BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Peneliti akan membahas kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar, pembelajaran kelas eksperimen yang menggunakan metode penemuan terbimbing dan kelas kontrol yang menggunakan model konvensional. Hasil penelitian yang peneliti dapat bisa dibandingkan dengan penelitian lain yang relevan Penelitian Asrul karim pada tahun 2011, penelitian Asrul karim tertuang dalam judul “penerapan metode penemuan terbimbing dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan pemahaman konsep dan berpikir kritis sisiwa sekolah dasar”. Salah satu kerampilan berpikir kritis yang diukur adalah memberikan penjelasan sederhana. Sama seperti penelitian Asrul Karim, penelitian ini juga mengukur keterampilan berpikir kritis memberikan penjelasan sederhan. Namun, dalam penelitian Asrul Karim mengukur indikator menganalisi algoritma. Pada penelitian ini mengukur indikator menganalisis argumen. Walaupun kedua indikator tersebut berbeda, namun keterampilan yang diukur sama, yaitu memberikan penjelasan sederhana. Hasilnya kedua indikator tersebut lebih baik ketika diberi pembelajaran dengan menggunakan metode penemuan terbimbing dibandingkan dengan diberi pembelajaran secara konvensional.
Berikut adalah rincian analisis kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar tiap indikator:
1. Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Bangun Ruang Sisi Datar
Berdasarkan hasil tes kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar kelas eksperimen dan kelas kontrol, terlihat adanya perbedaan nilai rata-rata,
median, modus, varians, simpangan baku, tingkat kemiringan dan ketajaman. Deskripsi data perbedaan kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar disajikan pada tabel 4.10 berikut ini:
Tabel 4.10
Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis Kelas Eksperimen dan Kontrol
Statistik Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Banyak sampel 36 34 Nilai terendah 37 30 Nilai tertinggi 84 78 Mean 63,17 56,26 Median 65,07 51,50 Modus 71,50 54,80 Varians 159,09 129,84 Simpangan Baku 12,61 11,39 Kemiringan -0,66 0,12
Tabel 4.9 menunjukkan perbandingan kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol, yaitu perolehan nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar kelas kontrol yaitu memiliki selisih 6,91 artinya rata-rata nilai kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Perbandingan median, modus, varians dan simpangan baku pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Tingkat kemiringan di kelompok eksperimen -0,66. Karena bernilai negatif, maka kecenderungan data mengumpul di atas nilai rata-rata, sedangkan pada kelompok kontrol memperoleh tingkat kemiringan 0,12. Karena bernilai positif, maka kecenderungan data mengumpul di bawah nilai rata-rata.
0 2 4 6 8 10 12 14 16 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Fr e ku e n si Nilai eksperimen kontrol
Secara visual perbedaan penyebaran data di kedua kelompok yaitu kelompok eksperimen yang menggunakan metode penemuan terbimbing dengan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Gambar 4.5
Kurva Perbandingan Nilai Kemampuan Berpikir Kritis pada Kelas Eksperimen dan Kontrol
Dilihat dari gambar 4.6, terlihat bahwa penyebaran data kurva pada kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol, karena kurva dikelas eksperimen memiliki kurva landai ke kiri yaitu ekor kiri lebih panjang dari ekor kanan artinya data yang diperoleh dari nilai tes kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar pada kelas ekperimen mengelompok diatas rata-rata dengan persentase siswa yang mendapat nilai diatas rata-rata sebanyak 52,77% dan siswa yang mendapat nilai dibawah rata-rata sebanyak 47,23%. Maka dapat dikatakan bahwa siswa yang memperoleh nilai diatas rata-rata lebih banyak dibandingkan dengan siswa yang memperoleh nilai dibawah rata-rata. Sedangkan pada kelas kontrol persentase siswa yang mendapat nilai diatas rata-rata sebanyak 50% dan siswa yang mendapat nilai dibawah rata-rata sebanyak 50%. Maka dapat dikatakan bahwa siswa yang memperoleh nilai diatas rata-rata sama dengan siswa yang memperoleh nilai dibawah rata-rata.
