BAB II LANDASAN TEORI
A. Deskripsi Teoritik
BAB II LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teoritik 1. Teori Substansi a. Definisi Komodifikasi
Komodifikasi atau Commodification adalah sebuah istilah yang awalnya populer pada kisaran tahun 1977. Komodifikasi merupuakan sebuah konsep fundamental dari pemikiran Marxisme tentang bagaimana kapitalisme berkembang. Kata komodifikasi sendiri berasal dari kata komoditi yang artinya barang yang diperjual belikan atau diperdagangkan. Marxisme melihat komoditas memiliki nilai guna dan nilai tukar. Nilai guna suatu objek tidak lain merupakan kegunaannya yang terkait dengan pengertian Marxisme tentang pemenuhan kebutuhan tertentu, di sisi lain, nikai tukar akan terkait dengan nilai produk itu di pasar, atau harga objek yang bersangkutan.
Menurut Baudrillard (dalam Barker, 2004: 200) komodifikasi dalam masyarakat konsumen menjadi objek yang tidak lagi dibeli sebagai nilai guna, tetapi sebagai komoditas-tanda. Munculnya proses komodifikasi telah menghadirkan objek tiruan (simulacrum) yang pada akhirnya membuat masyarakat hanya mengkonsumsi produk-produk tersebut sebagai sebuah komoditas-tanda (Sutrisno dan Putranto, 2005: 34). Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa komodifikasi merupakan sebuah proses perubahan nilai suatu barang yang menghasilkan produk-produk tiruan sebagai indikasi munculnya budaya seolah-olah dalam masayarakat konsumen. Hal ini selaras dengan pandangan Mosco (2009:132), yang mendefinisikan komodifikasi sebagai proses perubahan nilai pada suatu produk yang tadinya hanya memiliki nilai guna kemudian menjadi nilai tukar (nilai jual) dimana nilai kebutuhan atas produk ini ditentukan lewat harga yang sudah dirancang oleh produsen. Semakin mahal harga suatu commit to user
produk menunjukkan bahwa kebutuhan individu dan sosial atas produk ini semakin tinggi.
Mengutip istilah Hesmondhalgh (2007:56) komodifikasi merupakan proses transformasi objek dan layanan ke dalam sebuah komoditas. Komodifikasi dalam hal ini lebih menekankan pada aspek proses dibandingkan dengan aspek industrialisasi. Pada tingkatan dasar, hal ini melibatkan proses produksi yang tidak hanya untuk digunakan melainkan sebagai alat pertukaran (exchange). Sejalan dengan perkembangan kapitalisme, pertukaran di pasar dilakukan menggunakan media uang. Pendapat ini diperkuat dengan pernyataan Piliang dalam bukunya yang berjudul “Dunia yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan”, yang menjelaskan bahwa komodifikasi adalah sebuah proses yang mengubah sebuah objek benda atau kebendaan yang awalnya bukan untuk dimaharkan kemudian menjadi komoditas yang memiliki nilai jual (Piliang, 2006: 152). Dalam hal ini terjadi apa yang disebutkan sebagai hilangnya nilai-nilai manfaat asli yang hakiki dari benda-benda tersebut karena dominasi nilai tukar dalam kapitalisme. Pandangan ini diperkuat oleh pernyataan Walter Benjamin (dalam Sutrisno dan Putranto, 2005: 34) yang menyatakan bahwa dalam masyarakat industri telah terjadi budaya reproduksi massal yang telah menghilangkan “aura” seni dan kedalaman estetisnya atas dasar hanya untuk mengejar tujuan-tujuan ekonomi.
