HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Deskripsi Variabel dan Perhitungan Skor
2. Deskripsi Variabel Pengandalian Pemberian Kredit (Y)
Analisis deskripsi jawaban responden tentang variabel Pengendalian Pemberian Kredit didasarkan pada jawaban responden atas pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner yang disebar.
Tanggapan responden terhadap variabel Pengendalian Pemberian Kredit, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.5
Tanggapan Responden Terhadap Pengendalian Pemberian Kredit
No. Pernyataan
Sumber: Data primer (Kuesioner). Diolah (2016)
73
Pada tabel 5.5 di atas menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap variabel Pengendalian Pemberian Kredit berada pada range ke-lima, yaitu sangat setuju dengan rata-rata skor 49,6 yang menyimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi berpengaruh terhadap pengendalian pemberian kredit pada PT. Bank Sulselbar Makassar. Hasil tanggapan responden, dijabarkan sebagai berikut:
a. Pada pertanyaan pertama yaitu Setiap bagian dapat menjalankan aktivitasnya dengan baik, sebanyak 5 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 5%, sebanyak 3 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 3%, sebanyak 3 responden yang menjawab tidak setuju dengan tingkat persentase 3%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju dan sangat tidak setuju.
b. Pada pertanyaan kedua yaitu Struktur organisasi telah memisahkan bagian analisis kredit, administrasi kredit, supervisi kredit, dan bagian pelaporan dan pencatatan, sebanyak 8 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 8%, sebanyak 2 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 2%, sebanyak 1 responden yang menjawab cukup setuju dengan tingkat persentase sebesar 1%, dan tidak ada responden yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju.
c. Pada pertanyaan ketiga yaitu Dalam menja lankan tugasnya dalam pemberian kredit para karyawan di didik dan dilatih sesuai dengan
74
jabatan atau bagiannya, sebanyak 7 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 7%, sebanyak 4 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 4%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
d. Pada pertanyaan keempat yaitu Dokumen dan catatan yang ada sudah memadai, sebanyak 7 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 7%, sebanyak 4 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 4%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
e. Pada pertanyaan kelima yaitu Perusahaan mempunyai internal auditor yang independen, sebanyak 7 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 7%, sebanyak 4 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 4%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
f. Pada pertanyaan keenam yaitu Pemberian kredit telah diotorisasi oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan prosedur yang ada, sebanyak 7 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 7%, sebanyak 4 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 4%, dan tidak ada
75
responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
g. Pada pertanyaan ketujuh yaitu Dalam perusahaan terdapat pengendalian fisik atas kekayaan dan catatan-catatan, sebanyak 6 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 6%, sebanyak 5 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 5%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
h. Pada pertanyaan kedelapan yaitu Dalam perusahaan terdapat review atas kinerja pegawai, sebanyak 9 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 9%, sebanyak 2 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 2%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
i. Pada pertanyaan kesembilan yaitu Dalam penggunaan teknologi baru berpengaruh terhadap sistem pengendalian internal yang ada, sebanyak 6 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 6%, sebanyak 5 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 5%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
j. Pada pertanyaan kesepuluh yaitu Adanya pegawai baru pada bagian kredit dapat meningkatkan produktivitas kerja dalam
76
pemberian kredit, sebanyak 5 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 5%, sebanyak 4 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 4%, sebanyak 1 responden yang menjawab cukup setuju dengan tingkat persentase sebesar 1%, sebanyak 1 responden yang menjawab tidak setuju dengan tingkat persentase sebesar 1%, dan tidak ada responden yang menjawab sangat tidak setuju.
k. Pada pertanyaan kesebelas yaitu Bank telah mempunyai program pendidikan atau pelatihan untuk setiap jabatan secara memadai, sebanyak 6 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 6%, sebanyak 4 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 4%, sebanyak 1 responden yang menjawab tidak setuju dengan tingkat persentase sebesar 1%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju dan sangat tidak setuju.
