BAB VI PEMBAHASAN
G. Determinan Penggunaan MKJP di Wilayah Kerja Puskesmas
Penggunaan MKJP dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pada penelitian ini, faktor-faktor yang dihubungkan mempunyai pengaruh terhadap penggunaan MKJP yaitu umur menggunakan KB, tingkat pendidikan, status pekerjaan, tingkat penghasilan, status diskusi dengan pasangan/suami, umur melahirkan pertama kali, riwayat aborsi, jumlah anak hidup, dan tempat pelayanan KB. Berikut pembahasan dari hasil statistik yang diperoleh berdasarkan determinan penggunaan MKJP di wilayah kerja Puskesmas Pamulang tahun 2014:
1. Umur Akseptor KB dengan Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Umur Wanita Usia Subur (WUS) dapat mempengaruhi metode kontrasepsi yang akan digunakan. Umur merupakan faktor instrinsik yang mempengaruhi keputusan seseorang dalam menggunakan metode kontrasepsi. Umur berpengaruh dengan struktur organ, fungsi organ, komposisi biokimiawi dan sistem hormonal (Dewi dan Notobroto, 2014).
Pada penelitian ini, nilai OR yang diperoleh pada CI 95% sebesar 4,565 (2,090-9,973), dengan demikian nilai OR tersebut bermakna, sehingga dapat disimpulkan bahwa akseptor KB yang berumur lebih dari 30 tahun berpeluang 4,565kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang berumur kurang atau sama dengan 30 tahun. Pada analisis univariat terlihat pula bahwa jumlah Akseptor KB pengguna
95
MKJP lebih banyak yang berumur lebih dari 30 tahun sebesar 73,2%, sedangkan jumlah Akseptor KB pengguna non MKJP lebih banyak yang berumur kurang atau sama dengan 30 tahun sebesar 62,2%, dengan demikian terlihat bahwa terdapat kecenderungan umur dengan penggunaan metode kontrasepsi.
Di wilayah kerja puskesmas pamulang, akseptor KB yang menggunakan kontrasepsi jangka pendek seperti pil dan suntik didominasi ibu muda yang masih ingin memiliki anak lagi. Hubungan antara umur dengan penggunaan MKJP yang didapatkan pada analisis juga menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap MKJP hanya digunakan ketika sudah tidak menginginkan anak lagi untuk menghentikan kehamilan. Padahal MKJP merupakan kontrasepsi yang juga efektif untuk menjarangkan kelahiran dan tidak berpengaruh terhadap tingkat kesuburan contohnya implan dan IUD. Menurut Rosana (2013), memang paradigma masyarakat di Indonesia masih menganggap bahwa MKJP hanya digunakan ketika ingin menghentikan kehamilan.
Periode umur tertentu, misal umur diatas 30 tahun, dapat meningkatkan risiko-risiko kelainan seperti penyakit jantung, darah tinggi, keganasan dan penyakit metabolik lainnya. Risiko kelainan tersebut dapat membahayakan keselamatan jiwa, terlebih ketika terjadinya kehamilan. Hal ini membuat seseorang membutuhkan alat kontrasepsi yang lebih efektif untuk mencegah kehamilan, karena semakin tinggi umur seseorang, risiko kesehatan yang terjadi dapat semakin berat (Dewi dan Notobroto, 2014).
96
Pada penelitian yang dilakukan Dewi dan Notobroto (2014) diperoleh hasil sejalan dengan penelitian ini, yaitu adanya pengaruh antara umur akseptor KB dengan rendahnya keikutsertaan PUS menggunakan MKJP. Pada analisis univariat diketahui bahwa pada kelompok MKJP lebih banyak pada umur >30 tahun (29,8%) sedangkan kelompok non MKJP lebih banyak pada umur 20-30 tahun (33,3%).
Penelitian lain yang sejalan yaitu penelitian Nasution (2011) yang meneliti faktor-faktor penggunaan MKJP di 6 Provinsi di Indonesia, diperoleh hasil umur memiliki hubungan dengan penggunaan MKJP di 5 provinsi yaitu Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, serta Bali dan Nusa Tenggara. Penelitian tersebut menarik kesimpulan bahwa umur Pasangan Usia Subur (PUS) < 30 tahun memiliki risiko untuk tidak menggunakan MKJP lebih tinggi dibandingkan dengan PUS umur > 30 tahun. Namun, hasil yang tidak berhubungan antara umur dengan penggunaan MKJP diperoleh pada Provinsi Sumatera.
Pada penelitian Asih dan Oesman (2009) juga diperoleh hasil sejalan dimana akseptor KB yang berumur 30 tahun atau lebih berpeluang 4,2 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang berumur kurang dari 30 tahun. Pada penelitian Mestad et al (2012) juga menunjukkan hasil adanya hubungan antara umur dengan jenis kontrasepsi yang digunakan. Pada penelitian Teferra dan Wondifraw (2015) pun demikian, didapatkan hasil akseptor KB yang berumur 25-34 tahun berpeluang 1,99 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang berumur 15-24 tahun, sedangkan akseptor KB yang berumur ≥
97
35 tahun berpeluang 2,12 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang berumur 15-24 tahun.
Hasil yang berbeda didapat pada penelitian Gudaynhe dkk (2013). Pada penelitian tersebut didapatkan hasil hubungan yang protektif antara akseptor KB dengan umur 30-34 terhadap penggunaan MKJP. Pada penelitian tersebut, wanita yang memiliki usia 20-24 tahun 3,69 kali mempunyai peluang untuk menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita yang memiliki umur 30-34 tahun. Namun, hasil yang tidak sejalan dengan penetilian ini juga diperoleh pada penelitian Meskele dan Mekonnen (2014) dan Shegaw Getinet dkk (2014) dimana diperoleh hasil tidak ada hubungan antara umur dengan keinginan menggunakan MKJP.
Hubungan yang diperoleh antara umur dengan penggunaan MKJP pada penelitian ini dapat dijadikan masukkan untuk meningkatan cakupan penggunaan MKJP. Hal ini dapat dilakukan dengan penyuluhan yang difokuskan pada akseptor KB berumur kurang atau sama dengan 30 tahun tentang kelemahan dan kelebihan tiap metode kontrasepsi dan penekanan bahwa MKJP merupakan metode yang aman dan efektif dalam menunda atau menjarangkan kelahiran.
2. Tingkat Pendidikan Akseptor KB dengan Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Pendidikan menjadi salah satu faktor yang mencegah atau mendorong seseorang dalam bertindak, misalnya dalam memilih metode kontrasepsi yang akan digunakan. Pendidikan pada hakikatnya merupakan sesuatu yang diberikan seseorang kepada orang lain yang sedang berusaha
98
mencapai kedewasaan dalam arti normatif dengan menggunakan cara berupa alat, bahasa atau media guna mencapai perubahan tingkah laku dan tujuan (Herijulianti, 2001). Tingkat pendidikan mempengaruhi seseorang dalam menyerap informasi dan mempertimbangkan hal-hal yang menguntungkan atau efek samping bagi kesehatan terhadap pilihan metode kontrasepsi yang ada. Orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru (Dewi dan Notobroto, 2014).
Pada penelitian ini, diperoleh nilai OR pada CI 95% yaitu sebesar 1,033 (0,509-2,099), dengan demikian nilai OR tersebut tidak bermakna. Hal ini dimungkinkan karena pada penelitian ini distribusi pendidikan baik pada kelompok kasus maupun kontrol sama-sama lebih banyak pada akseptor KB kelompok pendidikan tinggi.
Hasil yang tidak berhubungan juga dapat dikarenakan pemilihan metode kontrasepsi yang akan digunakan tidak hanya diputuskan oleh akseptor, tetapi terdapat pengaruh dari orang-orang disekitar akseptor misalnya suami, orang tua atau teman dekat maupun tokoh yang dianggap penting seperti kader kesehatan dan petugas kesehatan di wilayah setempat. Hal ini didukung oleh Faizahlaili (2009) yang mengatakan bahwa penggunaan kontrasepsi dipengaruhi berbagai faktor salah satunya pengaruh orang-orang terdekat.
Selain itu, hasil yang tidak berhubungan pada penelitian ini dapat dikarenakan kategori pengelompokkan yang digunakan dimana pendidikan SMA masuk pada kategori pendidikan tinggi sehingga baik kelompok MKJP maupun non MKJP lebih banyak pada kategori pendidikan tinggi.
99
Walaupun pemerintah masih menerapkan wajib belajar 9 tahun yaitu sampai SMP, masyarakat di kota besar saat ini seperti Tangerang Selatan sudah banyak yang mencapai pendidikan sampai SMA.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Pangestika (2010) diperoleh hasil tidak ada hubungan antara pendidikan dengan penggunaan MKJP. Pada penelitian Adhyani dkk (2011) juga diperoleh hasil yang tidak signifikan antara pendidikan dengan penggunaan MKJP. Sama halnya pada hasil penelitian Mestad dkk (2012) juga diperoleh hasil tidak ada hubungan antara pendidikan SMA dengan pendidikan Perguruan Tinggi dalam penggunaan MKJP. Pada penelitian Paskaria (2015) yang menganalisis data SDKI tahun 2012 juga diperoleh hasil tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan akseptor KB dengan penggunaan MKJP.
Pada penelitian Gudaynhe dkk (2014) yang dilakukan di Etiopia Barat juga diperoleh hasil tidak ada hubungan antara akseptor KB yang tidak sekolah atau jenjang pendidikan kedua dengan penggunaan MKJP jika dibandingkan dengan akseptor yang kuliah. Namun hasil yang berhubungan diperoleh pada kelompok pendidikan perguruan tinggi dengan pendidikan primer, yang berarti akseptor KB yang mencapai level pendidikan sampai perguruan tinggi berpeluang menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang hanya mencapai level pendidikan primer.
Hasil yang berbeda didapatkan pada penelitian Asih dan Oesman (2009) dimana pada penelitian tersebut disimpulkan akseptor KB dengan
100
pendidikan diatas SLTP berpeluang 1,086 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB dengan pendidikan SLTP kebawah. Perbedaan hasil juga ditemukan pada penelitian Meskele dan Mekonnen (2014) yang memperoleh hasil bahwa akseptor KB dengan tingkat pendidikan tinggi berpeluang 2,8 kali meningkatkan keinginan untuk menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang tidak berpendidikan.
Hasil yang tidak berhubungan pada penelitian ini dapat dijadikan masukkan untuk meningkatkan cakupan MKJP dengan pemberian edukasi yang tidak hanya pada wanita usia subur saja melainkan juga kepada orang-orang terdekat akseptor seperti suami, agar mendorong dan mendukung pasangannya menggunakan MKJP. Selain itu, peran orang berpengaruh seperti kader kesehatan dan petugas kesehatan dengan cara menjadi role model di masyarakat dengan menggunakan MKJP juga dapat dilakukan dalam upaya peningkatan cakupan MKJP.
3. Status Pekerjaan Akseptor KB dengan Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Pekerjaan ada berbagai jenis, jenis pekerjaan adalah macam-macam kegiatan melaksanakan tugas pokok, setiap pekerjaan juga mempunyai sifat yang berbeda-beda, ada yang membutuhkan waktu 24 jam ada pula yang hanya beberapa jam (Bratakusumah dan Solihin, 2004). Pekerjaan mempengaruhi seseorang dalam menggunakan Metode MJKP. Pada penelitian ini pekerjaan dibagi berdasarkan status bekerja dan tidak bekerja.
101
Pada penelitian ini, diperoleh nilai OR pada CI 95% yaitu sebesar 4,737 (2,100-10,687), dengan demikian nilai OR bermakna, sehingga dapat disimpulkan akseptor KB yang bekerja berpeluang 4,737 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang tidak bekerja. Pada analisis univariat terlihat pula adanya kecenderungan dimana kelompok non MKJP sebagian besar berstatus tidak bekerja (87%).
Akseptor KB di wilayah kerja Puskesmas Pamulang memang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga sehingga lebih memiliki banyak waktu untuk menggunakan kontrasepsi jangka pendek seperti pil dan suntik. Akseptor KB yang bekerja berpeluang lebih untuk menggunakan MKJP karena mempertimbangkan berbagai hal seperti waktu pemakaian KB jangka pendek (Non MKJP) yang harus diminum tiap hari seperti pil atau tiap bulan seperti suntik yang dapat menyita banyak waktu serta tidak efektif. Selain itu, Akseptor KB yang bekerja memiliki kesempatan untuk memperoleh informasi baik dari teman kerja atau dari media lain sehingga kesempatan untuk menggunakan MKJP dapat lebih besar. Menurut Fienalia (2012), wanita bekerja kemungkinan lebih menyadari kegunaan dan manfaat KB serta lebih mengetahui pilihan metode yang ada jika dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja.
Pada penelitian Teferra dan Wondifraw (2015) diperoleh hasil sejalan dengan penelitian ini, yaitu wanita yang bekerja mempunyai peluang 1,7 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja. Pada penelitian Yalew dkk (2015) di Barat Laut Etiopia,
102
juga diperoleh hubungan antara pekerjaan dengan penggunaan MKJP dimana akseptor KB dengan pekerjaan buruh dan pelajar meningkatkan peluang menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor yang tidak bekerja.
Pada penelitian Asih dan Oesman (2009) juga diperoleh hasil yang signifikan antara status pekerjaan dengan penggunaan MKJP. Pada penelitian tersebut diketahui bahwa akseptor KB dengan status bekerja berpeluang 1,529 menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang tidak bekerja. Namun, hasil yang berbeda diperoleh pada penelitian Kurniawati (2002) dimana diperoleh hasil yang tidak berhubungan antara pekerjaan dengan penggunaan MKJP.
Hasil yang berhubungan antara pekerjaan dengan penggunaan MKJP ini dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan cakupan penggunaan MKJP yaitu dengan melakukan penyuluhan tentang MKJP yang difokuskan pada ibu-ibu rumah tangga melalui kegiatan-kegiatan di lingkungan Rumah Tangga (RT) seperti arisan atau pengajian ibu-ibu oleh kader kesehatan atau ibu-ibu PKK wilayah setempat.
4. Tingkat Penghasilan Akseptor KB dengan Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Penghasilan adalah jumlah uang yang diterima atas usaha yang dilakukan orang perorangan, badan, dan bentuk usaha lainnya yang dapat digunakan untuk aktivitas ekonomi seperti mengkonsumsikan dan/atau menimbun serta menambah kekayaan. Menurut Pasal 4 ayat 1 UU PPh yang dimaksudkan dengan penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan
103
ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun (Judisseno, 2005).
Penghasilan memiliki pengaruh terhadap penggunaan MKJP. Pada penelitian ini, penghasilan akseptor KB dibagi menjadi 2 kategori yaitu tinggi dan rendah. Kategori penghasilan tinggi adalah penghasilan diatas upah minimum kota Tangerang Selatan tahun 2014 berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu > 2.442.000, sedangkan penghasilan rendah yaitu ≤ 2.442.000. Berdasarkan analisis diperoleh nilai OR pada CI 95% sebesar 2,206 (1,075-4,528), dengan demikian nilai OR bermakna, sehingga dapat disimpulkan akseptor KB yang berpenghasilan tinggi berpeluang 2,206 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang berpenghasilan rendah.
Pada analisis univariat terlihat pula bahwa jumlah Akseptor KB pengguna MKJP lebih banyak yang berpenghasilan tinggi (58,5%), sedangkan jumlah Akseptor KB pengguna non MKJP lebih banyak yang berpenghasilan rendah sebesar 62,2%, dengan demikian terlihat bahwa terdapat kecenderungan tingkat penghasilan dengan penggunaan metode kontrasepsi.
Penghasilan yang rendah dapat berpengaruh terhadap pilihan metode kontrasepsi yang akan digunakan karena berkaitan dengan kemampuan akseptor dalam membayar biaya pelayanan. Kelompok penghasilan tinggi memiliki kesempatan lebih besar menggunakan MKJP karena memiliki
104
aksesibilitas yang lebih tinggi khususnya dalam segi finansial untuk membayar biaya pemasangan MKJP. Akseptor KB pengguna non MKJP di wilayah kerja Puskesmas Pamulang yang menjadi sampel lebih banyak pada kategori penghasilan rendah dan sebagian besar mengakses pelayanan swasta.
Biaya pemasangan MKJP di pelayanan swasta memang lebih mahal dibandingkan dengan pelayanan pemerintah. Namun, jika dihitung biaya yang dikeluarkan perbulan untuk KB non MKJP dibandingkan dengan sekali pemasangan MKJP yang memberikan efektiftifitas beberapa tahun, lebih banyak uang yang dihabiskan untuk menggunakan non MKJP perbulan (Yudi, 2015). Selain itu, subsidi terhadap MKJP juga telah dilakukan pemerintah. Rata-rata pada setiap tahunnya, BKKBN mengeluarkan alokasi dana hingga Rp500 miliar (Susanto, 2015). Bahkan, Puskesmas Pamulang sebagai salah satu institusi kesehatan pemerintah yang berada di wilayah tempat tinggal responden tidak memungut biaya untuk pelayanan KB termasuk pelayanan pemasangan MKJP.
Menurut Teffera and Wondifraw (2015) Semakin tinggi penghasilan seorang keluarga/wanita semakin memungkinkan untuk menggunakan MKJP. Hal ini dapat disebabkan karena dengan penghasilan yang cukup dapat membuat seseorang mampu untuk membayar transportasi dan biaya prosedural penggunaan MKJP.
Berdasarkan penelitian Teffera dan Wondifraw (2015) diperoleh hasil sejalan dengan penelitian ini yaitu indeks kekayaan berpengaruh terhadap penggunaan MKJP. Wanita yang memiliki indeks kekayaan
105
tinggi memiliki peluang 4,8 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan wanita yang memiliki indeks kekayaan rendah. Pada penelitian Asih dan Oesman (2009) juga diperoleh hubungan yang signifikan antara indeks kekayaan dengan status penggunaan MKJP, dimana akseptor KB yang mempunyai indeks kekayaan dalam kategori mampu berpeluang 1,440 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB dengan kategori miskin.
Pada penelitian Paskaria (2015) yang menganalisis lanjut data SDKI 2012 juga diperoleh hasil adanya hubungan antara status ekonomi dengan penggunaan MKJP. Akseptor KB dengan status ekonomi mampu berpeluang 1,76 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB dengan status ekonomi miskin. Pada penelitian Arliana dkk (2013) juga diperoleh adanya hubungan antara pendapatan keluarga dengan pilihan metode kontrasepsi, akseptor non MKJP cenderung pada kelompok yang memiliki pendapatan rendah.
Namun hasil yang berbeda diperoleh pada penelitian Kurniawati (2002) dimana diperoleh hasil yang tidak berhubungan antara penghasilan dengan penggunaan MKJP, begitu pula yang ditemukan pada penelitian Fienalia (2012) diperoleh hasil tidak ada hubungan antara tingkat penghasilan dengan status penggunaan kontrasepsi.
Hasil yang diperoleh pada penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan cakupan penggunaan MKJP dengan melakukan penyuluhan pada kelompok berpenghasilan rendah mengenai manfaat menggunakan MKJP baik segi efektifitas dan finansial serta sosialisasi
106
mengenai pemasangan MKJP yang tidak dipungut biaya di Puskesmas Pamulang.
5. Status Diskusi dengan Suami tentang MKJP dengan Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Salah satu hal yang memberikan peluang akseptor untuk menggunakan MKJP adalah dengan berdiskusi oleh pasangan/suami (Gudaynhe dkk, 2014). Pada penelitian ini, nilai OR yang diperoleh pada CI 95% sebesar 22,579 (5,220-97,665), dengan demikian nilai OR bermakna, sehingga dapat disimpulkan bahwa akseptor KB yang telah berdiskusi dengan suami tentang MKJP berpeluang 22,579 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan akseptor KB yang tidak pernah berdiskusi dengan suami mengenai MKJP. Pada analisis univariat terlihat pula bahwa jumlah Akseptor KB pengguna MKJP sebagian besar telah berdiskusi dengan suami tentang MKJP (95,1%), sedangkan jumlah Akseptor KB pengguna non MKJP lebih banyak yang tidak berdiskusi dengan suami tentang MKJP (53,7%), dengan demikian terlihat bahwa terdapat kecenderungan status diskusi dengan suami tentang MKJP terhadap penggunaan metode kontrasepsi.
Ketika sudah menjadi pasangan suami istri, suami merupakan orang pertama yang berpengaruh terhadap berbagai pengambilan keputusan. Salah satunya adalah pilihan metode kontrasepsi yang akan digunakan. Suami berperan penting dalam menentukan kontrasepsi yang akan dipakai sebagai aplikasi program keluarga berencana. Akseptor KB di wilayah kerja Puskesmas Pamulang yang menjadi sampel dalam
107
penelitian ini sebagian besar melakukan diskusi dengan suami tentang MKJP pada kelompok MKJP, hal ini menunjukkan adanya kontribusi suami dalam mempengaruhi keputusan seorang istri dalam memilih kontrasepsi.
Adhyani dkk (2011) mengatakan bahwa seorang istri di dalam pengambilan keputusan untuk memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi membutuhkan persetujuan dari suami karena suami dipandang sebagai kepala keluarga, pelindung keluarga, pencari nafkah dan seseorang yang dapat membuat keputusan dalam suatu keluarga. Pengetahuan yang memadai tentang alat kontrasepsi, dapat memotivasi suami dan untuk menganjurkan istrinya memakai alat kontrasepsi tersebut.
Pada penelitian Yalew dkk (2015) di Barat Laut Etiopia, diperoleh hasil sejalan dengan penelitian ini yaitu frekuensi sering berdiskusi akseptor KB dengan suami memberikan peluang untuk menggunakan MKJP lebih besar dibandingkan dengan akseptor KB yang jarang berdiskusi dengan suami. Berdasarkan penelitian Gudaynhe dkk (2014) diskusi suami istri juga ditemukan memiliki hubungan yang signifikan, wanita yang sudah menikah yang memiliki pengalaman berdiskusi dengan suami tentang kontrasepsi 1,8 kali memiliki peluang menggunakan MKJP dibandingkan dengan yang tidak pernah berdiskusi dengan suami. Hal ini berarti jika pasangan suami istri tidak berdiskusi tentang pilihan metode KB yang akan digunakan khususnya terkait MKJP akan memberikan pengaruh negatif terhadap penggunaan MKJP.
108
Pada penelitian Paskaria (2015) yang menganalisis lanjut data SDKI 2012 diperoleh hasil adanya hubungan antara peran suami dengan status penggunaan MKJP. Pada penelitian tersebut diperoleh kesimpulan suami yang berperan dalam pemilihan kontrasepsi berpeluang 11,9 kali menggunakan MKJP dibandingkan dengan suami yang tidak berperan dalam pemilihan kontrasepsi.
Hasil yang bermakna pada penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan cakupan penggunaan MKJP dengan melakukan sosialisasi dan penyuluhan tentang metode kontrasepsi khususnya MKJP pada pasangan usia subur sehingga baik istri maupun suami dapat mengetahui pilihan metode kontrasepsi yang efisien dan efektif.
6. Umur Pertama Kali Melahirkan Akseptor KB dengan Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014
Umur pertama melahirkan yang ideal, menurut UU no 1 tahun 1974 tentang perkawinan, ditentukan dan dipengaruhi oleh risiko yang diakibatkan dari melahirkan, kemampuan tentang perawatan kehamilan, pasca persalinan dan masa diluar kehamilan dan persalinan, serta derajat kesehatan reproduksi. Di beberapa penelitian, umur pertama melahirkan dikaitkan dengan penggunaan MKJP. Pada penelitian ini, dilihat dari OR yang diperoleh pada CI 95% sebesar 0,737 (0,150-3,620), dengan demikian nilai OR tersebut bersifat protektif namun tidak bermakna. Hal ini disebabkan baik kelompok kasus (MKJP) maupun kontrol (Non MKJP) sebagian besar melahirkan pada umur lebih dari 18 tahun.
109
Efek protektif yang terjadi menandakan bahwa umur melahirkan pertama kali kurang dari 18 tahun mencegah orang untuk menggunakan MKJP. Walaupun hasil yang diperoleh pada analisis hubungan tidak bermakna, namun hal ini menunjukkan bahwa semakin muda umur akseptor ketika melahirkan pertama kali mencegah terhadap penggunaan MKJP. Hasil yang tidak berhubungan ini dapat disebabkan pengkategorian umur yaitu 18 tahun, terdapat sumber yang mengatakan bahwa batas umur melahirkan pertama kali yang ideal adalah 20 tahun keatas (Desefentison, 2013). Selain itu hasil yang tidak berhubungan dapat juga terjadi akibat tidak dilakukannya matching sampel terhadap potensi variabel counfonding yang mungkin ada.
Hasil yang tidak berhubungan seperti pada penelitian ini ditemukan pula di berbagai penelitian terdahulu, seperti penelitian Teffera dan Wondifraw (2015) dan penelitian Gudayne dkk (2014) yang memperoleh hasil bahwa umur pertama melahirkan tidak memiliki hubungan dengan status penggunaan MKJP. Namun, hasil berbeda diperoleh pada penelitian Jingbo dkk (2013) diperoleh adanya hubungan antara umur pertama melahirkan dengan penggunaan MKJP dan korelasi yang positif.
Efek protektif pada hasil analisis hubungan yang diperoleh perlu dipertimbangkan untuk dijadikan masukan terhadap peningkatan penggunaan MKJP pada PUS yang menikah namun umur istri belum