• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENEMUAN DAN PEMBAHASAN

B. Deskriptif Analisis

1. Deskriptif Data Sampel

Berdasarkan pengambilan sampel secara purposive sampling maka dapat diperoleh populasi sebagai berikut :

• Perusahaan go publik yang terdaftar secara berturut-turut di BEI pada periode tahun 2004, 2005, dan 2006 berjumlah 349 perusahaan.

• Perusahaan keuangan (Lembaga Keuangan Perbankan dan Lembaga

Keuangan Non Perbankan) yang berjumlah 60 perusahaan.

• Perusahaan yang memiliki laporan keuangan per 31 Desember menunjukkan

adanya saldo total ekuitas negatif dan atau mengalami kerugian pada salah satu periode penelitian (2004, 2005, dan 2006) berjumlah 57 perusahaan.

• Perusahaan yang tidak membagikan dividen secara terus menerus selama

tahun 2004 – 2006 berjumlah 156 perusahaan.

• Perusahaan yang tidak memiliki struktur kepemilikan baik kepemilikan

manajerial, institusi, dan publik berjumlah 46 perusahaan.

Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut, maka dapat diperoleh sampel penelitian yaitu 30 perusahaan dengan nama-nama perusahaan sebagai berikut :

Tabel 4.1

Sampel Data Penelitian

2. Deskriptif Analisis Data

Data-data yang diperoleh dari variabel observed/indikator yang diteliti diantaranya adalah :

a. Struktur Kepemilikan

Struktur kepemilikan (X1*) merupakan distribusi saham antara pihak

direksi dan komisaris perusahaan (X1), kepemilikan institusional (X2), dan

kepemilikan publik (X3). Managerial ownership (X1) menggambarkan

kepemilikan saham oleh direksi dan komisaris perusahaan, diukur dengan persentase jumlah saham yang dimiliki direksi dan komisaris perusahaan.Rasio ini digunakan untuk mengetahui proporsi kepemilikan saham oleh manajemen

perusahaan terhadap jumlah saham beredar. Institusional ownership (X2)

menggambarkan kepemilikan saham oleh investor instusi seperti pemerintah, bank, asuransi, dan lain sebagainya, diukur dengan persentase jumlah saham yang

dimiliki oleh investor institusi. Sedangkan Public ownership (X2)

menggambarkan kepemilikan saham oleh publik atau masyarakat luas, diukur dengan persentase jumlah saham yang dimiliki oleh masyarakat. Adapun rasio yang diperoleh dari indikator- indikator yang diteliti dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut.

Tabel 4.2

Struktur Kepemilikan Perusahaan

Grafik 4.1

Rata-Rata Struktur Kepemilikan Perusahaan

Berdasarkan tabel dan grafik di atas dapat dilihat bahwa hampir sebagian besar perusahaan dari tahun ke tahun memiliki nilai struktur kepemilikan saham institusional yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai struktur kepemilikan saham manajerial dan publik. Selain itu, nilai kepemilikan saham manajerial tiap perusahaan dari tahun ke tahunnya tidak mengalami perubahan yang besar bahkan banyak perusahaan yang memiliki angka persentase yang sama untuk kepemilikan saham manajerialnya pada periode tiga tahun seperti diperlihatkan oleh PT. Astra Agro Lestari, PT. Berlian Laju Tangker, dan lain sebagainya

Rata-rata struktur kepemilikan saham manajerial pada tabel di atas menunjukkan jumlah yang relatif kecil, yaitu sekitar 0.021 (2.1%) pada tahun 2004, 0.0224 (2.24%) pada tahun 2005, dan 0.0199 (1.99%) pada tahun 2006.

Dapat kita lihat bahwa rata-rata struktur kepemilikan manajerial tertinggi berada pada tahun 2005, dimana PT. Lionmesh Prima Tbk memiliki struktur kepemilikan saham manajerial yang tertinggi, yaitu sebesar 0.2561 (25.61%) yang diikuti oleh PT. Pudjiadi & Sons, yaitu sebesar 0.1283 (12.83%). PT. Lionmesh Prima Tbk juga merupakan perusahaan dengan kepemilikan saham manajerial tertinggi pada tahun 2004 dan 2006, dimana perusahaan tersebut memiliki struktur kepemilikan saham manajerial yang sama besarnya selama tiga tahun berturut-turut, yaitu 0.2561 (25.61%).

Struktur kepemilikan saham manajerial terendah pada tahun 2004 dimiliki oleh PT. Astra Graphia, PT. Indosat Tbk, PT. Pool Advista, PT. Semen Gresik, dan PT. Telkom dimana besarnya kepemilikan saham manajerial pada keenam perusahaan tersebut adalah sama, yaitu 0.0001 (0.01%). Begitupun pada tahun 2005 dimana kelima perusahaan tersebut masih merupakan perusahaan dengan kepemilikan saham manajerial terendah dengan persentase kepemilikan yang sama, yaitu 0.0001 (0.01%). Perusahaan yang memiliki kepemilikan saham manajerial terendah pada tahun 2006 dengan nilai 0.0001 (0.01%) menjadi tujuh perusahaan, yaitu PT. Aneka Tambang, PT. Astra Graphia, PT. Hexindo Adiperkasa, PT. Indosat Tbk, PT. Pool Advista, PT. Semen Gresik, dan PT. Telkom.

Struktur kepemilikan institusional memiliki jumlah rata-rata yang sangat dominan dari seluruh struktur kepemilikan saham perusahaan. Rata-rata struktur kepemilikan institusi yaitu sebesar 0.6967 (69.67%) pada tahun 2004, 0.6906 (69.06%) pada tahun 2005, dan 0.6845 (68.45%) pada tahun 2006. Pada tahun

2004, kepemilikan insitusi memiliki nilai rata-rata terbesar dibandingkan dengan tahun 2005 dan 2006.

Pada tahun 2004, kepemilikan saham institusi terbesar dimiliki oleh PT. Pool Advista, yaitu sebesar 0.9175 (91.75%), sedangkan PT. Rigs Tender merupakan perusahaan dengan kepemilikan saham institusi terbesar pada tahun 2005 dan 2006 dengan nilai 0.9685 (96.85%). Kepemilikan saham institusi terendah pada tahun 2004 dan 2005 dimiliki oleh PT. Summarecon Agung, yaitu sebesar 0.3993 (39.93%) dan 0.3310 (33.10%). Sedangkan pada tahun 2006 kepemilikan saham institusi terkecil dimiliki oleh PT. Lionmesh Prima, yaitu sebesar 0.3222 (32.22%).

Struktur kepemilikan saham publik atau masyarakat pada tahun 2004 memperlihatkan rata-rata sebesar 0.2823 (28.23%), 0.2869 (28.69%) pada tahun 2005, dan 0.2956 (29.56%) pada tahun 2006. Kepemilikan saham publik tertinggi pada tahun 2004 sampai tahun 2006 dimiliki oleh PT. Summarecon Agung, yaitu 0.5970 (59.70%) pada tahun 2004, 0.6654 (66.54%) pada tahun 2005, dan 0.5900 (59%) pada tahun 2006. Sementara itu, kepemilikan saham publik terkecil pada tahun 2004 dimiliki oleh PT.Pudjiadi & Sons, yaitu sebesar 0.0789 (7.89%). Sedangkan pada tahun 2005 dan 2006 kepemilikan saham publik terkecil dimiliki oleh PT. Rigs Tenders, yaitu sebesar 0.0304 (3.04%).

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2004 – 2006 memiliki jumlah kepemilikan saham manajerial yang rendah atau kurang dari 5%. Hal ini menunjukkan bahwa dengan kepemilikan manajerial yang rendah, maka makin

rendah pula kekuasaan manajemen dalam perusahaan. Selain itu, kepemilikan saham institusi dan publik menunjukkan jumlah persentase yang besar dan relatif terpaut jauh dengan kepemilikan manajerial. Hal tersebut tentunya akan menimbulkan usaha pengawasan dan kontrol yang kuat terhadap perilaku

opportunistic manajer sehingga pemanfaatan akan aktiva perusahaan akan semakin efektif dan efisien.

b. Keputusan Investasi

Keputusan investasi (Y1*) dalam penelitian ini diproksikan dengan

Investment Opportunity Set (IOS). Sejalan dengan pernyataan Gaver dan Gaver (1993) dalam Jogiyanto & Tettet (2002) mengenai belum adanya kesepakatan dalam literatur akuntansi dan keuangan mengenai proksi yang tepat untuk mewakili IOS, maka peneliti menggunakan proksi IOS yang sering digunakan oleh para peneliti terdahulu, yaitu rasio PPE/BVA, rasio MVE/BE, dan rasio MVA/BVA.

Rasio PPE/BVA (Y1) menunjukkan adanya investasi aktiva tetap yang

produktif. Rasio ini diukur dari perbandingan besarnya nilai buku aktiva tetap perusahaan pada periode t dengan nilai buku total aktiva perusahaan pada periode t. Rasio MVE/BE (Y2) mencerminkan bahwa pasar menilai return dari investasi

perusahaan di masa yang akan datang dari return yang diharapkan dari ekuitasnya. Rasio ini dihitung dari perkalian antara jumlah saham beredar dengan closing price dibagi dengan total ekuitas perusahaan periode t. Rasio MVA/BVA (Y3)

saham. Rasio ini diukur dari selisih antara total aktiva dengan total ekuitas ditambah dengan perkalian antara jumlah saham beredar dengan closing price kemudian hasilnya dibagi dengan total aktiva. Adapun rasio- rasio yang diteliti dapat dilihat pada grafik dan tabel berikut.

Tabel 4.3

Rasio PPE/BVA, MVE/BVE, dan MVA/BVA

Sumber : data diolah

Rata-Rata Rasio Keputusan Investasi

Tabel 4.3 dan grafik 4.2 menunjukkan bahwa rata-rata rasio PPE/BVA pada tahun 2004 adalah sebesar 0.3844 (38.44%) lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata tahun 2005 dan 2006, yaitu 0.3821 (38.21%) dan 0.3800 (38%). Perusahaan dengan nilai rasio terbesar pada tahun 2004 adalah PT. Telekomunikasi Indonesia sebesar 0.7121 (71.21%), sedangkan perusahaan yang memiliki rasio PPE/BVA terendah adalah PT. Pool Advista sebesar 0.0106 (1.06%). Pada tahun 2005 dan 2006 PT. Telekomunikasi Indonesia masih merupakan perusahaan yang memiliki rasio PPE/BVA terbesar dengan nilai 0.7430 (74.30%) dan 0.7351 (73.51%), begitu pula PT. Pool Advista masih merupakan perusahaan dengan rasio PPE/BVA terendah pada tahun 2005 dan 2006 yaitu sebesar 0.0236 (2.36%) dan 0.0334 (3.34%).

Rasio PPE/BVA yang besar (komposisi aktiva tetap) pada struktur aktiva perusahaan dapat menunjukkan adanya potensi pertumbuhan perusahaan di masa

yang akan datang. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir keseluruhan perusahaan berpotensi untuk tumbuh di masa yang akan datang karena rata-rata rasio PPE/BVA memiliki nilai positif dan di atas 30% yang mengindikasikan adanya investasi aktiva tetap produktif yang telah dilakukan oleh perusahaan sehingga perusahaan berpotensi untuk tumbuh (Gaver dan Gaver, 1993 dalam Hartini P., 2005 :214).

Selanjutnya pada tabel 4.3 dapat dilihat pula rasio MVE/BVE yang menggambarkan nilai return pasar di masa yang akan datang lebih besar dari nilai ekuitasnya. Rata-rata MVE/BVE pada tahun 2004 menunjukkan nilai 1.5758, sedangkan pada tahun 2005 dan 2006 rata-rata MVE/VE mengalami peningkatan menjadi sebesar 1.6186 pada tahun 2005 dan 2.1901 pada tahun 2006. PT. Telekomunikasi Indonesia memiliki nilai MVE/BVE tertinggi selama periode tiga tahun berturut-turut dari 2004 sampai 2006, yaitu sebesar 4.8008, 5.1065, dan 7.2542. Sedangkan PT. Pool Advista adalah perusahaan yang memiliki nilai MVE/BVE terendah pada periode tahun 2004 sampai 2006, yaitu sebesar 0.2832, 0.2740, dan 0.2400.

Rasio MVA/BVA juga digunakan sebagai indikator dalam penelitian ini yang nilainya dapat dilihat pada tabel 4.3 di atas. Rata-rata MVA/BVA tahun 2004 menunjukkan nilai sebesar 1.2714, sedangkan rata-rata MVA/BVA mengalami peningkatan menjadi sebesar 1.2917 pada tahun 2005 dan 1.6520 pada tahun 2006.

PT. Telekomunikasi Indonesia memiliki nilai rasio MVA/BVA tertinggi pada tahun 2004, yaitu sebesar 2.3686 sedangkan PT. Pool Advista memiliki nilai

rasio MVA/BVA terendah, yaitu 0.3138. Pada tahun 2005 PT. Ramayana Lesatri Sentosa memiliki nilai MVA/BVA tertinggi, yaitu sebesar 2.6820 sedangkan PT. Sumi Indo Kabel memiliki nilai MVA/BVA terendah, yaitu sebesar 0.2692. Pada tahun 2006 PT. Astra Agro Lestari memiliki nilai MVA/BVA tertinggi, yaitu sebesar 5.8880 sedangkan PT. Pool Advista memiliki nilai MVA/BVA terendah, yaitu 0.2795.

Rasio MVE/BVE dan MVA/BVA yang tinggi menggambarkan nilai return investasi di masa yang akan datang akan lebih besar dari return yang diharapkan dari ekuitasnya. Selain itu, perusahaan tersebut berpotensi untuk tumbuh dan berinvestasi di masa yang akan datang karena kedua rasio tersebut menggambarkan bahwa perusahaan telah berjalan baik dengan staf manajemen yang kuat dan sebuah organisasi yang berfungsi secara efisien. (Hartono, 1998 dalam Tettet F. dan Jogiyanto, 2002 :37)

c. Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen (Y2*) adalah keputusan keuangan perusahaan yang

berkaitan dengan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada para pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang (Brigham, 2001 dalam Hartini P., 2002:217). Kebijakan dividen dapat diukur dengan

menggunakan rasio di antaranya dividend payout ratio (Y4). Yaitu dengan

mengukur besarnya pembayaran dividen dari laba per lembar saham, dan mengukur besarnya laba yang ditahan untuk menambah modal sendiri dan dividen

yield (Y5), yaitu untuk mengukur besarnya pembayaran dividen dari harga

penutupan saham per lembar. Adapun rasio yang diperoleh dari indikator- indikator yang diteliti dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut.

Tabel 4.4

Dividend Payout Ratio dan Dividend Yield

Sumber : data diolah

Rata-Rata DPR dan Dividend Yield

Pada tahun 2004 rata-rata rasio pembayaran dividen adalah sebesar 0.4562 (45.62%) lebih besar dibandingkan dengan tahun 2005 dan 2006 yang menunjukkan nilai 0.4174 (41.74%) dan 0.4032 (40.32%). PT. Astra Graphia merupakan perusahaan dengan rasio pembayaran dividen tertinggi pada tahun 2004, yaitu sebesar 2.8179 (281.79%). Untuk tahun 2005 dividend payout ratio

tertinggi dimiliki oleh PT. Astra Graphia, yaitu sebesar 0.9349 (93.49%) sedangkan pada tahun 2006 dividend payout ratio tertinggi dimiliki oleh PT. International Nickel Indonesia, yaitu sebesar 1.0231 (102.31%). Ini dapat diartikan bahwa hampir atau bahkan lebih dari 100% keuntungan yang diperoleh perusahaan dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen.

Rasio pembayaran dividen terendah pada tahun 2004 dimiliki oleh PT. Centrin Online, yaitu sebesar 0.1029 (10.29%). Pada tahun 2005 dan 2006 PT.

Lionmesh Prima memiliki rasio pembayaran dividen terendah, yaitu sebesar 0.0935 (9.35%) pada tahun 2005 dan 0.1080 (10.80%) pada tahun 2006.

Lain halnya dengan dividend yield yang mempunyai rata-rata sebesar

0.0552 (5.52%) pada tahun 2004 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2005 sebesar 0.0459 (4.59%) dan tahun 2006 sebesar 0.0399 (3.99%). PT. Astra Graphia memiliki dividend yield tertinggi pada tahun 2004, yaitu sebesar 0.2438 (24.38%) sedangkan PT. Centrine Online memiliki nilai dividend yield terendah pada tahun 2004, yaitu sebesar 0.005 (0.5%). Pada tahun 2005 dividend yield

tertinggi dimiliki oleh PT. Selamat Sempurna, yaitu sebesar 0.1311 (13.11%) sedangkan dividend yield terendah pada tahun 2005 dimiliki oleh PT. Tunas Baru

Lampung, yaitu sebesar 0.0038 (0.38%). Untuk tahun 2006 dividend yield

tertinggi dimiliki oleh PT. Pool Advista, yaitu sebesar 0.2069 (20.69%) sedangkan

dividend yield terendah pada tahun 2006 dimiliki oleh PT. Astra Agro Lestari, yaitu sebesar 0.0075 (0.75%).

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2004 sampai 2006 memiliki rata-rata dividend payout ratio yang cukup tinggi (di atas 40%). Ini berarti bahwa hampir setengah dari keuntungan yang diperoleh perusahaan tiap tahunnya dialokasikan untuk pembagian dividen kepada para pemegang sahamnya dan sisanya akan diinvestasikan kembali ke dalam perusahaan dalam bentuk laba ditahan untuk membiayai investasi di masa yang akan datang.

Peningkatan dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham akan dilihat sebagai sinyal positif oleh para investor akan prospek perusahaan yang

baik sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan harga saham yang pada

akhirnya akan meningkatkan dividend yield. Namun peningkatan harga saham

belum tentu diikuti oleh peningkatan dividen oleh perusahaan karena perusahaan masih memiliki kewajiban untuk membaiayai operasional perusahaan, ekspansi perusahaan, maupun untuk membayar hutang perusahaan.

d. Kebijakan Hutang

Kebijakan hutang dapat diukur melalui beberapa indikator, diantaranya

debt ratio dan debt to equity ratio (DER). Adapun rasio-rasio yang diperoleh dari beberapa indikator tersebut dapat ditunjukkan pada grafik dan tabel berikut.

Grafik 4.4

Rata-Rata Debt Ratio dan DER

Tabel 4.5

Sumber : data diolah

Tabel dan grafik di atas menunjukkan bahwa rata-rata debt ratio pada tahun 2004 sebesar 0.3902 (39.02%) lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata

0.3948 (39.48%). Ini berarti bahwa sekitar 38% sampai 40% hutang perusahaan dibiayai oleh aktiva perusahaan. Debt ratio tertinggi pada tahun 2004 sampai tahun 2006 dimiliki oleh PT. Lautan Luas, yaitu sebesar 0.6291 (62.91%) pada tahun 2004. Pada tahun 2005 PT. Berlian Laju Tangker Abadi memiliki debt ratio tertinggi yaitu sebesar 0.7461 (74.61%), dan pada tahun 2006 PT. Hexindo

Adiperkasa memiliki debt ratio tertinggi yaitu sebesar 0.7130 (71.3%).

Perusahaan yang memiliki debt ratio terendah pada tahun 2004 dan 2005 adalah PT. Rigs Tenders, yaitu sebesar 0.0377 (3.77%) pada tahun 2004 dan 0.0410 (4.1%) pada tahun 2005 sedangkan pada tahun 2006 debt ratio terendah dimiliki oleh PT. Pool Advista, yaitu sebesar 0.0523 (5.23%).

Rata-rata debt to equity ratio (DER) tertinggi terjadi pada tahun 2005,

yaitu sebesar 0.8868 sedikit lebih besar dibandingkan tahun 2006 sebesar 0.8742 dan tahun 2004 sebesar 0.8451. DER tertinggi pada tahun 2004 dimiliki oleh PT. Pudjiadi & Sons yaitu sebesar 2.0309. Pada tahun 2005 DER tertinggi dimiliki oleh PT. Berlian Laju Tangker Abadi yaitu sebesar 2.9378, dan pada tahun 2006 DER tertinggi dimiliki oleh PT. Hexindo Adiperkasa yaitu sebesar 2.4846. Sementara itu debt to equity ratio (DER) terendah pada tahun 2004 dan 2005 dimiliki oleh PT. Rigs Tenders sebesar 0.0391 pada tahun 2004 dan 0.0427 pada tahun 2005. Sedangkan pada tahun 2006 DER terendah dimiliki oleh PT. Pool Advista sebesar 0.0551.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2004 sampai tahun 2006

membiayai hutangnya daripada assets/aktiva. Semakin besar proporsi hutang relatif terhadap ekuitas maka semakin besar pula resiko perusahaan yaitu tak tertagihnya hutang.

e. Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan dapat diukur dari beberapa indikator diantaranya Price Earning Ratio (PER) dan Tobin’s Q. Adapun rasio-rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang diteliti dapat ditunjukkan pada grafik dan tabel berikut.

Grafik 4.5

Tabel 4.6

Price Earning Ratio (PER) dan Tobin’s Q

Sumber : data diolah

Tabel dan grafik di atas menunjukkan bahwa rata-rata PER dari semua industri pada tahun 2004 sebesar 11.0911 lebih kecil dibandingkan dengan rata- rata PER dari semua industri pada tahun 2005 sebesar 11.6369 dan tahun 2006 sebesar 14.2003. Nilai PER tertinggi pada tahun 2004 dimiliki oleh PT. Citra Tubindo sebesar 46.4145 sedangkan pada tahun 2005 PER tertinggi dimiliki oleh PT. Tunas Baru Lampung sebesar 51.9481. Untuk tahun 2006 PER tertinggi

dimiliki oleh PT. Rig Tenders sebesar 39.3236. Pada tahun 2004 dan 2006 PER terendah dimiliki oleh PT. Pool Advista sebesar 1.7313 tahun 2004 dan 1.8009 tahun 2006. Sedangkan tahun 2005 PER terendah dimiliki oleh PT. Samudera Indonesia sebesar 3.5118.

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa semakin tinggi PER maka semakin tinggi pula prospek pertumbuhan di masa depan, karena menurut Foster (1986) dalam Yetti Iswahyuni dan L.Suryanto (2002) PER dapat mempresentasikan aliran laba masa depan.

Kemudian dari tabel 4.6 dapat pula dilihat nilai Tobin’s Q dari setiap perusahaan. Pada tahun 2004 rata-rata Tobin’s Q sebesar 1.2812, 1.2924 pada tahun 2005, dan 1.6637 pada tahun 2006. PT. Telekomunikasi Indonesia memiliki nilai Tobin’s Q tertinggi pada tahun 2004 dan 2005, yaitu sebesar 2.5003 pada tahun 2004 dan 2.7122 pada tahun 2005 sedangkan PT. Pool Advista memiliki nilai Tobin’s Q terendah pada tahun 2004, 2005, dan 2006 yaitu sebesar 0.3136 pada tahun 2004, 0.3172 pada tahun 2005, dan 0.2797 pada tahun 2006. Untuk tahun 2006 nilai Tobin’s Q tertinggi dimiliki oleh PT. Astra Agro Lestari sebesar 6.0180.

Tabel di atas juga menunjukkan bahwa jika rasio Tobin’s Q lebih besar dari 1 menggambarkan bahwa perusahaan cenderung mempunyai kesempatan investasi yang lebih menarik dan memiliki keuntungan dalam bersaing sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi nilai Tobin’s Q maka hal tersebut mencerminkan makin tinggi pula nilai perusahaan. Perusahaan-perusahaan di Bursa Efek Indonesia periode 2004 sampai 2006 menunjukkan nilai Tobin’s Q

yang bernilai positif dan hampir seluruh perusahaan memiliki nilai Tobin’s Q lebih dari 1. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan di Bursa Efek Indonesia pada periode 2004 sampai 2006 memiliki nilai perusahaan yang cenderung baik dan meningkat.

Dokumen terkait