l. Pada pertanyaan keduabelas yaitu Penggunaan teknologi informasi telah dilaksanakan dengan baik, sebanyak 5 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 5%, sebanyak 6 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 6%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
m. Pada pertanyaan ketigabelas yaitu Pencatatan yang dilaksanakan telah menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, sebanyak
77
7 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 7%, sebanyak 4 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 4%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
n. Pada pertanyaan keempatbelas yaitu Syarat proses pemberian kredit harus selalu dijelaskan kepada calon debitur sebelum pelaksanaan pemberian kredit, sebanyak 7 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 7%, sebanyak 4 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 4%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
o. Pada pertanyaan kelimabelas yaitu Bank memberitahukan secara tertulis kepada debitur terhadap kredit yang akan jatuh tempo, sebanyak 3 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 3%, sebanyak 7 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 7%, sebanyak 1 responden yang menjawab cukup setuju dengan tingkat persentase sebesar 1%, dan tidak ada responden yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju.
p. Pada pertanyaan keenambelas yaitu Selalu dilaksanakan pengawasan terhadap pemberian kredit, sebanyak 7 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar
78
7%, sebanyak 4 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 4%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
q. Pada pertanyaan ketujuhbelas yaitu Bank memberikan peringatan kepada nasabah atau debitur yang kreditnya macet lebih dari tiga bulan, sebanyak 7 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 7%, sebanyak 4 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 4%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
r. Pada pertanyaan kedelapanbelas yaitu Dalam pemberian kredit disertai dengan bukti-bukti atau dokumen yang cukup, sebanyak 7 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 7%, sebanyak 4 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 4%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
s. Pada pertanyaan kesembilanbelas yaitu Formulir-formulir kerja yang berkenaan dengan pemberian kredit di susun secara berurutan, sebanyak 3 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 3%, sebanyak 8 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 8%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
79
t. Pada pertanyaan keduapuluh yaitu Prosedur pemberian kredit yang diterapakan berdasarkan kebijakan intern bank yang disetujui oleh dewan direksi, sebanyak 7 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 7%, sebanyak 4 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 4%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
u. Pada pertanyaan keduapuluhsatu yaitu Pengembalian kredit dilakukan tepat waktu, sebanyak 6 responden yang menjawab sangat setuju dengan tingkat persentase sebesar 6%, sebanyak 5 responden yang menjawab setuju dengan tingkat persentase sebesar 5%, dan tidak ada responden yang menjawab cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
D. Pengujian Hipotesis
a. Dependent Variable: Pengendalian Pemberian Kredit
Sumber : Data diolah dengan menggunakan IBM SPSS Statistic Version 16 (2016)
80
Dari tabel di atas kita akan menaksir berapa nilai a berapa nilai b, dan di dapatkan nilai a = 0,363 dan nilai b = 0,930. Maka didapatkan persamaan sebagai berikut :
Gambar 5.1 : Persamaan
Dasar pengambilan keputusannya adalah jika Probalitasnya (nilai sig) >
0,05 atau –t tabel < t hitung < t tabel maka, H0 tidak ditolak dan jika Probalitasnya (nilai sig) < 0,05 atau t hitung < -t tabel atau t hitung > t tabel maka H0 ditolak.
Maka keputusannya adalah berdasarkan tabel 5.6 di atas maka nilai sig variabel Sistem Informasi Akuntansi = 0,000 < 0,05 sehingga H0 ditolak, yang berarti variabel independen (sistem informasi akuntansi) berpengaruh signifikan terhadap variabel pengendalian pemberian kredit.
E. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada PT. Bank Sulselbar Makassar dapat diambil serta dikumpulkan data yang diperlukan adalah sebagai berikut.
1. Pelaksanaan Sistem Informasi Akuntansi Pemberian Kredit pada PT.Bank Sulselbar Makassar
Y = 0,363 + 0,930 X
81
2.
3. Met
4.
