• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN: BENTUK, SEBAB DAN PROSES

A. Hasil Penelitian

memaksimalkan promosi produk yang dihasilkan. Sehinga iklan pada media massa hanya memunculkan citra estetika yang terjadi akibat dorongan seksual penikmatnya tanpa melihat etika pada iklan yang dipromosikan tersebut.

Keenam, penelitian Agata Maccarrone-Eaglen (2009: 1-11) yang berjudul

“An Analysis Of Culture As A Tourism Commodity”. Agata Maccarrone-Eglen dalam penelitian ini membahas tentang peran penting budaya dalam fungsi pariwisata sebagai sebuah komoditas yang dipasarkan secara internasional. Namun proses komodifikasi budaya sebagai nilai jual pariwisata menimbulkan kontroversi dikarenakan budaya akan berubah dan kehilangan nilai-nilai intrinsiknya dan berganti pada sebuah pemahaman yang relatif bergantung pada pemahaman pribadi individu, wisatawan dan pemasarnya. Komodifikasi dalam penelitian ini digambarkan sebagai sebuah strategi pariwisata budaya yang memiliki dampak negatif bagi budaya itu sendiri.

Ketujuh, penelitian yang berjudul “Komodifikasi Budaya Lokal Dalam Televisi: Studi Wacana Kritis Komodifikasi Pangkur Jenggleng TVRI

Yogyakarta”, oleh Sumantri Raharjo (2011: 63-139). Penelititan ini mengambil

analisis wacana kritis komodifikasi Pangkur Jenggleng di TVRI Yogyakarta, karena TVRI merupakan lembaga penyiaran publik dimana berdasarkan UU Penyiaran No. 32 Tahun 2002 merupakan lembaga yang independen, netral dan tidak komersial sedangkan komodifikasi biasanya hanya terjadi pada televisi swasta. Hasil penelitian ini menunjukan terjadinya komodifikasi isi dalam tayangan Pangkur Jenggleng di TVRI Yogyakarta, komodifikasi isi terjadi melalui proses penyesuaian isi tanyangan dan genre acara, ideologi dibalik proses komodifikasi adalah kapitalisme, kekuasan dibalik komodifikasi adalah kekuatan pasar, dan ideologi kapitalis telah masuk dalam TVRI yang notabene lembaga pemerintahan yang independen, netral dan tidak komersial. Penelitian ini mempunyai implikasi secara teoritis dan praktis.

Kedelapan, penelitian yang berjudul “Sociocultural Analysis of the Commodification of Ethnic Media and Asian Consumers in Canada”, oleh Dal Yong Jin dan Soochul Kim (2011: 551-565). Penelitian ini menggunakan analisa commit to user

sosial budaya untuk mengungkap komodifikasi yang terjadi pada media etnis dan konsumen Asia di Kanada. Pendekatan teori ekonomi politik dan studi budaya menjadi pisau bedah dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa komodifikasi media etnis dan pemasaran etnis pada perusahaan iklan di Kanada dapat meningkatkan daya beli orang Asia dan jumlah imigran Asia di Kanada. Komodifikasi media etnis dan pemasaran etnis telah menciptakan pasar baru yang dimana para media dan biro iklan di Kanada mengalihkan perhatian mereka ke penonton Asia yang berkembang dan telah melakukan upaya bervariasi untuk menjangkau khalayak Asia di Kanada. Dengan kata lain, perusahaan-perusahaan Kanada dan pengiklan bersama Media etnis sengaja membangun strategi pemasaran etnis individu berdasarkan bahasa dan budaya yang berbeda. Penelitian ini memberikan pemahaman bahwa komodifikasi adalah sebuah strategi dalam memodifikasi iklan untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

Kesembilan, penelitian Ni Made Rai Sukmawati (2012: 216-219) yang berjudul “Komodofikasi Kerajinan Seni Patung Kayu di Desa Mas, Kecamatan