Kemunculan praktik komodifikasi dalam masyarakat tentunya dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu, hal ini dijelaskan oleh Karl Marx dan George Simnel, yang dikutip dalam Turner (1992: 115-132) yang menyatakan bahwa komodifikasi muncul karena adanya proses produksi massal dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya sesuai dengan prinsip dasar ekonomi dalam konteks masyarakat industri. Pelaku komodifikasi melihat adanya peluang dalam budaya masyarakat industri dan memanfaatkan peluang tersebut dengan memberikan sentuhan pada setiap benda budaya yang commit to user
dihasilkan dengan memproduksinya dalam jumlah yang besar agar dapat dikonsumsi oleh para konsumen secara massal. Adorno (dalam Pilliang 2010: 87) mengatakan bahwa komodifikasi tidak hanya terjadi pada barang-barang kebutuhan konsumer, tetapi juga telah merambah pada bidang seni dan kebudayaan.
Sedangkan dampak dari adanya proses komodifikasi menurut Lessing (dalam Hasan, 2009: 136-150) menjelaskan bahwa proses komodifikasi tidak memakan ruang atau tidak mengikat budaya dan menyebar secara lebih luas serta medalam dengan tampilan yang natural. Berdasarkan pernyataan yang dikemukakan Lessing, proses komodifikasi berjalan seolah-olah tidak merubah produk asli yang telah mengalami komodifikasi. Tampilan produk massal hasil komodifikasi yang nampak natural membuat orang dengan mudah menerima tanpa ada penilaian kritis. Keaslian produk dalam wacana komodifikasi telah menciptakan dikotomi padangan yang berbeda. Di satu sisi, komodifikasi dianggap merusak dan mengorbankan produk asli dan menciptakan produk masal untuk kepentingan kapital. Sedangkan di sisi lain perubahan-perubahan yang terjadi pada sebuah produk asli dimaknai sebagai pengembangan yang bersifat inovatif dan memberi sumbangan pada kesejahteraan masyarakat.
Pendapat ini diperkuat oleh Ni Made Rai Sukmawati dalam penelitiannya yang berjudul “Komodifikasi Kerajinan Seni Patung Kayu di Desa Mas, Kecamatan Ubud, Giyanyar” yang mengungkapkan bahwa munculnya proses komodifikasi berdampak pada terjadinya perubahan-perubahan baik dari segi ukuran, bentuk (tradisional menjadi moderen), dan penyederhanaan pada karya seni, sesuai dengan pengaruh pasar dan permintaan konsumen (Sukmawati 2012: 219). Perubahan-perubahan pada karya asli ini kemudian berdampak atau menjadi konsekuensi atas munculnya praktik komodifikasi dalam karya seni.
Teori komodifikasi dalam konteks penelitian ini digunakan untuk menganalisis perubahan bentuk dan proses terjadinya commit to user
komodifikasi pada objek karya seni grafis dari seniman Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf di Yogyakarta.
b. Psikologi Kepribadian
Sigmund Freud menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki dorongan kreatif dari mekanisme pertahanan (defence mechanisme) dalam diri. Menurut Freud (dalam Alwisol, 2009: 25) terdapat reaksi kompromis (reaction compromise) dalam mekanisme pertahanan manusia berupa sebuah proses sublimasi yang ditandai dengan terjadinya kompromi antara tuntutan insting id dengan realitas ego. Awilsol menjelaskan bahwa sublimasi merupakan sebuah proses kompromi yang menghasilkan prestasi budaya yang lebih tinggi dan dapat diterima masyarakat sebagai sebuah prestasi kultural kreatif (Alwisol, 2009: 25). Hal ini dapat terlihat dari sosok Leonardo da Vinci yang gemar melukis wanita sebagai sebuah sublimasi rasa rindu terhadap Ibunya yang telah meninggalkan Ia sejak usia muda. Berdasarkan hal tersebut terlihat kemunculan proses sublimasi menjadi awal lahirnya imajinasi yang mampu mendorong seseorang menjadi kreatif.