Gambar 5.2 : Bagan Siklus SIA Pengendalian
PT. Bank Sulselbar Makassar merupakan salah satu bank yang dalam kegiatan operasional sehari-harinya sangat memperhatikan sistem informasi akuntansi yang berlaku, terlebih pada pelaksanaan sistem informasi akuntansi yang dijalankan oleh perusahaan PT. Bank Sulselbar Makassar mempunyai pandangan bahwa fungsi sistem informasi yang diberlakukan oleh perusahaan adalah sebagai alat untuk mempermudah pimpinan perusahaan dalam melaksanakan aktivitas perusahaan dan dimanfaatkan manajemen dalam pengambilan keputusan, terutama berkaitan dengan keputusan dalam aktivitas pemberian kredit pada nasabah.
Informasi Akuntansi
Alat yang Digunakan dalam Proses Pemberian Kredit
Karyawan
Metode yang Penyeleksian Pemberian Kredit
Pengendalian Pemberian Kredit
82
Sistem informasi akuntansi yang diterapkan pada PT. Bank Sulselbar Makassar dilakukan dengan proses manual dan komputerisasi (semi komputerisasi) yang bertaraf sesuai keadaan serta perkembangan perusahaan. Pelaksanaan sistem informasi akuntansi pemberian kredit yang dilakukan PT. Bank Sulselbar Makassar tidak lepas dari unsur-unsur sistem informasi akuntansi yang ada, adalah sebagait berikut :
a. Manusia
PT. Bank Sulselbar Makassar tidak mempunyai wewenang dalam perekrutan karyawan karena mulai dari tahap penyeleksian karyawan sampai dengan penerimaan karyawan sepenuhnya dilakukan oleh kantor pusat. Akan tetapi karyawan yang dimiliki PT. Bank Sulselbar Makassar memiliki kompetensi yang cukup baik walaupun tidak seluruh karyawan memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidangnya, namun mereka memiliki pengalaman bekerja yang cukup mengenai perbankan khususnya perkreditan. Hal inilah yang menjadi penyebab mereka dapat diterima bekerja PT.Bank Sulselbar Makassar walaupun pendidikan mereka tidak sesuai. Oleh karena itu, karyawan yang masih ada terus dibina serta diberikan wawasan guna dapat bersaing, dapat menggali prestasinya melalui kegiatan-kegiatan pelatihan dan pendidikan, khususnya pelatihan dan pendidikan mengenai perkreditan dan penggunaan komputer karena tidak semua karyawan memiliki keahlian dalam menggunakan
83
komputer. Adanya pendidikan ini karyawan secara langsung dapat menjalankan, mengawasi sistem informasi pemberian kredit.
Oleh karena itu pimpinan cabang memiliki kebijakan bagi para karyawan dengan memperhatikan kebutuhan karyawan diantaranya dengan diberlakukannya sistem pemutasian karyawan agar setiap karyawan tidak merasa bosan dan dapat bekerja tidak hanya di satu tempat saja, pemutasian ini juga dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi karyawan yang bersangkutan. Selain pemutasian karyawan, kebijakan lainnya yaitu diberikan kesempatan secara periodik bagi setiap karyawan untuk mengambil cuti secara bergiliran agar selain para karyawan berusaha menyelesaikan tanggungjawab pekerjaannya, juga dengan adanya cuti ini diharapakan para karyawan mendapatkan kesegaran pikiran untuk siap memulai kembali bekerja seperti biasa, sehingga ketelitian akan dapat ditingkatkan. Selain hal di atas, perusahaan juga memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) serta bonus berdasarkan lamanya bekerja dan prestasi kerja dari setiap karyawan dengan mempertimbangkan jumlah pendapatan yang diperoleh perusahaan.
b. Alat
1) Komputer
Dalam proses pemberian kredit PT. Bank Sulselbar Makassar masih dilakukan dengan manual, tapi juga didukung dengan penggunaan komputer (semi komputerisasi) yaitu
84
dimana di dalam pencatatan beberapa data dilakukan dengan manual sebelum diolah dengan komputer sehingga mampu mempercepat pengolahan data, menjamin ketelitian serta perhitungan dalam analisis kredit, sehingga prosedur pemberian kredit dapat berjalan dengan lancar dan tepat waktu. Dengan komputer data diolah secara elektronik untuk kemudian disajikan dalam bentuk informasi yang diperlukan. Pimpinan dalam hal ini mampu mengambil keputusan dengan cepat, terarah dan tepat. Adanya komputer dapat menghindari pemborosan waktu, tenaga, dan biaya dalam menyajikan informasi pemberian kredit sehingga kinerja PT. Bank Sulselbar Makassar dalam melayani nasabahnya sejauh ini efektif.