Ubud, Kabupaten Gianyar”. Ni Made Rai Sukmawati dengan pendekatan teori

komodifikasi mencoba menelusuri praktik komodifikasi dalam kerajinan seni patung di desa Mas. Hasil penelitian ini mengungkapakan dampak adanya proses komodifikasi akan menciptakan produk seni kerajinan patung kayu yang baru. Dalam proses produksi massal ini akan terjadi pemanfaatan sumber daya manusia yang kreatif agar mampu menciptakan produk-produk yang inovatif dalam artian produk tersebut bisa diterima oleh pasar. Selain itu departemen produksi tidak hanya mengelola manusia tetapi juga mengelola peralatan yang nantinya bisa menunjang proses produksi itu agar sesuai dengan target yang telah ditetapkan, sebagai akibat dari adanya perubahan pola konsumsi. Penelitian ini memberikan pemahaman bahwa komodifikasi adalah suatu proses memodifikasi suatu produk dengan mengalami perubahan-perubahan baik dari segi ukuran, bentuk, dan penyederhanaan bentuk bahan yang lebih mudah karena faktor permintaan pasar.

Kesepuluh, penelitian Oki Rahadianto Sutopo (2012: 65-84) yang berjudul

“Transformasi Jazz Yogyakarta: Dari Hibriditas menjadi komoditas”, penelitian

dengan pendekatan sejarah sosial ini menguraikan tentang transformasi yang terjadi dalam ranah jazz Yogyakarta dengan menggunakan cerita baik dari musisi, commit to user

pengamat, praktisi, maupun penikmat jazz. Hasil penelitian ini menunjukan transformasi dalam ranah jazz Yogyakarta menunjukkan bagaimana kapital mampu merasuk hingga aspek yang paling esensial yaitu pemaknaan akan sebuah produk budaya. Lokalitas yang dianggap akan mendatangkan makna justru menjadi komoditas yang semakin dijauhkan dari makna subtansialnya.

Kesebelas, penelitian Andhika Dwi Yulianto (2013: 5-10) yang berjudul

“Komodifikasi Pertunjukan Festival Reog Ponorogo: Dinamika Perubahan

Pertunjukan Reog Ponorogo dalam Industri Pariwisata”, penelitian dengan

metode kualitatif dan pendekatan studi kasus ini menguraikan proses komodifikasi pertunjukan Reog untuk kegiatan festival sebagai akibat adanya industri pariwisata. Hasil penelitian ini menunjukan komodifikasi di Kabupaten Ponorogo telah menjadikan keberadaan reog menjadi semakin dikenal dan dapat diterima oleh masayarakat luas, komodifikasi dalam pertunjukan reog telah memunculkan penyederhanaan versi besar reog dari reog Suryongalam menjadi reog versi Bantarangin dalam format festival, keberlangsungan pertunjukan reog semakin terlindungi dengan adanya komodifikasi, proses industri pariwisata dalam reog telah mengangkat derajat para pemain reog lokal menjadi pemain festival tingkat nasional dan internasional, munculnya industri pariwisata memunculkan krasi-kreasi baru antar kelompok reog sehingga dalam setiap pertunjukan reog semakin menarik dan dapat dikenal secara luas oleh masyarakat luas.

Keduabelas, penelitian Davide Ponzini (2014: 10-18) yang berjudul “The Values of Starchitecture: Commodification of Architectural Design in Contemporary Cities” penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus yang menguraikan tentang komodifikasi nilai arsitektur spektakuler dalam desain arsitektur dua kota kontemporer yang berbeda antara Abu Dhabi dan New York. Sudah banyak diketahui bahwa nilai bangunan-bangunan arsitek masa lalu telah menginspirasi banyak arsitek dunia dalam menciptakan bagunan yang unik dan spektakuler. Nilai-nilai arsitektur spektakuler ini menjadi sebuah bentuk komodifikasi dari para arsitek dunia untuk memasarkan segala hasil desain yang mereka ciptakan. Penelitian ini mengkritik pandangan para arsitek yang menggunakan nilai-nilai arsitek spektakuler dunia atas dugaan penambahan nilai commit to user

ekonomi semata pada kota Abu Dhabi dan New York. Hasil penelitian ini menujukan bahwa pandangan para arsitek di Abu Dhabi dan New York tidak sesuai dengan motivasi yang sebenarnya dalam pengambilan keputusan, namun hal ini tetap saja dilakukan dan dijadikan sebagai sarana untuk memberikan keyakinan dalam menciptakan desain aritektur yang unik dan spektakuler atas dasar mendapatkan keuntungan ekonomi. Komodifikasi dalam penelitian ini digunakan sebagai alat untuk menambah nilai ekonomi sebuah desain arsitektur kota.