Hal ini selaras dengan pendapat Carl Gustav Jung (dalam Alwisol, 2009: 41) yang menyatakan bahwa ketidaksadaran kolektif telah menjadi pendorong besar bagi manusia untuk memunculkan kreativitas. Di dalam ketidaksadaran kolektif terdapat sebuah arsetip atau pola tingkah laku, dan di dalam arsetip ini terbagi kembali menjadi tiga bagian yaitu persona, shadow dan self. Persona merupakan sebuah topeng atau wajah yang dipakai manusia untuk menghadapi publik (Alwisol, 2009:43). Dengan adanya persona manusia dapat bertahan hidup, membantu mengontrol perasaan, pikiran dan tingkah laku. Sedangkan shadow merupakan bayangan arsetip yang mencerminkan insting kebinatangan (Semiun, 2013: 59). Insting kebinatangan dalam manusia ini digunakan sebagai upaya untuk bertahan hidup. Insting ini membuat manusia lebih bersemangat dalam menjalani kehidupan. Terakhir adalah self yang merupakan
arsetip yang memotivasi perjuangan orang menuju keutuhan (Alwisol, 2009:43). Melalui aspek self kreativitas dalam ketidaksadaran diubah menjadi disadari dan disalurkan menuju aktivitas yang lebih produktif. Semua arsetip tersebut dapat mendorong seseorang untuk bertindak kreatif dan terarah. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa proses sublimasi menurut Freud dan ketidaksadaran kolektif dari Jung dapat menjadi pemicu munculnya praktik-praktik komodifikasi dalam masyarakat sebagai akibat munculnya sifat kreatif dari dalam diri seseorang.
Carl Rogers (dalam Alwisol, 2009: 275) menggunakan istilah pribadi yang berfungsi utuh (fully functioning person) untuk menggambarkan individu yang mampu merealisasi potensi bakatnya menuju pemahaman yang lengkap mengenai dirinya sendiri dan seluruh pengalaman yang dimilikinya. Menurut Alwisol ciri-ciri pribadi yang berfungsi utuh adalah seperti berikut.
1) Memiliki keterbukaan terhadap pengalaman (opennes to experience).
2) Kemampuan untuk beradaptasi terhadap situasi.
3) Kemampuan untuk bebas bereksperimen (experimental freedom) sesuai dengan apa yang diinginkan tanpa adanya perasaaan tertekan atau terhambat.
4) Kreativitas (creativity). Setiap orang yang memiliki pribadi yang berfungsi utuh berkemungkinan besar untuk memunculkan produk kreatif (idea, project, action) dan hidup kreatif.
Ciri-ciri pribadi yang berfungsi utuh diatas tidak menutup kemungkinan dapat mendorong seseoroang untuk melakukan munculnya praktik komodifikasi pada sebuah karya seni.
Abraham Maslow dalam konsep potensi kreatif (dalam Alwisol, 2009: 201) menyatakan bahwa kreativitas merupakan ciri universal manusia sejak dilahirkan dan hal tersebut merupakan potensi setiap orang yang tidak memerlukan bakat dan kemampuan khusus dalam mewujudkannya. Adanya kreativitas dalam diri manusia dapat commit to user
memotivasi timbulnya ekspresi-ekspresi yang bebas sehingga memungkinkan terjadinya berbagai macam bentuk kreasi produk ciptaan manusia untuk sebuah tujuan tertentu.
Selain hal tersebut, penulis menggunakan teori hirarki kebutuhan manusia Abraham Maslow untuk mendukung dalam mengungkapkan latar belakang terjadinya praktik komodifikasi karya seni grafis di Yogyakarta. Maslow menyusun teori motivasi manusia, dimana variasi kebutuhan manusia dipandang tersusun dalam bentuk hirarki atau berjenjang. Maslow menggunakan piramida (gambar 1) sebagai peraga untuk memvisualisasikan gagasannya mengenai teori hirarki kebutuhan. Menurut Maslow, manusia selalu termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya (Alwisol, 2009: 201). Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai yang paling rendah (bersifat dasar) sampai yang paling tinggi. Kebutuhan yang memungkinkan mendorong terjadinya komodifikasi adalah kebutuhan fisiologis, rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri dan kebutuhan aktualiasasi diri.