2) Formulir
Formulir merupakan unsur yang penting dari sitem informasi akuntansi dan apabila telah diisi akan menjadi dokumen dasar bagi perusahaan. Dalam setiap perusahaan akan digunakan berbagai formulir untuk mencatat berbagai transaksi atau kegiatan yang berfungsi sebagai dokumen dasar untuk menciptakan informasi bagi perusahaan. Formulir yang digunakan oleh PT. Bank Sulselbar Makassar adalah sebagai berikut :
a) Formulir permohonan kredit b) Analisis kredit
85
c) Keputusan kredit
d) Pemberian keputusan kredit e) Nota kredit
f) Perjanjian kredit
g) Tanda penyerahan dan penerimaan jaringan h) Kwitansi setoran kredit.
3) Catatan
PT. Bank Sulselbar Makassar memiliki catatan berupa jurnal-jurnal pemberian kredit, buku besar kredit yang diberikan, serta buku besar pembantunya. Catatan tersebut diolah dan dapat menghasilkan informasi berupa laporan keuangan atau laporan lainnya yang dapat dijadikan bahan evaluasi dan pertimbangan pimpinan secara berkesinambungan. Berikut ini adalah hal-hal yang berkenaan dengan catatan serta jurnal yang digunakan oleh PT. Bank Sulselbar Makassar dalam kegiatan usahanya adalah sebagai berikut :
a) Jurnal
Setiap transaksi pemberian kredit selalu dicatat dalam buku jurnal. Jurnal yang digunakan disesuaikan dengan aktivitas perkreditan yang dilakukan mulai dari jurnal pemberian kredit dan jurnal pelunasan kredit.
86
b) Buku besar
Buku besar adalah kelanjutan dari jurnal,buku besar yang digunakan PT. Bank Sulselbar Makassar terdiri dari:
(1) Buku besar kas
(2) Buku besar kredit yang diberikan (3) Buku besar pendapatan bunga.
c) Buku besar pembantu
Buku besar pembantu yang digunakan oleh PT. Bank Sulselbar Makassar terdiri dari :
(1) Buku besar pembantu kas masuk (2) Buku besar pembantu kas keluar
(3) Buku besar pembantu yang diberikan perdebitur menurut jenis kredit.
d) Data
Data biasanya diperoleh dari setiap formulir yang didisi oleh para calon debitur, yang terdiri dari formulir permohonan fasilitas kredit umum, surat pernyataan, dan lain-lain. Data yang diperoleh harus diolah terlebih dahulu dengan cara dikelompokkan sesuai dengan jenis kredit.
Dalam praktiknya data tersebut dilengkapi gaji karyawan dan laporan keuangan untuk dijadikan bahan pertimbangan oleh pimpinan dalam melakukan persetujuan pemberian kredit kepada nasabahnya.
87
e) Laporan
Informasi dan laporan yang didapat dari hasil pelaksanaan pengolahan data berupa laporan yang diperuntukkan bagi pihak intern maupun ekstren perusahaan.
Laporan tersebut dibuat secara berkala baik itu laporan bulanan, triwulan,semesteran, dan tahunan. Laporan tersebut terdiri atas :
(1) Laporan tinjauan usaha
(2) Laporan jumlah kredit yang diberikan (3) Laporan perkembangan usaha debitur (4) Laporan cicilan pembayaran kredit (5) Laporan kredit macet.
