BAB II LANDASAN TEORITIS, KERANGKA BERFIKIR DAN
A. Deskripsi Teoritik
1. Kemampuan Berpikir Kritis Matematik Siswa a. Pengertian Berpikir Kritis
Pengertian berpikir kritis, menurut Gerhand dalam buku Dina, mendefinisikan sebagai “proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data, analisis data, evaluasi data, dan mempertibangkan aspek kualitatif dan kuantitatif serta membuat seleksi atau membuat keputusan berdasarkan hasil evaluasi”.1 Sedangkan menurut Vincent Reggiero dalam buku Elaine menyatakan bahwa “berpikir kritis adalah segala aktivitas mental yang membantu merumuskan atau memecahkan masalah, membuat keputusan, atau memenuhi keinginan untuk memahami; berpikir adalah sebuah pencarian jawaban, sebuah pencapaian makna”.2
Proses berpikir kritis mengharuskan siswa membuka pikirannya, menerima kekurangan diri, dan sabar dalam memecahkan masalah. Pencarian kebenaran dari suatu informasi mengharuskan siswa berhati-hati dalam mengambil keputusan dan menarik kesimpulan, mengakui kesalahan yang dibuat, toleran terhadap sudut pandang baru, sabar dalam menyelidiki bukti yang ditemukan, dan mengakui kelebihan sudut pandang orang lain.
1 Dina Mayadiana Suwarma, Kemampuan Berpikir Kritis Matematika, (Jakarta: Cakrawala Maha Karya, 2009), h. 11
Alasan pentingnya kemampuan berpikir kritis harus ditanamkan menurut Wahab pada buku Dina adalah : (1) tuntutan zaman yang menuntun setiap warga negara dapat mencari, memilih, dan menggunakan informasi untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara, (2) Setiap warga negara senantiasa berhadapan dengan berbagai masalah dan pilihan sehingga dituntut mampu berpikir kritis dan kretif, (3) Kemampuan memandang sesuatu hal dengan cara yang berbeda dalam memecahkan masalah, dan (4) Berpikir kritis merupakan aspek dalam memecahkan peremasalahan secara kreatif agar peserta didik kita disatu pihak dapat bersaing secara adil dan dilain pihak bisa bekerja sama dengan bangsa lain.3
Jadi menurut penulis berpikir kritis adalah proses yang menyangkut merumuskan atau memecahkan masalah, membuat keputusan, atau memenuhi keinginan untuk memahami untuk membuat keputuasan terhadap suatu masalah yang dihadapi.
b. Kemampuan Berpikir Kritis Matematik
“Istilah berpikir matematik (mathematical thingking) diartikan sebagai cara berpikir berkenaan dengan kegiatan matematika (doing math) atau cara berpikir dalam menyelesaikan tugas matematik (mathematical task) baik yang sederhana maupun yang kompleks”.4 Berpikir kritis matematik juga ada dalam lingkup berpikir matematik dimana dalam berpikir kritis, siswa tidak segera mengambil keputusan agar dapat meminimalisir kesalahan dalam mengambil kesimpulan dalam masalah matematika.
3 Dina Mayadiana Suwarma, op. cit, h. 5.
4Utari “u ar o, berpikir da disposisi ate atik : apa, e gapa, da bagai a a dike ba gka pada peserta didik , FPMIPA UPI, h. 4
“Berpikir matematik digolongkan dalam 2 jenis. Yaitu tingkat rendah dan tingkat tinggi”.5 NCTM (National Council Teacher Mathematic) menyatakan salah satu komponen berpikir matematik adalah daya matematik, yaitu kemampuan untuk mengeksplorasi, menyusun konjektur, dan memberikan alasan secara logis; kemampuan menyelesaikan masalah non rutin; mengomunasikan ide mengenai matematika dan menggunakan metematika sebagai alat komunikasi; menghubungkan ide-ide dalam matematika, antar matematika, dan kegiatan intelektual lainnya. Jadi menurut penulis, kemampuan berpikir kritis matematika adalah kemampuan siswa dalam merumuskan dan menganalisis masalah matematika, setelah itu siswa membuat keputusan untuk menyelesaikan masalah matematika tersebut dan siswa mengkaji kembali keputusan yang telah dibuatnya untuk melihat kemungkinan kesalahan yang ditimbulkan.
c. Indikator Berpikir Kritis Matematik
Terdapat beberapa kelompok kemampuan berpikir kritis, salah satunya menurut Ennis dalam buku Dina mengelompokan kemampuan berpikir kritis menjadi lima kemampuan berpikir6, yaitu:
1) Memberikan penjelasan sederhana (elementary clarification), 2) Membangun keterampilan dasar (basic support),
3) Membuat inferensi (inferring),
4) Membuat penjelasan lebih lanjut (advanced clarification), 5) Mengatur startegi dan taktik (strategies and tactics).