Kemampuan berpikir kritis matematik siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis matematik juga terlihat adanya perbedaan berdasarkan nilai mean dengan rata-rata mean kelas eksperimen sebesar 4,81 dan kelas kontrol sebesar 3,91, standar deviasi dengan rata-rata standar deviasi kelas ekperimen sebesar 1,11 dan kelas kontrol sebesar 1,02, dan rata-rata persentase kelas eksperimen 70,5 dan kelas kontrol 57,11. Untuk lebih memperjelas perbedaan kemampuan berpikir kritis matematik berdasarkan indikator antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.11
Perbandingan Kemampuan Berpikir kritis Matematik Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Berdasarkan Indikator
Tabel 4.11 menunjukkan perbandingan indikator kemampuan berpikir kritis matematik siswa pada kelas eksperimen dengan kelas kontrol, yaitu perolehan jumlah mean dan presentase kemampuan berpikir kritis matematik kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah mean dan presentase kelas kontrol, artinya kemampuan berpikir kritis matematik kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol pada semua indikator. Pada indikator memfokuskan pertannyaan mean pada kelas eksperimen sebesar 6,28 sedangkan pada kelas kontrol 4,94. Pada indikator menganalisis argumen mean pada kelas eksperimen sebesar 3,97 sedangkan pada kelas kontrol 2,85. Pada indikator menjawab pertanyaan yang menentang mean pada kelas No Indikator Berfikir Kritis Skor Ideal Eksperimen Kontrol Mean SD % Mean SD % 1. Memfokuskan pertanyaan 8 6,28 1,45 78,47 4,94 1,16 61,76 2. Menganalisi argument 6 3,97 0,93 66,2 2,85 0,81 47,55 3. Menjawab pertanyaan yang menentang 6 3,67 1,03 61,11 2,91 1,31 48,53 4. Membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan 7 5,36 1,06 76,59 4,94 0,80 70,59 Rata-rata 4,81 1,11 70,5 3,91 1,02 57,11
eksperimen sebesar 3,67 sedangkan pada kelas kontrol 2,91. Dan Pada indikator membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan mean pada kelas eksperimen sebesar 5,36 sedangkan pada kelas kontrol 4,94.
Perbandingan antara kelas eksperimen dan kontrol dapat digambarkan dalam bentuk diagram batang. Untuk lebih memperjelas perbedaannya, dapat dilihat pada diagram berikut:
Gambar 4.6
Perbandingan Mean Kemampuan Berpikir kritis Matematik Siswa Kelas Eksperimen dan Kontrol
Pada gambar 4.6 terlihat bahwa mean pada setiap indikator berpikir kritis matematik siswa di kelas eksperimen memperoleh nilai lebih tinggi dari kelas kontrol. Perolehan mean tertinggi terdapat pada indikator berpikir memfokuskan pertanyaan, mean tersebut dicapai oleh kelas eksperimen dengan nilai 6,28. Sedangkan mean terendah diperoleh kelas kontrol dengan nilai 2,85 untuk indikator menganalisis argumen.
6.28 3.97 3.67 5.36 4.94 2.85 2.91 4.94 0 1 2 3 4 5 6 7 memfokuskan pertanyaan
menganalisis argumen menjawab pertanyaan yang
menentang
membuat dan mempertimbangkan
hasil keputusan
Gambar 4.7
Perbandingan Presentase Kemampuan Berpikir kritis Matematik Siswa Kelas Eksperimen dan Kontrol
Pada gambar 4.8 terlihat bahwa presentase pada setiap indikator berpikir kritis matematik siswa di kelas eksperimen memperoleh nilai lebih tinggi dari kelas kontrol. Perolehan presentase tertinggi dicapai oleh indikator berpikir memfokuskan pertanyaan, presentase tersebut dicapai oleh kelas eksperimen dengan nilai 78,47%. Sedangkan prosentase terendah diperoleh kelas kontrol dengan nilai 47,55% untuk indikator menganalisis argumen.
Perbedaan kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar dalam penelitian ini juga tercermin dari hasil jawaban posttest yang berbeda antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berikut ini adalah analisis hasil jawaban tes kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar berdasarkan indikator-indikatornya.
a. Kemampuan Berpikir Kritis Indikator Memfokuskan Pertanyaan
Indikor memfokuskan pertanyaan adalah mengukur kemampuan siswa untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah, dan juga mempertimbangkan
78.7 66.2 61.11 76.59 61.76 47.55 48.53 70.59 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 memfokuskan pertanyaan menganalisis argumen menjawab pertanyaan yang menentang membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan Kelas eksperimen Kelas kontrol
kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat menjadi alternatif untuk menyelesaikan masalah.