Laporan tersebut dijadikan bahan evaluasi dan dasar pengambilan keputusan manajemen untuk masa yang akan datang.
c. Metode
Metode dalam hal ini adalah sistem dan prosedur yang digunakan dalam proses pemberian kredit. Pelaksanaan prosedur pemberian kredit yang baik adalah prosedur kredit yang sehat, dibuat sesuai dengan ketentuan umum perusahaan. Pelaksanaan prosedur perkreditan tidak lepas dari prinsip-prinsip kehati-hatian di mana pihak pemberi kredit melakukan cek dan ricek kepada calon pemohon kredit sehingga pemberian kredit meliputi kebijakan pokok dalam
88
perkreditan, tata cara penilaian kualitas kredit yaitu apakah di dalam proses pemberian kredit telah sesuai dengan kebijakan pokok dalam perkreditan yang telah ditetapkan dan profesionalisme yaitu telah sesuai dengan prosedur kredit yang sehat serta integritas di dalam perusahaan.
d. Mekanisme pengendalian pemberian kredit
Pihak PT. Bank Sulselbar Makassar sebelum memberikan kredit terlebih dahulu menyeleksi berkas permintaan kredit nasabah, dan memeriksa jaminan kredit untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Apabila terjadi kredit macet jaminan tersebut dapat disita oleh pihak bank.
e. Metode Penerapan SOP pengendalian
Metode yang dilakukan dalam proses pengendalian adalah sebagai berikut :
Gambar 5.3 : SOP Pengendaliaan Data Permohonan kredit nasabah
Pemeriksaan jaminan kredit nasabah
Menilai kelayakan pemberian kredit
Pencairan dana nasabah
89
1. Tahap awal (input) : nasabah mengajukan berkas permohonan kredit kepada bagian kredit.
2. Tahap proses : pihak bank bagian perkreditan melakukan pemeriksaan terhadap jaminan kredit yang diajukan oleh nasabah.
3. Tahap akhir (output) : setelah pemeriksaan berkas dan jaminan kredit dinyatakan layak, maka pihak bank akan memberikan kredit kepada nasabahnya.
2. Pelaksanaan Prosedur Pemberian Kredit
Adapun prosedur pemberian kredit yang digunakan PT. Bank Sulselbar Makassar adalah sebagai berikut :
a. Prosedur permohonan pemberian kredit 1) Unit kerja yanng terkait :
a) Seksi pemasaran kredit dan dana jasa b) Seksi administrasi dan umum.
2) Dokumen :
a) Proposal permohona kredit b) Hasil analisis kredit
c) Surat pemberitahuan persetujuan pemberian kredit (SP3K) d) Keputusan kredit
e) Notulen rapat komite f) Surat pengantar ke notaris g) Berita acara pemeriksaan agunan
90
h) Buku agunan fisik i) Surat keterangan notaris j) Tagihan notaris
k) Dokumen pendukung l) Perjanjian kredit m) Tanda terima jaminan.
3. Manajemen Resiko
Implementasi manajemen resiko pada PT. Bank Sulselbar Makassar diarahkan sejalan dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlements melalui Basel Committee on Banking Supervision sebagaimana diwajibkan oleh Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia tentang Penerapan Manajemen Resiko. Rekomendasi tersebut merupakan standar bagi dunia perbankan untuk dapat beroperasi secara lebih berhati-hati dan implementasinya disesuaikan dengan tujuan, kebijakan usaha, ukuran dan kompleksitas usaha serta kemampuan Bank dalam hal keuangan, infrastruktur pendukung maupun sumber daya manusia.
Esensi penerapan sistem manajemen resiko tersebut adalah kecukupan prosedur dan metodologi pengelolaan resiko sehingga kegiatan usaha Bank tetap dapat terkendali (manageable) pada batas/limit yang dapat diterima serta menguntungkan Bank. Mengacu kepada hal dimaksud, PT.