Berdasarkan uraian penelitian diatas menunjukan kajian tentang komodifikasi karya seni grafis di Yogyakarta yang memusatkan pada karya seni grafis di wilayah Yogyakarta sebagai objek penelitian, ternyata belum pernah dilakukan sebelumnya. Hal ini juga diperkuat dengan penggunaan tiga pendeketan teori secara bersamaan seperti; teori komodifikasi, teori psikologi dan teori ekonomi mikro yang belum pernah dilakukan sebagai pisau bedah dalam mengungkapkan dugaan terjadinya komodifikasi pada karya seni dalam penelitian sejenis. Hal ini yang pada akhirnya dijadikan penulis sebagai salah satu dasar perlunya dilakukan penelitian tentang komodifikasi karya seni grafis di Yogyakarta dengan penggunaan tiga pendeketan teori secara bersamaan seperti; teori komodifikasi, teori psikologi dan teori ekonomi mikro.

C. Kerangka Berfikir

Kerangka berpikir adalah sintesis atau abstraksi yang dirumuskan berdasarkan teori-teori terpilih yang dikorelasikan dengan masalah dalam penelitian. Kerangka berpikir dalam penelitian komodifikasi karya seni grafis di Yogyakarta ini dibuat dalam bentuk alur bagan pemikiran yang merupakan sebuah kerangka berpikir sekaligus memuat arah penelitian yang jelas sesuai dengan tema atau objek yang dibahas. Gambaran dan penjelasan penelitian ini disajikan dalam bentuk bagan kerangka berfikir dengan tujuan dapat digunakan sebagai panduan dalam melihat dasar pemikiran peneliti terhadap munculnya praktik komodifikasi pada objek karya seni grafis Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf di Yogyakarta. Secara skematis bagan kerangka berfikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut. commit to user

Gambar 2. Kerangka Berpikir Keterangan:

Input dan Output Kajian Objek Kajian

Fokus Kajian Faktor yang Mempengaruhi

Hubungan Pengaruh Langsung Hubungan (pengaruh) timbal balik Hubungan yang menggambarkan sifat dari umum ke khusus

SENI GRAFIS INDONESIA

Karya Seni Grafis

Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf

Komodifikasi Karya Seni Grafis

Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf di Yogyakarta

Bentuk-bentuk Komodifikasi Karya Seni

Grafis di Yogyakarta

Faktor Penyebab Komodifikasi Karya Seni Grafis

di Yogyakarta

Proses Komodifikasi Karya Seni Grafis Sri Maryanto, Bayu Widodo

dan Muhamad Yusuf di Yogyakarta

FAKTOR EKSTERNAL FAKTOR INTERNAL

Budaya Reproduksi Massal

Munculnya Benda Seni Ekonomi

Pemenuhan Nafsu Selera Masyarakat Moderen atas Karya Seni

Budaya Seolah-olah (munculnya karya miniatur, reprlika, duplikasi, imitasi)

Budaya Instan (serba cepat dan praktis)

Adanya Permintaan dan Penawaran terhadap karya seni

Psikologis Seniman (Kebutuhan Homeastatik, Aktualisasi diri, dan Kreativitas)

Kebutuhan Ekonomi Seniman.

Keistimewaan Karya Seni Grafis yang dapat dilipatgandakan.

Fungsi Politis Seni (fungsi ganda pada karya seni).

Mengembalikan proses tangan (hand made) pada penciptakaan produk seni.

Pemahaman seniman terhadap program Pengembangan Ekonomi Kreatif 2025 Departemen Perdagangan RI

Kemunculan seni grafis di Indonesia pada awalnya merupakan sebuah alat yang digunakan sebagai media propaganda untuk menyapaikan berita kermerdekaan pada tahun 1945 yang dipelopori oleh Affandi, Abdul Salam, Suromo, Mochtar Apin dan Baharuddin Marasutan. Seni grafis diakui sebagai sebuah proses kerja kreatif ketika Affandi, Abdul Salam dan Suromo melakukan proses modifikasi ulang seni grafis di Yogyakarta sebagai media berekspresi seni. Kedudukan seni grafis semakin jelas dalam rumpun seni rupa moderen ketika berdirinya institusi seni di Indonesia. Di Yogyakarta lahir sebuah Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang sekarang dikenal dengan nama Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI) sebagai sebuah lembaga pendidikan seni yang memberikan edukasi ilmu tentang seni grafis.