5Ibid, h. 4
Tabel 2.1
Keterampilan Berpikir Kritis Keterampilan
Berpikir Kritis Indikator Penjelasan
Memberikan penjelasan
sederhana
Memfokuskan pertanyaan.
a. Mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan. b. Mengidentifikasi kriteria-kriteria untuk
mempertimbangkan yang mungkin. c. Menjaga kondisi pikiran.
Menganalisis argument
a. Mengidentifikasi kesimpulan
b. Mengidentifikasi alasan(sebab) yang dinyatakan(eksplisit)
c. Mengidentifikasi alasan(sebab) yang tidak dinyatakan(implisit)
d. Mengidentifikasi ketidakrelevanan dan kerelevanan
e. Mencari persamaan dan perbedaan f. Mencari struktur suatu argument g. Merangkum
Bertanya dan menjawab pertanyaan klasifikasi
dan pertanyaan yang menentang
a. Mengapa
b. Apa intinya, apa artinya
c. Apa contohnya, apa yang bukan contoh d. Bagaimana menerapkannya dalam kasus
tersebut
e. Perbedaan apa yang menyebabkannya f. Akankah andah menyatakan lebih dari itu
Membangun keterampilan dasar Mempertimbangkan kredibilitas (kriteria) suatu sumber a. Ahli
b. Tidak ada konflik internal c. Kesepakatan antar sumber d. Reputasi
e. Mengurutkan prosedur yang ada f. Mengetahui resiko
g. Kemampuan memberi alasan h. Kebisaaan hati-hati
Mengobservasi dan mempertimbangkan
hasil observasi
a. Ikut terlibat dalam menyimpulkan b. Dilaporkan oleh pengamat sendiri c. Mencatat hal-hal yang diinginkan
d. Penguatan(collaboration) dan kemungkinan penguatan
e. Kondisi akses yang baik
f. Penggunan teknologi yang kompeten g. Kepuasan observer atas kredibilitas kriteria
Menyimpulkan
Membuat deduksi dan mempertimbangkan
hasil deduksi
a. Kelompok yang logis b. Kondisi yang logis c. Interpretasi pernyataan Membuat induksi dan
mempertimbangkan hasil induksi
a. Membuat gereralisasi
b. Membuat kesimpulan dan hipotesis
Membuat dan mempertimbangkan
hasil keputusan
a. Latar belakang fakta b. Konsekuensi c. Penerapan prinsip-prinsip d. Memikirkan alternatif e. Menyeimbangkan, memutuskan Membuat penjelasan lebih lanjut Mendefinisikan istilah, mempertimbangkan definisi.
a. Bentuk : sinonim, klarifikasi, rentang ekspresi yang sama
b. Strategi definisi (tindakan mengidentifikasi persamaan)
c. Isi (content) Mengidentifikasi
asumsi.
a. Penalaran secara implisit
b. Asumsi yang diperlukan rekonstrukurusasi argument Strategi dan tehnik Memutuskan suatu tindakan a. Mendefinisikan masalah b. Menyelesaikan kriteria
c. Merumuskan alternatif yang memungkinkan d. Memutuskan hal-hal yang akan dilakukan secara
alternatif
e. Melakukan revise
f. Memonitori implementasi Berinteraksi dengan
orang lain
Indikator kemampuan berpikir kritis dapat diturunkan dari aktivitas kritis siswa sebagai berikut:
1) Memberi pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan; 2) Memberi alasan;
3) Berusaha mengetahui informasi dengan baik;
4) Memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan menyebutkannya; 5) Memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan;
6) Berusaha tetap relevan dengan ide utama; 7) Mengingat kepentingan yang asli dan mendasar;
8) Memberi alternatif;
9) Bersikap dan berpikir terbuka;
10) Mengambil posisi ketika ada bukti yang cukup untuk melakukan sesuatu;
11) Memberi penjelasan sebanyak mungkin apabila memungkinkan;
12) Bersikap secara sistematis dan teratur dengan bagian-bagian dari keseluruhan masalah.