Pada soal posttest yang diberikan, soal nomor satu, dan nomor dua, keduanya mewakili kemampuan berpikir kritis dengan indikator memfokuskan pertanyaan. Dari hasil posttest diperoleh bahwa rata-rata indikator memfokuskan pertanyaan pada kelas eksperimen sebesar 6,28 dengan persentase 78,47% sedangkan pada kelas kontrol rata-rata indikator memfokuskan pertanyaan sebesar 4,94 dengan persentase 61,76%. Sebagai gambaran umum hasil penelitian mengenai kemampuan berpikir kritis bangun ruang sisi datar indikator memfokuskan pertanyaan berikut ini akan ditampilkan soal beserta jawaban posttest siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Salah satu hasil jawaban siswa pada soal nomor satu adalah sebagai berikut:
Perhatikan gambar kubus ABCD.EFGH disamping. Melalui titik-titik sudutnya ditarik garis diagonal ruang, sehingga berbentuk limas.
a. Berapa limas yang terbentuk dalam kubus tersebut?
Sebutkan.
b. Apakah limas-limas itu kongruen?
c. Berbentuk apakah alas setiap limas itu?
d. Jika panjang rusuk kubus 8 cm, tentukan tinggi limas
Perbedaan jawaban dari kelas eksperimen dan kontrol disajikan pada gambar berikut:
Gambar 4.8
Hasil Jawaban Siswa Indikator Memfokuskan Pertanyaan Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Dari hasil jawaban kedua siswa di atas dapat dilihat bahwa jawaban soal posttest siswa kelas eksperimen lebih baik daripada siswa dari kelas kontrol. Hal ini karena jawaban siswa kelas eksperimen lebih terlihat kemampuan berpikir kritis matematikanya dibandingkan jawaban siswa kelas kontrol. Alasannya adalah siswa kelas eksperimen mampu memahami permasalahan dengan baik, sehingga dapat lebih fokus dalam melihat limas yang ada di dalam kubus. Pada kelas eksperimen sudah mampu mengidentifikasi banyak limas segiempat yang terdapat di dalam kubus, yaitu ada 6 buah limas segiempat. Sedangkan pada kelas kontrol, belum dapat mengidentifikasi banyak limas segiempat yang terdapat di dalam kubus.
b. Kemampuan Berpikir Kritis Indikator Menganalisis Argumen
Indikor bangun ruang sisi datar indikator menganalisis argumen yang mengukur kemampuan siswa dalam mengidentifikasi alasan yang tidak dinyatakan dan mencari persamaan serta perbedaan dalam menyelesaikan masalah. Dalam indikator ini, diberikan suatu argumen, kemudian siswa menganalisis argumen yang diberikan.
Pada soal posttest yang diberikan, soal nomor tiga dan nomor empat, keduanya mewakili indikator menganalisis argumen. Dari hasil posttest diperoleh bahwa rata-rata indikator menganalisis argumen pada kelas eksperimen sebesar 3,97 dengan persentase 66,20% sedangkan pada kelas kontrol rata-rata pemahaman relasional sebesar 2,91 dengan persentase 48,53%. Sebagai gambaran umum hasil penelitian mengenai indikator menganalisis argumen, berikut ini akan ditampilkan soal/ masalah beserta jawaban posttest siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Salah satu hasil jawaban siswa pada soal nomor empat sebagai berikut:
Jika dikatakan kerucut adalah limas dengan bidang alas berbentuk lingkaran. Selidiki mengapa kerucut bisa dikatakan limas yang alasnya berbentuk lingkaran?
Perbedaan jawaban dari kelas eksperimen dan kontrol disajikan pada gambar berikut:
Gambar 4.9
Hasil Jawaban Siswa Indikator Menganalisis Argumen Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Dari hasil jawaban kedua siswa di atas dapat dilihat bahwa jawaban soal posttest siswa kelas eksperimen lebih baik daripada siswa dari kelas kontrol. Hal ini karena jawaban siswa kelas eksperimen lebih terlihat kemampuan berpikir kritis matematikanya dibandingkan jawaban siswa kelas kontrol. Berdasarkan gambar 4.9 dapat dilihat bahwa siswa mampu memahami permasalahan dengan baik. Dalam kelas eksperimen dalam gambar 4.10, siswa menyelesaikan hingga memberikan alasan dengan mengidentifikasi unsur-unsur dari kerucut dan limas. Sedangkan pada kelas kontrol siswa menyelesaikan permasalahan hanya membedakan jarring-jaring antara kerucut dan limas tanpa memberikan alasan.
c. Kemampuan Berpikir Kritis Indikator Menjawab Pertanyaan yang Menentang
Indikator menjawab pertanyaan yang menentang yang mengukur kemampuan siswa dalam memberikan alasan atas perbedaan apa yang menyebabkan jawaban siswa berbeda dengan pertanyaan yang ada di soal. Pada
soal posttest yang diberikan, soal nomor lima dan nomor enam, keduanya mewakili indikator menjawab pertanyaan yang menentang.
