TINGKAT PENDIDIKAN
2. Deskripsi Temuan Penelitian
Dalam sub bab ini, peneliti akan mendeskripsikan hasil temuan yang diperoleh selama berada di lapangan sesuai dengan perumusan masalah penelitian. Berikut hasil temuan penelitian yang berhasil peneliti deskripsikan:
a. Proses Pembelajaran IPS Di SMP Negeri 3 Surakarta
Setelah melakukan tahapan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen, peneliti mampu mendeskripsikan proses pembelajaran IPS di SMP Kota Surakarta. Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan dalam mengajar kompetensi guru sangat diperlukan demi mendukung keberhasilan dan tercapainya tujuan pendidikan. Dari hasil wawancara dan observasi kelas dengan guru IPS-Sejarah yakni Sri Suratmi di kelas IX.4, dapat diketahui bahwa kompetensi sangat menentukan kemampuan guru dalam mengembangkan kurikulum dan keberhasilan pembelajaran. Menurut Sri Suratmi manfaat penentuan kompetensi guru adalah “Untuk meningkatkan pendidikan dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia” (Hasil wawancaratanggal 05 September 2014).
Pada saat proses pembelajaran di dalam kelas, untuk mengawali pembelajaran guru mengucapkan salam yang merupakan salah satu bentuk komunikasi awal antara guru dengan peserta didik. Guru mengajak peserta didik untuk mengawali pembelajaran dengan berdoa,
commit to user
dilanjutkan dengan absensi dan menanyakan kabar peserta didik.
Mengucap salam, menanyakan kabar, dan sesekali memberikan pertanyaan merupakan bentuk komunikasi saat pembelajaran berlangsung. Komunikasi guru dengan peserta didik juga berlangsung saat berada di luar kelas atau di luar jam pelajaran. Dari beberapa komunikasi dan interaksi yang terjadi, merupakan salah satu bentuk kompetensi sosial guru yakni mampu berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.
Dalam mengajar guru tidak terlepas dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). RPP sangat diperlukan guru saat mengajar, sehingga sebelum mengajar guru telah membuat dan mempersiapkannya.
Membuat RPP merupakan salah satu kewajiban bagi guru (Hasil wawancara dengan Sri Suratmi, tanggal 05 September 2014). Selain membuat RPP adalah kewajiban guru sebelum mengajar, Sri Suratmi menambahkan bahwa:
Dalam proses pembelajaran semua yang dilakukan guru disesuaikan dengan RPP, walaupun terkadang ada perbedaan antara yang tertulis dalam RPP dengan kenyataan di dalam kelas. Akan tetapi, guru selalu berusaha menyesuaikan pembelajaran dengan RPP yang telah dibuat. Berikut cuplikan hasil wawancara peneliti dengan Sri Suratmi,
“Yang ini belum mbak, ada yang belum dan ada yang sudah. Terutama yang ini metodenya itu ada ceramah bervariasi, ada diskusi, diskusi kan tidak harus dibuat kelompok kan ya, kita dengan muridnya itu kan ya termasuk diskusi, jadi ada yang belum ada yang sudah” (Hasil wawancara tanggal 05 April 2014).
Guru tidak bisa meninggalkan metode dan model pembelajaran saat proses pembelajaran berlangsung. Hasil observasi peneliti di lapangan menunjukkan bahwa, metode dan model pembelajaran yang digunakan oleh guru adalah metode ceramah karena dirasa metode ini paling tepat, dan mudah untuk mengaitkan materi ajar dengan fenomena-fenomena sosial yang terjadi di lingkungan sekitar peserta didik. Model
commit to user
pembelajaran yang digunakan oleh guru adalah CTL (Contextual Learning). Guru mampu memanajemen kelas dengan baik, saat pembelajaran berlangsung peserta didik tenang dan memperhatikan guru, walaupun sesekali ada peserta didik yang gaduh tetapi tidak menjadi masalah, karena guru mampu membuat peserta didik tenang dan kembali memperhatikan. Dalam menyampaikan materi ajar, peran media pembelajaran sangat penting. Media pembelajaran yang digunakan guru untuk mengimplementasikan pembelajaran IPS antara lain: buku IPS Terpadu untuk SMP. Setiap peserta didik dipinjami buku pegangan, dengan tujuan agar dapat mengikuti pembelajaran dan bisa belajar di rumah sehingga tidak ada alasan peserta didik tidak belajar.