Dalam penelitian ini, difokuskan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis dengan indikator berikut :
1) Memfokuskan pertanyaan
Memfokuskan pertanyaan yang dimaksud dalam lingkup mengidentifikasi atau merumuskan masalah dan mengidentifikasi kriteria-kriteria untuk mempertimbangkan yang mungkin sehingga siswa bisa menjawab pertanyaan yang dimaksud.
2) Menganalisis argumen
Menganalisis argumen dalam lingkup mengidentifikasi alasan(sebab) yang tidak dinyatakan(implisit) dan mencari persamaan serta perbedaan. 3) Menjawab pertanyaan yang menentang
Menjawab pertanyaan yang menentang dalam lingkup pengetahuan siswa yang bisa membedakan sebab dari suatu perbedaan.
4) Membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan
Membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan dalam lingkup dapat menerapkan prinsip-prinsip yang telah dipelajari untuk membuat keputusan dan dapat menyeimbangkan dan memutuskan menjadi suatu kesimpulan.
2. Penemuan Terbimbing
a. Pengertian Metode Penemuan Terbimbing
Model penemuan merupakan model belajar yang dipopulerkan oleh Bruner. Belajar yang bermakna dapat diperoleh ketika siswa berusaha sendiri mencari tahu pemecahan masalah yang dihadapi dengan pengetahuan yang dimilikinya. Ada beberapa kebaikan belajar penemuan, yaitu (1) pengetahuan akan bertahan lebih lama diingat dan lebih mudah diingat bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara bukan penemuan, (2) hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik daripada hasil belajar lainnya, (3) secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir secara bebas.7
Namun begitu, belajar penemuan ini memerlukan waktu yang lama dalam pelaksanaannya. Belajar penemuan juga kurang tepat, karena pada umumnya sebagian besar siswa masih membutuhkan konsep dasar untuk menemukan sesuatu. Jika siswa tidak memiliki konsep dasar untuk melakukan penemuan, siswa tidak akan bisa berbuat apa-apa karena siswa tidak tahu. Dalam metode penemuan ini, siswa mencari sendiri penyelesaian dari permasalahan yang ada. Tanpa dibantu oleh siapapun, siswa tergangung pada kesanggupan, pengalaman, latihan dan trial and error.
Demikian pula model penemuan kurang tepat untuk diterapkan untuk siswa sekolah dasar maupun lanjutan apabila tidak dengan bimbingan guru. Karena materi matematika yang ada dalam kurikulum tidak banyak yang hal dipelajari sendiri bahkan siswa dan guru pun kekurangan waktu dalam pembelajaran di sekolah. Untuk itu, metode penemuan yang dipandu oleh guru atau bisa disebut metode penemuan terimbing. Metode penemuan terbimbing ini pertama diperkenalkan oleh Plato yang selanjutnya dikembangkan oleh Bruner. Metode
7 Ratna Wilis Dahar , Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta : Penerbit Erlangga, 2006), h.80
ini melibatkan interaksi guru dan siswa dimana siswa mencari kesimpulan yang diinginkan melalui interaksi tersebut. Interaksi dalam metode ini menekankan pada adanya interaksi dalam kegiatan belajar mengajar. Interaksi tersebut dapat terjadi antara siswa dengan siswa, siswa dengan bahan ajar, siswa dengan guru. Interaksi dapat pula dilakukan antara siswa baik dalam kelompok-kelompok kecil maupun kelompok besar.
Dalam kelompok kecil, interaksi dapat berupa sharing antar siswa atau siswa yang lemah bertanya dan siswa yang pandai menjelaskan. Sedangkan dalam kelompok besar interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa tertentu, dengan beberapa siswa , atau dengan semua siswa dalam kelas. Tujuannya untuk saling mempengaruhi pikiran masing-masing. Yang harus dilakukan oleh guru adalah memancing berpikir siswa, yaitu dengan pertanyaan-pertanyaan yang terfokus sehingga memungkinkan siswa untuk memahami atau membangun konsep-konsep tertentu untuk memecahkan masalah.
Dengan model penemuan terbimbing ini siswa dihadapkan pada situasi ketika siswa bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan untuk mencari penemuan yang baru. Terkaan, intuisi dan mencoba-coba (trial and error) hendaknya dianjurkan dan guru sebagai penunjuk jalan dan membantu siswa agar mempergunakan ide, konsep dan keterampilan yang sudah mereka pelajari untuk menemukan pengetahuan yang baru.8 Karena dalam metode penemuan terbimbing mengarahkan siswa untuk aktif berpikir, mencari tahu, aktif, dan mencari alternatif-alternatif termudah agar dapat menyelesaikan suatu masalah yang diberikan. Melalui pembelajaran seperti inilah siswa mendapat pengetahuan yang benar-benar bermakna, ditambah lagi dalam metode penemuan terbimbing siswa dituntut berperan aktif mencari penyelesaian masalah yang diberikan. Sehingga pengetahuan yang didapat akan lebih lama diingat oleh siswa.