Gambar 1. Piramida Hirarki Kebutuhan Manusia Abraham Maslow (Sumber: Repro gambar dari buku Dariyo, 2008: 125)
Secara keseluruhan kebutuhan tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain dan jika semua kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka dimungkinkan menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya praktik komodifikasi pada semua benda ciptaan manusia. Praktik
Kebutuhan Fisiologis Kebutuhan Rasa Aman
Kebutuhan Sosial Kebutuhan Harga Diri Kebutuhan Aktualisasi Diri commit to user
komodifikasi dalam hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu media atau alat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia menurut hirarki kebutuhan Maslow.
Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling mendasar dan sangat penting untuk bertahan hidup. Diantaranya adalah kebutuhan udara, air, makan, tidur, dan lain-lain. Maslow percaya bahwa kebutuhan fisiologis sangat penting dan naluriah di dalam hirarki kebutuhan karena kebutuhan yang lain menjadi sekunder sampai kebutuhan ini terpenuhi (Awilsol, 2009: 204). Kebutuhan ini dinamakan juga basic needs yang jika tidak terpenuhi dalam keadaan yang sangat ekstrim maka manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri karena seluruh kapasitas manusia tersebut dikerahkan dan dipusatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya itu. Praktik komodifikasi pada sebuah produk yang dihasilkan manusia dimungkinkan terjadi bila sesorang tersebut membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya.
Kebutuhan fisiologis adalah pertahanan jangka pendek, sedangkan kebutuhan rasa aman adalah pertahanan jangka panjang (Alwisol, 2009: 204). Sejak bayi kebutuhan rasa aman telah muncul, dimana seorang bayi membutuhkan rasa aman seperti ketenangan, keteraturan, dan kesetabilan. Pada masa dewasa kebutuhan rasa aman ini kemudian terwujud dalam kebutuhan pekerjaan, gaji, tabungan, asuransi dan jaminan masa depan (Alwisol, 2009: 205). Kebutuhan-kebutuhan rasa aman pada masa dewasa ini memungkinkan terjadinya komodifikasi pada sebuah produk. Terjadinya pertukaran nilai guna menjadi nilai tukar pada sebuah produk membuat sesorang berfikir untuk berlomba-lomba mendapatkan tabungan dan jaminan masa depan yang lebih baik.
Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Individu diberi kesempatan dan kebebasan tanpa diskriminasi untuk menjalin interaksi sosial dengan siapa saja tanpa terkecuali (Dariyo, 2008: 124). Interaksi sosial sebagai salah satu commit to user
kebutuhan manusia berdampak pada munculnya sebuah komunikasi diantara masyarakat dan bentuk-bentuk komunikasi ini dapat dilihat dengan jelas pada praktik jual beli antara produsen dan konsumen. Disinilah dimungkinankan terjadinya komodifikasi pada sebuah produk dalam sebuah masyarakat.
Kebutuhan penghargaan dalam masyarakat sangat dibutuhkan bagi manusia dalam sudut pandang psikis. Penghargaan dari orang lain pada seseorang dapat memberikan rasa bangga dan berguna. Kebutuhan penghargaan ini dapat diperoleh jika seseorang dapat berguna bagi masyarakat (Dariyo, 2008: 124). Praktik komodifikasi pada sebuah produk dapat dijadikan seseorang sebagai media untuk memenuhi kebutuhan produk masyarakat sehingga dengan tidak disadari penghargaan itu akan muncul dalam diri si pembuat produk tersebut. Hal ini juga dapat memungkinkan munculnya praktik komodifikasi dalam sebuah masyarakat.
Aktualisasi diri adalah keinginan untuk memperoleh kepuasan dengan dirinya sendiri (Self fullfilment), untuk menyadari semua potensi dirinya, untuk menjadi apa saja yang dia dapat lakukan, dan untuk menjadi kreatif dan bebas mencapai puncak prestasi potensinya (Alwisol, 2009: 205). Manusia yang dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini menjadi manusia yang utuh, memperoleh kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan yang orang lain bahkan tidak menyadari adanya kebutuhan semacam itu.