Dari hasil posttest diperoleh bahwa rata-rata indikator menjawab pertanyaan yang menentang pada kelas eksperimen sebesar 3,67 dengan persentase 61,11% sedangkan pada kelas kontrol rata-rata pemahaman relasional sebesar 2,91 dengan persentase 48,53%. Sebagai gambaran umum hasil penelitian mengenai indikator menjawab pertanyaan yang menentang, berikut ini akan ditampilkan soal/ masalah beserta jawaban posttest siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Salah satu hasil jawaban siswa pada soal nomor lima sebagai berikut:
Syakir ingin membuat kerangka balok dengan panjang 6m, lebar 4m, dan tinggi 2m. Jika Syakir diberikan kawat sepanjang 100 meter, Syakir dapat membuat kerangka balok lebih dari 3. Benarkah demikian? Berikan alasannya!
Perbedaan jawaban dari kelas eksperimen dan kontrol disajikan pada gambar berikut:
Gambar 4.10
Hasil Jawaban Siswa Indikator Menjawab Pertanyaan yang Menentang Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Dari hasil jawaban kedua siswa di atas dapat dilihat bahwa jawaban soal posttest siswa kelas eksperimen lebih baik daripada siswa dari kelas kontrol. Hal ini karena jawaban siswa kelas eksperimen lebih terlihat kemampuan berpikir kritis matematikanya dibandingkan jawaban siswa kelas kontrol. Berdasarkan gambar 4.11 dapat dilihat bahwa siswa mampu memahami permasalahan dengan
baik. Dalam kelas eksperimen, siswa menentang bahwa pernyataan yang ada dalam soal adalah tidak benar, dan siswa memberikan alasan atas apa yang ditentang. Sedangkan pada kelas kontrol dalam gambar 4.12, siswa hanya menyajikan fakta yang ada, tanpa disertai dengan argumen-argumennya yang menentang pernyataan yang ada dalam soal.
d. Kemampuan Berpikir Kritis Indikator Membuat dan Mempertimbangkan Hasil Keputusan
Indikator membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan yang mengukur kemampuan siswa dalam menerapkan prinsip-prinsip yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang diberikan. Indikator ini mengukur sejauh mana sisiwa dapat menerapkan prinsip-prinsip untuk mencari pemecahan masalah yang diberikan.
Pada soal posttest yang diberikan, soal nomor tujuh dan nomor delapan, keduanya mewakili indikator membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan. Dari hasil posttest diperoleh bahwa rata-rata indikator menjawab membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan pada kelas eksperimen sebesar 5,36 dengan persentase 76,59% sedangkan pada kelas kontrol rata-rata indikator membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan sebesar 4,94 dengan persentase 70,59%. Sebagai gambaran umum hasil penelitian mengenai indikator membuat dan mempertimbangkan hasil keputusan, berikut ini akan ditampilkan soal/ masalah beserta jawaban posttest siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Salah satu hasil jawaban siswa pada soal nomor tujuh sebagai berikut:
Jika terdapat miniatur piramida mesir(berbentuk limas persegi) di sekolah, kamu ingin mencat piramida tersebut(tidak termaksud alas limas) dengan cat berwarna merah, 1 kaleng cat dapat mewarnai 5 m2. Sedangkan volume limas adalah 72 m3, dan tinggi limas 4 m. berapa kaleng catkah yang dibutuhkan untuk mewarnai piranida tersebut?
Perbedaan jawaban dari kelas eksperimen dan kontrol disajikan pada gambar berikut:
Gambar 4.11
Hasil Jawaban Siswa Indikator Membuat dan Mempertimbangkan Hasil Keputusan Kelas Eksperimen
Dari hasil jawaban kedua siswa di atas dapat dilihat bahwa jawaban soal posttest siswa kelas eksperimen lebih baik daripada siswa dari kelas kontrol. Hal ini karena jawaban siswa kelas eksperimen lebih terlihat kemampuan berpikir kritis matematikanya dibandingkan jawaban siswa kelas kontrol. Berdasarkan gambar 4.13 dapat dilihat bahwa siswa mampu mampu menerapkan prinsi-prinsip yang dibutuhkan untuk menjawab soal. Dalam kelas eksperimen, siswa mengetahui urutan untuk menyelesaikan soal. Sedangkan pada kelas kontrol dalam gambar 4.14, siswa tidak dapat menentukan langkah berikutnya agar soal dapat terselesaikan dengan baik.