8 Markaban, Model Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Penemuan Terbimbing, (Yogyakarta: Depdiknas, 2006), h. 15
b. Kelebihan metode penemuan terbimbing
Berikut adalah kelebihan yang dimiliki dalam metode penemuan terbimbing:9
1) Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan. 2) Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry
(mencari-temukan).
3) Mendukung kemampuan problem solving siswa.
4) Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru, dengan demikian siswa juga terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5) Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukannya.
c. Langkah-langkah metode penemuan terbimbing berbantuan media benda kongkrit.
Agar pelaksanaan model penemuan terbimbing ini berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang perlu ditempuh oleh guru matematika adalah sebagai berikut.
1) Merumuskan masalah. Guru memberikan data secukupnya kepada siswa. Perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
2) Dari data yang berikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, digunakan media pembelajaran dalam proses menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data. Dengan penggunaan media pembelajaran siswa akan lebih mudah menyususn dan mengorganisir
informasi yang dibutuhkan untuk pemecahan masalah. Pada langkah ini guru membimbing siswa menggunakan media pembelajaran agar dapat digunakan dengan baik.
3) Siswa menyusun konjektur (perkiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya. Bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS. 4) Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat siswa tersebut di atas
diperiksa kembali oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran perkiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
5) Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunya. Di samping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran konjektur.
6) Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru dan siswa menyimpulkan hasil diskusi dari beberapa konjektur siswa yang berbeda-beda. Selanjutnya guru menyedikan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakan hasil penemuan itu benar.
3. Media Benda Kongkrit
Guru memiliki peran penting dalam proses belajar mengajar, namun guru bukanlah satu – satunya sumber belajar. Dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, guru dapat menambahkan media pembelajaran sebagai sumber belajar lain bagi siswa. Pada saat guru tidak bisa menjadi sumber belajar di luar jam pelajaran di sekolah, media pembelajaran dapat menjadi sumber belajar bagi siswa ketika membutuhkannya. Kata media dalam bahasa arab
Gambar 2.1 Kerucut Pengalaman
berarti “perantara (لئاسو) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima”.10 Dalam bahasa latin media adalah bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepada penerima sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sehingga proses pembelajaran terjadi secara baik.
Penggunaan media dalam pembelajaran berguna untuk memfasilitasi siswa melihat miniatur benda asli yang dipelajari. Dengan penggunaan media benda kongkrit, siswa mendapat proses pembelajaran secara langsung. Edgar Dale dalam buku Arief, dkk “mengklasifikasi pengalaman
menurut tingkat yang paling kongkrit ke yang paling abstrak yang dikenal dengan nama kerucut pengalaman (Cone of experience)”. 11
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sarana pendidikan yang dapat digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan pengajaran. Ada empat substansi media pembelajaran secara umum, yaitu bentuk saluran, jenis komponen dalam lingkungan pembelajar, bentuk alat fisik, dan bentuk-bentuk komunikasi.
10 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran. (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 3 11Arief dkk, “Media Pendidikan”. PT raja Grafindo persada(Jakarta: 1996) h. 8
Adapun tujuan media pembelajaran sebagai alat bantu pembelajaran, yaitu mempermudah proses pembelajaran di kelas, meningkatkan efisiensi proses pembelajaran, menjaga relevansi antara materi pembelajaran dengan tujuan belajar, dan membantu konsentrasi pembelajaran dalam proses pembelajaran. Sedangkan manfaat media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, yaitu pengajaran lebih menarik perhatian pembelajar, bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, metode pembelajaran bervariasi, dan pembelajar lebih banyak melakukan kegiatan belajar.
Tidak semua media pembelajaran cocok digunakan dalam proses pembelajaran, untuk itu perlu dilakukan pertimbangan dalam memilih media supaya penggunaan media pembelajaran tersebut benar dan tepat. Adapun media yang dipilih harus disesuaikan dengan tujuan pengajaran, bahan pelajaran, metode mengajar, tersedia alat yang dibutuhkan, pribadi pengajar, minat dan kemampuan pembelajar, dan situasi pengajaran yang sedang berlangsung.