Penggunaan media elektronik seperti laptop dan LCD di SMP Negeri 3 Surakarta sudah cukup baik, karena dari 27 kelas sudah ada 25 LCD yang terpasang diruang kelas yang digunakan untuk mendukung proses pembelajaran, guru juga sudah memiliki laptop (Hasil wawancara tanggal 05 April 2014).
Guru mengadakan evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi peneliti, untuk mengevaluasi peserta didik guru mempunyai banyak cara. Evaluasi dapat berupa tes tertulis maupun tes lisan, juga dengan memberikan tugas-tugas lain. Menurut Sri Suratmi, “Evaluasi itu melalui ulangan, ada tes tertulis, ada juga tes lisan dengan menghafalkan, selain itu untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan guru kadang juga melakukan post tes” (Hasil wawancaratanggal 03 April 2013).
Dari hasil observasi diketahui bahwa guru mempunyai kompetensi pedagogik.
Berdasarkan hasil analisis wawancara dan dokumen, serta observasi oleh peneliti, kompetensi keguruan yang dimiliki guru IPS dapat dilihat saat proses pembelajaran IPS berlangsung. kompetensi guru juga berperan dalam proses belajar mengajar di kelas. Observasi yang dilakukan peneliti pada saat pembelajaran berlangsung berada di kelas
commit to user
IX.4. Berikut deskripsi hasil pengamatan peneliti pembelajaran IPS Di Kelas IX.4 SMP Negeri 3 Surakarta :
Pada hari Jumat, tanggal 05 September 2014 pukul 09.40 WIB, peneliti melakukan observasi lapangan dengan mengikuti proses pembelajaran IPS di kelas IX.4. Guru pengampu adalah Sri Suratmi, Standar Kompetensi (SK) dari proses pembelajaran IPS adalah Memahami kondisi perkembangan negara di dunia. Kompetensi Dasar (KD) Mengidentifikasi ciri-ciri negara berkembang dan negara maju. Materi perkembangan negara Amerika Serikat menjadi negara maju. Berikut deskripsi pembelajaran IPS di kelas IX.4 SMP Negeri 3 Surakarta :
Guru mengucapkan salam untuk mengawali kegiatan pembelajaran dan mengkondisikan peserta didik agar tenang, kemudian membimbing peserta didik untuk berdoa. Setelah selesai berdoa, guru menanyakan kabar peserta didik dan melakukan presensi, sebagai bentuk komunikasi awal antara guru dan peserta didik. Setelah peserta didik tenang, guru baru memulai pelajaran. Guru mampu mengelola kelas, sehingga suasana benar-benar kondusif untuk belajar karena perhatian peserta didik tercurah kepada guru. Guru menyampaikan sedikit materi yang lalu, kemudian menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik dengan mengajukan pertanyaan mengenai materi yang akan dipelajari (pre test). Pre test yang dilakukan seperti menanyakan keaadan negara Indonesia, negara Indonesia termasuk dalam negara maju atau berkembang, ciri-ciri negara maju dan berkembang di Dunia. Komunikasi antara guru dengan peserta didik menunjukkan salah satu bentuk kompetensi sosial guru, yakni guru mampu berkomunikasi secara efektif dengan warga sekolah.
Pada kegiatan inti pembelajaran, guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini untuk membangkitkan rasa ingin tahu siswa. Guru kemudian mulai menjelaskan materi perkembangan negara di dunia dan mengambil contoh negara Amerika Serikat sebagai contoh negara maju, dan menganalisis keadaan negara tersebut untuk mengetahui mengapa Amerika Serikat menjadi negara maju dengan metode ceramah. Kondisi
commit to user
peserta didik tenang dan memperhatikan, serta tidak ada kegaduhan.
Dalam mengajar guru memposisikan diri agar dekat dengan peserta didik.
Guru tidak hanya berdiri di depan kelas, tetapi menjelaskan sambil berjalan sehingga mampu mencurahkan perhatian dan mendekatkan diri dengan peserta didik. Guru mampu menarik perhatian peserta didik dan mengelola pembelajaran dengan baik. Guru menayangkan peta negara Amerika Serikat agar siswa lebih jelas tentang keadaan negara Amerika Serikat. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk kompetensi pedagogik guru, karena mampu mengelola kelas dan pembelajaran sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Guru sangat menguasai materi negara maju dan negara berkembang, guru menyampaikan materi ajar dengan jelas sehingga materi mudah dipahami peserta didik. Akan tetapi dalam proses pembelajaran yang telah berlangsung belum sepenuhnya terpadu. Materi yang disampaikan masih sangat terlihat batas-batas antara disiplin ilmu sangat jelas karena materi tidak terintegrasi. Hal ini disebabkan karena materi yang diajarkan hanya berupa cuplikan materi dari Sejarah, Geografi, Sosiologi. Kelemahan Kurikulum KTSP ini adalah buku yang digunakan dalam proses belajar siswa masih sendiri-sendiri, sehingga belum terpadu, dan siswa harus lebih aktif dalam membaca buku agar mampu mengejar materi yang diajarkan.
