BAB VI PEMBAHASAN
C. Distribusi Frekuensi Faktor Sosiodemografi dan Sosioekonomi di
Faktor sosiodemografi akseptor KB diwilayah kerja Puskesmas Pamulang yang diteliti pada penelitian ini yaitu umur menggunakan KB dan tingkat pendidikan, sedangkan faktor sosioekonomi yang diteliti yaitu status pekerjaan dan tingkat penghasilan. Dapat dilihat distribusi frekuensi faktor sosiodemografi dan sosioekonomi pada akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014 pada tabel berikut:
75
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Akseptor KB Berdasarkan Faktor Sosiodemografi dan Sosioekonomi di Wilayah Kerja Puskesmas PamulangTahun 2014
Kategori Akseptor KB n (%) Umur Menggunakan KB >30 tahun 76 (46,3) ≤30 tahun 88 (53,7) Jumlah 164 (100,0) Tingkat Pendidikan
Tinggi (SMA, Diploma, atau Perguruan Tinggi) 87 (53,0) Rendah (Tidak sekolah, Tidak lulus SD, SD, atau SMP) 77 (47,0)
Jumlah 164 (100,0)
Status Pekerjaan
Bekerja (Buruh, Wiraswasta, PNS, pegawai BUMN/Swasta) 33 (20,1)
Tidak Bekerja 131 (79,9) Jumlah 164 (100,0) Tingkat Penghasilan Tinggi (>2.442.000) 72 (43,9) Rendah (≤2.442.000) 92 (56,1) Jumlah 164 (100,0)
Berdasarkan tabel 5.3 terlihat bahwa akseptor KB lebih banyak yang berumur kurang atau sama dengan 30 tahun yaitu sebesar 53,7%. Dari segi pendidikan, lebih banyak yang memiliki kategori pendidikan tinggi (53,0%), sedangkan dari status pekerjaan, sebagian besar akseptor KB tidak bekerja (79,9%). Pada kategori penghasilan, lebih banyak akseptor yang berpenghasilan rendah (56,1%).
D. Distribusi Frekuensi Faktor Kognitif Akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Faktor kognitif akseptor KB di wilayah kerja Puskesmas Pamulang pada penelitian ini diukur melalui status diskusi akseptor KB dengan suami tentang MKJP. Dapat dilihat distribusi frekuensi faktor kognitif
76
akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014 pada tabel berikut:
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Akseptor KB Berdasarkan Faktor Kognitif di Wilayah Kerja Puskesmas PamulangTahun 2014
Kategori Akseptor KB
n (%) Status Diskusi dengan Suami tentang MKJP
Ya 96 (58,5)
Tidak 68 (41,5)
Jumlah 164 (100,0)
Berdasarkan tabel 5.4 terlihat bahwa sebelum menggunakan kontrasepsi, akseptor KB lebih banyak yang melakukan diskusi dengan suami terlebih dahulu tentang MKJP (58,5%).
E. Distribusi Frekuensi Faktor Reproduksi Akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Faktor reproduksi akseptor KB di wilayah kerja Puskesmas Pamulang pada penelitian ini terdiri dari umur melahirkan pertama kali, jumlah anak hidup dan riwayat aborsi. Dapat dilihat distribusi frekuensi faktor reproduksi akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014 pada tabel berikut:
77
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Akseptor KB Berdasarkan Faktor Reproduksi di Wilayah Kerja Puskesmas PamulangTahun 2014
Kategori Akseptor KB
n (%) Umur Pertama Kali Melahirkan
Umur < 18 tahun 10 (6,1)
Umur ≥ 18 tahun 154 (93,9)
Jumlah 164 (100,0)
Jumlah Anak Hidup
3 atau lebih anak 47 (28,7)
1 atau 2 anak 177 (71,3) Jumlah 164 (100,0) Riwayat Aborsi Ada 21 (12,8) Tidak Ada 143 (87,2) Jumlah 164 (100,0)
Berdasarkan tabel 5.5 terlihat bahwa sebagian besar akseptor KB melahirkan pada umur diatas 18 tahun (93,9%), memiliki anak 1 atau 2 (71,3%) dan tidak memiliki riwayat aborsi/keguguran (87,2%).