Sejalan dengan perkembangan masyarakat moderen di Yogyakarta karya seni grafis mengalami berbagai macam perubahan dari aspek fisik maupun non fisik. Kehadiran faktor eksternal seperti budaya reproduksi massal, munculnya benda-benda seni bernilai ekonomi, meningkatnya nafsu selera konsumen terhadap karya seni, munculnya produk-produk duplikasi (budaya seolah-olah), gaya hidup masyarakat yang serba cepat dan praktis, serta munculnya permintaan dan penawaran terhadap karya seni. Ditambah faktor internal kebutuhan psikologis seniman, dorongan ekonomi seniman, keistimewaan seni grafis, mengembalikan proses tangan (hand made) pada penciptakaan produk seni, dan pemahaman seniman terhadap industri kreatif telah memunculkan gejala komodifikasi pada karya seni grafis Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf di Yogyakarta.

Fenomena di atas akan dikaji secara kritis melalui kajian ilmu seni rupa dengan berbagai konsep dan landasan teori untuk menjawab rumusan masalah sebagai berikut: (1) Bentuk komodifikasi apa saja yang terjadi pada objek karya seni grafis di Yogyakarta?, (2) Mengapa terjadi komodifikasi pada objek karya seni grafis di Yogyakarta?, (3) Bagaimana proses terjadinya komodifikasi pada objek karya Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf di Yogyakarta?. Data akan dianalisa dengan teknik kualitatif deskriptif dengan strategi studi kasus kemudian dikaji lebih mendalam, detail, intensif dan komperehensif dengan pendekatan hermeneutik. commit to user

47 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di beberapa wilayah Yogyakarta dan sekitarnya seperti, di kediaman seniman Bayu Widodo di Jalan Bugisan Selatan no 11. Tirtonirmolo Kasihan Bantul Yogyakarta, kemudian di kediaman Sri Maryanto di Jalan Ki Ageng Gribig no 56a Klaten Utara, serta di kediaman Muhamad Yusuf di Dusun Sembungan RT 02 Bangunjiwo, Kasihan Bantul Yogyakarta .

Waktu penelitian dilakukan dalam setiap minggu yang disesuaikan dengan jadual narasumber dari bulan Oktober hingga pertengahan Desember 2014. Proses wawancara di lapangan membutuhkan kurang lebih satu hingga satu sengah jam dalam satu hari untuk satu narasumber. Penulis dimungkinkan dapat kembali ke lapangan melebihi waktu penelitian apabila data yang diperoleh dirasakan kurang mencukupi atau terjadi kerusakan data yang bersifat non teknis.

B. Jenis Penelitian

Penulis dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Bentuk penelitian kualitatif memungkinkan penulis dapat menggambarkan objek penelitian secara holistik berdasarkan realitas sosial yang ada di lapangan. Bogdan dan Taylor (1957: 5) mendefenisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendapat ini diperkuat oleh pernyataan Sutopo (2002: 89) dalam bukunya yang berjudul “Metodologi

Penelitian Kualitatif” penelitian kualitatif adalah suatu kegiatan untuk menjawab

berbagai pertanyaan tentang bagaimana dan mengapa (proses dan makna) dalam pernyataan nyatanya meliputi sejauh mana.

Karakterisitik penelitian kualitatif adalah sebagai berikut. (1) Sumber data dalam penelitian kualitatif adalah situasi yang wajar atau ”natural setting” dan peneliti merupakan instrumen kunci, (2) riset kualitatif bersifat deskriptif, (3) riset kualitatif lebih memperhatikan proses ketimbang hasil atau produk semata, (4) commit to user

peneliti kualitatif cenderung menganalisa data secara induktif, (5) makna merupakan persoalan yang esensial bagi pendekatan kualitatif (Bogdan dan Biklen, 1992: 29-32). Penelitian ini menggunakan teknis analisis data kualitatif deskriptif dengan strategi studi kasus agar dapat menangkap fenomena-fenomena di lapangan yang kemudian dikaji lebih mendalam, detail, intensif dan komperehensif dengan pendekatan hermeneutik. Model studi kasus yang penulis gunakan adalah studi kasus Explanatory. Penelitian ini akan tercapai dengan menggunakan pendekatan Pattern-matching, situasi dimana beberapa bagian informasi dari beberapa kasus dikorelasikan dengan beberapa proporsi teori (Yin, 2008: 29).