Proses pencapaian pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut sangat berkaitan dengan kreativitas diri yang dimiliki setiap individu dalam memperolehnya. Berdasarkan pandangan Maslow tersebut terlihat bahwa manusia berlomba-lomba mencapai kepuasan-kepuasan personal dengan memenuhi segala kebutuhan hidupnya sebagai akibat munculnya dorongan nafsu selera dalam diri. Hal ini kemudian diduga dapat memotivasi terjadinya komodifikasi pada produk seni yang dihasilkan oleh seniman untuk memfasilitasi atau memenuhi kepuasan-kepuasan personal penikmat seni atau masyarakat lain. commit to user
Menurut Alfred Alder (dalam Alwisol, 2009: 64) manusia terlahir dalam keadaan tubuh yang lemah dan tidak berdaya sehingga menimbulkan persaan inferiorita dan ketergantungan kepada orang lain. Kondisi lemah dan tidak berdaya ini pada akhirnya mendorong manusia untuk melakukan berbagai hal sebagai cara menutupi segala kekurangan yang dimilikinya. Hal-hal tersebut terangkum dalam enam teori pokok Adler sebagai berikut.
1) Perjuangan untuk menjadi suskses atau superiorita (striving for superiority).
Alder berpendapat bahwa setiap individu memulai kehidupannya dengan berbagai macam bentuk kekurangan fisik yang pada akhirnya menggerakkan perasaan inferioritas sang pribadi untuk berjuang ke arah keberhasilan atau superioritas (Semiun, 2013: 238). Adler (dalam Alwisol, 2009: 67) menegaskan bahwa motif utama setiap orang, pria, wanita, anak-anak dan dewasa adalah untuk menjadi kuat, kompeten, berprestasi dan kreatif. Hal inilah yang menjadikan manusia berjuang untuk meraih kesuksesannya ditengan segala kekurangan yang dimiliki.
2) Persepsi subyektif (subjective preception)
Setiap orang menentukan segala tujuan-tujuan untuk diperjuangkan atas dasar interpretasinya sendiri terhadap suatu fakta. Pendapat ini diperkuat oleh pandangan Alwisol dalam bukunya yang berjudul
“Psikologi Kepribadian” yang menyatakan bahwa kepribadian
seseorang dibangun bukan karena realita, tetapi atas keyakinan subjektif orang tersebut terhadap tujuannya untuk menjadi superioritas atau tujuan menjadi sukses (Alwisol, 2009: 67). Perspektif subjektif terhadap realita/fakta inilah yang pada akhirnya mengarahkan setiap individu berjuang menuju sebuah kesempurna hidup yang positif.
3) Kesatuan kepribadian (unity of personality)
Setiap manusia berusaha dengan keras untuk menyatukan segala pikiran, perasaan dan tindakannya menuju satu arah, yaitu arah commit to user
tujuan superioritas atau keberhasilan (Semiun, 2013: 243-244). Hal ini membuat setiap individu terlihat konsisten dan terarah sesuai dengan tujuan utamanya untuk mencapai keberhasilan.
4) Minat sosial (social interest)
Minat sosial merupakan sikap keterikatan diri dengan kemanusiaan secara umum, serta empati kepada setiap orang dengan tujuan bekerja sama untuk mencari keuntungan pribadi (Alwisol, 2009: 70). Inferioritas alamiah yang dimiliki manusia mengharuskan mereka bekerja sama dalam masyarakat. Tanpa perlindungan dan pemeliharaan orang lain seorang individu akan menghadapi kesulitan dalam kehidupannya (Semiun, 2013: 250). Dengan demikian minat sosial merupakan suatu kebutuhan yang penting dilakukan untuk mencapai suatu tujuan keberhasilan.