F. Distribusi Frekuensi Faktor Pelayanan Akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Faktor pelayanan akseptor KB di wilayah kerja Puskesmas Pamulang dilihat berdasarkan tempat pelayanan yang dikunjungi. Dapat dilihat distribusi frekuensi faktor pelayanan akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014 pada tabel berikut:
Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Akseptor KB Berdasarkan Faktor Pelayanan di Wilayah Kerja Puskesmas PamulangTahun 2014
Kategori Akseptor KB
n (%) Tempat Pelayanan KB
Swasta (Bidan Swasta, Klinik Swasta, RS Swasta) 127 (77,4) Pemerintah (Puskesmas, RS Pemerintah) 37 (22,6)
78
Berdasarkan tabel 5.6 terlihat bahwa sebagian besar akseptor KB lebih banyak mengunjungi tempat pelayanan kesehatan swasta (77,4%) dibandingkan dengan pelayanan kesehatan pemerintah untuk mendapatkan pelayanan Keluarga Berencana (KB).
G. Determinan Penggunaan MKJP Akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Penggunaan MKJP oleh Akseptor KB dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pada penelitian ini, faktor-faktor yang dianalisis untuk mengetahui peluang akseptor KB dalam menggunakan MKJP adalah umur menggunakan KB, tingkat pendidikan, status pekerjaan, tingkat penghasilan, status diskusi dengan suami tentang MKJP, riwayat aborsi, umur pertama kali melahirkan, jumlah anak hidup, dan jenis tempat pelayanan KB yang dikunjungi. Dapat dilihat analisis determinan penggunaan MKJP di wilayah kerja Puskesmas Pamulang tahun 2014 sebagai berikut:
1. Umur Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Analisis umur akseptor KB dengan penggunaan MKJP di wilayah kerja Puskesmas Pamulang akan dijelaskan pada tabel berikut:
79
Tabel 5.7
Analisis Hubungan Umur Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Umur Menggunakan KB Akseptor KB Total OR 95% CI MKJP Non MKJP n % n % N % >30 tahun 30 73,2 46 37,4 76 46,3 4,565 2,090-9,973 ≤30 tahun 11 26,8 77 62,6 88 53,7 Jumlah 41 100,0 123 100,0 164 100,0
Berdasarkan tabel 5.7 terlihat bahwa jumlah akseptor KB pengguna MKJP lebih banyak pada kelompok yang berumur lebih dari 30 tahun (73,2%), sedangkan pada akseptor KB pengguna non MKJP lebih banyak pada kelompok yang berumur kurang atau sama dengan 30 tahun (62,6%). Adapun nilai OR yang diperoleh pada CI 95% adalah sebesar 4,565 (2,090-9,973), dengan demikian nilai OR bermakna, sehingga dapat disimpulkan bahwa akseptor KB yang berumur lebih dari 30 tahun berpeluang 4,565 kali menggunakan MKJP dari pada akseptor KB yang berumur kurang atau sama dengan 30 tahun.
2. Tingkat Pendidikan Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Analisis tingkat pendidikan akseptor KB dengan penggunaan MKJP di wilayah kerja Puskesmas Pamulang akan dijelaskan pada tabel berikut:
80
Tabel 5.8
Analisis Hubungan Tingkat Pendidikan Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang
Tahun 2014 Tingkat Pendidikan Akseptor KB Total OR 95% CI MKJP Non MKJP n % n % N % Tinggi 22 53,7 65 52,8 87 53,0 1,033 0,509-2,099 Rendah 19 46,3 58 47,2 77 47,0 Jumlah 41 100,0 123 100,0 164 100,0
Berdasarkan tabel 5.8 terlihat bahwa jumlah akseptor KB pengguna MKJP lebih banyak pada kelompok pendidikan tinggi (53,7%) dibandingkan dengan kelompok pendidikan rendah (46,3%), begitu pula pada akseptor KB pengguna non MKJP menunjukkan pola distribusi yang sama. Nilai OR yang diperoleh pada CI 95% yaitu sebesar 1,033 (0,509-2,099), dengan demikian nilai OR tidak bermakna.
3. Status Pekerjaan Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Analisis status pekerjaan akseptor KB dengan penggunaan MKJP di wilayah kerja Puskesmas Pamulang akan dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 5.9
Analisis Hubungan Status Pekerjaan Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang
Tahun 2014 Status Pekerjaan Akseptor KB Total OR 95% CI MKJP Non MKJP n % n % N % Bekerja 17 41,5 16 13,0 33 20,1 4,737 2,100-10,687 Tidak bekerja 24 58,5 107 87,0 131 79,9 Jumlah 41 100,0 123 100,0 164 100,0
81
Berdasarkan tabel 5.9 terlihat bahwa jumlah akseptor KB pengguna MKJP lebih banyak pada kelompok tidak bekerja (58,5%) dibandingkan kelompok bekerja (41,5%), sedangkan akseptor KB pengguna non MKJP sebagian besar tidak bekerja (87,0%). Adapun nilai OR yang diperoleh pada CI 95% yaitu sebesar 4,737 (2,100-10,687), dengan demikian nilai OR bermakna, sehingga dapat disimpulkan bahwa akseptor KB yang bekerja berpeluang 4,737 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang tidak bekerja.
4. Tingkat Penghasilan Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Analisis tingkat penghasilan akseptor KB dengan penggunaan MKJP di wilayah kerja Puskesmas Pamulang akan dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 5.10
Analisis Hubungan Tingkat Penghasilan Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang
Tahun 2014 Tingkat Penghasilan Akseptor KB Total OR 95% CI MKJP Non MKJP n % n % N % Tinggi 24 58,5 48 39,0 72 43,9 2,206 1,075-4,528 Rendah 17 41,5 75 61,0 92 56,1 Jumlah 41 100,0 123 100,0 164 100,0
Berdasarkan tabel 5.10 diketahui bahwa jumlah akseptor KB pengguna MKJP lebih banyak pada kelompok dengan tingkat penghasilan tinggi (58,5%), sedangkan pada akseptor KB pengguna non MKJP lebih banyak pada kelompok dengan tingkat penghasilan
82
rendah (61,0%). Adapun nilai OR yang diperoleh pada CI 95% yaitu sebesar 2,206 (1,075-4,528), dengan demikian nilai OR bermakna, sehingga dapat disimpulkan bahwa akseptor KB yang berpenghasilan tinggi berpeluang 2,206 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang berpenghasilan rendah.
5. Status Diskusi dengan Suami tentang MKJP dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Analisis status diskusi dengan suami akseptor KB dengan penggunaan MKJP di wilayah kerja Puskesmas Pamulang akan dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 5.11
Analisis Hubungan Akseptor KB yang Berdiskusi dengan Suami dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang
Tahun 2014 Status Diskusi dengan Suami Akseptor KB Total OR 95% CI MKJP Non MKJP n % n % N % Ya 39 95,1 57 46,3 96 58,5 22,579 5,220-97,665 Tidak 2 4,9 66 53,7 68 41,5 Jumlah 41 100,0 123 100,0 164 100,0
Berdasarkan tabel 5.11 terlihat bahwa sebagian besar (95,1%) akseptor KB pengguna MKJP melakukan diskusi dengan suami tentang MKJP, sedangkan pada akseptor KB pengguna non MKJP lebih banyak yang tidak berdiskusi dengan suami (53,7%) dibandingkan dengan yang berdiskusi dengan suami (46,3%). Adapun nilai OR yang diperoleh pada CI 95% yaitu sebesar 22,579 (5,220-97,665), dengan demikian nilai OR bermakna, sehingga dapat disimpulkan bahwa akseptor KB yang telah berdiskusi dengan suami
83
tentang MKJP terlebih dahulu berpeluang 22,579 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang tidak berdiskusi dengan suami mengenai MKJP.
6. Umur Pertama Kali Melahirkan Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Analisis umur pertama kali melahirkan akseptor KB dengan penggunaan MKJP di wilayah kerja Puskesmas Pamulang akan dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 5.12
Analisis Hubungan Umur Pertama Kali Melahirkan Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas
Pamulang Tahun 2014 Umur Pertama Kali Melahirkan Akseptor KB Total OR 95% CI MKJP Non MKJP n % n % N % Umur < 18 tahun 2 4,9 8 6,5 10 6,1 0,737 0,150-3,620 Umur ≥ 18 tahun 39 95,1 115 93,5 154 93,9 Jumlah 41 100,0 123 100,0 164 100,0
Berdasarkan tabel 5.12 terlihat bahwa sebagian besar akseptor KB melahirkan pertama kali pada umur 18 tahun atau lebih, baik pada akseptor KB pengguna MKJP (95,1%) maupun akseptor KB pengguna non MKJP (93,5%). Adapun nilai OR yang diperoleh pada CI 95% yaitu sebesar 0,737 (0,150-3,620), dengan demikian nilai OR tersebut tidak bermakna.
84
7. Jumlah Anak Hidup Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Analisis jumlah anak hidup akseptor KB dengan penggunaan MKJP di wilayah kerja Puskesmas Pamulang akan dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 5.13
Analisis Hubungan Jumlah Anak Hidup Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang
Tahun 2014 Jumlah Anak Hidup Akseptor KB Total OR 95% CI MKJP Non MKJP n % n % N % 3 atau lebih 20 48,8 27 22,0 47 28,7 3,386 1,605-7,144 1 atau 2 21 51,2 96 78,0 117 71,3 Jumlah 41 100,0 123 100,0 164 100,0
Berdasarkan tabel 5.13 terlihat bahwa jumlah akseptor KB pengguna MKJP lebih banyak yang memiliki anak 1 atau 2 (51,2%) dibandingkan dengan yang memiliki anak 3 atau lebih (48,8%) sedangkan pada akseptor KB pengguna non MKJP sebagian besar memiliki anak 1 atau 2 (78%). Adapun nilai OR yang diperoleh pada CI 95% yaitu sebesar 3,386 (1,605-7,144), dengan demikian nilai OR tersebut bermakna, sehingga dapat disimpulkan bahwa akseptor KB yang memiliki anak 3 atau lebih berpeluang 3,386 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor yang memiliki anak 1 atau 2.
85
8. Riwayat Aborsi Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Analisis riwayat aborsi akseptor KB dengan penggunaan MKJP di wilayah kerja Puskesmas Pamulang akan dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 5.14
Analisis Hubungan Riwayat Aborsi Akseptor KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014 Riwayat Aborsi Akseptor KB Total OR 95% CI MKJP Non MKJP n % n % N % Ada 10 24,4 11 8,9 21 12,8 3,284 1,278-8,444 Tidak Ada 31 75,6 112 91,1 143 87,2 Jumlah 41 100,0 123 100,0 164 100,0
Berdasarkan tabel 5.14 terlihat bahwa jumlah akseptor KB pengguna MKJP lebih banyak yang memiliki tidak memiliki riwayat aborsi (75,6%) dibandingkan yang memiliki riwayat aborsi (24,4%), sedangkan pada akseptor KB pengguna non MKJP sebagian besar memiliki tidak memiliki riwayat aborsi (91,1%). Adapun nilai OR yang diperoleh pada CI 95% yaitu sebesar 3,284 (1,278-8,444), dengan demikian nilai OR bermakna, sehingga dapat disimpulkan bahwa akseptor KB yang memiliki riwayat aborsi berpeluang 3,284 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang tidak memiliki riwayat aborsi.
86
9. Tempat Pelayanan KB dengan Penggunaan MKJP di wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Analisis tempat pelayanan KB yang dimanfaatkan akseptor KB dengan penggunaan MKJP di wilayah kerja Puskesmas Pamulang akan dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 5.15
Analisis Hubungan Tempat Pelayanan KB dengan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Tempat Pelayanan KB Akseptor KB Total OR 95% CI MKJP Non MKJP n % n % N % Swasta 17 41,5 110 89,4 127 77,4 0,084 0,036-0,195 Pemerintah 24 58,5 13 10,6 37 22,6 Jumlah 41 100,0 123 100,0 164 100,0
Berdasarkan tabel 5.15 terlihat bahwa jumlah akseptor KB pengguna MKJP lebih banyak yang memanfaatkan tempat pelayanan KB pemerintah (58,5%) dibandingkan dengan yang memanfaatkan pelayanan KB swasta (41,5%), sedangkan akseptor KB pengguna non MKJP sebagian besar memanfaatkan pelayanan swasta (89,4%). Adapun nilai OR yang diperoleh pada CI 95% yaitu sebesar 0,084 (0,036-0,195), dengan demikian nilai OR bermakna namun bersifat protektif, sehingga dapat disimpulkan bahwa akseptor yang memanfaatkan tempat pelayanan KB di swasta mencegah penggunaan MKJP sebesar 0,084 kali dibandingkan dengan akseptor yang memanfaatkan tempat pelayanan KB di Pemerintah.
87 BAB VI PEMBAHASAN
A. Keterbatasan dalam Penelitian
1. Pada hasil analisis yang dilakukan dalam penelitian ini, terdapat nilai OR yang memiliki rentang CI (Confident Interval) cukup lebar yaitu pada variabel status diskusi dengan suami tentang MKJP. Walaupun nilai OR yang didapat bermakna, namun rentang yang terlalu lebar ini menandakan nilai presisi pada analisis tersebut rendah sehingga informasi yang didapatkan kurang bernilai. Rentang CI yang terlalu lebar ini dapat mengindikasikan bahwa jumlah sampel terlalu sedikit.
2. Pada penelitian ini tidak diteliti faktor terkait budaya seperti mitos dan ketidakpahaman mengenai MKJP yang hanya dapat digali informasinya secara mendalam dengan cara kualitatif
B. Distribusi Frekuensi Jenis Kontrasepsi di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Kontrasepsi adalah tindakan menghindari/mencegah terjadinya pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma, sehingga tidak terjadinya kehamilan (BKKBN, 2015). Terdapat berbagai macam metode kontrasepsi. Berdasarkan lama efektifitasnya, kontrasepsi dibagi menjadi MKJP dan non MKJP. Kontrasepsi yang termasuk dalam kelompok MKJP yaitu IUD, implan, MOP, dan MOW, sedangkan kontrasepsi yang termasuk dalam kelompok non MKJP yaitu kondom, pil, suntik, dan metode-metode lain yang tidak termasuk dalam MKJP (BKKBN, 2011).
88
Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah suntik sebesar 55,5%. Sebagian besar masyarakat Indonesia memang masih banyak yang menggunakan metode kontrasepsi jangka pendek seperti suntik dan pil. Padahal, angka kegagalan metode KB non MKJP masih cukup tinggi. Angka kegagalan suntik mencapai 6 per 100 akseptor pengguna suntik, yang artinya 6 dari 100 penggunanya tetap mengalami kehamilan setelah menggunakan kontrasepsi suntik, sedangkan angka kegagalan pil mencapai 6-8 kehamilan dari 100 akseptor pengguna pil (Susanto, 2015).
Berdasarkan penelitian Asih dan Oesman (2009) yang melakukan analisis lanjut pada data SDKI diperoleh jumlah pemakaian non MKJP sebesar 82,2% sedangkan pemakai MKJP hanya sebesar 17,8%. Data yang diperoleh BKKBN terkait metode kontrasepsi yang digunakan di Indonesia juga menunjukkan hasil sejalan yaitu metode kontrasepsi yang digunakan akseptor KB didominasi oleh suntikan (36%) dan pil KB (15,1%). Oleh karena itu pemerintah sedang melakukan upaya untuk peningkatan MKJP karena dinilai lebih efektif dalam menekan laju pertumbuhan penduduk (Dewi, 2013).
C. Distribusi Frekuensi Faktor Sosiodemografi dan Sosioekonomi di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Faktor sosiodemografi dan sosioekonomi adalah faktor yang melekat dalam diri seseorang yang dapat mempengaruhi seseorang dalam melakukan suatu tindakan (Maulana, 2009). Faktor sosiodemografi yang mempengaruhi seseorang dalam bertindak misalnya umur, jenis kelamin dan pendidikan,
89
sedangkan faktor sosioekonomi misalnya pekerjaan dan pendapatan (Gaol, 2013). Faktor sosiodemografi dan sosioekonomi yang diteliti dalam penelitian ini yaitu umur, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan.
Pada penelitian ini, diperoleh hasil lebih banyak akseptor menggunakan KB pada umur kurang atau sama dengan 30 tahun (53,7%). Menurut Fienalia (2012), umur akseptor KB mempengaruhi metode kontrasepsi yang akan digunakan. Hal ini sejalan jika dilihat dari jenis kontrasepsi yang banyak dipakai adalah non MKJP. Akseptor non MKJP sebagian besar adalah ibu-ibu muda yang memiliki umur kurang dari 30 tahun. Hasil yang diperoleh pada penelitian Nasution (2011) juga diperoleh jumlah Non MKJP di Papua dan Maluku lebih banyak pada umur kurang dari 30 tahun yaitu sebesar 84,91%. Pada penelitian Dewi dan Notobroto (2014) diperoleh hasil bahwa akseptor KB pengguna non MKJP lebih banyak berumur 20-30 tahun (33,3%), sedangkan akseptor KB pengguna MKJP lebih banyak berumur >30 tahun (29,8%).
Berdasarkan kategori pendidikan lebih banyak yang memiliki pendidikan tinggi sebesar 53%. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang menentukan pengetahuan dan persepsi seseorang terhadap pentingnya suatu hal termasuk dalam pemilihan kontrasepsi (Fienalia, 2012). Pada penelitian Meskele dan Mekonnen (2014) di Etiopia Selatan juga memperoleh hasil pendidikan tinggi memiliki jumlah yang cukup besar pada kelompok pengguna MKJP yaitu sebesar 63,2%. Di Indonesia, pada penelitian Cindra Paskaria (2015) juga memperoleh hasil lebih banyak kategori pendidikan tinggi yaitu 68,77%, sedangkan pada penelitian Asih dan Oesman (2009)
90
menunjukkan jumlah yang sedikit berbeda dimana lebih tinggi pendidikan rendah yaitu 53,7% dari pada pendidikan tinggi, walaupun tidak terpaut jauh. Pada kategori status pekerjaan, lebih banyak Akseptor KB yang tidak bekerja yaitu 79,9%. Pada penelitian Gudaynhe dkk (2014) di Barat Laut Etiopia juga diperoleh jumlah akseptor KB yang tidak bekerja (ibu rumah tangga) lebih banyak dibandingkan dengan jenis pekerjaan lain yaitu sebesar 32,5% pada kelompok MKJP dan 39,5% pada kelompok Non MKJP. Di Indonesia, pada penelitian Asih dan Oesman (2009), diperoleh hasil yang berbeda dimana jumlah akseptor KB yang bekerja lebih banyak dibandingkan dengan akseptor KB yang tidak bekerja yaitu sebesar 59,2%.
Berdasarkan tingkat penghasilan, lebih banyak akseptor KB yang memiliki penghasilan rendah yaitu sebesar 56,1%, walaupun tidak terpaut jauh dengan akseptor KB yang memiliki penghasilan tinggi (43,9%). Menurut Fienalia (2012) penghasilan seseorang dapat berpengaruh dalam keikutsertaan akseptor menggunakan KB. Pada penelitian Mestad dkk (2012) juga menunjukkan akseptor KB dengan kategori penghasilan rendah lebih banyak yaitu sebesar 73,4%. Namun, pada penelitian Asih dan Oesman, berdasarkan kategori indeks kekayaan menunjukkan hasil yang berbeda dimana lebih banyak akseptor KB yang berada pada kategori mampu yaitu sebesar 63,2%. Begitu pula pada penelitian Paskaria (2015) ditemukan lebih banyak akseptor KB berada pada kategori sosial ekonomi mampu (58,64%) dari pada sosial ekonomi miskin.
91
D. Distribusi Frekuensi Faktor Kognitif di Wilayah Kerja Puskesmas