Guru mencairkan suasana dengan sesekali bercanda dengan peserta didik, sehingga pembelajaran tidak membosankan. Dalam bercanda guru tidak lepas dari materi ajar yang disampaikan, sehingga tidak keluar dari konteks pembelajaran. Di sela-sela pembelajaran, guru juga memberikan contoh hal-hal positif yang dapat diambil dari materi yang dipelajari. Guru banyak memberikan contoh dari kehidupan di lingkungan sekitar peserta didik, serta memberikan motivasi dan penanaman kepribadian.
Kemampuan guru tersebut menunjukkan bahwa guru memiliki kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Guru mampu berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, dan memberi contoh positif. Kegiatan penutup sebagai akhir dari proses pembelajaran, guru mengulas kembali
commit to user
materi yang telah diberikan. Dengan tujuan untuk menguatkan pemahaman peserta didik. Kemudian guru mengucapkan salam penutup dan meninggalkan kelas (Hasil wawancaratanggal 05 September 2014).
b. Kendala yang Dihadapi Guru IPS dalam Proses Pembelajaran IPS Menjadi guru yang kompeten bukan hal yang mudah, banyak kendala yang dihadapi untuk sampai pada taraf guru profesional dan memiliki kompetensisebagaimana yang diamanatkan UU No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Kendala juga dialami guru IPS, yang semula mengajar sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki, tetapi kini harus mengajar materi dari semua disiplin ilmu IPS. Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), mata pelajaran IPS tidak diberikan secara terpisah sesuai dengan disiplin ilmu, tetapi diberikan secara terpadu (integrated). Tidak ada lagi sebutan guru Sejarah, guru Geografi, maupun guru Ekonomi, yang ada adalah guru IPS. Guru Sejarah kini harus menguasai materi Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi. Bagi guru-guru IPS mengajarkan IPS secara terpadu juga memiliki kendala.
Kendala-kendala yang mereka hadapi antara lain : a. Alokasi waktu
b. Luasnya cakupan materi c. Media pembelajaran
c. Upaya yang Dilakukan Guru IPS
Untuk mengimplementasikan pembelajaran IPS terdapat banyak kendala, akan tetapi guru-guru IPS selalu berupaya agar dapat mengimplementasikan pembelajaran IPS dengan maksimal. Setiap sekolah dan guru memiliki cara yang berbeda untuk bisa mengimplementasikan pembelajaran IPS dengan baik. Berdasarkan analisis hasil wawancara dan observasi peneliti, banyak upaya yang dilakukan sekolah dan guru IPS untuk mengatasi kendala-kendala yang
commit to user
muncul dalam mengimplementasikan pembelajaran IPS, sehingga guru tetap kompeten saat mengajar.
Sesuai dengan amanat Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, bahwa guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru-guru Sejarah selalu berusaha memenuhi keempat kompetensi tersebut. Guru meningkatkan kompetensi dan menghadapi kendala dalam mengimplementasikan pembelajaran IPS dengan banyak membaca, bekerjasama dengan guru lain, mengikuti seminar, diklat, workshop, dan berbagai pelatihan. Pihak sekolah juga turut mendukung upaya guru untuk meningkatkan kompetensi dan mengimplementasikan pembelajaran IPS.
Sekolah memberikan pelatihan-pelatihan untuk guru seperti pelatihan komputer, pelatihan bahasa inggris, dalam PLPG guru juga melakuakan pembahasan tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi dan mencari solusi terbaik untuk masalah tersebut, dan mengadakan kerjasama dengan perguruan tinggi. Untuk menunjang pembelajaran, sekolah juga berusaha untuk melengkapi sarana dan prasana yang bisa digunakan sebagai media pembelajaran. Sekolah juga memberikan pinjaman buku pegangan untuk peserta didik, dengan tujuan untuk mempermudah belajar dan menumbuhkan minat baca peserta didik. Pihak sekolah juga memasang fasilitas internet (hotspot area) yang dapat digunakan oleh guru dan peserta didik.