Dengan penggunaan media pembelajaran siswa dapat mempelajari media tersebiut dengan melihat langsung maksud dari permasalahan yang ada. Hal tersebut menjelaskan bahwa dibandingkan dengan hanya mendengarkan saja, siswa lebih paham jika dalam proses pembelajaran guru menggunakan media pembelajaran. Dengan menggunakan media pembelajaran juga pemahamannya bertahan lebih lama dibandingkan yang hanya mendengarkan saja.
Berikut adalah menfaat menggunakan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar:12
a. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar,
b. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri–sendiri sesuai dengan kemampuan minatnya,
c. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu,
d. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungannya mislanya melalui karyawisata, kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.
Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerangka-kerangka kubus, balok, limas dan prisma yang akan membantu siswa dalam mengidentifikasi unsur-unsur kubus, balok, limas dan prisma; jarring-jaring kubus, balok, limas dan prisma yang akan membantu siswa untuk menemukan rumus luas permukaan bangun-bangun tersebut; rubik, dan miniatur kubus, balok, limas dan prisma yang transparan sehingga dapat membantu siswa untuk menemukan volume bangun-bangun tersebut.
4. Metode pembelajaran konvensional
Metode pembelajaran adalah suatu cara yang digunakan oleh guru untuk mengajar. Pada dasarnya pembelajaran adalah penambahan informasi dan kemampuan kepada siswa melalui guru. Seorang guru diwajibkan untuk menguasai metode pembelajaran yang hendak diterapkan dalam pembelajaran. Dengan guru menggunakan metode pembelajaran yang tepat, siswa yang diajarkan dapat memperoleh nilai lebih pada pengetahuan yang diperoleh. Dengan menggunakan metode pemebelajaran yang tepat, situasi pembelajaran
menjadi lebih mudah untuk dikontrol oleh guru. Penggunaan metode pembelajaran sangatlah dipengaruhi oleh keadaan peserta didiknya.
Pengajaran matematika tradisional di Indonesia pada umumnya memiliki beberapa ciri khas, seperti : materinya materi lama (lamban berkembang), lebih mengutamakan hafalan daripada kepada pemahaman, menekankan kepada bagaimana suatu dihitung daripada mengapa sesuatu dihitung demikian, lebih mengutamakan melatih otak daripada kegunaannya, bahasa/istilah/simbul yang dipergunakan tidak jelas (ambiguous), urutan operasi harus diterima tanpa alasan, soal-soal banyak yang menjelimet, dan lain-lain.13 Dari ciri khas tersebut disimpulkan bahwa pembelajaran konvensional belum melatih kemampuan berpikir siswa. Contohnya dalam pembelajaran konvesional yang diutamakan hanyalah hafalan, tidak dilatih memahami agar siswa faham.
Dalam pembelajaran konvensional pula posisi guru adalah sebagai pusat pembelajaran. Padahal jika kemampuan berpikir ingin ditingkatkan siswa harus menjadi pusat pembelajaran, karena siswa dapat mengeksplor apa yang ingin diketahuinya. Dalam pembelejaran konvensional siswa hanya diberikan rumus tanpa mengetahui kenapa alasan rumus itu ada. Jika siswa yang menjadi pusat pembelajaran, siswa diberi kesempatan berpikir, bahkan menemukan rumus sehingga pengetahuan yang diterima lebih lama melekat.
Metode konvensional juga dikenal dengan nama metode ceramah (Lecture). Metode ceramah ini berbentuk penjelasan konsep, prinsip, dan fakta yang dijelaskan oleh guru di depan kelas dan pada akhir pembelajaran ditutup dengan tanya jawab antara gur dengan siswa. Dalam bukunya, Yamin menyatakan bahwa ada 5 keterbatasan metode ceramah14, yaitu:
13Ruseffendi,”pengajaran matematika modern dan masa kini”, Tarsito, bandung 1988, h. 70
14
Martinis yamin, strategi pembelajaran berbasis kompetensi.(Jakarta:gaung persada press) 2004, h. 65
a. Keberhasilan siswa tidak terukur,
b. Perhatian dan motivasi siswa sulit diukur, c. Peranserta siswa dalam pembelajaran rendah, d. Materi kurang terfokus,
e. Pembicaraan sering melantur.
Untuk itu penulis menyarankan agar pembelajaran di sekolah menggunakan metode pembelajaran yang bervarisi agar meningkatkan kemempuan berpikir siswa.