5) Gaya hidup (life of style)
Setiap orang memiliki tujuan sama dalam mencapai sebuah superioritasnya, namun untuk mencapai tujuan tersebut setiap manusia memiliki gaya masing-masing (Semiun, 2013: 258). Ada sesorang yang mengejar superioritasnya dengan mengembangkan kemampuan intelektualnya, namun ada juga orang yang mengejar superioritasnya dengan mengembangkan kekuatan otot. Hal ini dilakukan setiap manusia sesuai dengan gaya hidupnya masing-masing. Gaya hidup adalah cara unik bagaimana sesorang berjuang untuk mencapai tujuan khusus yang telah ditentukan orang itu dalam kehidupan tertentu dimana dia berada (Alwisol, 2009: 73). Dengan kata lain gaya hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi setiap individu dalam mencapai tujuan keberhasilannya.
6) Kekuatan kreatif diri (creative power of the self)
Manusia dalam perspektif psikologi kepribadian dipandang sebagai makhluk yang memiliki sifat alami kreatif. Sifat ini akan terlihat ketika manusia menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Alfred Alder (dalam Semiun, 2013: 262) menjelaskan bahwa setiap commit to user
manusia memiliki daya kreatif, yang dimaksud daya kreatif adalah kemampuan manusia dalam mengolah fakta-fakta dunia dan mentransformasikan fakta-fakta tersebut menjadi kepribadian yang bersifat subjektif, dinamik, menyatu, personal dan unik. Kekuatan daya kreatif tersebut pada akhirnya membuat setiap manusia menjadi manusia bebas, dan bergerak menuju tujuan yang terarah.
Mekanisme sublimasi Freud, ketidaksadaran kolektif Jung, konsep pribadi yang utuh Rogers, potensi kreatif dan hirarki kebutuhan Maslow, serta enam teori pokok Adler dalam konteks penelitian ini dirasakan tepat digunakan dalam menganalisis faktor pendorong terjadinya komodifikasi seni grafis pada karya cetak tinggi dan cetak saring seniman dari sudut padang psikologis seniman Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf.
c. Ekonomi Mikro
Membicarakan persoalan jual beli barang dan jasa dalam wilayah rumah tangga dan perusahaan tentunya akan membawa kita masuk ke dalam pembahasan tentang ekonomi mikro. Teori ekonomi mikro didefinisikan juga sebagai suatu bidang ilmu ekonomi yang menganalisis bagian-bagian kecil dari keseluruhan kegiatan ekonomi (Sukirno, 2006: 21). Kajian cabang ilmu ini dipelopori oleh Adam Smith (...the Wealth of Nattion. 1776) yang berisi mengenai bagaimana harga suatu komoditi secara individu terbentuk; mengkaji bagaimana penentuan harga tanah, tenaga kerja dan modal, serta meneliti kelemahan dan kekuatan mekanisme pasar, selain sifat-sifat efesiensi pasar itu sendiri yang sangat mengagumkan dan manfaat ekonomi yang berasal dari tindakan individual yang bersifat self-intersted (Samuelson dan Nordhaus, 2001: 5). Dapat disimpulkan bahwa ekonomi mikro merupakan sebuah cabang ilmu ekonomi yang berada pada lingkup analisis perilaku dari masing-masing pelaku ekonomi.
Pokok pembahasan ekonomi mikro terkait dengan transaksi suatu barang adalah adanya permintaan (demand) dan penawaran
(supply) yang saling bertemu dan membentuk satu titik pertemuan dalam satuan harga dan kuantitas (jumlah barang). Setiap transaksi perdagangan terdapat permintaan, penawaran, harga dan kuantitas yang saling mempengaruhi satu sama lain.