C. Data, Sumber Data dan Instrumen Penelitian

Data dalam penelitian ini dikategorikan dalam data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh di lapangan ketika melakukan survei dengan menggunakan instrumen. Data primer diperoleh dari karya seni grafis konvensional dan produk yang telah mengalami bentuk komodifikasi serta narasumber utama Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf sebagai informan (key informan) yang memberikan informasi baik secara lisan ataupun tulisan yang berkaitan dengan data yang diperlukan dalam penelitian ini, dan bukti-bukti informasi lisan konsumen/pembeli produk yang mampu memperkuat dugaan terjadinya praktik komodifikasi seni grafis Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf di Yogyakarta. Data sekunder adalah data-data yang sudah diolah menjadi data setengah jadi atau sudah jadi yang berhubungan dengan permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini. Data sekunder diperoleh dari beberapa referensi kepustakaan baik buku, jurnal maupun media masa yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini.

Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, hal ini memiliki pemahaman bahwa dalam penelitian kualitatif peneliti merupakan bagian dari instrumen penelitian sehingga penulis dalam konteks ini harus bersifat kritis, sensitif, dan berintegrasi dengan objek penelitian. Instrumen pendukung, penulis menggunakan aplikasi perekam suara HP Nokia C3, kamera digital poket Sony

Cyber-shot DSC W320, kamera DSLR Canon EOS 550D dan buku catatan yang digunakan pada saat proses pengumpulan data di lapangan.

D. Teknik Pengambilan/Pemilihan Informan

Teknik pengambilan informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Purposive Sampling (sampling bertujuan) dan Snowball Sampling. “Purposive sampling adalah dimana peneliti cenderung memilih informan yang dianggap tahu mengetahui informasi dan masalahnya secara mendalam dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang mantap” (HB. Sutopo, 2002: 56). Teknik purposive sampling dalam penelitian ini tidak menjadikan semua orang sebagai informan, tetapi informan yang dipilih dirasakan cukup mengetahui dan cukup memahami tentang komodifikasi pada karya seni grafis Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf di Yogyakarta serta orang-orang dapat diajak bekerja sama seperti orang yang bersikap terbuka dalam manjawab semua pertanyaan yang diajukan penulis.

Informan yang dipilih dalam penelitian ini bersumber dari anggota komunitas seni di Solo seperti Tugitu United dan SAYAP (Surakarta Young Artist Project) sebagai jembatan informasi awal. Informan pertama adalah Agus Susato dari Tugitu United dan Wahyu Eko P dari komunitas SAYAP. Selanjutnya berdasarkan dari penjelasan-pejelasan yang disampaikan oleh Agus Susanto dan Wahyu Eko P kemudian penulis direkomendasikan kepada dua seniman grafis di Yogyakarta yang merupakan anggota dari komunitas grafis. Seniman tersebut adalah Deni Rahman dan Alexander Nawangseto M dari komunitas Seni Grafis Minggiran Yogyakarta. Berdasarkan informasi dari saudara Agus Suanto, Wahyu Eko P, Deni Rahman dan Alexander Nawangseto M diperoleh informasi data jumlah seniman yang melakukan praktik komodifikasi pada karya seni grafis konvensional. Terdapat 25 nama seniman di Yogyakarta yang melakukan praktik komodifikasi karya seni grafis yang diaplikasikan dalam bentuk produk benda pakai. Penulis kemudian melakukan proses observasi awal di lapangan untuk memastikan praktik komodifikasi karya seni grafis yang dilakukan oleh duapuluh lima seniman tersebut. Setelah observasi pertama itu selesai kemudian penulis melakukan proses klasifikasi, reduksi dan pengolah data mentah yang telah commit to user