Bank Sulselbar Makassar menyusun Risk Management Framework
91
yang mencakup Kebijakan, Organisasi, Proses dan Infrastruktur, yang diuraikan secara singkat sebagai berikut :
a. Kebijakan
Penyusunan kebijakan manajemen resiko yang selaras dengan visi dan misi, risk appetite, kemampuan permodalan, Sumber Daya Manusia dan kapasitas pendanaan.
b. Organisasi
Design struktur organisasi dengan berfokus kepada efektifitas pelaksanaan prinsip four eyes principles dan reporting, penetapan wewenang dan tanggung jawab yang jelas setiap unit kerja &
person dalam setiap aktivitas.
Untuk memastikan terlaksananya proses manajemen resiko yang efektif, bank juga telah membentuk Grup Manajemen Risiko dan Komite Komite Manajemen Risiko dan Komite Pemantau di level Dewan Komisaris.
c. Proses
Proses identifikasi resiko dilakukan terhadap seluruh kegiatan termasuk identifikasi produk & aktivitas baru. Proses pengukuran dimaksudkan agar bank mampu mengkalkulasi eksposur resiko yang melekat dan memperkirakan dampak permodalan yang seharusnya dipelihara. Metodologi pengukuran permodalan berpedoman kepada ketentuan Bank Indonesia. Proses pemantauan risiko difokuskan kepada upaya evaluasi terhadap eksposur resiko yang
92
bersifat material dan atau berdampak kepada permodalan. Proses pengendalian resiko dilakukan dengan cara antara lain penambahan modal, lindung nilai dan teknis mitigasi resiko lainnya.
d. Infrastruktur
Penggunaan Teknologi Informasi yang mendukung proses dan metodologi manajemen resiko. Upaya pemenuhan standar penerapan tersebut dilakukan secara bertahap dengan tetap berpedoman kepada roadmap penerapan Basel II yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Hal-hal yang telah dilakukan oleh Bank khususnya dalam upaya pemenuhan standar tersebut antara lain :
1) Peningkatan kualitas SDM khususnya dalam bidang Manajemen Resiko dengan cara peningkatan alokasi pelatihan bidang Manajemen Resiko.
2) Kewajiban pemenuhan sertifikasi Manajemen Risiko bagi seluruh Pengurus dan Pejabat bank dengan standar yang lebih tinggi dari ketentuan Bank Indonesia.
3) Design struktur organisasi guna memastikan independensi dan optimalisasi fungsi unit kerja, sebagai bagian dari penerapan four eyes principles.
4) Penyempurnaan berbagai kebijakan antara lain bidang SDM, Perkreditan dan TI guna mereduksi potensi resiko.
5) Penyempurnaan metodologi audit dengan penerapan Risk Based Audit. Dari sisi organisasi, Bank Sulselbar telah membentuk
93
Grup Manajemen Risiko, Grup Kepatuhan, Komite Manajemen Resiko, Komite ALCO, Komite Pemantau Resiko, Komite TSI dan Komite Kredit untuk mengoptimalkan fungsi manajemen resiko bank.
4. Manajemen Resiko Kredit
Dengan tetap mengacu kepada Risk Management Framework, Manajemen Resiko Kredit Perseroan secara singkat diuraikan sebagai berikut:
a. Penerapan risk based audit untuk pengujian model manajemen resiko kredit oleh Audit Intern yang secara continue dievaluasi oleh Komite Audit di level Dewan Komisaris.
b. Penyusunan/penyempurnaan Kebijakan dan SOP perkreditan yang terdokumentasi dengan baik yang disosialisasikan kepada seluruh unit kerja termasuk penetapan rasio agunan dan penetapan standar proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian resiko kredit.
c. Penetapan Credit risk tolerance berdasarkan risk appetite yang dituangkan dalam Rencana bisnis bank yang dievaluasi secara periodik, antara lain penetapan: (-) target Non Performing Loan (NPL) di atas standar Bank Indonesia; (-) target kredit per segment kredit; (-) target credit recovery.
d. Penetapan struktur organisasi mengacu kepada four eyes principles yang secara jelas memisahkan antara fungsi pemutus, monitoring