Sukirno (2005: 25) dalam bukunya yang berjudul
“Mikroekonomi: Teori Pengantar”, menyatakan bahwa permintaan adalah teori yang menerangkan tentang ciri-ciri hubungan antara jumlah permintaan dan harga. Disimpulkan bahwa teori permintaan adalah suatu teori yang menjelaskan khusus tentang permintaan dan tentang jumlah harga yang beredar di pasaran. Pada umumnya semakin tinggi harga suatu barang, maka semakin sedikit jumlah permintaan atas suatu barang tersebut dan sebaliknya semakin rendah harga suatu barang, maka semakin banyak jumlah permintaan atas barang tersebut (Bangun, 2007: 30).
Penawaran adalah banyaknya barang yang ditawarkan oleh penjual pada suatu pasar tertentu, pada periode tertentu, dan pada tingkat harga tertentu (Sukirno, 2005: 25). Hukum penawaran pada dasarnya mengatakan bahwa semakin tinggi harga suatu barang, semakin banyak jumlah barang tersebut yang akan ditawarkan oleh para penjual. Sebaliknya, makin rendah harga suatu barang, semakin sedikit jumlah barang tersebut yang ditawarkan (Marshall, 1890: 15). Adanya penawaran dan permintaan ini mengindikasikan terjadinya transaksi perdagangan antara seniman sebagai produsen pencipta produk dan masyarakat sebagai konsumen yang mengkonsumsi produk sehingga dapat mendorong munculnya praktik-praktik komodifikasi pada karya seni dalam bentuk suatu komoditas barang.
Teori ekonomi mikro dalam konteks penelitian ini dipakai untuk menganalisis jumlah produksi barang dan harga produk yang secara langsung menjadi salah satu faktor keberlangsungan praktik komodifikasi seni grafis pada karya cetak tinggi dan cetak saring pegrafis Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf hingga saat ini. Kegiatan ekonomi ini tentunya tidak terlepas dari persoalan commit to user
ekonomi seperti; apa dan berapa barang yang harus diproduksi, bagaimana barang tersebut di produksi dan untuk siapa barang tersebut diproduksi. Menjawab persoalan tersebut pasar membutuhkan sebuah sistem ekonomi yang secara ekstrim keputusan ekonomi dapat ditentukan langsung pada pasar seperti sistem ekonomi pasar atau free-market capitlalist.
Meminjam istilah Adam Smith (dalam Sukirno, 2006: 64) tentang sistem ekonomi pasar yang lebih dikenal dengan sebutan laissez-faire, memiliki pemahaman setiap unit pelaku kegiatan ekonomi diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang akan memberikan keuntungan pada dirinya, maka pada waktu yang bersamaan masyarakat akan memperoleh keuntungan juga. Melalui proses mekanisme pasar, pengusaha dan penjual memiliki kebebasan untuk menentukan produksi barang yang dapat menghasilkan keuntungan dengan demikian produsen dapat melakukan efesiensi terhadap fator-faktor produksi yang terbatas dengan cara mengeluarkan biaya serendah-rendahnya dan meningkatkan produksi pada titik optimal.
Kebebasan sistem ekonomi pasar ini memungkinkan terjadinya praktik komodifikasi dikarenakan masyarakat dalam hal ini produsen diberi kebebasan dalam menciptakan bentuk-bentuk modifikasi produk sesuai kemampuan individu untuk tujuan mencari laba dengan sistem produksi yang efektif dan efisien sesuai dengan selera masyarakat. Pendekatan teori sistem ekonomi pasar ini dirasakan sesuai dalam menganalisis faktor penyebab terjadinya praktik komodifikasi seni grafis di Yogyakarta.
d. Industri Kreatif
Industri kreatif adalah sebuah industri masa depan yang bertumpu pada daya kreasi manusia. Istilah industri kreatif pertama kali dipopulerkan oleh Partai Buruh di Autralia paa awal tahun 1990-an sebagai upaya dalam mencari format baru untuk memperoleh d1990-ana commit to user
bagi penciptaan lapangan pekerjaan, tetapi kemudian istilah ini berkembang pesat di Inggris pada akhir tahun 1990-an. Pemerintah