabanan/Adiyuan, Pepatah, Ungkup-Ungkup, Ngobeng, Tarian, Nyanyian, Nasi jamblang,tahu gejrot,empal gentong, Permainan Wayang golek, sandal barepan.

C. RANGKUMAN

35 | Pelatihan Dasar Penyuluhan Sosial ASN

Diskusi-3: Topik Simulasi / praktek pelaksanaan Tradisi Kehidupan Masyarakat (LK17.3) (2 JP)

e. Peserta dibagi dalam 3 kelompok @ 10 orang

f. Masing-masing kelompok diminta untuk melakukan Praktek / Simulai peragaan salah satu tradisi kehidupan local sebagia suatu bentuk penyuluhan social masyarakat

g. Pemaparan Hasil Diskusi kelompok dilakukan secara per kelompok (3 kelompok) h. Semua kelompok harus beran ataumengambil bagian

i. Tanyak Jawab dari Kelompok lain

j. Komentar dari Fasilitator dan Kesimpulan

B.

1. Fasilitator menanyakan kepada peserta bagaimana efektivitas materi tradisi kehidupan masyarakat sebagai materi penyulkuhan sosial

2. Fasilitator mengajak peserta untuk melakukan refleksi terkait dengan substansi tradisi kehidupan masyarakat lokal sebagai materi Penyuluhan Sosial di masyarakat.

2. Fasilitator mengajak peserta untuk melakukan refleksi terkait dengan substansi tradisi kehidupan masyarakat lokal sebagai materi Penyuluhan Sosial di masyarakat.

Dalam dokumen i Pelatihan Dasar Penyuluhan Sosial ASN (Halaman 29-41)

Dokumen terkait