3. Pembahasan
Peneliti berusaha menjelaskan hasil wawancara, observasi dan analisis dokumen mengenai implementasi transformasi Korea Selatan (1960-2012) dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri 3 Surakarta dengan mendeskripsikan data-data yang telah diperoleh, berdasarkan analisis logika dan diperkuat dengan teori-teori yang sudah ada.
commit to user a. Pembelajaran IPS di SMP Negeri 3 Surakarta
Pada tahun 2006 kurikulum tingkat satuan pendidikan mulai diterapkan di SMP Kota Surakarta. Dalam kurikulum ini, guru terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Guru memiliki tanggung jawab dalam keberhasilan pembelajaran, karena proses dan evaluasi pembelajaran berada di tangan guru.
Di dalam KTSP substansi mata pelajaran IPS di SMP adalah IPS Terpadu, memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam (Mulyasa, 2007).
Berdasarkan KTSP, tidak ada lagi mata pelajaran Sejarah, Geografi, dan Ekonomi, tetapi yang ada mata pelajaran IPS yang diberikan secara terpadu.
Tidak ada lagi sebutan guru Sejarah, guru Geografi, guru Ekonomi, sebutan yang ada adalah guru IPS. Guru Sejarah harus mengajarkan materi Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi. Guru Geografi harus mengajarkan materi Sejarah, Ekonomi, dan Sosiologi. Begitu juga dengan guru Ekonomi juga harus mengajarkan materi Sejarah, Geografi, dan Sosiologi (Agung, 2012).
Pembelajaran IPS merupakan pembelajaran tematis. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, kurikulum, dan pembelajaran, sehingga untuk memadukan pembelajaran menggunakan tema sebagai pemersatu materi yang diambil dari beberapa disiplin ilmu sekaligus, dalam satu kali tatap muka (Kunandar, 2007).
Pelaksanaan pembelajaran IPS di SMP Kota Surakarta sejauh ini berjalan lancar. Akan tetapi, pembelajaran IPS yang diberikan secara terpadu dapat dikatakan belum berjalan sepenuhnya. Pada kenyataannya walaupun pembelajaran IPS memang sudah diberikan 1 guru, namun dalam penyampaian materi, guru belum bisa memadukan dan menguasai materi yang disampaikan, beberapa guru masih dominan pada satu bidang ilmu yang mereka kuasai. Seperti guru lulusan sejarah lebih dominan dalam menyampaikan materi sejarah, guru lulusan geografi lebih dominan dalam menyampaikan materi geografi. Materi yang diajarkan juga masih merupakan
commit to user
materi cuplikan-cuplikan karena buku yang digunakan masih terpisah-pisah seperti buku sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi. IPS terpadu adalah pembelajaran yang bersifat tematis, pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diambil dari satu tema yang dilihat dari berbagai macam sudut pandang baik itu Geografi, Ekonomi, Sejarah, dan Sosiologi sehingga sekali guru mengajar satu tema, tinjauannya sudah dari empat mata pelajaran.
Adanya tuntutan dari pemerintah dengan adanya ulangan umum bersama, sehingga IPS tidak bisa diberikan secara terpadu dan hal ini tidak memberikan keleluasaan guru untuk bisa memadukan materi.
Di dalam KTSP, guru memiliki kedudukan strategis dan menentukan dalam kegiatan pembelajaran. Guru yang menentukan kedalaman dan keluasan materi pelajaran, serta memilah dan memilih bahan pelajaran yang akan disajikan kepada peserta didik. Guru dapat memperluas dan memperdalam materi dengan membuat rancangan pembelajaran yang efektif, efisien, menarik, sehingga dapat menghasilkan pembelajaran yang berkualitas.
b. Implementasi Transformasi Korea Selatan (1960-2012) Dalam Pembelajaran IPS Di SMP Negeri 3 Surakarta
Implementasi transformasi Korea Selatan (1960-2012) dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri 3 Surakarta dilaksanakan dalam Standar Kompetensi (SK) dari proses pembelajaran IPS adalah Memahami kondisi perkembangan negara di dunia. Kompetensi Dasar (KD) Mengidentifikasi ciri-ciri negara berkembang dan negara maju. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran guru melaksanakan tahapan sebagai berikut :