disesuaikan dengan data primer dan sekunder. Berdasarkan proses tersebut kemudian penulis memutuskan untuk memilih tiga seniman sebagai informan utama. Ketiga seniman yang dipilih tersebut adalah Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf. Ketiga seniman tersebut dipilih atas dasar konsistensi mereka dalam melakukan proses komodifikasi pada karya seni grafis dan mereka juga merupakan seniman pertama yang melakukan praktik komodifikasi karya seni grafis yang diaplikasikan kedalam sebuah produk pakai (merchandise) di Yogyakarta.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Observasi, proses observasi merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung (Sukmadinata, 2005: 220). Penjelasan tersebut diperkuat oleh S. Nasution dalam bukunya yang berjudul “Metode Penelitian Naturalistik

Kualitatif”, bahwa observasi adalah sebagai alat pengumpul data dengan cara

melihat dan mendengarkan objek yang diamati (Nasution, 1992: 66). Hal ini selaras dengan pendapat Haris Herdiansyah yang menyatakan observasi adalah suatu kegiatan mencari data yang dapat digunakan untuk memberikan kesimpulan atau diagnose (Herdiansyah, 2010: 131). Observasi dalam penelitian ini dilakukan secara langsung dikediaman seniman Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf untuk mendapatkan hasil pengamatan terhadap kegiatan komodifikasi yang sedang berlangsung.

2. Wawancara, menurut S. Nasution dalam bukunya yang berjudul “Metode

Research” menjelaskan bahwa wawancara adalah suatu bentuk komunikasi

atau percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi dalam keadaan saling berhadapan atau melalui telepon (Nasution, 2010: 113). Pendapat tersebut diperkuat oleh Nazir dalam bukunya yang berjudul “Metode

Penelitian” yang menjelaskan bahwa wawancara adalah proses memperoleh

keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si pewawancara atau penanya dengan si responden atau commit to user

penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan panduan wawancara (interview guide), yaitu panduan pertanyaan yang ditanyakan mengikuti panduan yang telah dibuat sebelumnya (Nazir, 2011: 193). Adapun teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur dalam rangka memperoleh informasi yang lebih terbuka dengan cara meminta pendapat dan ide-ide dari subjek yang diwawancarai. Subjek utama dalam wawancara ini adalah Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf yang terkait dengan praktik komodifikasi yang telah dilakukan ditambah dengan subjek penguat seorang akademisi dan praktisi seni bernama Deni Rahman dan Alexander Nawangseto M terkait dengan sudut pandang mereka terhadap apa yang dilakukan oleh ketiga senima yang melakukan proses komodfikasi tersebut.

3. Studi dokumen, menurut Arikunto dalam bukunya yang berjudul Prosedur Penelitian menjelaskan bahwa dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2002: 206). Menurut Sugiyono dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan dokumen, yaitu catatan peristiwa yang sudah berlalu yang dapat berbentuk tulisan, gambar, sejarah kehidupan, biografi, peraturan, kebijakan, dan lain-lain (Sugiyono, 2010: 329). Sedangkan menurut Herdiansyah dokumentasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan peneliti kualitatif untuk mendaptkan gambaran dari sudut pandang subjek melalui suatu media tertulis dan dokumen lainya yang ditulis atau dibuat langsung oleh subjek yang bersangkutan (Herdiansyah, 2011: 143). Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data-data berupa tulisan ataupun gambar yang berkaitan dengan praktik-praktik komodifikasi karya seni grafis. Studi dokumentasi penulis lakukan dibeberapa tempat seperti UPT Perpustakaan Pusat UNS, Perpustakaan Pusat ISI Yogyakarta, Perpustakaan Pascasarjana UNS, IVVA Indonesian Visual Art Archive Yogyakarta, Indonesian Art News, Cemeti Art House, Survive!garage, dan Lembaga Kerakyatan Taring Padi.

F. Teknik Analisis dan Validasi Data

Guna memahami sejumlah data penelitian yang telah diperoleh, maka perlu dilakukan pengolahan terhadap data-data yang telah didapat. Bodgan dan Biklen (1992: 153) dalam bukunya yang berjudul “Qualitative Research for

Education”menyatakan bahwa.

“Data analysis is the process of systematically searching and arraging

Dokumen terkait