2. Proses Pembelajaran Metode Penemuan Terbimbing
Pembelajaran dengan menggunakan metode penemuan terbimbing merupakan metode pembelajaran yang berpusat pada keterampilan mencari temukan, yang diikuti dengan penguatan kreativitas. Sehingga dalam pembelajaran ini, selain dilatih menyelesaikan suatu permasalahan, kreativitas siswa juga dapat terlatih. Siswa akan terbiasa menyelesaikan permasalahan dengan cara yang siswa temukan sendiri.
Adapun langkah pembelajaran yang menggunakan metode penemuan terbimbing di kelas eksperimen yaitu, pertama-tama siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa. Setiap kelompok terdiri dari anak yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Sehingga tiap kelompok memiliki anggota kelompok yang berkemampuan heterogen. Setelah berkumpul dengan teman-teman sekelompoknya, guru memberikan Media pembelajaran berupa kerangka kubus dan balok Lembar Kerja Siswa (LKS) yang harus diselesaikan siswa secara berkelompok.
Pada pertemuan pertama, siswa masih merasa kebingungan dalam mengerjakan LKS yang diberikan oleh guru karena siswa belum terbiasa melakukan pembelajaran secara mandiri. Siswa juga tidak terbiasa menggunakan media pembelajaran. Guru mendampingi siswa saat siswa mengerjakan LKS dan membimbing siswa dalam menggunakan media pembelajaran sebagai alat bantu untuk mengerjakan LKS tersebut. Dalam LKS tersebut, siswa dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan membimbing siswa untuk menemukan suatu sifat/unsur dan rumus yang akan memudahkan siswa dalam menyelesaikan masalah nantiya, tahap pertama yaitu, siswa dalam kelompok merumuskan masalah yang diberikan.
Siswa membuat perkiraan definisi dari apa yang mereka ketahui. Setelah itu siswa membuat argumen untuk menyelesaikan masalah. Dalam tahap ini, tiap anggota kelompok diberikan kebebasan untuk mengungkapkan pendapatnya mengenai solusi penyelesaian dari permasalahan tersebut. Setelah terkumpul
beberapa solusi penyelesaian, siswa menyeleksi solusi-solusi tersebut atau menganalisis argumen yang lebih baik untuk mencari solusi. Solusi yang dipilih merupakan solusi yang paling efisien. Setelah menemukan solusi yang dianggap paling efisien, kemuadian siswa membuat kesimpulan dan menyelesaikan solusi tersebut. Setelah selesai, perwakilan dari setiap kelompok menjelaskan hasil diskusi dari kelompok masing-masing. Kelompok lain mendengarkan presentasi teman kelompok yang sedang berbicara di depan kelas, setelah selesai presentasi, kelompok lain menanggapi atau memberikan pendapat lain. Setelah diskusi selesai dilaksanakan, guru memberikan kesimpulan/mengoreksi agar materi pelajaran lebih jelas.
Oleh karena itu, jika siswa yang hendak diajarkan dengan menggunakan metode penemuan terbimbing dan LKS belum terbiasa, sebaiknya guru lebih fokus untuk membantu siswa yang kesulitan. Karena mereka belum terbiasa menggunakan metode tersebut. Penerapan metode tersebut juga haruslah bertahap. Guru jangan memaksakan siswa yang berlum terbiasa mendapatkan pengajaran menggunakan metode penemuan terbimbing dan LKS.
Untuk kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran konvensional. Pembelajaran konvensional disekolah menggunakan metode kovensional, tanya jawab dan latihan. Pertama-tama guru menerangkan materi dan memberikan contoh soal. Keterlibatan siswa hanya sebatas mendengarkan dan mencatat konsep-konsep yang diberikan. Apabila ada siswa yang kurang paham/mengerti, maka siswa dapat bertanya kepada guru. Setelah guru selesai menyampaikan materi, siswa diberi latihan untuk penguatan.
Dalam proses pembelajaran yang dilakukan dikelas kontrol ini, siswa tidak terlibat secara optimal dan cenderung pasif. Siswa tidak diberi kesempatan untuk bertukar pendapat dengan temannya dalam mengungkapkan ide dan gagasannya didalam kelas. Dengan demikian, siswa belajar dengan hafalan. Namun kelebihan dari kelas kontrol ini adalah siswa dapat mengerjakan dengan lancar dan sistematis terhadap soal yang diberikan guru, dengan catatan soal tersebut sesuai
dengan contoh soal yang telah dijelaskan. Apabila soal yang diberikan berbeda dengan contoh yang dijelaskan, maka siswa akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya.