• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

E. Determinan Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)

maupun faktor internal dapat mempengaruhi penggunaan MKJP. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi status penggunaan MKJP berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu adalah sebagai berikut:

1. Umur

Umur wanita usia subur berhubungan erat dengan penggunaan MKJP. Umur dalam pengaruhnya dengan pemakaian KB berperan sebagai faktor intrinsik. Umur berpengaruh dengan struktur organ, fungsi organ, komposisi biokimiawi dan sistem hormonal. Pada suatu periode umur tertentu, dapat menyebabkan perbedaan pada kontrasepsi yang dibutuhkan. Periode umur

31

wanita di atas 30 tahun sebaiknya mengakhiri kehamilan setelah mempunyai 2 orang anak, sehingga pilihan utama alat kontrasepsinya adalah kontrasepsi mantap misalnya vasektomi atau tubektomi, karena kontrasepsi ini dapat dipakai untuk jangka panjang dan tidak menambah kelainan yang sudah ada. Pada masa usia tua kelainan seperti penyakit jantung, darah tinggi, keganasan dan metabolik biasanya meningkat, oleh karena itu sebaiknya tidak diberikan cara kontrasepsi yang menambah kelainan tersebut (Dewi dan Notobroto, 2014).

Pada penelitian Mengistu Meskele dan Wubegzier Mekonnen (2014), yang meneliti mengenai faktor yang berhubungan dengan minat wanita dalam menggunakan MKJP, memperoleh hasil bahwa wanita dengan umur 25-34 tahun berpeluang 0,59 tidak berminat menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita dengan umur 15-24 tahun, namun hasil yang tidak berhubungan antara umur dengan penggunaan MKJP diperoleh saat analisis dikontrol dengan variabel pengganggu (confounding).

Pada penelitian Dewi dan Notobroto (2014) diperoleh hasil bahwa jumlah yang paling besar adalah akseptor KB pengguna non MKJP berumur 20-30 tahun sebesar 33,3%, sedangkan akseptor KB pengguna MKJP persentase lebih besar berumur >30 tahun sebesar 29,8%. Uji logistik pengaruh umur akseptor KB dengan rendahnya keikutsertaan PUS menggunakan MKJP menunjukkan nilai p= 0,005 < α= 0,05 sehingga dapat

32

disimpulkan bahwa terdapat pengaruh umur responden dengan rendahnya keikutsertaan PUS menggunakan MKJP.

Pada penelitian Nasution (2011) yang meneliti faktor-faktor penggunaan MKJP di 6 Provinsi di Indonesia, diperoleh hasil umur juga memiliki hubungan dengan penggunaan MKJP di Provinsi Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, serta Bali dan Nusa Tenggara. Umur Pasangan Usia Subur (PUS) < 30 tahun memiliki risiko untuk tidak menggunakan MKJP lebih tinggi dibandingkan dengan PUS umur > 30 tahun. Namun, Hasil yang tidak berhubungan antara umur dengan penggunaan MKJP diperoleh pada Provinsi Sumatera.

Pada penelitian Asih dan Oesman (2009) juga diperoleh hasil sejalan dimana akseptor KB yang berumur 30 tahun atau lebih berpeluang 4,2 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang berumur kurang dari 30 tahun. Pada penelitian Mestad dkk (2012) juga menunjukkan hasil adanya hubungan antara umur dengan jenis kontrasepsi yang digunakan. Pada penelitian Teferra dan Wondifraw (2015) pun demikian, didapatkan hasil akseptor KB yang berumur 25-34 tahun berpeluang 1,99 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang berumur 15-24 tahun, sedangkan akseptor KB yang berumur ≥ 35 tahun berpeluang 2,12 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang berumur 15-24 tahun.

33

Pada penelitian Shegaw Getinet dkk (2014) juga diperoleh hubungan antara umur dengan pemakaian MKJP, umur 30-34 berpeluang 2 kali menggunakan MKJP daripada umur 15-24 tahun. Namun hasil yang tidak berhubungan juga diperoleh pada hubungan yang telah dikontrol dengan variabel pengganggu.

Hasil yang berbeda didapat pada penelitian Gudaynhe dkk (2013). Pada penelitian tersebut didapatkan hasil hubungan yang negatif antara wanita dengan umur 30-34 terhadap penggunaan MKJP (AOR: 0,345). Hal ini berarti wanita yang memiliki umur 20-24 tahun 3,69 kali mempunyai peluang untuk menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita yang memiliki umur 30-34 tahun.

2. Tingkat Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu faktor yang mencegah atau mendorong seseorang dalam bertindak, misalnya dalam memilih metode kontrasepsi yang akan digunakan. Pendidikan pada hakikatnya merupakan sesuatu yang diberikan seseorang kepada orang lain yang sedang berusaha mencapai kedewasaan dalam arti normatif dengan menggunakan cara berupa alat, bahasa atau media guna mencapai perubahan tingkah laku dan tujuan (Herijulianti, 2001). Tingkat pendidikan yang lebih tinggi mampu menyerap informasi dan lebih mampu mempertimbangkan hal-hal yang menguntungkan atau efek samping bagi kesehatan. Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya.

34

Orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru. (Dewi dan Notobroto, 2014).

Menurut Teffera dan Wondifraw (2015) wanita yang berpendidikan mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya keluarga berencana untuk dirinya dan untuk keluarganya. Wanita yang berpendidikan mempunyai pengetahuan yang lebih tentang ketersediaan metode kontrasepsi dan mempunyai kesempatan untuk memutuskan tempat pelayanan yang diinginkan.

Pada penelitian Shegaw Getinet dkk (2014), wanita yang memperoleh pendidikan formal mempunyai peluang 2 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita yang tidak memperoleh pendidikan formal. Pada penelitian Nasution (2011) juga diperoleh hasil tingkat pendidikan memiliki hubungan dengan penggunaan MKJP di Provinsi Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, serta Bali dan Nusa Tenggara. Hasil penelitian menyatakan bahwa Pasangan Usia Subur (PUS) dengan tingkat pendidikan tidak sekolah/tidak tamat SLTP dan tamat SD/ tamat SLTP saja memiliki peluang yang lebih tinggi untuk tidak menggunakan MKJP dibandingkan dengan Pasangan Usia Subur (PUS) dengan tingkat pendidikan tamatan SMA ke atas di 6 Provinsi yang menjadi wilayah penelitian. Pada penelitian Dewi dan Notobroto, 2014 diperoleh hasil terdapat pengaruh tingkat pendidikan responden dengan rendahnya keikutsertaan PUS

35

menggunakan MKJP yang dapat dilihat dari hasil uji logistik menunjukkan nilai p= 0,015 < α= 0,05.

Namun, pada penelitian Pangestika (2010) diperoleh hasil tidak ada hubungan antara pendidikan dengan penggunaan MKJP. Pada penelitian Adhyani dkk (2011) juga diperoleh hasil yang tidak signifikan antara pendidikan dengan penggunaan MKJP. Sama halnya pada hasil penelitian Mestad dkk (2012) juga diperoleh hasil tidak ada hubungan antara pendidikan SMA dengan pendidikan Perguruan Tinggi dalam penggunaan MKJP. Pada penelitian Gudaynhe dkk (2014) yang dilakukan di Etiopia Barat juga diperoleh hasil tidak ada hubungan antara akseptor KB yang tidak sekolah atau jenjang pendidikan kedua dengan penggunaan MKJP jika dibandingkan dengan akseptor yang kuliah.

3. Status Pekerjaan

Pekerjaan ada berbagai jenis, jenis pekerjaan adalah macam-macam kegiatan melaksanakan tugas pokok, setiap pekerjaan juga mempunyai sifat yang berbeda-beda, ada yang membutuhkan waktu 24 jam ada pula yang hanya beberapa jam (Bratakusumah dan Solihin, 2004). Pekerjaan mempengaruhi seseorang dalam menggunakan MJKP. Ibu yang bekerja cenderung lebih mudah bergaul dan menerima informasi baru yang didapatkan.

Hubungan antar status pekerjaan dengan pemakaian MKJP dapat disebabkan karena akseptor KB yang bekerja memiliki kesempatan untuk

36

memperoleh informasi baik dari teman kerja atau dari media lain sehingga kesempatan untuk menggunakan MKJP dapat lebih besar. Selain itu, akseptor KB yang bekerja juga mempertimbangkan berbagai hal seperti waktu pemakainan KB jangka pendek (Non MKJP) yang harus diminum tiap hari seperti pil atau tiap bulan seperti suntik yang dapat menyita banyak waktu serta tidak efektif. Menurut Fienalia (2012), wanita bekerja kemungkinan lebih menyadari kegunaan dan manfaat KB serta lebih mengetahui pilihan metode yang ada jika dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja

Pada penelitian Teferra dan Wondifraw (2015) diperoleh hasil bahwa wanita yang bekerja mempunyai peluang 1,7 kali (CI:1,3-2,2) menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja. Pada penelitian Asih dan Oesman (2009) juga diperoleh hasil yang signifikan antara status pekerjaan dengan penggunaan MKJP. Pada penelitian tersebut diketahui bahwa akseptor KB dengan status bekerja berpeluang 1,529 menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang tidak bekerja. Namun hasil yang berbeda diperoleh pada penelitian Kurniawati (2002) dimana diperoleh hasil yang tidak berhubungan antara pekerjaan dengan penggunaan MKJP. 4. Tingkat Penghasilan

Penghasilan adalah jumlah uang yang diterima atas usaha yang dilakukan orang perorangan, badan, dan bentuk usaha lainnya yang dapat digunakan untuk aktivitas ekonomi seperti mengkonsumsikan dan/atau menimbun serta menambah kekayaan. Menurut Pasal 4 ayat 1 UU PPh yang

37

dimaksudkan dengan penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun (Judisseno, 2005).

Penghasilan memiliki pengaruh terhadap penggunaan MKJP. Semakin tinggi penghasilan seorang keluarga/wanita semakin memungkinkan untuk menggunakan MKJP. Hal ini dapat disebabkan karena dengan penghasilan yang cukup dapat membuat seseorang mampu untuk membayar transportasi dan biaya prosedural penggunaan MKJP (Teffera dan Wondifraw, 2015).

Berdasarkan penelitian Teffera dan Wondifraw (2015) diperoleh hasil bahwa indeks kekayaan berpengaruh terhadap penggunaan MKJP. Wanita yang memiliki indeks kekayaan tinggi memiliki peluang 4,8 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita yang memiliki indeks kekayaan rendah. Pada penelitian Asih dan Oesman (2009) juga diperoleh hubungan yang signifikan antara indeks kekayaan dengan status penggunaan MKJP, dimana akseptor KB yang mempunyai indeks kekayaan dalam kategori mampu berpeluang 1,440 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB dengan kategori miskin.

Namun hasil yang berbeda diperoleh pada penelitian Kurniawati (2002) dimana diperoleh hasil yang tidak berhubungan antara penghasilan dengan penggunaan MKJP. Pada penelitian Pangestika (2010) juga memperoleh hasil

38

tidak ada hubungan antara penghasilan dengan penggunaan MKJP, begitu pula yang ditemukan pada penelitian Fienalia (2012) diperoleh hasil tidak ada hubungan antara tingkat penghasilan dengan status penggunaan kontrasepsi.

Kota Tangerang Selatan mempunyai UMK (Upah Minimum Kota) yang lebih tinggi dibandingkan DKI Jakarta. Berdasarkan Badan Pusat Statistik Tahun 2014, UMK Tangerang Selatan Mencapai 2.440.000 rupiah. Tahun 2015 UMK Tangerang Selatan naik kembali menjadi 2.710.000 rupiah (Keputusan Gubernur, 2014).

5. Tempat Tinggal

Daerah tempat tinggal dapat memberikan pengaruh terhadap perilaku seseorang. Daerah tempat tinggal biasanya dibedakan berdasarkan rural dan urban. Pada penelitian Nasution (2011) diperoleh hasil tempat tinggal memiliki hubungan dengan penggunaan MKJP di Provinsi Sumatera, Kalimantan, Maluku, Papua, Bali dan Nusa Tenggara. Hasil penelitian menyatakan bahwa Pasangan Usia Subur (PUS) yang tinggal di perkotaan memiliki peluang yang lebih tinggi untuk menggunakan MKJP dibandingkan dengan Pasangan Usia Subur (PUS) yang tinggal di pedesaan di 4 Provinsi yang menjadi wilayah penelitian. Hasil yang tidak berhubungan diperoleh pada Provinsi Jawa dan Sulawesi.

6. Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensoris khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan

39

domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku terbuka (overt behaviour). Perilaku yang didasari pengetahuan umumnya bersifat terus menerus dan bertahan lama (Sunaryo, 2004).

Proses adopsi perilaku menurut Rogers (1974) dimulai dari kesadaran akan stimulus yang diberikan, kemudian ada rasa ketertarikan terhadap stimulus, lalu dilanjutkan dengan proses menimbang-nimbang tentang baik tidaknya stimulus tersebut. Setelah menimbang-nimbang, individu masuk pada tahapan mencoba menerapkan perilaku baru yang dipaparkan, kemudian setelah dicoba dan merasa nyaman, individu akan mengadopsi perilaku baru sesuai dengan pengetahuan, sikap, dan kesadarannya terhadap stimulus yang diberikan (Sunaryo, 2004). Tingkatan pengetahuan didalam kognitif ada 6 yaitu (Sunaryo, 2004):

a. Tahu

Tahu artinya dapat mengingat suatu informasi yang telah diberikan sebelumnya. Ukuran seseorang tahu akan sebuah informasi adalah orang tersebut dapat menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan dan menyatakan. Tahu merupakan tingkatan paling rendah dalam pengetahuan

b. Memahami

Pada tingkat memahami seseorang tidak hanya dapat menyebutkan dan menguraikan, tetapi juga dapat menjelaskan,

40

memberikan contoh dan juga dapat menyimpulkan suatu informasi yang diberikan

c. Penerapan

Penerapan yaitu kemampuan menggunakan informasi yang diterima pada situasi dan kondisi nyata.

d. Analisis

Analisis adalah kemampuan untuk menguraikan objek kedalam bagian-bagian kecil, tetapi masih di dalam suatu struktur objek tersebut dan masih terkait satu sama lain.

e. Sintesis

Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Ukuran seseorang memiliki pengetahuan pada tingkatan ini adalah orang tersebut dapat menyusun, meringkaskan, merencanakan, dan menyesuaikan suatu teori atau rumusan yang telah ada.

f. Evaluasi

Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu objek atau informasi yang diberikan. Evaluasi dapat menggunakan kriteria yang telah ada atau disusun sendiri.

Pengetahuan berhubungan dengan penggunaan MKJP. Pengetahuan akseptor KB sangat erat kaitannya terhadap pemilihan alat kontrasepsi, karena

41

dengan adanya pengetahuan yang baik terhadap metode kontrasepsi tertentu akan merubah cara pandang akseptor dalam menentukan kontrasepsi yang paling sesuai dan efektif digunakan sehingga membuat pengguna KB lebih nyaman terhadap kontrasepsi tersebut. Pengetahuan yang baik akan alat kontrasepsi dapat menghindari kesalahan dalam pemilihan alat kontrasepsi yang paling sesuai bagi pengguna itu sendiri (Dewi dan Notobroto, 2014).

Pada penelitian Gebremichael dkk (2013) diperoleh hasil bahwa wanita dengan pengetahuan sedang berpeluang 4,2 kali lebih besar menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita dengan pengetahuan rendah, dan wanita dengan pengetahuan tinggi berpeluang 4,2 kali lebih besar menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita dengan pengetahuan rendah. Pada penelitian Shegaw Getinet dkk (2014), juga diperoleh hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan penggunaan MKJP. Pengetahuan menengah meningkatkan peluang 3,4 kali dan pengetahuan tinggi meningkatkan peluang 2,3 kali menggunakan MKJP.

Pada penelitian Dewi dan Notobroto (2014), tingkat pengetahuan responden kelompok pengguna non MKJP cenderung lebih kurang daripada kelompok pengguna MKJP, dimana hasil persentase menunjukkan sebesar 91,7% dibandingkan reponden pengguna MKJP hanya 8,3%. Pengaruh pengetahuan responden dengan rendahnya keikutsertaan PUS menggunakan MKJP nilai p= 0,000 < α= 0,05. Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pengetahuan responden dengan rendahnya keikutsertaan PUS menggunakan

42

MKJP. Namun, hasil yang berbeda diperoleh pada penelitian Mengistu Meskele dan Wubegzier Mekonnen (2014) yang memperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan minat wanita dalam menggunakan MKJP.

7. Sikap

Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap suatu stimulus atau informasi, baik yang bersifat internal maupun eksternal sehingga manifestasinya tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup tersebut. Sikap secara realitas menunjukkan adanya kesesuaian respon terhadap stimulus tertentu. Tingkatan sikap adalah menerima, merespon, menghargai, dan bertanggung jawab (Sunaryo, 2004).

Sikap berhubungan dengan penggunaan MKJP. Pada penelitian Gebremichael dkk (2013) diperoleh hasil bahwa wanita dengan sikap positif terhadap MKJP mempunyai peluang 2 kali lebih besar menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita yang memiliki sikap negatif terhadap MKJP. Hasil yang serupa diperoleh pada penelitian Mengistu Meskele dan Wubegzier Mekonnen (2014) yang memperoleh hasil wanita yang memiliki sikap positif 2,5 kali lebih mungkin menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita yang memiliki sikap negatif terhadap MKJP. Pada penelitian Shegaw Getinet et al (2014) juga diperoleh hasil bahwa wanita dengan sikap

43

positif berpeluang 3 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita dengan sikap negatif terhadap MKJP.

8. Mendengar Mitos dan Kesalahpahaman tentang MKJP

Mitos adalah cerita-cerita yang menyingkapkan atau menerangkan pandangan hidup seseorang. Pada zaman sekarang, pembuat mitos yang paling berpengaruh adalah media massa (F Fore, 2002). Mitos dan kesalahpahaman yang terdapat di masyarakat mengenai MKJP seperti IUD dapat menyebabkan radang panggul, IUD dapat mengakibatkan kemandulan, kontra indikasi pada wanita yang belum pernah hamil, MKJP dapat meningkatkan berat badan, implan menyebabkan perdarahan, IUD tidak dapat menghentikan kehamilan, MKJP menyebabkan kehamilan ektopik, MKJP menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur, IUD menyakitkan, MKJP menyebabkan rambut rontok, MKJP menyebabkan osteoporosis, IUD tidak muat di panggul wanita dan masih banyak lagi kesalahpahaman dan mitos mengenai MKJP di masyarakat (SH&FPA, 2013 dan Russo et al, 2013).

Berbagai penelitian menunjukan adanya hubungan antara pernah mendengar mitos dan kesalahpahaman terkait kontrasepsi dengan status penggunaan kontrasepsi. Pada penelitian Mengistu Meskele dan Wubegzier Mekonnen (2014), yang meneliti mengenai faktor yang berhubungan dengan minat wanita dalam menggunakan MKJP, memperoleh hasil bahwa wanita yang tidak pernah mendengar mitos dan kesalahpahaman tentang MKJP berpeluang 1,7 kali menggunakan MKJP. Pada penelitian Kakaire O et al

44

(2014) yang dilakukan dengan metode kualitatif juga memperoleh hasil bahwa mitos dan kesalahpahaman mengenai MKJP dapat mempengaruhi persepsi wanita.

9. Diskusi dengan Pasangan/Suami tentang MKJP

Ketika sudah menjadi pasangan suami istri, suami merupakan orang pertama yang berpengaruh terhadap berbagai pengambilan keputusan. Salah satunya adalah pilihan metode kontrasepsi yang akan digunakan. Suami berperan penting dalam menentukan kontrasepsi yang akan dipakai sebagai aplikasi program keluarga berencana. Salah satu hal yang memberikan peluang akseptor untuk menggunakan MKJP adalah dengan berdiskusi oleh pasangan (Gudaynhe dkk, 2014).

Adhyani dkk (2011) mengatakan bahwa seorang istri di dalam pengambilan keputusan untuk memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi membutuhkan persetujuan dari suami karena suami dipandang sebagai kepala keluarga, pelindung keluarga, pencari nafkah dan seseorang yang dapat membuat keputusan dalam suatu keluarga. Pengetahuan yang memadai tentang alat kontrasepsi, dapat memotivasi suami dan untuk menganjurkan istrinya memakai alat kontrasepsi tersebut.

Berdasarkan penelitian Gudaynhe dkk (2014) diskusi suami istri ditemukan memiliki hubungan yang signifikan, wanita yang sudah menikah yang memiliki pengalaman berdiskusi dengan suami tentang kontrasepsi 1,8 kali memiliki peluang menggunakan MKJP dibandingkan dengan yang tidak

45

pernah berdiskusi dengan suami [AOR (95%CI) = 1.876(1. 159, 3.036)]. Hal ini mungkin terjadi karena jika tidak ada diskusi antara suami dan istri, akan menghasilkan pengaruh yang negatif terhadap penggunaan MKJP. Pada penelitian Yalew dkk (2015) diperoleh hasil wanita yang memiliki frekuensi sering berdiskusi dengan pasangan tentang MKJP memiliki peluang 3,89 kali lebih tinggi menggunakan MKJP dibandingkan dengan yang hanya berdiskusi sekali atau dua kali saja.

10.Umur Pertama Melahirkan

Umur pertama melahirkan yang ideal, menurut UU no 1 tahun 1974 tentang perkawinan, ditentukan dan dipengaruhi oleh risiko yang diakibatkan dari melahirkan, kemampuan tentang perawatan kehamilan, pasca persalinan dan masa diluar kehamilan dan persalinan, serta derajat kesehatan reproduksi. Di beberapa penelitian, umur pertama melahirkan dikaitkan dengan penggunaan MKJP. Pada penelitian Jingbo dkk (2013) diperoleh adanya hubungan antara umur pertama melahirkan dengan penggunaan MKJP (p<0,001) dan korelasi yang positif (CC=0,598). Namun, banyak penelitian yang mendapatkan hubungan yang tidak signifikan antara usia pertama melahirkan dengan penggunaan MKJP seperti pada penelitian Teffera dan Wondifraw (2015) dan penelitian Gudayne dkk (2014).

11.Jumlah Anak Hidup

Jumlah anak yang dimiliki Pasangan Usia Subur (PUS) dapat mempengaruhi status penggunaan MKJP. Salah satu faktor yang menentukan

46

keikutsertaan PUS dalam berKB adalah banyaknya anak yang dimilikinya, diharapkan pasangan yang memiliki jumlah anak lebih banyak kemungkinan untuk memulai kontrasepsi lebih besar dibandingkan pasangan yang mempunyai anak lebih sedikit (Dewi dan Notobroto, 2014).

Jumlah anak mulai diperhatikan setiap keluarga karena semakin banyak anak semakin banyak pula tanggungan kepala keluarga dalam mencukupi kebutuhan materil selain itu juga untuk menjaga kesehatan sistem reproduksi karena semakin sering melahirkan semakin rentan terhadap kesehatan ibu. Semakin banyak anak yang dimiliki maka semakin besar kecenderungan untuk menghentikan kesuburan sehingga lebih cenderung untuk memilih metode kontrasepsi mantap. Jumlah anak hidup yang dimiliki seorang wanita, akan memberikan pengalaman dan pengetahuan, sehingga wanita dapat mengambil keputusan yang tepat tentang cara atau alat kontrasepsi yang akan dipakai (Dewi dan Notobroto, 2014).

Berdasarkan laporan dari SDKI 2012, hampir 50% wanita menikah menyatakan tidak ingin mempunyai anak lagi (termasuk yang telah disterilisasi). Kelompok ini diharapkan akan melakukan penjarangan kelahiran. Sekitar 15% wanita menikah menyatakan ingin menambah anak segera; 6% belum memutuskan kapan ingin menambah anak; dan 5% belum memutuskan apakah akan menambah anak. Sebagian besar (sekitar 50%) responden SDKI 2012, baik wanita maupun pria, menyatakan ingin memiliki

47

2 anak dan sekitar 20% menginginkan 3 anak. Relatif sedikit yang menyebutkan ingin memiliki 5 anak atau lebih.

Pada penelitian Teffera dan Wondifraw (2015) diperoleh hasil yang signifikan antara jumlah anak hidup dengan penggunaan MKJP. Wanita yang memiliki lebih dari 4 anak berpeluang 5,8 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki anak. Hal ini dapat disebabkan wanita yang telah memiliki anak telah mencapai targetnya dalam ukuran keluarga. Oleh karena itu, wanita lebih menyukai metode yang efektif dalam mencegah kehamilan.

Pada penelitian Nasution (2011) yang dilakukan di 6 Provinsi di Indonesia memperoleh hasil bahwa jumlah anak memiliki hubungan dengan penggunaan MKJP di Provinsi Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, serta Bali dan Nusa Tenggara. Hasil penelitian menyatakan bahwa Pasangan Usia Subur (PUS) dengan jumlah anak 0-2 berpeluang lebih tinggi tidak menggunakan MKJP dibandingkan dengan PUS yang memiliki anak 3 atau lebih di 6 Provinsi di Indonesia yang menjadi tempat penelitian.

Penelitian Megan L. Kavanaugh dkk (2011) yang dilakukan di United States menggunakan data sekunder pada tahun 2002 dan 2006-2008 juga memperoleh hasil yang sejalan dengan penelitian Nasution (2011) yaitu jumlah anak hidup dengan penggunaan MKJP baik tahun 2002 maupun 2006-2008 memiliki hubungan signifikan (1-2 anak 2002 OR=5,8; 2006-2006-2008 OR

48

Pada penelitian Dewi dan Notobroto (2014) diperoleh hasil responden pengguna non MKJP sebagian besar memiliki anak >4 dibandingkan dengan responden pengguna MKJP yang memiliki anak ≤2. Uji logistik menunjukkan nilai p= 0,000 < α= 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh jumlah anak responden dengan rendahnya keikutsertaan PUS menggunakan MKJP. Namun pada penelitian Philip Goldstone dkk (2014) diperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan jumlah anak dengan penggunaan MKJP.

12.Riwayat Aborsi

Aborsi adalah tindakan menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah “abortus”, yang berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Hal ini merupakan suatu proses pengakhiran hidup dari janin

Dokumen terkait